Monday, June 27, 2005

Ich Schäme Mich

Folgendes Gespräch hat am Freitag 24.06.05 stattgefunden


D: Da ist die Ecke wo ich unterrichte...
A: Wem bringst du bei?
D: Den Kindern
A: Sprechen sie Arabisch?
D: Sie können Arabisch sprechen, weil ihr Vater Araber ist. Aber wir sprechen miteinander auf Deutsch
A: Wirklich? Sie können Arabisch sprechen?
D: Ja
A: Und schämst du dich nicht, dass du kein Arabisch sprechen kannst?
D: Doch... Ich schäme mich...



Wednesday, June 22, 2005

Cinta Itu Terbukti Sudah

Dan cinta sejati
Hanyalah untuk Khalik-ku
Tiada yang mampu menandingi cintaku untuk-Nya





Cinta Itu Terbukti Sudah
Oleh Mushab Syuhada


„Fathimah“ seru ibuku perlahan. Matanya berkaca-kaca. „Ibu telah membicarakan hal ini dengan Ayahmu“ lanjutnya.
Aku menoleh ke arah Ayah yang duduk di sudut ruangan itu.
„Ada apa bu?“ tanyaku
„Seorang pemuda telah melamarmu. Ia hendak memperistrikanmu“ jawabnya. Ku lihat dua tetes air mata pecah mengalir.
„Lalu mengapa ibu bersedih?” tanyaku. “Fathimah siap menikah sekarang. Dengan siapa Fathimah hendak dinikahkan bu?“ sahutku kembali.
Tangis ibuku makin meledak. Ia memelukku erat sekali seolah tak ingin membiarkan aku pergi jauh darinya. Ayahku pun datang menghampiri kami dan merangkul kami yang sedang larut dalam air mata.

***

Haritsah – Pemuda yang akan meminangku nanti. Ternyata ia adalah adik dari suaminya Mujaadillah – teman baikku yang sedang mengandung delapan bulan. Mujaadillah sangat kaget dan juga senang ketika mengetahui bahwa aku akan menikah dengan Haritsah. „Kita akan menjadi sebuah keluarga besar, ukhti!“ katanya sambil tersenyum senang.

Tapi jujur aku belum pernah bertemu ataupun melihat pemuda yang sejak kecil telah yatim piatu itu. Dari namanya aku teringat akan sahabat Nabi yang dijanjikan masuk surga firdaus – Haritsah bin Suraqah ra. Aku membayangkan kesholehannya seperti sahabat Nabi itu. Kata Mujaadillah, jika aku ingin dapat melihat wajahnya, aku harus datang ke sebuah masjid kecil yang terletak di ujung utara desa kami pada waktu antara Ashar dan Maghrib. Biasanya pada waktu itu ia sedang berada di dalam masjid sambil melantunkan ayat-ayat Allah dari mushaf kecilnya.

Sore ini, dengan ditemani Mujaadillah, kami berangkat ke masjid kecil itu. Setelah selesai shalat Ashar berjama’ah, beberapa orang pergi meninggalkan masjid. Di balik hijab masjid kami duduk, dan tiba-tiba terdengar suara merdu dari bagian masjid untuk ikhwan. Suara seseorang yang melantunkan ayat Al-Qur’an. Begitu syahdu begitu hikmat. Inilah pemuda yang akan menjadi suamiku nanti. Aku hanya mendengarkan suaranya di balik hijab sambil meresapi ayat-ayat yang dibacanya.

Ia sedang membaca surah Ad-Dukhaan dan sampai pada ayat empat puluh tiga. Seketika bulu kudukku merinding. Ayat yang sedang dibacanya adalah ayat tentang sifat-sifat neraka. Mujaadillah telah menangis terisak-isak disampingku. Air matanya menetes ke perutnya yang sudah membesar. Aku pun menangis. Menangis karena aku teringat akan dosa-dosaku namun aku tak sanggup berada di dalam neraka seperti yang digambarkan pada ayat-ayat itu. Ku dengar lantunan merdu itu berhenti. Yang ada kini hanya isak-isak kecil kami. Mungkin ia menyadari ada orang lain yang sedang mendengarkan ayat-ayat suci yang dibacanya.

***

Minggu depan hari pernikahanku. Aku bertemu Mujaadillah di rumahnya. Keadaannya memburuk. Sejak tiga hari yang lalu ia jatuh sakit. Suaminya telah membawa dia ke dokter ternama di kota. „Tidak apa-apa kok, paling hanya gejala mau melahirkan“ katanya. Aku melihat tubuhnya yang sudah sedikit mengurus. Aku berbisik kepadanya „Ayo Mujaadillah, kamu harus kuat. Kamu harus sembuh, sebentar lagi kamu akan melahirkan. Kondisi badanmu harus fit“

Ia menjawab „Sungguh aku merasa senang sekali. Senang karena aku akan segera melahirkan. Kamu tahu Fathimah, aku ingin sekali membahagiakan suamiku. Jika kamu sudah menikah nanti, kamu juga harus mengabdi kepada suamimu. Harus. Itulah ladang jihadmu, Fathimah“. Wajahnya mencerah. Ia tak sabar menyongsong kelahiran putra pertamanya.

