Sunday, November 16, 2008

Tips Menjaga Pameran

Kategori: Artikel

Mungkin kalian sudah pernah berkunjung ke sebuah Messe (pameran)? Entah itu pameran pariwisata, budaya, perdagangan, pendidikan, bahkan sampai pameran barang. Di sana kalian akan bertemu dengan seorang penjaga pameran yang siap memberikan kalian informasi-informasi dari barang atau jasa yang dipamerkan.

Sebuah instansi atau badan biasanya akan menginvestasikan dana yang cukup besar untuk ikut serta dalam sebuah kegiatan pameran. Tentunya dengan harapan bahwa mereka akan mendapat banyak peminat atau pelanggan untuk produk mereka, atau paling tidak produk mereka sudah dikenal di khalayak umum. Di sebuah pameran, biasanya produk-produk tersebut dipresentasikan sebaik mungkin. Di sinilah pentingnya peran seorang penjaga pameran.

Saya beberapa kali sempat menjadi penjaga pameran dan menjadi pengunjung pameran. Setelah mengamati, sampailah saya pada tulisan ini, sebagai tips untuk kalian yang berminat mendapatkan pengalaman bekerja di sebuah pameran.

Sunday, October 19, 2008

Mengajar Bahasa Indonesia

Kategori: My Side

Mulai minggu ini saya punya aktivitas baru, yaitu mengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing di KBRI Berlin. Terus terang saya sangat tertarik serta antusias untuk pekerjaan ini, karena ini merupakan pengalaman pertama saya mengajar bahasa secara formal, terlebih di sini saya dituntut menggunakan dua bahasa, yaitu Jerman dan Indonesia. Kadang-kadang keluar juga Bahasa Inggris kalau ada beberapa kosa kata yang tidak saya pahami di Bahasa Jerman.

Sebelumnya saya berpikir, kok saya jadi sering berkecimpung di dunia bahasa ya? Padahal latar belakang saya kan semestinya insinyur di bidang bioteknologi? Dua tahun saya menjalani pekerjaan di TU Berlin yang setiap hariya sprechen Deutsch, sekarang ditambah mengajar bahasa lagi di KBRI, jadi kapan saya bekerja sesuai dengan bidang saya? Ya, nggak apa-apa, alhamdulillah bisa terhitung sebagai pengalaman. Mudah-mudahan manfaat. Yang penting kita senang dengan pekerjaan itu, karena kalau kita senang, maka kita akan mengerjakannya dengan sepenuh hati dan profesional serta memberikan yang terbaik yang mampu kita beri.

Monday, September 22, 2008

Dimas, Allah Sayang Sama Kamu

Kategori: My Side

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Yaa Allah, yaa Rahmaan, yaa Rahiim.

Cerita ini dimulai dari satu semester yang lalu. Saya mengalami beberapa musibah dengan gagalnya saya di beberapa ujian. Saya menata hati, menata rencana, menata pola belajar. Seiring berjalannya waktu, saya terbuai dengan beberapa kesibukan yang datang silih berganti. Sedari dulu saya tidak suka menyalahkan kesibukan dengan prestasi kuliah, karena nyatanya banyak orang yang sibuk, tapi mereka tetap bisa sukses di kampus, padahal kita sama-sama mempunyai 24 jam satu hari satu malam. Saya berpikir, ini kesalahan klasik, kesalahan saya mengatur waktu dan membuat skala prioritas.

Awal tahun ini, saya sempat jatuh menerima keadaan bahwa saya harus mengikuti dua buah ujian penentuan. Ya, penentuan eksistensi saya di Jerman ini, karena jika saya gagal lagi, maka saya harus merubah total rencana hidup saya ke depan: saya harus angkat kaki dari negeri yang indah ini. Sejak itu, saya berazzam, bahwa keberhasilan adalah sebuah resultan dari usaha yang sungguh-sungguh sampai batas klimaks, dan doa serta kedekatan dengan Allah yang tak boleh terhalangi dengan kelalaian dan kemaksiatan. Mulailah pola hidup saya yang baru, pola hidup mahasiswa yang haus akan ilmu, yang sadar bahwa kesuksesan bukanlah berbentuk hadiah yang jatuh dari langit.

Tuesday, July 29, 2008

Cinta di Taman Surga

Kategori: Puisi

Percaya atau tidak, aku sudah mengenalmu lebih dulu sebelum kamu mengenalku
Aku sudah tahu siapa kamu sebelum kamu tahu siapa aku
Jauh sebelum kita bertatap temu
Lalu aku berharap, semoga Allah menakdirkan kita bersama dalam perjuangan menegakkan kalimat-Nya
Bersama dalam tugas menyeru yang dititahkan kepada hamba-hamba yang dipilih-Nya
Dan Allah mengabulkan doaku, sore itu, ketika kita bertemu di sebuah taman surga
Taman yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah
Taman yang dilindungi oleh kepakan-kepakan sayap malaikat tentara Allah
Taman tempat kita berbagi ilmu, berwasiat dalam hak dan kesabaran
Seiring doaku, semoga Allah meneguhkan hatimu
Ana uhibbukum fillah

Volkswagen-Bibliothek
Berlin Charlottenburg, 2008.

Saturday, July 05, 2008

Aku Akan Menikah

Kategori: Kisah

Siang itu selepas Vorlesung [1] tak biasa-biasanya Selman memintaku untuk bersamanya minum kopi di cafetaria kampus. Aku mengamati wajahnya lekat-lekat yang menyembunyikan rasa gembira. Sahabatku ini telah mengenalku ketika kami sama-sama menyelesaikan Studienkolleg [2] sebelum masuk ke bangku kulah. Selman adalah lelaki Turki soleh, ia mudah bergaul, ramah, dan sangat penolong.

