Kategori: My Side
After a long interview with some students who have an internet access in their computer, I can make an assumption: Internet is blamable to destroy our entire life. Ask me why?
Simple, you may ask those kind of people, what do they do if they start their life in the morning. One of answer is maybe switch on computer, connect to the internet, go to Yahoo Messenger, see how many mails they got during the night, answer the offline messages, check out their mailbox, continue to other mailbox, or even open their Friendster, or see some on-line-news-sites. But it’s not only happend in the morning, but in all leisure time! Worst, right?
Those people may sit so many hours in front of their PC. And it really brings laziness. Our plans to read scripts from campus or to cook for our lunch will get lost. It is more dangerous than opium or other addicted-narcotics. You waste your time with doing nothing, but you can’t go away from it!
Ru’yah, an islamic method to take out some mystical things from our body, is just booming in our community in Berlin. I have asked an Ustadz, when he was in Berlin during Ramadhan, what are the signs by someone who should be taken in ru’yah. Then he aswered, „being so lazy to do something,“. I told him spontaneously, „So please take me in ru’yah! The sign is on me!“. He laughed, then answered, „You shouldn’t, but you should marry soon!“.
I still believe that there’s something wrong in my body. It seems like I dont have any feel like doing something. All I want to do is just sitting on my PC, altough there’s nothing I do with it. I try to share this annoying feel to the other, and I was suprised, that they have also the same problem like me! It’s all because our PC.
Someone has told me his method to divert us from it, especially in the exam time. Keep your laptop in your bag, lock up, and not to open it until next weekend. And it works! You can concentrate your day with something usefull.
I think, our laptop should be taken in ru’yah! Not us! So, beware!
Setiap detik adalah makna, setiap masa adalah rasa, sulit membayangkan bahwa manusia tidaklah istimewa, perjalanan kita, dalam arus debu aksara - Dimas Abdirama
Saturday, November 04, 2006
Friday, October 06, 2006
Ramadhannya Ibukota
Kategori: Artikel
Dapat dilihat di website FORKOM
Kalau boleh milih, kamu pengen ber-Ramadhan di Jerman atau di Indo?
Ya di Indo, laaah!
Lho, kok?
Iya! Puasa di Indo kan enak abiz. Coba deh bayangin, mau bangun sahur, ada yang bangunin. Mau makan sahur, ada yang masakin. Mau shalat lima waktu berjamaah di masjid, tinggal nyebrang jalanan depan rumah. Mau denger ceramah Ramadhan dari ustadz-ustadz kondang, tinggal nyalain televisi or radio. Pas waktunya berbuka, mamah-ku pasti sudah buat kolak pisang terenak sedunia. Kurang apa coba?
***
Eit, tunggu dulu. Emang sih bagi kita anak-anak perantauan, pasti rindu banget pengen ber-Ramadhan di Indonesia. Tapi, berada di negeri orang di saat bulan suci Ramadhan juga nggak kalah seru, kok! Alhamdulillah, tahun ini saya diberi kesempatan berpuasa di Jakarta dan di Berlin, jadi bisa sedikit-sedikit mengamati suasana Ramadhan di dua tempat yang beda banget itu, lho. Nah, mau tahu kan bagaimana hasil pengamatan saya? Yukkk...
Eh, sebelumnya, sudah pada tahu kan seperti apa kota Berlin itu? Sudah dong pastinya. Hauptstadt gitu, lho. Kata orang, belum lengkap ke Jerman kalau belum mengunjungi kota Berlin. Selain sebagai kota metropolis, Berlin juga sebagai kota sejarah. Contohnya, tembok Berlin yang kondang seantero dunia. Belum lagi Gedächtniskirche, Siegesäule, Checkpoint Charlie, Brandenburger Tor, Friedrichstraße, dan segudang tempat-tempat lainnya. Nah, yang paling spesial dari Berlin adalah komunitas antarbangsa yang sangat beragam alias multikulti, termasuk komunitas Islam di dalamnya. So, jangan heran kalau melihat banyak banget wanita berjilbab memenuhi pelosok-pelosok kota ini. Walau kebanyakan kaum imigran, tapi umat Muslim memiliki jumlah yang sangat signifikan di Berlin. Asli, banyak banget! Ada beberapa masjid yang berdiri di kota ini, bahkan di kampus disediakan juga ruangan musholla. Jadi kita nggak perlu takut dengan yang namanya diskriminasi antarumat beragama. Walau kadang-kadang diskriminasi itu ada, tapi di situlah kita ditantang untuk menunjukkan wajah muslim yang sebenarnya, yang tetap santun dan sabar, tanpa harus membiarkan harga diri kita terinjak-injak. Ya nggak?
Bagaimana dengan komunitas muslim Indonesia di Berlin? Ada banget dong! Denger-denger nih, jumlah orang Indonesia yang berada di Berlin mencapai lebih dari dua ribu orang. Wow, banyak juga yah? Nah, Berlin juga punya sebuah masjid Indonesia yang bernama masjid Al-Falah. Dari masjid Al-Falah terbentuklah kelompok-kelompok pengajian kota untuk komunitas muslim Indonesia di Berlin ini. Masjid yang sudah berdiri dari dua puluh tahun yang lalu itu tidak terlalu besar. Makanya kalau bulan Ramadhan tiba, jamaah masjidnya membludak dan sering berdesak-desakan karena kapasitasnya yang sudah overload. Oleh sebab itu, kami harus segera pindah dan mencari tempat baru yang lebih besar dan nyaman, agar ibadah kita juga ikutan nyaman.
Walaupun sedang dalam proses perpindahan, bukan berarti kegiatan komunitas muslim Indonesia di Berlin berhenti lho, apalagi di bulan Ramadhan seperti saat ini. Pengajian kota Berlin terkenal sebagai pengajian yang... ehm... seru, rame, kompak, dan kocak. Nggak percaya? Coba deh datang kalau Forkom sedang ngadain acara Prima, mukhoyyam, SII dan lainnya. Tim yang suka heboh sendiri biasanya tim dari Berlin. Hehehe... Alhamdulillah setiap tahun pengajian kota Berlin selalu mendatangkan seorang ustadz dari Indonesia. Begitu juga untuk tahun ini yang bekerjasama dengan Forkom. Jadwal sang ustadz biasanya padat banget, karena harus ngisi di sana-sini. Maklum, Berlin punya banyak bentuk pengajian, dari yang buat babeh-babeh, nyak-nyak, mpok-mpok, sampai abang-abang. Kalau buat bocah-bocah ada, nggak? Ada juga, dong. Al-Falah juga punya TPA alias Taman Pendidikan Al-Qur’an yang khusus untuk adik-adik. Nggak tanggung-tanggung, tahun ini Al-Falah membuat program Pesantren Kilat untuk anak-anak dan remaja. Insya Allah di dalamnya akan diisi dengan pemainan-permainan islami, teater, dan nggak lupa penanaman akhlak serta berlajar membaca Al-Qur’an.
