Thursday, March 16, 2006

The Day

S u j u d k u



pun takkan memuaskan inginku
untuk haturkan sembah ke dalam kalbu

adapun kusembahkan syukur padaMu ya Allah
untuk nama, harta, dan keluarga yang mencinta

dan perjalanan yang sejauh ini tertempa

alhamdulillah pilihan dan kesempatan
yang membuat hamba mengerti lebih baik tentang makna diri

semua lebih berarti apabila dihayati
alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah


Too Phat feat. Dian Sastro feat. Yassin - alhamdulillah

Sunday, March 05, 2006

Hukum Pareto

Kategori: Cerpen

Hukum Pareto
Oleh: Mushab Syuhada


Laboratorium Kimia Anorganik, Gedung Kimia, TU Berlin
Aku masih menatap beberapa tabung reaksi yang berjejer rapi di depanku, melihat dengan teliti dan seksama setiap perubahan yang terjadi dalam larutan-larutan warna-warni itu. Perlahan aku tiba pada titik kejenuhan. Sekitar lima belas menit yang lalu, aku mengajukan laporan penelitian pada asisten lab. Ku katakan, bahwa dalam zat yang aku teliti saat ini tidak terdapat phospat, sulfat, dan klorid. Tapi kata dia, laporan yang aku ajukan itu hanya ada satu jawaban yang benar, sisanya salah, dan bahkan ada satu unsur yang tidak terdeteksi oleh ku.

Ruangan laboratorium besar yang diisi 80 mahasiswa perlahan sepi. Hanya tersisa lima mahasiswa yang belum menyelesaikan laporannya, termasuk aku. Laboratorium akan ditutup sepuluh menit lagi, sedangkan aku masih harus mengulang percobaan agar unsur yang tersembunyi di balik zat itu berhasil aku temukan.

„Baik, saya ajukan laporan kedua saya. Saya sangat yakin di dalam zat ini tidak terdapat unsur karbonat, karena saya sudah mengulang percobaan ini sebanyak tiga kali, dan tidak saya temukan juga gas karbon dioksida dalam larutan barium hidroksid,“ kataku dengan sedikit emosi.
„Ya benar,“ jawab asisten itu. „pada zat yang kamu miliki memang tidak ada karbonat. Tapi mengapa kamu tulis dalam laporan pertamamu?“
Ups, hampir ketahuan kalau saya menebak jawaban tanpa melakukan percobaan.
„Selanjutnya, dalam zat ini ada unsur iodid, karena ketika saya berikan asam sulfat, muncul sol berwarna kuning dengan titik-titik air berwarna ungu, serta kristal hitam pada dinding tabung reaksi,“ lanjutku.
„Ya itu benar, kamu punya unsur Iodid. Tapi, apa yang kamu ajukan sekarang masih salah. Apakah kamu yakin kamu punya unsur sulfat?“
„Ya! sangat yakin,“ jawabku dengan sedikit ngotot.
„Apa buktinya?“
„Hmmm... saya melihat ada sol yang jatuh pada larutan bariumsulfat setelah proses sentrifugal,“
„Yakin?“
„Sedikit yakin,“
„Coba lihat larutannya,“
„Ehh... sudah saya buang...,“
„Kalau begitu saya ingin lihat zat yang kamu punya,“
„Baik, Anda ikut saya ke meja kerja saya,“

Saya menunjukkan zat dalam gelas kimia kecil. Mendadak raut muka asisten itu berubah.
„Kamu belum menghaluskan garam-garam ini, ya?“ tanyanya sedikit terkaget.
„Belum, memangnya harus dihaluskan?“ jawabku.
„Ya jelas! Pantas jawaban kamu salah semua. Unsur-unsur itu harus diteliti secara bersamaan!“ jawabnya.
„Anda tidak mengatakannya!“ kataku membela diri.
„Doch! Saya mengatakannya ketika seminar. Saya bahkan melihat kamu hadir pada seminar tadi siang. Jelas saja, karena kamu tidak menghaluskan garam-garam ini, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa menganalisis unsur-unsur dalam zat ini!“

***

Ruang Locker, Gedung Kimia, TU Berlin
Aku membuka jas lab putih serta kacamata pelindung dengan tanpa semangat. Kugantungkan di dalam lemari besiku. Hari ini mendapat nilai 4,0, hampir saja tidak lulus. Seseorang keluar dari toilet dalam ruang locker ini, Robert Mensch, teman kuliahku. Ia mengambil jaket dan tas dari dalam lemarinya. Terlalu malas aku untuk menyapanya – menyapa orang-orang – setelah mengetahui hasil yang kudapatkan dari enam jam berkutat di lab.

„Hai,“ sapanya terlebih dahulu.
„Hai,“ balasku datar
„Bagaimana percobaan kamu tadi?“ tanyanya.
„Buruk, aku mendapat 4,0,“
„Aaah, sayang sekali,“ jawabnya. Aku tersenyum.
„Kalau kamu, bagaimana?“ tanyaku membalas.
„Aku mendapat 2,0,“
„Waw! Bagus!“
„Na ja, itu juga karena aku terlalu banyak memberikan asam sulfat. Semestinya perbandingannya satu banding satu,“ katanya. „Mengapa kamu bisa mendapat 4,0? Apa yang salah?“ lanjutnya bertanya.
„Hukum Pareto,“ jawabku.
„Hukum Pareto?“
„Kamu pulang dengan kereta U2 dan U9, kan? Ayo kita pulang bersama, nanti aku jelaskan hukum Pareto itu,“