„Aku akan berta’aruf malam ini,“ katanya sambil tersenyum. Aku kaget. Rupanya itu yang ingin ia katakan padaku.

„Dengan siapa?“ balasku bertanya.

„Seorang gadis Turki. Ia anak dari rekan ayahku. Keluarga kami sudah dekat. Ayahku sepertinya ingin menikahkanku dengannya,“.

Siang itu, aku mendapat kehormatan menjadi sahabatnya yang pertama yang mendengar kabar ini. Siang itu Selman bercerita panjang, tentang perasaan gugupnya, tentang kegembiraannya, tentang keinginannya yang kuat untuk segera menikah.

„Aku tidak sanggup menunggu terlalu lama,“ katanya. Aku membatin, lelaki mana yang sanggup? Usianya masih sangat muda, kami hanya terpaut beberapa bulan. Selman lalu meminta pendapatku tentang keinginannya.

Aku teringat pesan guru ngajiku dalam memilih jodoh. „Ingat, memilih pasangan adalah memilih rekan untuk meniti jalan menuju surga. Pilih karena agamanya, maka kamu akan selamat,“ begitu kata-katanya yang masih membekas di ingatanku. Kusampaikan hal ini panjang lebar kepada Selman. Ia mengangguk, lalu sesaat tertegun, sesaat tersenyum penuh harapan.

„Jika kamu memilih karena agamanya, maka kamu akan tenang. Ia akan berbakti kepadamu dan mendidik anak-anakmu untuk menjadi pejuang-pejuang Islam yang tangguh,“ begitu kira-kira pesanku, pesan yang belum tentu dapat kukerjakan sendiri karena aku belum menikah.

***

Satu semester telah berjalan. Yang aku tahu, Selman sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahannya. Selama itu, Selman banyak bercerita tentang proses perkenalannya, khitbahnya, keluarganya, bahkan kadang-kadang aku sering kebagian cokelat, baklava [3] atau makanan khas Turki lainnya lantaran adat budaya tukar-menukar makanan dari kedua keluarga yang akan menikah.

Beberapa minggu terakhir Selman terlihat lelah. Aku sering melihatnya menerima telepon di tengah-tengah kuliah, atau tiba-tiba meninggalkan ruangan kuliah karena ada urusan yang mendadak. Aku paham, sulit memang mempersiapkan pernikahan di tengah-tengah semester. Pernah suatu kali Selman berbicara kepadaku.

„Masalahku datang tak pernah habis. Baru selesai masalah yang satu, datang masalah yang lain,“ keluhnya. Aku tersenyum dan menjawab semoga Allah memberikannya kekuatan dan kesabaran, dan menghitung usaha-usahanya sebagai amal baik yang akan tergantikan dengan kebahagiaan yang tiada tara.

Dan waktu yang ditunggupun tiba, Selman membawakan sepucuk undangan bertuliskan namaku. Yüce Allah’in (c.c) rizasi, Rasulün’ün (s.a.v) sünnetine uyarak evlenen evlatlarimiz... dügün merasimlerinde sizleri de aramizda görmekten mutluluk duyariz...

***

Sore itu hujan turun rintik-rintik. Tempat walimah nikah cukup jauh dari tempat tinggalku, dan kebetulan hari itu masjid kami sedang menyelenggarakan kegiatan pengajian bulanan. Banyak hal yang dapat membuatku mengurungkan niat datang ke pesta pernikahannya, namun untuk hari bersejarah sahabat baikku, aku bulatkan tekad untuk datang.

Konsep pernikahannya sederhana. Letaknya di alam bebas di balik pepohonan rindang dan taman bunga. Tempat duduk undangan laki-laki dan perempuan terpisah. Irama shalawat nabi mengalun sebagai musik hiburan. Benar-benar sebuah pesta nikah yang syar’i. Aku merasa asing karena aku bukan seorang Turki namun duduk di tengah-tengah komunitas Turki. Untungnya mereka sangat ramah dan memperlakukan aku seperti saudaranya sendiri.

Sebelum sang pengantin bertemu dengan tamu-tamunya, seorang lelaki setengah baya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Seluruh orang yang hadir mendengarkannya dengan penuh hikmat. Alam bebas pun ikut menambah syahdunya suasana kali itu. Ah, sahabatku, akhirnya jadi juga kau menikah.

Selman datang dengan pakaian yang indah. Sebuah jas hitam yang terlihat gagah. Ia mengampiri satu-persatu tamunya yang ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya. Ia pun datang menghampiriku, aku peluk dia sambil berbisik „Mabruk akhi, barakallahu fii kum,“.

Berlin 2008.
[1] Kuliah umum
[2] Fase persiapan untuk orang asing
[3] Sejenis kue khas Turki yang sangat manis

Tuesday, April 22, 2008

Eingedeutscht!

Eingedeutscht!
A Mushab Syuhada’s

Hari pertama kuliah untuk Rani. Hari pertama kuliah untuk seluruh mahasiswa baru di semester ini.

Ruangan Vorlesung itu sesak, dipenuhi ratusan mahasiswa yang hendak mengambil mata kuliah ini. Ruangan berkapasitas 500 orang yang bertangga-tangga dengan puluhan barisan kursi dan meja lipat perlahan mulai membludak. Rani berada di ujung pintu masuk, melihat ke sekeliling mencari tempat yang tepat untuk duduk. Pilihannya jatuh pada sebuah kursi kosong di barisan tengah, tepat di sebelah pemuda Jerman yang sedang mendengarkan iPod sambil mengangguk-angguk mengikuti irama musik yang didengarnya.