KBRI Berlin juga nggak kalah menyemarakkan Ramadhan. Shalat tarawih digelar setiap hari di KBRI, selain itu seminggu sekali diadakan buka puasa bersama di sana. Oh ya, ngomong-ngomong soal buka puasa, kita juga bisa ikutan buka puasa di masjid-masjid di kota ini, baik itu masjid Turki, Palestina, ataupun Pakistan, akan dengan senang hati menyambut kita untuk ikutan buka puasa bareng dengan mereka. Dan porsi makanannya itu lho, jumbo! Asal jangan cuma buka puasanya aja yah, shalatnya juga harus ikut dong. Seru juga bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara kita dari belahan bumi yang lain. Subhanallah.
Nah, sekarang bagaimana dengan Jakarta? Dibandingkan Berlin, suasana di Jakarta tuh lebih puasa banget. Secara, gitu lho, di Jakarta kan mayoritas muslim, sehingga hampir semuanya berpuasa. Stasiun televisi juga berlomba-lomba menayangkan program-program yang islami. Pemandangan di jalanan pun juga jadi lebih islami. Waktu kuliah, sekolah, dan jam kantor dipercepat, agar masyarakat bisa berbuka puasa dengan sanak-saudaranya di rumah. Kalau di Berlin boro-boro dipercepat, malah kadang-kadang kita harus berbuka di tengah-tengah Vorlesung atau di dalam U-Bahn.
Kalau di Jakarta kita bisa ngumpul-ngumpul dengan teman-teman untuk ngabuburit sambil jalan-jalan, di Berlin kesempatan seperti itu sangat kecil. Lagian, dua ribu enam gini masih ada ya ‚ngabuburit’ sambil jalan-jalan? Sudah nggak musim dong. Kan lebih enak kumpul bareng dengan teman-teman menunggu waktu berbuka sambil tilawah bersama, terus sesudahnya bertarawih bersama. Ya, kan?
Yang paling berasa banget mungkin ketika Idul Fitri. Di saat itu wajar banget lah kalau kita merindukan berada di tengah-tengah papah-mamah-kakak-adik tersayang. Walau begitu, semua bisa diobati karena di Berlin kita juga punya saudara-saudara! Malah status sebagai perantau di negeri orang justru membuat ukhuwah kita benar-benar terasa menjadi erat. Sesudah shalat Ied di KBRI biasanya kita bersalam-salaman dengan suasana penuh haru. Masih berasa suasana khidmat Idul Fitrinya, walaupun kita harus bolos kuliah di hari itu dan melanjutkan aktivitas kita kemudian.
Yang jelas, puasa di Berlin atau di Jakarta masing-masing ada plus dan minusnya, tapi jangan dijadikan sebagai penghambat ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Puasa itu untuk Allah dan Allah-lah yang mengaturnya. Di Berlin kita bisa merasakan suasana lain dari ber-Ramadhan dan ber-Ukhuwah. Jadi, ayo kita bergembira menyambut datangnya Ramadhan. Sesuai janji Allah, barang siapa yang bergembira menyambut datangnya Ramadhan, maka diharamkan tubuhnya dari jilatan api neraka. Subhanallah...
Dapat dilihat di website FORKOM
Kalau boleh milih, kamu pengen ber-Ramadhan di Jerman atau di Indo?
Ya di Indo, laaah!
Lho, kok?
Iya! Puasa di Indo kan enak abiz. Coba deh bayangin, mau bangun sahur, ada yang bangunin. Mau makan sahur, ada yang masakin. Mau shalat lima waktu berjamaah di masjid, tinggal nyebrang jalanan depan rumah. Mau denger ceramah Ramadhan dari ustadz-ustadz kondang, tinggal nyalain televisi or radio. Pas waktunya berbuka, mamah-ku pasti sudah buat kolak pisang terenak sedunia. Kurang apa coba?
***
Eit, tunggu dulu. Emang sih bagi kita anak-anak perantauan, pasti rindu banget pengen ber-Ramadhan di Indonesia. Tapi, berada di negeri orang di saat bulan suci Ramadhan juga nggak kalah seru, kok! Alhamdulillah, tahun ini saya diberi kesempatan berpuasa di Jakarta dan di Berlin, jadi bisa sedikit-sedikit mengamati suasana Ramadhan di dua tempat yang beda banget itu, lho. Nah, mau tahu kan bagaimana hasil pengamatan saya? Yukkk...
Eh, sebelumnya, sudah pada tahu kan seperti apa kota Berlin itu? Sudah dong pastinya. Hauptstadt gitu, lho. Kata orang, belum lengkap ke Jerman kalau belum mengunjungi kota Berlin. Selain sebagai kota metropolis, Berlin juga sebagai kota sejarah. Contohnya, tembok Berlin yang kondang seantero dunia. Belum lagi Gedächtniskirche, Siegesäule, Checkpoint Charlie, Brandenburger Tor, Friedrichstraße, dan segudang tempat-tempat lainnya. Nah, yang paling spesial dari Berlin adalah komunitas antarbangsa yang sangat beragam alias multikulti, termasuk komunitas Islam di dalamnya. So, jangan heran kalau melihat banyak banget wanita berjilbab memenuhi pelosok-pelosok kota ini. Walau kebanyakan kaum imigran, tapi umat Muslim memiliki jumlah yang sangat signifikan di Berlin. Asli, banyak banget! Ada beberapa masjid yang berdiri di kota ini, bahkan di kampus disediakan juga ruangan musholla. Jadi kita nggak perlu takut dengan yang namanya diskriminasi antarumat beragama. Walau kadang-kadang diskriminasi itu ada, tapi di situlah kita ditantang untuk menunjukkan wajah muslim yang sebenarnya, yang tetap santun dan sabar, tanpa harus membiarkan harga diri kita terinjak-injak. Ya nggak?
Bagaimana dengan komunitas muslim Indonesia di Berlin? Ada banget dong! Denger-denger nih, jumlah orang Indonesia yang berada di Berlin mencapai lebih dari dua ribu orang. Wow, banyak juga yah? Nah, Berlin juga punya sebuah masjid Indonesia yang bernama masjid Al-Falah. Dari masjid Al-Falah terbentuklah kelompok-kelompok pengajian kota untuk komunitas muslim Indonesia di Berlin ini. Masjid yang sudah berdiri dari dua puluh tahun yang lalu itu tidak terlalu besar. Makanya kalau bulan Ramadhan tiba, jamaah masjidnya membludak dan sering berdesak-desakan karena kapasitasnya yang sudah overload. Oleh sebab itu, kami harus segera pindah dan mencari tempat baru yang lebih besar dan nyaman, agar ibadah kita juga ikutan nyaman.
