Wednesday, February 07, 2007

Antara Aku, Kau, dan Dia

Kategori: Cerpen

"Dara! Cepetan dong di kamar mandinya! Lama banget sih!" teriakku sambil menggedar-gedor pintu kamar mandi dengan kepalan tangan yang kuat.
"Hallo! Denger gak sih lo! Gue udah gak tahan nih!" teriakku lagi. Tapi tak ada jawaban di dalam kamar mandi sana. Yang ada hanyalah keheningan.

Aku nggak habis pikir. Apa sih maunya Dara? Dia pikir kamar mandi cuma punya dia doang apa? Aku sudah nggak tahan lagi untuk buang hajat, ibarat peribahasa, bagaikan telur di ujung tanduk. Akhirnya untuk meredam gelora yang makin membara di dalam perutku, aku berjalan mondar-mandir di Flur depan kamar mandi. Aku sampai mengeluarkan air mata karena kesal dengan Dara yang cuek banget, dan karena rasa sakit ingin buang hajat sudah nggak bisa kutahan.

Semenit, dua menit, lima menit, sampai sepuluh menit, si Dara tetap di dalam. Akhirnya aku segera mengambil jaket, memakai sepatu, lalu lari ke Wohnung Tino yang berjarak 30 meter dari Wohnung kami. Sampai di sana – yang notabene adalah Wohnung anak-anak cowok – aku malah ditertawakan ketika mereka tahu kalau seorang gadis yang cantik ini datang ke sana karena kebelet ke toilet. Duh, makin kesal aku dengan Dara!

Seperti itulah keadaan Wohnung kami sekarang ini. Bagaikan neraka! Padahal dulu, setahun yang lalu saat kami bersama-sama masuk ke Wohnung ini, keadaannya damai, adil, dan sejahtera!

***

Wohnung kecil kami dihuni oleh tiga orang, yaitu aku, Dara, dan Anin. Kami sama-sama baru sampai di Berlin setahun yang lalu. Pertemuan pertama kami adalah ketika acara pengajian bulanan di KBRI. Ketika itu kami masih belum punya Wohnung dan masih menumpang dengan orang lain. Tapi alhamdulillah, ada tawaran sebuah Wohung berperabot dari salah seorang mahasiswa yang telah selesai studinya. Jadilah kami bertiga memiliki sebuah tempat tinggal yang kami harap akan menjadi saksi berseminya ikatan cinta dan ukhuwwah di antara kami.

Dan kami memang kompak! Orang-orang se-Berlin saja menyebut kami AB-Three karena kemana-mana selalu bersama. Ke supermarket bareng, ke bank sama-sama, sampai berangkat Studkol pun selalu bertiga. Ibarat vektor, kami itu linearabhängig. Kami pun mulai mengenal satu sama lain lebih dalam.

Dara itu kalau tertawa suka ngakak, suka melucu, Bahasa Jermannya jago, hobinya bermain game perang-perangan. Tapi biar begitu, masalah pelajaran dia top banget. Kalau aku ada PR dari Studkol, dia pasti mau membantu aku menyelesaikannya. Pokoknya kalau masalah pelajaran, dia nomor satu lah.

Beda dengan Anin, si gadis lugu. Suaranya halus dan pelan, seperti orangnya yang sangat perasa, tapi dia mudah sekali tertawa. Kalau tertawa suaranya nyaris tak terdengar seperti iklan mobil, ketika tertawa dia selalu menutup mulutnya, katanya sih refleks. Keahliannya adalah memasak. Dapur kami selalu mengepul dengan menu masakan yang enak-enak. Intinya kalau masalah dapur, dia numero uno.

Kalau aku? Kata mereka, aku ini perfeksionis. Nggak bisa melihat ada kotor sedikit atau ada barang yang tidak pada tempatnya. Yang jelas, Wohnung kami selalu terlihat rapih, bersih, wangi dan menawan karena aku. Kesimpulannya kalau masalah beres-beres, crème de la crème deh!

Tapi itu dulu, sekarang di mataku, dua anak itu sudah kelihatan belangnya.
Pertama Anin, aku bingung, sebenernya dia itu lugu atau blo’on sih? Sangat pelupa, sembarangan, dan berantakan. Dia pernah lupa mematikan kompor waktu selesai masak sampai api berkibar-kibar di udara. Lupa nyuci piring, lupa buang sampah, pokoknya nggak ketahuan antara beneran lupa atau sengaja dilupa-lupain. Kalau bercanda pun – saking lugunya – terkadang suka menyinggung hati orang lain. Aku teringat waktu itu, Dara sedang memasak nasi goreng, lalu Anin datang untuk mencicipi. Tebak apa komentarnya?

„Waahh, nasi gorengnya tumpah garam ya? asin banget,“ atau juga,
„Ihh kok bentuk makanannya kayak gini? Kayak makanan ikan, gak nafsu ah makannya“

Kalau sudah seperti itu, pasti Dara langsung tersinggung dan mengunci diri di dalam kamar. Memang, masalah memasak Anin yang paling jago, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya berkomentar dong?!

Beda Anin beda pula Dara. Belakangan ini cueknya nggak ketulungan. Seolah-olah dunia ini milik dia sendiri dan yang lain hanya ngontrak. Ya seperti kejadian tadi, Dara memakai kamar mandi seenaknya sementara yang lain sudah menunggu lama di luar. Bukan hanya itu, kadar cueknya telah melampaui batas. Sekarang dia sudah tidak mau lagi ngajarin kita-kita pelajaran. Kerjaannya tiap hari main games di depan komputer atau belajar atau membaca buku sendirian. Peraturan rumah yang sudah disepakati bersama pun sudah dia tinggalkan. Kalau seperti ini, aku berasa seperti pembantu rumah tangga di Wohnung ini! Semua pekerjaan bersih-bersih aku yang mengerjakan. Ya habis bagaimana? Si Anin pelupa, si Dara cuek, sedangkan aku paling gak tahan melihat sesuatu yang kotor dan berantakan!