„Dan kamu tahu Fathimah, aku juga senang karena aku melihat sahabatku akan menggenapkan dien-nya. Insya Allah aku akan sembuh dan datang ke walimah nikahmu“ lanjutnya.

Aku menangis haru. Cahaya kedua bola mata Mujaadillah mengatakan kalau ia yakin akan sembuh. „Aku tunggu kamu di walimah nikahku. Cepat sembuh yah ukhti“ bisikku di telinganya yang ditutupi jilbab hijau kesukaannya. Cahaya matahari sore merambas masuk kedalam ruangan ini, memantul sedikit di atas wajah pucat Mujaadillah dengan seulas senyumnya yang khas.

***

Tiga hari lagi aku akan melaksanakan walimah nikah. Sampai sekarang aku belum pernah bertatap muka langsung dengan Haritsah. Aku sudah melihat fotonya yang diberikan oleh ayahku, namun tidak begitu jelas.

„Ini foto ketika Haritsah lulus dari sekolahnya anakku“
„Yang mana Haritsah, ayah? Ada sekitar empat puluh wajah di foto ini“
„Itu, yang berada di pojok kanan, yang sebagian wajahnya tertutup oleh kepala temannya“
Walau tidak terlalu jelas, namun ia tetap terlihat tampan. Aku berulang-ulang memanjatkan syukur kepada Allah atas jodoh yang kelak akan diberikan kepadaku.

„Ibu, bagaimana dengan masjid yang akan digunakan untuk ijab qabulku?“ tanyaku pada ibu.
„Itu semua sudah diurus oleh ayahmu. Kamu tahu masjid kecil di utara desa kita? Di situ kelak akan diberlangsungkan acara ijab-qabul“ jawab ibuku. Masya Allah, masjid kecil itu, masjid tempat Haritsah menghabiskan waktu Asharnya dengan bertilawah.
„Ibu, perasaanku sekarang sedang bercampur baur menjadi satu“
„Tenang anakku. Itu biasa bagi seorang gadis yang akan melangsungkan sebuah pernikahan. Waktu dulu ibu juga seperti kamu“

Tak lama Aisyah – salah satu temanku datang kepadaku.
„Fathimah, ada kabar yang kurang enak untuk kamu ketahui“ sahut Aisyah dengan nafas yang tersengal-sengal di hadapanku. Ia menatapku dan orang tuaku cemas.
„Ada apakah Aisyah? Ada musibahkah?“ tanyaku penuh rasa waswas. Ibu dan ayah juga terlihat cemas melihat kedatangan Aisyah yang secara tiba-tiba dengan disertai kabar yang katanya kurang enak.
“Mujaadillah akan segera melahirkan” jawabnya.
Seperti ada hembusan angin yang membuatku membuang nafas lega. “lho, bukankah itu berita bagus, Aisyah?”
Aisyah pun melanjutkan, “Namun dokter baru saja memberitahukan, kalau Mujadillah menderita tekanan darah rendah yang hebat. Kondisinya semakin lama semakin melemah, sementara ia harus segera melahirkan”
Buliran air mata tak terasa sudah berjalan di atas pipiku. Segera aku dan Aisyah pamit kepada ibu dan ayah untuk menemui Mujaadillah di rumah sakit di kota. Selama perjalanan kami ke kota, aku selalu memikirkan keadaan Mujaadillah sambil tak henti-hentinya berdoa kepada Allah untuk kesembuhan dan kekuatan Mujaadillah.

“Kamu tahu Fathimah, aku ingin sekali membahagiakan suamiku. Jika kamu sudah menikah nanti, kamu juga harus mengabdi kepada suamimu. Harus. Itulah ladang jihadmu, Fathimah“.
Seketika kalimat-kalimat yang pernah dilontarkan Mujaadillah berbunyi lagi di telingaku. Air mataku semakin tak dapat kutahan dan kubiarkan menderas. Aisyah memelukku mencoba menyabarkan aku dan tak henti-hentinya menyuruhku untuk menyerahkan semuanya kepada Allah.

***

Sesampainya di rumah sakit langkah-langkah kaki kami segera menuju ke ruangan persalinan tempat Mujaadillah kemungkinan berada. Terdengar suara isak tangis bayi di malam itu. Isak tangis seorang bayi yang baru saja dilahirkan. Seorang perawat terlihat sedang menggendong bayi mungil yang tangisannya memecahkan kesunyian di koridor tunggu rumah sakit itu. Seorang pria berdiri di sebelah perawat itu, dengan wajah yang tertutup bayangan lampu gantung dari atap koridor.

Pria itu adalah suaminya Mujaadillah. Mujaadillah telah melahirkan!

