Sunday, December 31, 2006

The End of This Year

Kategori: My Side

This is my last posting before new year. Entah mengapa, selama bulan Desember ini saya malas membuat postingan terbaru walaupun sudah ada niat menggebu-gebu. Semua tersandung oleh kesibukan dan hal-hal yang lain.

Mari kita berbicara tentang cuaca. Mengapa? karena orang-orang di Jerman ini biasanya memulai percakapan dengan mengomentari cuaca, baik cuaca hari ini maupun cuaca kemarin. Bulan Desember ini aneh. Tahun lalu sejak November, salju sudah mulai menyelimuti kota ini. Namun tahun ini hanya sekali turun salju yaitu hari Kamis kemarin. Selanjutnya cuaca kembali memanas, paling hanya lima atau enam derajat (dan Desember ini suhu belum pernah mencapai nol!).

Seorang teman yang tinggal di kota terpencil di atas gunung sedang melaksanakan tour-nya ke kota-kota besar di liburan akhir tahun ini. Beberapa jam yang lalu, kami dan seorang teman lagi bermain tenis meja melawan tetangga dari Korea Selatan. Mungkin orang-orang yang melihat kami bermain tenis meja berpikir kami aneh, karena malam ini semestinya orang-orang keluar melihat kembang api. Namun saya tahu bagaimana keadaan Berlin di malam tahun baru: horrible. Tak ubahnya seperti sebuah kota yang dalam keadaan perang di mana petasan meledak di mana-mana. Dan tanggal 1 Januari besok, jalanan pasti kotor karena bekas petasan. Selain itu di jalanan akan banyak sekali orang-orang yang mabuk dan menyeramkan. So better jika saya diam di rumah dan menyaksikan kembang api dari balik jendela.

Satu lagi, alhamdulillah akhir tahun ini persediaan makanan cukup, karena ada bungkusan makanan dari Idul Adha kemarin di KBRI dan tadi siang baru dapat bungkusan juga dari sebuah acara syukuran. Hehehe, maklum, begitulah keadaan Student.

Saturday, November 04, 2006

Ghost in your Laptop!

Kategori: My Side

After a long interview with some students who have an internet access in their computer, I can make an assumption: Internet is blamable to destroy our entire life. Ask me why?

Simple, you may ask those kind of people, what do they do if they start their life in the morning. One of answer is maybe switch on computer, connect to the internet, go to Yahoo Messenger, see how many mails they got during the night, answer the offline messages, check out their mailbox, continue to other mailbox, or even open their Friendster, or see some on-line-news-sites. But it’s not only happend in the morning, but in all leisure time! Worst, right?

Those people may sit so many hours in front of their PC. And it really brings laziness. Our plans to read scripts from campus or to cook for our lunch will get lost. It is more dangerous than opium or other addicted-narcotics. You waste your time with doing nothing, but you can’t go away from it!

Ru’yah, an islamic method to take out some mystical things from our body, is just booming in our community in Berlin. I have asked an Ustadz, when he was in Berlin during Ramadhan, what are the signs by someone who should be taken in ru’yah. Then he aswered, „being so lazy to do something,“. I told him spontaneously, „So please take me in ru’yah! The sign is on me!“. He laughed, then answered, „You shouldn’t, but you should marry soon!“.

I still believe that there’s something wrong in my body. It seems like I dont have any feel like doing something. All I want to do is just sitting on my PC, altough there’s nothing I do with it. I try to share this annoying feel to the other, and I was suprised, that they have also the same problem like me! It’s all because our PC.

Someone has told me his method to divert us from it, especially in the exam time. Keep your laptop in your bag, lock up, and not to open it until next weekend. And it works! You can concentrate your day with something usefull.

I think, our laptop should be taken in ru’yah! Not us! So, beware!

Friday, October 06, 2006

Ramadhannya Ibukota

Kategori: Artikel

Dapat dilihat di website FORKOM

Kalau boleh milih, kamu pengen ber-Ramadhan di Jerman atau di Indo?
Ya di Indo, laaah!
Lho, kok?
Iya! Puasa di Indo kan enak abiz. Coba deh bayangin, mau bangun sahur, ada yang bangunin. Mau makan sahur, ada yang masakin. Mau shalat lima waktu berjamaah di masjid, tinggal nyebrang jalanan depan rumah. Mau denger ceramah Ramadhan dari ustadz-ustadz kondang, tinggal nyalain televisi or radio. Pas waktunya berbuka, mamah-ku pasti sudah buat kolak pisang terenak sedunia. Kurang apa coba?
***

Eit, tunggu dulu. Emang sih bagi kita anak-anak perantauan, pasti rindu banget pengen ber-Ramadhan di Indonesia. Tapi, berada di negeri orang di saat bulan suci Ramadhan juga nggak kalah seru, kok! Alhamdulillah, tahun ini saya diberi kesempatan berpuasa di Jakarta dan di Berlin, jadi bisa sedikit-sedikit mengamati suasana Ramadhan di dua tempat yang beda banget itu, lho. Nah, mau tahu kan bagaimana hasil pengamatan saya? Yukkk...

Eh, sebelumnya, sudah pada tahu kan seperti apa kota Berlin itu? Sudah dong pastinya. Hauptstadt gitu, lho. Kata orang, belum lengkap ke Jerman kalau belum mengunjungi kota Berlin. Selain sebagai kota metropolis, Berlin juga sebagai kota sejarah. Contohnya, tembok Berlin yang kondang seantero dunia. Belum lagi Gedächtniskirche, Siegesäule, Checkpoint Charlie, Brandenburger Tor, Friedrichstraße, dan segudang tempat-tempat lainnya. Nah, yang paling spesial dari Berlin adalah komunitas antarbangsa yang sangat beragam alias multikulti, termasuk komunitas Islam di dalamnya. So, jangan heran kalau melihat banyak banget wanita berjilbab memenuhi pelosok-pelosok kota ini. Walau kebanyakan kaum imigran, tapi umat Muslim memiliki jumlah yang sangat signifikan di Berlin. Asli, banyak banget! Ada beberapa masjid yang berdiri di kota ini, bahkan di kampus disediakan juga ruangan musholla. Jadi kita nggak perlu takut dengan yang namanya diskriminasi antarumat beragama. Walau kadang-kadang diskriminasi itu ada, tapi di situlah kita ditantang untuk menunjukkan wajah muslim yang sebenarnya, yang tetap santun dan sabar, tanpa harus membiarkan harga diri kita terinjak-injak. Ya nggak?

Bagaimana dengan komunitas muslim Indonesia di Berlin? Ada banget dong! Denger-denger nih, jumlah orang Indonesia yang berada di Berlin mencapai lebih dari dua ribu orang. Wow, banyak juga yah? Nah, Berlin juga punya sebuah masjid Indonesia yang bernama masjid Al-Falah. Dari masjid Al-Falah terbentuklah kelompok-kelompok pengajian kota untuk komunitas muslim Indonesia di Berlin ini. Masjid yang sudah berdiri dari dua puluh tahun yang lalu itu tidak terlalu besar. Makanya kalau bulan Ramadhan tiba, jamaah masjidnya membludak dan sering berdesak-desakan karena kapasitasnya yang sudah overload. Oleh sebab itu, kami harus segera pindah dan mencari tempat baru yang lebih besar dan nyaman, agar ibadah kita juga ikutan nyaman.

Walaupun sedang dalam proses perpindahan, bukan berarti kegiatan komunitas muslim Indonesia di Berlin berhenti lho, apalagi di bulan Ramadhan seperti saat ini. Pengajian kota Berlin terkenal sebagai pengajian yang... ehm... seru, rame, kompak, dan kocak. Nggak percaya? Coba deh datang kalau Forkom sedang ngadain acara Prima, mukhoyyam, SII dan lainnya. Tim yang suka heboh sendiri biasanya tim dari Berlin. Hehehe... Alhamdulillah setiap tahun pengajian kota Berlin selalu mendatangkan seorang ustadz dari Indonesia. Begitu juga untuk tahun ini yang bekerjasama dengan Forkom. Jadwal sang ustadz biasanya padat banget, karena harus ngisi di sana-sini. Maklum, Berlin punya banyak bentuk pengajian, dari yang buat babeh-babeh, nyak-nyak, mpok-mpok, sampai abang-abang. Kalau buat bocah-bocah ada, nggak? Ada juga, dong. Al-Falah juga punya TPA alias Taman Pendidikan Al-Qur’an yang khusus untuk adik-adik. Nggak tanggung-tanggung, tahun ini Al-Falah membuat program Pesantren Kilat untuk anak-anak dan remaja. Insya Allah di dalamnya akan diisi dengan pemainan-permainan islami, teater, dan nggak lupa penanaman akhlak serta berlajar membaca Al-Qur’an.

KBRI Berlin juga nggak kalah menyemarakkan Ramadhan. Shalat tarawih digelar setiap hari di KBRI, selain itu seminggu sekali diadakan buka puasa bersama di sana. Oh ya, ngomong-ngomong soal buka puasa, kita juga bisa ikutan buka puasa di masjid-masjid di kota ini, baik itu masjid Turki, Palestina, ataupun Pakistan, akan dengan senang hati menyambut kita untuk ikutan buka puasa bareng dengan mereka. Dan porsi makanannya itu lho, jumbo! Asal jangan cuma buka puasanya aja yah, shalatnya juga harus ikut dong. Seru juga bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara kita dari belahan bumi yang lain. Subhanallah.

Nah, sekarang bagaimana dengan Jakarta? Dibandingkan Berlin, suasana di Jakarta tuh lebih puasa banget. Secara, gitu lho, di Jakarta kan mayoritas muslim, sehingga hampir semuanya berpuasa. Stasiun televisi juga berlomba-lomba menayangkan program-program yang islami. Pemandangan di jalanan pun juga jadi lebih islami. Waktu kuliah, sekolah, dan jam kantor dipercepat, agar masyarakat bisa berbuka puasa dengan sanak-saudaranya di rumah. Kalau di Berlin boro-boro dipercepat, malah kadang-kadang kita harus berbuka di tengah-tengah Vorlesung atau di dalam U-Bahn.

Kalau di Jakarta kita bisa ngumpul-ngumpul dengan teman-teman untuk ngabuburit sambil jalan-jalan, di Berlin kesempatan seperti itu sangat kecil. Lagian, dua ribu enam gini masih ada ya ‚ngabuburit’ sambil jalan-jalan? Sudah nggak musim dong. Kan lebih enak kumpul bareng dengan teman-teman menunggu waktu berbuka sambil tilawah bersama, terus sesudahnya bertarawih bersama. Ya, kan?

Yang paling berasa banget mungkin ketika Idul Fitri. Di saat itu wajar banget lah kalau kita merindukan berada di tengah-tengah papah-mamah-kakak-adik tersayang. Walau begitu, semua bisa diobati karena di Berlin kita juga punya saudara-saudara! Malah status sebagai perantau di negeri orang justru membuat ukhuwah kita benar-benar terasa menjadi erat. Sesudah shalat Ied di KBRI biasanya kita bersalam-salaman dengan suasana penuh haru. Masih berasa suasana khidmat Idul Fitrinya, walaupun kita harus bolos kuliah di hari itu dan melanjutkan aktivitas kita kemudian.

Yang jelas, puasa di Berlin atau di Jakarta masing-masing ada plus dan minusnya, tapi jangan dijadikan sebagai penghambat ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Puasa itu untuk Allah dan Allah-lah yang mengaturnya. Di Berlin kita bisa merasakan suasana lain dari ber-Ramadhan dan ber-Ukhuwah. Jadi, ayo kita bergembira menyambut datangnya Ramadhan. Sesuai janji Allah, barang siapa yang bergembira menyambut datangnya Ramadhan, maka diharamkan tubuhnya dari jilatan api neraka. Subhanallah...

Friday, September 15, 2006

Wilujeng Sumping

Kategori: Cerpen

A Mushab Syuhada's

Aku sering melihat pemuda yang sebaya denganku itu datang ke masjid kecil dekat rumah nenekku di pinggiran kota Bandung. Dua hari yang lalu aku sempat berkenalan dengannya seusai shalat maghrib. Namanya Dadang, keturunan etnis tionghoa.

Jika aku berlibur ke rumah nenek, masjid yang hanya terpisah oleh tiga buah rumah menjadi salah satu tempat favoritku, karena selain teduh, masjid itu juga dikelilingi panorama alam pedesaan yang eksotis. Tapi sangat disayangkan, hanya ketika shalat Jumat jemaahnya membludak, bahkan bisa-bisa sampai meruah ke jalanan. Kontras dengan shalat fardhu yang hanya dua shaf. Isinya sebagian besar dari kalangan kakek-nenek dan bapak-ibu. Anak mudanya hanya dua, yaitu aku dan si Dadang itu.

Dadang bertubuh kurus. Tingginya kira-kira sama dengan denganku. Kulitnya kuning, matanya sipit seperti kebanyakan warga keturunan tionghoa lainnya. Baru di tahun ini aku melihatnya di masjid. Tahun kemarin, saat aku juga berlibur ke rumah nenek, tidak aku jumpai dia di sana. Biasanya ia suka terburu-buru ketika selesai shalat Dzuhur dan Ashar atau terkadang tidak datang ke masjid di waktu tersebut. Karena bekerja, katanya. Ketika kutanya di mana ia bekerja, ia malah tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum dan segera memohon pamit.

„ Dadang!“ teriakku di balik tirai kedai bubur ayam di pasar tikungan jalan tak jauh dari rumah nenek. Pagi itu aku ingin sekali makan bubur ayam. Kata nenek, bubur ayam yang paling enak di sini ada di pasar. Tentu aku igin sekali mencicipinya sebelum aku kembali pulang ke Surabaya malam nanti setelah dua minggu berlibur. Tak kuduga, niatku makan bubur ayam, malah bertemu dengan si Dadang. Pemuda itu menganggukkan kepalanya memandang ke arahku, lalu datang menghampiriku.
„Wah, nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini! Sudah sarapan? Yuk sarapan bareng,“ ujarku. Ia sempat menolak, tapi langsung saja kupesan semangkok bubur ayam ke penjaga kedai.
„Aa teh tiap pagi ka die?“ tanyanya dengan logat sundanya yang kental.
„Jangan panggil saya Aa atuh. Kayaknya kita seumuran, deh. Saya 20 tahun, kamu?“
„21,“
„Tuh kan, mestinya saya yang panggil kamu Aa“ kataku. Pemuda itu tersenyum dengan kekeh ringan.
„Waktu itu kamu kan pernah nanya, saya teh kerjana di mana,“ katanya menyambung percakapan.
„Iya,“ jawabku singkat. „Memangnya di mana?“
„Di die,“ jawabnya menunjuk pasar ini. Katanya, ia bekerja sebagai buruh angkut di pasar ini dari subuh hingga petang. Sudah hampir setahun ia bekerja mengangkut barang-barang dari dalam truk ke dalam pasar, atau membantu pembeli mengangkut barang kebutuhannya dari dalam pasar ke kendaraan. Meski kurus, namun Dadang adalah seorang yang kuat. Terbukti dengan seringnya ia memakul beras 20 kilo di salah satu pundaknya.

