Di kala salju perlahan-lahan turun, lamat-lamat, suasana menjadi sangat syahdu. Jika Tuan melihat bagaimana salju itu menumpuk di pelataran, turun dari langit yang kelabu, memutihi ranting-ranting pohon, Tuan akan merasakan seakan-akan waktu berputar menjadi sangat pelan, dunia seakan menjadi sangat hening, nafas berhembus menjadi sangat panjang.
Tuan mempersiapkan ruangan tempat Tuan akan menghabiskan sore. Menggeser sofa kecil Tuan agar berhadapan dengan jendela dan menyelimutinya dengan selimut tebal yang lembut. Tuan juga tidak lupa meletakkan bantal-bantal kecil dan secangkir coklat panas di meja pada sisi samping sofa Tuan.
Udara dingin bisa merasuki ruangan Tuan, maka Tuan membakar seikat kayu di perapian yang hangatnya menjalar ke seluruh ruangan. Tak lupa Tuan mengenakan kaus kaki tebal dan baju yang bisa menahan panas untuk tidak keluar dari tubuh Tuan. Kelabu di luar ikut menggelapkan ruangan, tapi Tuan tidak perlu menyalakan lampu-lampu, cukup bara-bara api di perapian sudah memberikan sebilas warna-warna merah jingga yang halus di hitam yang semakin pekat.
Setiap detik adalah makna, setiap masa adalah rasa, sulit membayangkan bahwa manusia tidaklah istimewa, perjalanan kita, dalam arus debu aksara - Dimas Abdirama
Thursday, December 02, 2010
Penghukumannya di Dunia
Tiada dosa yang paling layak untuk dipercepat penghukumannya oleh Allah di dunia, di samping hukumannya yang disimpan bagi pelakunya di akhirat, selain dosa karena kezaliman dan pemutusan tali silaturahim - HR. Baihaqi.
Tuesday, November 30, 2010
Stipendienmöglichkeiten
Sebagian besar mahasiswa Indonesia yang mengikuti program bachelor atau master datang untuk menuntut ilmu ke Jerman dengan beasiswa dari yayasan ayah bunda. Sebagian dari mereka ada yang berasal dari keluarga dengan ekonomi cukup, ada juga yang berasal dari keluarga dengan ekonomi cukup untuk membiayai beberapa bulan/tahun saja.
Untuk menyambung hidup saya tahu benar betapa beratnya berkerja sambil berkuliah. Sebagian besar mahasiswa Indonesia hanya tahu bahwa tidak ada beasiswa untuk mahasiswa asing apalagi yang sudah memulai kuliahnya di sini. Nah, pada cerita saya kali ini, saya akan memaparkan beberapa informasi tentang beasiswa untuk mahasiswa asing yang sudah berkuliah di sini. Pesan saya, coba saja untuk melamar, tidak perlu ragu karena tertahan persyaratan yang mungkin belum terpenuhi, karena tidak ada salahnya mencoba dan berusaha. Siapa tahu Allah punya rencana. Tertarik?
Untuk menyambung hidup saya tahu benar betapa beratnya berkerja sambil berkuliah. Sebagian besar mahasiswa Indonesia hanya tahu bahwa tidak ada beasiswa untuk mahasiswa asing apalagi yang sudah memulai kuliahnya di sini. Nah, pada cerita saya kali ini, saya akan memaparkan beberapa informasi tentang beasiswa untuk mahasiswa asing yang sudah berkuliah di sini. Pesan saya, coba saja untuk melamar, tidak perlu ragu karena tertahan persyaratan yang mungkin belum terpenuhi, karena tidak ada salahnya mencoba dan berusaha. Siapa tahu Allah punya rencana. Tertarik?
Monday, November 29, 2010
Pelukmu, Dekapanmu, Hangatmu
Aku tak akan pernah lupa saat tahun lalu aku melihat wajahmu kembali setelah tiga tahun tak bertemu. Ada banyak perubahan, terlalu banyak malah, yang menyadarkanku bahwa waktu memang terus berputar dan aku semakin tua.
Aku tak akan pernah lupa saat kemarin aku melihat lagi wajahmu. Siang itu, selepas salat zuhur, aku menuruni anak tangga dan melihatmu di sana. Kau tampak sangat berbahagia dengan kehadiranku, serta langsung memelukku, dekap sekali, hangat sekali dan kau tidak kunjung melepaskannya. Tiba-tiba aku sadar, bahwa ada rasa seperti ketika aku kecil dulu...
