Ketika Cerita Bercerita

Setiap detik adalah makna, setiap masa adalah rasa, sulit membayangkan bahwa manusia tidaklah istimewa, perjalanan kita, dalam arus debu aksara


Wednesday, February 10, 2010

The Library Expressions




Tuesday, February 09, 2010

Anjangsana

Anjangsana

Oleh: Dimas Abdirama

[Geming]

Aku memang seorang muslimah, namun bukan itu baju yang ku kenakan. Sejak aku tinggal bersama kekasihku di kota mahaindah ini, aku telah membuka mata bahwa agama hanyalah sebuah alat pengotak-kotak, apapun bentuknya, bisa hati, bisa pemikiran, bisa pergaulan, bisa juga pertemanan. Jika saja Tuhan bisa membuka mata samudra yang luasnya membentang dari timur ke barat lalu dari utara ke selatan, mengapa tidak bisa kubuka lebar-lebar mataku? Matamu? Mata orang-orang itu?

Siapa yang sangka, seorang anak sampah yang dulu tidak punya nilai apa-apa kini bisa menjadi dosen kenamaan di École des hautes études en sciences sociales, Paris. Aku juga beranjak menjadi seorang aktivis dari sebuah organisasi besar La Femme yang kerap diundang mengisi berbagai talk show di layar kaca. Sebulan sekali tulisanku terbit dalam kolom budaya The New York Times mengulas masalah-masalah kemanusiaan di dunia.

Tak ada yang tak mengenalku, Neng Geulis, setidaknya di kota ini. Café et Boutique yang aku kembangkan sendiri di Rue de Berri telah berkembang mahsyur sebagai bagian dari pusat mode dan pusat pertukaran pemikiran. Harta dan nama yang aku dapatkan sampai saat ini bersumber atas pengorbanan, cinta dan perhatian dari kekasihku, paruh nafasku, bongkah rapuh tulangku, Constantin Metzner-Rodriguez.

Semuanya berjalan sempurna, sebelum aku bertemu dengan pemuda tanggung itu, di dalam Metro Ligne 7, di Corentin Cariou, sebelah utara kota Paris. Pemuda yang sepertinya baru saja menyelesaikan Baccalauréat itu tampak begitu bercahaya. Tidak biasa, wajah peralihan dari imutnya anak-anak menuju tampannya seorang pria begitu sejuk terpancar dari kebersihan auranya. Sampai tak terasa tas jinjing yang aku genggam terlepas sementara sepasang mata ini masih takjub memandang dirinya.

„Pardon, madam...“ itulah suara merdu pertama yang kudengar. Ia meraih tas jinjingku dan memberikannya kepadaku, membuyarkan detik-detik lamunan penuh takjubku. Ia tersenyum, aku memerah.

“Merci…” akhirnya kata itu terucap juga setelah sekian lama aku membatu. Pemuda itu tersenyum ramah dan menanyakan apakah aku baik-baik saja. Itulah kali pertama pertemuanku dengannya. Ia bernama Ali, dalam tubuhnya mengalir darah Perancis dan Afghanistan. Ia mengenakan kufiyet kotak-kotak, berjaket kulit dan bercelana kain. Benar dugaanku, ia masih duduk di bangku sekolah dan sedang mempersiapkan Baccalauréat beberapa bulan ke depan.

Jangan beranggapan bahwa aku yang sudah memasuki usia 30 tahun akan jatuh hati pada seorang pemuda tanggung berumur 18 tahun. Tidak, tidak mungkin, lagi pula cintaku pada Constantin sudah begitu melekat kuat sampai pada sekat antardaging di tubuh ini. Perasaan dan desiran tadi hanyalah karena… entahlah… karena sesuatu yang… jika boleh aku katakan – mungkin geming. Cahaya dan aura anak itu tidak aku dapatkan dari laki-laki lain yang sudah aku kenal. Sesuatu itu begitu memikat, namun hanya bergeming, seolah terjaga oleh sesuatu yang teramat suci dan tidak sembarang orang dapat merengkuhnya.

Ali bilang ia akan turun di setasiun Place Monge. Saat metro ini melewati Gare d’Est, aku menahannya, mengajaknya ke tempatku di Rue de Berri, di wilayah l’avenue des Champs-Élysées yang berdekatan dengan l'Arc de Triomphe. Aku menjanjikannya secangkir latte macchiato dan sepotong croissant keju terlezat di Paris dengan pemandangan menakjubkan ke arah menara Eiffel yang jika senja mengeluarkan nyala-nyala yang luar biasa. Ia tak tertarik, menggubrisku dengan tawaran-tawaran itu. Aku masih ingin bersama dengannya, menyerap auranya yang tak habis-habis aku nikmati. Boleh aku ikut denganmu kemana kamu akan pergi?

Ia beranjak keluar, aku membuntutinya pelan-pelan. Wahai geming itu, kemana kakimu akan menjejak? Mungkinkah ke sebuah tempat semacam pabrik yang dapat mengubah citra seseorang menjadi sebegitu bercahaya seperti dirimu? Dari balik tubuh orang-orang yang berjejalan itu aku berdiri, mengawasimu rekat terhadap setiap gerak badanmu. Dan sampailah aku pada tempat itu… Sebuah tempat di Rue Georges-Desplas. Sampai di sana, aku terperanjat. Tidak. Aku harus menahan langkahku, kali ini aku harus menahan diriku untuk mengikutinya ke tempat itu… karena itu artinya sama dengan aku memasuki jurang kemelut yang didalamnya berenang buaya-buaya yang ganas. Aku hanya bisa lagi-lagi bergeming di tepian belokan jalan, mengintip sesosok itu yang makin menghilang dari pelupuk mata, masuk ke dalam pabriknya di sana, di la Grande Mosquée de Paris.