Setelah bercerita singkat tentang pekerjaannya sebagai buruh angkut, ia terdiam sejenak dan memandang sekeliling. Dari gelagatnya, pemuda itu terlihat kurang nyaman duduk di kedai ini di antara belasan pengunjung yang – mungkin menurutnya – terlihat lebih rapih dari pada dirinya. Ia mengenakan kaus bola berwarna biru-kuning bernomor punggung delapan, dengan celana panjang hitam. Akupun mencoba mencairkan suasana agar ia tidak lagi merasa kurang nyaman. Di sela-sela menikmati bubur ayam hangat, kami saling bercakap. Kuceritakan kalau aku datang dari Jakarta untuk berlibur selama dua minggu di Bandung. Walaupun aku orang Sunda, tapi lahir dan besar di Jakarta membuatku tidak menguasai Bahasa Sunda. Terlebih saat ini aku sedang berkuliah di salah satu universitas negeri di Surabaya yang justru membuat aku lebih fasih berbahasa Jawa. Ia mengerti, ia pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk bercakap denganku, walau masih dengan beberapa patah Bahasa Sunda. Ia banyak sekali bercerita, dari tentang pasar ini, tentang kedai bubur ayam ini, tentang sejarah masjid dekat rumah itu, sampai tiba-tiba tentang adik perempuannya.

„Dulu teh di masjid itu ada TPA tiap sore. Adik perempuanku dulu juga belajar ngaji di ditu,“ katanya.
„Oh... Kamu punya adik perempuan?“ tanyaku.
„Iya. Satu orang,“ jawabnya.
„Siapa namanya?“
„Diah Pitaloka,“
„Lalu, dia juga di Bandung?“
Dadang menggeleng.
„Dulu iya. Sekarang dia tinggal di panti asuhan, di Tasikmalaya,“
„Panti asuhan? Memangnya kalian tidak tinggal bersama orang tua kalian?“
„...tidak, orang tua kami...“
Hening sejenak. Dadang tidak melanjutkan pertanyaannku dengan jawaban.
„Oh... maaf... saya kurang sopan menanyakan tentang keluarga. Lupakan sajalah...“ lanjutku. Pemuda itu menunduk, lalu tak lama mengadahkan kepalanya menatapku.
„Tidak apa-apa. semua orang di sini sudah tahu kok tentang keluarga saya. Kalau kamu bertanya ke nenekmu, pasti beliau juga tahu,“

Nenek tidak pernah cerita apa-apa kepadaku tentang masyarakat di sini. Pasti menurutnya tidak penting untuk diceritakan kepadaku. Saat aku menatap wajah Dadang, terlihat ada guratan kesedihan yang mendalam. Seperti ia telah mengalami suatu peristiwa yang memilukan dalam kehidupannya. Dan benar saja, Dadang, yang baru kukenal namanya dua hari itu menceritakan kisah kehidupannya yang kupikir hanya dapat ditemukan di layar kaca. Tapi tidak, ini kenyataan!

***

Sudah setahun terakhir ini Dadang tinggal dengan keluarga pamannya yang tak jauh dari rumah nenek. Dulu, Dadang dan adiknya tinggal bersahaja dengan kedua orang tuanya sebagai satu keluarga yang utuh. Garis keturunan tionghoa yang dimilikinya didapatkan dari ayahnya. Ayah dan pamannya memeluk agama Islam sebelum keduanya menikah dengan gadis sunda. Dadang sempat menjadi anak tunggal yang amat disayang dan dimanjakan ketika ia masih kanak-kanak. Dan ketika usianya menginjak sepuluh tahun, ia mendapatkan seorang adik perempuan bernama Diah Pitaloka. Namun kelahirannya harus dibayar dengan nyawa ibunya, yang meninggal saat melahirkan.

Tak lama, ayahnya menikah kembali dengan seorang wanita asal Lembang. Awalnya Dadang enggan menerima kehadiran ibu tiri dalam keluarganya, karena imej ibu tiri yang melekat di kepalanya adalah seorang yang sadis dan kejam terhadap anak-anak tirinya. Namun dugaannya salah. Ketika wanita bernama Trisnowati Kosasih itu resmi menjadi ibunya, ia justru mampu membesarkan Diah yang kala itu masih bayi. Mereka hidup sejahtera, berkecukupan, hingga datangnya saat itu.

Saat itu tahun 1999. Semua orang pasti tahu, tahun itu adalah tahun yang amat labil dalam perekonomian Indonesia setelah terjadi pergolakan politik dan ekonomi di tahun 1998. Saat itu Diah masih berumur lima tahun dan Dadang akan segera menamatkan pendidikan SMP. Keluarganya tak luput dari serangan krisis moneter, usaha katering ibu tirinya – yang mulai dirintis sejak menikah dengan ayahnya – terpaksa harus berhenti. Ayahnya pun dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Hidupnya yang dulu berkecukupan mendadak berubah total.

Karena harta itu milik Allah. Dia bebas mengambilnya kapanpun Dia mau.

„Ayah, Dadang tidak usah melanjutkan SMA saja. Biarkan Dadang bekerja untuk menambah uang kita,“ pinta Iwan kepada ayahnya. Permintaannya ditolak keras oleh ayahnya.
„Kamu mau kerja jadi apa? Kamu pikir saat ini mudah mendapat pekerjaan? Tidak, ayah tidak setuju. Betapapun sulitnya keadaan ekonomi keluarga kita, ayah akan tetap membiayai sekolahmu. Sekolah sampai tinggi,“ ujar ayahnya. Dadang terharu, dan saat itu bertekad akan meneruskan sekolahnya.

Pertengahan tahun 2000, Dadang diterima di SMAN 3 Bandung. Namun tak lama setelah itu ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Sejak saat itu, sekolah Dadang terancam. Di saat krisis keuangan yang merajalela, ia malah kehilangan orang yang menjadi tumpuan untuk membiayai segala keperluaannya. Sejak saat itu pula, ibu tirinya yang dulu penyayang, sekarang berubah menyeramkan. Tresnawati Kosasih menjadi dikenal sebagai sosok pemarah, sering uring-uringan, dan ringan tangan, terlebih kepada Diah yang kala itu masih berumur enam tahun.

Dengan sangat terpaksa Dadang harus putus sekolah. Ia merantau ke Sukabumi untuk mencari pekerjaan sebagai... entahlah... mungkin sebagai buruh, kuli bangunan, atau apa saja, yang penting ia, adiknya, dan ibu tirinya dapat menyambung nyawa.

Namun sungguh miris nasib Dadang, sekembalinya ke Bandung enam bulan kemudian, ia mendapatkan Diah tinggal di rumah pamannya – yang tidak jauh dari rumah nenek – dengan kondisi sangat memprihatinkan. Matanya lebam, wajahnya dipenuhi memar-memar, tubuh kurusnya banyak ditemukan bekas luka yang telah mengering, maupun yang malah berubah menjadi koreng bernanah. Bahkan ia sempat dilarikan ke rumah sakit akibat patah tulang tangan sebelah kirinya yang syukurnya tidak terlalu parah. Diah kini menjadi bocah yang apatis, yang takut bertemu dengan semua orang yang tidak dikenalnya. Mentalnya labil dan kadang suka menjerit tiba-tiba.

„Aa...“ katanya sepatah sambil berusaha melihat sang Aa dari balik mata kecilnya yang membengkak biru disertai dengan senyuman yang penuh perih. Diah berusaha menyambut kedatangan Aa yang dicintainya dan dirindukannya walau dengan rasa pedih di sekujur tubuh dan perasaannya yang belum juga hilang.
Dadang menangis, tak kuasa ia melihat seorang bocah perempuan di hadapannya menjadi seperti itu. Tangannya memeluk bocah itu kuat, sambil membelai rambut sebahunya yang tipis kemerahan.
„Siapa... siapa yang melakukan ini...“ tanyanya terbata-bata dalam larut buraian air mata. Paman dan bibinya saling berpandangan, sebelum akhirnya mengucapkan satu nama, „ibumu...“

***

Tresnawati Kosasih yang tega menyiksa dan membuang anak yang sejak bayi ia asuh. Ia pergi, pergi dengan menjual rumah beserta isinya peninggalan suaminya – ayah dari Dadang dan Diah. Pamannya sepakat untuk mengasuh Diah di rumahnya, walaupun kondisi keuangan keluarga pamannya pun sebenarnya bukan tergolong cukup untuk mengasuh tiga anak kandungnya, terlebih dengan kehadiran Diah. Namun, siapa lagi saudara dekat dari mereka berdua?

Dadang pun melanjutkan pencarian nafkahnya dengan merantau, kali ini ke Jakarta, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pernah Dadang ditawari untuk tinggal bersama nenek dari ayahnya, tapi ia tolak.
„Kenapa kamu tidak mau? Hidup bersama nenekmu kan enak, dia orang cukup, kamu bisa menyambung sekolah lagi, tidak perlu mencari uang,“ kata bibinya.
„Tidak bi, saya tetap tidak mau,“
„Masalahnya apa, kok kamu masih saja tidak mau? Apa karena nenekmu itu tidak seagama denganmu lalu kamu...“
„Bukan, bi, bukan. Saya tidak mempermasalahkan perbedaan agama kami. Saya percaya, baik muslim maupun nonmuslim dapat hidup berdampingan dengan damai di negara ini. Tapi saya tidak ingin malah merepotkan mereka, bi. Saya tidak ingin mendapatkan kebahagiaan semu. Biar saya dan Diah begini. Biar saya dan Diah tidak dikasih makan, tidak dikasih ongkos, pakaian baru atau apapun, asalkan kami tetap diijinkan tinggal di sini, bi,“

Diah yang belum bersekolah, dimasukkan ke TPA masjid itu karena di sana tidak dipungut bayaran. Alhamdulillah, Diah kini sudah bisa membaca Al-Qur’an, membaca huruf latin, dan berhitung. Namun tak lama kemudian, masjid itu tidak lagi mengadakan TPA, alasannya karena kekurangan tenaga pengajar. Dadang masih ingat, ketika di sebuah sore ia menelepon ke rumah pamannya dari Jakarta.
„Punten, memangna saha yang mau membawa Diah?“ tanyanya.
„Kemarin ada seorang peremuan berkerudung datang. Katanya dia pernah mendengar cerita tentang Diah. Ia pun ingin membawa Diah ka Tasik, di sana ada panti asuhan dengan sekolahannya, gratis. Biaya hidupna sudah beres ditanggung. Di sini kan Diah sudah tidak ke TPA lagi. Kumaha? Dadang setuju, teu?“ jawab pamannya dari balik telepon.
Dadang menyadari, ia juga tidak ingin memberatkan pamannya. Mungkin panti asuhan adalah tempat yang tepat untuk Diah, yang memang sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Dadang pun akhirnya menyetujui kepergian adiknya, terlebih di sana adiknya dapat kembali bersekolah dan mengenyam pendidikan.

Keesokan paginya, Dadang sudah berada di Bandung untuk mengantar kepergian adiknya. Setahun tidak bertemu, kini Dadang hanya diberi kesempatan sesaat untuk melihat Diah sebelum kembali datang perpisahan di antara mereka berdua. Diah kini sudah terlihat ceria, tidak seperti yang dulu. Kini ia mulai berani bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya sambil memberikan senyum manisnya. Diah mencium tangan Aa-nya saat bertemu, yang membuat sang Aa tak kuasa menahan air mata harunya. Diah terlihat gembira mengenakan baju dan roknya, menggendong tas ranselnya, memakai sandal jepitnya, dan mengenakan kerudung bekas TPA-nya dulu.
„Aa, Diah mau ka Tasik, Diah mau belajar, supaya pintar seperti Aa...“ kata anak berumur tujuh tahun itu.
Dan wanita yang dikatakan pamannya datang, dia adalah pengurus salah satu lembaga sosial masyarakat yang peduli tentang masalah perlindungan anak. Tak lama ia pamit, membawa Diah masuk ke dalam mobil kijang peraknya. Dadang dan Diah saling berpandangan di balik kaca mobil, dan kepura-puraan Diah untuk terlihat tegar pun berhenti, tangis bocah perempuan itu pecah melihat wajah Aa Dadang yang memandanginya penuh harap dan cemas.
„Aa...!“ tangannya melambai dalam tangisnya.

***

„Dan sejak itu, saya tetap bekerja di Jakarta. Namun tahun kemarin saya diberhentikan dari pekerjaan saya, jadilah saya pulang ke Bandung, menetap bersama keluarga paman. Alhamdulillah, di pasar ini ada kerjaan juga untuk saya,“ lanjut ceritanya.
Aku masih menatapnya, mendengarkan seluruh rentetan ceritanya. Betapa jauh lebih beruntung aku. Terlampau banyak nikmat yang kudapatkan dengan mudah tapi... betapa mudahnya kudustakan. Tapi aku yakin, Allah Mahaadil, seberat apapun perjuangan hidup Dadang, pasti ia mendapatkan balasan atas kesabarannya.
„Hmm... Putra? Putra?“ panggil Dadang sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. „Kamu melamun, ya?“
„Eh, nggak kok, saya terlalu larut dalam ceritamu,“ jawabku. „Saya salut terhadapmu, kamu masih bersabar dan tidak menyerah menghadapi hidupmu,“ tukasku.
„Selama kita ikhlas, insya Allah kita bisa mendapatkan kesabaran,“ jawabnya.
Dan aku makin mengagguminya.
„Baiklah, saya harus kembali bekerja. Hatur nuhun atas sarapannya,“
„Tunggu, Dang,“
„Iya?“
„Malam ini saya kembali ke Surabaya. Bisa kita bertemu lagi?“
„Insya Allah, seperti biasa, di masjid dekat rumah nenekmu,“

***

Maghrib ini Dadang tak datang. Aku berharap bisa bertemu lagi dengannya. Beberapa menit yang lalu ibuku mengirim sms, katanya, Pak Tarso baru saja berangkat dari Jakarta untuk menjemputku dan mengantarku malam ini ke Surabaya.