***

Di dalam U-Bahn U2 dan U9
„Vilfredo Frederico Damaso Pareto, lahir di Paris 15 Juli 1848, adalah seorang ahli mikroekonomi Italia yang banyak berperan dalam dunia ekonomi, sosiologi, dan filosofi. Dia pernah membuat sebuah survey mikroekonomi di Italia. Hasil surveynya menyebutkan, bahwa 80% peredaran uang di Italia, terkonsentrasi hanya pada 20% warganya. Hanya 20% dari populasi!“ kataku memulai penjelasan. Robert yang duduk di hadapanku mendengarkan dengan seksama. „Dari situ muncul lah hukum Pareto, atau dalam bahasa Inggris disebut Pareto Principle, dalam bahasa Jerman disebut Pareto Verteilung, atau dikenal dengan sebutan 80-20 Rules atau 80:20 Regel,“
„Maksudnya?“ tanya Robert sambil mengerutkan dahi.
„Hukum itu menjelaskan, bahwa jumlah yang kecil dalam sebuah himpunan, banyak mempengaruhi himpunan tersebut. Dan juga sebaliknya, jumlah yang besar dalam sebuah himpunan, justru tidak banyak berperan dalam himpunan itu. Atau dalam kata lain, 80% keberhasilan diperoleh hanya dari 20% unsur pendukung keberhasilan itu,“ lanjutku.
„Lalu apa hubungannya dengan percobaan kimia kamu?“ Robert semakin penasaran. Kereta kami sampai pada stasiun Zoologischer Garten, saatnya kami harus berpindah kereta.
„Coba bayangkan. Kegagalan percobaanku hanya karena aku lupa menghaluskan garam-garam itu. Menghaluskan garam-garam paling hanya membutuhkan waktu selama tiga menit, tapi mempengaruhi enam jam kerjaku secara keseluruhan. Karena aku lupa mengerjakan hal yang kecil itu, maka gagal lah seluruh pekerjaan ku,“ jawabku. Robert tersenyum, dia mulai mengerti apa yang aku maksud.
„Kamu punya contoh yang lain lagi?“ tanyanya. Aku mengangguk.
„Kita belajar Matematika Analisis atau Aljabar Liniar selama satu semester bukan?“ tanyaku. „Berapa banyak waktu yang kamu butuhkan dalam satu minggu untuk belajar dua mata kuliah itu?“
„Wah! Sangat banyak! Setiap minggunya kita mendapat pekerjaan rumah yang sangat sulit dan membutuhkan waktu minimal dua hari untuk mengerjakannya. Belum lagi dengan bahan yang sangat banyak dan tugas-tugas lainnya yang menumpuk,“ katanya.
„Sepakat!“ jawabku. „Semester ini kita banyak disibukkan hanya untuk kedua mata kuliah itu, bukan?“ lanjutku. Robert mengiyakan. „Dan kamu tahu, Robert, upaya kita dalam satu semester itu hanya ditentukan dalam waktu satu jam! Ya, satu jam!“
„Benar!“ teriak Robert. „Ujian mata kuliah itu hanya selama satu jam! Dan bila kita gagal dalam satu jam itu, maka sia-sia pula upaya kita dalam satu semester! Tidak peduli walaupun kita telah membuang waktu banyak hanya untuk dua mata kuliah ini. Bila nilai kita dalam satu jam ujian itu jelek, maka kita tidak lulus!“
Aku tersenyum. Apa yang dikatakan Robert itu benar.
„Contoh lain lagi, waktu aku sekolah di Indonesia, aku ikut dalam organisasi siswa. Setiap akan melakukan kegiatan, kami wajib membuat proposal. Tanpa Proposal, kegiatan kita mustahil dijalankan. Padahal, kalau kita membuat time-schedule dalam kegiatan tersebut, alokasi waktu untuk membuat proposal paling hanya satu minggu. Yang paling banyak adalah proses kerja kita dalam kegiatan itu. Tapi hal yang banyak itu tidak akan mungkin dijalankan bila kita tidak membuat proposal,“ lanjutku.
„Hukum Pareto!“ teriak Robert.
„Dan satu contoh lagi. Menurut agamaku, kehidupan di dunia ini hanyalah sebentar. Dan kehidupan setelah di dunia adalah kehidupan abadi. Kehidupan kekal dan selama-lamanya. Namun kehidupan abadi kita itu ditentukan oleh kehidupan kita di dunia yang sesingkat ini. Apakah kita akan hidup di surga atau neraka, ditentukan dalam hidup kita saat ini. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW berkata, hidup di dunia itu bagaikan seseorang yang sedang berjalan jauh melintasi luasnya padang pasir, dan berhenti sejenak di bawah pohon kurma untuk beristirahat, sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya lagi,“

„Teng tong, Leopoldplatz, Übergang zu U-Bahn Linie U6“

„Robert, aku harus turun di sini. Rumahku di sini,“
„Ach so, oke sampai besok!“
„Mach’s gut,“
„Du auch. Ciao“
„Ciao“

„Zug nach Osloerstrasse. Einsteigen, bitte! Zurückbleiben, bitte!“

Mushab Syuhada
Berlin, 5 Maret 2006
12:05

Monday, February 06, 2006

Heikele Karikaturen

Kategori: Artikel

Die European sehen jetzt sehr extrem gegen Islam aus. Die Karikaturen des Propheten Muhammad (Peace Be Upon Him) wurden bei einer dänischen Zeitung (Jyllands-Posten) und mehreren europäischen Zeitungen im September 2005 veröffentlicht. Ich habe in diesen Zeiten schon mal gesehen, und habe mich darüber sehr geärgert.

Zur zeit passiert es in der ganzen Welt besonders in islamischen Ländern viele Proteste gegen diese heikelen Karikaturen. Den Moslemen aus aller Welt ist damit wirklich angetan worden. Ich freue mich, dass sich die indonesische Regierung von dem Präsidenten SBY um diese Probleme auch kümmert. Starker Protest wurde von indonesischer Regierung zu der dänischen Botschaft in Jakarta und auch zu der dänischen Regierung gegeben.

Das entspricht einer Warnung für European, dass der Islam nicht geschlafen hätte. Einmal würden wir von ihnen noch mal verletzt, würde noch andere unangenehme Sache zu ihnen vorkommen. Jetzt ist alles klar geworden, wer radikal sein söllte. Die Antwort ist definitiv sie!

Wir sind keine Terroristen, wir sind keine Anarchisten, aber wir sind gegen Leute, die den Islam beleidigen!

Monday, January 30, 2006

New Year's Resolutions

Kategori: Puisi

Sedikit putar balik
Dua tahun yang lalu
...
Jakarta, 31 Januari 2004
Sebilas bayangan senja
Tersenyum hangat sore itu
Sore kenangan
Akhir dari lembar lama
Awal dari resolusi pada lembar baru
Ayah, Bunda, restui kami pergi menuju
Apa yang kami cari
... dan pesawat pun tinggal landas
... beberapa orang menangis haru di Soekarno-Hatta

Dua tahun sudah
Telusur sebuah rahasia besar-Nya
Mengapa kami di sini
Adalah bagian dari skenario-Nya
...kini perlahan kami mengerti, mengapa Allah mempertemukan kami dengan takdir ini...
Di sini jauh lebih baik
Dan menemukan hidup yang benar-benar hidup

31 Januari 2006
Ketika langit dijatuhi meteor dua tahun lalu
Kini hijrah kami
Bertepatan 1427 tahun hijrahnya Rasulullah SAW
Hijrah, mencari arti hidup, dan kala Kau telah pertemukan kami dengan hidup itu
Hidup yang hakiki
Tetapkanlah selalu hati-hati kami

New year’s resolutions...
We wish we could...

Berlin 2006

Saturday, January 28, 2006

Fakultas Tiga

Kategori: Artikel

Selamat Datang di Technische Universität Berlin

Posting kali ini akan mengupas sedikit mengenai tempat di mana sebagian besar waktu saya dihabiskan, yaitu tak lain dan tak bukan adalah kampus saya – TU Berlin.

TU Berlin terletak persis di salah satu dari pusat kota Berlin, tepatnya di Ernst-Reuter-Platz wilayah Charlottenburg. Tempat ini dapat dengan mudah dijangkau memakai U-Bahn (subway) U2, atau dengan S-Bahn dan Bus dari Zoologischer Garten. Di Ernst-Reuter-Platz terdapat sebuah bundaran (seperti bundaran HI di Jakarta). Jadi bisa kalian bayangkan, kalau kampus saya itu terletak seolah-olah di sekitar Bundaran HI.





TU Berlin sempat runtuh ketika perang dunia kedua. Ternyata, banyak juga orang Indonesia yang menyelesaikan kuliahnya di TU Berlin. Contohnya, saya sempat meminjam sebuah tesis tentang biosurfaktan dari perpustakaan kampus yang ditulis oleh salah satu mahasiswa Indonesia di tahun 1968. Wow. Kata seorang teman (yang bersamanya saya banyak menghabiskan waktu di kampus tercinta ini) seorang penjaga gedung di sini sempat bertemu dengan mantan Presiden Soekarno yang pernah berkunjung ke sini.