[Renjana]

“Con calmo!!” hentakku ke supir taksi di sebelahku tatkala mobil kami hampir saja menghantam sebuah truk besar dari arah yang berlawanan. Sungguh semrawut kota ini. Roma memang keras, sekeras guratan sejarah yang masih berdiri gagah di atas tanahnya. Aku pun tak yakin apakah kendaraan yang aku tumpangi ini benar-benar sebuah taksi karena dari tampilan mobilnya lebih terlihat seperti kendaraan pribadi. Sejak menginjakkan kaki di bandara, di mana-mana memang sudah tertampang berbagai peringatan yang meminta para turis berhati-hati terhadap taksi gadungan yang bertebaran di halaman parkir.

„Cazzo!“ lelaki itu berserapah, sebuah bus lewat begitu saja di hadapan kami. Jantungku sudah tak karuan berdegup dan berdetak, bersiap kalau-kalau aku harus merenggang nyawa di jalanan kota ini. „Hey! Vafanculo!“ teriaknya lagi sambil membuka jendela dan mengeluarkan kepalan tangannya sambil diacungkan tinggi-tinggi, lalu disambut dengan gaungan klakson yang membahana.

„Sorry…“ sahutnya ke arahku dengan nafas yang menderu. Ia paksakan tersenyum, wajah khas mediterania dengan rambut-rambut tipis dari pipi sampai ke dagunya dipenuhi peluh. „jangan takut, saya antar kamu ke tempat tujuan dengan selamat,“ sahutnya menenanganku.

Ia melanjutkan kemudi kendaraan ini dengan mata kosong yang melayang, namun tetap memiliki reflek yang luar biasa dalam menghadapi maut yang siap menerjang tak terduga. Seperti terlatih. Aku merasa tenang, entah mengapa aku bisa mempercayai janjinya untuk mengantarkanku selamat sampai tujuan walaupun aku sadar aku telah tertipu dengan taksi gadungan ini.

„Carlos,“ sahutnya sambil menyodorkan tangannya. Kujabat erat, „Hamka,“ balasku memperkenalkan diri. „You are from…“ ia berupaya menebak. Indonesia, langsung kujawab tanpa harus menunggu tebakannya. Ia termanggut-manggut pelan seperti mencerna atau menghubungkan sesuatu di kepalanya.

„Kamu muslim?“ tanyanya. Aku mengangguk.

„Dari mana kamu tahu?“

„Dari sinarmu. Aku tahu, Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia…“ lanjutnya. „Jenggotmu hanya beberapa helai saja, tak cocok menjadi janggut. Lihat punyaku!“ serunya sambil mengusap-usap dagunya, „yang seperti ini baru berpeluang menjadi janggut lebat!“ selorohnya, lalu disambut dengan tawa lepas kami.

Perjalanan dari bandara Leonardo da Vinci menuju tujuanku di wilayah Parioli cukup jauh, membelah dari selatan ke utara kota Roma, melalui jalan-jalan besar serupa kota Jakarta dengan hangat matahari khas laut tengah yang lembut, melintasi jejeran pohon zaitun dan pohon tusam yang menjulang ke langit, melewati gedung dan bangunan tua peninggalan sejarah kekaisaran romawi yang menganggumkan. Setiap sudut kota ini seolah bercerita tentang pengalaman-pengalaman yang telah mereka lihat, serupa dengan cerita Carlos sepanjang perjalanan yang mendebarkan itu.

Hidup Carlos hanyalah seorang diri. Ia baru dipecat dari tempat kerjanya tiga bulan yang lalu. Istrinya masih terbaring koma di rumah sakit karena kanker payudara sementara ia mati-matian memenuhi biaya pengobatan isterinya yang tak lagi bisa ditalangi asuransi negara. Orang tuanya sudah meninggal dunia. Ia belum memiliki anak. Keluarga besarnya menjauhi dirinya karena alasan-alasan yang tidak ingin ia sampaikan. Satu-satunya sanak saudara yang ia miliki adalah adik tirinya yang sedang berada di Paris, ia berprofesi sebagai seorang diplomat.

„Di mana kamu tinggal?“ tanya Carlos di sela-sela ceritanya.

„Berlin,“ jawabku.

„Berlin?!“ tanyanya lagi penuh keterkejutan. Mata cokelatnya merenggang. „Adik tiriku itu juga orang Berlin! Dia akan kembali lagi dari Paris ke sana bulan depan! Eh, tunggu... kamu bilang kamu dari Indonesia...?“

Aku mengannguk. „Que bella!! Pacar adik tiriku itu juga orang Indonesia! Betapa sempitnya dunia ini! Sebentar, aku masih punya fotonya...“ ia merogoh-rogoh laci di depanku kemudian ia menepuk bahuku keras-keras seperti orang yang telah berteriak BINGO! „Ini... kamu bawa saja foto ini, siapa tahu bulan depan kamu bertemu dengan mereka di Berlin. Nanti aku tuliskan nomor teleponnya.“

Kutatap foto itu, dua lelaki yang serupa namun tak sama. Satu berkulit gelap, satu berkulit putih, serta seorang perempuan cantik berambut sebahu. „Adikku itu bernama Constantin, kata orang Jerman, der erste römische christliche Kaiser. Dan pacarnya itu bernama Neng Geulis,“ ujarnya.

Perjalanan ini berhenti saat aku sudah sampai di tujuan. Carlos menatap bangunan itu dengan raut wajah yang turun, seperti menggenggam sebuah kesedihan yang tak terperi. Lelaki itu memang membutuhkan seorang teman sebagai tempat untuk menyandarkan beban hidupnya yang teramat berat.

La Moschea di Roma... boleh aku ikut ke dalam?“ tanya Carlos usai menerima uangku. „Nampaknya aku menemukan tempat di mana aku harus mencari jiwaku...“

Aku tertegun sesaat setelah mendengar cetusan Carlos barusan. Kata-kata tadi terdengar penuh dengan renjana yang tertahan, yang jika aku izinkan, maka renjana itu akan mampu meledak-ledak luap.

„Maaf, aku tak ingin mengganggu acaramu...“ sahut Carlos melemah.

