
Paris, le bel endroit, si romantique, si élégant. Laissez Paris toucher votre vie dans ce sommer. Venez bientôt, le reportage de Paris, seulement sur ce Blog.
Setiap detik adalah makna, setiap masa adalah rasa, sulit membayangkan bahwa manusia tidaklah istimewa, perjalanan kita, dalam arus debu aksara - Dimas Abdirama



Elbauenpark, Magdeburg
Sampai di sana, kami bertemu dengan rombongan lain, dan segera ke tempat acara. Setelah acara pembukaan dan makan siang, barulah kami memulai penjelajahan Elbauenpark ini. Kami dibagi dalam tiga kelompok, gue berada di kelompok dua. Tempat pertama yang dikunjungi oleh kelompok dua adalah Sommerrolenbahn. Sommerrollenbahn adalah sejenis kereta yang dapat diatur kecepatannya. Kereta ini meluncur mengikuti jalannya sendiri. Hmm, cukup seru. Untuk dapat menaiki Sommerrollenbahn ini diperlukan biaya 1,5 Euro per orang.
Setelah itu kami berjalan menuju Jahrtausendturm, pusat wisata di Elbauenpark ini. Jarhtausendturm adalah bangunan yang terbuat dari kayu setinggi lima tingkat, yang di dalamnya terdapat pertunjukkan barang-barang peradaban manusia terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Mirip dengan Technisches Museum Berlin yang gue kunjungi bersama teman-teman sekelas gue di akhir semester kemarin. Bedanya, Jahrtausendturm ini lebih menonjolkan barang-barang iptek yang sangat dasar, yang dibangun oleh peradaban manusia jaman dulu (seperti jaman mesir kuno, yunani kuno, dsb). Ilmu-ilmu fisika dasar deh intinya. Sedangkan Technisches Museum lebih menonjolkan barang-barang iptek yang modern, masa kini, seperti pesawat terbang, lokomotif, perahu dsb. Di sana, baik di Jahrtausendturm maupun di Technisches Museum, sama-sama terdapat objek interaktif yang dapat kita mainkan sendiri. Contohnya, untuk pembuktian bahwa medan magnet bergerak dari kutub postif ke kutub negatif, kita bisa menggerak-gerakkan sendiri magnetnya. Jadi kita dapat melihat proses-proses fisik dengan mempraktekannya secara langsung. Ini bagus untuk para siswa yang sedang duduk di sekolah lanjutan agar mereka dapat dengan mudah memahami konsep-konsep fisika yang diajarkan di sekolah.
Jahrtausendturm
Technisches Museum Berlin
Selanjutnya acara shalat Dzuhur dan Ashar dan acara game. Game kali ini masih dalam tiga kelompok. Sayangnya dalam game ini kelompok gue kalah.. uhuhuhu.. Setelah acara game, berikutnya adalah sepakbola. Udah berapa tahun yah gue nggak main bola? Kira-kira selepas lulus SMA deh. Acara main bola ini bakal terus berlangsung kalau nggak ada yang ngingetin bahwa hari sudah semakin sore... Pada keasikan main bola kayaknya.
Acara game
Main bola bersama
Setelah lelah bermain bola, tiba saatnya untuk kembali ke kotanya masing-masing. Kami meninggalkan Magdeburg pada pukul tujuh sore dan sampat di Berlin pukul setengah sepuluh sore. Sangat melelahkan namun mengasyikan!
Kalau si Mbak yang satu ini akan mengupas habis-habisan tentang reportase makanan di postingan-postingan berikutnya, gue bakal mengupas segala jenis tempat yang gue kunjungi. Tema reportase blog gue kali ini adalah wisata. Hehehehe, lagi liburan musim panas nih, bisa kelilipan kalau diam di rumah sepanjang hari. Weekend besok insya Allah gue bakal pergi ke Paris, Perancis. Tunggu reportasenya yah. Dan minggu depannya lagi, gue bakal balik ke Indonesia (tentunya dengan reportase yang lebih menarik). hehehehe... oh ya, doain buat si Mas yang satu ini biar bisa balik juga ke Indonesia. Biar seru, soalnya banyak banget penghuni Jerman yang bakal balik ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Terus, kemungkinan besar dalam perjalanan pulang ke Jerman, gue bakal keliling Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, pengen lihat masjid raya-nya sekalian shalat Jum'at di sana, dan kalau sempet juga, pengen turun di Bangkok, Thailand.
Selamat berwisata!




...Wah tambah cuby
yah..ga ky wkt smu,ud kurus,item,aneh,
n dengan maskot lo yaitu...
Sekarang gue sedang dalam proses menggemukkan badan, dan syukurnya kehidupan gue di Jerman mendukung rencana gue itu. Di dalam kulkas gue tersedia tiga buah kotak susu sapi segar dengan 3,5% lemak yang gue minum sehari sekali atau sehari dua kali. Dulu, gue sempet jatuh cinta dengan yoghurt, tapi enam bulan terakhir sudah jarang makan yoghurt lagi. Namun, dalam belanja gue kemarin, gue membeli lima gelas kecil yoghurt.
