Persis di tengah kota Berlin.
Brandenburger Tor berhias pantulan cahaya emas. Temperatur udara berada di bawah nol derajat.
Dengan pakaian batik, celana bahan hitam yang di bagian lututnya sudah memutih, sepatu pantoffel yang kurang nyaman, jaket hitam dan ransel, aku memasuki salah satu hotel termewah di kota ini, Adlon, tepat di hadapan Brandenburger Tor.
Setelah menyerahkan tas dan ransel, aku melihat sekitar, mencari toilet dan membiasakan diri. Sebelum dipersilahkan masuk ke ballroom, aku menyempatkan diri duduk di café lobi hotel. Sekadar duduk, tidak memesan apapun, karena aku tahu secangkir teh berharga sama dengan lima kilo daging.
Beberapa tamu undangan yang lain mulai berdatangan, berpakaian bagus-bagus. Sebelum masuk ke ballroom, aku datangi lagi toilet di seberang yang lain, mencoba sabun mewah dan lotion kulit yang disediakan di sana.
Tamu undangan dan aku dipersilahkan masuk.
Aku berada di meja nomor empat. Beberapa pelayan berpakaian jas dan dasi kupu-kupu mulai bertugas melayaniku. Ditariknya kursi, diselempangkan serbet berwarna pastel di pangkuanku. Dua buah lilin putih dinyalakan, tangan mereka menuangkan air putih dengan cekatan.
Setiap detik adalah makna, setiap masa adalah rasa, sulit membayangkan bahwa manusia tidaklah istimewa, perjalanan kita, dalam arus debu aksara - Dimas Abdirama
Tuesday, December 15, 2009
Thursday, July 09, 2009
Jilbab Hitam-Merah-Emas
Kategori: Cerpen
Jilbab Hitam-Merah-Emas
Oleh: Dimas Abdirama
Udara makin menghangat di musim panas yang datang terlambat, walau sesekali hujan bisa saja turun tiba-tiba dengan deras tanpa tendeng aling-aling. Orang-orang di sini sangat cinta dengan matahari, maklum, matahari memang enggan berlama-lama menyengat negara ini. Seperti juga kami, yang sebenarnya punya banyak matahari di negara kami sendiri.
Biasanya di udara seperti ini kami paling senang duduk-duduk bersama di sebuah rumah makan sambil bercerita tentang banyak hal. Membicarakan kesulitan-kesulitan kuliah, membahas satu-persatu kelebihan dan kekurangan para capres dan cawapres, mendengar laporan jalannya pertandingan sepak bola antarmahasiswa, dan puluhan topik lainnya. Tentu di bawah sinar matahari sambil ditemani segelas teh arab yang kental kesukaan kami.
Ah Berlin, kami mencintai kota ini.
Jilbab Hitam-Merah-Emas
Oleh: Dimas Abdirama
Udara makin menghangat di musim panas yang datang terlambat, walau sesekali hujan bisa saja turun tiba-tiba dengan deras tanpa tendeng aling-aling. Orang-orang di sini sangat cinta dengan matahari, maklum, matahari memang enggan berlama-lama menyengat negara ini. Seperti juga kami, yang sebenarnya punya banyak matahari di negara kami sendiri.
Biasanya di udara seperti ini kami paling senang duduk-duduk bersama di sebuah rumah makan sambil bercerita tentang banyak hal. Membicarakan kesulitan-kesulitan kuliah, membahas satu-persatu kelebihan dan kekurangan para capres dan cawapres, mendengar laporan jalannya pertandingan sepak bola antarmahasiswa, dan puluhan topik lainnya. Tentu di bawah sinar matahari sambil ditemani segelas teh arab yang kental kesukaan kami.
Ah Berlin, kami mencintai kota ini.
Saturday, May 16, 2009
Cinta vs Benci dari Gang Haji Nawi
Cinta vs Benci dari Gang Haji Nawi
Oleh: Dimas Abdirama
Gang Haji Nawi emang panas! Emang sempit! Emang banyak mas-mas tengil (masteng) yang nongkrong terus seharian kagak ada kerjaan sambil main gitar gonjrang-ganjreng. Paling malas deh kalau harus melewati gang Haji Nawi. Tapi mau bagaimana lagi, satu-satunya jalan dari rumah ke masjid cuma bisa lewat gang itu. Terpaksa deh suka nggak suka harus disuka-sukain. Kan aku ketua keputrian masjid (baru kepilih lho minggu kemarin) yang punya program seabrek-abrek untuk masjid, jadi aku sering beraktivitas di sana sepulang kuliah.