„No! Silahkan! Aku memang ada program di masjid ini, tapi tentu kamu boleh ikut masuk kesana! Ayo!“ ajakku.

Dan renjana di wajahnya bersemai, seiring dengan jiwanya yang – mungkin – telah tertemukan. Di sini, di masjid ini.

[Lamur]

Apa daya, memang itulah resiko memiliki kekasih yang berprofesi sebagai seorang diplomat PBB. Bulan depan Constantin akan dipindahkan ke negaranya, Jerman. Berlin akan menjadi kota baruku nanti. Aku berharap bisa melanjutkan aktivitasku menggaungkan nilai-nilai liberalisme dan memperjuangkan feminisme di manapun tempat aku berpijak. Aku mengundurkan diri sebagai dosen di EHESS Paris, dan mempercayakan manajemen butik dan cafe kepada Audrey, pegawaiku yang cekatan.

Aku merenggangkan penatku di sore itu, duduk di atas sofa kulit berwarna merah sambil mengamati orang-orang yang saling berbincang di dalam cafe ini dan mendengar lantunan Frank Sinatra yang ingin dibawa terbang ke bulan. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara itu, suara yang sempat aku kenal beberapa waktu lalu.

„Bonjour, Madam,“ sapa Ali. Aku terhenyak, „boleh saya meminta waktu Anda?“

Pemuda tanggung bercahaya itu datang seorang diri, menolak bersalaman denganku. Tangannya menjinjing sebuah majalah Paris-Tempo. Ia mengambil tempat duduk di hadapanku.

„Madam, saya ingin meminta jawaban Anda, apakah Anda yang menulis artikel ini di sini?“ tanya Ali sambil menunjuk sebuah artikel yang aku tulis dua bulan lalu di majalah itu. „Mana belas kasihan Anda teradap kami? Mengapa Anda tega menuduh masjid kami sebagai sarang teroris? Apa bukti yang Anda bawa?“

Keringat dinginku mengalir. Biasanya, aku cekatan dalam menjawab protes atau argumen dari kalangan-kalangan religius itu, namun kali ini, lidahku tercekat. Aku fasih berbahasa Perancis, namun sekarang hanya senggauan yang mampu aku keluarkan.

„Hmmh... ak.. aku.. aku, hanya...“

„Baik, Madam. Sudah cukup jawaban Anda. Saya pikir Anda orang baik... ternyata perempuan yang kutemui dulu di Corentin Cariou bukan perempuan biasa...“

Pemuda itu berjalan keluar. Sedari dulu aku menyimpan benci teramat sangat terhadap orang-orang yang sudah terkotak-kotak dengan agama itu. Aku pernah berjanji, tak akan jatuh ditangan manusia-manusia yang tidak membuka matanya lebar-lebar... namun nyatanya? Semuanya lamur sekarang, buram. Aku mengejarnya, ia sudah keburu menghilang entah kemana. Tidak pernah aku merasakan pahit yang kental seperti ini di dalam hati. Kunyalakan mesin mobil, kutancap gas menuju tempat itu, tempat yang ku tahu pemuda tadi pasti berada di sana.

[Kecut]

Dari kecil aku sangat takut dengan api. Gubuk tak permanen di pinggiran rel kereta api sepanjang Lenteng Agung pernah terbakar habis waktu aku kecil dulu, dan menyebabkan aku menjadi gelandangan. Teman mainku mati terbakar tepat di hadapanku. Aku masih bisa mengulang ngiangan jeritannya yang lirih.

Dan setiap orang-orang religius itu mengatakan neraka, aku semakin tak terkendali. Dari penggambarannya saja aku sudah dibuat sangat ngeri, yang katanya panas bara apinya saja bisa membuat otakmu mendidih. Aku berupaya tidak mempercayainya, namun sulit. Kini bayangan api itu menjadi-jadi, berbaur dengan kecutnya rasa hati usai pemuda tanggung itu menemuiku tadi. Sepanjang perjalanan aku menangis. Aku bertanya-tanya, jika saja aku menganggap bahwa pemikiranku sudah sangat luas, namun mengapa belum cukup luas untuk menjangkau wilayah pengakuan kebesaran islam?

Aku langkahkan kaki ini ke dalam, melawan segala geming yang dulu menjegalku, menyeburkan diriku ke dalam jurang kemelut yang siapa tahu justru berisi malaikat-malaikat nan anggun. Tangisan ini belum cukup waktu untuk berhenti, mengucur menganak sungai. Aku ingin menjalankan gerakan-gerakan yang dilakukan orang-orang itu di dalam. Aku ingin salat. Aku basuh tubuh ini dengan sejuknya air wudhu, kututup badan ini dengan jubah dan kerudung, kuangkat tanganku mengikuti tindak-tanduk orang-orang di sekelilingku. Aku tidak tahu harus mengucap kata-kata apa, aku tidak hafal jenis doa apapun, tapi gerakan-gerakan yang aku ikuti itu sudah cukup meluluh lantakkan jiwaku.

Usainya, kupandangi sekeliling, pemuda itu tidak ada di sana. Aku lepas kerudung ini dan kuberanjak, aku berharap, Ali belum sampai. Ia masih di perjalanan dan aku akan bertemu dengannya tak lama lagi.

„Madam... mengapa engkau melepas kerudung ini?“ tiba-tiba seorang perempuan Perancis berjilbab rapih menggenggam tanganku. Mata hijaunya benderang, seperti lentera dalam gelapnya pekat mataku. „Madam, engkau seorang muslimah bukan? Tolong... bantulah agama ini, ukhti...“ sahut perempuan itu lagi. Ia lalu memelukku. Dekapannya sangat kuat sekali, meyesakkan rongga dadaku, membuat aku menangis sebenar-benarnya menangis. Tangan halusnya membelai rambutku, aku nyaman berada di pundaknya. Aku takluk. Kini dosen feminisme EHESS terkulai sangat lemah dan tak berdaya di bahu perempuan yang – ah, ternyata benar, ada malaikat anggun di jurang ini.