Dan saat adzan Isya berkumandang, ia belum juga datang. Kuberjalan ke arah pasar di tikungan jalan itu, dengan harapan aku melihatnya. Ternyata tidak.
„Putra!“ teriak sebuah suara dari belakangku. „Maaf, maghrib tadi saya shalat di jalan, baru selesai mengantar barang. Saya pikir kamu di masjid, eh saya malah lihat kamu berjalan ke arah pasar,“ ujar Dadang dengan nafas tersengal-sengal. Aku tersenyum.
„Tidak apa-apa. Saya senang masih bisa berpamitan dulu ke kamu,“
„Saya juga senang bisa bertemu kamu dan berbagi cerita dengan kamu,“ katanya.
„Ya...“ sahutku pelan. „Kamu telah memberikan saya pelajaran melalui kisah hidupmu, yang membuat saya tahu lebih dalam tentang kesabaran, semangat, dan rasa syukur. Hatur nuhun,“
„Sami-sami. Begitulah kehidupan saya. Wilujeng sumping di kehidupan nyata,“
„Dang, saya tidak tahu, jika saya kembai lagi ke sini, apakah saya masih bisa bertemu denganmu,“ ucapku.
„Wallahualam,“ jawabnya singkat.
„Tapi kita tetap akan menjadi teman. Hanya satu pesan yang ingin saya sampaikan ke kamu. Tetaplah di jalan Allah. Itu saja. Tetaplah bersama Allah,“
Dadang mengangguk dan tersenyum ke arahku.

Sebelum aku pulang, kami menuju ke masjid itu yang mulai ditinggali oleh orang-orang yang baru selesai melaksanakan shalat Isya. Kami shalat berjamaah, Dadang menjadi imam. Lantunan suaranya membacakan ayat-ayat Allah sangat indah dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya. Seperti katanya, wilujeng sumping di kehidupan nyata, dengan berbekal ikhlas, maka kita akan menjadi sabar dan dapat menjalankan hidup tanpa putus asa walaupun dalam kondisi yang sulit.

Dadang, si pemakai kaus bola berwarna biru-kuning dengan nomor punggung delapan, melambaikan tangannya mengiringi akhir liburanku yang singkat di Bandung.

Jakarta, 14 September 2006
Mushab Syuhada

Friday, August 11, 2006

Berhentilah Merindukanku

Kategori: Cerpen



Coming soon.
Only on Bolamata.

Sunday, August 06, 2006

Telur Tomat Ikan

Kategori: Resep

Bahan-bahan:
1 kaleng ikan sarden (boleh apa aja asal bukan tuna)
250 gram pasta tomat
5 butir telur ayam
1 buah bawang bombay
4 siung bawang putih
½ sendok teh lada
1 sendok teh garam
1 sendok teh gula
½ gelas air
1 sendok teh saus tiram
4 buah cabe rawit

Cara membuat:
Iris bawang bombay, bawang putih dan cabe rawit hingga harum, masukan ikan kalengan dan tumis sebentar.
Masukan pasta tomat dan air, beri garam, gula, lada dan saus tiram, masak hingga pasta tomat mendidih.
Masukan telur, biarkan matang dengan sendirinya (tidak perlu diaduk), siap disajikan.

Lama persiapan dan memasak: 25 menit
Nilai: Sangat praktis
Porsi 5 orang

Sayur Lodeh Bujang

Kategori: Resep

Bahan-bahan:
125 ml santan
2 sendok makan Koriander (ketumbar) bubuk
1 buah bawang bombay
5 siung bawang putih
2 butir kemiri, hancurkan
2 sendok teh garam
1 sendok makan gula
1 sendok teh lada
1 buah Kohlrabi (labusiam) potong-potong dadu
300 g daging sapi, potong-potong kecil
Sayur mayur (bisa dibeli di supermarket yang sudah menjadi satu agar praktis)
1 buah tahu, potong-potong dadu
1 gelas air

Cara membuat:
Tumis bawang bombay, bawang putih, lada, dan kemiri. Masukan daging, masak hingga daging setengah matang.
Masukan ketumbar, tumis sebentar, dan segera tuangkan santan. Masak hingga santan mendidih.
Tambahkan air, masak hingga mendidih. Masukan gula dan garam, serta tahu, labusiam, dan sayur mayur. Masak hingga mendidih dan daging matang.

Lama persiapan dan memasak: 30 menit
Nilai: Praktis
Porsi 4 orang

Perkedel Tahu

Kategori: Resep

Kali ini saya ingin berbagi-bagi pengalaman memasak. Khusus untuk bujang, terutama yang sedang menuntut ilmu di Jerman. Resep ini disesuaikan dengan bahan-bahan yang tersedia di sini, dan juga dengan kesibukan kita sebagai mahasiswa yang ingin menjaga gizi, makan enak, tapi juga praktis. Yang jelas, khusus untuk bujang lho :-).




Bahan-bahan:
1 buah tahu
2 atau 3 butir telur ayam
6 sendok makan tepung terigu
2 sendok teh garam
1 sendok teh lada
1 sendok teh gula
1 sendok teh bawang putih bubuk
1 butir bawang bombay, potong kecil-kecil
½ kaleng jagung manis
1 buah daun bawang
1 buah wortel, potong berbentuk korek api
Minyak untuk menumis

Cara membuat:
Hancurkan tahu, campur dengan telur ayam, tepung terigu. Masukan jagung, wortel, bawang bombay, daun bawang.
Tambahkan gula, garam, lada dan bawang putih bubuk. Aduk-aduk hingga merata.
Panaskan minyak, goreng perkedel tahu yang sudah dibentuk bulat-bulat.

Lama persiapan dan memasak: 20 menit
Nilai: Sangat praktis
Porsi: 6 orang

Monday, July 10, 2006

Reportase WM

Kategori: Artikel





Satu bulan sudah Jerman menjadi tuan rumah FIFA Piala Dunia 2006. Seperti halnya di berbagai penjuru dunia lainnya, di Jerman pun demam Piala Dunia (yang untuk selanjutnya disingkat WM, Weltmasterschaft) begitu terasa. Di kota tempat saya tinggal, Berlin, demam WM sudah muncul sejak jauh-jauh hari. Kota Berlin mempercantik diri dengan atribut-atribut WM. Tidak heran, kota ini akan menjadi pusat dunia pada tanggal 9 Juli ketika partai final ajang sepakbola terbesar empat tahunan itu digelar.

Tak terkecuali saya, saya sempat mencari-cari pekerjaan untuk WM ini. Waktu itu sempat mendaftar menjadi staff ticketing, dan sempat juga mendapat panggilan wawancara, tapi ternyata panggilan itu tidak kunjung-kunjung datang sampai sekarang. Masih belum rejeki mungkin. Tapi ada baiknya juga, karena ternyata WM itu tidak kompromi dengan waktu kuliah. Dengan kata lain, walaupun WM, kuliah tetap jalan, bahkan dalam musim ujian!

Dengan diadakannya WM pada waktu aktif kuliah, maka konsentrasi kuliah saya pun sedikit terganggu. Bisa jadi bukan hanya saya, tapi juga seisi kampus. Contohnya, waktu di kampus sedang asik-asik belajar, tiba-tiba ada suara teriak „Tooorrrrr!!!“ dari ruangan sebelah. Oh, ternyata para Tutor dan Wissenschaftliche Arbeiter sedang nonton bola bareng. Atau Tutor mata kuliah Physikalische Chemie saya, yang notabene juga anak kuliahan, memperpendek waktu tutorium kami karena mau nonton bola. Di antara mahasiwa pun demikian, kalau kita tidak tahu bagaimana hasil pertandingan tadi malam, maka akan bingung ketika diajak ngobrol oleh mahasiswa lain esok paginya. Satu mata kuliah yaitu Konstruktion und Werkstoffe mengharuskan kerja kelompok secara intensif. Kelompok kami yang hanya bertiga, semuanya demam WM. Jadi jadual mengerjakan tugas diatur sedemikian rupa supaya tidak bentrok dengan jadual WM.

Contoh percakapan kami:
Saya: „Wir müssen die Hausaufgabe am Donnerstag abgeben! So, wir sollen uns am Dienstag treffen. Wie findet ihr?“
Si M: „Am Dienstag?? Es ist doch Deutschland gegen Argentinien!“
Si A: „Das kann nicht sein, das kann nicht sein! Lieber am Wochenende treffen!“

Oalah.

Pusat kota Berlin dari Brandenburger Tor sampai Siegesäule pun disulap menjadi Fanmeile, atau tempat nonton bersama untuk penduduk di kota itu. Ada enam monitor raksasa berdiri di sana. Tercatat bisa sampai 500.000 orang datang bersama ke sana pada sebuah pertandingan. Karena tidak suka keramaian, saya jarang ke sana. Mungkin hanya tiga kali sepanjang WM. Saya lebih suka nonton di rumah, atau bertandang ke rumah teman untuk nonton bersama. Menonton di stadion? Sayangnya tidak. Untuk tempat duduk yang paling belakang dan paling atas, harga tiketnya mencapai 30 €, untuk final malah lebih mahal, mencapai 100 € untuk tempat duduk dimana kita tidak bisa melihat pemain-pemainnya saking jauhnya. Mending untuk hal yang lain, ya nggak?

Setiap orang punya gaya sendiri untuk meluapkan emosinya melalui bentuk-bentuk ekspresi ketika menonton bola. Kalau saya, adalah gerak refleks tangan atau kaki ketika geregetan melihat seorang pemain ketika tim yang saya jagokan tidak juga berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan. Begitu pula ketika WM kali ini, saya sempat mengambil beberapa peristiwa dari gegap gempitanya penyelenggaraan WM, bisa dilihat di foto galeri.

WM kini sudah usai, saatnya kembali konsentrasi menghadapi ujian semester. Secara keseluruhan saya agak kecewa pada WM kali ini, karena tim-tim yang saya jagokan tumbang satu persatu. 

Respekt untuk Italia yang menjadi Weltmeister kali ini.

Sunday, June 18, 2006

Sekat dan Suara Langit

Kategori: Cerpen

„Kamu bermuka dua!“ teriakan dari langit itu menggelegar. Sayup-sayup terdengar lagi, „Bagaimana mungkin kamu bisa bertindak seperti itu?“
Ah, hanya saja dulu aku tidak tahu ayat itu, hanya saja dulu aku tidak sadar bahwa maut bisa merenggut kapan saja tanpa kompromi, mungkin aku bisa seperti mereka, berjingkrak, bersorak, hore.

Jiwa yang terbelenggu, tersekat-sekat. „Boleh kah aku menggadaikan kata istiqomah sebentar saja? Aku ingin menghirup masa mudaku sebebas-bebasnya. Lepas!“
„Laaaaa!“ teriak suara langit itu lagi. „Tidak ada yang memaksamu untuk istiqomah. Silahkan cari jalan lain sesukamu. Namun tidak ada yang dapat menjamin kamu akan kembali lagi ke jalan ini!“

Aku menghela nafas yang berat. „Fa alhamahaa fujurohaa wataqwaahaa“. Allah telah bersumpah! Bahkan sumpahnya kali ini lebih hebat dari sumpahnya yang lain. Atas nama matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringnya, dan siang apabila menampakannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, serta merta sumpah Allah, bahwa jiwa itu diilhamkan kefasikan dan ketakwaannya.

„Lumrahkah itu wahai suara yang menggelegar?“ tanyaku lagi. Namun sang suara tak lagi menggumamkan nyaringnya. Hening. Wahai jiwa, kau memberi tantangan pada keistiqomahan atas sifatmu yang bisa takwa dan bisa fasik!

***

Terbelalak aku di balik lautan orang-orang berwarna-warni dan berbau keringat. „Ole! Ole! Ole! Brasiiiiilllieennnnnn!“. Mengadah aku, dan gelap sudah menggarap langit-langit.
„Ya Allah! Aku belum shalat maghrib!“ Mengapa waktu maghrib pukul setengah sepuluh malam? Di saat pertandingan Brasil melawan Kroasia pukul sembilan malam. Tak mungkin aku menunggu setengah jam di rumah untuk shalat maghrib, lalu berangkat menonton acara piala dunia di tengah kota. Bisa-bisa 45 menit pertama sudah lewat. Lalu, sekarang sudah pukul sebelas, sebentar lagi maghrib habis. Di mana aku bisa mendirikan shalat?, padahal semua jengkal tanah telah direservasi lautan manusia yang sedang berteriak-teriak. Tak mungkin aku shalat di sini. Ini Berlin saudara-saudara!, pastilah orang akan menganggapku teroris jika beribadah di tengah mereka!

„Hayya’lasholaaaaaa“ suara itu datang lagi menyelip dari gelap langit yang semakin memekat. „Di mana?“ tanyaku beremosi. „Yang lain pun tidak shalat! Yang lain pun bergembira!“. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Aku ingin dugem, dulalip atau apalah namanya, minum alkohol, pesta pora tralala, itu kan yang semestinya dilakukan orang-orang seumuranku?

Tiba-tiba hujan, pun tak menghentikan gempita malam itu. Menit berjalan, mempertaruhkan waktu maghribku, eksistensi islamku. Ah, islam kah aku? Royal sudah kah aku terhadap agamaku?

„Memang sulit menjaga keistiqomahan terutama di tempat yang bukan mayoritas islam seperti di sini. Tapi jika kamu mampu menjaga istiqomahmu, insya Allah, islam yang kaafah yang akan kamu renggut,“ kata suara ustadz yang kutemui setahun yang lalu.

Teringat aku dengan David, Martin, Patrick, Bettina, Aletta, Marielle... Ketika hidayah datang kepada mereka, bukan kesurutan iman yang mereka temui, tapi malah semakin menjadi. Pernah ku lihat Martin berdoa dengan khusyuk sekali, mengadahkan kedua tangannya, memejamkan matanya, seolah menyerahkan semua yang dia punya, dan hatinya bergumam berkata kepada Allah. Si pirang bermata biru itu selalu merasa sejuk kala menghadap Tuhannya. Atau Aletta, si bule berkacamata yang tetap dengan kain panjang menutup kepalanya dan baju lengan panjangnya, di saat teman-temannya yang lain ber-tanktop dan bercelana pendek di musim yang super panas saat ini, atau di saat lingkungannya menatapnya picik menghinakan, eine Deutsche trägt ein Kopftuch?!

Maghrib akan lewat, Ya Allah, aku menghadap Mu sekarang, ampuni aku ya Allah! Ampuni...