Dulu, aku adalah anak yang manja dan cengeng. Aku masih ingat setiap kali aku menginginkan sesuatu, aku merengek sambil memeluki kakimu. Aku masih ingat setiap kakakku mengganggu, aku mengadunya kepadamu sambil memeluki kakimu, menangis sampai kamu menggendongku dan membuatku tertawa kembali...
Aku masih ingat cerita Sangkuriang, cerita si Amri yang punya bibi rusa dan tinggal di atas gunung, yang gemar kau ceritakan kepadaku...
Aku masih ingat semua pengorbananmu, untuk menjadikan aku menjadi aku...
Dan aku hanya bisa terpaku dalam pelukanmu, bukan karena tidak tahu, justru karena aku sangat tahu sehingga aku memilih membisu. Aku ingin dekapan itu tidak cepat berlalu...
Sabar -- hanya itu yang bisa aku bisikkan. Pah, aku ingin membuatmu bangga. Pah, sungguh, aku hanya ingin membuatmu bangga. Senyummu dan senyum mama adalah segalanya. Walau aku seorang yang banyak kekurangan, aku ingin yang sedikit dariku bisa membuat kau bangga. Pah, aku rindu padamu, sangat rindu, semoga kita bisa segera kembali bertemu...
Aku tak akan pernah lupa saat kemarin aku melihat lagi wajahmu. Siang itu, selepas salat zuhur, aku menuruni anak tangga dan melihatmu di sana. Kau tampak sangat berbahagia dengan kehadiranku, serta langsung memelukku, dekap sekali, hangat sekali dan kau tidak kunjung melepaskannya. Tiba-tiba aku sadar, bahwa ada rasa seperti ketika aku kecil dulu...
Dulu, aku adalah anak yang manja dan cengeng. Aku masih ingat setiap kali aku menginginkan sesuatu, aku merengek sambil memeluki kakimu. Aku masih ingat setiap kakakku mengganggu, aku mengadunya kepadamu sambil memeluki kakimu, menangis sampai kamu menggendongku dan membuatku tertawa kembali...
Aku masih ingat cerita Sangkuriang, cerita si Amri yang punya bibi rusa dan tinggal di atas gunung, yang gemar kau ceritakan kepadaku...
Aku masih ingat semua pengorbananmu, untuk menjadikan aku menjadi aku...
Dan aku hanya bisa terpaku dalam pelukanmu, bukan karena tidak tahu, justru karena aku sangat tahu sehingga aku memilih membisu. Aku ingin dekapan itu tidak cepat berlalu...
Sabar -- hanya itu yang bisa aku bisikkan. Pah, aku ingin membuatmu bangga. Pah, sungguh, aku hanya ingin membuatmu bangga. Senyummu dan senyum mama adalah segalanya. Walau aku seorang yang banyak kekurangan, aku ingin yang sedikit dariku bisa membuat kau bangga. Pah, aku rindu padamu, sangat rindu, semoga kita bisa segera kembali bertemu...
Wednesday, November 17, 2010
Kivu Bukavu
Kivu, kau yang terindah,
bisik Hemmingway.
Aku ingin menangis,
tapi danau tak bisa menangis.
--Helvy Tiana Rosa
bisik Hemmingway.
Aku ingin menangis,
tapi danau tak bisa menangis.
--Helvy Tiana Rosa
Monday, October 25, 2010
Aku Sebagai Manusia
Aku sebagai manusia meretas gelap malam dan pada diriku menjadi manusia gelap
Aku sebagai manusia menceracau dengar ceracau dan pada diriku menjadi pendengar ceracau
Aku sebagai manusia membuta cinta membutakan dan pada diriku menjadi korban buta
Dan bola yang sudah tergeletak di bawah dilemparkannya lagi ke langit-langit
Menemukan titik jenuhnya dan menghempas lantak ke arah gravitasi
Ini mungkin yang dicari dan pada manusia itu menemukannya
Aku sebagai manusia menuntaskan keinginan dan pada diriku menjadi manusia penuntas
Aku sebagai manusia mendera sayat di dada dan pada diriku menjadi manusia tersayat
Aku sebagai manusia pemegang ubun-ubun ketiga dan pada diriku menjadi manusia ketiga
Lakon pentas yang terputar itu hanyalah kamuflase
Menutupi aksi bisik yang sesungguhnya yang jelas terpatri di layar
Berat memang namun pada manusia itu mesti memikulnya
Atau mungkin yang aku kira kamuflase itu juga adalah kamuflase
Terang pagi dan pada manusia itu menjadi manusia terang benderang
Tahu arah dan tahu kemana
Selamat, pada manusia itu selesai melaksanakan tugas
Selamat, pada manusia itu mesti merasakan perih kembali
Berlin, 2010.