„Sophie...“ sahut sebuah suara di belakang kami. Aku menoleh. Ia Ali.

„Madam, kenalkan, ini Ali, suamiku.“

[Anjangsana]

Perempuan itu seperti pernah aku lihat sebelumnya, entah di mana. Dari tadi ia duduk di meja itu, padahal makanannya sudah ia habiskan. Mungkinkah ia menunggu seseorang? Aku mengamatinya dari meja yang cukup jauh, namun tidak terlalu jauh untuk bisa melihat gerak-geriknya.

„Orang Indonesia, ya? Baru datang di Berlin, mbak?“ datang seorang laki-laki yang kebetulan baru masuk di restoran ini. Ia bersama gerombolannya. Laki-laki itu biasa dipanggil dengan sebutan Gareng, ia mengajukan pertanyaan pada perempuan itu. Aku mengenal dia dan teman-temannya. Ia seorang yang... bermuka dua.

„Mas, lihat tuh, si Gareng mengajak perempuan itu berbicara...“ ujar istriku yang juga ikut mengamati mereka bersamaku. Ssst, aku menyuruh istriku untuk tenang agar aku bisa berkonsentrasi penuh mendengar pembicaraan mereka.

„Selamat datang ya mbak di Berlin. Berlin ini kota yang indah, banyak tempat-tempat asik, ada tempat belanja, tempat disko, tempat pertunjukan... Tapi hati-hati mbak, jangan berkunjung ke masjid, karena, ya tahu sendiri lah mbak, nanti kita dituduh yang macam-macam... apa lagi di sini juga ada masjid punya orang Indonesia yang kata orang...“

Aku merogoh tasku, mencari sesuatu. Barang itu, sehelai foto berisi tiga orang, dua laki-laki dan seorang perempuan. Dan perempuan di foto ini sangat mirip dengan perempuan itu. Carlos sudah menuliskan nomor teleponnya di balik foto ini, akan aku coba meneleponnya. Mudah-mudahan perempuan ini masih menggunakan nomor Perancisnya. Jika dia merogoh ponselnya, maka aku yakin, dialah orangnya.

Aku tekan angka-angka itu di ponselku... +33.. 626.. 704..

Dan perempuan itu seketika mendengar deringan ponsel dari tasnya. Ia mengambilnya.

„Hallo?“

„Hallo, dengan Ibu Neng Geulis?“

„Iya benar, siapa ini?“

„Saya Hamka. Saya sedang berada di belakang ibu sekarang..“

Aku datang bersama isteriku ke meja mereka. Si Gareng dan kelompoknya terkejut melihatku, tak ubah terkejutnya Neng Geulis yang terheran-heran siapakah diriku.

„Ibu Neng, kami ingin mengajak ibu berkunjung ke masjid kami. Tidak jauh kok dari sini...“

Berlin, 9 Februari 2010

FLP Jerman.

Thursday, January 21, 2010

Cómo entiendo yo amistad?

La amistad es la estrella que quiso ser un heróe - El Paíz, kapannya lupa.

Selagi mengobrak-abrik kertas-kertas yang menggunung, saya temukan kembali sebuah karangan pertama saya dalam Bahasa Spanyol. Waktu ikut kelas Bahasa Spanyol semester lalu, kami diminta membuat karangan bertema "bagaimanakah arti seorang teman menurut pendapat saya?" (kurang lebih itulah arti dari judul posting ini di atas). Kebetulan waktu itu kelas Bahasa Spanyol kami sudah akan usai, dan sebagai bentuk perpisahan, kami membuat tulisan ini kemudian dibagikan kepada seluruh peserta kursus sebagai kenang-kenangan. Walaupun hanya satu semester, namun saya merasa dekat dengan peserta khusus Bahasa Spanyol. Setiap istirahat kami selalu pergi bersama ke cafétaria gedung Tel yang letaknya di lantai 20 sambil menikmati pemandangan kota Berlin ke segala penjuru di musim panas, menyeruput kopi bersama, makan kue, bercanda ria.

Kebetulan kelas Bahasa Indonesia saya juga akan usai. Setelah tiga semester bersama dengan mereka, ada perasaan sedih juga, karena semester depan KBRI tidak membuka kelas lanjutan baru untuk mereka (kecuali jika rencana pembukaan kelas percakapan disetujui). Akhirnya saya berinisiatif untuk mengadakan acara nonton film bersama. Filmnya bertemakan teman yang tak lain tak bukan adalah Laskar Pelangi. Setelah itu, masing-masing peserta kursus saya beri tugas membuat karangan bertemakan "teman", sama seperti yang saya lakukan di kelas Bahasa Spanyol saya.

Saya bercerita kepada peserta kursus Bahasa Indonesia saya, bahwa di Indonesia, setiap orang yang kita kenal bisa langsung kita sebut "teman". Tidak seperti di Jerman ini yang ada tahapan-tahapannya. Pertama kali bertemu, tunggu dulu, kita cuma bertemu. Sudah berbincang-bincang, juga sebentar, kita belum menjadi teman. Sudah jalan-jalan bersama, eits, kamu masih "kenalan" saya. Di tempat kerja, kamu bukan teman, tapi kolega. Baru ketika tahapannya sudah tinggi, kamu adalah teman. Untungnya di Indonesia tidak begitu, satu kelas kita sebut teman. Satu tempat les Bahasa Inggris kita sebut teman. Tetangga yang seumuran juga kita sebut teman. Itulah mengapa dari segi hubungan sosial orang Indonesia lebih oke daripada orang Jerman.

Baik, kembali ke Bahasa Spanyol, inilah karangan pertama saya yang membangkitkan kembali kenangan di semester lalu.

La amistad

La amistad es una cosa importante para mí. Yo creo que una persona no puede vivir sola sin amigos. Para mí es muy importante que mis amigos deban ser sinceridados. Yo soy una persona abierta y me gustaria tener muchos amigos.