***

„Dara! Gue mau ngomong sama elo!“ bentakku ketika sudah sampai kembali di Wohnung. Seperti biasa Dara hanya memandangku sebentar lalu mengeloyor pergi ke kamarnya.
„Heh! Dengar gue gak sih? Gue mau ngomong sama elo!“ kataku nyolot.
„Ya kalau mau ngomong, tinggal ngomong aja! Gitu aja kok repot,“ balasnya nggak kalah nyolot.
„Heh! Dengerin ya, yang punya kamar mandi di Wohnung ini bukan cuma lo doang tau!“
„Na, und?“ jawabnya gampang, membuat emosiku semakin membara.
„Ya kalau gue mau masuk kamar mandi, lo harus cepet-cepet juga dong! Minimal bilang tunggu sebentar kek, apa kek,“
„Di dalam kamar mandi nggak boleh bersuara. Itu yang gue tahu,“ jawabnya yang membuat aku kehilangan kata-kata lagi.
Duuuh! Egois banget sih dia!

Saat suasana makin memanas, datang si lugu Anin ke kamar Dara.
„Ada apa sih? Kok ribut-ribut?“ sahutnya dengan wajah lugunya yang ‚menawan’.
„Ah udah deh! Lo gak usah ikut campur! Kalian berdua tuh sama aja! Muak gue di Wohnung ini!“ teriakku lalu pergi meninggalkan mereka dan masuk ke kamar dengan membanting pintu keras-keras.

***

Seminggu sudah semejak kejadian itu. Suasana di antara kami semakin menegang. Di Studkol kami pun berjalan sendiri-sendiri, tidak lagi seperti AB-Three yang dulu orang-orang bilang. Aku pun menjadi malas pulang ke Wohnung. Aku lebih senang menghabiskan waktu di perpustakaan atau di mana saja asal bukan di Wohnung. Perlahan kesehatanku menurun, bukan karena Anin yang sekarang tidak pernah lagi memasak untuk kami, tapi karena aku memang suka telat makan di musim dingin yang menusuk-nusuk ini.

„Assalamu’alaikum..“ sahutku pelan saat masuk ke Wohnung pada pukul sebelas malam. Kulihat lampu kamar Dara dan Anin masih menyala, tampaknya mereka belum tidur. Kutengok keadaan dapur, ternyata masih sama. Piring yang menumpuk, sampah yang menggunung, dan yang membuatku sedih, kompor yang kosong. Aku sedang lapar sekali malam itu dan berharap Anin memasak sesuatu. Ternyata tidak.

Langkahku memberat untuk sampai ke kamarku. Tiba-tiba dunia seakan berputar. Kepala seperti mau meledak, lalu aku lemas dan tersungkur, tepat di depan kamar Dara sebelum aku masuk ke kamarku.

„Nurry! Nurry! Elo kenapa, Nur? Nurry!“ hanya itu yang bisa kudengar, dan mataku hanya mampu menangkap wajah panik Dara dan Anin.

***

Saat tersadar yang aku lihat pertama kali adalah sebuah tivi kecil yang menggantung di atas dinding. Dari aroma ruangan, aku langsung tahu kalau sekarang aku berada di sebuah rumah sakit. Selang-selang infus membelit-belit di lenganku. Kutoleh wajahku ke sisi ruangan, nampak Anin dan Dara sedang duduk menungguku.

„Nurry! Gimana? Agak mendingan sakitnya?“ kata Dara yang baru kali ini aku dengar lagi setelah sekian lama. Penuh perhatian. Aku tersenyum dan mengangguk.
„Lo sekarang lagi di Charité. Hampir seharian lo nggak sadarkan diri. Udah, lo tenang aja. Kata dokter lo kecapekan. Ini gue bawain catatan Studkol hari ini,“ lanjutnya. Aku menatapnya kuat-kuat.

„Nurry.. maafin Anin ya, kata dokter kemarin Nurry pingsan karena kelaparan. Maaf kemarin Anin lagi nggak mood buat masak. Ini Anin masakin ayam pop dan salad kesukaan Nurry. Soalnya menu makanan di rumah sakit ini ada babi nya. Terus dagingnya juga gak jelas. Rasanya juga pasti hambar. Makanya Anin bawain makanan. Dokter bilang boleh kok,“ katanya dengan suara anak kecilnya yang khas. Alhamdulillah, Allah memberikan aku cobaan ini sehingga hubunganku dengan Dara dan Anin menemukan titik perbaikan lagi.

„Nin, Ra, gue boleh ngomong?“ kataku dengan suara yang masih serak.
„Boleh.. boleh“ sahut mereka bersamaan.
„Gue mau minta maaf karena belakangan ini bawaannya suudzon terus ke kalian. Kalian juga sih, yang satu cuek, yang satu pelupa,“ kataku.
„Sama-sama Nur,“ jawab Dara. „Kita juga sebel sama lo, soalnya lo itu pemarah. Emosian. Kerjanya cuma ngomel-ngomel melulu. Jadinya kita juga sebel. Walau terkadang gue juga suka sebel ke Anin karena suka berkomentar tak berdosa,“ lanjutnya.

Kami bertiga tertawa. Ada pengakuan dosa. Saling berintropeksi, saling mengerti dan memahami, bahwa masing-masing orang punya karakter yang berbeda. Memahami karakter orang, terbuka, saling percaya, dan saling paham adalah modal dasar untuk membentuk sebuah hubungan terlebih untuk tinggal bersama. Perbedaan karakter bukan menjadi alasan untuk saling bertabrakan, tapi menjadi pewarna yang indah bagai pelangi. Semakin berbeda warnanya semakin indah dipandang.

Saatku kembali ke Wohnung setelah tiga hari menginap di rumah sakit, kulihat ada sesuatu yang berbeda. Wohnung kami makin rapih, bersih, dan wangi. Di dapur pun sudah menanti masakan-masakan si Anin. Kami memulai lagi Wohnung kami. Peraturan baru: Masak harus bergantian, membereskan rumah harus bergantian, selalu shalat berjamaah, selalu belajar bersama, dan bersama-bersama yang lainnya. Kami pun menjadi AB-Three lagi, seperti sebuah tembangnya yang jadul banget itu: „We are one!“

Berlin, Februari 2007.

Monday, January 29, 2007

Ketika Jalan Terhampar Kerikil

Kategori: Puisi

Seberkas pelangi jingga sore itu menghiasi ufuk-ufuk yang perlahan menggelap, serta alunan adzan berkumandang dan membahana masuk meresap syahdu ke dalam kalbu orang-orang yang mendengar.

