Tuesday, July 26, 2005

Lintas: Paris vs Berlin

Champs Élysées, 23 Juli 2005 22:50
Kutatap hawa malam itu, sendiri dalam hiruk pikuk cahaya lampu yang berkilauan, lari melintasi suara-suara tawa, semerbak parfum, gumpalan asap rokok, dentingan cangkir-cangkir capucino. Malam yang gegap kala ribu orang merayap memenuhi dua ruas di mana dunia menatap...


Jumat 22 Juli 2005, kami berangkat menuju Paris seusai shalat Jumat dari terminal Berlin ZOB-Messedam-ICC dengan menggunakan bis antar kota dari biro perjalanan yang kami pakai. Perjalanan kami akan memakan waktu selama 16 jam. Hampir mirip dengan lama perjalanan dari Jerman ke Indonesia dengan menggukan pesawat. Asiknya, di tengah-tengah perjalanan kami bisa gelar koran dan makan malam bersama. Seperti piknik. Nggak enaknya, bis yang kita tumpangi kurang nyaman. Terlalu sempit, agak-agak kotor dan AC di atas tempat duduk kami kurang berfungsi. Selain itu ada sedikit masalah juga sih... but it was ok, although I don’t wanna use them anymore… hehehe

Setelah melalui lintas kota-kota di Jerman via jalan tol, menyebrangi negara Belanda dan menelusuri negara Belgia, tibalah kami di tanah Perancis pada pukul lima pagi di sebuah tempat istirahat di tepi jalan tol. Setelah bersikat gigi, dan cuci muka, kami sarapan pagi dengan bekal yang kami bawa sendiri dari Berlin. Di sana ternyata kami bertemu dengan banyak orang Indonesia. Orang Indonesia di mana-mana, nggak hanya di Jerman, di Perancis pun banyak. Nggak salah deh kalau jumlah penduduk Indonesia adalah peringkat ke-empat terbanyak di dunia. Hehehe

Selanjutnya gue tertidur dalam perjalan menuju kota Paris, dan terbangun ketika si Mbak pemimpin rombongan berkata: “Kalian lihat ke arah kiri, itulah Stade de France tempat berlangsungnya final piala dunia tahun 1998 kemarin”. Seketika itu gue tersentak bangun, dan dalam keadaan antara sadar dan tak sadar, gue melihat bangunan stadion itu. Hati gue pun berkata: “Waahh.. sudah sampai di Paris, kota penuh cinta, kota yang romantis, kota yang gue impi-impikan untuk gue kunjungi dulu, kota yang anu, kota yang ini, bla bla..”

Namun puji-pujian itu tidak berlangsung lama, karena segera gue meralatnya. Selepas wilayah Saint-Denis (bagian utara Paris) barulah wajah Paris terlihat. Kotor dan berantakan! Mirip seperti Jakarta. Sangat jauh bila dibandingkan dengan Berlin, dimana semua teatur, rapih, dan terarah. Satu point untuk Berlin.

Tapi, gue sih lebih suka sesuatu yang tidak terlalu terarah dan beraturan, karena jika kita teralalu lama dalam suatu keberaturan, kita akan merasa cepat bosan, terlalu statis. Beda jika kita dihadapkan dengan kesemrawutan. Memang sih menjengkelkan, tapi membuat hidup menjadi dinamis. Untuk alasan gue yang satu ini, satu point untuk Paris.

Biarpun sedikit kotor dan berantakan, di Paris lebih jarang ditemukan anjing dibandingkan di Berlin, dan juga sangat jarang ditemukan kotoran ajing berceceran di pinggir jalan. Itu satu dari yang tidak gue suka dari Berlin: banyaknya kotoran anjing di mana-mana. Well, tapi gue pernah dengar kalau kota dengan kotoran anjing terbanyak adalah Paris, tapi ternyata tidak sesuai dengan apa yang gue lihat tuh, maka satu point untuk Paris.

Oke, selanjutnya adalah mengitari kota Paris memakai bis yang kami tumpangi. Di sini barulah kita melihat sisi Paris yang lain, yang subhanallah, indah banget! Kami melihat beberapa tempat penting di Paris yang akan kami kunjungi setelahnya, seperti Arc de Triomphe, Champs Élysées, Museum Louvre, Notre Dame, Eiffel Tour, dan lainnya. Bis kami berhenti di sebuah jalan yang menghubungkan Moulin Rouge dengan Sacre Cour.