Oke. Sekarang kita masuk ke tema. Kali ini saya ingin membahas tentang fakultas tempat saya belajar, yaitu Fakultät III: Prozesswissenschaften (Fakultas Ilmu Proses). Fakultät Prozesswissenschaften memiliki beberapa jurusan, seperti Energie- und Verfahrenstechnik (Teknik Energi dan Produksi), Prozess- und Anlagentechnik (Teknik Proses dan Konstruksi), Werkstoffwissenschaften- und Technologien (Ilmu Bahan Baku dan Teknologi Bahan Baku), Technischer Umwelschutz (Teknologi Perlindungan Lingkungan), Lebensmitteltechnologie und Lebensmittelchemie (Teknologi Bahan Pangan dan Bahan Pangan Kimia), dan Biotechnologie (Bioteknologi). Saya sendiri berada pada jurusan Biotechnologie.

Mahasiswa-mahasiswa dari fakultas tiga masih memiliki mata kuliah yang hampir semuanya sama di Grundstudium (dalam program Diplom, ada istilah Grundstudium untuk mata kuliah yang dasar dan Hauptstudium untuk mata kuliah pendalaman). Di semester ini kami memiliki lima mata kuliah yaitu Projektprozessingenieurwissenschaften (Proyek Insinyur Ilmu Proses), Wirtschaftswissenschaftliche Grundlage für Ingenieure (Ekonomi Dasar untuk Insinyur), Mathematik Analysis I für Ingenieure (Matematika Analisis I untuk Insinyur), Lineare Algebra für Ingenieure (Aljabar Linear untuk Insinyur) dan Allgemeine und Anorganische Chemie für Ingenieure (Kimia Dasar dan Kimia Anorganik untuk Insinyur). Hanya saja, mata-mata kuliah tersebut sedikit berat untuk kami. Mengapa berat? Dan apa saja yang dilakukan para mahasiswa fakultas tiga untuk dapat survive? Berikut penjabarannya.

1. Projektprozessingenieurwissenschaften

Mata kuliah ini dapat dikatakan paling asik. Paling santai karena kita mengerjakannya dalam satu kelompok. Mata kuliah ini menyediakan 37 proyek dari berbagai jurusan yang ada di fakultas ini untuk dikerjakan bersama-sama dalam satu kelompok. Tujuan dari mata kuliah ini adalah agar para mahasiswa mengenal dunia kerja sebagai insinyur dimana akan dipenuhi dengan pembuatan proyek dan kerja di dalam tim. Dari situ juga dinilai kemampuan kita bekerja dalam satu tim untuk membuat proyek kita berhasil, bagaimana kita mengatasi konflik dalam bekerja di satu tim, bagaimana kita membuat mindmapping serta time schedule agar proyek yang dikerjakan kita dapat selesai tepat waktu, bagaimana kita membuat laporan tertulis dengan mengambil bahan dari berbagai buku yang berkaitan dengan tema tersebut, dan bagaimana kita membuat presentasi atas proyek yang telah kita kerjakan.

Kami bebas memilih proyek mana saja, asalkan yang kami sukai. Nah, waktu itu hari Jumat. Hari itu adalah hari pertama pemilihan proyek lewat internet. Pemilihan dimulai pukul tiga sore. Saya pikir, jam tiga sore belum ada mahasiswa yang memilih proyek, sehingga saya baru membuka website pemilihan proyek pada pukul setengah empat. Ternyata oh ternyata, baru setengah jam, sudah hampir semua proyek penuh. Saya tidak kebagian tempat pada proyek untuk jurusan Bioteknologi. Secara yah, saya ini kan anak Biotek. Akhirnya saya memilih proyek Technischer Umweltschutz deh.

Intinya, di sini semua serba komputer. Serba cepat. Siapa cepat dia dapat deh. Jangan pernah punya prinsip biar lambat asal selamat. Ntar keburu ketinggalan bis.

Walaupun demikian, saya senang mendapat proyek dengan judul „Tenside und Biotenside – Herkunft, Verbleib, und Verhalten in der Umwelt“ karena ternyata tidak jauh berbeda dengan Bioteknologi. Di sini kami lebih banyak bermain dengan Surfaktan dan Biosurfaktan dan mikrobiologi. Selain itu, alhamdulillah teman-teman saya satu kelompok asik-asik dan kompak. Mereka tidak keberatan jika saya harus menunaikan shalat di ruangan kerja kami. Tempat kerja kelompok kami pun tidak jauh dari Mathe-Gebäude (Gedung dimana banyak vorlesung untuk kami diselenggarakan) jadi kami juga bisa datang ke Vorlesung atau Tutorium. Bayangkan, beberapa kelompok kebagian tempat kerja di Steglitz (daerah selatan Berlin) atau di Ackerstr. (Wedding. Deket rumah sih, tapi tetep aja terkucil).

Mata kuliah ini sudah selesai. Finally.

2. Wirtschaftswissenschaftliche Grundlage für Ingenieure

Ini dia mata kuliah yang paling saya takutkan. Ekonomi! Dari jaman SMA saya paling benci pelajaran Ekonomi. Mata kuliah ini menggabungkan BWL dan VWL (Ekonomi perusahaan dan ekonomi rakyat) untuk insinyur. Memang saya akui mata kuliah ini penting, karena insinyur juga harus bisa ekonomi. Bukannya teknik melulu. Tapi. Entah mengapa yah, saya selalu mengantuk ketika Vorlesung dan terbengong-bengong ketika Übung.

Sebentar lagi ujian mata kuliah ini. Tepatnya tanggal 15 Februari. Tapi, jika kita ingin mendapat tempat untuk mengikuti ujian, kita harus lulus dulu ujian percobaan dengan nilai minimal 80%. Sistim siapa cepat dia dapat pun bermain lagi. Kita harus lulus ujian percobaan yang dapat kita kerjakan melalui internet, namun tempatnya terbatas yaitu 300 tempat. Kalau kita tidak dapat tempat berarti kita hatus mengulang mata kuliah ini semester depan. Oh no! Oleh karena itu dua minggu terakhir ini saya mati-matian berusaha lulus di ujian percobaan. Alhamdulillah berhasil, sekarang tinggal ujian benerannya di tanggal 15 Februari. (untuk Adi: kenapa lo ngajak jalan ke Finnlandia di tanggal 15 Februari??!!)

3. Mathematik Analysis I für Ingenieure

Ini dia mata kuliah paling heboh untuk para mahasiswa fakultas tiga. Bagaimana tidak, mahasiswa-mahasiswa fakultas tiga diwajibkan mengerjakan Hausaufgabe (PR) setiap minggunya dan nilainya harus diatas 60%, kalau tidak, kami tidak bisa ikut ujian. Kayak anak SD yah harus ngerjain PR segala. Sedangkan anak-anak jurusan lain kayak teknik mesin, informatik, elektro, mereka tidak harus mengerjakan PR. Tapi saya akui, ini berguna juga. Kalau saya tidak mengerjakan PR, mungkin belajar matematika akan terlupakan sampai dekat ujian.