***

„Wahai Muhammad, akan kuberikan apapun yang kamu minta, uang, harta, pangkat, wanita, asalkan kamu berhenti dari dakwahmu!“
„Walapun matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti pada jalan ini!“

Andai matahari di tangan kananku tak kan sanggup mengubah yakinku
Terpatri dan tak kan terbeli dalam lubuk hati
Bilakah rembulan di tangan kiriku, tak kan sanggup mengganti imanku
Jiwa dan raga ini apapun adanya
Andaikan seribu siksaan terus melambai-lambaikan derita yang mendalam
Seujung rambutpun aku tak kan bimbang
Jalan ini yang kutempuh
Bilakah ajal kan menjelang jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan
Cintaku hanya untukMu
Tetapkan muslimku selalu
(Harris Syafik – Keimanan)

***

Berlin, 18 Juni 2006
Untuk seorang adik yang akan pulang habis ke Indonesia.

Monday, May 22, 2006

Setitik Embun Mas Fathan

Kategori: Cerpen

Namanya mas Fathan, umurnya sepuluh tahun lebih tua dariku. Aku berkenalan dengannya ketika pertama kali menginjakan kaki di Jerman, dua tahun yang lalu.
„Ini yang namanya Bintang, ya?“ tanyanya dengan mata yang menyipit akibat senyumnya yang manis. „Saya Fathan.“
Pertemuan pertama di bandara Tegel, Berlin. Kala itu mas Fathan yang membawa koperku yang super berat.
„Ini istri saya, Mawaddah. Kalau yang ini Annissa. Ayo, Annissa, salam sama om Bintang,“ ucapnya memperkenalkan keluarganya.
„Kalau yang di kereta bayi itu... anak mas Fathan juga?“ tanyaku membalas.
„Masa anak orang sih. Kan yang ngedorong keretanya istri saya. Namanya Faisal, baru lima bulan,“ jawabnya hangat. Mbak Mawaddah hanya tersipu-sipu mendengar pertanyaan basa-basiku. „Selamat datang di Jerman, di sini tempat perjuangan Bintang.“

Namanya mas Fathan, yang meminta aku menganggap keluarganya seperti keluargaku sendiri. Mas Fathan adalah teman SMA om Jeffri – adiknya ayah yang tinggal di Cirebon. Jadi jangan heran, kalau ayah menitipkan aku padanya.
„Bintang, sampai kamu dapat rumah, tinggal dulu bersama kami. Wohnung kami tidak begitu besar, tapi nyaman kok. Anggap saja rumah sendiri. Saya sedang mengusahakan sebuah apartemen untuk Bintang di daerah Wedding,“ katanya.
Baru sehari aku tinggal bersama mereka, aku sudah merasa betah. Mbak Mawaddah hobby masak. Tiap saat ada yang keluar dari dapur. „Sudah mbak, nggak usah repot-repot. Baru satu jam yang lalu disuguhin risol, martabaknya nanti malam saja,“ kataku. Dia hanya tersenyum sambil berkata „nggak repot kok, kan dimakan bareng-bareng,“.
Annissa juga cepat dekat denganku. Umurnya empat tahun, saat ini masih di Kindergarten. Bahasa Jermannya jauh lebih jago dari pada aku yang masih tersendat-sendat kalau bicara. Kegiatanku tiap pagi: mengantar Annissa ke Kindergarten.

Namanya mas Fathan, saat ini sedang mengambil doktoran di Freie Universität Berlin. Katanya, tak kurang dua tahun yang lalu beliau menyelesaikan studi diplomnya di jurusan Elektrotechnik. Jadi namanya sekarang adalah Dipl.-Ing. Fathan Wibowo. Mbak Mawaddah tinggal satu semester lagi menyelesaikan program masternya. Hebatnya, mereka berdua tidak kesulitan mengatur waktu untuk mengurus Annissa dan Faisal.
„Yaa, Bintang sudah dapat apartemen yah, Mas? Jadi sepi deh sekarang,“ kata mbak Mawaddah kecewa.
Iya, mas Fathan berhasil mencarikan aku sebuah apartemen yang murah. Sedih juga sih, karena aku tidak lagi bisa mengantar Annissa ke Kindergarten atau bermain-main dengan si kecil Faisal.

Namanya mas Fathan, aku begitu merindukan saat-saat bersama keluarga muda itu. Namun walau begitu, mas Fathan sering datang berkunjung ke apartemenku membawa makanan-makanan kecil buatan mbak Mawaddah.
„Saya tahu, Bintang sedang sibuk Studkol. Mahasiswa kayak Bintang kan males masak,“ katanya. Aku hanya cengar-cengir saja mendengarnya. „Nih, saya disuruh Mawaddah mengantarkan pempek laksan. Hasil eksperimen dia katanya,“.

Namanya mas Fathan, yang selalu tersenyum dan menjabat tanganku erat ketika bertemu. Melihat mas Fathan, aku serasa menjadi semangat ibadah. Habis, tiap maghrib dia selalu menyempatkan ke masjid. Tiap di U-Bahn, dia suka membaca Al-Qur’an. Tiap berbicara, kata-katanya tak jauh dari soal Islam. Koleksi buku-buku di rumahnya pun adalah buku-buku Islam. „Bintang suka baca novel?“ tanyanya. Aku mengangguk. „Saya suka sekali novel-novel Agatha Christi, Dee Supernova, atau Dan Brown,“ jawabku. „Wah, saya juga senang dengan novel-novel itu! Hmm, pernah baca novel yang kayak gini?“ lanjutnya. Aku melihat novel itu yang tak lain tak bukan adalah novel islami.

Namanya mas Fathan, yang berperan dalam proses sosialisasiku di Berlin. Aku tidak mengenal siapa-siapa ketika pertama kali di sini, lalu beliau mengajakku ke masjid Al-Falah, sebuah masjid Indonesia di Berlin, dan memperkenalkanku kepada komunitas muslim di kota ini. Di sini, aku menemukan ikatan ukhuwwah yang benar-benar erat satu sama lain. Aku baru menyadari manisnya islam justru di sini. Ya, di sini, di negara yang bukan mayoritas muslim!

Namanya mas Fathan, aku kenal benar dengan kehidupan ekonomi keluarganya yang cukup sederhana. Namanya juga mahasiswa, mas Fathan harus menghidupi istri dan dua orang anaknya. Walaupun dia dapat gaji dari Universitas, tapi dia juga harus melakukan kerja tambahan untuk dapat survive di sini. Aku melihat sosok mas Fathan yang bertanggungjawab, ulet, dan dapat membagi waktu dengan baik. Suatu ketika mas Fathan datang ke apartemenku bersama Faisal yang kini sudah bisa berjalan. Ia membawa sebuah ransel biru muda untuk membawa laptop.
„Apa ini, mas?“ tanyaku keheranan.
„Hadiah untuk Bintang yang sudah lulus Studkol dan masuk Uni,“ katanya sambil tersenyum. „Saya beli di Ebay kok. Murah. Kan Bintang belum punya tas laptop. Nanti di Uni, para mahasiswa sering membawa laptopnya ke kampus.“ Lanjutnya. Aku terharu atas hadiah insidental dari mas Fathan ini. Aku sadar, mas Fathan seharusnya menyimpan uangnya untuk dibelikan hal lain yang lebih penting seperti susu untuk Faisal atau lainnya, bukan untuk ransel ini. Mas Fathan benar-benar menganggap istimewa diriku, sehingga ia memberikanku sebuah hadiah.
„Terima kasih banyak, mas. Oh ya, gara-gara novel islami yang mas Fathan pinjamkan ke saya, sekarang saya jadi senang menulis lho. Hehehehe,“ kataku.
„Oh ya? Wah, saya mau baca dong! Masukin dong ke USB-Stick saya!“ katanya bersemangat.

Namanya mas Fathan, tiba-tiba bertemuku di depan Deutsche Bank.
„Wah, lagi nabung yah, Bintang?“ tanyanya.
„Eh, nggak kok mas,“ jawabku singkat sambil memandangi kertas Kontoauszug. Pasalnya, ayahku belum mengirimi aku uang untuk membayar Semesterticket di Uni, padahal pembayaran terakhir adalah lusa.
„Kok, murung, Bintang? Ada apa?“ tanyanya.
„Mmmm, nggak ada apa-apa kok, mas. Saya sedang menunggu kiriman uang dari ayah untuk membayar Semesterticket, tapi sampai sekarang uangnya belum datang,“jawabku.
Segera mas Fathan menarik tanganku menuju mesin ATM. „Berapa yang kamu butuhkan?“ tanyanya.
„Nggak usah mas, nggak usah, nanti saya telepon ayah saja,“
„Bintang, saya ini saudaramu. Saya ingin menjadi orang pertama yang membantu saudaranya. Bintang boleh menggantinya kapan saja. Berikan saya kesempatan menolong saudara yang saya cintai ya,“ katanya.
Ah mas Fathan, terharu aku saat itu.
„Tapi mas, mas sudah terlalu banyak membantu saya. Saya tahu mas juga punya keluarga. Saya nggak tahu gimana cara membalas kebaikan mas Fathan,“ kataku bergetar sambil menahan air mata yang sudah ingin mengalir.
Mas Fathan – kakakku – hanya tersenyum. „Belajar yang rajin, dan tunjukkan Bintang berhasil sekolah di sini, maka saya akan senang,“ katanya.

Namanya mas Fathan, suatu ketika aku dapat surat dari Indonesia. Tepatnya dari sebuah majalah islam yang terbit di sana. Isinya mengucapkan terimakasih atas cerpen-cerpen yang dikirimkan ke mereka. Mereka telah mengirimkan royaltinya ke rekeningku, dan meminta aku untuk mengirimkan cerpenku lagi. Aku segera ke bank, dan benar saja, sejumlah uang yang tidak sedikit masuk ke rekeningku. Aku bersyukur karena uang itu bisa memenuhi kebutuhanku selama sebulan.
Lantas aku menelepon pihak majalah untuk bertanya siapa yang mengirimkan naskah cerpen-cerpenku itu, karena aku tidak pernah mengirimnya. Kata mereka, dari seseorang bernama Fathan Wibowo.

Sudah dua minggu ini aku tidak bertemu mas Fathan. Ia juga sudah jarang ke masjid ketika shalat Maghrib. Aku langsung bertanya-tanya, apakah dia sakit, atau Annissa dan Faisal yang sakit. Kuputuskan untuk segera ke rumahnya.

Namanya mas Fathan, berseri-seri menyambut kehadiranku di rumahnya.
„Apa kabar?“ sapa mbak Mawaddah dibalik jilbabnya sambil menyuapi Faisal.
„Alhamdulillah baik. Mas Fathan dan mbak Mawaddah apa kabar? Kok jarang keliatan dua minggu ini? Saya kira sakit,“ tanyaku.
„Kami baik-baik saja kok,“jawab mas Fathan lalu mempersilahkan aku duduk.
„Mas, terimakasih yah telah mengirimkan cerpen-cerpenku,“ kataku.
„Oh? Sudah terbit ya? alhamdulillah, maaf yah Bintang saya lancang tidak memberi tahu dulu,“ jawabnya.
Aku melihat sekeliling, rumah mas Fathan tampak beda sekarang. Ya! tampak beda! Beberapa barang-barang di rumah itu sudah disimpan di dalam kardus.
„Lho, mas Fathan mau pindahan ya?“ tanyaku. Ia terdiam, sebelum sesaat kemudian berkata.
„Saya sekeluarga akan pulang habis ke Indonesia minggu depan,“
Bagaikan ditimpa sebongkah batu besar, aku membisu mendengar jawaban dari mas Fathan. Semua persaan bercampur. Kaget, kecewa, dan penuh tanya.
„Pulang habis? Ke Indonesia? Minggu depan? Kenapa mas? Kenapa?“ tanyaku meronta-ronta seperti anak kecil.
„Izin perpanjangan visa saya entah mengapa ditolak. Jerman menyuruh kami pulang, Ausländerbehörde tidak memberikan izin tinggal lagi. Saya harus menghentikan program doktoran saya, tapi tidak mengapa, toh gelar Diplom-Ing sudah saya dapatkan. Mawaddah juga sudah selesai dengan kuliahnya. Jadi, kita pulang for good,“
Wajahku memerah padam. Aku kecewa.
„Saya kecewa, mas. Mas Fathan sendiri yang bilang saya adalah saudara mas. Tapi kenapa saya tidak diberitahu tentang hal ini. Mas sendiri yang bilang, jadilah orang pertama untuk membantu saudaranya, tapi kenapa saya tidak dibiarkan melakukan hal itu, mas? Saya tahu, saya tidak bisa berbuat apa-apa dalam urusan visa, tapi paling tidak, saya bisa membantu mas dengan doa,“ kataku dengan air mata yang tak lagi terbendung.

Hening seketika pada sore di rumah itu.

„Maafkan saya Bintang. Saya salah. Ada alasan mengapa saya tidak ingin memberitahu Bintang. Bintang baru satu semester di Universitas, perjalanan Bintang masih panjang. Saya tidak mau Bintang menjadi jatuh semangat mendengar kabar ini. Ausländerbehörde tidak bisa ditebak. Jika mereka menyuruh kita pulang, maka kita pulang tanpa harus tahu alasannya. Saya ingin Bintang tetap optimis menuntut ilmu di sini. Itulah mengapa saya tidak ingin memberitahu Bintang,“

Aku pulang, lebih baik aku mendinginkan diri dulu setelah mendengar kabar ini.

Namanya mas Fathan, satu Berlin juga heboh mendengar berita kepulangan keluarga mas Fathan yang mendadak. Mereka juga merasa kehilangan sosok keluarga itu. Siapa yang tidak kenal mas Fathan dibalik kesolehan dan kesupelannya. Kini takdir memisahkan kita, secepat ini.

Bandara Tegel, tempat pertama aku bertemu dengannya, tempat mas Fathan menjemputku, kini juga tempatku mengantar mas Fathan. Kulihat orang-orang yang mengantar kepulangannya seperti ingin berlama-lama memeluk dan mengucapkan salam perpisahan dengannya. Tak lama, matanya menuju ke arahku, dan menghampiriku.

„Bintang, jangan khawatir, kalau Bintang liburan ke Indonesia, pasti Bintang bertemu kami lagi. Saya ingin berpesan kepada Bintang, berjanjilah untuk membawa kesuksesan dalam studi Bintang. Jangan sekali-kali Bintang jauh dari Allah, karena Dia-lah tempat kita menggantung segala urusan kita. Tugas Bintang di sini adalah belajar. Maksimalkan belajar Bintang dan serahkan setelahnya kepada Allah. Insya Allah, Bintang akan berhasil. Semangat ya!“ katanya ceria.
Namanya mas Fathan, sebentuk pelajaran telah banyak saya dapatkan selama saya mengenalnya. Doakan saya berhasil di sini, mas!