Walaupun sedang dalam proses perpindahan, bukan berarti kegiatan komunitas muslim Indonesia di Berlin berhenti lho, apalagi di bulan Ramadhan seperti saat ini. Pengajian kota Berlin terkenal sebagai pengajian yang... ehm... seru, rame, kompak, dan kocak. Nggak percaya? Coba deh datang kalau Forkom sedang ngadain acara Prima, mukhoyyam, SII dan lainnya. Tim yang suka heboh sendiri biasanya tim dari Berlin. Hehehe... Alhamdulillah setiap tahun pengajian kota Berlin selalu mendatangkan seorang ustadz dari Indonesia. Begitu juga untuk tahun ini yang bekerjasama dengan Forkom. Jadwal sang ustadz biasanya padat banget, karena harus ngisi di sana-sini. Maklum, Berlin punya banyak bentuk pengajian, dari yang buat babeh-babeh, nyak-nyak, mpok-mpok, sampai abang-abang. Kalau buat bocah-bocah ada, nggak? Ada juga, dong. Al-Falah juga punya TPA alias Taman Pendidikan Al-Qur’an yang khusus untuk adik-adik. Nggak tanggung-tanggung, tahun ini Al-Falah membuat program Pesantren Kilat untuk anak-anak dan remaja. Insya Allah di dalamnya akan diisi dengan pemainan-permainan islami, teater, dan nggak lupa penanaman akhlak serta berlajar membaca Al-Qur’an.
KBRI Berlin juga nggak kalah menyemarakkan Ramadhan. Shalat tarawih digelar setiap hari di KBRI, selain itu seminggu sekali diadakan buka puasa bersama di sana. Oh ya, ngomong-ngomong soal buka puasa, kita juga bisa ikutan buka puasa di masjid-masjid di kota ini, baik itu masjid Turki, Palestina, ataupun Pakistan, akan dengan senang hati menyambut kita untuk ikutan buka puasa bareng dengan mereka. Dan porsi makanannya itu lho, jumbo! Asal jangan cuma buka puasanya aja yah, shalatnya juga harus ikut dong. Seru juga bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara kita dari belahan bumi yang lain. Subhanallah.
Nah, sekarang bagaimana dengan Jakarta? Dibandingkan Berlin, suasana di Jakarta tuh lebih puasa banget. Secara, gitu lho, di Jakarta kan mayoritas muslim, sehingga hampir semuanya berpuasa. Stasiun televisi juga berlomba-lomba menayangkan program-program yang islami. Pemandangan di jalanan pun juga jadi lebih islami. Waktu kuliah, sekolah, dan jam kantor dipercepat, agar masyarakat bisa berbuka puasa dengan sanak-saudaranya di rumah. Kalau di Berlin boro-boro dipercepat, malah kadang-kadang kita harus berbuka di tengah-tengah Vorlesung atau di dalam U-Bahn.
Kalau di Jakarta kita bisa ngumpul-ngumpul dengan teman-teman untuk ngabuburit sambil jalan-jalan, di Berlin kesempatan seperti itu sangat kecil. Lagian, dua ribu enam gini masih ada ya ‚ngabuburit’ sambil jalan-jalan? Sudah nggak musim dong. Kan lebih enak kumpul bareng dengan teman-teman menunggu waktu berbuka sambil tilawah bersama, terus sesudahnya bertarawih bersama. Ya, kan?
Yang paling berasa banget mungkin ketika Idul Fitri. Di saat itu wajar banget lah kalau kita merindukan berada di tengah-tengah papah-mamah-kakak-adik tersayang. Walau begitu, semua bisa diobati karena di Berlin kita juga punya saudara-saudara! Malah status sebagai perantau di negeri orang justru membuat ukhuwah kita benar-benar terasa menjadi erat. Sesudah shalat Ied di KBRI biasanya kita bersalam-salaman dengan suasana penuh haru. Masih berasa suasana khidmat Idul Fitrinya, walaupun kita harus bolos kuliah di hari itu dan melanjutkan aktivitas kita kemudian.
Yang jelas, puasa di Berlin atau di Jakarta masing-masing ada plus dan minusnya, tapi jangan dijadikan sebagai penghambat ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Puasa itu untuk Allah dan Allah-lah yang mengaturnya. Di Berlin kita bisa merasakan suasana lain dari ber-Ramadhan dan ber-Ukhuwah. Jadi, ayo kita bergembira menyambut datangnya Ramadhan. Sesuai janji Allah, barang siapa yang bergembira menyambut datangnya Ramadhan, maka diharamkan tubuhnya dari jilatan api neraka. Subhanallah...
Friday, September 15, 2006
Wilujeng Sumping
Kategori: Cerpen
A Mushab Syuhada's
Aku sering melihat pemuda yang sebaya denganku itu datang ke masjid kecil dekat rumah nenekku di pinggiran kota Bandung. Dua hari yang lalu aku sempat berkenalan dengannya seusai shalat maghrib. Namanya Dadang, keturunan etnis tionghoa.
Jika aku berlibur ke rumah nenek, masjid yang hanya terpisah oleh tiga buah rumah menjadi salah satu tempat favoritku, karena selain teduh, masjid itu juga dikelilingi panorama alam pedesaan yang eksotis. Tapi sangat disayangkan, hanya ketika shalat Jumat jemaahnya membludak, bahkan bisa-bisa sampai meruah ke jalanan. Kontras dengan shalat fardhu yang hanya dua shaf. Isinya sebagian besar dari kalangan kakek-nenek dan bapak-ibu. Anak mudanya hanya dua, yaitu aku dan si Dadang itu.
Dadang bertubuh kurus. Tingginya kira-kira sama dengan denganku. Kulitnya kuning, matanya sipit seperti kebanyakan warga keturunan tionghoa lainnya. Baru di tahun ini aku melihatnya di masjid. Tahun kemarin, saat aku juga berlibur ke rumah nenek, tidak aku jumpai dia di sana. Biasanya ia suka terburu-buru ketika selesai shalat Dzuhur dan Ashar atau terkadang tidak datang ke masjid di waktu tersebut. Karena bekerja, katanya. Ketika kutanya di mana ia bekerja, ia malah tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum dan segera memohon pamit.
„ Dadang!“ teriakku di balik tirai kedai bubur ayam di pasar tikungan jalan tak jauh dari rumah nenek. Pagi itu aku ingin sekali makan bubur ayam. Kata nenek, bubur ayam yang paling enak di sini ada di pasar. Tentu aku igin sekali mencicipinya sebelum aku kembali pulang ke Surabaya malam nanti setelah dua minggu berlibur. Tak kuduga, niatku makan bubur ayam, malah bertemu dengan si Dadang. Pemuda itu menganggukkan kepalanya memandang ke arahku, lalu datang menghampiriku.
„Wah, nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini! Sudah sarapan? Yuk sarapan bareng,“ ujarku. Ia sempat menolak, tapi langsung saja kupesan semangkok bubur ayam ke penjaga kedai.
„Aa teh tiap pagi ka die?“ tanyanya dengan logat sundanya yang kental.
„Jangan panggil saya Aa atuh. Kayaknya kita seumuran, deh. Saya 20 tahun, kamu?“
„21,“
„Tuh kan, mestinya saya yang panggil kamu Aa“ kataku. Pemuda itu tersenyum dengan kekeh ringan.
„Waktu itu kamu kan pernah nanya, saya teh kerjana di mana,“ katanya menyambung percakapan.