Yang bikin aku tambah sebel, sejak dua bulan ini di masjid ada seorang pengurus baru. Ya, bisa dibilang penjaga masjid deh yang tiap malam mengisi kajian untuk bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak muda, dan anak-anak kecil. Orangnya sih biasa, tampangnya standar banget lah (masih gantengan si Ucok), bisa dibilang murah senyum dan ramah, tapi aku melihatnya kayak ada udang di balik bakwan, eh salah deh! Di balik batu! Soalnya, aku pernah mendapatinya sedang ngelirik-lirik aku. Pas ketahuan mata ketemu mata, dia pura-pura menundukan pandangannya. Huh nggak gentle amat sih!
Oleh: Dimas Abdirama
Gang Haji Nawi emang panas! Emang sempit! Emang banyak mas-mas tengil (masteng) yang nongkrong terus seharian kagak ada kerjaan sambil main gitar gonjrang-ganjreng. Paling malas deh kalau harus melewati gang Haji Nawi. Tapi mau bagaimana lagi, satu-satunya jalan dari rumah ke masjid cuma bisa lewat gang itu. Terpaksa deh suka nggak suka harus disuka-sukain. Kan aku ketua keputrian masjid (baru kepilih lho minggu kemarin) yang punya program seabrek-abrek untuk masjid, jadi aku sering beraktivitas di sana sepulang kuliah.
Yang bikin aku tambah sebel, sejak dua bulan ini di masjid ada seorang pengurus baru. Ya, bisa dibilang penjaga masjid deh yang tiap malam mengisi kajian untuk bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak muda, dan anak-anak kecil. Orangnya sih biasa, tampangnya standar banget lah (masih gantengan si Ucok), bisa dibilang murah senyum dan ramah, tapi aku melihatnya kayak ada udang di balik bakwan, eh salah deh! Di balik batu! Soalnya, aku pernah mendapatinya sedang ngelirik-lirik aku. Pas ketahuan mata ketemu mata, dia pura-pura menundukan pandangannya. Huh nggak gentle amat sih!
Saturday, May 02, 2009
Le Rendez-Vous
Le Rendez-Vous
Oleh: Dimas Abdirama
Namanya Cahaya. Cahaya Delaluna. Ya, sinar rembulan! Nama yang cantik, secantik paras gadis mungil itu. Cahaya sedang bergembira di hari ulang tahunnya yang kelima. Tuan Bob dan Nyonya Tutiek mengundang semua teman-teman putri tunggalnya dalam sebuah pesta meriah lengkap dengan hiburan badut sulap. Pipi tomatnya seperti mau pecah ketika ia meniupkan lilin-lilin di atas kue tart yang dihias seperti sebuah kota. Ada rumah-rumahannya, gunung-gunungannya, dan ada pohon-pohonannya.
„Selamat ulang tahun ya cayaaang!“ ciuman dari mami dan papi mendarat dari sebelah kiri dan kanan wajah menggemaskan itu. Cahaya mengenakan baju permaisuri berwarna merah muda yang roknya mengembang berlapis-lapis. Rambutnya dikuncir dua dengan pita-pita yang cantik. Cahaya tampak senang dengan hari spesialnya, begitu juga Tuan Bob, Nyonya Tutiek, para tamu dan anak-anak mereka.
Satu persatu teman-temannya menghampiri, menyalaminya dan menyerahkan kado-kado yang dibungkus berwarna-warni sambil bernyanyi selamat ulang tahun. Mereka yang diundang bukan sembarang orang. Paling tidak berasal dari keluarga kaya dan terhormat seperti orang tua Cahaya. Di acara itu juga ada hiburan door prize, bagi yang beruntung bisa membawa pulang sebuah televisi dan perangkat alat-alat elektronik lainnya. Benar-benar sebuah pesta yang sangat meriah.
Oleh: Dimas Abdirama
Namanya Cahaya. Cahaya Delaluna. Ya, sinar rembulan! Nama yang cantik, secantik paras gadis mungil itu. Cahaya sedang bergembira di hari ulang tahunnya yang kelima. Tuan Bob dan Nyonya Tutiek mengundang semua teman-teman putri tunggalnya dalam sebuah pesta meriah lengkap dengan hiburan badut sulap. Pipi tomatnya seperti mau pecah ketika ia meniupkan lilin-lilin di atas kue tart yang dihias seperti sebuah kota. Ada rumah-rumahannya, gunung-gunungannya, dan ada pohon-pohonannya.