Mahasiswa-mahasiswa itu terlihat duduk berkelompok dalam satu barisan. Mereka yang sudah saling bercakap-cakap satu sama lain menandakan di antara mereka sudah saling mengenal. Berbeda dengan yang duduk seorang diri. Penuh dengan keasingan, menandakan mereka belum mengenal seorang pun di sekelilingnya.

Rani telah resmi berstatus mahasiswi setelah kelulusannya dari Studienkolleg bulan lalu. Gadis yang senang dengan model rambut kuncir kuda itu diterima di sebuah universitas teknik favorit di Jerman. Saat ini ia memiliki sebuah ambisi yang besar, yaitu ambisi men-jerman-kan dirinya. Hal ini dilatar belakangi oleh percakapannya dengan Meytha beberapa minggu lalu di sebuah acara malam persahabatan Indonesia-Jerman.

***

„Kalau lo gaulnya sama orang-orang Indo terus, gimana bisa maju Deutsch lo!“ kata Meytha, gadis yang memiliki rambut warna-warni merah-kuning-hijau dengan piercing di hidungnya. Meytha berkulit putih, alis matanya dicukur hingga tipis dan mengenakan lensa kontak berwarna biru, semakin melengkapkan gayanya yang colorfull.

Rani menyimak perkataan Meytha lekat-lekat. Meytha tiba di Jerman setahun lebih dulu dari Rani, dan saat ini ia sedang berkuliah di sebuah universitas terkemuka yang sempat disinggahi Einstein di jantung kota Berlin. Yang Rani kagumi dari Meytha adalah kemampuan bahasa Jermannya yang berkembang pesat luar biasa. Meytha yang supel, punya banyak sekali teman orang Jerman dan sangat ceplas-ceplos ketika berbincang-bincang dengan mereka. Lain halnya dengan Rani dan sebagian besar pelajar Indonesia yang ada di Jerman. Walau sudah cukup lama tinggal di sini, kemampuan bahasa Jermannya masih terbilang a-a u-u. Mereka malu berbicara, takut salah Grammatik, takut dicemooh, gagap ketika akan memulai pembicaraan, dan selalu menghafalkan beberapa kalimat „einmal Döner Bitte, ohne Zwiebel“ di kepala sebelum membeli Döner.

Entah, apakah hal itu merupakan kebiasaan atau permasalahan mentalitas. Banyak juga mahasiswa asing seperti dari timur tengah maupun dari eropa timur yang juga belum terlalu cakap berbahasa Jerman, tapi mereka lebih berani berbicara walaupun susunan gramatiknya terbang ke mana-mana. Sedangkan orang Indonesia memiliki kemampuan mendekati sempurna dalam gramatik, hanya saja cenderung pendiam.

„Lo harus punya kontak sama orang Jerman, kalau lo mau bahasa Jerman lo jadi bagus. Kalau tiap hari ngomongnya bahasa Indo melulu, ya nggak maju-maju,“ selorohnya lalu meneguk minuman beralkohol Berliner Kindl dari gelas yang sedari tadi ia genggam. „Tinggalin acara kumpul-kumpul sama orang Indo kayak di masjid itu, keluar! Lihat dunia! Gaul!“, lanjutnya. Acara malam persahabatan Indonesia-Jerman itu ditutup dengan musik hingar bingar lengkap dengan bola disko yang berputar-putar memantulkan cercahan cahaya kelap-kelip lampu beraneka warna di ruangan yang hitam pekat. Suara tawa dan asap rokok mengepul bergulung-gulung di antara alunan musik top 40 yang berdentum keras.

Seorang pemuda Jerman berperawakan tinggi dan tampan datang ke arah Meytha. Meytha terlihat senang akan kehadirannya, mereka bercipika-cipiki lalu Meytha mengenalkan si pemuda itu ke Rani.

Tobi, sie ist Rani. Ran, hier ist Tobi, er ist echt ein geiler Mann!“ katanya dilanjutkan dengan tawa yang membahana seperti euforia mabuk karena alkohol. Tobias melingkarkan tangannya di pinggul Meytha yang malam ini berpakaian seadanya seperti kekurangan bahan, seolah tidak takut ancaman masuk angin di cuaca yang sudah mulai dingin ini.

Rani tertegun melihat ketampanan pemuda itu sambil berkata dalam hati, betapa beruntungnya Meytha dapat kenalan dengan makhluk yang hampir sempurna itu.

„Sudah yah, Ran. Gue ke sana dulu ketemu sama temen-temennya Tobi. Ingat, jangan banyak gaul sama orang Indo. Cari temen orang Jerman, kalau perlu jadiin pacar. Ikut gue clubbing tiap minggu di Oriental Club atau di Copacabana, biar bisa gue kenalin sama temen-temen gue yang lain. Okeh?“ katanya sebelum beranjak pergi meninggalkan Rani.

Rani masih terdiam setelah ditinggal pergi Meytha. Hatinya makin mantap, bahwa kontak dengan orang Jerman lah yang ia butuhkan agar ia dapat belajar banyak tentang kebudayaan dan cara hidup orang Jerman yang teratur dan disiplin, selain agar ia dapat memajukan kemampuan bahasa Jermannya. Ia mengenal beberapa teman-temannya yang memiliki kontak dengan orang Jerman, dan mereka dapat bercas-cis-cus, berargumen, berdebat, bahkan sampai bertengkar dalam bahasa Jerman yang mengalir.

***

Rani memandang pemuda disebelahnya yang sedang mendengarkan iPod. Mata pemuda itu tidak melirik sedikitpun ke arah Rani. Sepuluh menit lagi kuliah dimulai. Rani ingin menggunakan kesempatan ini untuk berkenalan dengan pemuda itu dengan harapan bisa menjadi teman dekat sepanjang kuliah nanti.

