Kategori: Curhat
„Pada umur berapa orang Indonesia sudah dikatakan dewasa?“ tanya salah satu temanku, Kazaoki, ketika kami makan siang bersama di mensa. „Tujuh belas“ jawabku. Dia mengerutkan dahi. „Di Jepang umur segitu masih tergolong muda“ jawabnya. Aku membalas seadanya, „Orang Indonesia baru mendapatkan Kartu Tanda Penduduk ketika berumur tujuh belas“.
Memang standar umur kedewasaan di setiap negara itu berbeda. Di Jerman misalnya, seseorang baru dikatakan dewasa ketika berumur delapan belas tahun. Waktu aku pertama kali menginjakkan kaki di Jerman, umurku masih tujuh belas tahun. Memang agak sulit prosedur untuk ‚anak di bawah umur’ seperti aku ini. Contohnya ketika meng-apply visa, aku harus melampirkan surat keluarga, fotokopi KTP ayah dan ibuku, sampai akte kelahiran. Teman-temanku yang kala itu sudah delapan belas tahun keatas tidak perlu melampirkan surat-surat tersebut.
Sesampainya di Jerman pun masih sulit. Aku tidak bisa membuka rekening di bank karena umurku yang belum penuh. Akhirnya aku ‚numpang’ dengan rekening temanku untuk sementara waktu. Di Jerman, seseorang baru mendapat kartu tanda penduduk, boleh berpisah rumah dengan kedua orang tuanya, boleh membuka rekening di bank, dan boleh boleh lainnya, jika orang itu benar-benar telah berumur penuh.
Empat hari yang lalu aku membantu pindahan seorang teman, namanya David, orang Jerman asli. Umur kami hanya terpaut satu tahun. Saat ini dia berusia dua puluh tahun. Dia berperilaku selayaknya remaja-remaja seusia kami. Di hari itu aku sempat satu mobil yang dikendarai oleh temannya (bernama Daniel). Kebut-kebutan, membicarakan merek mobil, dan membahas pelajaran-pelajaran di kampus mengisi perjalanan kami. Singkat kata, mereka masih berjiwa remaja, tetapi mereka sudah tinggal terpisah dengan orang tuanya dan menentukan hidup mereka sendiri.
Sebenarnya, apa sih definisi kedewasaan? Menurutku, kedewasaan itu ada dua bentuk. Kedewasaan psikis dan kedewasaan biologis. Dan kebanyakan orang cenderung lebih melihat kedewasaan biologis. Contohnya ya itu tadi, ketika aku belum bisa membuat rekening bank karena umur yang tidak memungkinkan, berarti pihak bank melihat patokan sebuah kedewasaan dari segi biologis.
Kedewasaan psikis tak jarang sudah lebih dulu hadir sebelum kedewasaan biologis. Seperti contoh kisah dari seorang khalifah dari dinasti Ummayah – Umar bin Abdul Azis, yang pada umur 24 tahun telah diberi kepercayaan menjadi gubernur Madinah dan beberapa tahun berikutnya menjadi pemimpin dinasti Ummayah yang membentang dari Samudra Atlantik sampai dengan Dataran Tinggi Pamir.
Agaknya sulit memisahkan antara kedewasaan biologis dengan kedewasaan psikis. Keduanya dituntut berkembang secara bersamaan. Dan hal itulah, menurutku lagi, adalah salah satu tugas yang cukup berat dalam kehidupan, dimana kita harus menyelaraskan kedua kedewasaan yang kita miliki, melalui beragam proses dan tahap yang tiap saat kita alami.
Wallahu’alam bishawab.
Setiap detik adalah makna, setiap masa adalah rasa, sulit membayangkan bahwa manusia tidaklah istimewa, perjalanan kita, dalam arus debu aksara - Dimas Abdirama
Monday, December 19, 2005
Thursday, December 15, 2005
Mengapa Saya Suka Menulis?
Kategori: Curhat
Artikel kali ini bisa dibilang tidak begitu penting, karena hanya mengulas mengapa saya senang menulis. Bagi yang tidak tertarik untuk mengetahui seluk beluk diri saya atau siapakah saya, lebih baik tunggu saja artikel-artikel lain yang akan muncul di blog ini (hehehe). Tapi bagi yang neugirig tentang kehidupan saya dan ingin mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang saya (mungkin kalian adalah secret admirer saya... hehehe) silahkan baca tuntas artikel ini.
Semua diawali dari tahun 2002, saya mulai senang membuat puisi. Mungkin saya adalah salah satu korban pemutaran film Ada Apa Dengan Cinta (2002) yang menyihir para remaja di ibukota dan tempat-tempat lainnya menjadi puitis. Berdasarkan hasil survey (dari mana sumbernya lupa) penjualan buku-buku puisi dan sastra Indonesia meningkat tajam pasca pemutaran film AADC. Sebutlah salah satu teman SMA saya, berinisial AA, jadi seperti Rangga (tokoh di AADC – red) yang suka nulis-nulis puisi di buku harian. Itu baru satu contoh. Contoh yang lain masih banyak. Jika kalian berasal dari salah satu SMA di Jakarta, pasti kalian banyak menemukan kasus-kasus yang serupa dengan ini bukan? Atau jangan-jangan kalianlah salah satu pelaku dalam kasus tersebut?
Fenomena ini membuat senang guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah-sekolah. Sebuah semangat melestarikan bahasa, pikir mereka. Berikut saya beri contoh salah satu tipikal puisi yang dibuat murni oleh beberapa remaja saat itu.
Dalam denting aku terdiam
Dalam kokoh aku rapuh
Sayup sayup suaramu
Meratakan perasaan di balik para sanubari
Lempar saja tubuhku dalam api
Biar terbakar sampai berabu
Tapi semangat saya menulis puisi saat itu bukan dipengaruhi oleh pemutaran film AADC. Menurut psikologi, saya ini termasuk golongan orang Ginestetik, yang banyak bermain dengan perasaan. Saya ingin mengungkapkan sesuatu, yang saya tidak berani (oleh karena beberapa alasan) mengungkapkannya secara gamblang. Jadilah saya mencari jalan lain untuk mengungkapkanya, dengan bermain kata-kata dan menyusunnya dalam kalimat-kalimat sederhana, padat, namun bermakna. Ya puisi itu.
Ketika tahun 2002, umur saya masih 16 tahun. Egoisme remaja masih bergejolak. Perasaan-perasaan seperti cinta, persahabatan, amarah, dan lainnya begitu banyak datang dan membekas. Sehingga ingin rasanya untuk meluapkannya lewat tulisan yang bisa dinikmati kapan saja. FYI, saya juga termasuk orang yang menulis buku harian lho. Dari tahun 2001, tiap hari hidup saya selalu saya tulis di buku harian. Sampai September 2005, tepatnya setelah kembali lagi ke Berlin, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan mengisi buku harian lagi. Semua terekam jelas. Hari ini saya sedang apa, pergi kemana saja, bertemu siapa saja, lengkap tertulis di buku harian. Mungkin itu juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan saya senang meluapkan perasaan melalui menulis.
Puisi itu simpel. Tapi maknanya dalam. Dan intrepetasi orang bisa berbeda karena keluasan maknanya. Puisi itu bisa merekam getaran rasa, dan keadaan si pembuat puisi, dan bisa mengatakannya kepada si pembaca. That’s why I like writing and reading poem!
Trend pun berubah, seiring berkembangnya jaman. Saya masih senang membuat puisi tapi tidak sesering dulu. Sekarang saya lebih suka memperhatikan. Tepatnya memperhatikan karakter orang-orang di sekeliling. Saya hidup di berbagai komunitas. Contohnya komunitas Indonesia dan komunitas kampus. Di kampus sendiri, tidak hanya orang Jerman, tapi juga orang-orang dari negara-negara lain. Mereka membawa karakter-karakter yang berbeda dan punya keistimewaan. Dari situlah saya berimajinasi (FYI, berimajinasi adalah salah satu hobby saya) untuk mempertemukan si pemilik karakter A dengan si pemilik karakter B dalam dunia yang saya buat sendiri lengkap bersama problematika yang muncul di antara keduanya. Jadilah Cerpen atau cerita pendek. Tidak dapat dipungkiri, bahwa cerpen itu banyak berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh si pembuat cerpen, dengan perubahan seperlunya. Contohnya, jika dalam kehidupan nyata orang yang memiliki karakter A berjenis kelamin perempuan, saya buat dalam cerpen saya berjenis kelamin laki-laki. Atau saya menempatkan diri saya bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh pendukung, dan lain sebagainya.
Intinya, dengan menulis, saya memiliki tempat untuk meluapkan berbagai rasa yang ada dalam diri saya. Saya selalu beranggapan bahwa menulis merupakan salah satu bentuk seni, walaupun anggapan saya ini lebih banyak cenderung lari dari kenyataan, bahwa saya tidak punya aliran seni apapun dalam tubuh saya... hehehe... ayah saya seniman sekali, tapi saya tidak bisa bernyanyi, bermain alat musik (padahal di kamar saya di Jakarta ada sebuah gitar, tapi bukan saya yang banyak memainkannya, melainkan ayah saya atau teman-teman saya), atau melukis atau juga fotografi. Jadi saya beranggapan, meluapkan rasa melalui bahasa juga termasuk seni. Jadi saya pun juga punya aliran seni. Ya kan?