Sore itu, adalah sore terakhir untuk menelan segala kepahitan, dan awal untuk kembali mendongakkan kepala serta menatap jauh ke depan. Seiring berjalan, seiring mereka paham mengapa Allah mempertemukan serta memisahkan mereka.

Manusia boleh berharap, manusia boleh berupaya, namun pucuk sebuah jawab tetap terletak pada Yang Mahatahu. Apakah mereka hendak menjadi bunga-bunga yang layu, tak bertenaga, lalu jatuh terinjak rusak menyatu dengan tanah?

Sampai kapan sebuah kekecewaan berhenti menggerogoti hati? Malah justru makin memperbayak butiran-butiran noktah hitam yang tak lain merupakan penyakit diri. Lihatlah sesuatu sewajarnya, lalu kembalikan kepada asal-muasal niat yang menjadi dasar.

Apapun bentuknya, perjalanan masih panjang, dan titian ini belum tentu akan terasa buahnya dalam satu langkah waktu, boleh jadi anak mereka, boleh jadi cucu mereka, atau bisa saja puluhan garis keturunan setelah mereka.

Hanya ada satu pilihan, bergerak atau tergantikan.
Dan jalan masih panjang. Setiap masa adalah babak, epidose, lembar, alunan cerita.
Berbanggalah, karena mereka telah diberikan kesempatan untuk mengecup sebuah masa.
Mengecup dan merasakan, sebuah masa.

Wedding-Mitte, Januar 07

Wednesday, January 24, 2007

Pencari Cinta

Kategori: Artikel

Pernahkah kalian berada pada sebuah keadaan yang sempit, di mana kita dituntut bergerak namun kita tidak bisa bergerak sama sekali. Keadaan itu mingkin bisa disebut sebagai sebuah „keterbatasan“. Manusia memang diciptakan dengan segala keterbatasannya, karena manusia pada dasarnya bersifat dhoif atau lemah.

Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. An-Nisaa’: 28)

Saya pernah mengalami sebuah keadaan yang sangat sulit, di mana saat itu saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Lalu terlintas di kepala saya sebuah potongan ayat dari Al-Qur’an yang berbunyi,

... ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS: Al-Baqarah: 214)

Dan setelahnya, subhanallah, Mahasuci Allah, dalam detik itu juga pertolongan itu datang dan segala kesusahan hilang seketika.

Sangat lemahnya kita, mungkin sudah cukup menggambarkan bagaimana posisi diri ini di hadapan Allah SWT. Maka sebuah ketergantungan kepada-Nya sudah selayaknya muncul dari setiap insan. Allah sama sekali tidak membutuhkan kita, tapi kita lah yang jelas-jelas membutuhkan Allah.

Jika kita lihat seorang pecinta, dia bisa memberikan apa saja kepada orang yang dicinta. Begitu juga rasa cinta kita kepada Allah sebagai bentuk penghambaan yang hakiki dari seorang makhluk kepada sang Khalik. Cinta sejati adalah cinta kepada Allah, yang darinya akan timbul rasa cinta-cinta yang lain.

Tentu kita akan berusaha sekeras-kerasnya untuk mendapatkan cinta Allah. Karena jika Allah sudah mencintai kita, maka niscaya Allah akan selalu berada bersama kita. Allah akan menjaga seluruh panca indera kita. Allah akan senantiasa membantu kita. Allah akan selalu memilihkan apa-apa yang terbaik untuk kita.

Maka menjadi seorang muslim sepatutnya adalah menjadi seorang yang tidak pernah gentar dalam berjalan menghadapi hidupnya. Diri ini sebagai makhluk yang lemah, hanya bisa berbuat sebaik-baiknya dalam kerangka keterbatasan yang kita miliki. Hanya Dia-lah yang Maha atas segala sesuatu. Maka, bagaimanapun keadaan kita, berusahalah selalu untuk tidak pernah sedikitpun melupakan-Nya, berusaha untuk selalu berada di dekat-Nya, dan berusaha untuk selalu mendapat cintaNya.

Saturday, January 13, 2007

Pamungkasmu, dan Aku

Kategori: Puisi

Datang sudah senja haru
Pada setahun kita bertemu
Dan jika ikhlas mendasari dakwahmu
Egal apapun itu
Aku hanya ingin menjadi sebutir debu
Dalam bangunan Islam yang megah satu

Berlin 2007
For Someone

Sunday, December 31, 2006

The End of This Year

Kategori: My Side

This is my last posting before new year. Entah mengapa, selama bulan Desember ini saya malas membuat postingan terbaru walaupun sudah ada niat menggebu-gebu. Semua tersandung oleh kesibukan dan hal-hal yang lain.

Mari kita berbicara tentang cuaca. Mengapa? karena orang-orang di Jerman ini biasanya memulai percakapan dengan mengomentari cuaca, baik cuaca hari ini maupun cuaca kemarin. Bulan Desember ini aneh. Tahun lalu sejak November, salju sudah mulai menyelimuti kota ini. Namun tahun ini hanya sekali turun salju yaitu hari Kamis kemarin. Selanjutnya cuaca kembali memanas, paling hanya lima atau enam derajat (dan Desember ini suhu belum pernah mencapai nol!).

Seorang teman yang tinggal di kota terpencil di atas gunung sedang melaksanakan tour-nya ke kota-kota besar di liburan akhir tahun ini. Beberapa jam yang lalu, kami dan seorang teman lagi bermain tenis meja melawan tetangga dari Korea Selatan. Mungkin orang-orang yang melihat kami bermain tenis meja berpikir kami aneh, karena malam ini semestinya orang-orang keluar melihat kembang api. Namun saya tahu bagaimana keadaan Berlin di malam tahun baru: horrible. Tak ubahnya seperti sebuah kota yang dalam keadaan perang di mana petasan meledak di mana-mana. Dan tanggal 1 Januari besok, jalanan pasti kotor karena bekas petasan. Selain itu di jalanan akan banyak sekali orang-orang yang mabuk dan menyeramkan. So better jika saya diam di rumah dan menyaksikan kembang api dari balik jendela.

