Monday, September 09, 2013

The Artists

The Artists
Dimas Abdirama

Bismillah.

Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk bisa menyulam kembali harapan-harapanmu yang telah sehelai demi sehelai terurai?

“Olarin?”
“Bukan...”

Tiga tahun sudah. Dua belas musim bergerak. Langit telah berkali-kali berubah warna. Ini cerita tentang dia dan mereka, tentang bisu dan haru, dan tentang doa di ujung penantian. Tak pernah kamu melihatnya begitu tenang setenang malam itu. Dia lantas berbisik lemah, amarahmu itu harus berkobar segarang apa yang kamu mampu. Ia lalu pergi bersama pagi yang abu-abu.

***

Dia menari, dia menemukan dunianya, dia mampu menghilangkan banyak tanda tanya akibat rentetan sebab yang sulit dijawab dengan kata, tapi mudah diekspresikan dengan irama. Dia menari, memejamkan matanya, menghirup nafasnya, membiarkan lengannya berayun, kakinya berderap. Dia terus menari, sampai ada sepasang mata yang menangkapnya sempurna, juga dengan gelap mendung dan basah jalan akibat hujan barusan, juga dengan bangunan antik abad pertengahan di pelataran, juga dengan lampu sore yang menyala redup keemasan, juga dengan dirinya yang sedang menatap dia.

“Bis morgen!”
“Danke,”
“Cayenne?!”

Aku suka sore, apalagi setelah turun hujan. Aku suka udara dingin musim gugur. Aku suka daun-daun bertebaran di atas jalan. Bagiku apa yang aku lihat barusan adalah sebuah mahakarya, Cayenne, aku mengenal perempuan itu. Ia berjalan menyebrangi lampu merah dengan latar hari yang mulai melamur, dan sisa rintik hujan yang mulai berakhir. Ia terus berjalan dan menjauh, sementara aku membeku tanpa niat ingin mengejarnya, walau aku tahu bahwa aku tidak akan lagi bisa menemuinya.

“Cayenne?!”

Ia menoleh. Perempuan itu, masih seperti yang dulu. Dunia terdiam beberapa saat ditandai dengan berhentinya air hujan, membiarkan aku mendekat.

“Aku sudah menikah, Maraschino.”

Ia berkata sedemikian pelan seolah pernikahan adalah pintu gerbang yang menutup. Aku bisa membaca jalan pikirannya. Perempuan itu masih seperti yang dulu. Mengucap salam, hilang di keramaian.

“Tunggu dulu Cayenne, jangan pergi dulu!”

Dirinya menginjak bunga jalanan yang ditempeli jentik-jentik air. Dirinya beranjak dari tempat duduknya yang menghangat, meninggalkan kopi yang baru diminumnya setengah, meninggalkan selembar kertas lima Euro di atas meja tanpa menunggu pramusaji mengembalikan sisanya. Dirinya menemukan inspirasi itu. Mengejarnya.

Perempuan itu menahan langkahnya, lalu aku memutuskan untuk berlari mendekatinya. Lari-berlari, ia menunggu. Cayenne berkulit putih, berbibir merah pucat. Ingatkah ia pada kejadian tahun lalu?

Tahun lalu: Oktober datang! Kali ini tidak mengendap-endap. Hampir selusin purnama ia lihat dari pertemuannya dengan Cayenne terakhir kalinya. Bayangannya tetap sama, angin, dingin dan pahit. Ada juga berhelai-helai daun kering berterbangan, berwarna cokelat kekuningan, atau kemerah-merahan. Warna cinta?

Maraschino diam, meneguk kembali kopi susunya yang masih mengepulkan uap hangat, pertanda suhu udara berkontras dengan panasnya kopi dalam gelas. Tahun lalu ia mencari tempat pelarian yang sempurna, letaknya di utara, di tepian samudra atlantik, di pantai barat Norwegia. Ia menjadi penggemar berat negara-negara Nordic, terutama di bulan Oktober, karena angin dingin berdesak-desakan, dan ia suka menciumi baunya.

“Oktober depan aku mau ke Islandia.”
“Northern light berwarna hijau?”

Maraschino mengangguk, lalu tersenyum.

