Story telling tentang perjalanan pulang saya dari Jakarta menuju Berlin.
Pesawat saya berangkat pukul 18:05 dari Soekarno-Hatta, kami berangkat dari rumah pukul 15:00, dan dengan kecepatan menyupir papa yang bagaikan kilat, jarak Duren Sawit ke Cengkareng hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Sampailah saya di bandara pukul 15:30 dan segera check in. Hari itu saya mengenakan sebuah kaos lengan pendek dan jeans. Bawaan saya hanya sebuah tas dorong kecil yang isinya juga tidak penuh karena alhamdulillah bagasi saya memuat banyak.
Mama bertanya, "mas, kamu nggak pakai jaket?"
Saya pun menjawab, "cuma bawa cardigan ma, kan di Doha panas. Di Berlin juga masih musim panas."
"Terus cardigannya mana?" tanya mama kembali.
"Ini di tas ma. Nanti aja dipakainya kalau kedinginan."
Tak lama kami segera berpisah karena mereka akan langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung. Sebelumnya saya bertemu dengan Hasbi, juga seorang mahasiswa Indonesia di Jerman yang ternyata juga akan kembali ke Jerman sebentar lagi. Namun Hasbi tidak satu pesawat dengan saya. Dia baru akan berangkat pukul 01:00 lewat tengah malam. Batin saya, wah, menunggu keberangkatannya masih akan lama sekali. Tapi sepertinya dia akan sampai lebih dulu di Jerman daripada saya karena saya mesti transit di Doha selama 16 jam.
Setiap detik adalah makna, setiap masa adalah rasa, sulit membayangkan bahwa manusia tidaklah istimewa, perjalanan kita, dalam arus debu aksara - Dimas Abdirama
Friday, September 17, 2010
Saturday, August 28, 2010
Gugusan di Langit Jakarta
Kelabu, itulah apa yang ku rasakan saat menanjaki langit Berlin sore itu, seperti meninggalkan bekas yang terlampau pahit, sepahit kumpulan serak-serak yang tertulis sejak awal tahun ini. Seperti tahuku, bahwa satu titik pada roda tak selamanya berada pada tempatan teratas, walau keberadaan membawa kestabilan psikologis pribadi yang tertinggi. Semuanya bagai terhempas, hampa, sebagian memiliki sebab-musabab, sebagian yang lain tanpa alasan apa-apa.
Mungkin garisanku dan mungkin ujianku. Sejauh burung besi ini melesat, menjauhi keperihan dan mendekati kepedihan, sedalam itu pula siluet-siluet tak menentu mengikuti. Hey you're feeling useless, seolah menjadi sebuah beban yang menghalangi keinginan orang lain. Dalam jejakkan pada noktah nol, kulihat ombak-berombak di sana, membayangi pemikiran, memerahkan mata, menyesakkan dada, -- dan aku mesti tegar mendongakkan kerapuhan, tetap agar basah tak menderas dari mata.
Dan mungkin semua akan seperti ini sampai dengan ubahnya nanti. Namun pasti juga ini sebuah ingatan dari Allah agar aku total kembali.
Jakarta, 2010.
Mungkin garisanku dan mungkin ujianku. Sejauh burung besi ini melesat, menjauhi keperihan dan mendekati kepedihan, sedalam itu pula siluet-siluet tak menentu mengikuti. Hey you're feeling useless, seolah menjadi sebuah beban yang menghalangi keinginan orang lain. Dalam jejakkan pada noktah nol, kulihat ombak-berombak di sana, membayangi pemikiran, memerahkan mata, menyesakkan dada, -- dan aku mesti tegar mendongakkan kerapuhan, tetap agar basah tak menderas dari mata.
Dan mungkin semua akan seperti ini sampai dengan ubahnya nanti. Namun pasti juga ini sebuah ingatan dari Allah agar aku total kembali.
Jakarta, 2010.
Sunday, June 06, 2010
Recent Updates
Well, I'm back. It's been a long time not updating my blog with the latest info. Also not any new short stories. I had quiet mood writing short stories, almost finish, but need to remake up again to be perfect. Hmm, change the language.
++ Mas Dimas, wie ist Ihr Studium?
Siang tadi usai mengajar Bahasa Indonesia, saya dikejutkan dengan pertanyaan di atas dari salah seorang peserta. Dia seorang dosen Bahasa Vietnam di Humboldt Universität zu Berlin yang sejak awal mengikuti kelas Bahasa Indonesia di KBRI Berlin. Sebenarnya, dia sudah sering mengajukan pertanyaan ini kepada saya, tapi kali ini saya merasa terenyuh dengan perhatiannya terhadap keadaan studi saya. Lalu saya bertanya, mengapa dia sering menanyakan hal ini kepada saya. Lalu dia menjawab: Mas Dimas, studi Anda jauh lebih penting daripada semua ini! Anda harus menjadi seorang insinyur! Mengajar Bahasa Indonesia bisa Anda lanjutkan lagi kalau studi Anda sudah selesai, negara Anda membutuhkan insinyur-insinyur seperti Anda! Di sini mungkin Anda bisa mendapatkan banyak pengalaman dan juga kontak dengan yang lain, tapi studi Anda tetap nomor satu, studi Anda tetap bernilai!