Satu lagi, alhamdulillah akhir tahun ini persediaan makanan cukup, karena ada bungkusan makanan dari Idul Adha kemarin di KBRI dan tadi siang baru dapat bungkusan juga dari sebuah acara syukuran. Hehehe, maklum, begitulah keadaan Student.

Saturday, November 04, 2006

Ghost in your Laptop!

Kategori: My Side

After a long interview with some students who have an internet access in their computer, I can make an assumption: Internet is blamable to destroy our entire life. Ask me why?

Simple, you may ask those kind of people, what do they do if they start their life in the morning. One of answer is maybe switch on computer, connect to the internet, go to Yahoo Messenger, see how many mails they got during the night, answer the offline messages, check out their mailbox, continue to other mailbox, or even open their Friendster, or see some on-line-news-sites. But it’s not only happend in the morning, but in all leisure time! Worst, right?

Those people may sit so many hours in front of their PC. And it really brings laziness. Our plans to read scripts from campus or to cook for our lunch will get lost. It is more dangerous than opium or other addicted-narcotics. You waste your time with doing nothing, but you can’t go away from it!

Ru’yah, an islamic method to take out some mystical things from our body, is just booming in our community in Berlin. I have asked an Ustadz, when he was in Berlin during Ramadhan, what are the signs by someone who should be taken in ru’yah. Then he aswered, „being so lazy to do something,“. I told him spontaneously, „So please take me in ru’yah! The sign is on me!“. He laughed, then answered, „You shouldn’t, but you should marry soon!“.

I still believe that there’s something wrong in my body. It seems like I dont have any feel like doing something. All I want to do is just sitting on my PC, altough there’s nothing I do with it. I try to share this annoying feel to the other, and I was suprised, that they have also the same problem like me! It’s all because our PC.

Someone has told me his method to divert us from it, especially in the exam time. Keep your laptop in your bag, lock up, and not to open it until next weekend. And it works! You can concentrate your day with something usefull.

I think, our laptop should be taken in ru’yah! Not us! So, beware!

Friday, October 06, 2006

Ramadhannya Ibukota

Kategori: Artikel

Dapat dilihat di website FORKOM

Kalau boleh milih, kamu pengen ber-Ramadhan di Jerman atau di Indo?
Ya di Indo, laaah!
Lho, kok?
Iya! Puasa di Indo kan enak abiz. Coba deh bayangin, mau bangun sahur, ada yang bangunin. Mau makan sahur, ada yang masakin. Mau shalat lima waktu berjamaah di masjid, tinggal nyebrang jalanan depan rumah. Mau denger ceramah Ramadhan dari ustadz-ustadz kondang, tinggal nyalain televisi or radio. Pas waktunya berbuka, mamah-ku pasti sudah buat kolak pisang terenak sedunia. Kurang apa coba?
***

Eit, tunggu dulu. Emang sih bagi kita anak-anak perantauan, pasti rindu banget pengen ber-Ramadhan di Indonesia. Tapi, berada di negeri orang di saat bulan suci Ramadhan juga nggak kalah seru, kok! Alhamdulillah, tahun ini saya diberi kesempatan berpuasa di Jakarta dan di Berlin, jadi bisa sedikit-sedikit mengamati suasana Ramadhan di dua tempat yang beda banget itu, lho. Nah, mau tahu kan bagaimana hasil pengamatan saya? Yukkk...

Eh, sebelumnya, sudah pada tahu kan seperti apa kota Berlin itu? Sudah dong pastinya. Hauptstadt gitu, lho. Kata orang, belum lengkap ke Jerman kalau belum mengunjungi kota Berlin. Selain sebagai kota metropolis, Berlin juga sebagai kota sejarah. Contohnya, tembok Berlin yang kondang seantero dunia. Belum lagi Gedächtniskirche, Siegesäule, Checkpoint Charlie, Brandenburger Tor, Friedrichstraße, dan segudang tempat-tempat lainnya. Nah, yang paling spesial dari Berlin adalah komunitas antarbangsa yang sangat beragam alias multikulti, termasuk komunitas Islam di dalamnya. So, jangan heran kalau melihat banyak banget wanita berjilbab memenuhi pelosok-pelosok kota ini. Walau kebanyakan kaum imigran, tapi umat Muslim memiliki jumlah yang sangat signifikan di Berlin. Asli, banyak banget! Ada beberapa masjid yang berdiri di kota ini, bahkan di kampus disediakan juga ruangan musholla. Jadi kita nggak perlu takut dengan yang namanya diskriminasi antarumat beragama. Walau kadang-kadang diskriminasi itu ada, tapi di situlah kita ditantang untuk menunjukkan wajah muslim yang sebenarnya, yang tetap santun dan sabar, tanpa harus membiarkan harga diri kita terinjak-injak. Ya nggak?

Bagaimana dengan komunitas muslim Indonesia di Berlin? Ada banget dong! Denger-denger nih, jumlah orang Indonesia yang berada di Berlin mencapai lebih dari dua ribu orang. Wow, banyak juga yah? Nah, Berlin juga punya sebuah masjid Indonesia yang bernama masjid Al-Falah. Dari masjid Al-Falah terbentuklah kelompok-kelompok pengajian kota untuk komunitas muslim Indonesia di Berlin ini. Masjid yang sudah berdiri dari dua puluh tahun yang lalu itu tidak terlalu besar. Makanya kalau bulan Ramadhan tiba, jamaah masjidnya membludak dan sering berdesak-desakan karena kapasitasnya yang sudah overload. Oleh sebab itu, kami harus segera pindah dan mencari tempat baru yang lebih besar dan nyaman, agar ibadah kita juga ikutan nyaman.