Namun kita harus ingat, bahwa menulis juga penuh resiko. Dalam e-mail yang saya dapatkan dari seorang teman beberapa hari yang lalu, akrobat kata-kata dan sirkus retorika bisa jadi bumerang untuk diri sendiri yang siap memenggal leher kita sewaktu-waktu, dan juga bisa membuahkan rasa benci pada orang lain dan bukan membuat mereka tambah berkasih sayang. Hmmm...
Biar gimanapun, menulis itu menyenangkan. Yuk banyak menulis!
Artikel kali ini bisa dibilang tidak begitu penting, karena hanya mengulas mengapa saya senang menulis. Bagi yang tidak tertarik untuk mengetahui seluk beluk diri saya atau siapakah saya, lebih baik tunggu saja artikel-artikel lain yang akan muncul di blog ini (hehehe). Tapi bagi yang neugirig tentang kehidupan saya dan ingin mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang saya (mungkin kalian adalah secret admirer saya... hehehe) silahkan baca tuntas artikel ini.
Semua diawali dari tahun 2002, saya mulai senang membuat puisi. Mungkin saya adalah salah satu korban pemutaran film Ada Apa Dengan Cinta (2002) yang menyihir para remaja di ibukota dan tempat-tempat lainnya menjadi puitis. Berdasarkan hasil survey (dari mana sumbernya lupa) penjualan buku-buku puisi dan sastra Indonesia meningkat tajam pasca pemutaran film AADC. Sebutlah salah satu teman SMA saya, berinisial AA, jadi seperti Rangga (tokoh di AADC – red) yang suka nulis-nulis puisi di buku harian. Itu baru satu contoh. Contoh yang lain masih banyak. Jika kalian berasal dari salah satu SMA di Jakarta, pasti kalian banyak menemukan kasus-kasus yang serupa dengan ini bukan? Atau jangan-jangan kalianlah salah satu pelaku dalam kasus tersebut?
Fenomena ini membuat senang guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah-sekolah. Sebuah semangat melestarikan bahasa, pikir mereka. Berikut saya beri contoh salah satu tipikal puisi yang dibuat murni oleh beberapa remaja saat itu.
Dalam denting aku terdiam
Dalam kokoh aku rapuh
Sayup sayup suaramu
Meratakan perasaan di balik para sanubari
Lempar saja tubuhku dalam api
Biar terbakar sampai berabu
Tapi semangat saya menulis puisi saat itu bukan dipengaruhi oleh pemutaran film AADC. Menurut psikologi, saya ini termasuk golongan orang Ginestetik, yang banyak bermain dengan perasaan. Saya ingin mengungkapkan sesuatu, yang saya tidak berani (oleh karena beberapa alasan) mengungkapkannya secara gamblang. Jadilah saya mencari jalan lain untuk mengungkapkanya, dengan bermain kata-kata dan menyusunnya dalam kalimat-kalimat sederhana, padat, namun bermakna. Ya puisi itu.
Ketika tahun 2002, umur saya masih 16 tahun. Egoisme remaja masih bergejolak. Perasaan-perasaan seperti cinta, persahabatan, amarah, dan lainnya begitu banyak datang dan membekas. Sehingga ingin rasanya untuk meluapkannya lewat tulisan yang bisa dinikmati kapan saja. FYI, saya juga termasuk orang yang menulis buku harian lho. Dari tahun 2001, tiap hari hidup saya selalu saya tulis di buku harian. Sampai September 2005, tepatnya setelah kembali lagi ke Berlin, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan mengisi buku harian lagi. Semua terekam jelas. Hari ini saya sedang apa, pergi kemana saja, bertemu siapa saja, lengkap tertulis di buku harian. Mungkin itu juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan saya senang meluapkan perasaan melalui menulis.
Puisi itu simpel. Tapi maknanya dalam. Dan intrepetasi orang bisa berbeda karena keluasan maknanya. Puisi itu bisa merekam getaran rasa, dan keadaan si pembuat puisi, dan bisa mengatakannya kepada si pembaca. That’s why I like writing and reading poem!
Trend pun berubah, seiring berkembangnya jaman. Saya masih senang membuat puisi tapi tidak sesering dulu. Sekarang saya lebih suka memperhatikan. Tepatnya memperhatikan karakter orang-orang di sekeliling. Saya hidup di berbagai komunitas. Contohnya komunitas Indonesia dan komunitas kampus. Di kampus sendiri, tidak hanya orang Jerman, tapi juga orang-orang dari negara-negara lain. Mereka membawa karakter-karakter yang berbeda dan punya keistimewaan. Dari situlah saya berimajinasi (FYI, berimajinasi adalah salah satu hobby saya) untuk mempertemukan si pemilik karakter A dengan si pemilik karakter B dalam dunia yang saya buat sendiri lengkap bersama problematika yang muncul di antara keduanya. Jadilah Cerpen atau cerita pendek. Tidak dapat dipungkiri, bahwa cerpen itu banyak berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh si pembuat cerpen, dengan perubahan seperlunya. Contohnya, jika dalam kehidupan nyata orang yang memiliki karakter A berjenis kelamin perempuan, saya buat dalam cerpen saya berjenis kelamin laki-laki. Atau saya menempatkan diri saya bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh pendukung, dan lain sebagainya.
Intinya, dengan menulis, saya memiliki tempat untuk meluapkan berbagai rasa yang ada dalam diri saya. Saya selalu beranggapan bahwa menulis merupakan salah satu bentuk seni, walaupun anggapan saya ini lebih banyak cenderung lari dari kenyataan, bahwa saya tidak punya aliran seni apapun dalam tubuh saya... hehehe... ayah saya seniman sekali, tapi saya tidak bisa bernyanyi, bermain alat musik (padahal di kamar saya di Jakarta ada sebuah gitar, tapi bukan saya yang banyak memainkannya, melainkan ayah saya atau teman-teman saya), atau melukis atau juga fotografi. Jadi saya beranggapan, meluapkan rasa melalui bahasa juga termasuk seni. Jadi saya pun juga punya aliran seni. Ya kan?
Namun kita harus ingat, bahwa menulis juga penuh resiko. Dalam e-mail yang saya dapatkan dari seorang teman beberapa hari yang lalu, akrobat kata-kata dan sirkus retorika bisa jadi bumerang untuk diri sendiri yang siap memenggal leher kita sewaktu-waktu, dan juga bisa membuahkan rasa benci pada orang lain dan bukan membuat mereka tambah berkasih sayang. Hmmm...
Biar gimanapun, menulis itu menyenangkan. Yuk banyak menulis!
Sunday, December 04, 2005
Allah Dekat Selalu!
Kategori: Curhat
Ketika hari itu aku merasa sangat dekat denganMu, semua terasa menjadi indah. Aku tak lagi merasa kesepian, karena aku tahu Kau sedang mengamati aku. Aku tidak lagi memiliki rasa takut, karena aku yakin Kau melindungiku. Aku seperti seorang pencinta yang menemukan kekasihnya.
Namun tak lama, rasa itu semakin tak berasa. Aku sadar, bahwa aku semakin jauh dariMu. Bukan Kau yang menjauhiku, tetapi aku yang bergerak mundur menjauhiMu. Kini semua menjadi hampa, hatiku perlahan tumpul, tubuhku dengan sadar melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang dulu tak berani aku lakukan karenaMu.
Aku sadar, Kau lah yang mengendalikan hatiku. Aku selalu memohon padamu, Ya Rabb, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu berada pada jalanMu. Namun semua masih terlalu sulit. Sulit sekali aku mendekatiMu seperti dulu.
Aku tahu, Kau mencintaiku, oleh karena itu, Kau berikan cobaan-cobaan mengunjungi diriku. Kau uji aku seberapa besar cintaku padaMu. Kini semua aku yang harus menjawab, sanggupkah aku melewati ujianku?
Yaa Rabb, Kau tahu diri ini lemah, tapi aku tahu aku mampu melewati segala cobaan yang Kau berikan, karena tak mungkin Kau berikan cobaan tanpa aku mampu melewatinya.
Aku teringat sebuah lagu yang pernah dinyanyikan di hari ulang tahunku yang ke-18. Memang tak pantas lagu itu menggambarkanMu berkata dan menjawab, namun setidaknya, lagu itu membangkitkan kembali rasa cintaku pada-Mu, dan berharap dapat memberikan semua jiwa raga secara utuh untukMu.
Pernah aku bertanya
Allah, Engkau di mana?
Dia pun berkata
Aku dekat saja
Pernah aku bertanya
Allah, Engkau di mana?
Dia pun menjawab
Aku dekat selalu
Segala langkah yang kutempuh hendak lah tuju pada-Nya
Karena jika bukan karena-Nya, semua kan tersia
Bila kuluruskan niatku, Allah kan selamatkanku
Kutanamkan dalam hatiku
ALLAH DEKAT SELALU
Ketika hari itu aku merasa sangat dekat denganMu, semua terasa menjadi indah. Aku tak lagi merasa kesepian, karena aku tahu Kau sedang mengamati aku. Aku tidak lagi memiliki rasa takut, karena aku yakin Kau melindungiku. Aku seperti seorang pencinta yang menemukan kekasihnya.