“Ya Mustafa apakah bayi mungil ini anakmu?” tanyaku dengan suara parau dan wajah yang basah oleh air mata. Mustafa – suami Mujaadillah menoleh kearah kami yang menanti jawaban darinya.
“Ya, dia anakku dan Mujaadillah. Alhamdulillah dia terlahir sehat dan sempurna” jawabnya.
“Alhamdulillah... lalu bagaimana kabar Mujaadillah, ya Mustafa?” lanjut pertanyaanku lagi. Jantungku memberikan degupan yang luar biasa atas harapan terhadap keadaan Mujaadillah – sahabatku.
“Kondisinya sangat lemah ketika melahirkan” jawabnya. Raut wajahnya segera berubah. “Mujaadillah telah menjemput syahidnya”
“Innalillahi wa inna illahi rooji’uun...” sahut kami sebelum larut pada tangisan karena kepergiannya. Mujaadillah telah pergi. Pergi dengan membawa bukti cintanya. Cinta kepada Rabb-nya serta cinta kepada suaminya.

Mustafa lalu memberikan aku secarik kertas yang ditulis oleh Mujaadillah sesaat sebelum ia dibawa ke ruangan persalinan. “Aku tidak tahu apa isinya. Mujaadillah mengamanahkanku surat ini untukmu. Bacalah” sahutnya.

“Fathimah, sahabatku yang kusayangi. Sungguh, jika aku menjemput syahidku pada persalinan ini, maafkan aku karena tidak dapat mendampingimu pada hari bahagiamu. Menikahlah Fathimah. Doaku bersamamu. – Mujaadillah”.

Wangi surga merembas di koridor tunggu rumah sakit pada malam kepergian Mujaadillah.

***

Suasana duka menyelimuti keluargaku dan juga keluarga Haritsah di dua hari menjelang pernikahanku. Setelah Mujaadillah dikebumikan, kami harus kembali mempersiapkan acara ijab qabul dan walimah nikahku yang kami adakan sesederhana mungkin. Keluarga Haritsah sibuk memilih mas kawin apa yang akan diberikan kepadaku.

Hari itu hari Ahad. Matahari bersinar dengan cerahnya. Keluarga kami telah sampai sejak dua jam yang lalu di masjid kecil tempat ijab qabul akan diucapkan. Hari ini – jika Allah menghendaki – aku akan menggenapkan dien-ku.

Terdengar kembali bunyi letusan dari arah kota setelah hampir dua minggu tidak terdengar letusan. Seorang tamu yang datang mengatakan bahwa tentara Zionis Israel berusaha kembali merebut jalur Gaza dan menguasai kota itu – kota Jerusalem beserta Al-Quds.





Hari pernikahanku diwarnai dengan letusan senjata-senjata sang Zionis.

Dua jam kami menunggu. Keluarga Haritsah pun sudah sampai di tempat. Beberapa tamu telah hadir. Namun kami belum melihat keberadaan Haritsah di masjid itu. Kami menginginkan pelaksanaan ijab qabul yang sesingkat mungkin mengingat keadaan yang tidak lagi memungkinkan.

„Sebelum kami pergi, Haritsah minta izin ke rumah temannya yang tidak dapat hadir ke acara ini untuk meminta doa restu pernikahannya“ sahut Mustafa yang hari itu bertindak sebagai wali Haritsah menggantikan ayahnya yang telah meninggal.
„Baik, kita tunggu saja kedatangannya dengan sabar“ sahut ayahku.
Perasaanku bergejolak kembali. Persis seperti ketika aku berangkat ke kota untuk menemui Mujaadillah yang akan bersalin. „Ya Allah... saya serahkan semuanya kepada-Mu“ gumamku dalam hati.

Seorang pemuda berbaju gamis terlihat datang ke masjid ini. „Assalamu’alaikum saudara-saudaraku, saya datang ke sini membawakan kabar dari kota. Tentara Zionis berusaha merebut kembali Al-Quds pagi tadi. Panggilan jihad telah berkumandang ke seluruh pelosok Palestina. Tadi saya bertemu dengan Haritsah, ia hendak memenuhi panggilan itu. Saya pun juga akan ingin memenuhi panggilan itu. Namun ia berkata pada saya, bahwa ia akan melangsungkan pernikahannya di hari ini dan di sini. Oleh karena itu ia meminta saya untuk datang ke sini serta mengabarkan bahwa Haritsah menangguhkan pernikahannya karena ia ingin berjihad di kota“

Semua yang hadir di sini diam tak bergeming.

„Ibu, ayah, kita tunda saja pernikahanku. Ada yang lebih penting dari pada pernikahanku“ sahutku ke orangtuaku.