„Iya,“ jawabku singkat. „Memangnya di mana?“
„Di die,“ jawabnya menunjuk pasar ini. Katanya, ia bekerja sebagai buruh angkut di pasar ini dari subuh hingga petang. Sudah hampir setahun ia bekerja mengangkut barang-barang dari dalam truk ke dalam pasar, atau membantu pembeli mengangkut barang kebutuhannya dari dalam pasar ke kendaraan. Meski kurus, namun Dadang adalah seorang yang kuat. Terbukti dengan seringnya ia memakul beras 20 kilo di salah satu pundaknya.
Setelah bercerita singkat tentang pekerjaannya sebagai buruh angkut, ia terdiam sejenak dan memandang sekeliling. Dari gelagatnya, pemuda itu terlihat kurang nyaman duduk di kedai ini di antara belasan pengunjung yang – mungkin menurutnya – terlihat lebih rapih dari pada dirinya. Ia mengenakan kaus bola berwarna biru-kuning bernomor punggung delapan, dengan celana panjang hitam. Akupun mencoba mencairkan suasana agar ia tidak lagi merasa kurang nyaman. Di sela-sela menikmati bubur ayam hangat, kami saling bercakap. Kuceritakan kalau aku datang dari Jakarta untuk berlibur selama dua minggu di Bandung. Walaupun aku orang Sunda, tapi lahir dan besar di Jakarta membuatku tidak menguasai Bahasa Sunda. Terlebih saat ini aku sedang berkuliah di salah satu universitas negeri di Surabaya yang justru membuat aku lebih fasih berbahasa Jawa. Ia mengerti, ia pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk bercakap denganku, walau masih dengan beberapa patah Bahasa Sunda. Ia banyak sekali bercerita, dari tentang pasar ini, tentang kedai bubur ayam ini, tentang sejarah masjid dekat rumah itu, sampai tiba-tiba tentang adik perempuannya.
„Dulu teh di masjid itu ada TPA tiap sore. Adik perempuanku dulu juga belajar ngaji di ditu,“ katanya.
„Oh... Kamu punya adik perempuan?“ tanyaku.
„Iya. Satu orang,“ jawabnya.
„Siapa namanya?“
„Diah Pitaloka,“
„Lalu, dia juga di Bandung?“
Dadang menggeleng.
„Dulu iya. Sekarang dia tinggal di panti asuhan, di Tasikmalaya,“
„Panti asuhan? Memangnya kalian tidak tinggal bersama orang tua kalian?“
„...tidak, orang tua kami...“
Hening sejenak. Dadang tidak melanjutkan pertanyaannku dengan jawaban.
„Oh... maaf... saya kurang sopan menanyakan tentang keluarga. Lupakan sajalah...“ lanjutku. Pemuda itu menunduk, lalu tak lama mengadahkan kepalanya menatapku.
„Tidak apa-apa. semua orang di sini sudah tahu kok tentang keluarga saya. Kalau kamu bertanya ke nenekmu, pasti beliau juga tahu,“
Nenek tidak pernah cerita apa-apa kepadaku tentang masyarakat di sini. Pasti menurutnya tidak penting untuk diceritakan kepadaku. Saat aku menatap wajah Dadang, terlihat ada guratan kesedihan yang mendalam. Seperti ia telah mengalami suatu peristiwa yang memilukan dalam kehidupannya. Dan benar saja, Dadang, yang baru kukenal namanya dua hari itu menceritakan kisah kehidupannya yang kupikir hanya dapat ditemukan di layar kaca. Tapi tidak, ini kenyataan!
***
Sudah setahun terakhir ini Dadang tinggal dengan keluarga pamannya yang tak jauh dari rumah nenek. Dulu, Dadang dan adiknya tinggal bersahaja dengan kedua orang tuanya sebagai satu keluarga yang utuh. Garis keturunan tionghoa yang dimilikinya didapatkan dari ayahnya. Ayah dan pamannya memeluk agama Islam sebelum keduanya menikah dengan gadis sunda. Dadang sempat menjadi anak tunggal yang amat disayang dan dimanjakan ketika ia masih kanak-kanak. Dan ketika usianya menginjak sepuluh tahun, ia mendapatkan seorang adik perempuan bernama Diah Pitaloka. Namun kelahirannya harus dibayar dengan nyawa ibunya, yang meninggal saat melahirkan.
Tak lama, ayahnya menikah kembali dengan seorang wanita asal Lembang. Awalnya Dadang enggan menerima kehadiran ibu tiri dalam keluarganya, karena imej ibu tiri yang melekat di kepalanya adalah seorang yang sadis dan kejam terhadap anak-anak tirinya. Namun dugaannya salah. Ketika wanita bernama Trisnowati Kosasih itu resmi menjadi ibunya, ia justru mampu membesarkan Diah yang kala itu masih bayi. Mereka hidup sejahtera, berkecukupan, hingga datangnya saat itu.
Saat itu tahun 1999. Semua orang pasti tahu, tahun itu adalah tahun yang amat labil dalam perekonomian Indonesia setelah terjadi pergolakan politik dan ekonomi di tahun 1998. Saat itu Diah masih berumur lima tahun dan Dadang akan segera menamatkan pendidikan SMP. Keluarganya tak luput dari serangan krisis moneter, usaha katering ibu tirinya – yang mulai dirintis sejak menikah dengan ayahnya – terpaksa harus berhenti. Ayahnya pun dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Hidupnya yang dulu berkecukupan mendadak berubah total.
Karena harta itu milik Allah. Dia bebas mengambilnya kapanpun Dia mau.
„Ayah, Dadang tidak usah melanjutkan SMA saja. Biarkan Dadang bekerja untuk menambah uang kita,“ pinta Iwan kepada ayahnya. Permintaannya ditolak keras oleh ayahnya.
„Kamu mau kerja jadi apa? Kamu pikir saat ini mudah mendapat pekerjaan? Tidak, ayah tidak setuju. Betapapun sulitnya keadaan ekonomi keluarga kita, ayah akan tetap membiayai sekolahmu. Sekolah sampai tinggi,“ ujar ayahnya. Dadang terharu, dan saat itu bertekad akan meneruskan sekolahnya.
Pertengahan tahun 2000, Dadang diterima di SMAN 3 Bandung. Namun tak lama setelah itu ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Sejak saat itu, sekolah Dadang terancam. Di saat krisis keuangan yang merajalela, ia malah kehilangan orang yang menjadi tumpuan untuk membiayai segala keperluaannya. Sejak saat itu pula, ibu tirinya yang dulu penyayang, sekarang berubah menyeramkan. Tresnawati Kosasih menjadi dikenal sebagai sosok pemarah, sering uring-uringan, dan ringan tangan, terlebih kepada Diah yang kala itu masih berumur enam tahun.
Dengan sangat terpaksa Dadang harus putus sekolah. Ia merantau ke Sukabumi untuk mencari pekerjaan sebagai... entahlah... mungkin sebagai buruh, kuli bangunan, atau apa saja, yang penting ia, adiknya, dan ibu tirinya dapat menyambung nyawa.