Namun tak lama, rasa itu semakin tak berasa. Aku sadar, bahwa aku semakin jauh dariMu. Bukan Kau yang menjauhiku, tetapi aku yang bergerak mundur menjauhiMu. Kini semua menjadi hampa, hatiku perlahan tumpul, tubuhku dengan sadar melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang dulu tak berani aku lakukan karenaMu.
Aku sadar, Kau lah yang mengendalikan hatiku. Aku selalu memohon padamu, Ya Rabb, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu berada pada jalanMu. Namun semua masih terlalu sulit. Sulit sekali aku mendekatiMu seperti dulu.
Aku tahu, Kau mencintaiku, oleh karena itu, Kau berikan cobaan-cobaan mengunjungi diriku. Kau uji aku seberapa besar cintaku padaMu. Kini semua aku yang harus menjawab, sanggupkah aku melewati ujianku?
Yaa Rabb, Kau tahu diri ini lemah, tapi aku tahu aku mampu melewati segala cobaan yang Kau berikan, karena tak mungkin Kau berikan cobaan tanpa aku mampu melewatinya.
Aku teringat sebuah lagu yang pernah dinyanyikan di hari ulang tahunku yang ke-18. Memang tak pantas lagu itu menggambarkanMu berkata dan menjawab, namun setidaknya, lagu itu membangkitkan kembali rasa cintaku pada-Mu, dan berharap dapat memberikan semua jiwa raga secara utuh untukMu.
Pernah aku bertanya
Allah, Engkau di mana?
Dia pun berkata
Aku dekat saja
Pernah aku bertanya
Allah, Engkau di mana?
Dia pun menjawab
Aku dekat selalu
Segala langkah yang kutempuh hendak lah tuju pada-Nya
Karena jika bukan karena-Nya, semua kan tersia
Bila kuluruskan niatku, Allah kan selamatkanku
Kutanamkan dalam hatiku
ALLAH DEKAT SELALU
Tuesday, November 15, 2005
Tata Surya
Autor: Adhipati Yudhistira Indradiningrat
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Apa kabar temen2 semua? Mudah2an tetap istiqomah berjuang di jalan kebenaran. Mudah2an pula perjuangan tersebut mendapat ridha Allah SWT, dan kita pun senantiasa mendapat rahmat-Nya.. amiin.
Jadi ceritanya, saya baru mendapatkan tambahan ilmu setelah membaca salah satu majalah ilmu pengetahuan, yang masya Allah benar2 menambah bukti kekuasaan 4JJ1 SWT. Dan saya ingin membagi ilmu ini sama teman2 semua.. Kalau ada yang ternyata udh tahu, mohon maaf, memang saya yang masih kurang giat mencari ilmu..
Artikel ini berkisar ttg bumi dan tata surya kita. Poin-poin yang mengagumkan tsb adalah :
1. Seperti yang mungkin kebanyakan dari kita sudah mengetahui, tata surya kita (yang di dalamnya ada Bumi tempat kita hidup) "berkelana" dalam galaksi Bima Sakti dengan kecepatan 220 km/detik dengan tujuan yang tak diketahui. Nah, menurut keterangan para ahli astronomi, kemungkinan perjalanan ini selamat tanpa cacat adalah 1 : 1 000 000 000. Dikarenakan, di "tetangga langsung" dr tata surya kita ada satu trilyun Komet, 2 juta asteroid. Ditambah dengan Ledakan-Ledakan Bintang yang dalam beberapa detik saja bisa mengeluarkan beberapa kali lipat energie yang dihasilkan matahari kita selama hidupnya.
Bukankan sangat wajar sekali jika kita bersyukur, dari kemungkinan satu banding semiliar tsb, sampai saat ini masih kemungkinan yang satu alias yang selamat yang terjadi...
2. Pada tanggal 27 Desember 2004 pukul 22.30 dan 36 detik, bumi kita hanya terhindar beberapa derajat dari ledakan bintang yang disebut "Gamma Ray Burst" ini. Total 14 detektor Röntgen dan Gamma di luar angakasa mencatat gelombang yang dalam 0,2 detik mengeluarkan energie yang sebanding dengan energie yang dihasilkan matahari selama 250 000 tahun.
3. Nah, ini yang benar2 membuat saya takjub. Ternyata setiap planet dalam tata surya kita mempunyai peranannya sendiri dalam melindungi bumi. Jadi bukan sembarang "jalan2" di tata surya tanpa maksud. Jika salah satu saja dari planet ini mempunyai orbit yang lain, maka bumi sudah menjadi "planet mati".
Neptun : dgn massanya yang luar biasa besar, dahulu kala (udh kaya dongeng aja.. ;p) Neptun menggeser planet2 yang lain, membuat keteraturan dalam tata surya. Tanpa "dia", planet yang lain akan memiliki orbit yang berbeda, dan tak bisa "melindungi" bumi.
Uranus : Uranus "menagkap" tembakan2 batuan terbesar yang mengarah ke bumi, dan membelokkannya ke arah Kuiperguertel (gak tau nama indonya), suatu tempat diantara Planet2 Luar yang bisa dibilang sebuah "Neverland". Dan dalam tempat itu, btuan2 besar tersebut "berkelana" tanpa menimbulkan bahaya.
Saturnus : Dengan cincinnya, saturnus menahan tembakan2 batuan2 kecil. Tanpa planet ini, bumi akan konstan menjadi sasaran empuk, dibombardir oleh batuan2 tsb.
Jupiter : gaya tarik Jupiter lebih kuat 20 000 kali dari bumi. Dengan itu, planet ini mengubah jalur asteroid2 dan komet2 dan mencegah agar asteroid dan komet tsb tidak mengarah ke bumi.
Mars : memenuhi segala syarat untuk menjadi "Bumi kedua".
Venus : menjadi korban pertama efek rumah kaca dr matahari. Sekarang ini venus adalah objek penelitian terpenting untuk para peneliti iklim. Dalam meneliti akibat2 apa yang dihasilkan dari "kesalahan" iklim.
Merkuri : hanya dalam 88 hari mengelilingi matahari, dan karenanya seperti sebuah pelindung bergerak, menangkap "angin matahari (?? skali lagi, gak tau nama indonya, bhs jermannya Sonnenwind). Bagian2 bermuatan listrik dr Sonnenwind ini dapat mengakibatkan kerusakan besar terhadap bumi.
Bulan (walaupun bukan planet, tp nimbrung boleh kan.. ;p) : peranannya adalah, agar semua region di bumi, walaupun dgn intensitas yg berbeda, disinari oleh matahari secara teratur.
Subhanallah!! Di balik keteraturan yang demikian luar biasa ini pastilah ada "tangan" yang mengaturnya. Dia-lah 4JJ1 SWT yang Maha Kuasa yang telah menciptakan alam semesta dan menciptakan pula keteraturan di dalamnya.
Kalau kita renungi, di saat manusia bermalas2an, bersenang2, having fun di klub2, mal2, party2, tanpa memikirkan apa yang akan ada di kehidupan selanjutnya... planet2 yang ada di tata surya ini selalu "melindungi" bumi ini dengan peranannya masing2, di bwh perintah Allah SWT. Ternyata.. manusia itu memang benar2 bodoh dan egois ya....
Sekian..
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
-u'r brother-
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Apa kabar temen2 semua? Mudah2an tetap istiqomah berjuang di jalan kebenaran. Mudah2an pula perjuangan tersebut mendapat ridha Allah SWT, dan kita pun senantiasa mendapat rahmat-Nya.. amiin.
Jadi ceritanya, saya baru mendapatkan tambahan ilmu setelah membaca salah satu majalah ilmu pengetahuan, yang masya Allah benar2 menambah bukti kekuasaan 4JJ1 SWT. Dan saya ingin membagi ilmu ini sama teman2 semua.. Kalau ada yang ternyata udh tahu, mohon maaf, memang saya yang masih kurang giat mencari ilmu..
Artikel ini berkisar ttg bumi dan tata surya kita. Poin-poin yang mengagumkan tsb adalah :
1. Seperti yang mungkin kebanyakan dari kita sudah mengetahui, tata surya kita (yang di dalamnya ada Bumi tempat kita hidup) "berkelana" dalam galaksi Bima Sakti dengan kecepatan 220 km/detik dengan tujuan yang tak diketahui. Nah, menurut keterangan para ahli astronomi, kemungkinan perjalanan ini selamat tanpa cacat adalah 1 : 1 000 000 000. Dikarenakan, di "tetangga langsung" dr tata surya kita ada satu trilyun Komet, 2 juta asteroid. Ditambah dengan Ledakan-Ledakan Bintang yang dalam beberapa detik saja bisa mengeluarkan beberapa kali lipat energie yang dihasilkan matahari kita selama hidupnya.
Bukankan sangat wajar sekali jika kita bersyukur, dari kemungkinan satu banding semiliar tsb, sampai saat ini masih kemungkinan yang satu alias yang selamat yang terjadi...