Tahu nggak, di antara anak-anak fakultas tiga dan fakultas delapan (anak teknik industri) sering juga bermunculan fotokopi PR dari sebuah kelompok yang sudah ngumpulin PR dan nilainya bagus. Hehehe.


4. Lineare Algebra fur Ingenieure


Sama seperti Matematika Analisis, kami juga harus mengerjakan PR di mata kuliah ini. Aljabar Linear memang terlihat mudah, namun sebenarnya sangat abstrak. Saya sempat sekali patah semangat karena tidak mengerti sama sekali sebuah bab di mata kuliah ini yang berdampak saya tidak bisa mengerjakan PR.

Selain itu, di mata kuliah ini ada PR yang harus dikerjakan dengan program Maple. Karena program ini mahal, saya harus mengerjakannya di Unix Pool (Ruang Komputer milik anak-anak jurusan Matematika). Yang seru di sini, kami semua rata-rata gaptek dengan program ini (disamping kami juga tidak mengerti apa yang diajarkan pada mata kuliah ini). Jadi, kalau di ruangan ini melihat ada sekelompok orang sedang berkumpul melihat sebuah komputer, lalu balik kembali ke tempatnya, dan berjalan kembali ke sebuah komputer itu, sambil sesekali berdiskusi dan berdebat atau berteriak „ich kann nicht mehr weiter gehen!“, itu pasti anak fakultas tiga atau fakultas delapan. Untungnya kami kompak, jadi siapa yang sudah selesai dan mengerti PR itu, biasanya dia menolong teman-temannya yang lain. Huhuhuhu.

5. Allgemeine und Anorganische Chemie für Ingenieure

Mata kuliah ini menggabungkan pelajaran dari kelas satu SMA sampai kelas tiga SMA dalam satu semester. Kebayang kan betapa cepatnya. Untungnya saya sempat membawa catatan kimia saya ketika SMA.

Secara keseluruhan saya kurang sreg dengan profesornya. Kenapa yah, saya (lagi-lagi) selalu mengantuk di Vorlesungnya. Walaupun demikian, si Profesor selalu mengadakan pertunjukan kimia yang meledak-ledak di setiap Vorlesungnya, jadi kami kembali segar lagi. Dalam satu minggu kami memiliki dua pertemuan, dan pasti selalu ada pertunjukan praktikum. Hebat yah. Padahal untuk sekali praktikum dibutuhkan dana yang lumayan besar. Tapi kalau untuk studi sepertinya mereka loyal-loyal saja deh. Syarat untuk ikut ujian di mata kuliah ini adalah dengan mengikuti praktikum di laboratorium selama satu bulan ketika liburan semester (hiks hiks hiks). Baru setelah itu ujian.

Demikianlah artikel saya kali ini tentang TU Berlin dan seluk beluk para mahasiswa di dalamnya. Secara keseluruhan, saya senang kuliah di sini. Oke, saya cukupkan cerita saya karena kini saatnya mempersiapak ujian... Ekonomi!

Saturday, January 21, 2006

Memberi

Kategori: Curhat

Saya adalah orang yang suka membuat The Best Scene of The Day. The Best Scene of The Day adalah suatu peristiwa di suatu hari yang sangat berkesan dan menyenangkan untuk dikenang. Peristiwa itu bisa menggembirakan, menyebalkan, menyedihkan, ataupun mengharukan. Intinya, peristiwa yang menjadi tema untuk saya di hari itu.

The Best Scene of The Day kali ini terjadi tepat jam tujuh sore. Kala itu saya sedang berkutat dengan soal-soal ekonomi di depan meja. Tiba-tiba muncul sebuah pesan lewat Yahoo! Messenger dari penghuni apartemen 805 dengan bunyi seperti ini:

Teman (21.01.2006 18:47:06): ass.
Teman (21.01.2006 18:47:15): ini wawan mas
Myself (21.01.2006 18:47:35): wa'alaikumsalam wr wb
Myself (21.01.2006 18:47:37): ja bitte (bahasa: ya, silahkan)
Teman (21.01.2006 18:47:49): boleh minta nasi ngga
Myself (21.01.2006 18:47:56): nasi?
Teman (21.01.2006 18:47:57): eh slh
Teman (21.01.2006 18:48:00): beras
Myself (21.01.2006 18:48:05): boleh
Myself (21.01.2006 18:48:07): datang aja,

Teman (21.01.2006 18:48:09): lp beli
Myself (21.01.2006 18:48:12): tapi timggal sedikit
Myself (21.01.2006 18:48:13): gpp kan?

Teman (21.01.2006 18:48:16): byk kontingen dtg
Myself (21.01.2006 18:48:27): wah kalau banyak kontingen gak mungkin cukup
Teman (21.01.2006 18:48:30): ajay minyta sambel
Myself (21.01.2006 18:48:30): atau mau beras?
Teman (21.01.2006 18:48:34): ngidam
Myself (21.01.2006 18:48:39): sambel apa nih?
Myself (21.01.2006 18:48:45): sambel botolan or ulek?
Teman (21.01.2006 18:49:08): sambel botol kalo ada
Myself (21.01.2006 18:49:11): ada
Myself (21.01.2006 18:49:13): datang aja

Myself (21.01.2006 18:49:27): tapi wie gesagt (colloquial speech, bahasa: jujur), nasinya tinggal dikit, blom masak, kalau mau beras boleh

Teman (21.01.2006 18:49:34): okay
Teman (21.01.2006 18:49:42): beras aja kok
Teman (21.01.2006 18:49:50): sori banget ngerepotin kata ajay
Teman (21.01.2006 18:50:03): ok siip
Teman (21.01.2006 18:50:12): pasukan siap meluncur

Beberapa saat mereka datang. Dan mengambil beras, yang ternyata juga sudah tinggal sedikit. Saya tahu mereka ada empat orang di sana. Nasi dua gelas pun sepertinya tidak akan cukup untuk mereka. Masalahnya, hari ini hari Sabtu, dan besok Minggu. Hari Minggu semua toko tutup sehingga kita tidak mungkin bisa membeli beras.

Setelah mereka kembali ke tempatnya, saya pun menulis pesan kembali lewat Yahoo! Messenger

Myself (21.01.2006 18:59:00): hari minggu gak usah masak
Myself (21.01.2006 18:59:08): makan siang bareng aja di rumah ferry

Myself (21.01.2006 18:59:11): gue yang masak

Myself (21.01.2006 18:59:19): besok gue masak cumi ama perkedel tahu

Myself (21.01.2006 18:59:22): jam 2 siang yah

Teman (21.01.2006 18:59:24): waks
Teman (21.01.2006 18:59:29): Asiiiikk
Myself (21.01.2006 18:59:30): jadi nasinya buat makan malam aja besok
Teman (21.01.2006 18:59:33): Insya allah dateng
Myself (21.01.2006 18:59:49): yuti... oki doki (colloquial speech. Bahasa: baik... ok)
Teman (21.01.2006 18:59:50): jam 2 di rmh ferry
Myself (21.01.2006 18:59:58): yap, aber ohne (Bahasa: tapi tanpa) telat yak
Teman (21.01.2006 19:00:03): ngOKeh

Tidak sampai lima menit kemudian, bel apartemen pun kembali berbunyi. Aku tidak menduga kalau yang datang salah satu dari mereka, yaitu Wawan, yang kali ini membawa semangkuk sup ayam hangat dengan penataan yang indah (lihat foto di bawah ini).