Yo entiendo que un amigo debe ser simpatico y divertido. A mí me gusta salir con mis amigos por ejemplo para comer o ir al cine. El fin de la semana vamos al restaurante o al piso de otros amigos, y hablamos luego por la noche o cocinamos juntos muchas comidas ricas.

Sunday, January 17, 2010

Terlalu Banyak Buku untuk Dilahap

Agaknya saya perlu belajar tentang konsistensi, atau berkonsentrasi pada satu buku. I am a book maniac. Begitu mudahnya saya tergiur untuk membeli dan membaca buku padahal masih ada beberapa buku untuk diselesaikan. Contohnya akhir-akhir ini, saya sedang ada mood untuk menulis cerita yang berlatarkan kisah-kisah sejarah kota Berlin, tetapi dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Kebetulan seorang teman saya merekomendasikan sebuah buku karangan Sven Regener - seorang penulis yang berprofesi juga sebagai penyanyi - dengan judul Der kleine Bruder. Dari judulnya mungkin memang kurang eye catching, tapi teman saya itu bisa membius dan mengompori saya dengan ceritanya yang berapi-api agar saya membaca buku itu. Well, akhirnya saya pergi ke toko buku terdekat di lingkungan kampus saya, dan melihat-lihat buku yang dituju.


Iseng-iseng melihat rak buku, saya baru ingat bahwa saya masih ada satu hutang membaca sebuah buku yang saya beli di masjid sebelum pulang ke Indonesia. Sayangnya buku itu terbengkalai akibat saya membeli dan mendahulukan buku "Emak Ingin Naik Haji", dan "Azizah Choice, Catatan Seorang Mualaf". Belum lagi di Indonesia saya membeli buku "Ayat Amat Cinta" dan membawa beberapa buku-buku punya adik saya karya Raditya Dika (ceritanya ingin belajar menulis cerita komedi). Buku yang saya lupakan itu adalah: Cinta dalam Sujudku karya Pipiet Senja.


Sebelumnya, saya juga ingat, bersama-sama buku ini saya juga membeli buku yang lain yang waktu di Amsterdam dibaca oleh Fitri, tapi saya lupa apakah buku itu saat ini masih di Fitri atau hilang di Amsterdam. Judulnya saja saya lupa.

Ketiga, tangan saya gatal setelah mengantar seorang teman dan keluarganya di Hauptbahnhof. Saya mengunjungi sebuah toko buku di sebelah Gleis 12. Setelah searching-searching, saya jatuh hati pada buku berjudul Es war einmal ein Land karangan Sari Nusseibeh yang dialih bahasakan oleh Anthony David. Buku ini mengisahkan tentang tanah Palestina yang direbut. Sudah lama saya ingin membeli lagi buku-buku tentang Palestina setelah selesai membaca buku From Beirut to Jerussalem, tapi di sini buku-buku tentang sejarah Palestina biasanya bias atau cenderung memenangkan sebuah pihak. Awalnya saya khawatir jika ternyata buku yang saya beli ini juga demikian, namun sejauh ini so far so good, walaupun baru saya baca sekitar 25%.


Di tengah-tengah membaca buku itu, saya tidak sengaja melirik kembali beberapa buku yang berdiri di atas rak. Salah satunya adalah novel Akar dari Dee. Jujur, saya suka dengan pembahasaan Dee dalam buku-bukunya, begitu lugas dan sarat makna, walaupun dari isinya banyak beberapa hal di mana saya kurang setuju. Maksud hati ingin melihat kata-kata yang digunakan dalam novel tersebut, apa daya novel itu terlalu menggigit dan membuat saya ingin terus dan terus menghabiskannya.


Perjalanan belum usai, waktu berkunjung ke ruangan kerjanya Birgit di KBRI saya melihat sebuah buku tebal yang sepertinya teramat menarik. Judulnya Die Kathedrale des Meeres, sebuah novel sejarah. Kata Birgit, buku tersebut mengisahkan kejadian-kejadian memilukan di abad pertengahan, terutama perlakuan dan kekerasan terhadap perempuan di jaman itu. Menarik bukan? Tapi saya harus mengendalikan diri saya untuk membeli buku baru lagi sebelum buku yang lama saya selesaikan.


Godaan belum kunjung usai. Kemarin usai salat Ashar di Masjid IZDB Osloer Strasse, saya menemukan sebuah buku yang lagi-lagi menggiurkan. Buku ini menceritakan seorang VJ pertama MTV Jerman, Kristiane Backer, yang mejadi mualaf dan mengobah total jalan hidupnya sesuai dengan jalan dan ajaran Islam. Judul bukunya adalah "Von MTV nach Mekka". Saya yakin, buku ini sangat inspiratif dan bisa membangkitkan semangat. Mungkin buku ini akan saya beli usai musim ujian.


Ngomong-ngomong soal ujian, semestinya bukan buku-buku itu yang harus saya baca, melainkan buku yang satu ini, karena ujiannya sudah di depan mata!


Memang, terlalu banyak buku untuk dilahap. Memang, berat rasanya untuk menjalani konsistensi. Bagaimana dengan kamu?

Tuesday, January 05, 2010

Futuristika

Futuristika
Oleh: Dimas Abdirama


Di Berlin sedang terjadi kekacauan yang luar biasa.

Jutaan orang berkumpul di beberapa tempat. Straße des 17. Juni dipenuhi lautan manusia yang berjejal sampai tugu Siegesäule dan Brandenburger Tor. Ribuan orang menumpuk sepanjang Friedrichstrasse sampai Unter den Linden dan Alexanderplatz. Sebagian lagi memadati Potsdamer Platz. Mereka berteriak, mengacungkan plakat dan spanduk tinggi-tinggi. Kekacauan ini bertendensi membuat keributan yang sangat dahsyat.

Kanselir Maximillian Müller menyatakan Republik Federal Jerman berada pada status darurat. Di Hamburg, Köln, München, dan Frankfurt aksi unjuk rasa serupa juga sedang berlangsung secara besar-besaran. Menteri Ekonomi dan Teknologi Ayse Guncan mengadakan pertemuan rahasia dengan kanselir, presiden, dan beberapa pejabat tinggi. Ratusan batalion Bundeswehr dikerahkan untuk mengamankan masa yang makin memanas.