***

Jerusalem di siang hari itu mengantarkan Haritsah sebagai syuhada yang kelak akan menghuni surga Firdaus. Aku jadi teringat sebuah kisah di jaman Rasulullah SAW dulu. Ada seorang pemuda yang bernama Abdullah bin Sulaim hendak menikah dengan puteri dari Abdurrahman bin Auf. Namun sebelum ia melangsungkan pernikahan, ada panggilan jihad yang segera ia turuti. Ia pun syahid di panggilan jihad itu, tanpa sempat menikah dengan puteri dari Abdurrahman bin Auf. Masya Allah, mirip sekali kisah itu dengan aku dan Haritsah kini. Ya Allah, tempatkanlah Haritsah di sisi-Mu. Ia telah membuktikan cintanya kepada-Mu. Ya Allah, sungguh cinta sejati hanyalah untukMu. Tidak ada lagi yang patut dicinta melebihi cinta kepadaMu. Niat Haritsah untuk menikahiku pun karena cintanya ia kepadaMu. Ya Allah, matikanlah juga aku dalam keadaan syahid suatu saat nanti, seperti Kau syahidkan Mujaadillah dan Haritsah. Ingin sekali aku bertemu dengan Mujaadillah dan Haritsah di bawah naungan surgaMu.

Sebulir airmataku jatuh lagi.

***

Epilog:
Pemakaman Haritsah. Ratusan orang hadir dalam upacara pemakaman, teriakan Allahu Akbar menggema di langit Palestina pagi itu. Aku teringat dengan bait nasyid kesukaanku: Khaibar khaibar ya Yahud! Jaizu Muhammad Saufaya’ud!


Berlin, 21 Juni 2005
Pukul 21:06, sesaat sebelum pergi shalat maghrib
Mushab Syuhada

Monday, June 20, 2005

Poems Dialogue




Sent:
Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan
Adalah pelaksanaan kata-kata
by: DHLH

Replied:
Matahari atas nama sadar
Melihat ke bumi yang menyisakan rasa maaf
Patutkah bumi menyendiri lagi
(bumi dan matahari) "Aku tetap di Indonesia"

Sent:
Bumi berotasi...
Dan matahari bebas menentukan langkahnya
Semoga bumi tidak menghalangi perjalanan matahari
Sehingga menjadi lebih terang

Replied:
Bumi tidak akan pernah menghalangi matahari
Kecuali jika Allah mengizinkan
Jangan pernah berkata
Bahwa matahari...
Dapat terang dengan sendirinya

Jakarta 2003

Sunday, June 19, 2005

E-Mail Di Tiga Hari FSP

Berikut gue kirimkan e-mail2 gue dalam tiga hari pelaksanaan FSP

E-Mail pertama:
Laporan langsung dari Berlin seusai penyelenggaraan FSP hari pertama: DEUTSCH

Gue sudah sampai di Studkol jam setengah delapan pagi, gara-gara kemaren gue mimpi gue kesiangan di hari FSP. Sampai di sana langsung nitip Handy ke Frau Schröder dan minjem kamus DUDEN (untung bukan WAHRIG).

Tanggapan Sultan
IYA::::ITU GUE: SULTAN---

Kan gue minjem kamus di Bibliothek!!--
Dengan muka PD, gue mengambil sebuah kamus merah, yang di dalam hati gue, gue yakini sebagai kamus DUDEN..( waaahh senangnya, kamusnya lengkap!!, ibaratnya " semua ada di sini!!!"--

Begitu di depan RUANG K1, ( ruang ujian), ketemu sama si dimas, dan gue menyapa dengan

" Mas, kamusnya sama"

" iya, sama"

" Tan, loh kok kamus lo di isolatip, tuh bacaannya apa?"

Pas gue liat, TERNYATA!!!!---WAHRIG!!!!!!

" Tidakkkkkk"""_---

tapi nasi sudah jadi bubur, yaaaa udah pasrah.---

Tapi gue saranin deh, buat yang mau ujian Deutsch!!
JANGAN PAKE KAMUS WAHRIG"!!,
Kayaknya, nggak lengkap!!!




Duden Wörterbuch



Wahrig Wörterbuch


Udah Sinnlos kalau hari gini masih belajar atau baca text. Kata gue pas ngeliat temen gue masih baca-baca text: "Haree genneee masih baca text!"

Pintu K1 pun dibuka, guru-guru masuk dengan muka berseri. Kami pun juga masuk dengan muka berseri. Tahap pertama yang kita lakukan di ruangan ujian adalah mencari tempat duduk. Gue pikir - karena nama gue ABDIRAMA dan nomor absen satu SE-STUDKOL - gue bakalan duduk di depan. Ternyata tidak, gue duduk tepat di tengah-tengah. Bahkan tepat di sebelah kiri, kanan dan depan gue orang Indonesia, cuma di belakang gue doang orang Prancis.

Seseorang kebagian tempat duduk paling depan. Nggak tahu kenapa. Dicurigai sebagai mafia kali yah...

Tanggapan Sultan
Gue juga bingung kok gue sih?????, kan nama gue berinisial "S"---
Gue udah ngebayangin, kalo gue bakalan dapet tempat di tengah, setidak2nya rada2 belakang!!--eh begitu Ekspedisi tempat duduk!!--
Tiba2, SAUDARA2---
Gue dapett tempat palling depan, bener2 paling depan---
nggak hanya itu aja!!!--
DI barisan yang paling depan, gue hanya duduk seorang diri..
jadi disamping kiri gue udah nggak ada meja, dan di samping kanan gue tembok..
Depan gue, guru2 yang ngawas....

