Monday, January 31, 2011

Hari Ini

Hari ini, tujuh tahun yang lalu, saya meninggalkan Indonesia dengan perasaan yang campur aduk. Senang, sedih, cemas, dan lainnya. Saya sudah tujuh tahun hidup di Jerman ini, mengemban amanah, memainkan peran yang telah Allah persiapkan. Menjaga Berlin, memutarkan rodanya kembali, karena Allah tidak akan membiarkannya terlantar tanpa ada nahkoda.

Hari ini, siang tadi, saya mendapat jawaban diterimanya saya di Charité Universitätsmedizin. Antara senang dan harap. Cemas karena takut mengecewakan. Insya Allah, saya akan berikan seluruh kemampuan saya yang sangat terbatas ini. Insya Allah, saya akan mengejar cita-cita memperdalam ilmu stem cell, selangkah sebelum mengabdikan diri di Stanford University, USA.

Hari ini, sahabat saya mendapat jawaban dari harapnya. Allah memiliki caranya sendiri untuk mendidik hambaNya agar kerap dan senantiasa bersyukur.

Hari ini, sahabat saya ditinggal pulang oleh ayahnya menuju ke haribaan Illahi. Semoga sabar selalu menyertaimu. Jangan khawatir, kita semua berada di sini untuk mendukungmu. Lanjutkan perjuanganmu, kejar cita-citamu.

Hari ini, selesai.


Friday, December 31, 2010

The Winter Backpackers

Perjalanan di musim dingin dimulai. Tahun kemarin saya sempat menjelajah wilayah barat Jerman, bermain ski di Sauerland (Winterberg), dan berlanjut sampai Luxembourg. Tahun ini saya berencana backpacking ke wilayah selatan Jerman. Selama ini saya belum pernah mengunjungi salah satu kota besar di Jerman, Munich, oleh karena itu saya niatkan untuk pergi ke sana. Sekalian berlatih ski lagi di sebuah kota yang terkenal dengan resort musim dingin dan puncak tertinggi di negara ini, Garmisch-Partenkirchen, serta melintasi perbatasan Jerman-Austria untuk mengunjungi kota kelahiran Mozart, Salzburg.

Singkat cerita, saya, Karimi dan Asroi memulai ekspedisi musim dingin kami. Karimi punya permintaan untuk mengunjungi kota Penzberg. Pasalnya, di sana terdapat sebuah masjd yang berdiri megah di kaki pegunungan Alpen. Dulu dia pernah dikirimi sebuah koran yang di dalamnya terdapat artikel tentang masjid tersebut. Judulnya "Masjid Penzberg dan Eksistensi Islam di Jerman" (Republika, 31 Oktober 2008). Koran tersebut pernah ia pajang, dan ia bertekad suatu hari dapat mengunjungi masjid itu.

Sunday, December 19, 2010

Cerita Pilihan Pekan Ini

[Cokelat]

Ketika aku sedang berkumpul dengan kolega-kolega kerja pada sore itu, sekotak cokelat dibagi-bagikan sebagai hadiah natal dari divisi lain. Aku mengambil sebuah cokelat putih berbentuk kerang, spontan salah seorang kolega kerjaku berteriak.

"Dimas! Di cokelat itu ada alkoholnya!" lantas ia merebut kotak cokelat itu dan segera melihat bahan bakunya di bungkus belakang.
"Tuh kan benar! Ada liquor-nya!" katanya keras-keras. Aku kagum sekali pada L, teman Jerman saya yang nonmuslim itu malah yang paling panik melihat aku memegang cokelat yang mengandung alkohol. Di setiap acara apa pun, dia yang terdepan memberi tahuku isi kandungan di setiap makanan yang disajikan. "Di situ ada salaminya, ini ada dagingnya," dan lain-lain.