2. Pada tanggal 27 Desember 2004 pukul 22.30 dan 36 detik, bumi kita hanya terhindar beberapa derajat dari ledakan bintang yang disebut "Gamma Ray Burst" ini. Total 14 detektor Röntgen dan Gamma di luar angakasa mencatat gelombang yang dalam 0,2 detik mengeluarkan energie yang sebanding dengan energie yang dihasilkan matahari selama 250 000 tahun.
3. Nah, ini yang benar2 membuat saya takjub. Ternyata setiap planet dalam tata surya kita mempunyai peranannya sendiri dalam melindungi bumi. Jadi bukan sembarang "jalan2" di tata surya tanpa maksud. Jika salah satu saja dari planet ini mempunyai orbit yang lain, maka bumi sudah menjadi "planet mati".
Neptun : dgn massanya yang luar biasa besar, dahulu kala (udh kaya dongeng aja.. ;p) Neptun menggeser planet2 yang lain, membuat keteraturan dalam tata surya. Tanpa "dia", planet yang lain akan memiliki orbit yang berbeda, dan tak bisa "melindungi" bumi.
Uranus : Uranus "menagkap" tembakan2 batuan terbesar yang mengarah ke bumi, dan membelokkannya ke arah Kuiperguertel (gak tau nama indonya), suatu tempat diantara Planet2 Luar yang bisa dibilang sebuah "Neverland". Dan dalam tempat itu, btuan2 besar tersebut "berkelana" tanpa menimbulkan bahaya.
Saturnus : Dengan cincinnya, saturnus menahan tembakan2 batuan2 kecil. Tanpa planet ini, bumi akan konstan menjadi sasaran empuk, dibombardir oleh batuan2 tsb.
Jupiter : gaya tarik Jupiter lebih kuat 20 000 kali dari bumi. Dengan itu, planet ini mengubah jalur asteroid2 dan komet2 dan mencegah agar asteroid dan komet tsb tidak mengarah ke bumi.
Mars : memenuhi segala syarat untuk menjadi "Bumi kedua".
Venus : menjadi korban pertama efek rumah kaca dr matahari. Sekarang ini venus adalah objek penelitian terpenting untuk para peneliti iklim. Dalam meneliti akibat2 apa yang dihasilkan dari "kesalahan" iklim.
Merkuri : hanya dalam 88 hari mengelilingi matahari, dan karenanya seperti sebuah pelindung bergerak, menangkap "angin matahari (?? skali lagi, gak tau nama indonya, bhs jermannya Sonnenwind). Bagian2 bermuatan listrik dr Sonnenwind ini dapat mengakibatkan kerusakan besar terhadap bumi.
Bulan (walaupun bukan planet, tp nimbrung boleh kan.. ;p) : peranannya adalah, agar semua region di bumi, walaupun dgn intensitas yg berbeda, disinari oleh matahari secara teratur.
Subhanallah!! Di balik keteraturan yang demikian luar biasa ini pastilah ada "tangan" yang mengaturnya. Dia-lah 4JJ1 SWT yang Maha Kuasa yang telah menciptakan alam semesta dan menciptakan pula keteraturan di dalamnya.
Kalau kita renungi, di saat manusia bermalas2an, bersenang2, having fun di klub2, mal2, party2, tanpa memikirkan apa yang akan ada di kehidupan selanjutnya... planet2 yang ada di tata surya ini selalu "melindungi" bumi ini dengan peranannya masing2, di bwh perintah Allah SWT. Ternyata.. manusia itu memang benar2 bodoh dan egois ya....
Sekian..
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
-u'r brother-
Thursday, November 10, 2005
Bilangan Cinta
Apa yang tersembunyi
Adalah kau, sang bilangan!
Bilangan Cinta
Oleh: Mushab Syuhada
„Karina... Apa kabar?“ sapa sebuah suara laki-laki dari belakang. Karina menoleh, segera ia mengembangkan senyumnya dan membinarkan matanya yang bening.
„Daniel! Kemana saja kau? Aku pikir, kau sudah tak lagi kuliah di TU Berlin!“ balas Karina. Daniel membalas senyum.
Terakhir pertemuan antara Karina dan Daniel adalah satu tahun yang lalu, di Mathe-Gebäude TU Berlin lantai satu, di mana para mahasiswa menghabiskan waktunya untuk berdiskusi atau belajar kelompok. Saat itu Daniel sedang minta diajarkan sebuah soal matematika. Tiba-tiba Sabine datang dengan nafas tersengal-sengal, mengatakan kepada Karina, bahwa pengumuman kelulusan mata kuliah Biokimia telah keluar, dan nomor Karina terpampang di sana. Karina gembira luar biasa, karena dengan begitu ia telah menyelesaikan Vordiplom-nya. Ia dan Sabine berlari menuju pengumuman itu dan meninggalkan Daniel di sana, bersama dengan kertas-kertas soal matematikanya. Dan saat Karina kembali, Daniel sudah tidak lagi ada. Hilang, dan baru bertemu kembali hari ini.
„Kau ada waktu, Karina?“ tanya Daniel.
„Tentu. Sampai jam dua siang, setelah itu aku ada kuliah“ jawab Karina dengan tidak memudarkan senyum di wajahnya.
„Kita ke Cafétaria. Minum kopi, aku yang traktir“
Karina mengangguk.
Karina Wulandari, adalah mahasiswi asli Indonesia jurusan Bioteknologi. Entah bagaimana, tiba-tiba ia kedatangan sosok Daniel Grohmann, mahasiswa Jerman yang mengambil jurusan Teknik Mesin. Mereka satu tutorium di mata kuliah Matematika Analisis tiga semester yang lalu. Daniel, yang tinggi dan selalu mengenakan jaket hitam dan jeans biru itu, menghampiri Karina dan mengutarakan kekagumannya ketika melihat Karina mengerjakan soal trigonometri di papan tulis dan berdebat mengenai keberadaan bilangan tak hingga. Daniel ingin lebih banyak belajar matematika pada Karina. Karina pun menerima dengan senang hati. Mulai saat itu mereka sering bersama, berdiskusi, belajar, dan saling bercerita tentang berbagai hal.
„Mengapa kau menghilang begitu saja, Daniel?“ tanya Karina sambil meneguk kopi pahitnya.
„Aku ingin belajar sendiri, mengejar ketertinggalanku, dan meraih Vordiplom-ku. Agar aku bisa bertemu kau lagi“ jawabnya.
„Ingin belajar sendiri sampai pindah rumah segala? Ganti nomor ponsel segala? Sampai-sampai dunia pun tak tahu di mana kau berada“.
Daniel tersenyum pahit.
„Itulah caraku. Aku datang ke Uni hanya untuk ikut ujian. Selebihnya di rumah“.
„Dan...?“
„Dan sekarang aku telah mendapatkan Vordiplom-ku“ ucapnya sambil menyunggingkan senyum bangga.
„Berjanjilah untuk tidak mengulangi perbuatan itu. Kau butuh bersosialisasi, tidak dengan menghilang menyendiri selama satu tahun. bisa-bisa kau dibilang autis“ ujar Karina, kali ini dengan serius.
„Oh tentu, untukmu aku berjanji“ jawab pemuda berambut pirang itu.
Karina tertegun. Sepertinya ia tersandung pada kata ‚untukmu’ yang baru saja dilontarkan Daniel.
„Untukku?“ tanyanya.
„Ya. Untukmu. Dan aku datang kembali ke sini juga untukmu. Tidak kah kau melihat itu“ lugas Daniel. Karina semakin tertegun. Senyum di wajahnya yang ceria memudar. Perlahan ia mulai gugup.
„Maksudmu?“
Daniel menrik nafas panjang. „Aku mencintaimu dari dulu, Karina. Sekarang aku beranikan untuk mengatakan ini padamu. Aku ingin kau jadi kekasihku“ ungkap sorot mata tajam berwarna biru abu-abu itu.
Karina tertawa. Tawa yang dipaksakan.
„Kau bercanda Daniel, mana mungkin aku jadi kekasihmu. Kau itu tampan luar biasa!“
„Dan kau cantik luar biasa“
Karina terkekeh lagi sambil berputar mencari kata lain.
„Tidak mungkin Daniel, aku ini muslimah. Aku harus shalat lima waktu. Nanti acara nonton kita terganggu“
„Tidak masalah. Aku akan menunggumu menyelesaikan shalatmu“
„Aku ini berjilbab, nanti orang-orang akan memandangmu aneh bila kita berjalan bersama“
„Itu juga tidak masalah. Di Berlin ini sudah banyak wanita berjilbab. Itu hal yang biasa, orang tidak lagi melihat keanehan di sana“.
Karina terdiam sesaat. Meneguk kopinya kembali.
„Daniel, mengapa kau ucapkan ini padaku? Kau pasti sudah tahu apa jawabanku? Aku pikir, kau menganggapku hanya sebatas teman, eine Kommilitonin“ tanya Karina sambil menghela nafas.
Daniel tertunduk. Ada guratan kecewa di sana.