Hallo, ist der Platz hier noch frei?“ tanya Rani lembut sambil mengulum senyum. Pemuda itu melepaskan earphonenya dan menjawabnya dengan kata „Ja“ singkat, lalu kembali mengenakan earphonenya. Rani sengaja memilih duduk di sebelahnya karena tampaknya ia masih belum punya teman dan membutuhkan teman mengobrol. Namun ternyata ia tampak acuh dengan kehadiran Rani.

Rani tidak putus asa mendapatkan perlakuan cuek darinya. Dicobanya lagi usaha kedua. Rani menjatuhkan pulpennya dengan sengaja.

Hmm, kannst du bitte meinen Stift nehmen?“ pinta Rani. Pemuda itu melepaskan earphonenya dan dengan malas mengambil pulpen di bawahnya.

Danke schön. Hmm.. mein Name ist Rani. Ich komme aus Indonesien. Bali.. Bali.. ist in Indonesien, weißt du?.. Warst du schon mal in Indonesien? Hmm.. hmm.. Indonesien ist schön, oder? Hmm.. ich kann auch tanzen und kochen.. hmm... hmm..“ celoteh Rani mempromosikan dirinya mencari bahan pembicaraan.

Pemuda itu malah melihat aneh ke arah Rani, seraya berkata, „Sorry, ich verstehe dich nicht! Lass mich doch bitte in Ruhe!“.

Oh mein Gott.

***

Merasa gagal mendapatkan kontak dengan orang Jerman dengan usahanya sendiri, Rani meminta bantuan kepada Meytha. Setiap minggu Rani mengikuti Meytha berparty di club-club ternama di kota Berlin. Meytha berhasil masuk ke kehidupan Rani dan mengubah kepribadiannya yang masih labil. Rani sudah tidak mau lagi berkumpul pada acara-acara KBRI atau masjid dengan dalih ingin memperlancar bahasa Jerman. Rani memisahkan diri dari komunitas yang dulu kerap menjaganya, menasihatinya, dan membantunya dengan penuh kekeluargaan. Rani pun tidak lagi ikut pengajian rutin bersama Mbak Sofi setiap Sabtu. Bahkan, makin lama, Rani makin berani membuka pakaiannya yang dulu cukup tertutup.

Pernah suatu saat Mbak Sofi meneleponnya ketika Rani sedang Party. Suara jedak-jeduk mengiringi percakapan mereka.

„Rani, apa kabar? Lagi di mana nih, kok sekarang sudah jarang datang di pengajian lagi?“ tanya Mbak Sofi.
Ich komm nicht mehr mit, Mbak. Ich bin jetzt noch auf die Party! Wir machen Spaß wie noch nie!“ jawab Rani seenaknya. Hati Mbak Sofi miris.

Meytha makin tidak terkendali larut dalam pergaulan bebas á la barat. Rani ikut dibawa-bawa. Bagi Rani, Meytha adalah sang dewi penolong yang kegiatannya mengasyikkan dan hal itu ditelannya bulat-bulat. Kali ini Rani sudah memiliki banyak teman Jerman. Bahasanya pun meningkat, walau tidak terlalu tajam.

„Ayo, Ran, minum seteguk aja!“ pinta Meytha dengan mata sipitnya yang memandangnya penuh hasutan. Di sekelilingnya berjejer pemuda-pemudi kulit putih yang baru saja menerima Rani menjadi bagian dari komunitasnya. Mereka menatap Rani dengan segelas wine merah di depannya, seolah mereka adalah barisan penguji yang berwenang meluluskan atau tidak meluluskan Rani untuk masuk ke komunitasnya. Rani bimbang, sempat terlintas larangan agama di kepalanya, namun pengakuanlah yang lebih didahulukan.

„Naah! Gitu dong! Jangan norak, kita kan di Eropa!“ sorak Meytha dengan senyum mengembang melihat Rani tersembab dalam jerat dosa. Lalu mereka berlanjut menari-nari mengikuti alunan musik, tertawa lebar, bergoyang, seolah inilah kegiatan yang paling nikmat dan paling menyenangkan.

***

Satu semester berjalan. Rani telah berubah menjadi Rani yang baru. Rani yang bebas. Orang-orang melihat Rani yang bablas dan menemukan jati dirinya dalam kenikmatan hura-hura. Namun siapa yang tahu, dalam kebebasannya itu ternyata hatinya sedang gamang. Berbagai masalah menerpanya setelah perubahannya. Keuangannya menjadi boros karena uang yang dikirim orang tuanya habis terpakai untuk party setiap minggu. Kuliahnya menjadi berantakan, karena terlalu lelah mengulang pelajaran seusai berparty. Tugas kuliah tidak ia kerjakan, dan ujian tidak ada yang lulus. Lebih dari itu, hatinya menjadi kering. Ia benar-benar merasakan kekeringan. Shalat sudah lama ditinggalkan mengikuti Meytha. Dalam keadaan susah seperti ini, sebenarnya Rani ingin menumpahkan rasanya. Namun dengan siapa? Meytha? Meytha hanya bisa berhura-hura, menjerumuskan, atau sekadar memberikan nasihat yang kering basa-basi.

Beberapa kali Rani sempat iri melihat Ayu dan Riska. Dua perempuan sholehah yang kuliahnya gemilang. Riska fasih berbahasa Jerman tanpa harus ikut party. Ia lebih suka mengikuti kajian keagamaan dan pendidikan dalam bahasa Jerman di masjid yang suasananya lebih hangat dan bersahabat. Sedangkan Ayu, ia pun lancar berbahasa Jerman karena usaha kerasnya untuk menguasai bahasa itu.