Keju 45% lemak juga tak ketinggalan ada di barisan makanan penting kulkas gue. Ditambah lagi dengan beraneka ragam coklat, hmm lecker! Tapi jangan salah, gue juga mengkonsumsi sayur-sayuran segar bergizi, seperti selada, paprika, bayam, brokoli, wortel dan teman-temannya. Contohnya beberapa hari yang lalu, gue sarapan pagi dengan selada yang gue iris tipis-tipis, ditambah ikan tuna kalengan, cuka dan mayonaise. Makan model seperti itulah yang mewarnai dapur gue sepekan ini.
Walau demikian, gue juga memakan makanan asli Indonesia lho. Baru setelah di Jerman ini gue merasakan nikmatnya memasak. Masak bagi gue adalah seni, dimana mencampur-baurkan antara perasaan, pikiran, kasih sayang, dan lainnya. Bagi yang pernah memakan masakan dari dapur apartemen gue (403) harap beri komentar dipostingan ini! Hehehe...
Selain itu, kadang gue juga sering memakan makanan di luar rumah, seperti di Imbiss, Restaurant, atau di Mall. Baik, gue jabarkan di mana saja tempat favorit makanan-luar-rumah gue di Berlin.
1. El-Reda Restaurant (Libanon)
Kehalalan adalah yang paling utama dalam memilih makanan atau bahan makanan. Di lingkungan masyarakat muslim di Jerman, telah tersebar daftar bahan makanan yang harus diperhatikan, karena bahan-bahan makanan itu mengandung sesuatu yang tidak halal atau dipertanyakan kehalalannya. Oleh karena itu setiap belanja di supermarket, kami selalu membawa daftar itu dan sibuk meneliti Zutaten (ingredients) dari bahan makanan yang ingin kami beli.
Ketika berlibanon
Begitu juga dalam memilih Restaurant, kehalalan adalah yang terpenting. Salah satu Restaurant yang terpercaya adalah El-Reda atau orang Indonesia di Berlin menyebutnya Libanon (karena pemilik dan pegawai Restaurant ini orang Libanon). Restaurant ini menyediakan masakan Iran, seperti Jujeh, Kubideh, dan nama-nama aneh lainnya.
Setiap orang Indonesia di Berlin hampir dapat dipastikan mengenal dan pernah mengunjungi Restaurant ini (duh, kok gue kayak sales gini yah? Tapi gue nggak dibayar lho sama Restaurant ini!). Tanyakan pada setiap orang indo tentang Restaurant ini jika kalian bertemu mereka di jalan, kemungkinan besar mereka dapat menjawabnya. Berikut cuplikan chatting antara gue dan G di Yahoo!Messenger:
...
GG: ach so.
GG: di berlin jalan2..
lab_kimia: ke mana aja?
GG: jalan2 doank...
GG: trus makan di libanon..
lab_kimia: ahahahaha
GG: gw pesen 2mal pket 1
GG: buset mo pingsan makannya
GG: ampe kolaps gw..
lab_kimia: hahaha
...
Pertama kali datang ke Jerman (tepatnya tanggal 1 Februari 2004) kami – satu rombongan – makan malam di Restaurant ini. Awalnya kaget, bayangkan, hidangan yang disajikan hanya berupa nasi yang menggunung (banyak banget!), daging kambing sepanjang 20 cm, dan satu butir tomat yang dibakar (sayangnya gue nggak menemukan gambar makanan itu untuk gue pubikasikan). Kali pertama ilfeel, makan nggak habis, dibungkus untuk dibawa pulang, dan di rumah pun juga nggak dimakan. Hal ini terjadi tidak hanya pada diri gue, tetapi pada semua teman-teman gue. Kali kedua tetap sama, kali ketiga sepiring berdua (biar habis), kali keempat habis sendirian, kali kelima dan seterusnya ketagihan!
2. Café de Gelato di Potsdamer Platz
Baru sekarang lho gue bisa menikmati memakan es krim. Café ini berada di tingkat dua Mall Arkaden, di bilangan Potsdamer Platz, salah satu pusat kota di Berlin. Jenis Es Krim yang ditawarkan sangat beragam dan lezat banget! Untuk ukuran student, eskrim satu Kugel (satu tangkup) seharga satu euro sudah cukup lah. Kalau masih kurang puas, boleh lah yang dua Kugeln seharga dua euro. Kalau lagi ada acara spesial, biasanya kami memesan yang lebih luar biasa lagi. Ada es krim dengan taburan buah, coklat, dsb dsb dengan harga ab empat euro. Enaknya, di sana dijelaskan es krim mana yang memakai alkohol, gelatin atau bahan-bahan terlarang lainnya, sehingga kita juga bisa memilih yang halal.
Es krim lezat...
Kalau gue baru pulang dari Staatsbibliothek (Perpustakaan Negara) yang terletak bersebelahan dengan Mall itu, kadang gue sempat mampir, membeli es krim, ke toko buku, atau jalan-jalan mengelilingi Mall melepas kepenatan. Gue suka dengan lingkungan di Potsdamer Platz. Modern dan klasik.