„Kau tahu, bagian matematika apa yang paling aku sukai?“ tanya Daniel berbalik. Karina bingung, mencoba mencari korelasi antara pernyataan cinta dan bagian matematika yang Daniel sukai.
„Geometri. Terutama lingkaran. Kau pernah bilang, bahwa lingkaran itu indah, tidak punya sudut. Walau aku bersikukuh bahwa lingkaran juga memiliki sudut yaitu sudut tak hingga. Kau juga bilang, kalau lingkaran itu serupa obat. Banyak dipakai orang, bermanfaat. Dan katamu juga, bahwa di dalam lingkaran ada sebuah penyusun yang sangat místerius. Tak mampu tertangkap secara utuh. Namun ia ada pada setiap lingkaran“
Daniel tersenyum mendengar jawaban itu. „Ingatanmu hebat, Karina. Karena itulah juga aku mencintaimu. Kau mendengar setiap detail perkataan orang dan memberikan pancaran perhatian. Carilah penyusun misterius pada lingkaran itu, maka kau akan tahu siapa kau di mataku.“
Karina mengerutkan dahi.
„Kau sedang bercanda ya?“
„Tidak aku serius. Gabungkanlah penyusun misterius pada lingkaran itu dengan apa yang kau ajarkan padaku ketika terakhir kita bertemu. Lalu datanglah ke Ku-Damm tepat di sebelah gedung Hugendubel pada tanggal 6 Januari 2005. Rasakanlah“
„Aku tahu kau bercanda. Sudahlah. Sekarang ini tanggal 2 Nopember 2005. mana mungkin aku datang ke masa lalu“
Daniel menggelengkan kepala. Menandakan bahwa ia serius. „Aku yakin kau bisa mendapatkan jawabannya. Aku tunggu seminggu lagi“.
***
Akhir Desember tahun 2004. Daniel datang dari arah Hauptgebäude. Karina sudah menunggunya selama 15 menit di depan Mathe-Gebäude bersama dengan asap-asap rokok mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiri di sana.
„Kemana saja?“ ucap Karina pura-pura kesal.
„Es tut mir leid, aku harus ke toilet dulu tadi“
„Baiklah, kita segera ke lantai satu“
Mereka berjalan menaiki anak-anak tangga menuju lantai satu tempat mereka akan belajar bersama. Hari ini hari Rabu, seperti biasa setiap Rabu dan Kamis mereka meluangkan waktu untuk belajar bersama.
„Karina, ajarkan aku tentang bilangan natural“
„Bukankah aku sudah ajarkan itu padamu minggu lalu?“
„Iya, tapi aku lupa. Aku ini seperti fungsi 1/x. Otakku cuma satu namun dibagi-bagi banyak pikiran, sehingga mudah lupa. Ajarkan aku sekali lagi!“
Karina tersenyum. „Iya kau itu seperti fungsi 1/x tapi pada interval negatif!“ledek Karina. Daniel mengiyakan. Mereka berdua tertawa.
„Kau tahu, jika kau adalah fungsi 1/x, lalu ditambah 1 dan dipangkatkan x, lalu dioperasikan dengan limit x mendekati tak hingga, maka jawabannya adalah e – bilangan natural!“ ujar Karina.
„Benarkah?“ tanya Daniel masih dalam tawanya.
„Coba saja kau hitung sendiri!“
Tiba-tiba datang Sabine, setengah berlari. Perempuan berkuncir ekor kuda dan berkacamata tebal itu menghampiri.
„Karina! Akhirnya aku menemukanmu! Kau tahu, hasil ujian Biokimia sudah keluar! Aku lulus, dan kulihat nomormu juga lulus! Kita lulus Vordiplom! Selamat datang Hauptstudium!“ ujar sabine setengah berteriak sambil lompat-lompat.
„Benarkah?! Alhamdulillah! Segala puji untuk-Mu, Tuhan! Di mana pengumumannya?“
„Di Technische Chemie-Gebäude lantai dua. Ayo ikut aku, kita lihat bersama!“
Mereka berdua segera berlari menuju ke tempat pengumuman itu. Daniel ditinggal sendiri. Walau ia tahu pasti Karina tak lama lagi akan kembali, namun ia memutuskan untuk pergi – pulang ke rumah. Ia kecewa, kecewa karena tidak bisa mengambil Vordiplom-nya semester ini. Namun ia tidak menyesalkan kemampuan dirinya yang kurang untuk mendapatkanl Vordiplom, melainkan menyayangkan karena ia tidak lagi bersama dengan Karina. Tidak lagi pada mata kuliah Matematika Analisis.
„Tunggu aku di Hauptstudium, Karina. Kita akan bersama lagi“ ujarnya pelan. Lalu membereskan kertas-kertasnya, dan pergi, mungkin pergi dalam waktu yang lama. Menghilang sementara bagai tertelan kabut.
***
Karina berada persis di depan gedung Hugendubel di Ku-Damm. Namun pada tanggal 3 Nopember 2005, bukan pada 6 januari 2005 seperti yang diminta Daniel. Ia terdiam. Ia tahu Daniel tidak bercanda. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
Dipandanginya sekeliling. Gedung yang bersebelahan persis dengan gedung Hugendubel adalah kantor milik Dinas Meteorologi dan Geofisika Berlin. Di atas gedung itu tertempel sebuah termometer digital besar yang menunjukkan angka 12 derajat celcius.
Karina merebahkan dirinya di bangku besi di ujung jalan. Ia berpikir. Apa yang harus dirasakannya di sini? Mengapa Daniel menyuruhnya merasakan sesuatu di waktu yang lampau? Apa yang ada di balik lingkaran? Dan apa yang diajarkan pada kali terakhir bertemu Daniel?
Karina mendapat satu jawab. Yang diajarkannya pada kali terakhir bertemu Daniel adalah bilangan natural – e. Tiba-tiba, aliran matematis yang muncul dari penemuan bilangan e membawanya ke bilangan irrasional lainnya, π – phi, yang ada dalam setiap lingkaran namun tak dapat tertangkap secara utuh. Sampai kapanpun tak ada manusia yang mampu menemukan akhir dari deretan angka-angka acak di belakang koma sang phi. Hanya Tuhan yang Mahatahu.
Satu pertanyaan lagi, apakah yang harus ia rasakan. Ia memandangi termometer besar di atas gedung itu. Satu lagi jawaban ia temukan. Ia harus merasakan suhu udara di sana pada tanggal 6 Januari 2005. Tinggal bagaimana cara mendapatkannya.
Dengan langkah ragu, ia masuk ke dalam gedung Meteorologi dan Geofisika.
„Selamat siang, saya Karina Wulandari, mahasiswi TU Berlin“ ujarnya sambil menyodorkan kartu mahasiswa.
„Bisakah saya mendapatkan data tentang suhu udara di sini pada tanggal 6 Januari 2005?“
„Ya. Anda bisa mendapatkannya. Apakah ini untuk keperluan studi Anda?“ tanya wanita gemuk itu di balik meja informasi. Karina mengangguk. „Lurus terus dan belok kiri. Silahkan Anda minta pada Herr Rossbach“
Dan Karina mendapatkannya. Suhu udara pada hari itu adalah -1, minus satu.
***
Malam itu sunyi. Di atas tempat tidurnya Karina mencoret-coret tiga bentuk pada kertas usang. Bilangan e, π, dan angka -1. Tak lama ia tersenyum. Ia tahu apa yang diinginkan Daniel. Bilangan imajiner – i. Bilangan yang apabila bersama-sama π menjadi pangkat bilangan natural – e, akan menghasilkan angka -1.
„e dipangkatkan perkalian phi dan i adalah minus satu. Bilangan i – kau lah jawabannya“
***
„Aku sudah dapatkan alasannya“ujar Karina pada pertemuan mereka berikutnya, tepat seminggu setelah daniel memberikan teka-teki itu.
„Apa maksudnya bilangan i?“ tanya Karina
„Ya. kau itu seperti bilangan i. Kau itu terlalu imajiner. Kau ada tapi kau hanya mampu dibayangkan. Maaf, aku bayangkan maksudku. Kau berperilaku sopan pada siapa saja, tak hanya pada orang muslim, bahkan pada orang tak beragama sepertiku. Kau mampu menghormati orang lain, namun kau tidak meninggalkan ideologimu sebagai muslimah. Kau cantik luar dalam, itulah mengapa aku menyukaimu. Namun sekali lagi, kau tak mungkin bisa aku dapatkan, karena kau terlalu imajiner.“
Karina menitikkan air mata. „Kau pasti tahu apa jawabanku Daniel, maaf. Cinta bagiku adalah ikatan suci yang justru akan mendekatkan aku pada Tuhanku. Aku ingin, siapapun kekasihku, bisa membuatku makin cinta pada Tuhanku. Mengertilah.“
„Aku mengerti“ ucap Daniel. Hening sesaat di antara mereka.
„Siapa yang mengajarkanmu ini semua, Karina?“ tanyanya lagi.