Namun sungguh miris nasib Dadang, sekembalinya ke Bandung enam bulan kemudian, ia mendapatkan Diah tinggal di rumah pamannya – yang tidak jauh dari rumah nenek – dengan kondisi sangat memprihatinkan. Matanya lebam, wajahnya dipenuhi memar-memar, tubuh kurusnya banyak ditemukan bekas luka yang telah mengering, maupun yang malah berubah menjadi koreng bernanah. Bahkan ia sempat dilarikan ke rumah sakit akibat patah tulang tangan sebelah kirinya yang syukurnya tidak terlalu parah. Diah kini menjadi bocah yang apatis, yang takut bertemu dengan semua orang yang tidak dikenalnya. Mentalnya labil dan kadang suka menjerit tiba-tiba.
„Aa...“ katanya sepatah sambil berusaha melihat sang Aa dari balik mata kecilnya yang membengkak biru disertai dengan senyuman yang penuh perih. Diah berusaha menyambut kedatangan Aa yang dicintainya dan dirindukannya walau dengan rasa pedih di sekujur tubuh dan perasaannya yang belum juga hilang.
Dadang menangis, tak kuasa ia melihat seorang bocah perempuan di hadapannya menjadi seperti itu. Tangannya memeluk bocah itu kuat, sambil membelai rambut sebahunya yang tipis kemerahan.
„Siapa... siapa yang melakukan ini...“ tanyanya terbata-bata dalam larut buraian air mata. Paman dan bibinya saling berpandangan, sebelum akhirnya mengucapkan satu nama, „ibumu...“
***
Tresnawati Kosasih yang tega menyiksa dan membuang anak yang sejak bayi ia asuh. Ia pergi, pergi dengan menjual rumah beserta isinya peninggalan suaminya – ayah dari Dadang dan Diah. Pamannya sepakat untuk mengasuh Diah di rumahnya, walaupun kondisi keuangan keluarga pamannya pun sebenarnya bukan tergolong cukup untuk mengasuh tiga anak kandungnya, terlebih dengan kehadiran Diah. Namun, siapa lagi saudara dekat dari mereka berdua?
Dadang pun melanjutkan pencarian nafkahnya dengan merantau, kali ini ke Jakarta, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pernah Dadang ditawari untuk tinggal bersama nenek dari ayahnya, tapi ia tolak.
„Kenapa kamu tidak mau? Hidup bersama nenekmu kan enak, dia orang cukup, kamu bisa menyambung sekolah lagi, tidak perlu mencari uang,“ kata bibinya.
„Tidak bi, saya tetap tidak mau,“
„Masalahnya apa, kok kamu masih saja tidak mau? Apa karena nenekmu itu tidak seagama denganmu lalu kamu...“
„Bukan, bi, bukan. Saya tidak mempermasalahkan perbedaan agama kami. Saya percaya, baik muslim maupun nonmuslim dapat hidup berdampingan dengan damai di negara ini. Tapi saya tidak ingin malah merepotkan mereka, bi. Saya tidak ingin mendapatkan kebahagiaan semu. Biar saya dan Diah begini. Biar saya dan Diah tidak dikasih makan, tidak dikasih ongkos, pakaian baru atau apapun, asalkan kami tetap diijinkan tinggal di sini, bi,“
Diah yang belum bersekolah, dimasukkan ke TPA masjid itu karena di sana tidak dipungut bayaran. Alhamdulillah, Diah kini sudah bisa membaca Al-Qur’an, membaca huruf latin, dan berhitung. Namun tak lama kemudian, masjid itu tidak lagi mengadakan TPA, alasannya karena kekurangan tenaga pengajar. Dadang masih ingat, ketika di sebuah sore ia menelepon ke rumah pamannya dari Jakarta.
„Punten, memangna saha yang mau membawa Diah?“ tanyanya.
„Kemarin ada seorang peremuan berkerudung datang. Katanya dia pernah mendengar cerita tentang Diah. Ia pun ingin membawa Diah ka Tasik, di sana ada panti asuhan dengan sekolahannya, gratis. Biaya hidupna sudah beres ditanggung. Di sini kan Diah sudah tidak ke TPA lagi. Kumaha? Dadang setuju, teu?“ jawab pamannya dari balik telepon.
Dadang menyadari, ia juga tidak ingin memberatkan pamannya. Mungkin panti asuhan adalah tempat yang tepat untuk Diah, yang memang sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Dadang pun akhirnya menyetujui kepergian adiknya, terlebih di sana adiknya dapat kembali bersekolah dan mengenyam pendidikan.
Keesokan paginya, Dadang sudah berada di Bandung untuk mengantar kepergian adiknya. Setahun tidak bertemu, kini Dadang hanya diberi kesempatan sesaat untuk melihat Diah sebelum kembali datang perpisahan di antara mereka berdua. Diah kini sudah terlihat ceria, tidak seperti yang dulu. Kini ia mulai berani bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya sambil memberikan senyum manisnya. Diah mencium tangan Aa-nya saat bertemu, yang membuat sang Aa tak kuasa menahan air mata harunya. Diah terlihat gembira mengenakan baju dan roknya, menggendong tas ranselnya, memakai sandal jepitnya, dan mengenakan kerudung bekas TPA-nya dulu.
„Aa, Diah mau ka Tasik, Diah mau belajar, supaya pintar seperti Aa...“ kata anak berumur tujuh tahun itu.
Dan wanita yang dikatakan pamannya datang, dia adalah pengurus salah satu lembaga sosial masyarakat yang peduli tentang masalah perlindungan anak. Tak lama ia pamit, membawa Diah masuk ke dalam mobil kijang peraknya. Dadang dan Diah saling berpandangan di balik kaca mobil, dan kepura-puraan Diah untuk terlihat tegar pun berhenti, tangis bocah perempuan itu pecah melihat wajah Aa Dadang yang memandanginya penuh harap dan cemas.
„Aa...!“ tangannya melambai dalam tangisnya.
***
„Dan sejak itu, saya tetap bekerja di Jakarta. Namun tahun kemarin saya diberhentikan dari pekerjaan saya, jadilah saya pulang ke Bandung, menetap bersama keluarga paman. Alhamdulillah, di pasar ini ada kerjaan juga untuk saya,“ lanjut ceritanya.
Aku masih menatapnya, mendengarkan seluruh rentetan ceritanya. Betapa jauh lebih beruntung aku. Terlampau banyak nikmat yang kudapatkan dengan mudah tapi... betapa mudahnya kudustakan. Tapi aku yakin, Allah Mahaadil, seberat apapun perjuangan hidup Dadang, pasti ia mendapatkan balasan atas kesabarannya.
„Hmm... Putra? Putra?“ panggil Dadang sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. „Kamu melamun, ya?“
„Eh, nggak kok, saya terlalu larut dalam ceritamu,“ jawabku. „Saya salut terhadapmu, kamu masih bersabar dan tidak menyerah menghadapi hidupmu,“ tukasku.
„Selama kita ikhlas, insya Allah kita bisa mendapatkan kesabaran,“ jawabnya.
Dan aku makin mengagguminya.