"Duh ada alkoholnya, ya?" kataku kikuk. "Buat kamu mau nggak?" tanyaku lagi.
"Aku juga tidak minum alkohol," jawabnya. Aku sangat malu menawari dia sesuatu yang untukku haram hukumnya, apalagi dia juga tidak minum alkohol. Aku menyesal telah mengambil cokelat itu. Aku menyesal malah menawari dia. Aku menyesal, dan aku buang cokelat putih berbentuk kerang itu ke tempat sampah.

Friday, December 17, 2010

Antara Ibu dan Jarak Dunia

Jumat malam.

Selepas beraktivitas di masjid seharian, saya beranjak pulang. Sebenarnya saya ingin tidur lebih cepat supaya besok bisa bangun pukul 5:00 dan bisa menuju masjid untuk salat subuh. Nyatanya saya membuat segelas susu dan bersantai-santai sebelum beranjak tidur.

Singkat cerita, saya membuka YouTube, mendengarkan lagu soleram (yang menjadi lagu kesukaan saya beberapa waktu terakhir ini), dan menjelajah Facebook. Saya tertarik membuka profile seorang ibu dari teman saya, Deva Mandela. Setelah melihat-lihat beberapa foto, saya menuju ke album profile picture-nya. Di sana banyak sekali tertampang foto-foto Deva, baik yang masih bayi, balita, sampai yang sekarang. Sepertinya sang ibu sangat menyayangi anaknya yang satu itu, walau saya yakin, sang ibu juga menyayangi anak-anaknya yang lain.

Thursday, December 09, 2010

Soy una Raya en el Mar

Soy una Raya en el Mar

“Canopus!” Teriaknya. “Tunggu aku!”

Absurd. Langit ketika itu berwarna ungu. Capella menjerit-jerit sambil berlari mengejar kereta yang semakin melaju cepat meninggalkan peron di stasiun itu. Hilang. Kereta sudah terlampau jauh berjalan. Capella tidak terlihat lagi di kaca jendela. Namun jika Canopus terpejam, ia bisa melihat gadis itu sedang merunduk memecahkan tangis yang luar biasa hebat, meraung-raung. Absurd, dilihatnya kali ini langit berwarna hijau. Olarin menembus bayangan ruang dan waktu, menyapanya pada titik bisu.

“Bisakah kau menjawabku?” cecarnya. “Sekarang juga, Canopus, aku sudah tak tahan!”

Monday, December 06, 2010

Nguping Berlin

Terinspirasi dari Blog Nguping Jakarta yang membuat saya terbahak-bahak. Blog ini adalah versi Indonesia dari blog original untuk kota New York. Sangat entertaining, terlebih dialog yang ditulis memang sangat menggambarkan kota Jakarta.

1. Menurut loe kelakuan loe plus?

Cewek #1: Eh dingin gila, suhunya minus! Kayak kelakuanlo...
Cewek #2: ...

Didengar oleh cewek #3 yang mendadak nggak mau temenan lagi sama cewek #1

2. Bukan... Tapi salah cewek-cewek yang ngejer-ngejer loe!
Cowok: Terus, ini semua salah gue? Salah muka tampan gue?
Cewek: ...

Ketika kantin sabtu, didengar oleh seorang cowok yang langsung kehilangan nafsu makan

Thursday, December 02, 2010

Di Kala Salju Turun

Di kala salju perlahan-lahan turun, lamat-lamat, suasana menjadi sangat syahdu. Jika Tuan melihat bagaimana salju itu menumpuk di pelataran, turun dari langit yang kelabu, memutihi ranting-ranting pohon, Tuan akan merasakan seakan-akan waktu berputar menjadi sangat pelan, dunia seakan menjadi sangat hening, nafas berhembus menjadi sangat panjang.

Tuan mempersiapkan ruangan tempat Tuan akan menghabiskan sore. Menggeser sofa kecil Tuan agar berhadapan dengan jendela dan menyelimutinya dengan selimut tebal yang lembut. Tuan juga tidak lupa meletakkan bantal-bantal kecil dan secangkir coklat panas di meja pada sisi samping sofa Tuan.