„Selamat ulang tahun ya cayaaang!“ ciuman dari mami dan papi mendarat dari sebelah kiri dan kanan wajah menggemaskan itu. Cahaya mengenakan baju permaisuri berwarna merah muda yang roknya mengembang berlapis-lapis. Rambutnya dikuncir dua dengan pita-pita yang cantik. Cahaya tampak senang dengan hari spesialnya, begitu juga Tuan Bob, Nyonya Tutiek, para tamu dan anak-anak mereka.
Satu persatu teman-temannya menghampiri, menyalaminya dan menyerahkan kado-kado yang dibungkus berwarna-warni sambil bernyanyi selamat ulang tahun. Mereka yang diundang bukan sembarang orang. Paling tidak berasal dari keluarga kaya dan terhormat seperti orang tua Cahaya. Di acara itu juga ada hiburan door prize, bagi yang beruntung bisa membawa pulang sebuah televisi dan perangkat alat-alat elektronik lainnya. Benar-benar sebuah pesta yang sangat meriah.
Tuesday, December 16, 2008
Perempuan Berkerudung Kashmir Hijau
Kategori: Cerpen
Perempuan Berkerudung Kashmir Hijau
Oleh: Dimas Abdirama
Jika saja Neng Geulis tidak masuk ke dalam masjid itu, tentu hati Neng tidak akan segundah ini. Seandainya saja Neng tidak bertemu lelaki Jerman bermata biru itu, pasti Neng bisa hidup bahagia sekarang. Ah tidak, bukan, bukan itu, hanya saja Neng tidak menaruh kasihan pada anak kecil bernama Hakan kemarin, semua derita ini tidak akan terjadi!
Neng pandangi sehelai pashmina Kashmir berwarna hijau muda pemberian Serkan Atalay, seorang penjual Döner yang memiliki kedai di wilayah Kreuzberg, Berlin. „Ini ucapan terima kasih saya,“ ucapya seraya tersenyum. Serkan sangat senang melihat anak tunggalnya telah menemukan sosok yang bisa memberikan kasih sayang seorang ibu, menggantikan posisi ibu kandungnya yang meninggalkan mereka ketika Hakan masih setahun.
Air mata Neng meleleh saat melihat Hakan duduk manis di pangkuannya sambil mendengarkan dengan seksama cerita tentang Sahabat Nabi yang ia bacakan. Dibelainya penuh iba kepala Hakan, seorang anak yang menderita gangguan kejiwaan sehingga ia berperilaku overacting dan tidak peduli dengan lingkungannya. Bapaknya justru sengaja menitipkan Hakan di masjid milik komunitas muslim Indonesia, bukan di masjid-masjid Turki yang banyak bertebaran di kota ini. Hampir semua masjid Turki telah ia kunjungi untuk dijadikan tempat anaknya belajar mengaji. Mulanya mereka menerima, tetapi lama-kelamaan semuanya angkat tangan untuk tetap bersedia membimbing anak semata wayangnya. Alasannya sederhana, keberadan Hakan hanya mengganggu anak-anak yang lain.
Perempuan Berkerudung Kashmir Hijau
Oleh: Dimas Abdirama
Jika saja Neng Geulis tidak masuk ke dalam masjid itu, tentu hati Neng tidak akan segundah ini. Seandainya saja Neng tidak bertemu lelaki Jerman bermata biru itu, pasti Neng bisa hidup bahagia sekarang. Ah tidak, bukan, bukan itu, hanya saja Neng tidak menaruh kasihan pada anak kecil bernama Hakan kemarin, semua derita ini tidak akan terjadi!
Neng pandangi sehelai pashmina Kashmir berwarna hijau muda pemberian Serkan Atalay, seorang penjual Döner yang memiliki kedai di wilayah Kreuzberg, Berlin. „Ini ucapan terima kasih saya,“ ucapya seraya tersenyum. Serkan sangat senang melihat anak tunggalnya telah menemukan sosok yang bisa memberikan kasih sayang seorang ibu, menggantikan posisi ibu kandungnya yang meninggalkan mereka ketika Hakan masih setahun.