„Agamaku“
„Aku tidak mengenal agama sejak lahir. Namun ideologimu yang kuat membuat aku tertarik melihat apa agama itu“
Danielpun kembali menghilang. Di hari itu, di musim gugur, seperti tertiup angin bersama dengan dedaunan yang rontok. Karina bergumam dalam hati, aku adalah bilangan imajiner dan Daniel adalah fungsi 1/x di interval negatif. Seketika ia merinding. Fungsi 1/x dalam interval negatif berjalan menuju ke minus tak hingga dan nol. Apakah minus tak hingga dan nol itu? Kematiankah? Istighfar berulang kali ia baca. Ia tak mau Daniel memilih mati oleh karena apa yang diucapkannya hari ini.
Tapi, fungsi 1/x tak akan menyentuh nol maupun minus tak hingga. Tak akan. Sampai kapanpun. Daniel tidak memilih mati. Ia memilih mengenal apa itu agama. Karina masih bisa berharap tenang dan menunggu Daniel kembali ketika ia sudah mengenal agama. Dan mudah-mudahan, Islam-lah yang akan memberikan jawab atas ketertarikan Daniel melihat agama.
***
Alhamdulillah,
Berlin 10 Nopember 2005, Sudah maghrib nih, buka puasa dulu yak!
Mengapa saat banyak hal yang harus dikerjakan, saya malah membuat cerpen?
Ah tidak apa, bisa sekalian belajar matematika. Mudah-mudahan berguna
Mushab Syuhada.
Adalah kau, sang bilangan!
Bilangan Cinta
Oleh: Mushab Syuhada
„Karina... Apa kabar?“ sapa sebuah suara laki-laki dari belakang. Karina menoleh, segera ia mengembangkan senyumnya dan membinarkan matanya yang bening.
„Daniel! Kemana saja kau? Aku pikir, kau sudah tak lagi kuliah di TU Berlin!“ balas Karina. Daniel membalas senyum.
Terakhir pertemuan antara Karina dan Daniel adalah satu tahun yang lalu, di Mathe-Gebäude TU Berlin lantai satu, di mana para mahasiswa menghabiskan waktunya untuk berdiskusi atau belajar kelompok. Saat itu Daniel sedang minta diajarkan sebuah soal matematika. Tiba-tiba Sabine datang dengan nafas tersengal-sengal, mengatakan kepada Karina, bahwa pengumuman kelulusan mata kuliah Biokimia telah keluar, dan nomor Karina terpampang di sana. Karina gembira luar biasa, karena dengan begitu ia telah menyelesaikan Vordiplom-nya. Ia dan Sabine berlari menuju pengumuman itu dan meninggalkan Daniel di sana, bersama dengan kertas-kertas soal matematikanya. Dan saat Karina kembali, Daniel sudah tidak lagi ada. Hilang, dan baru bertemu kembali hari ini.
„Kau ada waktu, Karina?“ tanya Daniel.
„Tentu. Sampai jam dua siang, setelah itu aku ada kuliah“ jawab Karina dengan tidak memudarkan senyum di wajahnya.
„Kita ke Cafétaria. Minum kopi, aku yang traktir“
Karina mengangguk.
Karina Wulandari, adalah mahasiswi asli Indonesia jurusan Bioteknologi. Entah bagaimana, tiba-tiba ia kedatangan sosok Daniel Grohmann, mahasiswa Jerman yang mengambil jurusan Teknik Mesin. Mereka satu tutorium di mata kuliah Matematika Analisis tiga semester yang lalu. Daniel, yang tinggi dan selalu mengenakan jaket hitam dan jeans biru itu, menghampiri Karina dan mengutarakan kekagumannya ketika melihat Karina mengerjakan soal trigonometri di papan tulis dan berdebat mengenai keberadaan bilangan tak hingga. Daniel ingin lebih banyak belajar matematika pada Karina. Karina pun menerima dengan senang hati. Mulai saat itu mereka sering bersama, berdiskusi, belajar, dan saling bercerita tentang berbagai hal.
„Mengapa kau menghilang begitu saja, Daniel?“ tanya Karina sambil meneguk kopi pahitnya.
„Aku ingin belajar sendiri, mengejar ketertinggalanku, dan meraih Vordiplom-ku. Agar aku bisa bertemu kau lagi“ jawabnya.
„Ingin belajar sendiri sampai pindah rumah segala? Ganti nomor ponsel segala? Sampai-sampai dunia pun tak tahu di mana kau berada“.
Daniel tersenyum pahit.
„Itulah caraku. Aku datang ke Uni hanya untuk ikut ujian. Selebihnya di rumah“.
„Dan...?“
„Dan sekarang aku telah mendapatkan Vordiplom-ku“ ucapnya sambil menyunggingkan senyum bangga.
„Berjanjilah untuk tidak mengulangi perbuatan itu. Kau butuh bersosialisasi, tidak dengan menghilang menyendiri selama satu tahun. bisa-bisa kau dibilang autis“ ujar Karina, kali ini dengan serius.
„Oh tentu, untukmu aku berjanji“ jawab pemuda berambut pirang itu.
Karina tertegun. Sepertinya ia tersandung pada kata ‚untukmu’ yang baru saja dilontarkan Daniel.
„Untukku?“ tanyanya.
„Ya. Untukmu. Dan aku datang kembali ke sini juga untukmu. Tidak kah kau melihat itu“ lugas Daniel. Karina semakin tertegun. Senyum di wajahnya yang ceria memudar. Perlahan ia mulai gugup.
„Maksudmu?“
Daniel menrik nafas panjang. „Aku mencintaimu dari dulu, Karina. Sekarang aku beranikan untuk mengatakan ini padamu. Aku ingin kau jadi kekasihku“ ungkap sorot mata tajam berwarna biru abu-abu itu.
Karina tertawa. Tawa yang dipaksakan.
„Kau bercanda Daniel, mana mungkin aku jadi kekasihmu. Kau itu tampan luar biasa!“
„Dan kau cantik luar biasa“
Karina terkekeh lagi sambil berputar mencari kata lain.
„Tidak mungkin Daniel, aku ini muslimah. Aku harus shalat lima waktu. Nanti acara nonton kita terganggu“
„Tidak masalah. Aku akan menunggumu menyelesaikan shalatmu“
„Aku ini berjilbab, nanti orang-orang akan memandangmu aneh bila kita berjalan bersama“
„Itu juga tidak masalah. Di Berlin ini sudah banyak wanita berjilbab. Itu hal yang biasa, orang tidak lagi melihat keanehan di sana“.
Karina terdiam sesaat. Meneguk kopinya kembali.
„Daniel, mengapa kau ucapkan ini padaku? Kau pasti sudah tahu apa jawabanku? Aku pikir, kau menganggapku hanya sebatas teman, eine Kommilitonin“ tanya Karina sambil menghela nafas.
Daniel tertunduk. Ada guratan kecewa di sana.
„Kau tahu, bagian matematika apa yang paling aku sukai?“ tanya Daniel berbalik. Karina bingung, mencoba mencari korelasi antara pernyataan cinta dan bagian matematika yang Daniel sukai.
„Geometri. Terutama lingkaran. Kau pernah bilang, bahwa lingkaran itu indah, tidak punya sudut. Walau aku bersikukuh bahwa lingkaran juga memiliki sudut yaitu sudut tak hingga. Kau juga bilang, kalau lingkaran itu serupa obat. Banyak dipakai orang, bermanfaat. Dan katamu juga, bahwa di dalam lingkaran ada sebuah penyusun yang sangat místerius. Tak mampu tertangkap secara utuh. Namun ia ada pada setiap lingkaran“
Daniel tersenyum mendengar jawaban itu. „Ingatanmu hebat, Karina. Karena itulah juga aku mencintaimu. Kau mendengar setiap detail perkataan orang dan memberikan pancaran perhatian. Carilah penyusun misterius pada lingkaran itu, maka kau akan tahu siapa kau di mataku.“
Karina mengerutkan dahi.
„Kau sedang bercanda ya?“
„Tidak aku serius. Gabungkanlah penyusun misterius pada lingkaran itu dengan apa yang kau ajarkan padaku ketika terakhir kita bertemu. Lalu datanglah ke Ku-Damm tepat di sebelah gedung Hugendubel pada tanggal 6 Januari 2005. Rasakanlah“
„Aku tahu kau bercanda. Sudahlah. Sekarang ini tanggal 2 Nopember 2005. mana mungkin aku datang ke masa lalu“
Daniel menggelengkan kepala. Menandakan bahwa ia serius. „Aku yakin kau bisa mendapatkan jawabannya. Aku tunggu seminggu lagi“.
***
Akhir Desember tahun 2004. Daniel datang dari arah Hauptgebäude. Karina sudah menunggunya selama 15 menit di depan Mathe-Gebäude bersama dengan asap-asap rokok mahasiswa-mahasiswa yang sedang berdiri di sana.
„Kemana saja?“ ucap Karina pura-pura kesal.
„Es tut mir leid, aku harus ke toilet dulu tadi“
„Baiklah, kita segera ke lantai satu“
Mereka berjalan menaiki anak-anak tangga menuju lantai satu tempat mereka akan belajar bersama. Hari ini hari Rabu, seperti biasa setiap Rabu dan Kamis mereka meluangkan waktu untuk belajar bersama.