Aku sebagai manusia menceracau dengar ceracau dan pada diriku menjadi pendengar ceracau
Aku sebagai manusia membuta cinta membutakan dan pada diriku menjadi korban buta
Dan bola yang sudah tergeletak di bawah dilemparkannya lagi ke langit-langit
Menemukan titik jenuhnya dan menghempas lantak ke arah gravitasi
Ini mungkin yang dicari dan pada manusia itu menemukannya
Aku sebagai manusia menuntaskan keinginan dan pada diriku menjadi manusia penuntas
Aku sebagai manusia mendera sayat di dada dan pada diriku menjadi manusia tersayat
Aku sebagai manusia pemegang ubun-ubun ketiga dan pada diriku menjadi manusia ketiga
Lakon pentas yang terputar itu hanyalah kamuflase
Menutupi aksi bisik yang sesungguhnya yang jelas terpatri di layar
Berat memang namun pada manusia itu mesti memikulnya
Atau mungkin yang aku kira kamuflase itu juga adalah kamuflase
Terang pagi dan pada manusia itu menjadi manusia terang benderang
Tahu arah dan tahu kemana
Selamat, pada manusia itu selesai melaksanakan tugas
Selamat, pada manusia itu mesti merasakan perih kembali
Berlin, 2010.
Friday, September 17, 2010
Doha 16 Jam
Story telling tentang perjalanan pulang saya dari Jakarta menuju Berlin.
Pesawat saya berangkat pukul 18:05 dari Soekarno-Hatta, kami berangkat dari rumah pukul 15:00, dan dengan kecepatan menyupir papa yang bagaikan kilat, jarak Duren Sawit ke Cengkareng hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Sampailah saya di bandara pukul 15:30 dan segera check in. Hari itu saya mengenakan sebuah kaos lengan pendek dan jeans. Bawaan saya hanya sebuah tas dorong kecil yang isinya juga tidak penuh karena alhamdulillah bagasi saya memuat banyak.
Mama bertanya, "mas, kamu nggak pakai jaket?"
Saya pun menjawab, "cuma bawa cardigan ma, kan di Doha panas. Di Berlin juga masih musim panas."
"Terus cardigannya mana?" tanya mama kembali.
"Ini di tas ma. Nanti aja dipakainya kalau kedinginan."
Tak lama kami segera berpisah karena mereka akan langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung. Sebelumnya saya bertemu dengan Hasbi, juga seorang mahasiswa Indonesia di Jerman yang ternyata juga akan kembali ke Jerman sebentar lagi. Namun Hasbi tidak satu pesawat dengan saya. Dia baru akan berangkat pukul 01:00 lewat tengah malam. Batin saya, wah, menunggu keberangkatannya masih akan lama sekali. Tapi sepertinya dia akan sampai lebih dulu di Jerman daripada saya karena saya mesti transit di Doha selama 16 jam.
Pesawat saya berangkat pukul 18:05 dari Soekarno-Hatta, kami berangkat dari rumah pukul 15:00, dan dengan kecepatan menyupir papa yang bagaikan kilat, jarak Duren Sawit ke Cengkareng hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Sampailah saya di bandara pukul 15:30 dan segera check in. Hari itu saya mengenakan sebuah kaos lengan pendek dan jeans. Bawaan saya hanya sebuah tas dorong kecil yang isinya juga tidak penuh karena alhamdulillah bagasi saya memuat banyak.
Mama bertanya, "mas, kamu nggak pakai jaket?"
Saya pun menjawab, "cuma bawa cardigan ma, kan di Doha panas. Di Berlin juga masih musim panas."
"Terus cardigannya mana?" tanya mama kembali.
"Ini di tas ma. Nanti aja dipakainya kalau kedinginan."
Tak lama kami segera berpisah karena mereka akan langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung. Sebelumnya saya bertemu dengan Hasbi, juga seorang mahasiswa Indonesia di Jerman yang ternyata juga akan kembali ke Jerman sebentar lagi. Namun Hasbi tidak satu pesawat dengan saya. Dia baru akan berangkat pukul 01:00 lewat tengah malam. Batin saya, wah, menunggu keberangkatannya masih akan lama sekali. Tapi sepertinya dia akan sampai lebih dulu di Jerman daripada saya karena saya mesti transit di Doha selama 16 jam.