Begitu waktu ujian abis, PAsti kertas gue yang di"rampas" duluan,
Sementara, di belakang2, ( pas gue perhatiin), masih sempet nulis beberapa paragraf---hiks..hiks..


Setelah itu HV oleh Herr Reese. Awalnya sih bisa mengikuti dengan baik, tapi pas ditengah2 gue mulai berfantasi... pikiran melayang ke awan... tiba-tiba aja gue tersentak dengan kata "arme Länder" padahal text itu tentang "Penggunaan DDT".

Segera gue mencari benang merah antara arme Länder dan Einsatz des DDT...

Setelah itu, pembacaan text kedua oleh Fr. Börsting. Awalnya dengan semangat 45, gue menyalin semua kata yang diucapkan oleh Fr. Börsting... tapi tiba2, ditengah2 jadi blank lagi... adowhh...

Intinya, HV tadi gue banyak quatschen deh... Oh ya, masa coklat gue diminta sama temen gue... jadi gue hanya makan setengah batang coklat selama ujian... hiks...

Textproduktion kita kali ini tentang Tsunami. Kembali Indonesia berkibar-kibar di Studkol... Tema yang diangkat: Bagaimana menurut pendapat Anda tentang para turis yang datang ke tempat2 Tsunami pasca bencana alam Tsunami? kita harus jelasin plus dan negativnya...

Hmmm... satu hari sebelum FSP, gue nyari di Google text yang kemungkinan bakal keluar di FSP... dan ketemu, walau cuma sebagian sih... tapi nggak apa2... menolong lah dikit...

Sampai pada berita selanjutnya di hari Rabu


E-Mail Kedua:
Tidak ada yang spesial sih di hari ini...

Hari ini kami mengerjakan Mathematik... dalam waktu tiga setengah jam harus mengerjakan tiga soal.. Tiga puluh menit pertama gue gunakan untuk membaca soal dan menelaah peluang-peluang indah...

Berikutnya mengerjakan soal VEKTORRECHNUNG selama lima puluh lima menit... dilanjutkan dengan REIHEN UND FOLGE selama satu jam sepuluh menit... dan ditutup oleh KURVENDISKUSSION selama sisa waktu yang ada...

Pada soal Kurvendiskussion, dua soal terakhir nggak gue jawab, karena waktunya nggak cukup... hikss..hikss... Pada soal Kurvendiskussion juga gue ngarang (quatschen) membuat zweite Ableitung (turunan kedua dari fungsi yang ditanya)... gue buat hitungan gue sedemikian rupa supaya hasil akhirnya sama seperti hitungan yang ada di soal... soalnya males banget mesti nurunin fungsi yang panjang kayak gitu... mudah2an pengoreksinya nggak nyadar kalo gue melakukan manipulasi... amiin...

Doain yah!!

Hari Jumat besok adalah penentuan... FISIKA... aduhhh... takuutt.... oh ya, Jumat besok bakalan ada Streik BVG lagi lho!! jadi harus bangun pagi dan jalan kaki ke studkoll

Bis Freitag!


E-Mail Ketiga:
Assalamu'alaikum!!

Akhirnya, tibalah gue pada hari terakhir FSP!! Ini adalah benar-benar HARI... Hari yang gue takutkan dan hari yang gue tunggu-tunggu... Takut, karena hari ini ujian Fisika... Ditunggu-tunggu karena hari ini adalah hari terakhir ber-Studienkolleg... (Insya Allah kalau nggak dapet Mündlich...)

Fisikanya.... SUSAH... hikss... hikss... gue ngerjain soal tentang Kinetik dengan dua cara... dan gue menyesal, karena gue terlalu banyak membuang waktu di soal itu... Setelah itu soal Kinematik yang biasanya lebih mudah dari soal yang lain.. tapi--- Justru pada tahun ini soal Kinematik paling susah... harus muter-muter dulu deh... dan menuntut intelegensi serta daya khayal tinggi...

Soal ketiga yang gue kerjakan adalah Statik... Na ja... keine Ahnung... angkanya nggak bulet... acak2an deh... teing... Abis itu ngerjain Elektrotechnik... karena gue dari kelas Mekanik, maka gue nggak terlalu gut vorbereitet dengan Elektrotechnik... dan ternyata benar dua soal Elektro bahkan nggak gue baca sama sekali... Gue langsung ngerjain soal Kondensator dan itupun gue mengarang bebas... Bebas lepas... Gunakan kemampuan mengarang pada detik-detik terakhir Studienkolleg...