„Karina, ajarkan aku tentang bilangan natural“
„Bukankah aku sudah ajarkan itu padamu minggu lalu?“
„Iya, tapi aku lupa. Aku ini seperti fungsi 1/x. Otakku cuma satu namun dibagi-bagi banyak pikiran, sehingga mudah lupa. Ajarkan aku sekali lagi!“
Karina tersenyum. „Iya kau itu seperti fungsi 1/x tapi pada interval negatif!“ledek Karina. Daniel mengiyakan. Mereka berdua tertawa.
„Kau tahu, jika kau adalah fungsi 1/x, lalu ditambah 1 dan dipangkatkan x, lalu dioperasikan dengan limit x mendekati tak hingga, maka jawabannya adalah e – bilangan natural!“ ujar Karina.
„Benarkah?“ tanya Daniel masih dalam tawanya.
„Coba saja kau hitung sendiri!“
Tiba-tiba datang Sabine, setengah berlari. Perempuan berkuncir ekor kuda dan berkacamata tebal itu menghampiri.
„Karina! Akhirnya aku menemukanmu! Kau tahu, hasil ujian Biokimia sudah keluar! Aku lulus, dan kulihat nomormu juga lulus! Kita lulus Vordiplom! Selamat datang Hauptstudium!“ ujar sabine setengah berteriak sambil lompat-lompat.
„Benarkah?! Alhamdulillah! Segala puji untuk-Mu, Tuhan! Di mana pengumumannya?“
„Di Technische Chemie-Gebäude lantai dua. Ayo ikut aku, kita lihat bersama!“
Mereka berdua segera berlari menuju ke tempat pengumuman itu. Daniel ditinggal sendiri. Walau ia tahu pasti Karina tak lama lagi akan kembali, namun ia memutuskan untuk pergi – pulang ke rumah. Ia kecewa, kecewa karena tidak bisa mengambil Vordiplom-nya semester ini. Namun ia tidak menyesalkan kemampuan dirinya yang kurang untuk mendapatkanl Vordiplom, melainkan menyayangkan karena ia tidak lagi bersama dengan Karina. Tidak lagi pada mata kuliah Matematika Analisis.
„Tunggu aku di Hauptstudium, Karina. Kita akan bersama lagi“ ujarnya pelan. Lalu membereskan kertas-kertasnya, dan pergi, mungkin pergi dalam waktu yang lama. Menghilang sementara bagai tertelan kabut.
***
Karina berada persis di depan gedung Hugendubel di Ku-Damm. Namun pada tanggal 3 Nopember 2005, bukan pada 6 januari 2005 seperti yang diminta Daniel. Ia terdiam. Ia tahu Daniel tidak bercanda. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.
Dipandanginya sekeliling. Gedung yang bersebelahan persis dengan gedung Hugendubel adalah kantor milik Dinas Meteorologi dan Geofisika Berlin. Di atas gedung itu tertempel sebuah termometer digital besar yang menunjukkan angka 12 derajat celcius.
Karina merebahkan dirinya di bangku besi di ujung jalan. Ia berpikir. Apa yang harus dirasakannya di sini? Mengapa Daniel menyuruhnya merasakan sesuatu di waktu yang lampau? Apa yang ada di balik lingkaran? Dan apa yang diajarkan pada kali terakhir bertemu Daniel?
Karina mendapat satu jawab. Yang diajarkannya pada kali terakhir bertemu Daniel adalah bilangan natural – e. Tiba-tiba, aliran matematis yang muncul dari penemuan bilangan e membawanya ke bilangan irrasional lainnya, π – phi, yang ada dalam setiap lingkaran namun tak dapat tertangkap secara utuh. Sampai kapanpun tak ada manusia yang mampu menemukan akhir dari deretan angka-angka acak di belakang koma sang phi. Hanya Tuhan yang Mahatahu.
Satu pertanyaan lagi, apakah yang harus ia rasakan. Ia memandangi termometer besar di atas gedung itu. Satu lagi jawaban ia temukan. Ia harus merasakan suhu udara di sana pada tanggal 6 Januari 2005. Tinggal bagaimana cara mendapatkannya.
Dengan langkah ragu, ia masuk ke dalam gedung Meteorologi dan Geofisika.
„Selamat siang, saya Karina Wulandari, mahasiswi TU Berlin“ ujarnya sambil menyodorkan kartu mahasiswa.
„Bisakah saya mendapatkan data tentang suhu udara di sini pada tanggal 6 Januari 2005?“
„Ya. Anda bisa mendapatkannya. Apakah ini untuk keperluan studi Anda?“ tanya wanita gemuk itu di balik meja informasi. Karina mengangguk. „Lurus terus dan belok kiri. Silahkan Anda minta pada Herr Rossbach“
Dan Karina mendapatkannya. Suhu udara pada hari itu adalah -1, minus satu.
***
Malam itu sunyi. Di atas tempat tidurnya Karina mencoret-coret tiga bentuk pada kertas usang. Bilangan e, π, dan angka -1. Tak lama ia tersenyum. Ia tahu apa yang diinginkan Daniel. Bilangan imajiner – i. Bilangan yang apabila bersama-sama π menjadi pangkat bilangan natural – e, akan menghasilkan angka -1.
„e dipangkatkan perkalian phi dan i adalah minus satu. Bilangan i – kau lah jawabannya“
***
„Aku sudah dapatkan alasannya“ujar Karina pada pertemuan mereka berikutnya, tepat seminggu setelah daniel memberikan teka-teki itu.
„Apa maksudnya bilangan i?“ tanya Karina
„Ya. kau itu seperti bilangan i. Kau itu terlalu imajiner. Kau ada tapi kau hanya mampu dibayangkan. Maaf, aku bayangkan maksudku. Kau berperilaku sopan pada siapa saja, tak hanya pada orang muslim, bahkan pada orang tak beragama sepertiku. Kau mampu menghormati orang lain, namun kau tidak meninggalkan ideologimu sebagai muslimah. Kau cantik luar dalam, itulah mengapa aku menyukaimu. Namun sekali lagi, kau tak mungkin bisa aku dapatkan, karena kau terlalu imajiner.“
Karina menitikkan air mata. „Kau pasti tahu apa jawabanku Daniel, maaf. Cinta bagiku adalah ikatan suci yang justru akan mendekatkan aku pada Tuhanku. Aku ingin, siapapun kekasihku, bisa membuatku makin cinta pada Tuhanku. Mengertilah.“
„Aku mengerti“ ucap Daniel. Hening sesaat di antara mereka.
„Siapa yang mengajarkanmu ini semua, Karina?“ tanyanya lagi.
„Agamaku“
„Aku tidak mengenal agama sejak lahir. Namun ideologimu yang kuat membuat aku tertarik melihat apa agama itu“
Danielpun kembali menghilang. Di hari itu, di musim gugur, seperti tertiup angin bersama dengan dedaunan yang rontok. Karina bergumam dalam hati, aku adalah bilangan imajiner dan Daniel adalah fungsi 1/x di interval negatif. Seketika ia merinding. Fungsi 1/x dalam interval negatif berjalan menuju ke minus tak hingga dan nol. Apakah minus tak hingga dan nol itu? Kematiankah? Istighfar berulang kali ia baca. Ia tak mau Daniel memilih mati oleh karena apa yang diucapkannya hari ini.
Tapi, fungsi 1/x tak akan menyentuh nol maupun minus tak hingga. Tak akan. Sampai kapanpun. Daniel tidak memilih mati. Ia memilih mengenal apa itu agama. Karina masih bisa berharap tenang dan menunggu Daniel kembali ketika ia sudah mengenal agama. Dan mudah-mudahan, Islam-lah yang akan memberikan jawab atas ketertarikan Daniel melihat agama.
***
Alhamdulillah,
Berlin 10 Nopember 2005, Sudah maghrib nih, buka puasa dulu yak!
Mengapa saat banyak hal yang harus dikerjakan, saya malah membuat cerpen?
Ah tidak apa, bisa sekalian belajar matematika. Mudah-mudahan berguna
Mushab Syuhada.
Wednesday, November 02, 2005
Ied Mubarak
Assalamu'alaikum wr. wb.
Air mata yang selaksana embun menghantar kita pada
penghujung Ramadhan dan gerbang kemenangan
Taqabalallahu minnaa wa minkum, semoga kita
dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun depan.
Mohon maaf lahir bathin.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Air mata yang selaksana embun menghantar kita pada
penghujung Ramadhan dan gerbang kemenangan
Taqabalallahu minnaa wa minkum, semoga kita
dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun depan.
Mohon maaf lahir bathin.
Wassalamu'alaikum wr. wb.
Thursday, October 27, 2005
Obrolan Teguh-Ratna 2
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al Qadr:1-5)

Dari mana, Guh? Kok jam segini baru pulang?
Dari masjid baru selesai shalat tarawih. Nah situ ngapain? malam ini kok nggak ikutan tarawih?
Lagi dapet, Guh. Guh, malam ini langit terang banget yah. Lihat deh, bintang-bintang terlihat jelas sedang berkilau-kilau.
Iya. Hampir tidak ada awan di langit. Udara juga sejuk yah.
Hati gue kok rasanya lapang banget, Guh. Rasanya semua yang gue lihat dan gue temui indah banget.