„Kita tidak punya waktu lagi Herr Müller! Kita harus segera memanggil dia!“ ujar Menteri Ekonomi dan Teknologi Ayse Guncan dengan panik. Presiden Alexander Winterroll mengamati dokumen-dokumen yang dibawa Frau Guncan.

Maximillian Müller mengerenyitkan dahi. Sesekali melihat jam tangannya dengan gugup. „Apa kebijakan ini tidak akan membuat ekonomi kita morat-marit, Frau Guncan?“

„Tidak! Kita bisa perkuat kembali hubungan perdagangan kita dengan negara-negara sahabat! Selain itu kita masih punya aset yang cukup besar. Saya akan segera batalkan penjualan VW, Mercedes, dan Bosch ke Amerika. Yang penting, sekarang ini kita harus segera membeli lisensi Tremendous Chip itu dan menyebarkannya ke rakyat kita!”

Kanselir Müller menghirup nafas dalam-dalam, ia tadahkan kepalanya ke atas sambil memejamkan mata. Di dalam tempurung kepalanya, ratusan sel-sel otak sedang berputar dengan cepat bagai teknologi komputer super yang tercanggih.

“Baik! Panggil orang itu sekarang juga!” ujar Müller dengan mantap. „Tolong beritakan kepada Menteri Luar Negeri Phillip Feierabend dan Menteri Kesehatan Hülya Bülüt untuk menghadap saya di Bundeskanzeleramt secepatnya!“

Terik matahari di musim panas makin menggila. Sejak dimulainya musim panas di bulan Februari, sudah banyak virus-virus baru bermunculan akibat limbah dan tumpukan sampah di negara-negara sub saharan yang dibawa oleh angin selatan menuju Jerman. Di sini, lapisan karbondioksida yang tebal memerangkapi virus-virus itu untuk berkembang biak dan beranak pinak dengan leluasa. Yang terparah muncul di bulan ini, virus flu H5N4, hasil rekombinasi genetika flu manusia, kuda, unggas, dan babi menyerang sebagian besar wilayah Jerman.

“Herr Müller! Ada telecam dari Menteri Pertahanan Georg Hiller-Schmeterlinge!” ujar seorang asisten sambil tergopoh-gopoh membawa seperangkat monitor dan alat telecam ke hadapan Maximillian Müller.

Di layar telecam muncul wajah Menteri Pertahanan dengan setelan jas hitamnya. Dia selalu terlihat gagah bahkan di situasi genting seperti ini. Padahal baru saja ia ikut turun ke jalan untuk menenangkan jutaan manusia yang sedang berdemonstrasi sambil membagi-bagikan masker pelindung nafas agar manusia yang berjejalan di sana tidak terkena virus-virus mematikan.

„Herr Müller, apakah kebijakan membeli Tremendous Chip itu sudah Anda pikirkan matang-matang?“ ujarnya. „Saya pikir, ini terlalu berbahaya. Kita bisa berada dalam cengkraman bangsa asing! Walaupun orang itu pernah berkuliah di Jerman, tapi dia tetap bukan warga negara Jerman! Lagi pula, cara kerja Tremendous Chip itu bisa membongkar semua informasi genetik seorang manusia! Sangat berbahaya…”

“Cukup!” bentak Müller. “Atas nama Vaterland! Vaterland! Deutschland ist über alles! Über alles in der Welt! Kita wajib melindungi rakyat kita! Kita tidak punya waktu banyak!“

***

Jauh di sana, di negeri yang subur makmur gemah ripah loh jinawi, serombongan mobil hitam berplat putih CD 32 mendatangi sebuah rumah rindang di wilayah Duren Sawit, Jakarta. Lelaki muda peraih nobel kedokteran dan fisiologi atas penemuannya di bidang imunologi yang ia beri nama Tremendous Chip Dms1986 sedang duduk-duduk santai menikmati senja sambil mendengarkan musik di beranda belakang yang berhadapan dengan kolam renang dan pohon-pohon tanaman tropis. Seorang (atau sebuah) robot dengan cepat mendatanginya, lalu mengatakan bahwa di depan sana ada beberapa orang bule ingin segera menemuinya.

Lelaki itu tersenyum, lalu menekan sesuatu di telinganya, mengaktivkan alat telecommunate yang terpasang di baliknya.

„Haidar, bisa kamu temui mereka dulu?“ sahutnya pelan.

Tak lama datang seorang lelaki berperawakan tegas berpakaian kemeja putih dengan vest hitam. Kacamata Gucci yang berbingkai tebal makin memperjelas karakternya sebagai seorang yang serius dan berdedikasi tinggi.

„Selamat sore!“ sapa salah satu dari mereka. Seorang lelaki berkulit putih dan berambut pirang yang memperkenalkan diri dan koleganya dari Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Jakarta.

„Guten Abend,“ balas Haidar.

„Ach! Sie sprechen Deutsch!“ balas si bule itu lagi.

„Ya, tapi saya sedang tidak berminat berbahasa Jerman,“ lanjutnya. Ia melirik sedikit ke arah orang-orang dengan wajah tegang itu. Ada sepuluh orang yang datang. Yang baru saja berbicara adalah Duta Besar Leon Gummibärchen. Haidar mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruangan depan. Seorang (atau sebuah) robot membawakan mereka minuman dingin.

Haidar membuka laptop Apple peraknya, tangannya dengan lincah mengetik sesuatu lalu tak lama membuka sebuah buku harian tebal bersampul kulit hitam.

„Maaf, besok Tuan Mushab harus berada di Tembagapura,“ kata si Arab-Indonesia itu.

„Kami hanya membawanya sebentar. Satu hari saja... Kanselir Müller sudah menunggunya di Berlin... Kami mohon...“ pinta seorang perempuan dengan rambut sebahu yang diikat kuncir kuda dengan nada memelas.