Tapi beneran deh, kali ini Fisikanya susah bangett... Lisha Xu, seorang berkebangsaan China, yang selalu pede dengan jawabannya dan selalu berkata "bei mir sind alle Aufgabe immer leicht" kali ini berkata "sehr schlecht.. Ich muss in die mündliche Prüfung kommen..."... Tidak hanya itu, semua orang pasca Fisika yang gue temui juga bermuka lecek... Tidak ada jawaban yang sama satu sama lain... masing-masing memiliki angka yang berbeda...

Tapi all the way... all is over--- insya Allah... saatnya berkelumit lagi dengan kehidupan di Universitas... Btw, Terimakasih banyak atas segala doa yang telah ditujukan ke kami yang telah ber-FSP... insya Allah mendapat balasan oleh Allah SWT...

Jadi kayak Hima deh sekarang -- H2C -- Harap-harap cemas (untuk Hima: kali ini bukan H2C karena takut nggak kebagian makanan lho)

Wassalamu'alaikum

-- wir sind fertig Junge!! jetzt geht's richtig los!! mein Leben wird heute angefangen!! gak usah lagi nge-tek tempat di perpus dan menghabiskan waktu sepanjang hari di perpus

Kinderspiel! Sehr Leicht!

Dulu waktu gue masih SMA, gue dikelilingi oleh orang-orang dengan otak yang menakjubkan. Gue ambil contoh salah seorang sahabat gue N. Dia ini anak yang berprestasi di sekolah. Nilai-nilainya ketika ulangan selalu menakjubkan. Tapi dia tidak pernah bilang kalau soal ulangan yang dia kerjakan itu mudah. Padahal dia mengerjakan ulangan itu dengan sangat lancar dan percaya diri. Berikut hasil pembicaraan gue dengan sahabat gue ini:


Gue: hei N, gimana tadi ulangan Fisikanya?
N: aduh susah banget! Gue nggak bisa ngerjain
Gue: beneran nih?
N: iya beneran! Tadi gue udah kayak lomba mengarang bebas. Paling nilai gue dibawah lima


Seminggu kemudian ulangan Fisika itu dibagikan. Dan ternyata nilainya N pada ulangan itu adalah delapan!

Kasus yang sama namun berbeda versi dengan teman gue Y sekitar sepuluh menit menjelang ulangan harian Biologi:


Gue: Y, gue belum belajar nih!! (yang ini gue jujur lho)
Y : sama gue juga. Buku belum gue sentuh sama sekali dari tadi malam


Tapi ternyata nilai Y ini jauh lebih tinggi dari gue.

Rata-rata pelajar Indonesia selalu berkata seperti itu setelah mengerjakan ujian. Mereka bilang kalau mereka baru saja mengerjakan ujian dengan tidak sukses dan langsung memberikan pesimistische Vorhersagen. Gue ngerti sih kenapa kebanyakan pelajar Indonesia seperti itu, karena hal itu merupakan bagian dari sopan santun

Hah sopan santun?

Iya, coba bayangkan kalau kalian sedang mendengar percakapan dua orang pelajar Indonesia seperti ini:


X: bagaimana Y, sukses SPMB-nya tadi?
Y: oh! tentu saja! Itu mah gampang !


Kalau gue pribadi sih nggak bakalan ngomong kayak gitu setelah mengerjakan ujian. Kenapa? pertama karena takut kualat. Gimana jadinya kalau kita sudah bilang di khalayak ramai bahwa kita telah sukses mengerjakan sebuah ujian namun ternyata nilai ujian kita jelek (karena satu dan lain hal yang tidak diduga-duga). Kedua, hal itu menunjukkan rasa sombong. Pasti terbesit pada pikiran sang pendengar, kalau kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh ‘si percaya diri’ ini mengadung nilai rasa sombong yang sangat tinggi.




Suasana para pelajar sedang ujian



Jadi intinya kalau di Indonesia jangan bertanya pertanyaan seperti itu pada teman kita sesudah ujian, karena kita tidak akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya (kecuali kalau kita bisa membaca raut wajah teman kita itu)

Hal yang demikian tidak berlaku setelah gue bersekolah di Jerman. Di sekolah gue terdapat berbagai macam suku bangsa, negara, ras, bahasa, budaya dan latar belakang yang berbeda. Semua jadi satu di sini. Bentuk sopan santun yang gue bicarakan di atas tadi sangat tidak berlaku di sini. Ikuti beberapa cuplikan percakapan gue berikut ini:


Gue dengan Lim orang Korea
Gue: guten Morgen Lim! Hast du dich gestern für die Prüfung schon gut vorbereitet? (Selamat pagi Lim, apakah kemaren lo udah mempersiapkan ujian dengan baik?)
Lim: ja! Ich habe alles geschafft. Und wie bei dir? (iya, gue udah belajar semuanya, lo sendiri gimana?)
Gue: na ja, nicht so..( gimana yah... nggak terlalu sih... *padahal gue juga udah belajar tapi karena takut kualat jadi gue bilang bahwa gue belum belajar aja*)



Gue dengan Lisha orang China
Lisha: wie war die Prüfung, Dimas? Leicht oder? (gimana ujiannya Dimas? Gampang bukan?)
Gue: nein, es war sehr schwear (nggak, ujian tadi susah banget *gue ngebohong padahal sih gue bisa ngerjain juga*)
Lisha: bist du dumm oder was? Bei mir war sie verdammt leicht! (lo bego kali yah? Bagi gue ujian tadi bener-bener gampang!)