Walaupun sedang dalam proses perpindahan, bukan berarti kegiatan komunitas muslim Indonesia di Berlin berhenti lho, apalagi di bulan Ramadhan seperti saat ini. Pengajian kota Berlin terkenal sebagai pengajian yang... ehm... seru, rame, kompak, dan kocak. Nggak percaya? Coba deh datang kalau Forkom sedang ngadain acara Prima, mukhoyyam, SII dan lainnya. Tim yang suka heboh sendiri biasanya tim dari Berlin. Hehehe... Alhamdulillah setiap tahun pengajian kota Berlin selalu mendatangkan seorang ustadz dari Indonesia. Begitu juga untuk tahun ini yang bekerjasama dengan Forkom. Jadwal sang ustadz biasanya padat banget, karena harus ngisi di sana-sini. Maklum, Berlin punya banyak bentuk pengajian, dari yang buat babeh-babeh, nyak-nyak, mpok-mpok, sampai abang-abang. Kalau buat bocah-bocah ada, nggak? Ada juga, dong. Al-Falah juga punya TPA alias Taman Pendidikan Al-Qur’an yang khusus untuk adik-adik. Nggak tanggung-tanggung, tahun ini Al-Falah membuat program Pesantren Kilat untuk anak-anak dan remaja. Insya Allah di dalamnya akan diisi dengan pemainan-permainan islami, teater, dan nggak lupa penanaman akhlak serta berlajar membaca Al-Qur’an.

KBRI Berlin juga nggak kalah menyemarakkan Ramadhan. Shalat tarawih digelar setiap hari di KBRI, selain itu seminggu sekali diadakan buka puasa bersama di sana. Oh ya, ngomong-ngomong soal buka puasa, kita juga bisa ikutan buka puasa di masjid-masjid di kota ini, baik itu masjid Turki, Palestina, ataupun Pakistan, akan dengan senang hati menyambut kita untuk ikutan buka puasa bareng dengan mereka. Dan porsi makanannya itu lho, jumbo! Asal jangan cuma buka puasanya aja yah, shalatnya juga harus ikut dong. Seru juga bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara kita dari belahan bumi yang lain. Subhanallah.

Nah, sekarang bagaimana dengan Jakarta? Dibandingkan Berlin, suasana di Jakarta tuh lebih puasa banget. Secara, gitu lho, di Jakarta kan mayoritas muslim, sehingga hampir semuanya berpuasa. Stasiun televisi juga berlomba-lomba menayangkan program-program yang islami. Pemandangan di jalanan pun juga jadi lebih islami. Waktu kuliah, sekolah, dan jam kantor dipercepat, agar masyarakat bisa berbuka puasa dengan sanak-saudaranya di rumah. Kalau di Berlin boro-boro dipercepat, malah kadang-kadang kita harus berbuka di tengah-tengah Vorlesung atau di dalam U-Bahn.

Kalau di Jakarta kita bisa ngumpul-ngumpul dengan teman-teman untuk ngabuburit sambil jalan-jalan, di Berlin kesempatan seperti itu sangat kecil. Lagian, dua ribu enam gini masih ada ya ‚ngabuburit’ sambil jalan-jalan? Sudah nggak musim dong. Kan lebih enak kumpul bareng dengan teman-teman menunggu waktu berbuka sambil tilawah bersama, terus sesudahnya bertarawih bersama. Ya, kan?

Yang paling berasa banget mungkin ketika Idul Fitri. Di saat itu wajar banget lah kalau kita merindukan berada di tengah-tengah papah-mamah-kakak-adik tersayang. Walau begitu, semua bisa diobati karena di Berlin kita juga punya saudara-saudara! Malah status sebagai perantau di negeri orang justru membuat ukhuwah kita benar-benar terasa menjadi erat. Sesudah shalat Ied di KBRI biasanya kita bersalam-salaman dengan suasana penuh haru. Masih berasa suasana khidmat Idul Fitrinya, walaupun kita harus bolos kuliah di hari itu dan melanjutkan aktivitas kita kemudian.

Yang jelas, puasa di Berlin atau di Jakarta masing-masing ada plus dan minusnya, tapi jangan dijadikan sebagai penghambat ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Puasa itu untuk Allah dan Allah-lah yang mengaturnya. Di Berlin kita bisa merasakan suasana lain dari ber-Ramadhan dan ber-Ukhuwah. Jadi, ayo kita bergembira menyambut datangnya Ramadhan. Sesuai janji Allah, barang siapa yang bergembira menyambut datangnya Ramadhan, maka diharamkan tubuhnya dari jilatan api neraka. Subhanallah...

Friday, September 15, 2006

Wilujeng Sumping

Kategori: Cerpen

A Mushab Syuhada's

Aku sering melihat pemuda yang sebaya denganku itu datang ke masjid kecil dekat rumah nenekku di pinggiran kota Bandung. Dua hari yang lalu aku sempat berkenalan dengannya seusai shalat maghrib. Namanya Dadang, keturunan etnis tionghoa.

Jika aku berlibur ke rumah nenek, masjid yang hanya terpisah oleh tiga buah rumah menjadi salah satu tempat favoritku, karena selain teduh, masjid itu juga dikelilingi panorama alam pedesaan yang eksotis. Tapi sangat disayangkan, hanya ketika shalat Jumat jemaahnya membludak, bahkan bisa-bisa sampai meruah ke jalanan. Kontras dengan shalat fardhu yang hanya dua shaf. Isinya sebagian besar dari kalangan kakek-nenek dan bapak-ibu. Anak mudanya hanya dua, yaitu aku dan si Dadang itu.

Dadang bertubuh kurus. Tingginya kira-kira sama dengan denganku. Kulitnya kuning, matanya sipit seperti kebanyakan warga keturunan tionghoa lainnya. Baru di tahun ini aku melihatnya di masjid. Tahun kemarin, saat aku juga berlibur ke rumah nenek, tidak aku jumpai dia di sana. Biasanya ia suka terburu-buru ketika selesai shalat Dzuhur dan Ashar atau terkadang tidak datang ke masjid di waktu tersebut. Karena bekerja, katanya. Ketika kutanya di mana ia bekerja, ia malah tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum dan segera memohon pamit.