Saya (terbengong-bengong): „Apa ini?“
Wawan: „Udah, makan aja! Dari pada makan nasi goreng“
Saya (dalam hati): Wah mereka melihat menu saya hari ini (nasi goreng) yang terletak di atas kompor, dan mereka sekarang menawarkan sesuatu yang lebih spesial.
Wawan: „Yaudah yah. Dimakan loh“
Saya (dalam hati): This is the best scene of the day, saya terharu. Benar-benar terharu.

Saling memberi. Mungkin sepele, namun dapat membawa nilai rasa yang besar dalam hati dan juga dapat melunakkan hati. Salah satu fiquh dakwah pun adalah dengan saling memberi, yang dengan demikian membuat kita terasa ‚ada’ dan ‚keberadaan’ kita diperhatikan serta dihargai oleh orang lain. Jika kalian sempat membaca novel Ayat-Ayat Cinta karangan Habiburrahman El-Shirazy, ada satu peristiwa ketika Fahri memberikan hadiah ulang tahun kepada tetangganya - Madame Nahed dan Yousef, yang dengannya menjadikan hubungan antara Fahri dan keluarga Boutros semakin erat.

Memberi pun tidak harus berupa barang atau uang, bisa juga dengan senyuman atau tenaga. Sudah baca tulisan ini? Dari situ jelas terlihat, bahwa memberi benar-benar ampuh untuk melunakkan hati seseorang.

Sunday, January 01, 2006

Perjuangan Menuju Harapan

Kategori: Cerpen

Tahun 2006 adalah tahun sepak bola (world cup kali ini di Jerman, hehehe... )

By Guest-Writer

Perjuangan Menuju Harapan
Oleh: Nico Ega Nugraha


Keadaan pada sore itu biasa-biasa saja. Hanya segelintir mobil yang berlalu-lalang. Lapangan sepak bola masih sepi karena masih terlalu panas untuk digunakan bermain sepak bola. Seperti pada sore-sore sebelumnya, tampak seorang remaja sedang berlatih di sana. Namanya Agi, ia kelihatan sedang asyik berlatih dengan bolanya. Panas yang cukup menyengat pada sore itu merupakan hal yang biasa untuknya. Namun, walaupun ia selalu rutin latihan, kulit tubuhnya tetap tetap terlihat bersih. Ia tidak mengambil bimbingan belajar seperti anak-anak di usianya, meski ia kerap dinasehati oleh orangtuanya untuk mengikuti bimbingan belajar. Baginya, cukup belajar dilakukan di rumah dan di sekolah.

Ia selalu berlatih sepak bola. Selalu. Tak ada yang dapat menundanya untuk berlatih sepak bola. Bila ia pergi kemanapun, ia selalu membawa sebuah bola kaki. Baginya, bola merupakan bagian yang tidak dapat lepas dari dirinya, dan merupakan sahabat baiknya sejak saat itu.

Saat itu, ia masih berusia sembilan tahun. Ia mengenal sepak bola dari ayahnya yang gemar menyaksikan pertandingan sepak bola. Piala dunia di Amerika Serikat sedang diadakan.. Ketika itu, ia sudah memiliki tim sepak bola kesayangannya, kesebelasan Italia. Tidak pernah ia lewatkan saat tim nasional kesayangannya berlaga di atas rumput hijau. Ia menyukai gelandang penyerang atau playmaker kesebelasan Italia, Roberto Baggio, yang bernomor punggung sepuluh. Ia tidak hanya menyukai gaya rambut Baggio yang dikuncir berbuntut, tetapi juga ia menyukai sosok Baggio yang memiliki kemampuan teknis yang luar biasa didukung dengan daya intelegensi yang tinggi. Saat itulah Agi menyukai sepak bola, dan ayahnya memberikan seperangkat alat bermain sepak bola untuknya.

“Agi!” teriak seseorang memanggil namanya. Teriakan yang menahan geraknya untuk menendang si kulit bundar dalam latihannya. Ia berhenti sejenak untuk melihat siapa yang memanggilnya. Sebuah sosok datang. Aryo, sahabatnya sejak kecil.
“Aryo! Kenapa kamu datang terlambat?” sahut Agi dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Aku baru saja mengembalikan buku yang kupinjam di perpustakaan. Sudah lama kamu latihan, Gi?” jawab Aryo.
“Lumayan. Aku sudah latihan mengontrol bola selama lima menit dan latihan menendang ke gawang selama lima menit” jelasnya.
“Kalau begitu, ayo kita mulai latihannya!”
“Ok!”

Mereka satu tim di sebuah kesebelasan remaja yang seing mengadakan latihan di Senayan. Namanya Young Guns Club, atau lebih dikenal dengan YGC. Agi dan Aryo biasa latihan di lapangan dekat rumah mereka ketika tidak ada jadwal latihan di klub. Klub mereka berlatih seminggu tiga kali. Adalah Bang Gugun, pelatih klub mereka yang merupakan mantan pemain di liga amatir Amerika Serikat.

Sementara Aryo melakukan pemanasan, Agi kembali berlatih mengontrol bola. Setelah Aryo selesai menyelesaikan pemanasannya, barulah mereka berlatih bola bersama. Mereka latihan mengoper, meyundul, merebut, dan mempertahankan bola. Mereka juga berlatih beberapa kombinasi seperti saling menyelesaikan umpan atau lainnya. Di dalam klub mereka, Agi berposisi sebagai gelandang penyerang sementara Aryo sebagai gelandang tengah. Latihan kali ini diakhiri dengan latihan fisik, peregangan otot, dan pendinginan.

Mereka bercita-cita menjadi seorang pemain sepak bola yang besar, dimana untuk menggapai cita-cita itu, mereka rela mengorbankan apa saja sambil berpikir bagaimana untuk mewujudkannya.