Hati gue juga hari ini lebih sensitif. Entah kenapa, tadi ketika shalat tarawih air mata gue meleleh. Tiba-tiba gue mengingat dosa-dosa dan kemaksiatan gue. Barusan sebelum keluar dari masjid, gue juga menangis ketika membaca Al-Qur'an. Hati ini tidak seperti biasanya.
Sayang, Guh. Gue sedang tidak bisa shalat malam ini. Kenapa yah, gue juga pengeeen banget shalat, terus bersimpuh, dan mengadukan semua gundah gulana gue dalam doa-doa gue.
Apa mungkin malam ini malam Lailatul Qadar, Rat? Malam ketika Al Qur'an diturunkan. Malam yang diimpi-impikan oleh seluruh umat Islam di dunia. Malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang berarti lebih baik dari kurang lebih 83 tahun.
Subhanallah, Allah Mahapemurah yah. Allah memberikan kita sebuah malam yang sangat istimewa. Aduh Guh, kok mata gue jadi basah gini...?
Ya Allah, sungguh aku ingin bertemu pada malam Qadar-Mu. Sungguh aku ingin. Aku ingin kembali dekat denganMu setelah sekian lama setan menggerogoti hatiku dalam kemaksiatan.
Dari mana, Guh? Kok jam segini baru pulang?
Dari masjid baru selesai shalat tarawih. Nah situ ngapain? malam ini kok nggak ikutan tarawih?
Lagi dapet, Guh. Guh, malam ini langit terang banget yah. Lihat deh, bintang-bintang terlihat jelas sedang berkilau-kilau.
Iya. Hampir tidak ada awan di langit. Udara juga sejuk yah.
Hati gue kok rasanya lapang banget, Guh. Rasanya semua yang gue lihat dan gue temui indah banget.
Hati gue juga hari ini lebih sensitif. Entah kenapa, tadi ketika shalat tarawih air mata gue meleleh. Tiba-tiba gue mengingat dosa-dosa dan kemaksiatan gue. Barusan sebelum keluar dari masjid, gue juga menangis ketika membaca Al-Qur'an. Hati ini tidak seperti biasanya.
Sayang, Guh. Gue sedang tidak bisa shalat malam ini. Kenapa yah, gue juga pengeeen banget shalat, terus bersimpuh, dan mengadukan semua gundah gulana gue dalam doa-doa gue.
Apa mungkin malam ini malam Lailatul Qadar, Rat? Malam ketika Al Qur'an diturunkan. Malam yang diimpi-impikan oleh seluruh umat Islam di dunia. Malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang berarti lebih baik dari kurang lebih 83 tahun.
Subhanallah, Allah Mahapemurah yah. Allah memberikan kita sebuah malam yang sangat istimewa. Aduh Guh, kok mata gue jadi basah gini...?
Ya Allah, sungguh aku ingin bertemu pada malam Qadar-Mu. Sungguh aku ingin. Aku ingin kembali dekat denganMu setelah sekian lama setan menggerogoti hatiku dalam kemaksiatan.
Friday, October 07, 2005
Die Liebe und Der Herbst
A Mushab Syuhada's
Es war im Herbst. Die Leute bekleideten sich, als ob sie schon im Winter wären. Du hast gesagt, dass mein Gesicht in diesem Herbst langsam gelb geworden war, wie die Blätter, die immer herunterfallen und die Straßen schmutzen.
„Aber nicht mein Geist, war?“ sagte ich.
Sie lächelte, „Nein, dein Geist wird niemals unterfallen“
„Doch, kann sein“ sagte ich wieder. Sie gückte mich an, und sah so aus, dass sie mein letztes Wort nicht kappierte. „Wenn ich in Liebe wäre?“
Dann Liebe ist wie Herbst. Sie kommt und beeinflusst, damit die Wärme in die Kälte umwechselt, damit die Blätter gelb geworden sein, dann keine Kräfte mehr haben.
Es war im Herbst. Die Leute bekleideten sich, als ob sie schon im Winter wären. Du hast gesagt, dass mein Gesicht in diesem Herbst langsam gelb geworden war, wie die Blätter, die immer herunterfallen und die Straßen schmutzen.
„Aber nicht mein Geist, war?“ sagte ich.
Sie lächelte, „Nein, dein Geist wird niemals unterfallen“
„Doch, kann sein“ sagte ich wieder. Sie gückte mich an, und sah so aus, dass sie mein letztes Wort nicht kappierte. „Wenn ich in Liebe wäre?“
Dann Liebe ist wie Herbst. Sie kommt und beeinflusst, damit die Wärme in die Kälte umwechselt, damit die Blätter gelb geworden sein, dann keine Kräfte mehr haben.
Saturday, October 01, 2005
Senangnya!!
Senangnya!! gimana gak senang, kalau Ramadhan sudah ada di depan mata kita!! Bulan yang kita tunggu-tunggu sebentar lagi datang, di mana aliran nafas kita adalah tasbih, di mana tidur kita ibadah, di mana amal-amal kita akan dilipatgandakan, di mana rahmat Allah tersebar di mana-mana!!
Sebelum melangkah ke bulan yang kita rindu-rindukan ini, Dimas mau mengucapkan mohon maaf lahir bathin atas semua kesalahan yang dilakukan baik sengaja maupun tidak sengaja, baik sadar maupun tidak sadar, baik diniatkan maupun tidak diniatkan! Semoga Ramadhan kali ini akan menjadi ladang yang subur untuk kita dalam meraup pahala Allah sebanyak-banyaknya, dan menjadikan kita sebagai insan yang tak bernoda di hari kemenangan nanti!
Selamat berpuasa yah!
Sebelum melangkah ke bulan yang kita rindu-rindukan ini, Dimas mau mengucapkan mohon maaf lahir bathin atas semua kesalahan yang dilakukan baik sengaja maupun tidak sengaja, baik sadar maupun tidak sadar, baik diniatkan maupun tidak diniatkan! Semoga Ramadhan kali ini akan menjadi ladang yang subur untuk kita dalam meraup pahala Allah sebanyak-banyaknya, dan menjadikan kita sebagai insan yang tak bernoda di hari kemenangan nanti!
Selamat berpuasa yah!
Wednesday, September 28, 2005
Hari-hari Pertama
Alhamdulillah, semua dilancarkan.
Dari mulai berangkat ke bandara, di mana papa mengantar anaknya dengan kecepatan mobil yang super duper cepat. Dari Duren Sawit ke Cengkareng cuma ditempuh dalam waktu 33 menit. Alhamdulillah nggak kena macet.
Di bandara, bagasi gue overweight sampai 30 kilo, padahal jatahnya hanya 20 kilo. Alhamdulillah lolos dengan mudah ketika check in. Sekali lagi dilancarkan.
Di Bandar Seri Begawan mendapat penginapan yang nyaman, serta dapat keliling melihat-lihat kota itu. Padahal sudah berpikir bakal mendapat masa transit yang melelahkan sekaligus membosankan. Alhamdulillah dilancarkan lagi.
Di dalam pesawat sampai di dalam kereta semua serba lancar dan mendapat kemudahan. Alhamdulillah.
Pada hari senin, gue berhasil menyelesaikan beberapa urusan seperti membuat keterangan asuransi, bertanya ke TU, buat janji dengan Ausländerbehörde, dsb. Semua selesai hanya dalam satu hari! dan hari selasa gue telah melakukan imatrikulasi di kampus. Alhamdulillah.
-- maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan --
Terimakasih kepada semua pendoa. Oh ya, doakan yah, saluran internet gue lagi ngambek nih. Suka error. Suka mati sendiri nggak jelas, semoga cepat kembali normal sehingga bisa terus meng-update blog.
Dari mulai berangkat ke bandara, di mana papa mengantar anaknya dengan kecepatan mobil yang super duper cepat. Dari Duren Sawit ke Cengkareng cuma ditempuh dalam waktu 33 menit. Alhamdulillah nggak kena macet.
Di bandara, bagasi gue overweight sampai 30 kilo, padahal jatahnya hanya 20 kilo. Alhamdulillah lolos dengan mudah ketika check in. Sekali lagi dilancarkan.
Di Bandar Seri Begawan mendapat penginapan yang nyaman, serta dapat keliling melihat-lihat kota itu. Padahal sudah berpikir bakal mendapat masa transit yang melelahkan sekaligus membosankan. Alhamdulillah dilancarkan lagi.
Di dalam pesawat sampai di dalam kereta semua serba lancar dan mendapat kemudahan. Alhamdulillah.
Pada hari senin, gue berhasil menyelesaikan beberapa urusan seperti membuat keterangan asuransi, bertanya ke TU, buat janji dengan Ausländerbehörde, dsb. Semua selesai hanya dalam satu hari! dan hari selasa gue telah melakukan imatrikulasi di kampus. Alhamdulillah.
-- maka nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan --
Terimakasih kepada semua pendoa. Oh ya, doakan yah, saluran internet gue lagi ngambek nih. Suka error. Suka mati sendiri nggak jelas, semoga cepat kembali normal sehingga bisa terus meng-update blog.
Subscribe to:
Posts (Atom)