-- gue dibilang bego!! --


Gue dengan Wa’el orang Marokko
Gue: Wa’el, ich habe Angst, dass ich nicht bestehe!. Das war katastrophal! Wie war bei dir? (Wa’el, gue takut nggak lulus di ujian tadi nih! Susah banget! Lo gimana? *kali ini gue serius nggak bisa ngerjain ujiannya*)
Wa’el: wirklich? Solche Aufgabe konntest du nicht? Das ist doch wie ein Kinderspiel (beneran? Soal kayak gitu lo nggak bisa? Itu kan kayak mainan anak-anak)


Ya ampun... kayak mainan anak-anak katanya... jelas gue drop banget dong, udah nggak bisa ngerjain soal eh dibilang soal itu kayak mainan anak-anak lagi. Seolah-olah gue adalah orang paling bego se-dunia.

Akhirnya, demi menjaga harga diri dan nggak mau diinjak-injak lagi, sekarang gue selalu menjawab seperti ini:


Gue dengan Abhisek orang India
Gue: hast du gut geschrieben? (sukses ujiannya tadi?)
Abhisek: ja, mindestens 12 Notenpunkte kriege ich. Und du? (iya, minimal gue dapet nilai 12. kalo lo gimana ?)
Gue: ich auch! Mindestens sogar 13! (gue juga! Bahkan buat gue minimal 13! *nggak mau kalah*)



Gue dengan Asaad orang Yaman (muslim)
Asaad: wie war? (gimana tadi?)
Gue: insya Allah. Und du? (Insya Allah. Kalo lo?)
Asaad: insya Allah


Kan lebih enak tuh.

Sekarang gue coba paparkan dari segi si pe-nanya. Tahukah kalian mengapa ada saja orang yang sering bertanya kepada temannya sesudah ujian? Ada dua kemungkinan. Pertama, orang itu benar-benar peduli dengan keadaan orang lain serta sebagai basa-basi untuk pergaulan. Kedua, orang itu sedang mencari teman, ada nggak yang nasibnya sama kayak dia atau bahkan lebih buruk dari dia. Kalau ada maka dia akan senang atau setidaknya lega.

Saturday, June 18, 2005

Getaran Rasa Fajar





Kelabu
Langit pagi itu
Belum kuat surya
Untuk menghadirkan seluruh sinarnya

...syahdunya...

Kabut merayap dari balik gunung
Dinginnya menusuk sang rusuk
Pepohonan tak bergeming... senyap... menunduk...
Sebuah surau mengumandangkan sayup-sayup suara orang bertilawah
Ah...
Seperti hati terbasuh deras air terjun
Damai terasa... begitu bening
Saatnya mendekatkan hati
Saatnya mengadu
Menangis sejadi-jadinya
Bersimpuh kepada tempat bersimpuh

Berlin 2005

Friday, June 17, 2005

Apaan Tuh Studienkolleg?

Prologue: Assalamu’alaikum, selamat datang di Blog Dimas Abdirama, tempat yang tepat jika kalian ingin mengetahui lebih jauh tentang Dimas Abdirama. Hehehehe... Ini adalah tulisan pertama gue di Blog. Sebenarnya dulu gue pernah buat Blog, tapi gue hapus. Dan sekarang gue berniat membuat Blog lagi dengan syarat harus pada saat yang tepat. Inilah saat yang tepat itu. Kenapa tepat? Baca di akhir postingan ini...

Viel Spaß!

Most recently question yang dilontarkan ke gue pada satu tahun terakhir ini adalah: "Kuliah apa sekarang?". Saking banyaknya yang bertanya sampai capek menjawabnya hehehehe. Pengen deh gue merekam jawaban gue dalam kaset dan tinggal pencet play kalau ada yang bertanya lagi. So, sekarang gue jelasin deh lagi kuliah apa gue sekarang. Simak baik-baik.

Satu tahun terakhir ini gue menjalankan program Studienkolleg. Apa itu Studienkolleg? Studienkolleg adalah program yang ditawarkan pada beberapa Universität (Universitas, untuk selanjutnya disingkat Uni) atau Fachhochschule (Sekolah tinggi kejuruan, untuk seterusnya disingkat FH) untuk para mahasiswa asing non EU yang ingin melanjutkan pendidikan S1-nya di Jerman.

Mengapa harus melalui tahap Studienkolleg?