Berlin, 21 Mei 2006
Mushab Syuhada.

Daftar Istilah:
1. Wohnung: Tempat tinggal
2. Kindergarten: Taman Kanak-kanak
3. Studkol: Studienkolleg, sekolah kelas 13 - prauniversitas
4. Uni: Universität, Universitas
5. Kontoauszug: Kertas keadaan rekening bank
6. Semesterticket: Tiket transportasi untuk satu semester
7. Ausländerbehörde: Instansi pemerintah keimigrasian

Saturday, April 29, 2006

Cinta Karena Allah

Kategori: Artikel

Ukhuwwah
Adalah degup penuh makna
Yang mengalir membawakan cinta

Ukhuwwah fillah adalah ikatan iman yang ditegakkan atas dasar manhaj Allah yang memancar dari rasa ketaqwaan dan bermuara kepada pengendalian yang kokoh dengan tali.-Nya. Dengan ukhuwwah, hati-hati manusia terikat untuk selalu taat kepada-Nya, dan lebih mencintai-Nya.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Al-Mujtama’ Al-Islamie mengatakan bahwa ukhuwwah islamiyah dapat melahirkan al-ikhaa’ul islamie, dan tujuan terpenting daripadanya adalah persamaan hak (al-musaawah), saling membantu (at-ta’aawun), dan cinta kasih karena Allah (al-hubb fillah).

Persamaan hak dalam ukhuwwah islamiyah berarti kebebasan berukhuwwah dengan siapa saja tanpa membedakan status kekayaan, warna kulit, ataupun ras. Oleh sebab itu, dalam berukhuwwah kita harus menanggalkan pakaian jahiliyah yang membawa egoisme pribadi.

Kehidupan di Berlin yang multikulti, mengajak kita untuk lebih membuka mata tentang keberadaan umat islam di dunia. Dari bangsa arab, kulit hitam, kulit putih, sampai mata kecil asia, dapat ditemukan di kota ini. Sebagai ummat yang beriman, kita harus meninggalkan sifat golongan dalam diri kita. Siapapun dia, asalkan sudah bersyahadat mengakui keesaan Allah dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, adalah saudara kita yang harus kita jaga darahnya.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujuraat 13, “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesunggunya orang-orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.”

Di dalam masalah persamaan hak, kita dituntut memilki sifat adil. Memperlakukan seseorang sewajarnya sesuai dengan apa yang seharusnya. Nabi Muhammad SAW mencontohkan kita dalam berbuat adil memperlakukan seseorang. Pernah Beliau bersabda, “Demi Allah. Andaikan Fatimah puteri Muhammad SAW mencuri, pasti akan kupotong tangannya”. Sabda Rasul tersebut menunjukkan, bahwa setiap orang sewajarnya diperlakukan sama.

Ciri ukhuwwah yang lain adalah At-Ta’awun atau saling bantu-membantu. Sudah sewajarnya manusia membutuhkan keberadaan orang lain untuk membantunya. Sebagai seorang ikhwan sudah selayaknya kita siap memberikan bantuan kapan saja dan di mana saja bila saudara kita membutuhkannya.

Bantuan adalah hal yang luas pengertiannya. Menolong saudaranya dalam hal mencegah terhadap perbuatan dzalim termasuk juga bantuan. Jadi, bantuan dapat kita kerjakan kapanpun dalam setiap hembusan nafas kita. Sesuai sabda Rasulullah SAW, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna untuk lingkungannya.

Ukhuwwah timbul dari adanya rasa cinta kepada Al-Ikhwan karena Allah. Cinta dapat diwujudkan melalui menghormati sesama ikhwan, berlapang dada, saling mendoakan, berharap akan kebaikan untuknya, dan menghindari rasa dengki. Rasulullah SAW bersabda dalam hadistnya riwayat Bukhari, “Tidak boleh dengki kecuali dalam dua hal, (yaitu) seseorang yang diberi Allah SWT kekayaan dan dipergunakan kekayaannya untuk mempertahankan yang hak, dan kepada orang yang diberi Allah ilmu yang dengan ilmu itu diajarkan dan diamalkannya”.

Untuk terbentuknya sebuah jalinan ukhuwwah, diperlukan metode atau jalan tersendiri. Di antaranya adalah taat berhukum pada Al-Qur’an dan mengambil sunah Rasul sebagai undang-undang kehidupan. Jika kita berukhuwwah dengan mengedepankan aspek ini, insya Allah ukhuwwah atas dasar iman kepada Allah yang dapat menghantar kita meraih ridho Allah dapat terwujud.

Selain itu diperlukan juga adanya budaya mengucapkan salam. Salam dalam islam berarti mendoakan keselamatan dan kesejahteraan untuk orang yang disalaminya. Dalam satu hadistnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Zat yang diriku berada pada genggaman-Nya, tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah sempurna iman kalian sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menimbulkan rasa saling mencintai? Sebarkanlah (budayakanlah) salam di antara kalian.

“Manusia itu tergantung dien kawan kentalnya, maka perhatikanlah salah satu dari kawan kental manusia itu”, begitulah bunyi sabda Rasulullah SAW. Membangun sebuah ukhuwwah tidaklah semudah seperti berjumpa dengan seseorang, menjabat tangannya, dan menanyakan namanya. Ada tolak ukur untuk membangun sebuah ukhuwwah islamiyah antar al-ikhwan. Sebagai penutup artikel ini, berikut tolok ukur membangun sebuah ukhuwwah.

1. Menjadikan ukhuwwah itu ikhlas karena Allah semata.
2. Menjadikan ukhuwwah yang pertalian didalamnya atas dasar iman dan takwa.
3. Menjadikan ukhuwwah yang didalamnya ada rasa komitmen untuk selalu menjalankan apa yang ditulis di Al-Qur’an dan dipesankan Rasulnya.
4. Menjadikan ukhuwwah dengan berpegang teguh dengan selalu saling menasihati dalam kebaikan.
5. Menjadikan ukhuwwah atas dasar ta’awun dan tafakul baik dalam waktu sempit maupun lapang.

Thursday, April 06, 2006

Firasat

Kategori: Cerpen

Senja dingin itu, di bandara Soekarno-Hatta. Teman-teman yang akan berangkat bersamaku di kelilingi oleh sanak saudara dan keluarganya masing-masing. Mereka berfoto, berpelukan, dan bertangisan.

„Yu, kamu siap-siap check in, gih,“ kata mama. Tak aku jawab. Aku balas hanya dengan tatapan sebal.
„Yu, paspor kamu di mana? Hati-hati ya, jangan sampai hilang,“ lanjutnya lagi. Tak aku jawab juga.
„Yu, teman-teman kamu sudah pada masuk tuh mau check in,“ suara itu berbunyi lagi. Aku tak tahan. Aku berdiri, dan menatap ke wajah yang mulai renta itu.
„Mama! Bayu tahu! Bayu kan bukan anak kecil lagi! Mama gak usah ngingetin Bayu terus!“ suara kerasku terdengar menggema. Orang-orang yang di sekelilingku menatap ke arah kami. Hening sejenak. Hening paras Mama waktu mendengar bentakanku. Ia terdiam sebelum akhrnya mengulum kembali senyum yang dipaksakan.

Dan tiba saat pesawat akan berangkat, ku tepis tubuh Mama dan Papa saat hendak memelukku. Saat teman-temanku banjir air mata, tak ku tatap lagi wajah orang tuaku. Kesal aku dengan mereka, yang selalu memperlakukan aku bagai anak kecil. Yang selalu terobsesi dengan diriku, dan yang selalu menuntutku agar menjadi seperti apa yang mereka mau.

***

Ladies and gentlemen, welcome in Garuda Indonesia Airlines, my name is Retno Wulandari. I am head flight attendant from Jakarta to Frankfurt...

Aku duduk, menatap kosong ke arah televisi di depanku. Firman, yang duduk di sebelahku baru berhenti dari menangis ketika pesawat sudah mulai tinggal landas. Pramugari-pramugari itu mulai sibuk menyajikan santap malam untuk para penumpang.

„What do you want to eat?, we have rice with scramble eggs, noodle with sausage, or...“
„Terserah mbak!“ jawabku memotong. Ku tahu, pramugari itu terhenyuk mendengar jawaban kasarku. Okay, katanya sambil tersenyum, lalu menanyakan hal yang sama kepada Firman.
„Yu, plis jangan marah ya. lo kenapa sih? Dari tadi kelihatannya keseeel terus,“ tanya Firman sambil membuka menu yang telah dipilihnya.
„Kesel aja. Boleh, kan?“ jawabku ketus.
„Kesel boleh, tapi di waktu yang pas dong. Bukannya gue sok tua yah, kayaknya nggak pantes deh lo ngebentak pramugari tadi. Dan nggak pantes juga tadi lo ngedorong tubuh nyokap lo saat dia mau meluk lo,“ lanjutnya lagi. „Gue malah pengen bisa meluk tubuh nyokap gue selama mungkin,“
Aku diam, mulai menyantap hidangan.
„Jangan buat orang tua marah. Nanti kalau kiriman uang lo di-stop gimana hayo? Susah kan lo nanti jadinya,“
„Gue yakin, mereka nggak bakal nyetop kiriman uang,“ jawabku. „Mereka yang mau gue nerusin sekolah di Jerman. Ini semua cita-cita mereka. Mereka teralu terobsesi sama diri gue“
Firman hanya menatap.
„Tujuan lo ke Jerman buat apa?“ tanyaku.
„Buat sekolah lah. Hari gini, masa buat hura-hura,“
„Berarti kita berkebalikan. Tujuan gue justru buat hura-hura. Dengan gue ke Jerman, gue bisa lepas dari orang tua gue, pergi dari kehidupan di rumah yang membosankan,“
„Lo gak kasihan dengan orang tua lo? Lo kan anak semata wayang,“
„Tau apa lo soal anak semata wayang? Gue benci dengan sebutan itu. Apakah anak semata wayang harus terus bersama orang tua?“

Bruk bruk bruk. Pembicaraan kami terhenti saat pesawat kami tiba-tiba seperti berputar tak tentu arah. Makanan kami berhamburan.

Ting. Flight attendant, please come!

Dan para pramugari itu cepat-cepat kembali ke kursi mereka.

To all passengers, please return to your seats and fasten your seatbelts for we are expecting turbulances due to the bad weather. Thank you.

Suasana mendadak menjadi sepi. Yang ada hanyalah ketakutan. Lampu pesawat dipadamkan.
Tiba-tiba yang terlintas di pikiranku adalah kedua orang tuaku. Entah, padahal aku membenci mereka, namun saat ini wajah mereka seakan tepat di pelupuk mataku.

This is your captain speaking. Ladies and gentlemen, please take emergency landing position immediately.

Pesawat kami tiba-tiba manukik, turun dengan kecepatan yang luar biasa cepat. Semua orang panik. Panik sambil berusaha mengenakan baju pengaman dan meraih selang oksigen yang muncul dari atas kepala.

Mama, papa, mengapa saat ini kalian yang berada dalam pikiranku.

Jeritan di mana-mana, tubuh kami bertambah berat akibat pengaruh gravitasi berlebih, pesawat semakin cepat melaju ke bawah. Aku sadar. Aku akan mati. Ya, aku akan merasakan pedihnya sakratul maut sesaat lagi. Asyhadu alaa illaaha ilallah, wa asyhadu anna muhammadarrasulullah.

Ledakan besar, api, dan aku tak ingat lagi apa-apa.

***

Mataku terbelalak, tubuhku basah. Hanya sebuah mimpi buruk. Kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Beberapa jam dari sekarang aku akan pergi meninggalkan rumah ini, dan, pikiranku kembali kepada mama dan papa.

Ku beranjak keluar kamar, ku lihat seseorang bermukena putih bersimpuh di dalam mushalla mengerjakan tahajud rutinnya. Itu mama. Ya, itu mama. Mama.
„Mama!“
Wanita separuh baya itu menatapku dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk mata.
„Bayu, kok belum tidur? Kamu harus istirahat cukup. Perjalanan ke Jerman nanti akan menguras tenaga,“ katanya.
Ku rangkul tubuhnya. Ku peluk hangat.
„Ma, Bayu nggak mau ke Jerman, ma. Bayu mau sama mama,“ kataku dengan tangis yang mulai mengalir.
„Kamu bicara apa sih, sayang. Jam lima sore nanti kan kamu sudah harus terbang ke Jerman,“ katanya lembut, walau kutahu, perih yang dirasakannya saat ini.

Mama, yang sudah berbuat banyak untukku. Menjamin aku mendapat susu tiap hari saat ku kecil, menemaniku melukis saat aku di taman kanak-kanak, hingga sampai saat ini, kata-kata yang keluar setiap aku pulang ke rumah adalah „Bayu, sudah makan atau belum,“

„Mama sadar, apapun bisa terjadi nanti. Bayu, kamu anak mama semata wayang. Pun kamu hanyalah titipan Allah yang harus mama jaga. Jika kamu, atau mama, dipanggil oleh Yang Menciptakan kita, maka tidak ada yang dapat kita perbuat lagi selain mengikhlaskannya“.

Mama, tahukah kau, kalau aku baru bermimpi buruk tadi.

Mushab Syuhada
Berlin 2006

Thursday, March 16, 2006

The Day

S u j u d k u



pun takkan memuaskan inginku
untuk haturkan sembah ke dalam kalbu

adapun kusembahkan syukur padaMu ya Allah
untuk nama, harta, dan keluarga yang mencinta

dan perjalanan yang sejauh ini tertempa

alhamdulillah pilihan dan kesempatan
yang membuat hamba mengerti lebih baik tentang makna diri

semua lebih berarti apabila dihayati
alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah


Too Phat feat. Dian Sastro feat. Yassin - alhamdulillah

Sunday, March 05, 2006

Hukum Pareto

Kategori: Cerpen

Hukum Pareto
Oleh: Mushab Syuhada


Laboratorium Kimia Anorganik, Gedung Kimia, TU Berlin
Aku masih menatap beberapa tabung reaksi yang berjejer rapi di depanku, melihat dengan teliti dan seksama setiap perubahan yang terjadi dalam larutan-larutan warna-warni itu. Perlahan aku tiba pada titik kejenuhan. Sekitar lima belas menit yang lalu, aku mengajukan laporan penelitian pada asisten lab. Ku katakan, bahwa dalam zat yang aku teliti saat ini tidak terdapat phospat, sulfat, dan klorid. Tapi kata dia, laporan yang aku ajukan itu hanya ada satu jawaban yang benar, sisanya salah, dan bahkan ada satu unsur yang tidak terdeteksi oleh ku.