++ Mas Dimas, wie ist Ihr Studium?
Siang tadi usai mengajar Bahasa Indonesia, saya dikejutkan dengan pertanyaan di atas dari salah seorang peserta. Dia seorang dosen Bahasa Vietnam di Humboldt Universität zu Berlin yang sejak awal mengikuti kelas Bahasa Indonesia di KBRI Berlin. Sebenarnya, dia sudah sering mengajukan pertanyaan ini kepada saya, tapi kali ini saya merasa terenyuh dengan perhatiannya terhadap keadaan studi saya. Lalu saya bertanya, mengapa dia sering menanyakan hal ini kepada saya. Lalu dia menjawab: Mas Dimas, studi Anda jauh lebih penting daripada semua ini! Anda harus menjadi seorang insinyur! Mengajar Bahasa Indonesia bisa Anda lanjutkan lagi kalau studi Anda sudah selesai, negara Anda membutuhkan insinyur-insinyur seperti Anda! Di sini mungkin Anda bisa mendapatkan banyak pengalaman dan juga kontak dengan yang lain, tapi studi Anda tetap nomor satu, studi Anda tetap bernilai!
Thursday, April 29, 2010
Tuesday, April 13, 2010
Prosa Mata dan Sajak Hati Tak Berima
Prosa Mata dan Sajak Hati Tak Berima
Oleh: Dimas Abdirama
Sebulan lagi aku akan menjadi orang buta. Benar, sebulan lagi dokter akan mengangkat kedua bola mataku akibat kanker di belakang retina yang makin membahayakan jaringan otak. Semuanya berlangsung sangat cepat, belum ada dua bulan, hingga mataku terasa semakin rabun dari hari ke hari, dan kacamata setebal pantat botol ini sudah tak mampu lagi mengimbangi pandanganku yang lamur.
Terguncang? Jelas. Sedih? Pasti. Berita itu sudah cukup membalun jiwa dan ragaku seremuk-remuknya. Tapi toh untuk apa lagi? Semuanya harus terjadi. Aku hanya punya dua pilihan, kehilangan mata atau kehilangan nyawa. Memang, kehilangan mata terdengar seperti kehilangan nyawa. Bukankah tanpa mata aku tak punya lagi cita-cita? Mau melanjutkan kuliah ini? Bagaimana bisa! Mau menjadi ilmuwan dan dosen untuk membangun Indonesia? Ah, mimpi! Tubuh bacul ini hanya berujung menjadi seorang tuna netra, berharap akan ada nasib baik yang bisa membuatku bertahan sampai hari tua nanti.
Aku tidak lagi sebagas dan sebahaduri itu. Rama yang menyadarkanku. Mungkin ada sekian banyak dosa yang aku perbuat hingga Tuhan mengambil titipannya yang sangat berharga ini pada diriku. Rama menggeleng, „Justru ini bentuk kasih sayang Tuhan kepadamu, san!“ kata Rama. Aku berupaya mencerna. „Lihatlah betapa banyak orang yang tersembab dalam jurang dosa karena pandangan matanya.“
Oleh: Dimas Abdirama
Sebulan lagi aku akan menjadi orang buta. Benar, sebulan lagi dokter akan mengangkat kedua bola mataku akibat kanker di belakang retina yang makin membahayakan jaringan otak. Semuanya berlangsung sangat cepat, belum ada dua bulan, hingga mataku terasa semakin rabun dari hari ke hari, dan kacamata setebal pantat botol ini sudah tak mampu lagi mengimbangi pandanganku yang lamur.
Terguncang? Jelas. Sedih? Pasti. Berita itu sudah cukup membalun jiwa dan ragaku seremuk-remuknya. Tapi toh untuk apa lagi? Semuanya harus terjadi. Aku hanya punya dua pilihan, kehilangan mata atau kehilangan nyawa. Memang, kehilangan mata terdengar seperti kehilangan nyawa. Bukankah tanpa mata aku tak punya lagi cita-cita? Mau melanjutkan kuliah ini? Bagaimana bisa! Mau menjadi ilmuwan dan dosen untuk membangun Indonesia? Ah, mimpi! Tubuh bacul ini hanya berujung menjadi seorang tuna netra, berharap akan ada nasib baik yang bisa membuatku bertahan sampai hari tua nanti.