„ Dadang!“ teriakku di balik tirai kedai bubur ayam di pasar tikungan jalan tak jauh dari rumah nenek. Pagi itu aku ingin sekali makan bubur ayam. Kata nenek, bubur ayam yang paling enak di sini ada di pasar. Tentu aku igin sekali mencicipinya sebelum aku kembali pulang ke Surabaya malam nanti setelah dua minggu berlibur. Tak kuduga, niatku makan bubur ayam, malah bertemu dengan si Dadang. Pemuda itu menganggukkan kepalanya memandang ke arahku, lalu datang menghampiriku.
„Wah, nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini! Sudah sarapan? Yuk sarapan bareng,“ ujarku. Ia sempat menolak, tapi langsung saja kupesan semangkok bubur ayam ke penjaga kedai.
„Aa teh tiap pagi ka die?“ tanyanya dengan logat sundanya yang kental.
„Jangan panggil saya Aa atuh. Kayaknya kita seumuran, deh. Saya 20 tahun, kamu?“
„21,“
„Tuh kan, mestinya saya yang panggil kamu Aa“ kataku. Pemuda itu tersenyum dengan kekeh ringan.
„Waktu itu kamu kan pernah nanya, saya teh kerjana di mana,“ katanya menyambung percakapan.
„Iya,“ jawabku singkat. „Memangnya di mana?“
„Di die,“ jawabnya menunjuk pasar ini. Katanya, ia bekerja sebagai buruh angkut di pasar ini dari subuh hingga petang. Sudah hampir setahun ia bekerja mengangkut barang-barang dari dalam truk ke dalam pasar, atau membantu pembeli mengangkut barang kebutuhannya dari dalam pasar ke kendaraan. Meski kurus, namun Dadang adalah seorang yang kuat. Terbukti dengan seringnya ia memakul beras 20 kilo di salah satu pundaknya.

Setelah bercerita singkat tentang pekerjaannya sebagai buruh angkut, ia terdiam sejenak dan memandang sekeliling. Dari gelagatnya, pemuda itu terlihat kurang nyaman duduk di kedai ini di antara belasan pengunjung yang – mungkin menurutnya – terlihat lebih rapih dari pada dirinya. Ia mengenakan kaus bola berwarna biru-kuning bernomor punggung delapan, dengan celana panjang hitam. Akupun mencoba mencairkan suasana agar ia tidak lagi merasa kurang nyaman. Di sela-sela menikmati bubur ayam hangat, kami saling bercakap. Kuceritakan kalau aku datang dari Jakarta untuk berlibur selama dua minggu di Bandung. Walaupun aku orang Sunda, tapi lahir dan besar di Jakarta membuatku tidak menguasai Bahasa Sunda. Terlebih saat ini aku sedang berkuliah di salah satu universitas negeri di Surabaya yang justru membuat aku lebih fasih berbahasa Jawa. Ia mengerti, ia pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk bercakap denganku, walau masih dengan beberapa patah Bahasa Sunda. Ia banyak sekali bercerita, dari tentang pasar ini, tentang kedai bubur ayam ini, tentang sejarah masjid dekat rumah itu, sampai tiba-tiba tentang adik perempuannya.

„Dulu teh di masjid itu ada TPA tiap sore. Adik perempuanku dulu juga belajar ngaji di ditu,“ katanya.
„Oh... Kamu punya adik perempuan?“ tanyaku.
„Iya. Satu orang,“ jawabnya.
„Siapa namanya?“
„Diah Pitaloka,“
„Lalu, dia juga di Bandung?“
Dadang menggeleng.
„Dulu iya. Sekarang dia tinggal di panti asuhan, di Tasikmalaya,“
„Panti asuhan? Memangnya kalian tidak tinggal bersama orang tua kalian?“
„...tidak, orang tua kami...“
Hening sejenak. Dadang tidak melanjutkan pertanyaannku dengan jawaban.
„Oh... maaf... saya kurang sopan menanyakan tentang keluarga. Lupakan sajalah...“ lanjutku. Pemuda itu menunduk, lalu tak lama mengadahkan kepalanya menatapku.
„Tidak apa-apa. semua orang di sini sudah tahu kok tentang keluarga saya. Kalau kamu bertanya ke nenekmu, pasti beliau juga tahu,“

Nenek tidak pernah cerita apa-apa kepadaku tentang masyarakat di sini. Pasti menurutnya tidak penting untuk diceritakan kepadaku. Saat aku menatap wajah Dadang, terlihat ada guratan kesedihan yang mendalam. Seperti ia telah mengalami suatu peristiwa yang memilukan dalam kehidupannya. Dan benar saja, Dadang, yang baru kukenal namanya dua hari itu menceritakan kisah kehidupannya yang kupikir hanya dapat ditemukan di layar kaca. Tapi tidak, ini kenyataan!

***

Sudah setahun terakhir ini Dadang tinggal dengan keluarga pamannya yang tak jauh dari rumah nenek. Dulu, Dadang dan adiknya tinggal bersahaja dengan kedua orang tuanya sebagai satu keluarga yang utuh. Garis keturunan tionghoa yang dimilikinya didapatkan dari ayahnya. Ayah dan pamannya memeluk agama Islam sebelum keduanya menikah dengan gadis sunda. Dadang sempat menjadi anak tunggal yang amat disayang dan dimanjakan ketika ia masih kanak-kanak. Dan ketika usianya menginjak sepuluh tahun, ia mendapatkan seorang adik perempuan bernama Diah Pitaloka. Namun kelahirannya harus dibayar dengan nyawa ibunya, yang meninggal saat melahirkan.

Tak lama, ayahnya menikah kembali dengan seorang wanita asal Lembang. Awalnya Dadang enggan menerima kehadiran ibu tiri dalam keluarganya, karena imej ibu tiri yang melekat di kepalanya adalah seorang yang sadis dan kejam terhadap anak-anak tirinya. Namun dugaannya salah. Ketika wanita bernama Trisnowati Kosasih itu resmi menjadi ibunya, ia justru mampu membesarkan Diah yang kala itu masih bayi. Mereka hidup sejahtera, berkecukupan, hingga datangnya saat itu.

Saat itu tahun 1999. Semua orang pasti tahu, tahun itu adalah tahun yang amat labil dalam perekonomian Indonesia setelah terjadi pergolakan politik dan ekonomi di tahun 1998. Saat itu Diah masih berumur lima tahun dan Dadang akan segera menamatkan pendidikan SMP. Keluarganya tak luput dari serangan krisis moneter, usaha katering ibu tirinya – yang mulai dirintis sejak menikah dengan ayahnya – terpaksa harus berhenti. Ayahnya pun dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Hidupnya yang dulu berkecukupan mendadak berubah total.

Karena harta itu milik Allah. Dia bebas mengambilnya kapanpun Dia mau.