Air mata Neng meleleh saat melihat Hakan duduk manis di pangkuannya sambil mendengarkan dengan seksama cerita tentang Sahabat Nabi yang ia bacakan. Dibelainya penuh iba kepala Hakan, seorang anak yang menderita gangguan kejiwaan sehingga ia berperilaku overacting dan tidak peduli dengan lingkungannya. Bapaknya justru sengaja menitipkan Hakan di masjid milik komunitas muslim Indonesia, bukan di masjid-masjid Turki yang banyak bertebaran di kota ini. Hampir semua masjid Turki telah ia kunjungi untuk dijadikan tempat anaknya belajar mengaji. Mulanya mereka menerima, tetapi lama-kelamaan semuanya angkat tangan untuk tetap bersedia membimbing anak semata wayangnya. Alasannya sederhana, keberadan Hakan hanya mengganggu anak-anak yang lain.
Sebutir Rindu di Tanah Madinah
Kategori: Cerpen
Oleh Dimas Abdirama
„Labaik, Allahuma Labaik!“ pekikku dalam hati saat pesawat Egypt Air kami mendarat dengan selamat di Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah. Setelah menunggu sampai mesin benar-benar berhenti, rombongan haji asal Berlin yang dikomandoi oleh Brüder Ali mulai menuruni anak-anak tangga pesawat dan menginjakkan kaki di bumi Bagina Nabi.
Semilir angin gurun yang panas menampar wajah-wajah kami yang kuyu kelelahan. Ku pandangi lapangan terbang ini sesaat, melihat hitamnya malam yang tercahayai lampu-lampu neon putih. Ku bergumam di jiwaku, mensyukuri nikmat Illahi yang tiada henti ku dapati. Hingga akhirnya aku sampai pada detik ini, untuk memenuhi panggilanNya ke tanah suci.
Richard, muallaf Jerman yang akan menjadi teman satu kamarku di perjalan haji ini mengingatkanku untuk segera masuk ke dalam gedung bandara dan melakukan proses administrasi. Tak lama rombongan kami sudah menaiki bis untuk perjalanan ke hotel yang persis terletak di depan Masjid Nabawi. Kami memang mengunjungi Madinah terlebih dahulu sebelum bertolak ke Makkah minggu depan.
Oleh Dimas Abdirama
„Labaik, Allahuma Labaik!“ pekikku dalam hati saat pesawat Egypt Air kami mendarat dengan selamat di Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah. Setelah menunggu sampai mesin benar-benar berhenti, rombongan haji asal Berlin yang dikomandoi oleh Brüder Ali mulai menuruni anak-anak tangga pesawat dan menginjakkan kaki di bumi Bagina Nabi.
Semilir angin gurun yang panas menampar wajah-wajah kami yang kuyu kelelahan. Ku pandangi lapangan terbang ini sesaat, melihat hitamnya malam yang tercahayai lampu-lampu neon putih. Ku bergumam di jiwaku, mensyukuri nikmat Illahi yang tiada henti ku dapati. Hingga akhirnya aku sampai pada detik ini, untuk memenuhi panggilanNya ke tanah suci.
Richard, muallaf Jerman yang akan menjadi teman satu kamarku di perjalan haji ini mengingatkanku untuk segera masuk ke dalam gedung bandara dan melakukan proses administrasi. Tak lama rombongan kami sudah menaiki bis untuk perjalanan ke hotel yang persis terletak di depan Masjid Nabawi. Kami memang mengunjungi Madinah terlebih dahulu sebelum bertolak ke Makkah minggu depan.
Sunday, November 16, 2008
Tips Menjaga Pameran
Kategori: Artikel
Mungkin kalian sudah pernah berkunjung ke sebuah Messe (pameran)? Entah itu pameran pariwisata, budaya, perdagangan, pendidikan, bahkan sampai pameran barang. Di sana kalian akan bertemu dengan seorang penjaga pameran yang siap memberikan kalian informasi-informasi dari barang atau jasa yang dipamerkan.
Sebuah instansi atau badan biasanya akan menginvestasikan dana yang cukup besar untuk ikut serta dalam sebuah kegiatan pameran. Tentunya dengan harapan bahwa mereka akan mendapat banyak peminat atau pelanggan untuk produk mereka, atau paling tidak produk mereka sudah dikenal di khalayak umum. Di sebuah pameran, biasanya produk-produk tersebut dipresentasikan sebaik mungkin. Di sinilah pentingnya peran seorang penjaga pameran.
Saya beberapa kali sempat menjadi penjaga pameran dan menjadi pengunjung pameran. Setelah mengamati, sampailah saya pada tulisan ini, sebagai tips untuk kalian yang berminat mendapatkan pengalaman bekerja di sebuah pameran.