Ruangan laboratorium besar yang diisi 80 mahasiswa perlahan sepi. Hanya tersisa lima mahasiswa yang belum menyelesaikan laporannya, termasuk aku. Laboratorium akan ditutup sepuluh menit lagi, sedangkan aku masih harus mengulang percobaan agar unsur yang tersembunyi di balik zat itu berhasil aku temukan.

„Baik, saya ajukan laporan kedua saya. Saya sangat yakin di dalam zat ini tidak terdapat unsur karbonat, karena saya sudah mengulang percobaan ini sebanyak tiga kali, dan tidak saya temukan juga gas karbon dioksida dalam larutan barium hidroksid,“ kataku dengan sedikit emosi.
„Ya benar,“ jawab asisten itu. „pada zat yang kamu miliki memang tidak ada karbonat. Tapi mengapa kamu tulis dalam laporan pertamamu?“
Ups, hampir ketahuan kalau saya menebak jawaban tanpa melakukan percobaan.
„Selanjutnya, dalam zat ini ada unsur iodid, karena ketika saya berikan asam sulfat, muncul sol berwarna kuning dengan titik-titik air berwarna ungu, serta kristal hitam pada dinding tabung reaksi,“ lanjutku.
„Ya itu benar, kamu punya unsur Iodid. Tapi, apa yang kamu ajukan sekarang masih salah. Apakah kamu yakin kamu punya unsur sulfat?“
„Ya! sangat yakin,“ jawabku dengan sedikit ngotot.
„Apa buktinya?“
„Hmmm... saya melihat ada sol yang jatuh pada larutan bariumsulfat setelah proses sentrifugal,“
„Yakin?“
„Sedikit yakin,“
„Coba lihat larutannya,“
„Ehh... sudah saya buang...,“
„Kalau begitu saya ingin lihat zat yang kamu punya,“
„Baik, Anda ikut saya ke meja kerja saya,“

Saya menunjukkan zat dalam gelas kimia kecil. Mendadak raut muka asisten itu berubah.
„Kamu belum menghaluskan garam-garam ini, ya?“ tanyanya sedikit terkaget.
„Belum, memangnya harus dihaluskan?“ jawabku.
„Ya jelas! Pantas jawaban kamu salah semua. Unsur-unsur itu harus diteliti secara bersamaan!“ jawabnya.
„Anda tidak mengatakannya!“ kataku membela diri.
„Doch! Saya mengatakannya ketika seminar. Saya bahkan melihat kamu hadir pada seminar tadi siang. Jelas saja, karena kamu tidak menghaluskan garam-garam ini, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa menganalisis unsur-unsur dalam zat ini!“

***

Ruang Locker, Gedung Kimia, TU Berlin
Aku membuka jas lab putih serta kacamata pelindung dengan tanpa semangat. Kugantungkan di dalam lemari besiku. Hari ini mendapat nilai 4,0, hampir saja tidak lulus. Seseorang keluar dari toilet dalam ruang locker ini, Robert Mensch, teman kuliahku. Ia mengambil jaket dan tas dari dalam lemarinya. Terlalu malas aku untuk menyapanya – menyapa orang-orang – setelah mengetahui hasil yang kudapatkan dari enam jam berkutat di lab.

„Hai,“ sapanya terlebih dahulu.
„Hai,“ balasku datar
„Bagaimana percobaan kamu tadi?“ tanyanya.
„Buruk, aku mendapat 4,0,“
„Aaah, sayang sekali,“ jawabnya. Aku tersenyum.
„Kalau kamu, bagaimana?“ tanyaku membalas.
„Aku mendapat 2,0,“
„Waw! Bagus!“
„Na ja, itu juga karena aku terlalu banyak memberikan asam sulfat. Semestinya perbandingannya satu banding satu,“ katanya. „Mengapa kamu bisa mendapat 4,0? Apa yang salah?“ lanjutnya bertanya.
„Hukum Pareto,“ jawabku.
„Hukum Pareto?“
„Kamu pulang dengan kereta U2 dan U9, kan? Ayo kita pulang bersama, nanti aku jelaskan hukum Pareto itu,“

***

Di dalam U-Bahn U2 dan U9
„Vilfredo Frederico Damaso Pareto, lahir di Paris 15 Juli 1848, adalah seorang ahli mikroekonomi Italia yang banyak berperan dalam dunia ekonomi, sosiologi, dan filosofi. Dia pernah membuat sebuah survey mikroekonomi di Italia. Hasil surveynya menyebutkan, bahwa 80% peredaran uang di Italia, terkonsentrasi hanya pada 20% warganya. Hanya 20% dari populasi!“ kataku memulai penjelasan. Robert yang duduk di hadapanku mendengarkan dengan seksama. „Dari situ muncul lah hukum Pareto, atau dalam bahasa Inggris disebut Pareto Principle, dalam bahasa Jerman disebut Pareto Verteilung, atau dikenal dengan sebutan 80-20 Rules atau 80:20 Regel,“
„Maksudnya?“ tanya Robert sambil mengerutkan dahi.
„Hukum itu menjelaskan, bahwa jumlah yang kecil dalam sebuah himpunan, banyak mempengaruhi himpunan tersebut. Dan juga sebaliknya, jumlah yang besar dalam sebuah himpunan, justru tidak banyak berperan dalam himpunan itu. Atau dalam kata lain, 80% keberhasilan diperoleh hanya dari 20% unsur pendukung keberhasilan itu,“ lanjutku.
„Lalu apa hubungannya dengan percobaan kimia kamu?“ Robert semakin penasaran. Kereta kami sampai pada stasiun Zoologischer Garten, saatnya kami harus berpindah kereta.
„Coba bayangkan. Kegagalan percobaanku hanya karena aku lupa menghaluskan garam-garam itu. Menghaluskan garam-garam paling hanya membutuhkan waktu selama tiga menit, tapi mempengaruhi enam jam kerjaku secara keseluruhan. Karena aku lupa mengerjakan hal yang kecil itu, maka gagal lah seluruh pekerjaan ku,“ jawabku. Robert tersenyum, dia mulai mengerti apa yang aku maksud.
„Kamu punya contoh yang lain lagi?“ tanyanya. Aku mengangguk.
„Kita belajar Matematika Analisis atau Aljabar Liniar selama satu semester bukan?“ tanyaku. „Berapa banyak waktu yang kamu butuhkan dalam satu minggu untuk belajar dua mata kuliah itu?“
„Wah! Sangat banyak! Setiap minggunya kita mendapat pekerjaan rumah yang sangat sulit dan membutuhkan waktu minimal dua hari untuk mengerjakannya. Belum lagi dengan bahan yang sangat banyak dan tugas-tugas lainnya yang menumpuk,“ katanya.
„Sepakat!“ jawabku. „Semester ini kita banyak disibukkan hanya untuk kedua mata kuliah itu, bukan?“ lanjutku. Robert mengiyakan. „Dan kamu tahu, Robert, upaya kita dalam satu semester itu hanya ditentukan dalam waktu satu jam! Ya, satu jam!“
„Benar!“ teriak Robert. „Ujian mata kuliah itu hanya selama satu jam! Dan bila kita gagal dalam satu jam itu, maka sia-sia pula upaya kita dalam satu semester! Tidak peduli walaupun kita telah membuang waktu banyak hanya untuk dua mata kuliah ini. Bila nilai kita dalam satu jam ujian itu jelek, maka kita tidak lulus!“
Aku tersenyum. Apa yang dikatakan Robert itu benar.
„Contoh lain lagi, waktu aku sekolah di Indonesia, aku ikut dalam organisasi siswa. Setiap akan melakukan kegiatan, kami wajib membuat proposal. Tanpa Proposal, kegiatan kita mustahil dijalankan. Padahal, kalau kita membuat time-schedule dalam kegiatan tersebut, alokasi waktu untuk membuat proposal paling hanya satu minggu. Yang paling banyak adalah proses kerja kita dalam kegiatan itu. Tapi hal yang banyak itu tidak akan mungkin dijalankan bila kita tidak membuat proposal,“ lanjutku.
„Hukum Pareto!“ teriak Robert.
„Dan satu contoh lagi. Menurut agamaku, kehidupan di dunia ini hanyalah sebentar. Dan kehidupan setelah di dunia adalah kehidupan abadi. Kehidupan kekal dan selama-lamanya. Namun kehidupan abadi kita itu ditentukan oleh kehidupan kita di dunia yang sesingkat ini. Apakah kita akan hidup di surga atau neraka, ditentukan dalam hidup kita saat ini. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW berkata, hidup di dunia itu bagaikan seseorang yang sedang berjalan jauh melintasi luasnya padang pasir, dan berhenti sejenak di bawah pohon kurma untuk beristirahat, sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya lagi,“

„Teng tong, Leopoldplatz, Übergang zu U-Bahn Linie U6“

„Robert, aku harus turun di sini. Rumahku di sini,“
„Ach so, oke sampai besok!“
„Mach’s gut,“
„Du auch. Ciao“
„Ciao“

„Zug nach Osloerstrasse. Einsteigen, bitte! Zurückbleiben, bitte!“

Mushab Syuhada
Berlin, 5 Maret 2006
12:05

Monday, February 06, 2006

Heikele Karikaturen

Kategori: Artikel

Die European sehen jetzt sehr extrem gegen Islam aus. Die Karikaturen des Propheten Muhammad (Peace Be Upon Him) wurden bei einer dänischen Zeitung (Jyllands-Posten) und mehreren europäischen Zeitungen im September 2005 veröffentlicht. Ich habe in diesen Zeiten schon mal gesehen, und habe mich darüber sehr geärgert.

Zur zeit passiert es in der ganzen Welt besonders in islamischen Ländern viele Proteste gegen diese heikelen Karikaturen. Den Moslemen aus aller Welt ist damit wirklich angetan worden. Ich freue mich, dass sich die indonesische Regierung von dem Präsidenten SBY um diese Probleme auch kümmert. Starker Protest wurde von indonesischer Regierung zu der dänischen Botschaft in Jakarta und auch zu der dänischen Regierung gegeben.

Das entspricht einer Warnung für European, dass der Islam nicht geschlafen hätte. Einmal würden wir von ihnen noch mal verletzt, würde noch andere unangenehme Sache zu ihnen vorkommen. Jetzt ist alles klar geworden, wer radikal sein söllte. Die Antwort ist definitiv sie!

Wir sind keine Terroristen, wir sind keine Anarchisten, aber wir sind gegen Leute, die den Islam beleidigen!

Monday, January 30, 2006

New Year's Resolutions

Kategori: Puisi

Sedikit putar balik
Dua tahun yang lalu
...
Jakarta, 31 Januari 2004
Sebilas bayangan senja
Tersenyum hangat sore itu
Sore kenangan
Akhir dari lembar lama
Awal dari resolusi pada lembar baru
Ayah, Bunda, restui kami pergi menuju
Apa yang kami cari
... dan pesawat pun tinggal landas
... beberapa orang menangis haru di Soekarno-Hatta

Dua tahun sudah
Telusur sebuah rahasia besar-Nya
Mengapa kami di sini
Adalah bagian dari skenario-Nya
...kini perlahan kami mengerti, mengapa Allah mempertemukan kami dengan takdir ini...
Di sini jauh lebih baik
Dan menemukan hidup yang benar-benar hidup

31 Januari 2006
Ketika langit dijatuhi meteor dua tahun lalu
Kini hijrah kami
Bertepatan 1427 tahun hijrahnya Rasulullah SAW
Hijrah, mencari arti hidup, dan kala Kau telah pertemukan kami dengan hidup itu
Hidup yang hakiki
Tetapkanlah selalu hati-hati kami

New year’s resolutions...
We wish we could...

Berlin 2006

Saturday, January 28, 2006

Fakultas Tiga

Kategori: Artikel

Selamat Datang di Technische Universität Berlin

Posting kali ini akan mengupas sedikit mengenai tempat di mana sebagian besar waktu saya dihabiskan, yaitu tak lain dan tak bukan adalah kampus saya – TU Berlin.

TU Berlin terletak persis di salah satu dari pusat kota Berlin, tepatnya di Ernst-Reuter-Platz wilayah Charlottenburg. Tempat ini dapat dengan mudah dijangkau memakai U-Bahn (subway) U2, atau dengan S-Bahn dan Bus dari Zoologischer Garten. Di Ernst-Reuter-Platz terdapat sebuah bundaran (seperti bundaran HI di Jakarta). Jadi bisa kalian bayangkan, kalau kampus saya itu terletak seolah-olah di sekitar Bundaran HI.





TU Berlin sempat runtuh ketika perang dunia kedua. Ternyata, banyak juga orang Indonesia yang menyelesaikan kuliahnya di TU Berlin. Contohnya, saya sempat meminjam sebuah tesis tentang biosurfaktan dari perpustakaan kampus yang ditulis oleh salah satu mahasiswa Indonesia di tahun 1968. Wow. Kata seorang teman (yang bersamanya saya banyak menghabiskan waktu di kampus tercinta ini) seorang penjaga gedung di sini sempat bertemu dengan mantan Presiden Soekarno yang pernah berkunjung ke sini.

Oke. Sekarang kita masuk ke tema. Kali ini saya ingin membahas tentang fakultas tempat saya belajar, yaitu Fakultät III: Prozesswissenschaften (Fakultas Ilmu Proses). Fakultät Prozesswissenschaften memiliki beberapa jurusan, seperti Energie- und Verfahrenstechnik (Teknik Energi dan Produksi), Prozess- und Anlagentechnik (Teknik Proses dan Konstruksi), Werkstoffwissenschaften- und Technologien (Ilmu Bahan Baku dan Teknologi Bahan Baku), Technischer Umwelschutz (Teknologi Perlindungan Lingkungan), Lebensmitteltechnologie und Lebensmittelchemie (Teknologi Bahan Pangan dan Bahan Pangan Kimia), dan Biotechnologie (Bioteknologi). Saya sendiri berada pada jurusan Biotechnologie.