„Tolonglah, demi nilai-nilai kemanusiaan. Rakyat kami menderita. Kami sudah mendapat izin dari Presiden Abdirama...“ lanjut Gummibärchen.

Haidar menatap mereka dengan serius dari balik kacamatanya yang melorot sampai ke bawah hidung. Ia menggeleng. Walaupun mereka membawa-bawa nama Presiden Republik Indonesia, tetap saja Mushab yang menentukan langkahnya sendiri.

„Presiden Abdirama tidak memiliki kuasa apa-apa untuk Tuan Mushab. Anda tahu itu bukan?“ sahut Haidar. Mereka bersepuluh tertunduk lemas, kartu as bangsa mereka terletak pada penemuan lelaki itu.

Mereka saling berpandang-pandangan dengan raut wajah yang pucat pasi. Di ruangan itu bersemilir angin hangat yang datang dari ruangan tengah. Hening sesaat suasana kala itu.

„Ehm... Baik, saya akan berangkat ke Berlin bersama kalian sekarang...“ bunyi suara dari arah halaman belakang. Lelaki sederhana dengan kaus oblong dan celana panjang itu menemui mereka dan menghentikan istrahat sorenya. „Walau bagaimana pun, Jerman telah memberi banyak hal-hal berharga untuk saya...“

Tiba-tiba saja Herr Gummibärchen melompat dari tempat duduknya dan memeluk Mushab kuat-kuat sampai ia kesulitan bernafas. Mereka berteriak histeris meluapkan kegembiraannya, raut wajah-wajah mereka kembali benderang. Perempuan berambut sebahu yang diikat kuncir kuda tadi juga spontan berlari ke arahnya, ingin ikut memeluknya.

„Jangan, Frau Weinachtsbaum! Herr Syuhada tidak senang dipeluk oleh sembarang orang!“ teriak salah seorang di antara mereka untuk menghentikan niatan atase konsuler yang bernama Stefanie Weinachtsbaum itu.

***

Tiga jam kemudian, Mushab sudah sampai di Berlin dan segera dibawa oleh tim khusus menuju Bundeskanzeleramt menghadap Kanselir Müller. Di perjalanan dengan mengendarai helikopter jet, Mushab melihat ratusan manusia terdampar di jalanan. Kehausan, kelelahan. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat kepayahan dengan lilitan selang-selang infus untuk menjaga mereka terhindar dari infeksi virus dan bakteri yang bertebaran di sana. Anak-anak menangis sambil meronta-ronta. Ibu-ibunya kebingungan berupaya menghentikan tangisannya. Pemandangan yang sangat kontras dengan yang ia alami beberapa tahun yang lalu saat ia menyelesaikan studinya di kota itu. Saat Jerman sedang jaya-jayanya.

Sesampainya di sebuah bangunan tinggi dengan dinding kaca bernuansa minimalis yang sangat berbeda dengan bangunan Bundestag megah di sebelahnya yang bernuansa klasik, Mushab Syuhada disambut oleh Kanselir Maximillian Müller dan Presiden Alexander Winterroll. Di belakang mereka berjejer beberapa pejabat penting dengan wajah harap-harap cemas. Ini dia orangnya, batin mereka. Orang yang bisa menyelamatkan bangsa ini dari kemelut.

„Silahkan duduk Herr Syuhada,“ Müller menyodorkan tangannya ke arah bangku empuk di hadapannya. „Langsung saja, kami ingin membeli lisensi Tremendous Chip Dms1986 untuk kami bagikan kepada rakyat kami. Mereka semua dalam keadaan bahaya. Penyakit-penyakit memata-matai kita di negara ini!“

Kanselir Müller menolehkan kepalanya ke kiri dan kanannya. Berharap salah seorang menterinya menambahi apa yang baru saja ia ajukan. Georg Hiller-Schmeterlinge menangkap tatapan Kanselir Müller yang penuh makna itu.

„Bisa Anda jelaskan bagaimana cara kerja dari chip buatan Anda?“ tanya Menteri Pertahanan Georg Hiller-Schmeterlinge kemudian.

Mushab mengangguk pelan, diliriknya Haidar yang berada di sampingnya lengkap dengan laptop Apple perak dan buku harian tebal bersampul kulit hitam. Haidar paham maksud lirikan tuannya. Buru-buru ia mengeluarkan beberapa poster tentang chip tersebut.

Tremendous Chip Dms1986 adalah sebuah chip kecil yang berfungsi sebagai pusat pengendalian penyakit di tubuh manusia. Dengan menanamnya di bawah jaringan kulit, chip itu mampu mengendalikan fungsi dan cara kerja sel dengan sinyal-sinyal cytokin yang dikeluarkannya. Jika ada virus masuk ke dalam tubuh manusia, maka chip itu akan menangkap kode genetik virus tersebut dan menghancurkannya. Bagian tubuh yang rusak seperti patah tulang atau kulit yang terbakar, dapat segera disembuhkan dengan mendorong sel-sel di sekitarnya untuk berregenerasi. Penyakit genetik dapat disembuhkan dengan memperbaiki kode-kode genetik di setiap sel di tubuh manusia. Dengan Tremendous Chip Dms1986, manusia akan terbebas dari segala penyakit yang muncul dewasa ini.

„Namun, pasti Anda melakukan kontrol untuk orang-orang yang memakai chip itu bukan?“ tanya Hiller-Schmeterlinge lagi, kali ini dengan pandangan kritis.

„Ya. Bila seseorang menanam chip itu di tubuhnya, maka saya bisa dengan leluasa melihat kode-kode genetik orang itu. Bahkan saya bisa mendengar apa yang mereka pikirkan di otak-otak mereka karena chip ini memiliki kemampuan menangkap sinyal-sinyal yang muncul di sel otak, lalu menginterpretasikannya ke dalam bentuk sebuah bahasa...