Mungkin kalian sudah pernah berkunjung ke sebuah Messe (pameran)? Entah itu pameran pariwisata, budaya, perdagangan, pendidikan, bahkan sampai pameran barang. Di sana kalian akan bertemu dengan seorang penjaga pameran yang siap memberikan kalian informasi-informasi dari barang atau jasa yang dipamerkan.
Sebuah instansi atau badan biasanya akan menginvestasikan dana yang cukup besar untuk ikut serta dalam sebuah kegiatan pameran. Tentunya dengan harapan bahwa mereka akan mendapat banyak peminat atau pelanggan untuk produk mereka, atau paling tidak produk mereka sudah dikenal di khalayak umum. Di sebuah pameran, biasanya produk-produk tersebut dipresentasikan sebaik mungkin. Di sinilah pentingnya peran seorang penjaga pameran.
Saya beberapa kali sempat menjadi penjaga pameran dan menjadi pengunjung pameran. Setelah mengamati, sampailah saya pada tulisan ini, sebagai tips untuk kalian yang berminat mendapatkan pengalaman bekerja di sebuah pameran.
Sunday, October 19, 2008
Mengajar Bahasa Indonesia
Kategori: My Side
Mulai minggu ini saya punya aktivitas baru, yaitu mengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing di KBRI Berlin. Terus terang saya sangat tertarik serta antusias untuk pekerjaan ini, karena ini merupakan pengalaman pertama saya mengajar bahasa secara formal, terlebih di sini saya dituntut menggunakan dua bahasa, yaitu Jerman dan Indonesia. Kadang-kadang keluar juga Bahasa Inggris kalau ada beberapa kosa kata yang tidak saya pahami di Bahasa Jerman.
Sebelumnya saya berpikir, kok saya jadi sering berkecimpung di dunia bahasa ya? Padahal latar belakang saya kan semestinya insinyur di bidang bioteknologi? Dua tahun saya menjalani pekerjaan di TU Berlin yang setiap hariya sprechen Deutsch, sekarang ditambah mengajar bahasa lagi di KBRI, jadi kapan saya bekerja sesuai dengan bidang saya? Ya, nggak apa-apa, alhamdulillah bisa terhitung sebagai pengalaman. Mudah-mudahan manfaat. Yang penting kita senang dengan pekerjaan itu, karena kalau kita senang, maka kita akan mengerjakannya dengan sepenuh hati dan profesional serta memberikan yang terbaik yang mampu kita beri.
Mulai minggu ini saya punya aktivitas baru, yaitu mengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing di KBRI Berlin. Terus terang saya sangat tertarik serta antusias untuk pekerjaan ini, karena ini merupakan pengalaman pertama saya mengajar bahasa secara formal, terlebih di sini saya dituntut menggunakan dua bahasa, yaitu Jerman dan Indonesia. Kadang-kadang keluar juga Bahasa Inggris kalau ada beberapa kosa kata yang tidak saya pahami di Bahasa Jerman.
Sebelumnya saya berpikir, kok saya jadi sering berkecimpung di dunia bahasa ya? Padahal latar belakang saya kan semestinya insinyur di bidang bioteknologi? Dua tahun saya menjalani pekerjaan di TU Berlin yang setiap hariya sprechen Deutsch, sekarang ditambah mengajar bahasa lagi di KBRI, jadi kapan saya bekerja sesuai dengan bidang saya? Ya, nggak apa-apa, alhamdulillah bisa terhitung sebagai pengalaman. Mudah-mudahan manfaat. Yang penting kita senang dengan pekerjaan itu, karena kalau kita senang, maka kita akan mengerjakannya dengan sepenuh hati dan profesional serta memberikan yang terbaik yang mampu kita beri.
Monday, September 22, 2008
Dimas, Allah Sayang Sama Kamu
Kategori: My Side
Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Yaa Allah, yaa Rahmaan, yaa Rahiim.
Cerita ini dimulai dari satu semester yang lalu. Saya mengalami beberapa musibah dengan gagalnya saya di beberapa ujian. Saya menata hati, menata rencana, menata pola belajar. Seiring berjalannya waktu, saya terbuai dengan beberapa kesibukan yang datang silih berganti. Sedari dulu saya tidak suka menyalahkan kesibukan dengan prestasi kuliah, karena nyatanya banyak orang yang sibuk, tapi mereka tetap bisa sukses di kampus, padahal kita sama-sama mempunyai 24 jam satu hari satu malam. Saya berpikir, ini kesalahan klasik, kesalahan saya mengatur waktu dan membuat skala prioritas.
