Thursday, February 07, 2013

From Bangkok to The Moon

Bismilahirrahmaanirrahiim.

"Paris is always Paris but Berlin is never Berlin!" seperti itulah Jack Lang, mantan menteri kebudayaan Prancis, menyebut Berlin, sebuah kota yang dinamis, yang begitu cepat berubah dan melakukan perubahan. Perubahan-perbahan yang ditangkap dan direkam oleh sebuah tempat kecil di tengah kota ini, Masjid Al Falah, sebagai salah satu saksi sejarah betapa cepatnya Berlin berubah.

Sore itu di musim dingin. Sebuah pesan singkat mengunjungi Whatsapp-ku.

"Dimas, apa kabar? Hehe."
"Kabar baik, Meg! Lo gimana?"
"Mau tanya, temen gue ada yang mau tanya-tanya tentang Islam. Dia orang Thailand yang besar di Jerman. Dia minta diajak ke masjid. Mau tanya-tanya tentang Islam, mau diajarin shalat. Lo besok ada waktu gak?"

Lalu besok itu datang, dan bel masjid kami berbunyi.

"Assalaamu'alaykum, saya ingin bertemu dengan imam masjidnya," kata seorang lelaki Indonesia yang kira-kira berusia 30-tahunan. Ia memperkenalkan diri dan aku mempersilahkan masuk. Aku sempat bingung, apakah lelaki itu orang yang dimaksud temanku? Bukankah temanku bilang akan datang orang Thailand yang ingin bertanya tentang Islam? Setelah kupanggil Mas Adit, imam masjid kami, mereka pun saling berbincang. Rupanya lelaki itu seorang mualaf dan ingin bertanya beberapa hal tentang Islam. Pak Rudi namanya. Dalam perbincangannya terlihat ia begitu lega telah datang ke masjid ini dan mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia simpan. Tak lama lelaki itu kembali pulang.

Bel di masjid kami kembali berbunyi.

"Assalaamu'alaykum Dimas, ini gue dateng sama temen gue," kata Mega.
"Ayo Meg, masuk!" ujarku.
"Ini temen gue itu..." Mega memperkenalkan seorang lelaki berkulit cokelat dengan tinggi sekitar 170 sentimeter. Terlihat berusia sebaya denganku.

Namanya Chatrak, sejak usia lima tahun sudah tinggal di Berlin. Ia tertarik dengan Islam sejak lama dan sudah mempelajari Islam serta memperbandingkannya dengan agama-agama lain. Ketertarikannya dengan Islam semakin besar walau ia masih memiliki banyak pertanyaan.

"Apa yang menyebabkanmu tertarik dengan Islam?" tanyaku.

Ia menjelaskan panjang lebar dan mengutarakan kemantapan hatinya untuk memeluk Islam. Aku selingi pembicaraan kami dengan hal-hal yang lain. Aku dapat merasakan kalau ia sudah sangat tertarik dan ingin segera memeluk Islam. Aku tanyakan bagaimana pendapat orang tuanya tentang keinginannya berislam, apakah mereka sudah setuju atau belum. Ia bilang tidak ada masalah.

"Dua hari lagi hari Jumat, banyak yang akan datang ke sini untuk shalat Jumat, mungkin kamu mau mulai berislam di hari Jumat?" tanyaku. Ia tidak menjawab. "Apa sih pertanyaan terbesar kamu tentang Islam?" Sambungku lagi.

"Pertanyaan terbesar saya adalah, seberapa besar saya harus tahu tentang Islam sebelum saya masuk Islam?"

Aku menjawab, semua orang belajar Islam, setelah bersyahadat pun kita terus belajar Islam. Yang sudah lahir sebagai muslim pun terus belajar Islam. Maka tidak ada kuantitas pengetahuan tertentu yang disyaratkan untuk masuk ke dalam Islam.

Seusai menjawab pertanyaannya, aku bertanya, "kapan kamu mau bersyahadat?"

Dengan tubuh bergemetar, ia menjawab, "aku mau bersyahadat sekarang."

Disaksikan beberapa rekan di sana, aku mengambil tangannya. Menjabatnya erat. Ia pun membalas dengan jabatan yang sangat erat. Dengan gemetar aku menghirup nafas dalam-dalam, dan menatap matanya. Aku dapat melihat keyakinan di sana, di kedua bolamatanya yang bersinar. Sinarnya terpancar jelas, seperti sebuah sinar akan penantiannya yang lama. Seperti sebuah sinar akan rindu yang panjang. Aku sadar, detik-detik ini adalah momen terpenting dalam hidupnya, sebuah lembaran yang baru, sebuah suasana langit yang disaksikan oleh para malaikat. Aku mulai melafaskan dua kalimat syahadat, ia mengikuti. Dan aku melafaskan dua kalimat syahadat dalam Bahasa Jerman, ia mengikuti.

Allahuakbar! Ia sudah memeluk Islam. Kami memeluknya erat, memberinya selamat. Selamat datang Bruder, semoga engkau dan kita semua terus dan tetap istiqomah di jalanNya sampai akhir hayat kita semua.

Malam itu berlalu, betapa masjid ini menjadi saksi sejarah perubahan. Perubahan dua orang, perubahan kota Berlin.

5 comments:

Haya Najma said...

Intronyaaaa.. keren abis, ayo bikin buku dong Mas:D

Ceritanya keren dan inspiratif, terus ngeblog ya Mas, ditungguin fans2nya

Ms. Barokah said...

wah... ternyata ini cerita akhirnya chati muslim.. :)

Dimas Abdirama said...

Terima kasih Najma.. insya Allah mau aktif lagi..

Berarti lo udah tahu cerita chati dong ris??

Amaliya Ariyani Pertiwi said...

hohohoo baru tau cerita lengkap dibalik syahadatnya. pasti anda gemetar2 haru diselimuti melow feeling ya. hehehe ih sayang banget gak bisa liat!

firma diana amir said...

kisahnya bagus bangettt......