„Baiklah, saya harus kembali bekerja. Hatur nuhun atas sarapannya,“
„Tunggu, Dang,“
„Iya?“
„Malam ini saya kembali ke Surabaya. Bisa kita bertemu lagi?“
„Insya Allah, seperti biasa, di masjid dekat rumah nenekmu,“
***
Maghrib ini Dadang tak datang. Aku berharap bisa bertemu lagi dengannya. Beberapa menit yang lalu ibuku mengirim sms, katanya, Pak Tarso baru saja berangkat dari Jakarta untuk menjemputku dan mengantarku malam ini ke Surabaya.
Dan saat adzan Isya berkumandang, ia belum juga datang. Kuberjalan ke arah pasar di tikungan jalan itu, dengan harapan aku melihatnya. Ternyata tidak.
„Putra!“ teriak sebuah suara dari belakangku. „Maaf, maghrib tadi saya shalat di jalan, baru selesai mengantar barang. Saya pikir kamu di masjid, eh saya malah lihat kamu berjalan ke arah pasar,“ ujar Dadang dengan nafas tersengal-sengal. Aku tersenyum.
„Tidak apa-apa. Saya senang masih bisa berpamitan dulu ke kamu,“
„Saya juga senang bisa bertemu kamu dan berbagi cerita dengan kamu,“ katanya.
„Ya...“ sahutku pelan. „Kamu telah memberikan saya pelajaran melalui kisah hidupmu, yang membuat saya tahu lebih dalam tentang kesabaran, semangat, dan rasa syukur. Hatur nuhun,“
„Sami-sami. Begitulah kehidupan saya. Wilujeng sumping di kehidupan nyata,“
„Dang, saya tidak tahu, jika saya kembai lagi ke sini, apakah saya masih bisa bertemu denganmu,“ ucapku.
„Wallahualam,“ jawabnya singkat.
„Tapi kita tetap akan menjadi teman. Hanya satu pesan yang ingin saya sampaikan ke kamu. Tetaplah di jalan Allah. Itu saja. Tetaplah bersama Allah,“
Dadang mengangguk dan tersenyum ke arahku.
Sebelum aku pulang, kami menuju ke masjid itu yang mulai ditinggali oleh orang-orang yang baru selesai melaksanakan shalat Isya. Kami shalat berjamaah, Dadang menjadi imam. Lantunan suaranya membacakan ayat-ayat Allah sangat indah dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya. Seperti katanya, wilujeng sumping di kehidupan nyata, dengan berbekal ikhlas, maka kita akan menjadi sabar dan dapat menjalankan hidup tanpa putus asa walaupun dalam kondisi yang sulit.
Dadang, si pemakai kaus bola berwarna biru-kuning dengan nomor punggung delapan, melambaikan tangannya mengiringi akhir liburanku yang singkat di Bandung.
Jakarta, 14 September 2006
Mushab Syuhada
A Mushab Syuhada's
Aku sering melihat pemuda yang sebaya denganku itu datang ke masjid kecil dekat rumah nenekku di pinggiran kota Bandung. Dua hari yang lalu aku sempat berkenalan dengannya seusai shalat maghrib. Namanya Dadang, keturunan etnis tionghoa.
Jika aku berlibur ke rumah nenek, masjid yang hanya terpisah oleh tiga buah rumah menjadi salah satu tempat favoritku, karena selain teduh, masjid itu juga dikelilingi panorama alam pedesaan yang eksotis. Tapi sangat disayangkan, hanya ketika shalat Jumat jemaahnya membludak, bahkan bisa-bisa sampai meruah ke jalanan. Kontras dengan shalat fardhu yang hanya dua shaf. Isinya sebagian besar dari kalangan kakek-nenek dan bapak-ibu. Anak mudanya hanya dua, yaitu aku dan si Dadang itu.
Dadang bertubuh kurus. Tingginya kira-kira sama dengan denganku. Kulitnya kuning, matanya sipit seperti kebanyakan warga keturunan tionghoa lainnya. Baru di tahun ini aku melihatnya di masjid. Tahun kemarin, saat aku juga berlibur ke rumah nenek, tidak aku jumpai dia di sana. Biasanya ia suka terburu-buru ketika selesai shalat Dzuhur dan Ashar atau terkadang tidak datang ke masjid di waktu tersebut. Karena bekerja, katanya. Ketika kutanya di mana ia bekerja, ia malah tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum dan segera memohon pamit.
„ Dadang!“ teriakku di balik tirai kedai bubur ayam di pasar tikungan jalan tak jauh dari rumah nenek. Pagi itu aku ingin sekali makan bubur ayam. Kata nenek, bubur ayam yang paling enak di sini ada di pasar. Tentu aku igin sekali mencicipinya sebelum aku kembali pulang ke Surabaya malam nanti setelah dua minggu berlibur. Tak kuduga, niatku makan bubur ayam, malah bertemu dengan si Dadang. Pemuda itu menganggukkan kepalanya memandang ke arahku, lalu datang menghampiriku.
„Wah, nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini! Sudah sarapan? Yuk sarapan bareng,“ ujarku. Ia sempat menolak, tapi langsung saja kupesan semangkok bubur ayam ke penjaga kedai.
„Aa teh tiap pagi ka die?“ tanyanya dengan logat sundanya yang kental.
„Jangan panggil saya Aa atuh. Kayaknya kita seumuran, deh. Saya 20 tahun, kamu?“
„21,“
„Tuh kan, mestinya saya yang panggil kamu Aa“ kataku. Pemuda itu tersenyum dengan kekeh ringan.
„Waktu itu kamu kan pernah nanya, saya teh kerjana di mana,“ katanya menyambung percakapan.
„Iya,“ jawabku singkat. „Memangnya di mana?“
„Di die,“ jawabnya menunjuk pasar ini. Katanya, ia bekerja sebagai buruh angkut di pasar ini dari subuh hingga petang. Sudah hampir setahun ia bekerja mengangkut barang-barang dari dalam truk ke dalam pasar, atau membantu pembeli mengangkut barang kebutuhannya dari dalam pasar ke kendaraan. Meski kurus, namun Dadang adalah seorang yang kuat. Terbukti dengan seringnya ia memakul beras 20 kilo di salah satu pundaknya.
Setelah bercerita singkat tentang pekerjaannya sebagai buruh angkut, ia terdiam sejenak dan memandang sekeliling. Dari gelagatnya, pemuda itu terlihat kurang nyaman duduk di kedai ini di antara belasan pengunjung yang – mungkin menurutnya – terlihat lebih rapih dari pada dirinya. Ia mengenakan kaus bola berwarna biru-kuning bernomor punggung delapan, dengan celana panjang hitam. Akupun mencoba mencairkan suasana agar ia tidak lagi merasa kurang nyaman. Di sela-sela menikmati bubur ayam hangat, kami saling bercakap. Kuceritakan kalau aku datang dari Jakarta untuk berlibur selama dua minggu di Bandung. Walaupun aku orang Sunda, tapi lahir dan besar di Jakarta membuatku tidak menguasai Bahasa Sunda. Terlebih saat ini aku sedang berkuliah di salah satu universitas negeri di Surabaya yang justru membuat aku lebih fasih berbahasa Jawa. Ia mengerti, ia pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk bercakap denganku, walau masih dengan beberapa patah Bahasa Sunda. Ia banyak sekali bercerita, dari tentang pasar ini, tentang kedai bubur ayam ini, tentang sejarah masjid dekat rumah itu, sampai tiba-tiba tentang adik perempuannya.