Saturday, August 28, 2010
Gugusan di Langit Jakarta
Kelabu, itulah apa yang ku rasakan saat menanjaki langit Berlin sore itu, seperti meninggalkan bekas yang terlampau pahit, sepahit kumpulan serak-serak yang tertulis sejak awal tahun ini. Seperti tahuku, bahwa satu titik pada roda tak selamanya berada pada tempatan teratas, walau keberadaan membawa kestabilan psikologis pribadi yang tertinggi. Semuanya bagai terhempas, hampa, sebagian memiliki sebab-musabab, sebagian yang lain tanpa alasan apa-apa.
Mungkin garisanku dan mungkin ujianku. Sejauh burung besi ini melesat, menjauhi keperihan dan mendekati kepedihan, sedalam itu pula siluet-siluet tak menentu mengikuti. Hey you're feeling useless, seolah menjadi sebuah beban yang menghalangi keinginan orang lain. Dalam jejakkan pada noktah nol, kulihat ombak-berombak di sana, membayangi pemikiran, memerahkan mata, menyesakkan dada, -- dan aku mesti tegar mendongakkan kerapuhan, tetap agar basah tak menderas dari mata.
Dan mungkin semua akan seperti ini sampai dengan ubahnya nanti. Namun pasti juga ini sebuah ingatan dari Allah agar aku total kembali.
Jakarta, 2010.
Mungkin garisanku dan mungkin ujianku. Sejauh burung besi ini melesat, menjauhi keperihan dan mendekati kepedihan, sedalam itu pula siluet-siluet tak menentu mengikuti. Hey you're feeling useless, seolah menjadi sebuah beban yang menghalangi keinginan orang lain. Dalam jejakkan pada noktah nol, kulihat ombak-berombak di sana, membayangi pemikiran, memerahkan mata, menyesakkan dada, -- dan aku mesti tegar mendongakkan kerapuhan, tetap agar basah tak menderas dari mata.
Dan mungkin semua akan seperti ini sampai dengan ubahnya nanti. Namun pasti juga ini sebuah ingatan dari Allah agar aku total kembali.
Jakarta, 2010.
Sunday, June 06, 2010
Recent Updates
Well, I'm back. It's been a long time not updating my blog with the latest info. Also not any new short stories. I had quiet mood writing short stories, almost finish, but need to remake up again to be perfect. Hmm, change the language.
++ Mas Dimas, wie ist Ihr Studium?
Siang tadi usai mengajar Bahasa Indonesia, saya dikejutkan dengan pertanyaan di atas dari salah seorang peserta. Dia seorang dosen Bahasa Vietnam di Humboldt Universität zu Berlin yang sejak awal mengikuti kelas Bahasa Indonesia di KBRI Berlin. Sebenarnya, dia sudah sering mengajukan pertanyaan ini kepada saya, tapi kali ini saya merasa terenyuh dengan perhatiannya terhadap keadaan studi saya. Lalu saya bertanya, mengapa dia sering menanyakan hal ini kepada saya. Lalu dia menjawab: Mas Dimas, studi Anda jauh lebih penting daripada semua ini! Anda harus menjadi seorang insinyur! Mengajar Bahasa Indonesia bisa Anda lanjutkan lagi kalau studi Anda sudah selesai, negara Anda membutuhkan insinyur-insinyur seperti Anda! Di sini mungkin Anda bisa mendapatkan banyak pengalaman dan juga kontak dengan yang lain, tapi studi Anda tetap nomor satu, studi Anda tetap bernilai!
++ Mas Dimas, wie ist Ihr Studium?
Siang tadi usai mengajar Bahasa Indonesia, saya dikejutkan dengan pertanyaan di atas dari salah seorang peserta. Dia seorang dosen Bahasa Vietnam di Humboldt Universität zu Berlin yang sejak awal mengikuti kelas Bahasa Indonesia di KBRI Berlin. Sebenarnya, dia sudah sering mengajukan pertanyaan ini kepada saya, tapi kali ini saya merasa terenyuh dengan perhatiannya terhadap keadaan studi saya. Lalu saya bertanya, mengapa dia sering menanyakan hal ini kepada saya. Lalu dia menjawab: Mas Dimas, studi Anda jauh lebih penting daripada semua ini! Anda harus menjadi seorang insinyur! Mengajar Bahasa Indonesia bisa Anda lanjutkan lagi kalau studi Anda sudah selesai, negara Anda membutuhkan insinyur-insinyur seperti Anda! Di sini mungkin Anda bisa mendapatkan banyak pengalaman dan juga kontak dengan yang lain, tapi studi Anda tetap nomor satu, studi Anda tetap bernilai!
Thursday, April 29, 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)