“Kamu sudah selesai, Aryo?” tanya Agi sambil menghabiskan sisa air mineral yang selalu dibawanya ketika latihan.
“Satu gerakan lagi... dan... ugh! sudah selesai sekarang” tukas Aryo sambil mengakhiri pendinginannya.
“Bagaimana? Kamu sudah siap menghadapi kejuaraan interkontinental yang dimulai pekan depan?” tanya Aryo.
“Ya! Aku sudah menunggu kesempatan emas ini sebagai ajang untuk melangkah ke tingkat yang lebih tinggi lagi” jawab Agi. “Kamu sendiri sudah siap, Aryo?”
“Aku sedang bersiap diri sekarang”
„Menurutmu, siapa yang harus kita waspadai dalam kompetisi itu?“
„Menurutku, Tim Top lah yang harus diwaspadai. Tim ini merupakan juara bertahan tahun lalu. Mereka sudah sangat kompak. Meski demikian mereka telah banyak kehilangan pemain-pemain andalan karena batas usia yang telah terlampaui. Walau begitu, mereka tetap saja tangguh. Mereka banyak bermain dengan umpan pendek yang dikombinasi dengan umpan panjang, ditambah dengan taktik cerdas dan kegigihan serta sikap pantang menyerah mereka“ jelas Aryo dengan mata berbinar-binar.
„Dan, siapa pemain yang paling berbahaya di antara mereka?“ tanya Agi lagi.
“Aji, pemain dengan nomor punggung tujuh itu adalah pencetak gol terbanyak pada kompetisi tahun lalu. Ia pandai dalam menempatkan diri di berbagai situasi. Ia juga lihai ketika melakukan duel di udara. Tahun ini adalah penampilannya yang terakhir untuk klubnya karena adanya batasan umur. Oleh karena itu, aku yakin ia akan tampil semaksimal mungkin untuk menghantarkan klubnya menjadi juara tahun ini. Lagi pula, kejuaraan kali ini akan lebih bergengsi karena akan disaksikan langsung oleh ketua PSSI, para wartawan olahraga, dan para pencari bakat. Pasti ia akan tampil habis-habisan” jelasnya.
“Begitu juga dengan kita!” kata Agi semangat.
“Hari sudah semakin sore. Ayo kita pulang. Kita belum shalat Ashar” kata Aryo.
“Ayo!” sahut Agi yang sama letihnya dengan Aryo, dan kemudian berjalan bersama.


Mereka berduapun mengucapkan salam perpisahan di pertigaan itu. Mereka sudah satu klub sejak kecil, mereka sudah beberapa kali menjuarai turnamen, dan tidak jarang mereka menjadi pencetak gol terbanyak. Saat ini mereka menjadi pemain utama di klubnya. Mereka selalu menjadi tumpuan klub untuk menjuarai kompetisi-kompetisi yang diikuti. Merekapun diangkat menjadi pemain kunci untuk kejuaraan interkontinental pekan depan. Walaupun begitu, tidak pernah ada sedikitpun dalam pikiran mereka rasa untuk menyombongkan diri.

Hari-hari Agi dijalani dengan berbagai latihan yang keras. Ia berusaha untuk tampil maksimal. Dengan jadwal yang padat, ia tetap tidak melalaikan tugas-tugas sekolahnya. Ia terus latihan bersama dengan Aryo agar saling mengerti dan mengenal pergerakan masing-masing.

Waktu terus berlalu, tiba saatnya untuk bertanding melawan tim yang telah lolos babak penyisihan, kecuali sang juara bertahan Top Club. Klub Young Guns juga berhasil lolos melewati babak-babak penyisihan. Agi dan Aryo mengemas gol dengan jumlah yang sama – empat gol. Kejuaraan ini dibagi dalam dua grup. Grup A berisikan juara bertahan Top Club, dan grup B berisikan Young Guns Club, Persija Junior, Blues Club, dan Fox Club.

Young Guns Club mendapat nilai maksimal pada putaran pertama dari tiga kali pertandingan dengan nilai sembilan. Selisih gol Young Guns adalah 9:1. Satu-.satunya kebobolan dialami ketika menghadapi kesebelasan Persija Junior. Mereka akan menghadapi Top Club yang juga mengantongi nilai maksimal.

Bang Gugun memberikan motivasi kepada anak didiknya yang akan menghadapi partai final tiga hari mendatang. Ia juga memberikan satu hari penuh untuk beristirahat.

“Selamat anak-anak! Permainan yang cantik! Bravo! Bravo!” puji Bang Gugun di ruang ganti pakaian atas keberhasilan mereka menembus partai final.
“Kita akan menghadapi lawan yang tangguh dan juga bisa dibilang pertandingan yang sebenarnya. Jangan terpaku dengan permainan lawan. Selalu mewaspadai lawan, dan jangan mudah terpancing emosi!” Bang Gugun memberikan wejangan dan menoleh ke Dipa, sang kapten kesebelasan kami.
„Dipa, kamu harus mewaspadai Aji, terutama ketika ia memberikan umpan-umpan lambung. Ia sangat berbahaya ketika itu“ ucap Bang Gugun memperingati Dipa.
„Kalian tidak ada latihan besok“ seketika ruangan itu terdengar sorak sorai yang riuh. „Tapi ingat, harus tetap konsentrasi!“ lanjutnya.

Pertandingan finalpun tiba. Agi sudah berkonsentrasi untuk pertandingan kali ini. Begitu ia memasuki lapangan, belum pernah ia merasakan perasaan yang sehebat ini. Ia memang sering berlatih di Stadion Senayan, namun baru kali ini ia merasakan ramai dan meriahnya sambutan penonton yang membuatnya begitu bergairah dan semangat untuk memulai pertandingan.

Pertandingan dimulai begitu wasit meniupkan peluitnya. Permainan dengan tempo tinggi dan cepat mewarnai lapangan hijau saat itu. Permainan yang keras takjarang membuat emosi kesebelasan Young Guns terpancing. Sang kapten sibuk memberi peringatan kepada anak buahnya agar tidak mudah terpancing emosi.

“Sabar! Jangan sampai terpancing emosi! Jangan sampai kalian dikeluarkan!“ teriak Dipa sesuai perintah Bang Gugun.

Kedua kesebelasan mendapat peluang emas. Aji mendapat peluang saat ia lolos dari jebakan offside dan tinggal berhadapan dengan kipper. Tetapi sayang, ia kurang bagus dalam menyelesaikan umpan sehingga tendangannya melebar. Agi juga mendapat peluang ketika ia dengan individual tekniknya berhasil melewai satu demi satu pemain lawan dan menembakkan si kulit bundar ke gawang lawan. Namun sayang, tendangannya membentur mistar gawang dan terpental keluar lapangan.

Pada menit ke-42, suatu serangan dilancarkan melalui sayap kanan yang sangat cepat, kemudian dari sayap kiri pemain tim Top melepaskan umpan tarik yang akurat. Pemain belakang Young Guns yang dikoordinir Dipa gagal menghalau umpan tersebut. Sehingga Aji menyelesaikan umpan tarik itu dengan sebuah tandukan yang indah. Babak pertama akhirnya berakhir dengan kedudukan 1-0 untuk tim Top.

Babak kedua berlangsung menarik. Tim Top yang sudah unggul terlebih dahulu bermain keras, sehingga terjadi hujan kartu kuning di lapangan itu. Pada menit ke-65, Agi yang mendapat umpan dari sayap menyusup dengan cepat dengan kemampuannya menggiring bolanya. Ia berhasil melewati beberapa pemain tim Top. Ketika sudah berada di dekat pinalti lawan, ia diganjar dengan keras dari belakang. Wasit terpaksa mengeluarkan kartu kuning yang kedua untuk orang itu, dan terpaksa mengeluarkannya dari pertandingan. Tendangan bebas diambil Agi sendiri. Ia melepaskan tendangan melengkung melewati pagar betis, dan meluncur dengan cepat menuju gawang, lalu membentur mistar gawang sebelah kiri dan memantul masuk ke gawang. Kedudukan imbang. Para pemain Young Guns menjadi semakin bersemangat dengan lahirnya gol tersebut.