Mahasiswa-mahasiswa dari fakultas tiga masih memiliki mata kuliah yang hampir semuanya sama di Grundstudium (dalam program Diplom, ada istilah Grundstudium untuk mata kuliah yang dasar dan Hauptstudium untuk mata kuliah pendalaman). Di semester ini kami memiliki lima mata kuliah yaitu Projektprozessingenieurwissenschaften (Proyek Insinyur Ilmu Proses), Wirtschaftswissenschaftliche Grundlage für Ingenieure (Ekonomi Dasar untuk Insinyur), Mathematik Analysis I für Ingenieure (Matematika Analisis I untuk Insinyur), Lineare Algebra für Ingenieure (Aljabar Linear untuk Insinyur) dan Allgemeine und Anorganische Chemie für Ingenieure (Kimia Dasar dan Kimia Anorganik untuk Insinyur). Hanya saja, mata-mata kuliah tersebut sedikit berat untuk kami. Mengapa berat? Dan apa saja yang dilakukan para mahasiswa fakultas tiga untuk dapat survive? Berikut penjabarannya.

1. Projektprozessingenieurwissenschaften

Mata kuliah ini dapat dikatakan paling asik. Paling santai karena kita mengerjakannya dalam satu kelompok. Mata kuliah ini menyediakan 37 proyek dari berbagai jurusan yang ada di fakultas ini untuk dikerjakan bersama-sama dalam satu kelompok. Tujuan dari mata kuliah ini adalah agar para mahasiswa mengenal dunia kerja sebagai insinyur dimana akan dipenuhi dengan pembuatan proyek dan kerja di dalam tim. Dari situ juga dinilai kemampuan kita bekerja dalam satu tim untuk membuat proyek kita berhasil, bagaimana kita mengatasi konflik dalam bekerja di satu tim, bagaimana kita membuat mindmapping serta time schedule agar proyek yang dikerjakan kita dapat selesai tepat waktu, bagaimana kita membuat laporan tertulis dengan mengambil bahan dari berbagai buku yang berkaitan dengan tema tersebut, dan bagaimana kita membuat presentasi atas proyek yang telah kita kerjakan.

Kami bebas memilih proyek mana saja, asalkan yang kami sukai. Nah, waktu itu hari Jumat. Hari itu adalah hari pertama pemilihan proyek lewat internet. Pemilihan dimulai pukul tiga sore. Saya pikir, jam tiga sore belum ada mahasiswa yang memilih proyek, sehingga saya baru membuka website pemilihan proyek pada pukul setengah empat. Ternyata oh ternyata, baru setengah jam, sudah hampir semua proyek penuh. Saya tidak kebagian tempat pada proyek untuk jurusan Bioteknologi. Secara yah, saya ini kan anak Biotek. Akhirnya saya memilih proyek Technischer Umweltschutz deh.

Intinya, di sini semua serba komputer. Serba cepat. Siapa cepat dia dapat deh. Jangan pernah punya prinsip biar lambat asal selamat. Ntar keburu ketinggalan bis.

Walaupun demikian, saya senang mendapat proyek dengan judul „Tenside und Biotenside – Herkunft, Verbleib, und Verhalten in der Umwelt“ karena ternyata tidak jauh berbeda dengan Bioteknologi. Di sini kami lebih banyak bermain dengan Surfaktan dan Biosurfaktan dan mikrobiologi. Selain itu, alhamdulillah teman-teman saya satu kelompok asik-asik dan kompak. Mereka tidak keberatan jika saya harus menunaikan shalat di ruangan kerja kami. Tempat kerja kelompok kami pun tidak jauh dari Mathe-Gebäude (Gedung dimana banyak vorlesung untuk kami diselenggarakan) jadi kami juga bisa datang ke Vorlesung atau Tutorium. Bayangkan, beberapa kelompok kebagian tempat kerja di Steglitz (daerah selatan Berlin) atau di Ackerstr. (Wedding. Deket rumah sih, tapi tetep aja terkucil).

Mata kuliah ini sudah selesai. Finally.

2. Wirtschaftswissenschaftliche Grundlage für Ingenieure

Ini dia mata kuliah yang paling saya takutkan. Ekonomi! Dari jaman SMA saya paling benci pelajaran Ekonomi. Mata kuliah ini menggabungkan BWL dan VWL (Ekonomi perusahaan dan ekonomi rakyat) untuk insinyur. Memang saya akui mata kuliah ini penting, karena insinyur juga harus bisa ekonomi. Bukannya teknik melulu. Tapi. Entah mengapa yah, saya selalu mengantuk ketika Vorlesung dan terbengong-bengong ketika Übung.

Sebentar lagi ujian mata kuliah ini. Tepatnya tanggal 15 Februari. Tapi, jika kita ingin mendapat tempat untuk mengikuti ujian, kita harus lulus dulu ujian percobaan dengan nilai minimal 80%. Sistim siapa cepat dia dapat pun bermain lagi. Kita harus lulus ujian percobaan yang dapat kita kerjakan melalui internet, namun tempatnya terbatas yaitu 300 tempat. Kalau kita tidak dapat tempat berarti kita hatus mengulang mata kuliah ini semester depan. Oh no! Oleh karena itu dua minggu terakhir ini saya mati-matian berusaha lulus di ujian percobaan. Alhamdulillah berhasil, sekarang tinggal ujian benerannya di tanggal 15 Februari. (untuk Adi: kenapa lo ngajak jalan ke Finnlandia di tanggal 15 Februari??!!)

3. Mathematik Analysis I für Ingenieure

Ini dia mata kuliah paling heboh untuk para mahasiswa fakultas tiga. Bagaimana tidak, mahasiswa-mahasiswa fakultas tiga diwajibkan mengerjakan Hausaufgabe (PR) setiap minggunya dan nilainya harus diatas 60%, kalau tidak, kami tidak bisa ikut ujian. Kayak anak SD yah harus ngerjain PR segala. Sedangkan anak-anak jurusan lain kayak teknik mesin, informatik, elektro, mereka tidak harus mengerjakan PR. Tapi saya akui, ini berguna juga. Kalau saya tidak mengerjakan PR, mungkin belajar matematika akan terlupakan sampai dekat ujian.

Tahu nggak, di antara anak-anak fakultas tiga dan fakultas delapan (anak teknik industri) sering juga bermunculan fotokopi PR dari sebuah kelompok yang sudah ngumpulin PR dan nilainya bagus. Hehehe.


4. Lineare Algebra fur Ingenieure


Sama seperti Matematika Analisis, kami juga harus mengerjakan PR di mata kuliah ini. Aljabar Linear memang terlihat mudah, namun sebenarnya sangat abstrak. Saya sempat sekali patah semangat karena tidak mengerti sama sekali sebuah bab di mata kuliah ini yang berdampak saya tidak bisa mengerjakan PR.

Selain itu, di mata kuliah ini ada PR yang harus dikerjakan dengan program Maple. Karena program ini mahal, saya harus mengerjakannya di Unix Pool (Ruang Komputer milik anak-anak jurusan Matematika). Yang seru di sini, kami semua rata-rata gaptek dengan program ini (disamping kami juga tidak mengerti apa yang diajarkan pada mata kuliah ini). Jadi, kalau di ruangan ini melihat ada sekelompok orang sedang berkumpul melihat sebuah komputer, lalu balik kembali ke tempatnya, dan berjalan kembali ke sebuah komputer itu, sambil sesekali berdiskusi dan berdebat atau berteriak „ich kann nicht mehr weiter gehen!“, itu pasti anak fakultas tiga atau fakultas delapan. Untungnya kami kompak, jadi siapa yang sudah selesai dan mengerti PR itu, biasanya dia menolong teman-temannya yang lain. Huhuhuhu.

5. Allgemeine und Anorganische Chemie für Ingenieure

Mata kuliah ini menggabungkan pelajaran dari kelas satu SMA sampai kelas tiga SMA dalam satu semester. Kebayang kan betapa cepatnya. Untungnya saya sempat membawa catatan kimia saya ketika SMA.

Secara keseluruhan saya kurang sreg dengan profesornya. Kenapa yah, saya (lagi-lagi) selalu mengantuk di Vorlesungnya. Walaupun demikian, si Profesor selalu mengadakan pertunjukan kimia yang meledak-ledak di setiap Vorlesungnya, jadi kami kembali segar lagi. Dalam satu minggu kami memiliki dua pertemuan, dan pasti selalu ada pertunjukan praktikum. Hebat yah. Padahal untuk sekali praktikum dibutuhkan dana yang lumayan besar. Tapi kalau untuk studi sepertinya mereka loyal-loyal saja deh. Syarat untuk ikut ujian di mata kuliah ini adalah dengan mengikuti praktikum di laboratorium selama satu bulan ketika liburan semester (hiks hiks hiks). Baru setelah itu ujian.

Demikianlah artikel saya kali ini tentang TU Berlin dan seluk beluk para mahasiswa di dalamnya. Secara keseluruhan, saya senang kuliah di sini. Oke, saya cukupkan cerita saya karena kini saatnya mempersiapak ujian... Ekonomi!

Saturday, January 21, 2006

Memberi

Kategori: Curhat

Saya adalah orang yang suka membuat The Best Scene of The Day. The Best Scene of The Day adalah suatu peristiwa di suatu hari yang sangat berkesan dan menyenangkan untuk dikenang. Peristiwa itu bisa menggembirakan, menyebalkan, menyedihkan, ataupun mengharukan. Intinya, peristiwa yang menjadi tema untuk saya di hari itu.

The Best Scene of The Day kali ini terjadi tepat jam tujuh sore. Kala itu saya sedang berkutat dengan soal-soal ekonomi di depan meja. Tiba-tiba muncul sebuah pesan lewat Yahoo! Messenger dari penghuni apartemen 805 dengan bunyi seperti ini:

Teman (21.01.2006 18:47:06): ass.
Teman (21.01.2006 18:47:15): ini wawan mas
Myself (21.01.2006 18:47:35): wa'alaikumsalam wr wb
Myself (21.01.2006 18:47:37): ja bitte (bahasa: ya, silahkan)
Teman (21.01.2006 18:47:49): boleh minta nasi ngga
Myself (21.01.2006 18:47:56): nasi?
Teman (21.01.2006 18:47:57): eh slh
Teman (21.01.2006 18:48:00): beras
Myself (21.01.2006 18:48:05): boleh
Myself (21.01.2006 18:48:07): datang aja,

Teman (21.01.2006 18:48:09): lp beli
Myself (21.01.2006 18:48:12): tapi timggal sedikit
Myself (21.01.2006 18:48:13): gpp kan?

Teman (21.01.2006 18:48:16): byk kontingen dtg
Myself (21.01.2006 18:48:27): wah kalau banyak kontingen gak mungkin cukup
Teman (21.01.2006 18:48:30): ajay minyta sambel
Myself (21.01.2006 18:48:30): atau mau beras?
Teman (21.01.2006 18:48:34): ngidam
Myself (21.01.2006 18:48:39): sambel apa nih?
Myself (21.01.2006 18:48:45): sambel botolan or ulek?
Teman (21.01.2006 18:49:08): sambel botol kalo ada
Myself (21.01.2006 18:49:11): ada
Myself (21.01.2006 18:49:13): datang aja

Myself (21.01.2006 18:49:27): tapi wie gesagt (colloquial speech, bahasa: jujur), nasinya tinggal dikit, blom masak, kalau mau beras boleh

Teman (21.01.2006 18:49:34): okay
Teman (21.01.2006 18:49:42): beras aja kok
Teman (21.01.2006 18:49:50): sori banget ngerepotin kata ajay
Teman (21.01.2006 18:50:03): ok siip
Teman (21.01.2006 18:50:12): pasukan siap meluncur

Beberapa saat mereka datang. Dan mengambil beras, yang ternyata juga sudah tinggal sedikit. Saya tahu mereka ada empat orang di sana. Nasi dua gelas pun sepertinya tidak akan cukup untuk mereka. Masalahnya, hari ini hari Sabtu, dan besok Minggu. Hari Minggu semua toko tutup sehingga kita tidak mungkin bisa membeli beras.

Setelah mereka kembali ke tempatnya, saya pun menulis pesan kembali lewat Yahoo! Messenger

Myself (21.01.2006 18:59:00): hari minggu gak usah masak
Myself (21.01.2006 18:59:08): makan siang bareng aja di rumah ferry

Myself (21.01.2006 18:59:11): gue yang masak

Myself (21.01.2006 18:59:19): besok gue masak cumi ama perkedel tahu

Myself (21.01.2006 18:59:22): jam 2 siang yah

Teman (21.01.2006 18:59:24): waks
Teman (21.01.2006 18:59:29): Asiiiikk
Myself (21.01.2006 18:59:30): jadi nasinya buat makan malam aja besok
Teman (21.01.2006 18:59:33): Insya allah dateng
Myself (21.01.2006 18:59:49): yuti... oki doki (colloquial speech. Bahasa: baik... ok)
Teman (21.01.2006 18:59:50): jam 2 di rmh ferry
Myself (21.01.2006 18:59:58): yap, aber ohne (Bahasa: tapi tanpa) telat yak
Teman (21.01.2006 19:00:03): ngOKeh

Tidak sampai lima menit kemudian, bel apartemen pun kembali berbunyi. Aku tidak menduga kalau yang datang salah satu dari mereka, yaitu Wawan, yang kali ini membawa semangkuk sup ayam hangat dengan penataan yang indah (lihat foto di bawah ini).




Saya (terbengong-bengong): „Apa ini?“
Wawan: „Udah, makan aja! Dari pada makan nasi goreng“
Saya (dalam hati): Wah mereka melihat menu saya hari ini (nasi goreng) yang terletak di atas kompor, dan mereka sekarang menawarkan sesuatu yang lebih spesial.
Wawan: „Yaudah yah. Dimakan loh“
Saya (dalam hati): This is the best scene of the day, saya terharu. Benar-benar terharu.

Saling memberi. Mungkin sepele, namun dapat membawa nilai rasa yang besar dalam hati dan juga dapat melunakkan hati. Salah satu fiquh dakwah pun adalah dengan saling memberi, yang dengan demikian membuat kita terasa ‚ada’ dan ‚keberadaan’ kita diperhatikan serta dihargai oleh orang lain. Jika kalian sempat membaca novel Ayat-Ayat Cinta karangan Habiburrahman El-Shirazy, ada satu peristiwa ketika Fahri memberikan hadiah ulang tahun kepada tetangganya - Madame Nahed dan Yousef, yang dengannya menjadikan hubungan antara Fahri dan keluarga Boutros semakin erat.

Memberi pun tidak harus berupa barang atau uang, bisa juga dengan senyuman atau tenaga. Sudah baca tulisan ini? Dari situ jelas terlihat, bahwa memberi benar-benar ampuh untuk melunakkan hati seseorang.