Terkadang Rani ingin kembali bergabung dengan mereka, masuk ke dalam masjid dan ikut pengajian bersama Mbak Sofi. Namun ia tidak berani melakukannya, ia sudah terlanjut basah jauh meninggalkan Islam. Ia yakin, orang-orang sudah tidak mau menerimanya jika ia bergabung lagi dengan komunitas Islam Indonesia di kota ini. Rani sudah memiliki cap baru: perempuan party. Ia pun enggan kembali karena takut dikira sok alim.

Di lain sisi, Meytha terus mengingatkan Rani untuk tidak bergaul dengan orang Indonesia. Percuma katanya, jauh-jauh ke Jerman mainnya sama orang Indonesia lagi. Bahkan Meytha mengancam, jika Rani kembali ke komunitasnya, maka Meytha dan teman-temannya akan meninggalkan Rani.

***

„Hay Ran, apa kabar?“ tanya Riska ketika tidak sengaja bertemu di U-Bahn.
„Baik,“ jawab Rani seadanya, Rani sedang dalam bad mood dengan pikiran-pikirannya. Riska sudah menebak tingkah laku Rani yang akan dingin jika bertemu orang Indonesia, apalagi yang alim berjilbab seperti Riska.
„Mau kemana nih, Ran?“
Rani tak menjawab. Riska pun tersenyum, memaklumi.

Tak lama terdengar suara isakan dari tubuh Rani.
„Lho, Ran? Kok nangis?
Rani tidak menjawab. Malah semakin sesengukan. Penumpang-penumpang yang lain di sekelilingnya memandang dua anak manusia itu keheranan, seolah sedang menyaksikan acara reality show di televisi.

Kereta berhenti di stasiun tempat Riska seharusnya turun. Namun ia urung meninggalkan Rani yang sedang menangis dan tak mau berbicara. Sampai pada stasiun terakhir, Rathaus Steglitz.

„Ran, kita harus turun. Turun dulu yuk,“ ajak Riska pelan. Rani beranjak, dipapah Riska di bahunya.
„Duduk di sini ya,“ sambung Riska menuntun Rani ke arah jejeran kursi besi di dalam stasiun. „Ayo sekarang cerita ke gue, ada apa?“
„Ris.. gue kering Ris..“
„Maksud lo, Ran?“
„Gue, gak mau kayak gini, Ris. Plis tolong gue.. Gue sudah terlanjur jauh dari Allah. Jauh dengan orang-orang sholeh,“
„Terus, kendala lo di mana, Ran? Kalau lo mau berubah seperti dulu lagi, lo bisa berubah sekarang!“
„Apa bener Allah mau maafin gue?“
„Ya jelas dong! Allah kan Mahapemaaf. Kalau lo bertobat dengan sebenar-benar tobat, insya Allah sebesar apapun dosa lo, pasti akan Allah ampuni, asal lo janji lo nggak ngulanin perbuatan itu lagi dan merasa menyesal dengan apa yang sudah lo lakukan“
„Tapi, pasti orang-orang nggak mau nerima gue lagi, gue sudah dicap jelek,“
„Lho, kok itu yang ditakutin. Kata orang biarlah kata orang, yang penting kan niat lo berubah karena Allah, bukan karena siapa-siapa,“

***

Bergaul dengan siapa-siapa boleh saja. Yang namanya bermuamalah, bebas dengan siapa saja. Namun ingat, bergaul juga ada batas syar’i nya, jangan sampai kebablasan. Bukan berarti tidak boleh berteman dengan orang Jerman, bahkan itu perlu! Kita kan sama-sama manusia yang saling membutuhkan dan menolong. Tapi tetap jaga izzah kita sebagai seorang muslim atau muslimah.

***

„Rani, wow! Makan apa lo sekarang, Ran? Makan sayur asem?“ kata Meytha kaget melihat perubahan Rani yang dramatis, lalu dengan pandangan merendahkan pergi meninggalkan Rani.
Yaah, hidayah memang hanya Allah yang punya.

Berlin, April 2008.

Sunday, March 16, 2008

Last Breath

From those around
I hear a cry
a muffled sob
a hopeless sigh
I hear their footsteps leaving slow
and then I know my soul must fly!

A chily wind begins to blow
within my soul from head to toe
and then, last breath, escapes my lips
it's time to leave and I must go!

So it's true but it's too late
they said: each soul has it's given date
when it must leave its body's core
and meet with its eternal fate

Oh mark the words that I do say
who knows tommorow could be your day
at last it comes to heaven or to hell
decide which now do not delay!
come on my brothers let us pray
decide which now do not delay

Oh God! oh God! I can not see
my eyes are blind, am I still me?
or has my soul been led astray?
and forced to pay a priceless fee?

Alas to dust we are return
some shall rejoice while others burn
if only I knew that before
the line grew short and came my turn

And now, as beneath the sod
they lay me with my record flawed
they cry not knowing, I cry worse
for they go home,
I face my God!

Friday, December 14, 2007

Bidadari Surga

Kategori: Cerpen

Sepatah kata dari penulis:
Karena banyaknya pertanyaan dari pembaca, maka saya tegaskan bahwa cerpen-cerpen saya tidak semua berdasarkan pada kisah nyata. Persamaan tempat dan tokoh hanyalah kebetulan belaka.

Bidadari Surga
a Mushab Syuhada’s

Bidadari surga, begitu aku menyebutnya. Aku tak tahu dari mana ia datang, namun ia memancarkan aura wajah yang berbeda. Penampilannya sederhana, layaknya seorang mahasiswi. Jilbabnya menutupi kepalanya., kulitnya putih, matanya biru abu-abu, pernah aku melihat bibir tipisnya melengkungkan senyum dengan sederet gigi putih yang rapih.