Selanjutnya pertandingan lebih banyak dikuasai oleh Young Guns. Pertandingan dengan waktu 90 menit berakhir dengan kedudukan 1-1, sehingga pertandingan harus dilakukan dengan perpanjangan waktu.

Pada waktu istirahat, Agi merasakan rasa sakit yang luar biasa akibat kejadian pada menit ke-65. Ia meringis. Bang Gugun mendengar lirihan Agi.

“Kenapa kamu, Gi?” Tanya Bang Gugun.
“Biasa bang, sakit sedikit” ujarnya.
“Apakah kamu bisa melanjutkan pertandingan?“ tanyanya lagi.
“Insya Allah, Bang. Saya akan berusaha semaksimal mungkin”
“Kalau kamu sudah nggak sanggup, bilang abang ya!”
“Baik bang!”

Pertandingan dilanjutkan. Tim Young Guns langsung mengambil inisiatif untuk menyerang secara terbuka. Pada menit ke-101 Agi menggiring bola sampai pada daerah pertahanan lawan, lalu ia mengumpan bola ke sayap kiri yang dijaga oleh Aryo. Lalu Agi segera mencari posisi pada daerah pertahanan lawan. Setelah umpan lambung dari Aryo yang terukur ke daerah pinalti lawan, Agi menyelesaikannya dengan sebuah gol emas dan gol penentu kemenangan timnya. Dengan gol tersebut, Agi diarak oleh pemain Young Guns, dan dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik. Ia lalu dilirik oleh F. Rijjckaard, seorang pencari bakat dari klub Ajax di Belanda. Ia lalu memutuskan untuk bergabung dengan klub Ajax, meskipun ia harus meninggalkan semua yang dicintainya dan kenangan indahnya, demi menggapai impiannya menjadi pemain besar di masanya, walaupun harus melalui pengorbanan.

Epilog

“Selamat, Gi! Kamu bisa mewujudkan impian kamu” kata Aryo, sahabatnya, sambil menatap wajah Agi lekat-lekat. Ada seulas kenangan di sana.
“Terimakasih, Yo. Aku akan berangkat sekarang. Kamu harus berjanji untuk meraih juga impian kamu. Impian kita dulu” ujar Agi.
Agi dan Aryo larut dalam peluk dan tangis, sesaat sebelum pesawat yang ditumpangi Agi meninggalkan landasan di bandar udara Soekarno-Hatta.


Bekasi 2001
Edited by MS

Monday, December 19, 2005

Kedewasaan

Kategori: Curhat

„Pada umur berapa orang Indonesia sudah dikatakan dewasa?“ tanya salah satu temanku, Kazaoki, ketika kami makan siang bersama di mensa. „Tujuh belas“ jawabku. Dia mengerutkan dahi. „Di Jepang umur segitu masih tergolong muda“ jawabnya. Aku membalas seadanya, „Orang Indonesia baru mendapatkan Kartu Tanda Penduduk ketika berumur tujuh belas“.

Memang standar umur kedewasaan di setiap negara itu berbeda. Di Jerman misalnya, seseorang baru dikatakan dewasa ketika berumur delapan belas tahun. Waktu aku pertama kali menginjakkan kaki di Jerman, umurku masih tujuh belas tahun. Memang agak sulit prosedur untuk ‚anak di bawah umur’ seperti aku ini. Contohnya ketika meng-apply visa, aku harus melampirkan surat keluarga, fotokopi KTP ayah dan ibuku, sampai akte kelahiran. Teman-temanku yang kala itu sudah delapan belas tahun keatas tidak perlu melampirkan surat-surat tersebut.

Sesampainya di Jerman pun masih sulit. Aku tidak bisa membuka rekening di bank karena umurku yang belum penuh. Akhirnya aku ‚numpang’ dengan rekening temanku untuk sementara waktu. Di Jerman, seseorang baru mendapat kartu tanda penduduk, boleh berpisah rumah dengan kedua orang tuanya, boleh membuka rekening di bank, dan boleh boleh lainnya, jika orang itu benar-benar telah berumur penuh.

Empat hari yang lalu aku membantu pindahan seorang teman, namanya David, orang Jerman asli. Umur kami hanya terpaut satu tahun. Saat ini dia berusia dua puluh tahun. Dia berperilaku selayaknya remaja-remaja seusia kami. Di hari itu aku sempat satu mobil yang dikendarai oleh temannya (bernama Daniel). Kebut-kebutan, membicarakan merek mobil, dan membahas pelajaran-pelajaran di kampus mengisi perjalanan kami. Singkat kata, mereka masih berjiwa remaja, tetapi mereka sudah tinggal terpisah dengan orang tuanya dan menentukan hidup mereka sendiri.

Sebenarnya, apa sih definisi kedewasaan? Menurutku, kedewasaan itu ada dua bentuk. Kedewasaan psikis dan kedewasaan biologis. Dan kebanyakan orang cenderung lebih melihat kedewasaan biologis. Contohnya ya itu tadi, ketika aku belum bisa membuat rekening bank karena umur yang tidak memungkinkan, berarti pihak bank melihat patokan sebuah kedewasaan dari segi biologis.

Kedewasaan psikis tak jarang sudah lebih dulu hadir sebelum kedewasaan biologis. Seperti contoh kisah dari seorang khalifah dari dinasti Ummayah – Umar bin Abdul Azis, yang pada umur 24 tahun telah diberi kepercayaan menjadi gubernur Madinah dan beberapa tahun berikutnya menjadi pemimpin dinasti Ummayah yang membentang dari Samudra Atlantik sampai dengan Dataran Tinggi Pamir.

Agaknya sulit memisahkan antara kedewasaan biologis dengan kedewasaan psikis. Keduanya dituntut berkembang secara bersamaan. Dan hal itulah, menurutku lagi, adalah salah satu tugas yang cukup berat dalam kehidupan, dimana kita harus menyelaraskan kedua kedewasaan yang kita miliki, melalui beragam proses dan tahap yang tiap saat kita alami.

Wallahu’alam bishawab.

Thursday, December 15, 2005

Mengapa Saya Suka Menulis?

Kategori: Curhat

Artikel kali ini bisa dibilang tidak begitu penting, karena hanya mengulas mengapa saya senang menulis. Bagi yang tidak tertarik untuk mengetahui seluk beluk diri saya atau siapakah saya, lebih baik tunggu saja artikel-artikel lain yang akan muncul di blog ini (hehehe). Tapi bagi yang neugirig tentang kehidupan saya dan ingin mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang saya (mungkin kalian adalah secret admirer saya... hehehe) silahkan baca tuntas artikel ini.

Semua diawali dari tahun 2002, saya mulai senang membuat puisi. Mungkin saya adalah salah satu korban pemutaran film Ada Apa Dengan Cinta (2002) yang menyihir para remaja di ibukota dan tempat-tempat lainnya menjadi puitis. Berdasarkan hasil survey (dari mana sumbernya lupa) penjualan buku-buku puisi dan sastra Indonesia meningkat tajam pasca pemutaran film AADC. Sebutlah salah satu teman SMA saya, berinisial AA, jadi seperti Rangga (tokoh di AADC – red) yang suka nulis-nulis puisi di buku harian. Itu baru satu contoh. Contoh yang lain masih banyak. Jika kalian berasal dari salah satu SMA di Jakarta, pasti kalian banyak menemukan kasus-kasus yang serupa dengan ini bukan? Atau jangan-jangan kalianlah salah satu pelaku dalam kasus tersebut?

