Friday, May 16, 2014

Conocer o manquer



Dalam segelas Cappuccino, dingin kopi dan krim bersatu, dua rasa yang tak serupa memberi tautan harmoni dalam setiap tetesan yang diteguk.

Setiap au revoir membekaskan basah yang sebenarnya ingin ia sembunyikan. Tapi tak mudah kuasa ia membiarkan basah itu membulir di pelupuk mata.

Aku ingin selalu menjadi kekasih yang kau rindu. Tempatmu berbagi cerita di pinggir meja makan, atau menjelang tidur di atas hamparan sajadah.

Setiap kabut bergumul dengan asap, aku selalu meleleh, menahan cinta yang berdegup, tak ingin berpisah di taman kenangan. Melihatmu berjalan pulang, bertolak ke belakang, melambaikan tangan dan senyum itu.. senyum yang melekat lekang di ingatan. Bersatu bersama episodemu berada di sampingku, mengokohkanku dengan segala tulusmu.

Conocerlo...

Bruxelles, 2014.

Friday, January 31, 2014

A Decade of History

Persis petang hari ini, tanggal 31 Januari, 10 tahun yang lalu, saya membuat sebuah langkah penting dalam hidup saya. Saya berkemas, membulatkan niat untuk merantau, meninggalkan kampung halaman tercinta yang telah membesarkan saya 17 tahun lamanya, meninggalkan ketulusan kasih sayang papa dan mama, kakak, adik, sahabat dan teman. Saya masih ingat derai air mata membasahi kepergian saya petang itu. Matahari menutup tugasnya, gelap suasana pertanda waktu yang kemarin sudah rampung. Saya menjejaki badan pesawat untuk bertolak ke Jerman, menuju sebuah hidup baru di tanah yang baru untuk menuntut ilmu. Saya paham bahwa sejak hari itu sudah tidak ada lagi hari-hari kemarin akan muncul terulang. Saya paham bahwa sejak hari itu sudah saya tinggalkan kebiasaan dan hidup saya yang lama, untuk berubah dan berhijrah menjadi pribadi yang baru. Tidak ada lagi yang mengenal siapa Dimas yang lama, yang ada adalah Dimas yang baru.

Doa saya pun dijawab oleh Allah, begitu banyak kesempatan, peluang dan pembelajaran saya dapatkan selama saya tumbuh dan berkembang di negeri Jerman. Saya bentuk pribadi dan karakter, kapasitas dan integritas, saya genggam hidup saya dalam kepalan saya sendiri, saya atur kemana saya akan membawanya. Pertarungan di tanah yang baru tidaklah mudah. Saya paham bahwa di tanah ini musuh terbesar saya adalah diri saya sendiri. Jatuh bangun saya berusaha untuk menaklukan diri saya. Amanah menuntut ilmu juga nyatanya tidak semudah yang saya bayangkan. Tidak bisa mengandalkan prestasi di masa sekolah untuk berprestasi di tahapan ini. Tapi saya belajar. Belajar dan belajar. Belajar dari orang-orang di sekitar saya. Belajar dari lingkungan dan komunitas saya. Belajar dari peraduan dua budaya yang semakin melekat dalam diri saya. Sadar atau tidak, fase hidup saya sudah berubah, dan banyak cerita saya alami di dalamnya. Kegagalan, kesuksesan, kemelaratan, kesejahteraan, atau bahkan kehilangan ketika papa dipanggil oleh Allah. Cinta dan persahabatan, ujian dan tantangan, tanggung jawab dan kemandirian, semua adalah elemen-elemen yang menggerakkan saya menuju usia saya yang sekarang.

Dan saat ini, tanggal 31 Januari, 10 tahun setelahnya, saya mengalami deja vu atas apa yang terjadi 10 tahun yang lalu. Saat ini usia saya telah menginjak 27 tahun. Amanah menuntut ilmu telah selesai saya tunaikan, dan beberapa saat yang lalu saya telah memulai sebuah keputusan yang besar dalam sejarah hidup saya. 10 tahun yang lalu, tanggal 1 Februari 2004, saya membuka lembaran hidup saya yang baru. Dan 10 tahun setelahnya, 1 Februari 2014, saya akan kembali membuka lembaran hidup saya yang terbaru, sebagai seorang suami, ayah dan kepala keluarga. Kini Dimas bukan lagi seorang pribadi yang “satu” melainkan “dua dalam satu”. Dengan mengucap bismillah, saya mantapkan hati dan niat saya menjalani takdir Allah ini. Ikhtiar saya menjemput apa yang telah kering tergores di kitab langit – yang jauh sebelum saya diciptakan telah tertera lakon apa yang harus saya jalani, skenario yang mana dan kapan waktunya. Dengan mengucap bismillah, saya akan lafadzkan ijab qabul, untuk memperistri seorang pilihan: Nurry Maulida Raraswati.

Tangerang, 31 Januari 2014.

Sunday, January 05, 2014

Filosofi Kucing Garong

Bagi saya, terminologi "Kucing Garong" memiliki filosofi tersendiri. Mari kita kupas satu-persatu.

1. Kucing.

Kucing adalah hewan yang memiliki kekhususan yang tidak dimiliki hewan lain. Dia anggun, menawan, memikat. Dia enak dipandang dan menggemaskan. Kucing adalah hewan yang suka disayang, dibelai, dipelihara dan diperhatikan. Dia juga hewan penyayang yang menyayangi mahluk lain dengan caranya sendiri. Kucing juga hewan yang memiliki izzah, dia tidak sembarangan, di balik pesonanya dia memiliki keangkuhan. Dia barang elit yang tidak pasaran. Kucing adalah hewan peliharaan Rasulullah, dia bermartabat, cerdas, lincah dan istimewa.

2. Garong.

Saya memaknai kata Garong seperti garang. Kucing garong adalah kucing yang memiliki karakter kekucingan pada umumnya yang lucu dan senang dimanja, namun ia juga garang, pemberani, siap bertengkar dan berkelahi. Kucing garong adalah perpaduan dua wujud yang saling berseberangan namun serasi, menjadikan dia semakin angkuh dan diminati. Memiliki kucing garong seperti memiliki peliharaan yang membawa kebanggaan tersendiri.

---

Kucing garong tempatnya bukan di jalanan, dia tidak boleh mencari makanan dari bak sampah dan diperlakukan seperti kucing comberan yang membuatnya menjadi pasaran. Tempat seharusnya ia berada adalah di rumah yang aman, dengan perlakuan yang khusus dan nyaman. Kemampuannya berkelakar harus ditempatkan pada situasi yang sesuai karena akan membuat dia semakin bernilai.

Kucing garong datang dan pergi. Usianya tidak sepanjang usia tuannya. Ketika kucing garong datang ia harus beradaptasi, namun ketika kucing garong pergi ia harus merelakannya lari, karena karakter kucing garong yang pemberani membuat ia bisa bertahan di segala kondisi dan berdikari, dan karakternya yang mempesona membuat ia mudah diterima dan dimiliki.