Sacre Cour adalah sebuah bangunan gereja putih dengan ukiran-ukiran dinding yang bergaya jaman Barok dan Renaissance, terletak di atas bukit di utara kota Paris. Terpisah memang dengan pusat-pusat wisata kota Paris lainnya – yang umumnya terletak di wilayah tengah. Sacre Cour ini memiliki halaman yang luas dengan anak-anak tangga dari sisi kiri dan kanannya. Seperti istana di Potsdam yang gue kunjungi akhir tahun lalu.



Sacre Cour


Menara Eiffel adalah tempat kedua yang kami kunjungi. Kami memulai aksi jepret foto di Palais de Chaillot, sebuah tempat yang menghadap ke arah menara Eiffel, di mana kita dapat mengambil gambar menara itu secara sempurna. Jarak dari Palais de Chaillot ke Eiffel Tour sekitar 600 meter. Di tempat itu kami menghabiskan makan siang yang kami bawa dari Berlin. Di tempat itu kami mulai mencari souvenir kota Paris. Adalah Pak X – terlihat seperti orang India – menjual beberapa souvenir ke pada kami seperti gantungan kunci Eiffel, kartu pos, dsb dengan harga yang sangat amat murah. Tapi untuk membelinya kami diperlakukan seperti mafia. Ternyata souvenir-souvenir itu termasuk dalam pasar gelap di sana. Buktinya, pedagang itu (bersama pedagang yang lain) ketakutan begitu mereka melihat kehadiran polisi di tempat itu. Bagi gue sih bodo amat. Yang penting bisa dapet souvenir dengan harga yang murah. Keberadaan pedagang seperti itu memberikan satu point untuk Paris.



Eiffel Tour


Selanjutnya kami menuju tempat berdirinya menara Eiffel. Wouw! Sungguh terkesannya gue dapat berada persis di bawah menara Eiffel. Menara itu dapat dinaiki baik memakai lift atau memakai tangga. Untuk memakai lift diperlukan biaya (gue lupa sih) antara 8 – 12 Euro per orang. Kami tidak menaiki menara itu karena selain mahal, antriannya panjang bener! Kayaknya diperlukan sehari khusus deh jika ingin benar-benar menaiki menara itu.

Setelah duduk-duduk di taman menara Eiffel – tempat shootingnya film Eiffel I’m in Love – menyaksikan orang berlalu-lalang, meneguk minuman jus jeruk segar penghapus dahaga, bersantai bersama ratusan turis lain yang sedang menikmati terik matahari di siang itu, dan mendengarkan beberapa bahasa di dunia di mana salah satunya adalah bahasa Indonesia (I told you, there were so many Indonesian in that place!), kami melanjutkan perjalanan.

Kami menemukan sebuah toko souvenir kecil milik orang Aljazair yang beragama Islam. Mereka menunjukkan wilayah tempat masjid berada. Untuk dapat shalat Dzuhur dan Ashar sambil sedikit melepas lelah, kami ingin mengunjungi masjid itu. But first of all, kami harus mencari stasiun Metro terdekat dari tempat itu.

Tahukah kalian apa itu Metro? Metro itu adalah stasiun kereta bawah tanah, seperti U-Bahn di Jerman atau Subway di Inggris dan Amerika. Setelah bertanya sana-sini dengan berbekalkan “Parlez-vous anglais? Où se trouve la Metro-Station proche?” akhirnya kami bertemu dengan stasiun Metro bernama Bir Hakeim. Bila dibandingkan, stasiun U-Bahn di Berlin jauh lebih bagus, modern, dan tertata dibandingkan stasiun Metro di Paris. Dua point untuk Berlin dalam hal ini. Namun stasiun Metro di Paris memakai sistem karcis untuk membuka pintu masuk ke dalam stasiun. Menurut gue, ini lebih efektif dari pada keberadaan BVG Kontrolle di Berlin yang untuk menjalankan tugasnya harus menyamar terlebih dahulu. Satu point untuk Paris.