***

Dirinya tiada tahu lagu apa yang hendak dibawakan, apalagi not-not balok yang mengilustrasikan nada. Namun dirinya punya inspirasi itu, penuh padat sesak di dalam otak, menunggu saat yang tepat untuk pecah, tumpah ruah. Ting, dirinya memulai petikan pertama di senar nomor dua. Yang lain hening mendingin, menyiapkan telinganya sempurna untuk menyerap bahasa yang akan dituangkan lewat nada. Nada C mayor dalam Johann Sebastian Bach Cello Suite 1 Prelude. Dirinya masih belum tahu hendak memulai deret irama mana, tapi yang dirinya ingat hanyalah kamu, dalam studio kecilmu, menggores-gariskan warna, meramunya tanpa suara, walau sesekali tertawa, atau dengan gemetar tanganmu melukiskan sastra, dengan kuas di atas kanvas, yang terisak sendat.

Kamu melumuri tangan kananmu dengan warna merah dan tangan kirimu dengan biru, lalu membiaskan keduanya di atas putih. Secepat kilat kamu mencampurinya dengan cat minyak warna-warni lain dan secepat kilat pula kamu menggoreskannya di atas kanvas, abstrak, absurd, namun di sana kamu menemukan keteraturan. Kamu tidak perlu kuas, kamu hanya perlu jemari kurusmu. Kamu menyentuhnya dengan nafas menderu dan membekaskan harmoni. Begitulah kamu bilang caramu berbicara, bercengkrama dengan karya, melukis dengan rasa. Jari-jemarimu kamu jadikan penghubung antara dua hati. Ornamen-ornamen titik dan garis kamu racik sesuai seleramu, seingin kepalamu menuruti isi perutmu. Sama seperti ketika kamu membuat adonan roti.

Roti gandum berwarna cokelat, baru keluar dari bakaran oven dan segera dibaluti kain katun, harumnya meranum. Kamu membuat adonan dengan caramu sendiri, yang tidak ada orang lain yang bisa meniru. Kamu takar gandum itu dengan kepalan tanganmu, kamu taburi garam, ragi dan minyak zaitun, dan roti itu matang mengembang dengan rasa yang agak asam. Renyah dan nikmat hanya dengan seoles mentega, selai cherry dan kopi hitam yang masih mengepul asapnya, yang setiap sore selalu kamu bawa ke mejaku.

“Mengapa kamu mau menerimaku?”
“Karena kamu memenuhi keinginanku,”
“Tahu dari mana?”
“Dari caramu berbicara, bergerak, mengunyah...”

Perempuan itu ingin mendapatkan seorang imam. Dan imam itu adalah Maraschino, ia si pemetik nada C mayor. C untuk Cayenne dan C untuk Cherry. Bagi Cayenne, Maraschino adalah sosok yang soleh, berwibawa, guru agama dan panutan masyarakat. Namun ia tidak tahu bahwa Maraschino membawa cacat.

“Apa cacatmu?”

Maraschino menyisingkan lengan bajunya sampai ke bahu. Ditunjukannya sebuah tato tribal membekas berwujud garis dan kurva akar yang melingkar.

“Aku bertato. Aku tidak bisa menghilangkannya dari tubuhku. Terlanjur sudah.”

Cayenne terseyum hampa. Ia menunda menyajikan roti gandum hangat yang ingin saja ia berikan kepada Maraschino bersama dengan satu toples selai cherry yang diasamkan sebagai penikmat rasa.

“Kamu tahu ini apa?”
“Cherry yang diasamkan.”
“Namanya?”
“Tak tahu.”
“Maraschino cherry, kadang kamu menyebutnya mCherry.”

Padahal, mCherry adalah zat warna yang merah menyala yang dimasukkan ke dalam sel sebagai alat bantu analisis molekular biologi pada penelitian di labnya. mCherry bisa tersenyum seperti manusia. Maka tetaplah tersenyum mCherry, walau senyumanmu mesti membuatmu kembali pada asalmu.

***

Langit telah berkali-kali berubah warna. Kali ini warnanya hijau yang menjilat-jilat malam Islandia. Aurora Borealis, Reykjavík. Inilah pemberhentian terakhir kita sebelum kamu meninggalkan Seattle dan aku berangkat dari Berlin. Kita tutup cerita pada waktu yang bersisa. Aku bukan Olarin, bukan gugusan bintang Canopus dan bukan Vega pada skenario Raya en el Mar. Aku mungkin Capella, si anak kedua. Tapi malaikat sudah datang, menjemputku pada pagi yang abu-abu. Aku sampaikan kepadamu pesan terakhirku: “amarahmu, amarahmu itu harus berkobar segarang apa yang kamu mampu.”

Ia pergi. Aku puas. Kerontang sudah

Hannover, 2013.
In tribute to TKH.

1 comment:

catatan-efi.blogspot.com said...

Kalau dibuat novel, cerita ini bakal menarik sekali.