Bidadari surga itu bukan mahasiswi satu jurusan denganku, tapi sering kali kita bertatap temu. Ada ribuan orang di kampus kami yang sudah seperti sebuah kota kecil ini, tapi dialah orang yang menurutku paling sering aku temui. Kali ini kami bertemu di depan mushala, beberapa saat kemudian di gedung Matematika, tak lama kutemuinya lagi di Mensa, dan sorenya di U-Bahn.

Aku memang tidak tahu namanya, karena aku tidak pernah bertegur sapa. Namun naluriku untuk menguak misterinya memberikan aku beberapa fakta: muslimah itu kuliah jurusan Informatik, sepertinya ia adalah seorang gadis campuran Jerman-Turki.

Dan betapapun seringnya kita bertemu, aku tak sanggup berlama-lama mencuri pandang ke arahnya. Begitu juga dirinya. Pernah suatu saat mata kami saling beradu, tak lama kami segera mengalihkan pandang. Dan rasa itupun berdesir, seperti rasa gugup, atau sebuah rasa asing yang lain. Ya Rabb, apakah rasa ini? Apakah maksud di balik semua ini? Aku seorang lelaki biasa yang selalu berupaya menjaga hati, namun bayangan sang bidadari itu berkali-kali datang, sementara aku tercengkram dalam rasa ini.

Rasa ini, rasa yang bodoh, rasa yang mudah datang dan pergi. Tapi rasa ini pada sang bidadari berbeda dari rasa-rasa sebelumnya. Ya Rabb, apakah rasa ini?

Ah, rasa ini datang lagi
Rasa yang tak bosan-bosannya mengunjungiku
Rasa yang sering aku tertawakan karena kebodohannya
Ah, rasa ini sulit diusir
Hinggap lekat mendalam
Lalu tiba-tiba hilang seketika
Rasa ini membuat aku gugup
Namun ketika rasa ini pergi, membuat ku justru sangat cuek
Ah, rasa ini, mengapa selalu dimulai dengan tatapan
Yang membuat beribu tafsir
Yang makin membuatku tak berhenti berpikir
Hingga terukir, dan selalu mengalir
Rasa ini,
Mungkin hanya memberi sedikit sensasi
Khayalan
Harapan dan kecemasan
Atau mungkin rindu yang tak mendasar?
Tapi sekali lagi rasa ini hanya mampir sebentar
Sebelum kemudian kembali buyar
(Jakarta, 2006)


Sekalipun banyangan sang bidadari terus menerus hadir, aku belum memiliki keberanian untuk menanyakan siapa namanya. Cukup kehadirannya yang sekelebat membuat aku mengulaskan sebentuk senyum di wajah. Sang bidadari sepertinya sangat menjaga dirinya. Tak pernah aku lihat ia bersama-sama dengan seorang pria. Karena itulah, aku selalu mengurungkan niatku untuk menyapanya. Namun aku teringat sabda Rasulullah, bahwa janganlah kamu mencintai seseorang dengan cinta yang sangat, karena boleh jadi kamu akan membencinya.

***

Siang itu, di musim gugur, aku menuju lantai dua tempat mushala kecil kampusku berada. Kulihat beberapa Schwester (saudara perempuan) sudah berdiri menunggu giliran ruangan shalat di depan sana, dan bidadari itu salah satu di antaranya. Mushala kami memiliki luas ruang yang terbatas, yang membuat Bruder (saudara laki-laki) dan Schwester harus bergantian menggunakan ruangan itu. Karena keterbatasan waktu, kami pun harus sabar mengunggu pemakaian ruangan.

Di depan mushala itu sudah tertempel sebuah kertas bertuliskan „Mushala ini akan dipakai untuk Schwester“. Aku berdiri dan paham bahwa tak lama para Schwester itu akan memakai ruangan tersebut. Namun tak lama keluar salah seorang Bruder dari dalam, seraya mempersilahkanku untuk masuk karena di dalam ada beberapa Bruder lain yang masih shalat. Aku tersenyum mengucapkan terima kasih atas tawarannya, namun sebelum aku memutuskan masuk, aku bertanya pada para Schwester yang sudah menunggu.
„Apakah kalian sudah menungggu lama? Apakah kalian keberatan jika saya masuk sebentar?“ tanyaku.
„Kami sudah menunggu lama,“ jawab salah seorang Schwester. "Sekarang giliran kami," tambah Schwester yang lain. Lalu tak lama ada satu suara yang mengagetkanku, suara yang kulihat datang dari bidadari itu, menuju ke arahku.
Suara yang sangat keras dan menusuk ulu hatiku.
„Tolong – tunggu – di luar!“ katanya dengan nada tinggi menunjukkan nada kemarahan, disertai dengan raut wajah yang sangat dingin menatapku, lalu ia memalingkan wajahnya dariku.

Dan aku hanya menatapnya sesaat dengan pandangan kosong dan mulut membisu. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. Kata-kata itu, suara itu, seolah telah menyihirku untuk membatu beberapa saat. Aku juga seorang manusia, aku juga punya perasaan dan hati, dan hati ini seketika luka atas perkataannya. Mungkin itu hanyalah perkataan biasa, dan mungkin aku akan biasa pula mendengarnya jika itu terlontar dari orang lain. Tetapi perkataan ini kudengar dari seorang bidadari pujaanku, yang selama ini kupendam cintanya sangat. Rasa cinta itu, berubah menjadi sangat perih. Aku segera pergi menjauh, menenangkan diri dahulu untuk sesaat. Yaa Rabb, begitu mudahnya Engkau merubah sebuah benda bernama perasaan.