...dan bila ada seseorang yang tidak saya suka, tentu saya bisa saja mengubah kode genetik orang itu semau saya, lalu membunuhnya pelan-pelan atau tiba-tiba. Semua bisa saya lakukan dari balik monitor saya...“

Kanselir, presiden, dan beberapa pejabat yang hadir di situ menjadi tegang. Keringat dingin bercucuran dari pelipis-pelipis mereka.

„Sekarang terserah Anda, apakah Anda benar-benar ingin membeli chip saya dengan segala konsekuensinya?“

Mereka saling berpandangan, namun pada akhirnya mereka hanya mengangkat bahu. Tidak ada jalan lain, rakyat mereka di luar sana menginginkan chip itu, namun mereka tidak bisa membelinya karena harganya yang sangat mahal. Bahkan untuk membayar barang itu, Jerman mempertaruhkan kestabilan ekonominya. Namun apa yang bisa mereka perbuat? Jika mereka biarkan rakyat mereka mengaung dan menjerit, pasti ekonomi mereka akan lebih hancur dari yang mereka duga. Rakyat menuntut pemerintah untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kesejahteraan jutaan rakyat Jerman. Mereka ingin pemerintah membelikan mereka barang itu dan membagikannya dengan cuma-cuma.

Keadaan makin genting. Kanselir Maximillian Müller dihadapkan pada pilihan sulit. Bangsa dan rakyatnya akan dikontrol dengan mudah dari jarak jauh oleh orang asing. Apakah ini merupakan pertanda kehancuran bangsa besar yang sangat terpandang di dunia itu?

„Baik, demi Vaterland, kami akan membeli chip Anda!“

***

Berlin, tahun 2131.

Setahun setelah rakyat Jerman menanam chip itu di tubuh-tubuh mereka, perubahan besar terjadi di negara itu. Negara Jerman menjadi bangsa yang besar, bahkan mengalahkan kebesaran bangsanya di era Gerhard Schröder dan Angela Merkel. Jerman terdepan di segala bidang, baik teknologi, ekonomi, perdagangan, pendidikan, budaya, maupun olahraga. Dan yang paling mencolok, peradaban, pola pikir, dan karakter rakyat Jerman berubah total ke arah kebaikan.

„Herr Outogomonieu, apa kabar?“ sapa Frau Wenzel ke tetangganya yang berkulit hitam sambil menyiram tanamannya dengan senyum yang manis. Tradisi sapa-menyapa, tolong-menolong, dan kedekatan hubungan keluarga menjadi budaya baru di Jerman. Tidak ada lagi wajah-wajah muram atau bentakan-bentakan kasar di negara ini. Tidak ada lagi pandangan merendahkan terhadap orang lain di negeri ini. Tidak ada lagi egoisme, semua kejelekan hancur lebur.

„Alhamdulillah, akhirnya pemerintah melarang peredaran alkohol!“ teriak Frau Kittel yang disambut dengan sahutan alhamdulillah dari Frau Schmidt dan Herr Neubauer.

„Jangan lupa, besok Ustadz Hubsch akan ceramah di televisi!“ kata Annette di depan kelasnya. Murid-murid yang lain bersorak gembira.

„Iiih, kok orang-orang jaman dulu pakai bajunya jelek-jelek ya mah?“ celoteh Martin ke ibunya melihat buku sejarah yang dipenuhi foto orang-orang yang berpakaian seadanya. Maklum, di jaman ini yang menjadi trend adalah busana serba tertutup.

Mushab tersenyum lebar melihat cara bekerja pegawai-pegawainya dari balik monitor. Mereka mengubah sinyal-sinyal pikiran setiap rakyat Jerman dan menggantikannya dengan sinyal-sinyal positif, sehingga mereka lebih ramah, santun, dan memiliki etos kerja yang lebih baik dari sebelumnya.

„Haidar, siapkan pesawat sekarang, aku mau terbang ke Berlin. Bilang ke Müller, siapkan teh hangat. Sekarang bulan Agustus, pasti sudah mulai musim dingin...“

Tiga jam kemudian Mushab sampai di Bundeskanzeleramt. Perubahan besar-besaran sudah terjadi. Kanselir Maximillian Müller menyambutnya dengan gembira.

„Silahkan, ini teh hangat yang Anda pesan,“ kata Müller. Mereka tertawa renyah.

„Apa saya bilang. Kita belajar dari sejarah. Kalau di jaman Merkel dulu tidak ada yang concern dengan perubahan iklim, pasti akan ada keadaan lebih parah dari sekarang. Jaman sekarang saja musim panas dimulai di bulan Februari dan musim dingin di bulan Agustus. Kalau kita baca buku sejarah, dua abad yang lalu kan tidak seperti itu!“ Mushab memulai pembicaraan.

„Untungnya perubahan iklim yang menyebabkan merebaknya penyakit ini bisa kita atasi dengan cepat. Rakyat Jerman berterima kasih dan berhutang budi kepada Anda, Herr Mushab!“

„Tidak perlu... tidak perlu... Anda dan rakyat Jerman tidak perlu berterima kasih kepada saya. Jerman negara saya juga. Saya dulu berkuliah di sini... Saya mencintai negara ini...“

Menteri Ekonomi dan Teknologi Ayse Guncan yang berjilbab itu mendatangi mereka. Ia berterima kasih atas bantuan Mushab mengatasi krisis kesehatan di Jerman setahun yang lalu. Hadir juga Menteri Pertahanan Georg Hiller-Schmeterlinge, Menteri Luar Negeri Phillip Feierabend, dan Menteri Kesehatan Hülya Bülüt.

„Oh ya Herr Müller, kapan Anda bisa saya undang minum teh di Jakarta? Jakarta-Berlin kan dekat, cuma tiga jam saja...“

„Boleh saja, yang jelas jangan bulan depan. Saya ingin menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang dan khusyuk,“ jawab sang Kanselir.

Hembusan angin dingin datang, tanda musim dingin akan segera datang, di awal bulan Agustus ini.


Berlin, 5 Januari 2010
FLP Jerman