Karena Jerman menuntut persamaan. Para calon mahasiswa asing pastinya datang dari negara yang berbeda dan dengan sistem pendidikan di sekolah yang juga berbeda bukan? Mungkin ada yang sistem pendidikan sekolahnya di atas sistem pendidikan sekolah di Jerman, ada juga yang di bawah. Oleh karena itu harus disamakan. Nanti di Uni, para mahasiswa asing akan bercampur baur dengan mahasiswa Jerman.

Selain itu, program S1 di Jerman memakai bahasa Jerman. Bisa bahasa Jerman untuk pergaulan saja belum cukup. Para mahasiswa asing juga harus tahu kata-kata ilmiah dalam bahasa Jerman (Fachsprache) dan juga harus terbiasa dengan metode-metode Jerman, pola pikir Jerman, bentuk ujian di Jerman dan tentang Jerman lainnya. Para mahasiswa asing di Studienkolleg diperlakukan sama seperti murid-murid SMA Jerman tingkat akhir yang bakalan menghadapi Abitur (Ujian Akhir SMA di Jerman, kayak UAS gitu deh). Bedanya, di akhir Studienkolleg mereka menghadapi Feststellungsprüfung (untuk selanjutnya disingkat FSP) yang tingkatannya sama seperti Abitur ini. Dengan FSP mereka dapat berkuliah di Uni atau FH di Jerman.

Tapi bukan berarti Studienkolleg itu bukan bagian dari dunia perkuliahan atau perkampusan lho. Studienkolleg gue adalah Studienkolleg der Technischen Universität Berlin (Studienkolleg dari Universitas Teknik Berlin). Kami mendapatkan fasilitas layaknya mahasiswa (dapat kartu mahasiswa, tiket angkutan umum / semesterticket, dsb) Cuma bedanya kami kayak anak sekolahan aja. Mata pelajarannya, bahan pelajarannya, sampe guru-gurunya sekolahan bangett!! Jadi gue di SMA bukan tiga tahun melainkan empat tahun.

Untuk mendapat tempat di Studienkolleg pun nggak gampang. Para calon mahasiswa asing harus mengirimkan lamaran ke Uni atau FH yang memiliki Studienkolleg, dan ikut ujian masuk yang bernama Aufnahmeprügung. Yang ikut ujian masuknya biasanya sampai 500-an orang, tapi Cuma 30-100 orang yang diterima Studienkolleg. Bahan pelajarannya pun juga nggak gampang karena semua serba baru. Semua harus dengan metode Jerman. Jadi yah susah!. FSP nya pun susah.




Studienkolleg der TU Berlin





Di Studienkolleg, para mahasiswa asing harus belajar selama dua semester yang mencakup pelajaran Deutsch I, Deutsch II, Mathematik Analysis, Mathematik Vektor, Physik Mechanik, Physik Elecktrotechnik, Chemie, Informatik dan Englisch. Kalau untuk program W (ilmu sosial – seperti IPS) ada pelajaran BWL, VWL, Wirtschaftmathematik. Dan untuk program M (ilmu biologi dan kedokteran) ada pelajaran Biologie, Program G dan S (ilmu jiwa... bukan... apa yah... gue nggak bisa menemukan terjemahan yang pas... pokoknya Geistwissenschaft deh) ada pelajaran Geschichte, Musik, dsb.

Cerita gue:
Demi mendapatkan studienkolleg, gue melamar ke kurang lebih enam belas Uni dan FH, dan mendapat panggilan test sebanyak empat belas panggilan. (btw, nggak semua lamaran dapat panggilan, tergantung dari NEM kita di SMA juga, kalau rata2nya kurang dari enam biasanya susah dapat panggilan). Ujian pertama gue adalah Studienkolleg Uni Hannover waktu masih di Indonesia dulu. Kita ujian di Goethe Institut Jakarta. Hasilnya, gue nggak lulus.

Pas sudah sampai di Jerman, gue ikut ujian di Uni Hamburg, hasilnya nggak lulus. Pantang menyerah, ikut ujian lagi di TU Darmstadt, alhamdulillah lulus. Selanjutnya ujian di TU Berlin, lulus, dan ujian lagi di FH Konstanz, juga lulus. Pada akhirnya gue memilih Berlin sebagai tempat Studienkolleg gue.

Kenapa Berlin?




Berlin: meine zweite Stadt





Banyak alasan. Bakal gue jabarkan pada postingan gue selanjutnya. Intinya sih, karena gue lahir dan besar di Jakarta, yang merupakan kota besar, gue agak kurang nyaman tinggal di kota yang tidak ‘ramai’. Maka gue pilih Berlin – sebagai ibukota Jerman. Tapi, gue akhirnya tahu kalau justru Studienkolleg Berlin adalah salah satu dari Studienkolleg tersusah di Jerman (jadi agak nyesel sih... hehehe)

Ya segitu dulu mungkin penjelasan dari gue tentang Studienkolleg. Sudahkah pertanyaan kalian terjawab?

Oh ya, jawaban dari “kenapa saat ini merupakan saat yang tepat?” adalah karena pada hari ini gue baru saja menyelesaikan FSP, jadi sekarang bebas dan lepas!