Bidadari itu masuk ke dalam mushala bersama Schwester yang lain. Pikiranku tak berubah dari gaungan suara yang masih terekam kuat di kepalaku. „Warte-bitte-draußen!“

Tak lama bidadari itu keluar. Aku menduga bahwa ia akan segera menuruni tangga di sebelah kiri karena tak ingin melihat diriku. Akupun segera membuang pandanganku agar tidak lagi menatapnya, karena hal itu hanya akan membuatku merasa semakin sakit. Dugaanku ternyata salah, aku merasakan ada sesosok bayangan yang semakin lama semakin mendekatiku, dan bayangan itu, tepat di depanku, berkata,
„Maafkan saya, saya tadi sudah berbicara sangat kasar kepada kamu, saya terlalu jahat untuk berkata...“ ia lanjut berbicara, namun hanya itu kata-kata yang bisa aku tangkap darinya. Kulihat wajahnya, kali ini ia menatapku dengan pandangan bersalah, memohon maaf dariku.
„Oh... yang tadi ya?“ tanyaku pura-pura tak tahu, padahal semua orang tahu bahwa aku pasti tak bisa menyembunyikan raut kecewa yang tergurat dalam di rona mukaku. „tidak apa-apa kok,“ lanjutku sambil tersenyum, lalu ia pergi.

***

Yaa Rabb, sekalipun ia telah meminta maaf, tapi rasa kecewa yang perih ini tak bisa hilang. Aku ambil mushaf kecil di dalam ranselku, kutenangkan diriku. Tiba-tiba, ini pasti sebuah jawaban dari Allah, tanganku membuka halaman tepat di surat Ali Imran ayat 133-134.
„Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.“

Ya Allah, ajarilah aku untuk menjadi seorang yang pemaaf. Karena ku tahu, keberaniannya meminta maaf kepadaku adalah karena ia menyadari kesalahannya. Ia bukan seorang bidadari, ia juga seorang manusia sama seperti aku, yang sangat mungkin berbuat khilaf.

Ya Allah, kuyakin benar ini merupakan teguran dariMu. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami danau kesabaran yang luasnya seluas samudra kesabaranMu, berikanlah kami embun-embun pemaaf dari mata air pemaafMu, sinarilah hati-hati kami dengan sinar cinta dan kasihMu, jagalah hati-hati kami dari bermaksiat kepadaMu. Ya Allah, Tuhan yang Maha penyayang, lindungilah kami dalam naungan rahmahMu.

Berlin, Herbst 2006.
Lebih dari setahun yang lalu.
Ah, die Zeit verläuft wirklich so schnell.

Tuesday, November 20, 2007

Pergeseran Cara Pandang dari Sistem Islam

Kategori: Artikel

Hukum adalah sebuah perangkat penting dalam kehidupan. Tidak hanya untuk kehidupan pribadi, tetapi juga untuk kehidupan sosial. Hukum dapat berbentuk tertulis seperti sebuah undang-undang, atau dapat juga berbentuk cara pandang tehadap sesuatu. Terkadang, cara pandang muncul dari sebuah kontemplasi pribadi yang banyak dipengaruhi oleh keadaan yang dianggap „normal“ di lingkungan sekitar.

Mari kita berangkat dari Islam, agama dan sistem yang kita yakini bulat sebagai sistem terbaik yang tidak ada tandingannya, karena semua sumber hukumnya berasal dari Yang Mahatahu. Logikanya, jika kita meyakini bahwa Allah adalah Pencipta yang tak terbatas kekuasaan-Nya dan hasil ciptaan-Nya, maka kita juga mutlak harus meyakini bahwa Allah mengetahui secara detail apa yang diperlukan untuk hasil ciptaan-Nya. Saya teringat sebuah khutbah Jum’at dari Dr. Yogi di KBRI hampir setahun yang lalu: Jika kita membeli sebuah lemari produksi IKEA, dan ingin memulai menyusun bagian-bagian lemari itu agar menjadi sebuah lemari yang utuh, maka kita harus melihat buku petunjuk yang dikeluarkan oleh IKEA. Sama halnya jika ternyata lemari yang kita beli terdapat cacat atau kekurangan, maka kita harus melapor ke IKEA, bukan yang lain. Mengapa? Karena IKEA-lah yang seharusnya mengenal dan mengerti produknya.

Masyarakat di negara-negara Islam - yang rata-rata berada pada jajaran Negara Dunia Ketiga - sayangnya belum mengenal benar hukum-hukum Islam yang lengkap dan menyeluruh. Padahal dalam Islam, aturan-aturan seperti disiplin, bersih, jujur, beradab, toleransi, menuntut ilmu dll tertuang jelas dan dibahas lengkap di dalam Al-Qur’an dan/atau Al-Hadits. Di sisi lain, negara-negara berkembang justru yang mengejawantahkan hal-hal tersebut. Di Jerman misalnya, masyarakatnya lebih disiplin dalam berlalu lintas jika dibandingkan dengan Indonesia. Akibatnya, banyak masyarakat kita yang mengiblatkan pandangannya ke negara-negara ini.

Hal ini sah-sah saja, selama memang itu merupakan hal yang positif. Toh dalam Islam hal-hal tersebutpun juga ada dan diperintahkan. Namun yang perlu hati-hati adalah proses penyamarataan semua pandangan sehingga keluar dari batas-batas hukum Islam. Tidak selamanya budaya-budaya asing (misal: Jerman) harus didewakan seolah yang paling benar sedangkan yang lain (baca: Indonesia) dianggap buruk setelah dibanding-bandingka n. Tidak selamanya sistem pendidikan anak di Jerman dianggap lebih baik dari pada sistem pendidikan anak di Indonesia. Tidak selamanya kebebasan di barat dianggap paling baik dari pada kebebasan dalam Islam.