Di stasiun Metro, kami pun masih harus bertanya dengan orang lain. Berbekal bisa membaca peta saja tidak cukup, karena tata kota Paris yang begitu semrawut. Kalau di Berlin, orang tidak boleh nyasar, karena peta tersedia di mana-mana dan dapat sangat mudah dipahami karena kotanya yang teratur. Tapi kalau di Paris nyasar, menurut gue itu biasa dan lumrah. Untungnya, sejumlah orang Perancis yang kami tanyai (egal apakah ia orang Perancis asli atau orang Marokko, atau orang berkulit hitam, atau orang indochina) semuanya bersuka hati menolong kami. Wajah mereka terlihat lebih freundlich (bersahabat), beda jauh dengan wajah orang-orang Jerman yang cemberut, masam, dan menyebalkan (entschuldigung, dass ich so was sagen muss, hehehe). Satu point lagi untuk Paris. Selain itu, kebanyakan warga Paris bisa berbahasa Inggris. Itu yang paling penting, sebagai kota multikultur semestinya penghargaan terhadap bahasa Inggris sebagai bahasa internasional dihargai, tidak seperti di Jerman, seperti komentar gue yang satu ini, di mana kebanyakan warganya tidak bisa bahasa Inggris, dan tetap memaksakan berbicara bahasa Jerman dengan siapa saja – tak peduli apakah orang itu bisa berbahasa Jerman atau tidak. Gue pernah denger cerita dari seorang guru gue, Frau T, dia bilang, orang Perancis menganggap semua orang harus bisa berbahasa Perancis, dan tidak mau berbahasa Inggris, sedangkan orang Jerman tidak seperti itu. Tapi karena apa yang gue lihat di lapangan berbeda, maka satu point lagi untuk Paris (noch mal, es tut mir ganz herzlich leid).

Dengan menggunakan kereta Metro yang sempit (satu point untuk Berlin yang memiliki kereta U-Bahn ternyaman), kami menuju ke Mosquèe de Paris. Walaupun sempit dan berdesakkan, udara di dalam Metro semerbak wangi, dan I enjoyed seeing every single people di dalam Metro itu. Semua serba unik. Cara mereka duduk, makan, berbicara, wah, Paris pokoknya gue banget deh! That’s the point I like from Paris.



Suasana di dalam Metro


Mosquèe de Paris adalah masjid terbesar di Paris. Dengan komunitas Muslim sebanyak delapan persen, sangat wajar jika Paris memiliki masjid sebesar dan semegah itu. Orang-orang di dalam masjid itu umumnya dari arab maghribi dan afrika tengah, Mereka sangat ramah. Terlihat juga beberapa orang bule melihat-lihat masjid itu. Ternyata hari itu masjid sedang terbuka untuk umum, walaupun pengunjung yang ingin melihat masjid dilarang untuk masuk ke tempat shalatnya.

Setelah selesai shalat, bersih-bersih, dan sedikit melepas lelah, kami meneruskan perjalanan kami. Saat itu kami ingin mengunjungi semua tempat menarik di Paris, karena kami sudah membeli Tageskarte (kartu untuk transportasi yang berlaku selama satu hari penuh) seharga 5,4 euro. Cukup mahal bukan? makanya kami tidak mau rugi, dan kalau perlu semua jengkal kota Paris kami kunjungi.



Mosquée de Paris


Selanjutnya kami mengunjungi Cathédrale Notre-Dame de Paris, salah satu bangunan katedral yang sangat populer di Paris. Untuk mencapai ke sana kami harus jalan kaki sampai kaki kami serasa akan putus. Semua itu karena kami kesulitan menemukan letak stasiun Metro di sana. Coba perhatikan percakapan singkat kami dengan salah seorang warga Perancis yang kami tanyai tentang letak Metro di wilayah itu.

Kami: Excuse me, we are looking for the nearest metro station from here. Can you help me to show that place?
Dia: Oh of course! So, do you see the car over there?
Kami: That car? (sambil menunjuk ke arah mobil yang dimaksud)
Dia: exactly! And the metro is behind the car


Jadi saudara-saudara, saking terpencilnya letak stasiun Metro, sampai tertutup oleh sebuah mobil! Aduh, pokoknya kalau masalah beginian sih Berlin is the best. Di dalam Metro itu sendiri terdapat lorong-lorong panjang yang menghubungkan antara stasiun metro satu dan yang lain. Di sana penuh sesak orang, tapi walaupun demikian tetap wangi!