Sunday, January 01, 2006

Perjuangan Menuju Harapan

Kategori: Cerpen

Tahun 2006 adalah tahun sepak bola (world cup kali ini di Jerman, hehehe... )

By Guest-Writer

Perjuangan Menuju Harapan
Oleh: Nico Ega Nugraha


Keadaan pada sore itu biasa-biasa saja. Hanya segelintir mobil yang berlalu-lalang. Lapangan sepak bola masih sepi karena masih terlalu panas untuk digunakan bermain sepak bola. Seperti pada sore-sore sebelumnya, tampak seorang remaja sedang berlatih di sana. Namanya Agi, ia kelihatan sedang asyik berlatih dengan bolanya. Panas yang cukup menyengat pada sore itu merupakan hal yang biasa untuknya. Namun, walaupun ia selalu rutin latihan, kulit tubuhnya tetap tetap terlihat bersih. Ia tidak mengambil bimbingan belajar seperti anak-anak di usianya, meski ia kerap dinasehati oleh orangtuanya untuk mengikuti bimbingan belajar. Baginya, cukup belajar dilakukan di rumah dan di sekolah.

Ia selalu berlatih sepak bola. Selalu. Tak ada yang dapat menundanya untuk berlatih sepak bola. Bila ia pergi kemanapun, ia selalu membawa sebuah bola kaki. Baginya, bola merupakan bagian yang tidak dapat lepas dari dirinya, dan merupakan sahabat baiknya sejak saat itu.

Saat itu, ia masih berusia sembilan tahun. Ia mengenal sepak bola dari ayahnya yang gemar menyaksikan pertandingan sepak bola. Piala dunia di Amerika Serikat sedang diadakan.. Ketika itu, ia sudah memiliki tim sepak bola kesayangannya, kesebelasan Italia. Tidak pernah ia lewatkan saat tim nasional kesayangannya berlaga di atas rumput hijau. Ia menyukai gelandang penyerang atau playmaker kesebelasan Italia, Roberto Baggio, yang bernomor punggung sepuluh. Ia tidak hanya menyukai gaya rambut Baggio yang dikuncir berbuntut, tetapi juga ia menyukai sosok Baggio yang memiliki kemampuan teknis yang luar biasa didukung dengan daya intelegensi yang tinggi. Saat itulah Agi menyukai sepak bola, dan ayahnya memberikan seperangkat alat bermain sepak bola untuknya.

“Agi!” teriak seseorang memanggil namanya. Teriakan yang menahan geraknya untuk menendang si kulit bundar dalam latihannya. Ia berhenti sejenak untuk melihat siapa yang memanggilnya. Sebuah sosok datang. Aryo, sahabatnya sejak kecil.
“Aryo! Kenapa kamu datang terlambat?” sahut Agi dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Aku baru saja mengembalikan buku yang kupinjam di perpustakaan. Sudah lama kamu latihan, Gi?” jawab Aryo.
“Lumayan. Aku sudah latihan mengontrol bola selama lima menit dan latihan menendang ke gawang selama lima menit” jelasnya.
“Kalau begitu, ayo kita mulai latihannya!”
“Ok!”

Mereka satu tim di sebuah kesebelasan remaja yang seing mengadakan latihan di Senayan. Namanya Young Guns Club, atau lebih dikenal dengan YGC. Agi dan Aryo biasa latihan di lapangan dekat rumah mereka ketika tidak ada jadwal latihan di klub. Klub mereka berlatih seminggu tiga kali. Adalah Bang Gugun, pelatih klub mereka yang merupakan mantan pemain di liga amatir Amerika Serikat.

Sementara Aryo melakukan pemanasan, Agi kembali berlatih mengontrol bola. Setelah Aryo selesai menyelesaikan pemanasannya, barulah mereka berlatih bola bersama. Mereka latihan mengoper, meyundul, merebut, dan mempertahankan bola. Mereka juga berlatih beberapa kombinasi seperti saling menyelesaikan umpan atau lainnya. Di dalam klub mereka, Agi berposisi sebagai gelandang penyerang sementara Aryo sebagai gelandang tengah. Latihan kali ini diakhiri dengan latihan fisik, peregangan otot, dan pendinginan.

Mereka bercita-cita menjadi seorang pemain sepak bola yang besar, dimana untuk menggapai cita-cita itu, mereka rela mengorbankan apa saja sambil berpikir bagaimana untuk mewujudkannya.

“Kamu sudah selesai, Aryo?” tanya Agi sambil menghabiskan sisa air mineral yang selalu dibawanya ketika latihan.
“Satu gerakan lagi... dan... ugh! sudah selesai sekarang” tukas Aryo sambil mengakhiri pendinginannya.
“Bagaimana? Kamu sudah siap menghadapi kejuaraan interkontinental yang dimulai pekan depan?” tanya Aryo.
“Ya! Aku sudah menunggu kesempatan emas ini sebagai ajang untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi lagi” jawab Agi. “Kamu sendiri sudah siap, Aryo?”
“Aku sedang bersiap diri sekarang”
„Menurutmu, siapa yang harus kita waspadai dalam kompetisi itu?“
„Menurutku, Tim Top lah yang harus diwaspadai. Tim ini merupakan juara bertahan tahun lalu. Mereka sudah sangat kompak. Meski demikian mereka telah banyak kehilangan pemain-pemain andalan karena batas usia yang telah terlampaui. Walau begitu, mereka tetap saja tangguh. Mereka banyak bermain dengan umpan pendek yang dikombinasi dengan umpan panjang, ditambah dengan taktik cerdas dan kegigihan serta sikap pantang menyerah mereka“ jelas Aryo dengan mata berbinar-binar.
„Dan, siapa pemain yang paling berbahaya di antara mereka?“ tanya Agi lagi.
“Aji, pemain dengan nomor punggung tujuh itu adalah pencetak gol terbanyak pada kompetisi tahun lalu. Ia pandai dalam menempatkan diri di berbagai situasi. Ia juga lihai ketika melakukan duel di udara. Tahun ini adalah penampilannya yang terakhir untuk klubnya karena adanya batasan umur. Oleh karena itu, aku yakin ia akan tampil semaksimal mungkin untuk menghantarkan klubnya menjadi juara tahun ini. Lagi pula, kejuaraan kali ini akan lebih bergengsi karena akan disaksikan langsung oleh ketua PSSI, para wartawan olahraga, dan para pencari bakat. Pasti ia akan tampil habis-habisan” jelasnya.
“Begitu juga dengan kita!” kata Agi semangat.
“Hari sudah semakin sore. Ayo kita pulang. Kita belum shalat Ashar” kata Aryo.
“Ayo!” sahut Agi yang sama letihnya dengan Aryo, dan kemudian berjalan bersama.


Mereka berduapun mengucapkan salam perpisahan di pertigaan itu. Mereka sudah satu klub sejak kecil, mereka sudah beberapa kali menjuarai turnamen, dan tidak jarang mereka menjadi pencetak gol terbanyak. Saat ini mereka menjadi pemain utama di klubnya. Mereka selalu menjadi tumpuan klub untuk menjuarai kompetisi-kompetisi yang diikuti. Merekapun diangkat menjadi pemain kunci untuk kejuaraan interkontinental pekan depan. Walaupun begitu, tidak pernah ada sedikitpun dalam pikiran mereka rasa untuk menyombongkan diri.

Hari-hari Agi dijalani dengan berbagai latihan yang keras. Ia berusaha untuk tampil maksimal. Dengan jadwal yang padat, ia tetap tidak melalaikan tugas-tugas sekolahnya. Ia terus latihan bersama dengan Aryo agar saling mengerti dan mengenal pergerakan masing-masing.

Waktu terus berlalu, tiba saatnya untuk bertanding melawan tim yang telah lolos babak penyisihan, kecuali sang juara bertahan Top Club. Klub Young Guns juga berhasil lolos melewati babak-babak penyisihan. Agi dan Aryo mengemas gol dengan jumlah yang sama – empat gol. Kejuaraan ini dibagi dalam dua grup. Grup A berisikan juara bertahan Top Club, dan grup B berisikan Young Guns Club, Persija Junior, Blues Club, dan Fox Club.

Young Guns Club mendapat nilai maksimal pada putaran pertama dari tiga kali pertandingan dengan nilai sembilan. Selisih gol Young Guns adalah 9:1. Satu-.satunya kebobolan dialami ketika menghadapi kesebelasan Persija Junior. Mereka akan menghadapi Top Club yang juga mengantongi nilai maksimal.

Bang Gugun memberikan motivasi kepada anak didiknya yang akan menghadapi partai final tiga hari mendatang. Ia juga memberikan satu hari penuh untuk beristirahat.

“Selamat anak-anak! Permainan yang cantik! Bravo! Bravo!” puji Bang Gugun di ruang ganti pakaian atas keberhasilan mereka menembus partai final.
“Kita akan menghadapi lawan yang tangguh dan juga bisa dibilang pertandingan yang sebenarnya. Jangan terpaku dengan permainan lawan. Selalu mewaspadai lawan, dan jangan mudah terpancing emosi!” Bang Gugun memberikan wejangan dan menoleh ke Dipa, sang kapten kesebelasan kami.
„Dipa, kamu harus mewaspadai Aji, terutama ketika ia memberikan umpan-umpan lambung. Ia sangat berbahaya ketika itu“ ucap Bang Gugun memperingati Dipa.
„Kalian tidak ada latihan besok“ seketika ruangan itu terdengar sorak sorai yang riuh. „Tapi ingat, harus tetap konsentrasi!“ lanjutnya.

Pertandingan finalpun tiba. Agi sudah berkonsentrasi untuk pertandingan kali ini. Begitu ia memasuki lapangan, belum pernah ia merasakan perasaan yang sehebat ini. Ia memang sering berlatih di Stadion Senayan, namun baru kali ini ia merasakan ramai dan meriahnya sambutan penonton yang membuatnya begitu bergairah dan semangat untuk memulai pertandingan.

Pertandingan dimulai begitu wasit meniupkan peluitnya. Permainan dengan tempo tinggi dan cepat mewarnai lapangan hijau saat itu. Permainan yang keras takjarang membuat emosi kesebelasan Young Guns terpancing. Sang kapten sibuk memberi peringatan kepada anak buahnya agar tidak mudah terpancing emosi.

“Sabar! Jangan sampai terpancing emosi! Jangan sampai kalian dikeluarkan!“ teriak Dipa sesuai perintah Bang Gugun.

Kedua kesebelasan mendapat peluang emas. Aji mendapat peluang saat ia lolos dari jebakan offside dan tinggal berhadapan dengan kipper. Tetapi sayang, ia kurang bagus dalam menyelesaikan umpan sehingga tendangannya melebar. Agi juga mendapat peluang ketika ia dengan individual tekniknya berhasil melewai satu demi satu pemain lawan dan menembakkan si kulit bundar ke gawang lawan. Namun sayang, tendangannya membentur mistar gawang dan terpental keluar lapangan.

Pada menit ke-42, suatu serangan dilancarkan melalui sayap kanan yang sangat cepat, kemudian dari sayap kiri pemain tim Top melepaskan umpan tarik yang akurat. Pemain belakang Young Guns yang dikoordinir Dipa gagal menghalau umpan tersebut. Sehingga Aji menyelesaikan umpan tarik itu dengan sebuah tandukan yang indah. Babak pertama akhirnya berakhir dengan kedudukan 1-0 untuk tim Top.

Babak kedua berlangsung menarik. Tim Top yang sudah unggul terlebih dahulu bermain keras, sehingga terjadi hujan kartu kuning di lapangan itu. Pada menit ke-65, Agi yang mendapat umpan dari sayap menyusup dengan cepat dengan kemampuannya menggiring bolanya. Ia berhasil melewati beberapa pemain tim Top. Ketika sudah berada di dekat pinalti lawan, ia diganjar dengan keras dari belakang. Wasit terpaksa mengeluarkan kartu kuning yang kedua untuk orang itu, dan terpaksa mengeluarkannya dari pertandingan. Tendangan bebas diambil Agi sendiri. Ia melepaskan tendangan melengkung melewati pagar betis, dan meluncur dengan cepat menuju gawang, lalu membentur mistar gawang sebelah kiri dan memantul masuk ke gawang. Kedudukan imbang. Para pemain Young Guns menjadi semakin bersemangat dengan lahirnya gol tersebut.

Selanjutnya pertandingan lebih banyak dikuasai oleh Young Guns. Pertandingan dengan waktu 90 menit berakhir dengan kedudukan 1-1, sehingga pertandingan harus dilakukan dengan perpanjangan waktu.

Pada waktu istirahat, Agi merasakan rasa sakit yang luar biasa akibat kejadian pada menit ke-65. Ia meringis. Bang Gugun mendengar lirihan Agi.

“Kenapa kamu, Gi?” Tanya Bang Gugun.
“Biasa bang, sakit sedikit” ujarnya.
“Apakah kamu bisa melanjutkan pertandingan?“ tanyanya lagi.
“Insya Allah, Bang. Saya akan berusaha semaksimal mungkin”
“Kalau kamu sudah nggak sanggup, bilang abang ya!”
“Baik bang!”

Pertandingan dilanjutkan. Tim Young Guns langsung mengambil inisiatif untuk menyerang secara terbuka. Pada menit ke-101 Agi menggiring bola sampai pada daerah pertahanan lawan, lalu ia mengumpan bola ke sayap kiri yang dijaga oleh Aryo. Lalu Agi segera mencari posisi pada daerah pertahanan lawan. Setelah umpan lambung dari Aryo yang terukur ke daerah pinalti lawan, Agi menyelesaikannya dengan sebuah gol emas dan gol penentu kemenangan timnya. Dengan gol tersebut, Agi diarak oleh pemain Young Guns, dan dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik. Ia lalu dilirik oleh F. Rijjckaard, seorang pencari bakat dari klub Ajax di Belanda. Ia lalu memutuskan untuk bergabung dengan klub Ajax, meskipun ia harus meninggalkan semua yang dicintainya dan kenangan indahnya, demi menggapai impiannya menjadi pemain besar di masanya, walaupun harus melalui pengorbanan.

Epilog

“Selamat, Gi! Kamu bisa mewujudkan impian kamu” kata Aryo, sahabatnya, sambil menatap wajah Agi lekat-lekat. Ada seulas kenangan di sana.
“Terimakasih, Yo. Aku akan berangkat sekarang. Kamu harus berjanji untuk meraih juga impian kamu. Impian kita dulu” ujar Agi.
Agi dan Aryo larut dalam peluk dan tangis, sesaat sebelum pesawat yang ditumpangi Agi meninggalkan landasan di bandar udara Soekarno-Hatta.


Bekasi 2001
Edited by MS