Udara dingin bisa merasuki ruangan Tuan, maka Tuan membakar seikat kayu di perapian yang hangatnya menjalar ke seluruh ruangan. Tak lupa Tuan mengenakan kaus kaki tebal dan baju yang bisa menahan panas untuk tidak keluar dari tubuh Tuan. Kelabu di luar ikut menggelapkan ruangan, tapi Tuan tidak perlu menyalakan lampu-lampu, cukup bara-bara api di perapian sudah memberikan sebilas warna-warna merah jingga yang halus di hitam yang semakin pekat.

Penghukumannya di Dunia

Tiada dosa yang paling layak untuk dipercepat penghukumannya oleh Allah di dunia, di samping hukumannya yang disimpan bagi pelakunya di akhirat, selain dosa karena kezaliman dan pemutusan tali silaturahim - HR. Baihaqi.

Tuesday, November 30, 2010

Stipendienmöglichkeiten

Sebagian besar mahasiswa Indonesia yang mengikuti program bachelor atau master datang untuk menuntut ilmu ke Jerman dengan beasiswa dari yayasan ayah bunda. Sebagian dari mereka ada yang berasal dari keluarga dengan ekonomi cukup, ada juga yang berasal dari keluarga dengan ekonomi cukup untuk membiayai beberapa bulan/tahun saja.

Untuk menyambung hidup saya tahu benar betapa beratnya berkerja sambil berkuliah. Sebagian besar mahasiswa Indonesia hanya tahu bahwa tidak ada beasiswa untuk mahasiswa asing apalagi yang sudah memulai kuliahnya di sini. Nah, pada cerita saya kali ini, saya akan memaparkan beberapa informasi tentang beasiswa untuk mahasiswa asing yang sudah berkuliah di sini. Pesan saya, coba saja untuk melamar, tidak perlu ragu karena tertahan persyaratan yang mungkin belum terpenuhi, karena tidak ada salahnya mencoba dan berusaha. Siapa tahu Allah punya rencana. Tertarik?

Monday, November 29, 2010

Pelukmu, Dekapanmu, Hangatmu

Aku tak akan pernah lupa saat tahun lalu aku melihat wajahmu kembali setelah tiga tahun tak bertemu. Ada banyak perubahan, terlalu banyak malah, yang menyadarkanku bahwa waktu memang terus berputar dan aku semakin tua.

Aku tak akan pernah lupa saat kemarin aku melihat lagi wajahmu. Siang itu, selepas salat zuhur, aku menuruni anak tangga dan melihatmu di sana. Kau tampak sangat berbahagia dengan kehadiranku, serta langsung memelukku, dekap sekali, hangat sekali dan kau tidak kunjung melepaskannya. Tiba-tiba aku sadar, bahwa ada rasa seperti ketika aku kecil dulu...

Dulu, aku adalah anak yang manja dan cengeng. Aku masih ingat setiap kali aku menginginkan sesuatu, aku merengek sambil memeluki kakimu. Aku masih ingat setiap kakakku mengganggu, aku mengadunya kepadamu sambil memeluki kakimu, menangis sampai kamu menggendongku dan membuatku tertawa kembali...

Aku masih ingat cerita Sangkuriang, cerita si Amri yang punya bibi rusa dan tinggal di atas gunung, yang gemar kau ceritakan kepadaku...

Aku masih ingat semua pengorbananmu, untuk menjadikan aku menjadi aku...

Dan aku hanya bisa terpaku dalam pelukanmu, bukan karena tidak tahu, justru karena aku sangat tahu sehingga aku memilih membisu. Aku ingin dekapan itu tidak cepat berlalu...

Sabar -- hanya itu yang bisa aku bisikkan. Pah, aku ingin membuatmu bangga. Pah, sungguh, aku hanya ingin membuatmu bangga. Senyummu dan senyum mama adalah segalanya. Walau aku seorang yang banyak kekurangan, aku ingin yang sedikit dariku bisa membuat kau bangga. Pah, aku rindu padamu, sangat rindu, semoga kita bisa segera kembali bertemu...