Dan sampailah kita di Notre Dame. Apa yang kami lakukan di sana? Hanyalah duduk-duduk di halaman depan gereja dan bertemu dengan sebuah keluarga Perancis yang dapat berbahasa Indonesia. Selanjutnya kami mengunjungi sebuah toko souvenir di sebelah gereja itu. Gue pun langsung menjalankan tugas membeli beberapa benda khas Paris. Dan saat itu juga uang gue langsung habis banyak... hiks.. hiks.. hiks.. mahal banget! Kayaknya Berlin nggak semahal ini deh (satu point untuk Berlin). Tapi nggak apa-apa lah, belum tentu gue bisa ke Paris lagi. Iya nggak?

Dengan Metro 7 ke arah La Courneuve, selanjutnya kami mengunjungi Palais Royal Musée du Louvre, salah satu museum terbesar yang dimiliki dunia. Memang luar biasa besar museum ini. Lebih pantas disebut istana. Di halaman tengahnya terdapat beberapa bangunan piramida dari kaca, dan pada piramida terbesar terdapat lukisan asli ‚Mona Lisa’ karya Leonardo da Vinci. Sayangnya, kami tidak masuk untuk melihat mahakarya itu karena alasan waktu. Namun dapat duduk di halaman museum itu dan memandang keklasikan bangunan dengan ukiran dan patung di setiap sudut dindingnya, telah dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi kami.



Musée de Louvre


Hari pun semakin sore, dan perjalanan tetap kami lanjutkan. Karena pada pukul delapan sore nanti kami akan menaiki boot untuk menikmati kota Paris dari atas sungai Seine, maka rencana mengunjungi Opéra National de Paris – Garnier kami batalkan. Kami segera meluncur menggunakan Metro 1 ke arah La Défense dan turun di stasiun Charles de Gaulle Étolie untuk melihat Arc de Triomphe dari dekat. Perjalanan dilanjutkan ke Champs-Élysées Clemenceau untuk bergabung dengan teman satu perjalanan yang lain.

Ternyata, teman-teman kami yang lain belum berkumpul di tempat itu. Jadilah kami mencari taman rindang di dekat tempat itu dan melepas lelah lagi di sana.

Paris di sore itu, burung-burung beriringan mengepakkan sayapnya dan hinggap di atas lampu kota bercahayakan emas. Hawa udara sore membayangi sepasang yang berpelukan di atas jembatan sungai Seine. Dan sebuah mobil mewah berhenti di depan Café de la Folie. Seorang pria berjas-berdasi bersembunyi di balik kacamata hitam yang ia kenakan, bertemu dengan sosok bergaun panjang di sudut kota.

Huhuhuhu tiba saat paling romantis, yaitu menelusuri sungai Seine dari atas boot sambil melihat kota Paris di tepi sungai itu. Namun sayang, saat kami menaiki sungai itu hujan turun rintik-rintik. Jadi mengurangi suasana romantis deh. Hehehe. By the way, kalau pergi ke Paris kayaknya harus menelusuri sungai ini, dan catat waktu yang paling tepat: sore hari di kala matahari akan tenggelam. Oh, indah banget! So sweet! so süß! (pernah nonton film Before Sunset? Kira-kira seperti itu lah). Dari atas boot kami melihat bangunan-bangunan klasik Paris di balik senja yang turun perlahan dan menerawang. Ketika itu pelan-pelan menara Eiffel mulai bertaburan cahaya-cahaya jingga yang semakin malam akan semakin terang cahayanya. Ketika itu, gue berharap akan dapat mengunjungi Paris sekali lagi. Tapi tidak sendiri, melainkan dengan mama, papa, kakak, dan adik. Dan juga tidak di musim panas, melainkan di musim dingin. Pasti indah banget deh.