„Ayah, Dadang tidak usah melanjutkan SMA saja. Biarkan Dadang bekerja untuk menambah uang kita,“ pinta Iwan kepada ayahnya. Permintaannya ditolak keras oleh ayahnya.
„Kamu mau kerja jadi apa? Kamu pikir saat ini mudah mendapat pekerjaan? Tidak, ayah tidak setuju. Betapapun sulitnya keadaan ekonomi keluarga kita, ayah akan tetap membiayai sekolahmu. Sekolah sampai tinggi,“ ujar ayahnya. Dadang terharu, dan saat itu bertekad akan meneruskan sekolahnya.

Pertengahan tahun 2000, Dadang diterima di SMAN 3 Bandung. Namun tak lama setelah itu ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Sejak saat itu, sekolah Dadang terancam. Di saat krisis keuangan yang merajalela, ia malah kehilangan orang yang menjadi tumpuan untuk membiayai segala keperluaannya. Sejak saat itu pula, ibu tirinya yang dulu penyayang, sekarang berubah menyeramkan. Tresnawati Kosasih menjadi dikenal sebagai sosok pemarah, sering uring-uringan, dan ringan tangan, terlebih kepada Diah yang kala itu masih berumur enam tahun.

Dengan sangat terpaksa Dadang harus putus sekolah. Ia merantau ke Sukabumi untuk mencari pekerjaan sebagai... entahlah... mungkin sebagai buruh, kuli bangunan, atau apa saja, yang penting ia, adiknya, dan ibu tirinya dapat menyambung nyawa.

Namun sungguh miris nasib Dadang, sekembalinya ke Bandung enam bulan kemudian, ia mendapatkan Diah tinggal di rumah pamannya – yang tidak jauh dari rumah nenek – dengan kondisi sangat memprihatinkan. Matanya lebam, wajahnya dipenuhi memar-memar, tubuh kurusnya banyak ditemukan bekas luka yang telah mengering, maupun yang malah berubah menjadi koreng bernanah. Bahkan ia sempat dilarikan ke rumah sakit akibat patah tulang tangan sebelah kirinya yang syukurnya tidak terlalu parah. Diah kini menjadi bocah yang apatis, yang takut bertemu dengan semua orang yang tidak dikenalnya. Mentalnya labil dan kadang suka menjerit tiba-tiba.

„Aa...“ katanya sepatah sambil berusaha melihat sang Aa dari balik mata kecilnya yang membengkak biru disertai dengan senyuman yang penuh perih. Diah berusaha menyambut kedatangan Aa yang dicintainya dan dirindukannya walau dengan rasa pedih di sekujur tubuh dan perasaannya yang belum juga hilang.
Dadang menangis, tak kuasa ia melihat seorang bocah perempuan di hadapannya menjadi seperti itu. Tangannya memeluk bocah itu kuat, sambil membelai rambut sebahunya yang tipis kemerahan.
„Siapa... siapa yang melakukan ini...“ tanyanya terbata-bata dalam larut buraian air mata. Paman dan bibinya saling berpandangan, sebelum akhirnya mengucapkan satu nama, „ibumu...“

***

Tresnawati Kosasih yang tega menyiksa dan membuang anak yang sejak bayi ia asuh. Ia pergi, pergi dengan menjual rumah beserta isinya peninggalan suaminya – ayah dari Dadang dan Diah. Pamannya sepakat untuk mengasuh Diah di rumahnya, walaupun kondisi keuangan keluarga pamannya pun sebenarnya bukan tergolong cukup untuk mengasuh tiga anak kandungnya, terlebih dengan kehadiran Diah. Namun, siapa lagi saudara dekat dari mereka berdua?

Dadang pun melanjutkan pencarian nafkahnya dengan merantau, kali ini ke Jakarta, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pernah Dadang ditawari untuk tinggal bersama nenek dari ayahnya, tapi ia tolak.
„Kenapa kamu tidak mau? Hidup bersama nenekmu kan enak, dia orang cukup, kamu bisa menyambung sekolah lagi, tidak perlu mencari uang,“ kata bibinya.
„Tidak bi, saya tetap tidak mau,“
„Masalahnya apa, kok kamu masih saja tidak mau? Apa karena nenekmu itu tidak seagama denganmu lalu kamu...“
„Bukan, bi, bukan. Saya tidak mempermasalahkan perbedaan agama kami. Saya percaya, baik muslim maupun nonmuslim dapat hidup berdampingan dengan damai di negara ini. Tapi saya tidak ingin malah merepotkan mereka, bi. Saya tidak ingin mendapatkan kebahagiaan semu. Biar saya dan Diah begini. Biar saya dan Diah tidak dikasih makan, tidak dikasih ongkos, pakaian baru atau apapun, asalkan kami tetap diijinkan tinggal di sini, bi,“

Diah yang belum bersekolah, dimasukkan ke TPA masjid itu karena di sana tidak dipungut bayaran. Alhamdulillah, Diah kini sudah bisa membaca Al-Qur’an, membaca huruf latin, dan berhitung. Namun tak lama kemudian, masjid itu tidak lagi mengadakan TPA, alasannya karena kekurangan tenaga pengajar. Dadang masih ingat, ketika di sebuah sore ia menelepon ke rumah pamannya dari Jakarta.
„Punten, memangna saha yang mau membawa Diah?“ tanyanya.
„Kemarin ada seorang peremuan berkerudung datang. Katanya dia pernah mendengar cerita tentang Diah. Ia pun ingin membawa Diah ka Tasik, di sana ada panti asuhan dengan sekolahannya, gratis. Biaya hidupna sudah beres ditanggung. Di sini kan Diah sudah tidak ke TPA lagi. Kumaha? Dadang setuju, teu?“ jawab pamannya dari balik telepon.
Dadang menyadari, ia juga tidak ingin memberatkan pamannya. Mungkin panti asuhan adalah tempat yang tepat untuk Diah, yang memang sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Dadang pun akhirnya menyetujui kepergian adiknya, terlebih di sana adiknya dapat kembali bersekolah dan mengenyam pendidikan.