3. Mensa TU Berlin
Biasanya sebelum berangkat sekolah gue selalu mempersiapkan makanan untuk makan siang, agar bisa gue makan di mensa (kantin) ketika istirahat panjang. Terkadang gue tidak sempat masak di pagi hari. Kalau seperti itu, berarti gue harus makan di mensa. Menu di mensa tidak semuanya halal. Terkadang menyediakan daging babi. Tapi di hari Jumat, mensa menyediakan daging ikan yang dibalut dengan tepung panir, dimakan beserta kentang, sayuran dan saus putih.
Pasta tomat juga bisa menjadi pilihan. Terkadang, daging ayam dan daging sapi juga disediakan di sana. Tapi kan kita nggak tahu bagaimana proses penyembelihannya, jadi untuk daging-daging seperti itu kita hindari.
4. Imbiss Kebab
Yang ini sangat populer di kalangan semua orang Indo di Jerman. “Ein mal Döner bitte! Ohne Zwiebel!“ (saya pesan kebab tanpa bawang dong!) kata itu pasti sudah tak asing didengar dan diucap. Ada banyak toko Kebab tersebar di seluruh pelosok Berlin. Bagi yang belum tahu kebab, kebab adalah jenis makanan dari arab (Döner dari Turki dan Schawarma dari Arab) yang berupa roti diisi dengan irisan daging, sayur-sayuran, dan saus. Teman gue – D – adalah salah satu maniak kebab, sampai-sampai berfantasi memiliki toko kebab sendiri dan dapat bebas memakan kebab kapanpun dia mau.
Di semester dua kemarin, gue sering jalan bareng dengan A dari negara Y. Biasanya kita belajar bareng di perpustakaan atau di kampus, setelah itu kita makan siang deh. Dia banyak tahu toko-toko kebab dengan rasa yang menggiurkan selera, dan kita sering menjelajah Berlin demi menemukan toko kebab itu. Tercatat toko kebab di wilayah Tempelhof, Nollendorfplatz, Zoologischer Garten, Turmstraße, dan Büllowstraße adalah toko kebab dengan kebab yang lezat dan populer di Berlin.
Itulah saudara-saudara tentang kehidupan makan-memakan di Berlin. Tertarik? Hehehehe... oh ya, malam ini gue janjian makan malam di Libanon lho!



Gue: hei N, gimana tadi ulangan Fisikanya?
N: aduh susah banget! Gue nggak bisa ngerjain
Gue: beneran nih?
N: iya beneran! Tadi gue udah kayak lomba mengarang bebas. Paling nilai gue dibawah lima
Gue: Y, gue belum belajar nih!! (yang ini gue jujur lho)
Y : sama gue juga. Buku belum gue sentuh sama sekali dari tadi malam
X: bagaimana Y, sukses SPMB-nya tadi?
Y: oh! tentu saja! Itu mah gampang !

Gue dengan Lim orang Korea
Gue: guten Morgen Lim! Hast du dich gestern für die Prüfung schon gut vorbereitet? (Selamat pagi Lim, apakah kemaren lo udah mempersiapkan ujian dengan baik?)
Lim: ja! Ich habe alles geschafft. Und wie bei dir? (iya, gue udah belajar semuanya, lo sendiri gimana?)
Gue: na ja, nicht so..( gimana yah... nggak terlalu sih... *padahal gue juga udah belajar tapi karena takut kualat jadi gue bilang bahwa gue belum belajar aja*)
Gue dengan Lisha orang China
Lisha: wie war die Prüfung, Dimas? Leicht oder? (gimana ujiannya Dimas? Gampang bukan?)
Gue: nein, es war sehr schwear (nggak, ujian tadi susah banget *gue ngebohong padahal sih gue bisa ngerjain juga*)
Lisha: bist du dumm oder was? Bei mir war sie verdammt leicht! (lo bego kali yah? Bagi gue ujian tadi bener-bener gampang!)
Gue dengan Wa’el orang Marokko
Gue: Wa’el, ich habe Angst, dass ich nicht bestehe!. Das war katastrophal! Wie war bei dir? (Wa’el, gue takut nggak lulus di ujian tadi nih! Susah banget! Lo gimana? *kali ini gue serius nggak bisa ngerjain ujiannya*)
Wa’el: wirklich? Solche Aufgabe konntest du nicht? Das ist doch wie ein Kinderspiel (beneran? Soal kayak gitu lo nggak bisa? Itu kan kayak mainan anak-anak)
Gue dengan Abhisek orang India
Gue: hast du gut geschrieben? (sukses ujiannya tadi?)
Abhisek: ja, mindestens 12 Notenpunkte kriege ich. Und du? (iya, minimal gue dapet nilai 12. kalo lo gimana ?)
Gue: ich auch! Mindestens sogar 13! (gue juga! Bahkan buat gue minimal 13! *nggak mau kalah*)
Gue dengan Asaad orang Yaman (muslim)
Asaad: wie war? (gimana tadi?)
Gue: insya Allah. Und du? (Insya Allah. Kalo lo?)
Asaad: insya Allah