„Dulu teh di masjid itu ada TPA tiap sore. Adik perempuanku dulu juga belajar ngaji di ditu,“ katanya.
„Oh... Kamu punya adik perempuan?“ tanyaku.
„Iya. Satu orang,“ jawabnya.
„Siapa namanya?“
„Diah Pitaloka,“
„Lalu, dia juga di Bandung?“
Dadang menggeleng.
„Dulu iya. Sekarang dia tinggal di panti asuhan, di Tasikmalaya,“
„Panti asuhan? Memangnya kalian tidak tinggal bersama orang tua kalian?“
„...tidak, orang tua kami...“
Hening sejenak. Dadang tidak melanjutkan pertanyaannku dengan jawaban.
„Oh... maaf... saya kurang sopan menanyakan tentang keluarga. Lupakan sajalah...“ lanjutku. Pemuda itu menunduk, lalu tak lama mengadahkan kepalanya menatapku.
„Tidak apa-apa. semua orang di sini sudah tahu kok tentang keluarga saya. Kalau kamu bertanya ke nenekmu, pasti beliau juga tahu,“
Nenek tidak pernah cerita apa-apa kepadaku tentang masyarakat di sini. Pasti menurutnya tidak penting untuk diceritakan kepadaku. Saat aku menatap wajah Dadang, terlihat ada guratan kesedihan yang mendalam. Seperti ia telah mengalami suatu peristiwa yang memilukan dalam kehidupannya. Dan benar saja, Dadang, yang baru kukenal namanya dua hari itu menceritakan kisah kehidupannya yang kupikir hanya dapat ditemukan di layar kaca. Tapi tidak, ini kenyataan!
***
Sudah setahun terakhir ini Dadang tinggal dengan keluarga pamannya yang tak jauh dari rumah nenek. Dulu, Dadang dan adiknya tinggal bersahaja dengan kedua orang tuanya sebagai satu keluarga yang utuh. Garis keturunan tionghoa yang dimilikinya didapatkan dari ayahnya. Ayah dan pamannya memeluk agama Islam sebelum keduanya menikah dengan gadis sunda. Dadang sempat menjadi anak tunggal yang amat disayang dan dimanjakan ketika ia masih kanak-kanak. Dan ketika usianya menginjak sepuluh tahun, ia mendapatkan seorang adik perempuan bernama Diah Pitaloka. Namun kelahirannya harus dibayar dengan nyawa ibunya, yang meninggal saat melahirkan.
Tak lama, ayahnya menikah kembali dengan seorang wanita asal Lembang. Awalnya Dadang enggan menerima kehadiran ibu tiri dalam keluarganya, karena imej ibu tiri yang melekat di kepalanya adalah seorang yang sadis dan kejam terhadap anak-anak tirinya. Namun dugaannya salah. Ketika wanita bernama Trisnowati Kosasih itu resmi menjadi ibunya, ia justru mampu membesarkan Diah yang kala itu masih bayi. Mereka hidup sejahtera, berkecukupan, hingga datangnya saat itu.
Saat itu tahun 1999. Semua orang pasti tahu, tahun itu adalah tahun yang amat labil dalam perekonomian Indonesia setelah terjadi pergolakan politik dan ekonomi di tahun 1998. Saat itu Diah masih berumur lima tahun dan Dadang akan segera menamatkan pendidikan SMP. Keluarganya tak luput dari serangan krisis moneter, usaha katering ibu tirinya – yang mulai dirintis sejak menikah dengan ayahnya – terpaksa harus berhenti. Ayahnya pun dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Hidupnya yang dulu berkecukupan mendadak berubah total.
Karena harta itu milik Allah. Dia bebas mengambilnya kapanpun Dia mau.
„Ayah, Dadang tidak usah melanjutkan SMA saja. Biarkan Dadang bekerja untuk menambah uang kita,“ pinta Iwan kepada ayahnya. Permintaannya ditolak keras oleh ayahnya.
„Kamu mau kerja jadi apa? Kamu pikir saat ini mudah mendapat pekerjaan? Tidak, ayah tidak setuju. Betapapun sulitnya keadaan ekonomi keluarga kita, ayah akan tetap membiayai sekolahmu. Sekolah sampai tinggi,“ ujar ayahnya. Dadang terharu, dan saat itu bertekad akan meneruskan sekolahnya.
Pertengahan tahun 2000, Dadang diterima di SMAN 3 Bandung. Namun tak lama setelah itu ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Sejak saat itu, sekolah Dadang terancam. Di saat krisis keuangan yang merajalela, ia malah kehilangan orang yang menjadi tumpuan untuk membiayai segala keperluaannya. Sejak saat itu pula, ibu tirinya yang dulu penyayang, sekarang berubah menyeramkan. Tresnawati Kosasih menjadi dikenal sebagai sosok pemarah, sering uring-uringan, dan ringan tangan, terlebih kepada Diah yang kala itu masih berumur enam tahun.
Dengan sangat terpaksa Dadang harus putus sekolah. Ia merantau ke Sukabumi untuk mencari pekerjaan sebagai... entahlah... mungkin sebagai buruh, kuli bangunan, atau apa saja, yang penting ia, adiknya, dan ibu tirinya dapat menyambung nyawa.
Namun sungguh miris nasib Dadang, sekembalinya ke Bandung enam bulan kemudian, ia mendapatkan Diah tinggal di rumah pamannya – yang tidak jauh dari rumah nenek – dengan kondisi sangat memprihatinkan. Matanya lebam, wajahnya dipenuhi memar-memar, tubuh kurusnya banyak ditemukan bekas luka yang telah mengering, maupun yang malah berubah menjadi koreng bernanah. Bahkan ia sempat dilarikan ke rumah sakit akibat patah tulang tangan sebelah kirinya yang syukurnya tidak terlalu parah. Diah kini menjadi bocah yang apatis, yang takut bertemu dengan semua orang yang tidak dikenalnya. Mentalnya labil dan kadang suka menjerit tiba-tiba.
„Aa...“ katanya sepatah sambil berusaha melihat sang Aa dari balik mata kecilnya yang membengkak biru disertai dengan senyuman yang penuh perih. Diah berusaha menyambut kedatangan Aa yang dicintainya dan dirindukannya walau dengan rasa pedih di sekujur tubuh dan perasaannya yang belum juga hilang.
Dadang menangis, tak kuasa ia melihat seorang bocah perempuan di hadapannya menjadi seperti itu. Tangannya memeluk bocah itu kuat, sambil membelai rambut sebahunya yang tipis kemerahan.