Keesokan paginya, Dadang sudah berada di Bandung untuk mengantar kepergian adiknya. Setahun tidak bertemu, kini Dadang hanya diberi kesempatan sesaat untuk melihat Diah sebelum kembali datang perpisahan di antara mereka berdua. Diah kini sudah terlihat ceria, tidak seperti yang dulu. Kini ia mulai berani bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya sambil memberikan senyum manisnya. Diah mencium tangan Aa-nya saat bertemu, yang membuat sang Aa tak kuasa menahan air mata harunya. Diah terlihat gembira mengenakan baju dan roknya, menggendong tas ranselnya, memakai sandal jepitnya, dan mengenakan kerudung bekas TPA-nya dulu.
„Aa, Diah mau ka Tasik, Diah mau belajar, supaya pintar seperti Aa...“ kata anak berumur tujuh tahun itu.
Dan wanita yang dikatakan pamannya datang, dia adalah pengurus salah satu lembaga sosial masyarakat yang peduli tentang masalah perlindungan anak. Tak lama ia pamit, membawa Diah masuk ke dalam mobil kijang peraknya. Dadang dan Diah saling berpandangan di balik kaca mobil, dan kepura-puraan Diah untuk terlihat tegar pun berhenti, tangis bocah perempuan itu pecah melihat wajah Aa Dadang yang memandanginya penuh harap dan cemas.
„Aa...!“ tangannya melambai dalam tangisnya.

***

„Dan sejak itu, saya tetap bekerja di Jakarta. Namun tahun kemarin saya diberhentikan dari pekerjaan saya, jadilah saya pulang ke Bandung, menetap bersama keluarga paman. Alhamdulillah, di pasar ini ada kerjaan juga untuk saya,“ lanjut ceritanya.
Aku masih menatapnya, mendengarkan seluruh rentetan ceritanya. Betapa jauh lebih beruntung aku. Terlampau banyak nikmat yang kudapatkan dengan mudah tapi... betapa mudahnya kudustakan. Tapi aku yakin, Allah Mahaadil, seberat apapun perjuangan hidup Dadang, pasti ia mendapatkan balasan atas kesabarannya.
„Hmm... Putra? Putra?“ panggil Dadang sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. „Kamu melamun, ya?“
„Eh, nggak kok, saya terlalu larut dalam ceritamu,“ jawabku. „Saya salut terhadapmu, kamu masih bersabar dan tidak menyerah menghadapi hidupmu,“ tukasku.
„Selama kita ikhlas, insya Allah kita bisa mendapatkan kesabaran,“ jawabnya.
Dan aku makin mengagguminya.
„Baiklah, saya harus kembali bekerja. Hatur nuhun atas sarapannya,“
„Tunggu, Dang,“
„Iya?“
„Malam ini saya kembali ke Surabaya. Bisa kita bertemu lagi?“
„Insya Allah, seperti biasa, di masjid dekat rumah nenekmu,“

***

Maghrib ini Dadang tak datang. Aku berharap bisa bertemu lagi dengannya. Beberapa menit yang lalu ibuku mengirim sms, katanya, Pak Tarso baru saja berangkat dari Jakarta untuk menjemputku dan mengantarku malam ini ke Surabaya.

Dan saat adzan Isya berkumandang, ia belum juga datang. Kuberjalan ke arah pasar di tikungan jalan itu, dengan harapan aku melihatnya. Ternyata tidak.
„Putra!“ teriak sebuah suara dari belakangku. „Maaf, maghrib tadi saya shalat di jalan, baru selesai mengantar barang. Saya pikir kamu di masjid, eh saya malah lihat kamu berjalan ke arah pasar,“ ujar Dadang dengan nafas tersengal-sengal. Aku tersenyum.
„Tidak apa-apa. Saya senang masih bisa berpamitan dulu ke kamu,“
„Saya juga senang bisa bertemu kamu dan berbagi cerita dengan kamu,“ katanya.
„Ya...“ sahutku pelan. „Kamu telah memberikan saya pelajaran melalui kisah hidupmu, yang membuat saya tahu lebih dalam tentang kesabaran, semangat, dan rasa syukur. Hatur nuhun,“
„Sami-sami. Begitulah kehidupan saya. Wilujeng sumping di kehidupan nyata,“
„Dang, saya tidak tahu, jika saya kembai lagi ke sini, apakah saya masih bisa bertemu denganmu,“ ucapku.
„Wallahualam,“ jawabnya singkat.
„Tapi kita tetap akan menjadi teman. Hanya satu pesan yang ingin saya sampaikan ke kamu. Tetaplah di jalan Allah. Itu saja. Tetaplah bersama Allah,“
Dadang mengangguk dan tersenyum ke arahku.

Sebelum aku pulang, kami menuju ke masjid itu yang mulai ditinggali oleh orang-orang yang baru selesai melaksanakan shalat Isya. Kami shalat berjamaah, Dadang menjadi imam. Lantunan suaranya membacakan ayat-ayat Allah sangat indah dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya. Seperti katanya, wilujeng sumping di kehidupan nyata, dengan berbekal ikhlas, maka kita akan menjadi sabar dan dapat menjalankan hidup tanpa putus asa walaupun dalam kondisi yang sulit.

Dadang, si pemakai kaus bola berwarna biru-kuning dengan nomor punggung delapan, melambaikan tangannya mengiringi akhir liburanku yang singkat di Bandung.

Jakarta, 14 September 2006
Mushab Syuhada

Friday, August 11, 2006

Sunday, August 06, 2006

Telur Tomat Ikan

Kategori: Resep

Bahan-bahan:
1 kaleng ikan sarden (boleh apa aja asal bukan tuna)
250 gram pasta tomat
5 butir telur ayam
1 buah bawang bombay
4 siung bawang putih
½ sendok teh lada
1 sendok teh garam
1 sendok teh gula
½ gelas air
1 sendok teh saus tiram
4 buah cabe rawit

Cara membuat:
Iris bawang bombay, bawang putih dan cabe rawit hingga harum, masukan ikan kalengan dan tumis sebentar.
Masukan pasta tomat dan air, beri garam, gula, lada dan saus tiram, masak hingga pasta tomat mendidih.
Masukan telur, biarkan matang dengan sendirinya (tidak perlu diaduk), siap disajikan.

Lama persiapan dan memasak: 25 menit
Nilai: Sangat praktis
Porsi 5 orang