Awal tahun ini, saya sempat jatuh menerima keadaan bahwa saya harus mengikuti dua buah ujian penentuan. Ya, penentuan eksistensi saya di Jerman ini, karena jika saya gagal lagi, maka saya harus merubah total rencana hidup saya ke depan: saya harus angkat kaki dari negeri yang indah ini. Sejak itu, saya berazzam, bahwa keberhasilan adalah sebuah resultan dari usaha yang sungguh-sungguh sampai batas klimaks, dan doa serta kedekatan dengan Allah yang tak boleh terhalangi dengan kelalaian dan kemaksiatan. Mulailah pola hidup saya yang baru, pola hidup mahasiswa yang haus akan ilmu, yang sadar bahwa kesuksesan bukanlah berbentuk hadiah yang jatuh dari langit.
Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Yaa Allah, yaa Rahmaan, yaa Rahiim.
Cerita ini dimulai dari satu semester yang lalu. Saya mengalami beberapa musibah dengan gagalnya saya di beberapa ujian. Saya menata hati, menata rencana, menata pola belajar. Seiring berjalannya waktu, saya terbuai dengan beberapa kesibukan yang datang silih berganti. Sedari dulu saya tidak suka menyalahkan kesibukan dengan prestasi kuliah, karena nyatanya banyak orang yang sibuk, tapi mereka tetap bisa sukses di kampus, padahal kita sama-sama mempunyai 24 jam satu hari satu malam. Saya berpikir, ini kesalahan klasik, kesalahan saya mengatur waktu dan membuat skala prioritas.
Awal tahun ini, saya sempat jatuh menerima keadaan bahwa saya harus mengikuti dua buah ujian penentuan. Ya, penentuan eksistensi saya di Jerman ini, karena jika saya gagal lagi, maka saya harus merubah total rencana hidup saya ke depan: saya harus angkat kaki dari negeri yang indah ini. Sejak itu, saya berazzam, bahwa keberhasilan adalah sebuah resultan dari usaha yang sungguh-sungguh sampai batas klimaks, dan doa serta kedekatan dengan Allah yang tak boleh terhalangi dengan kelalaian dan kemaksiatan. Mulailah pola hidup saya yang baru, pola hidup mahasiswa yang haus akan ilmu, yang sadar bahwa kesuksesan bukanlah berbentuk hadiah yang jatuh dari langit.
Tuesday, July 29, 2008
Cinta di Taman Surga
Kategori: Puisi
Percaya atau tidak, aku sudah mengenalmu lebih dulu sebelum kamu mengenalku
Aku sudah tahu siapa kamu sebelum kamu tahu siapa aku
Jauh sebelum kita bertatap temu
Lalu aku berharap, semoga Allah menakdirkan kita bersama dalam perjuangan menegakkan kalimat-Nya
Bersama dalam tugas menyeru yang dititahkan kepada hamba-hamba yang dipilih-Nya
Dan Allah mengabulkan doaku, sore itu, ketika kita bertemu di sebuah taman surga
Taman yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah
Taman yang dilindungi oleh kepakan-kepakan sayap malaikat tentara Allah
Taman tempat kita berbagi ilmu, berwasiat dalam hak dan kesabaran
Seiring doaku, semoga Allah meneguhkan hatimu
Ana uhibbukum fillah
Volkswagen-Bibliothek
Berlin Charlottenburg, 2008.
Percaya atau tidak, aku sudah mengenalmu lebih dulu sebelum kamu mengenalku
Aku sudah tahu siapa kamu sebelum kamu tahu siapa aku
Jauh sebelum kita bertatap temu
Lalu aku berharap, semoga Allah menakdirkan kita bersama dalam perjuangan menegakkan kalimat-Nya
Bersama dalam tugas menyeru yang dititahkan kepada hamba-hamba yang dipilih-Nya
Dan Allah mengabulkan doaku, sore itu, ketika kita bertemu di sebuah taman surga
Taman yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah
Taman yang dilindungi oleh kepakan-kepakan sayap malaikat tentara Allah
Taman tempat kita berbagi ilmu, berwasiat dalam hak dan kesabaran
Seiring doaku, semoga Allah meneguhkan hatimu
Ana uhibbukum fillah
Volkswagen-Bibliothek
Berlin Charlottenburg, 2008.
Subscribe to:
Posts (Atom)