Sudut kota Paris yang tertangkap dari atas sungai Seine


Malam semakin memekatkan gelapnya di kota itu, sudut-sudut kota mulai bermandikan cahaya lampu yang makin menambah suasana romantis dan klasik. Tiba saatnya untuk segera berpisah dengan Paris. Rombongan kami akan mengitari kota Paris sekali lagi namun kami tidak ikut dengan mereka. Kami ingin mencari makan malam. Waktu kami hanya satu setengah jam. Setelah itu rombongan kami akan kembali ke Berlin. Awalnya, karena kami bingung adakah restaurant halal di sepanjang Champs Élysées, makan kami putuskan untuk membeli kentang goreng plus burger ikan di McD. Namun salah seorang dari kami tiba-tiba menghilang untuk mencari toko kebab. Dimulailah kisah lanjutan dari Eiffel I’m in Love, berjudul Champs Élysées I’m Ribet. Waktu kami hanya satu setengah jam, namun kami harus saling cari-carian dan tunggu-tungguan. Ada yang menghilang untuk mencari kebab, ada yang di toilet lama banget. Malam itu ruas jalan Champs Élysées dipenuhi orang-orang hilir mudik penuh suka cita. Jalanan itu disulap menjadi catwalk yang penuh dengan kemewahan dan kemegahan. Setiap orang menikmati setiap langkah kaki yang mereka tapak di ruas jalan itu. Tapi tidak dengan gue. Gue harus berlari-lari mengejar waktu, menyalip orang-orang yang lalu lalang dari kiri dan dari kanan.

Sebuah toko kebab kami temukan di sana. Kami membeli Schawarma seharga empat euro! Mahal banget! Di Berlin aja paling mahal dua euro! (satu point untuk Berlin) mungkin karena gue membelinya di tempat elit kali yah.

Selanjutnya kami terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama bertugas menyelesaikan urusan pembelian Schawarma dan kelompok yang kedua mencari supermarket terdekat untuk membeli air minum. Gue termasuk dalam kelompok kedua. Sekali lagi kami berlari ke sana ke mari, menyebrari jalan, bertanya ke beberapa orang yang kami temui, dan bertemulah kami dengan supermarket Monoprix – supermarket termahal yang gue kenal. Tapi karena waktu yang semakin sempit, egal deh seberapa mahal juga kami beli. Masih untung kami sudah menemukan supermarket itu.

Biarpun detik-detik akhir kami heboh dan ribet, moment itulah yang paling gue suka di antara seluruh perjalan kami di kota Paris. Malam di Champs Élysées, indah banget, unforgetable deh, sayangnya gue nggak mengambil foto di malam itu, tapi bakal gue kenang dalam otak gue. (uuhh... so sweet... so süß...)

Au Revoir, Paris. Dan dari Paris vs Berlin, kita telah temukan pemenangnya. Penilaian ini murni plus asli subjektif dari diri gue, tanpa ada data statistik yang mendukung, tanpa ada pembuktian ilmiah yang menyokong. Semua bersumber dari bolamata di balik kacamata gue. Hehehe. Gue putuskan pemenangnya adalah PARIS ! (ohne die erreichten Punkte nachzugücken).

1 comment:

amel said...

Dims, gue udah dapet bocoran dari Om Jeffri ttg perjalanan kalian ke Paris kemarin, hehe, dia juga lebih milih Paris drpd Berlin.

Ttg keteraturan Jerman, gue setuju. Jakarta, Paris, atau Roma yg semrawut lebih menarik sih ujung2nya. Di Jakarta, setiap hari bagi gue adalah petualangan, hehe.. Btw, Fulda lebih gila lagi kl masalah keteraturan, mati gaya deh gue di sana :(

Tahun lalu, sekitar bulan April, gue sama international students di HU tur kapal di Berlin. Bagussss bgt Dims, elo harus coba suatu saat. Moment-nya tepat bgt waktu itu, pas musim semi. Kita lewat ke pelosok2 Berlin misalnya sungai yg melewati bagian dalam Zoo. Di sungai sempit itu kita liat hewan2 Zoo di pinggir sungai. Konon, jumlah jembatan di Berlin lebih banyak dari yg ada di Venezzia (Venice).

Kok gue jadi ngomongin Berlin ya?