Di Jerman, seseorang boleh dengan bebasnya mengeluarkan cairan hidung didepan orang banyak. Mengapa? Karena hal tersebut sudah membudaya dan dianggap wajar. Namun di Indonesia, seseorang hendaknya tidak mengeluarkan cairan hidungnya di depan orang banyak atau ditengah-tengah jamuan santap malam. Mengapa? Karena norma dan budaya Indonesia yang mengatakan hal tersebut kurang sopan/pantas. Lantas, apakah kita langsung menilai bahwa budaya Jermanlah yang paling benar? Atau sebaliknya, budaya Indonesialah yang benar?

Kerelativan sebuah hukumlah yang akhirnya mendatangkan hukum Islam – atau hukum yang bersumber dari Allah – sebagai satu-satunya hukum yang mutlak dan tidak relatif. Islam memberikan jawab atas semua pertanyaan. Islam memberikan contoh untuk setiap panutan. Islam memberikan solusi untuk setiap permasalahan. Sehingga tidak ada yang tidak tersentuh oleh Islam, dan Islam tidak akan pernah „leave something in vogue“.

Akhirnya, saya ingin mengajak diri saya sendiri dan juga saudara-saudara saya se-iman, untuk bersama-sama mengenal Islam secara utuh, tidak setengah-setengah, agar kita mengetahui lebih dalam keunggulan sistem-sistem yang ada dalam Islam, yang kita yakini adalah yang paling baik dan yang paling benar untuk seluruh umat manusia. Sehingga cara pandang kita terhadap sesuatu lebih berlandaskan kepada Islam, dengan tidak mengunci kita untuk mengenal dan mempelajari segala sesuatu yang „bukan islam“.

Wallahu’alam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Islam bermula dalam keadaan asing (gharib), dan akan kembali di anggap asing sebagaimana bermula. Maka beruntunglah orang-orang asing itu (ghuraba).” (HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Friday, June 08, 2007

Mein Tagesbuch

Kategori: My Side

Hampir dua bulan tidak lagi mengisi blog ini, kali ini saya akan memulai lagi dengan sepenggal kejadian di hari ini.

Pagi ini matahari bersinar panas menyengat. Udara di luar mencapai 33 derajat. Namun ada satu yang saya sukai dari hari ini: mengingat bahwa hari ini adalah hari Jumat, di mana Wochenende akhirnya datang, dan dapat bertemu dengan orang-orang yang saya sayangi.

Hari Jumat, aktivitas rutin adalah kerja, shalat Jum'at, dan kuliah. Seperti biasa, semenjak diterima kerja di kampus, setiap Jumat pagi temanya adalah berlari-lari agar tidak telat kerja. Selesai mandi (yang seperti biasa memakan waktu selama 30 menit padahal sudah ekstra diletakan jam di kamar mandi agar tidak terlalu lama di dalam) langsung obrak-abrik lemari mencari pakaian. Akhirnya keputusan busana hari ini jatuh pada sebuah kemeja yang belum diseterika. Secepat kilat langsung siap-siap dan tergopoh-gopoh berlari dari rumah ke Leopoldplatz (stasiun kereta terdekat dari rumah). Karena belum sarapan, di Leopoldplatz saya beli roti Schoko-Croissant dulu. Di kereta jantung berdebar-debar, sebab kalau sampai telat satu menit, dapat dibayangkan bagaimana wajah SB dan SM - para bos saya. Sampai di Ernst-Reuter-Platz (stasiun kereta di kampus) saya berlari lagi sampai ke gedung HFT-FT dan tepat pukul sembilan teng alhamdulillah sudah masuk ruangan kerja.

Namun begitu terkejutnya saya ketika melihat meja saya ditempati seorang kollega.
Saya: "Ayse?!" (dengan agak terkejut)
Ayse: "Dimas?!" (nggak kalah terkejut)
Saya: "Hari ini tukeran sama Paule, ya?" tanyaku
Ayse: "Lho, bukannya hari ini aku gantiin kamu?"
Saya: "Masa sih?"
Ayse: "Kan kesepakatannya gitu"
Segera aku membuka plannerku, dan tertulis: "tanggal 8 Juni: tukeran sama Ayse". Oalah, tahu gitu nggak usah tergopoh-gopoh sampai penuh peluh. Akhirnya saya keluar ruangan dan bimbang, mau tetap di kampus atau pulang ke rumah. Setelah terjadi perseteruan hebat di dalam kepala akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah dengan asumsi akan dapat lebih banyak yang diselesaikan dibanding berdiam diri di ruang komputer kampus.

Kata bijak hari ini: Sebelum memulai hari, ada baiknya melihat kembali planner dan termin-termin di hari itu.

Masalah kedua yang saya hadapi sekarang-sekarang ini adalah masalah konsekuensi dan ketakutan. Jika saya menargetkan selesai Vordiplom di semester ini, maka 8 mata kuliah harus bisa saya selesaikan. Terdengar muluk memang, tapi machbar dengan konsekuensi: kerja keras mati-matian, dan mencari praktikum. Konsekuensi berikutnya adalah berhenti kerja di kampus, karena dari kerja di kampus saya hanya diberi jatah cuti 21 hari dimana tidak mencukupi untuk membuat praktikum di industri yang minimal memakan waktu dua bulan. Selain itu jika mau kerja keras mati-matian, kerja di kampusnya juga harus ditinggalkan karena pasti akan sangat mengganggu.

Kalau mau leha-leha sedikit sambil menikmati kerjaan yang ada, konsekuensinya adalah lebih lama satu semester di Grundstudium. Ini terdengar lebih nyaman, karena dengan tinggal lebih lama satu semester maka belajarnya bisa lebih optimal dan praktikumnya juga bisa terorganisir dengan baik, selain juga bisa agak lama bekerja di kampus. Semua butuh konsekuensi: Whatever you choose, consequency is a must -- kata-kata favoritnya seseorang.

La vie est belle. I wish, insya Allah. Bismillah, Allahuakbar!