Fenomena ini membuat senang guru-guru Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah-sekolah. Sebuah semangat melestarikan bahasa, pikir mereka. Berikut saya beri contoh salah satu tipikal puisi yang dibuat murni oleh beberapa remaja saat itu.
Dalam denting aku terdiam
Dalam kokoh aku rapuh
Sayup sayup suaramu
Meratakan perasaan di balik para sanubari
Lempar saja tubuhku dalam api
Biar terbakar sampai berabu


Tapi semangat saya menulis puisi saat itu bukan dipengaruhi oleh pemutaran film AADC. Menurut psikologi, saya ini termasuk golongan orang Ginestetik, yang banyak bermain dengan perasaan. Saya ingin mengungkapkan sesuatu, yang saya tidak berani (oleh karena beberapa alasan) mengungkapkannya secara gamblang. Jadilah saya mencari jalan lain untuk mengungkapkanya, dengan bermain kata-kata dan menyusunnya dalam kalimat-kalimat sederhana, padat, namun bermakna. Ya puisi itu.

Ketika tahun 2002, umur saya masih 16 tahun. Egoisme remaja masih bergejolak. Perasaan-perasaan seperti cinta, persahabatan, amarah, dan lainnya begitu banyak datang dan membekas. Sehingga ingin rasanya untuk meluapkannya lewat tulisan yang bisa dinikmati kapan saja. FYI, saya juga termasuk orang yang menulis buku harian lho. Dari tahun 2001, tiap hari hidup saya selalu saya tulis di buku harian. Sampai September 2005, tepatnya setelah kembali lagi ke Berlin, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan mengisi buku harian lagi. Semua terekam jelas. Hari ini saya sedang apa, pergi kemana saja, bertemu siapa saja, lengkap tertulis di buku harian. Mungkin itu juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan saya senang meluapkan perasaan melalui menulis.

Puisi itu simpel. Tapi maknanya dalam. Dan intrepetasi orang bisa berbeda karena keluasan maknanya. Puisi itu bisa merekam getaran rasa, dan keadaan si pembuat puisi, dan bisa mengatakannya kepada si pembaca. That’s why I like writing and reading poem!

Trend pun berubah, seiring berkembangnya jaman. Saya masih senang membuat puisi tapi tidak sesering dulu. Sekarang saya lebih suka memperhatikan. Tepatnya memperhatikan karakter orang-orang di sekeliling. Saya hidup di berbagai komunitas. Contohnya komunitas Indonesia dan komunitas kampus. Di kampus sendiri, tidak hanya orang Jerman, tapi juga orang-orang dari negara-negara lain. Mereka membawa karakter-karakter yang berbeda dan punya keistimewaan. Dari situlah saya berimajinasi (FYI, berimajinasi adalah salah satu hobby saya) untuk mempertemukan si pemilik karakter A dengan si pemilik karakter B dalam dunia yang saya buat sendiri lengkap bersama problematika yang muncul di antara keduanya. Jadilah Cerpen atau cerita pendek. Tidak dapat dipungkiri, bahwa cerpen itu banyak berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh si pembuat cerpen, dengan perubahan seperlunya. Contohnya, jika dalam kehidupan nyata orang yang memiliki karakter A berjenis kelamin perempuan, saya buat dalam cerpen saya berjenis kelamin laki-laki. Atau saya menempatkan diri saya bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh pendukung, dan lain sebagainya.

Intinya, dengan menulis, saya memiliki tempat untuk meluapkan berbagai rasa yang ada dalam diri saya. Saya selalu beranggapan bahwa menulis merupakan salah satu bentuk seni, walaupun anggapan saya ini lebih banyak cenderung lari dari kenyataan, bahwa saya tidak punya aliran seni apapun dalam tubuh saya... hehehe... ayah saya seniman sekali, tapi saya tidak bisa bernyanyi, bermain alat musik (padahal di kamar saya di Jakarta ada sebuah gitar, tapi bukan saya yang banyak memainkannya, melainkan ayah saya atau teman-teman saya), atau melukis atau juga fotografi. Jadi saya beranggapan, meluapkan rasa melalui bahasa juga termasuk seni. Jadi saya pun juga punya aliran seni. Ya kan?

Namun kita harus ingat, bahwa menulis juga penuh resiko. Dalam e-mail yang saya dapatkan dari seorang teman beberapa hari yang lalu, akrobat kata-kata dan sirkus retorika bisa jadi bumerang untuk diri sendiri yang siap memenggal leher kita sewaktu-waktu, dan juga bisa membuahkan rasa benci pada orang lain dan bukan membuat mereka tambah berkasih sayang. Hmmm...

Biar gimanapun, menulis itu menyenangkan. Yuk banyak menulis!

Sunday, December 04, 2005

Allah Dekat Selalu!

Kategori: Curhat

Ketika hari itu aku merasa sangat dekat denganMu, semua terasa menjadi indah. Aku tak lagi merasa kesepian, karena aku tahu Kau sedang mengamati aku. Aku tidak lagi memiliki rasa takut, karena aku yakin Kau melindungiku. Aku seperti seorang pencinta yang menemukan kekasihnya.

Namun tak lama, rasa itu semakin tak berasa. Aku sadar, bahwa aku semakin jauh dariMu. Bukan Kau yang menjauhiku, tetapi aku yang bergerak mundur menjauhiMu. Kini semua menjadi hampa, hatiku perlahan tumpul, tubuhku dengan sadar melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang dulu tak berani aku lakukan karenaMu.

Aku sadar, Kau lah yang mengendalikan hatiku. Aku selalu memohon padamu, Ya Rabb, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu berada pada jalanMu. Namun semua masih terlalu sulit. Sulit sekali aku mendekatiMu seperti dulu.

Aku tahu, Kau mencintaiku, oleh karena itu, Kau berikan cobaan-cobaan mengunjungi diriku. Kau uji aku seberapa besar cintaku padaMu. Kini semua aku yang harus menjawab, sanggupkah aku melewati ujianku?

Yaa Rabb, Kau tahu diri ini lemah, tapi aku tahu aku mampu melewati segala cobaan yang Kau berikan, karena tak mungkin Kau berikan cobaan tanpa aku mampu melewatinya.

Aku teringat sebuah lagu yang pernah dinyanyikan di hari ulang tahunku yang ke-18. Memang tak pantas lagu itu menggambarkanMu berkata dan menjawab, namun setidaknya, lagu itu membangkitkan kembali rasa cintaku pada-Mu, dan berharap dapat memberikan semua jiwa raga secara utuh untukMu.

Pernah aku bertanya
Allah, Engkau di mana?
Dia pun berkata
Aku dekat saja
Pernah aku bertanya
Allah, Engkau di mana?
Dia pun menjawab
Aku dekat selalu
Segala langkah yang kutempuh hendak lah tuju pada-Nya
Karena jika bukan karena-Nya, semua kan tersia
Bila kuluruskan niatku, Allah kan selamatkanku
Kutanamkan dalam hatiku
ALLAH DEKAT SELALU