Aku tidak lagi sebagas dan sebahaduri itu. Rama yang menyadarkanku. Mungkin ada sekian banyak dosa yang aku perbuat hingga Tuhan mengambil titipannya yang sangat berharga ini pada diriku. Rama menggeleng, „Justru ini bentuk kasih sayang Tuhan kepadamu, san!“ kata Rama. Aku berupaya mencerna. „Lihatlah betapa banyak orang yang tersembab dalam jurang dosa karena pandangan matanya.“
Saturday, March 13, 2010
Saturday, February 27, 2010
Gelora Dalam Sempit Membuat Harap


1. Gelora
Alhamdulillah, tidak ada kata yang pantas aku ucap selain alhamdulillah. Dua ujian terakhir dapat terlewati dengan baik, dan hari Jumat kemarin aku mendapat sebuah kejutan dari universitasku. Seumur-umur aku belum pernah membayangkan akan mendapatkan hal ini: sebuah beasiswa. Ya, aku mendapat beasiswa dari Kementrian Luar Negeri Jerman (Auswertiges Amt) lewat DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst). Universitas memilih aku sebagai satu dari dua mahasiswa asing untuk menerima beasiswa ini karena dedikasinya memajukan hubungan pendidikan antara Jerman dan Luar Negeri serta memajukan kapasitas kemampuan mahasiswa asing melalui serangkaian pelayanan yang kami berikan. Aku pun diminta memberikan bukti bahwa selepas aku menerima beasiswa ini, ada perubahan positif yang signifikan terhadap kemajuan mahasiswa asing di kampusku.
Monday, February 15, 2010
Mengenal Sistem Imun Turunan

Kali ini saya akan memberikan kalian sedikit informasi tentang cara kerja sistem imunitas dalam tubuh kita.
Sistem imunitas dibagi dalam dua jenis, yaitu innate immunity dan adaptive immunity. Innate immunity adalah imunitas yang dapat langsung dijalankan di detik-detik pertama ketika tubuh kita terkena infeksi, biasanya dalam kurun waktu 0-4 jam saja. Sedangkan adaptive immunity berproses agak lama, karena melibatkan serangkaian proses yang rumit dalam tahap pengenalan dan penyembuhan infeksi.
Yang akan saya tulis kali ini adalah sistem imunitas dari innate immunity. Untuk mempermudah penjelasan akan saya mulai dari: ketika tubuh kita mengalami luka.
Wednesday, February 10, 2010
Tuesday, February 09, 2010
Anjangsana
Anjangsana
Oleh: Dimas Abdirama
[Geming]
Aku memang seorang muslimah, namun bukan itu baju yang ku kenakan. Sejak aku tinggal bersama kekasihku di kota mahaindah ini, aku telah membuka mata bahwa agama hanyalah sebuah alat pengotak-kotak, apapun bentuknya, bisa hati, bisa pemikiran, bisa pergaulan, bisa juga pertemanan. Jika saja Tuhan bisa membuka mata samudra yang luasnya membentang dari timur ke barat lalu dari utara ke selatan, mengapa tidak bisa kubuka lebar-lebar mataku? Matamu? Mata orang-orang itu?
Siapa yang sangka, seorang anak sampah yang dulu tidak punya nilai apa-apa kini bisa menjadi dosen kenamaan di École des hautes études en sciences sociales, Paris. Aku juga beranjak menjadi seorang aktivis dari sebuah organisasi besar La Femme yang kerap diundang mengisi berbagai talk show di layar kaca. Sebulan sekali tulisanku terbit dalam kolom budaya The New York Times mengulas masalah-masalah kemanusiaan di dunia.
Tak ada yang tak mengenalku, Neng Geulis, setidaknya di kota ini. Café et Boutique yang aku kembangkan sendiri di Rue de Berri telah berkembang mahsyur sebagai bagian dari pusat mode dan pusat pertukaran pemikiran. Harta dan nama yang aku dapatkan sampai saat ini bersumber atas pengorbanan, cinta dan perhatian dari kekasihku, paruh nafasku, bongkah rapuh tulangku, Constantin Metzner-Rodriguez.
Oleh: Dimas Abdirama
[Geming]
Aku memang seorang muslimah, namun bukan itu baju yang ku kenakan. Sejak aku tinggal bersama kekasihku di kota mahaindah ini, aku telah membuka mata bahwa agama hanyalah sebuah alat pengotak-kotak, apapun bentuknya, bisa hati, bisa pemikiran, bisa pergaulan, bisa juga pertemanan. Jika saja Tuhan bisa membuka mata samudra yang luasnya membentang dari timur ke barat lalu dari utara ke selatan, mengapa tidak bisa kubuka lebar-lebar mataku? Matamu? Mata orang-orang itu?
Siapa yang sangka, seorang anak sampah yang dulu tidak punya nilai apa-apa kini bisa menjadi dosen kenamaan di École des hautes études en sciences sociales, Paris. Aku juga beranjak menjadi seorang aktivis dari sebuah organisasi besar La Femme yang kerap diundang mengisi berbagai talk show di layar kaca. Sebulan sekali tulisanku terbit dalam kolom budaya The New York Times mengulas masalah-masalah kemanusiaan di dunia.
Tak ada yang tak mengenalku, Neng Geulis, setidaknya di kota ini. Café et Boutique yang aku kembangkan sendiri di Rue de Berri telah berkembang mahsyur sebagai bagian dari pusat mode dan pusat pertukaran pemikiran. Harta dan nama yang aku dapatkan sampai saat ini bersumber atas pengorbanan, cinta dan perhatian dari kekasihku, paruh nafasku, bongkah rapuh tulangku, Constantin Metzner-Rodriguez.
Subscribe to:
Posts (Atom)