„Siapa... siapa yang melakukan ini...“ tanyanya terbata-bata dalam larut buraian air mata. Paman dan bibinya saling berpandangan, sebelum akhirnya mengucapkan satu nama, „ibumu...“
***
Tresnawati Kosasih yang tega menyiksa dan membuang anak yang sejak bayi ia asuh. Ia pergi, pergi dengan menjual rumah beserta isinya peninggalan suaminya – ayah dari Dadang dan Diah. Pamannya sepakat untuk mengasuh Diah di rumahnya, walaupun kondisi keuangan keluarga pamannya pun sebenarnya bukan tergolong cukup untuk mengasuh tiga anak kandungnya, terlebih dengan kehadiran Diah. Namun, siapa lagi saudara dekat dari mereka berdua?
Dadang pun melanjutkan pencarian nafkahnya dengan merantau, kali ini ke Jakarta, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pernah Dadang ditawari untuk tinggal bersama nenek dari ayahnya, tapi ia tolak.
„Kenapa kamu tidak mau? Hidup bersama nenekmu kan enak, dia orang cukup, kamu bisa menyambung sekolah lagi, tidak perlu mencari uang,“ kata bibinya.
„Tidak bi, saya tetap tidak mau,“
„Masalahnya apa, kok kamu masih saja tidak mau? Apa karena nenekmu itu tidak seagama denganmu lalu kamu...“
„Bukan, bi, bukan. Saya tidak mempermasalahkan perbedaan agama kami. Saya percaya, baik muslim maupun nonmuslim dapat hidup berdampingan dengan damai di negara ini. Tapi saya tidak ingin malah merepotkan mereka, bi. Saya tidak ingin mendapatkan kebahagiaan semu. Biar saya dan Diah begini. Biar saya dan Diah tidak dikasih makan, tidak dikasih ongkos, pakaian baru atau apapun, asalkan kami tetap diijinkan tinggal di sini, bi,“
Diah yang belum bersekolah, dimasukkan ke TPA masjid itu karena di sana tidak dipungut bayaran. Alhamdulillah, Diah kini sudah bisa membaca Al-Qur’an, membaca huruf latin, dan berhitung. Namun tak lama kemudian, masjid itu tidak lagi mengadakan TPA, alasannya karena kekurangan tenaga pengajar. Dadang masih ingat, ketika di sebuah sore ia menelepon ke rumah pamannya dari Jakarta.
„Punten, memangna saha yang mau membawa Diah?“ tanyanya.
„Kemarin ada seorang peremuan berkerudung datang. Katanya dia pernah mendengar cerita tentang Diah. Ia pun ingin membawa Diah ka Tasik, di sana ada panti asuhan dengan sekolahannya, gratis. Biaya hidupna sudah beres ditanggung. Di sini kan Diah sudah tidak ke TPA lagi. Kumaha? Dadang setuju, teu?“ jawab pamannya dari balik telepon.
Dadang menyadari, ia juga tidak ingin memberatkan pamannya. Mungkin panti asuhan adalah tempat yang tepat untuk Diah, yang memang sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Dadang pun akhirnya menyetujui kepergian adiknya, terlebih di sana adiknya dapat kembali bersekolah dan mengenyam pendidikan.
Keesokan paginya, Dadang sudah berada di Bandung untuk mengantar kepergian adiknya. Setahun tidak bertemu, kini Dadang hanya diberi kesempatan sesaat untuk melihat Diah sebelum kembali datang perpisahan di antara mereka berdua. Diah kini sudah terlihat ceria, tidak seperti yang dulu. Kini ia mulai berani bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya sambil memberikan senyum manisnya. Diah mencium tangan Aa-nya saat bertemu, yang membuat sang Aa tak kuasa menahan air mata harunya. Diah terlihat gembira mengenakan baju dan roknya, menggendong tas ranselnya, memakai sandal jepitnya, dan mengenakan kerudung bekas TPA-nya dulu.
„Aa, Diah mau ka Tasik, Diah mau belajar, supaya pintar seperti Aa...“ kata anak berumur tujuh tahun itu.
Dan wanita yang dikatakan pamannya datang, dia adalah pengurus salah satu lembaga sosial masyarakat yang peduli tentang masalah perlindungan anak. Tak lama ia pamit, membawa Diah masuk ke dalam mobil kijang peraknya. Dadang dan Diah saling berpandangan di balik kaca mobil, dan kepura-puraan Diah untuk terlihat tegar pun berhenti, tangis bocah perempuan itu pecah melihat wajah Aa Dadang yang memandanginya penuh harap dan cemas.
„Aa...!“ tangannya melambai dalam tangisnya.
***
„Dan sejak itu, saya tetap bekerja di Jakarta. Namun tahun kemarin saya diberhentikan dari pekerjaan saya, jadilah saya pulang ke Bandung, menetap bersama keluarga paman. Alhamdulillah, di pasar ini ada kerjaan juga untuk saya,“ lanjut ceritanya.
Aku masih menatapnya, mendengarkan seluruh rentetan ceritanya. Betapa jauh lebih beruntung aku. Terlampau banyak nikmat yang kudapatkan dengan mudah tapi... betapa mudahnya kudustakan. Tapi aku yakin, Allah Mahaadil, seberat apapun perjuangan hidup Dadang, pasti ia mendapatkan balasan atas kesabarannya.
„Hmm... Putra? Putra?“ panggil Dadang sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. „Kamu melamun, ya?“
„Eh, nggak kok, saya terlalu larut dalam ceritamu,“ jawabku. „Saya salut terhadapmu, kamu masih bersabar dan tidak menyerah menghadapi hidupmu,“ tukasku.
„Selama kita ikhlas, insya Allah kita bisa mendapatkan kesabaran,“ jawabnya.
Dan aku makin mengagguminya.
„Baiklah, saya harus kembali bekerja. Hatur nuhun atas sarapannya,“
„Tunggu, Dang,“
„Iya?“
„Malam ini saya kembali ke Surabaya. Bisa kita bertemu lagi?“
„Insya Allah, seperti biasa, di masjid dekat rumah nenekmu,“
***
Maghrib ini Dadang tak datang. Aku berharap bisa bertemu lagi dengannya. Beberapa menit yang lalu ibuku mengirim sms, katanya, Pak Tarso baru saja berangkat dari Jakarta untuk menjemputku dan mengantarku malam ini ke Surabaya.
Dan saat adzan Isya berkumandang, ia belum juga datang. Kuberjalan ke arah pasar di tikungan jalan itu, dengan harapan aku melihatnya. Ternyata tidak.
„Putra!“ teriak sebuah suara dari belakangku. „Maaf, maghrib tadi saya shalat di jalan, baru selesai mengantar barang. Saya pikir kamu di masjid, eh saya malah lihat kamu berjalan ke arah pasar,“ ujar Dadang dengan nafas tersengal-sengal. Aku tersenyum.
„Tidak apa-apa. Saya senang masih bisa berpamitan dulu ke kamu,“
„Saya juga senang bisa bertemu kamu dan berbagi cerita dengan kamu,“ katanya.
„Ya...“ sahutku pelan. „Kamu telah memberikan saya pelajaran melalui kisah hidupmu, yang membuat saya tahu lebih dalam tentang kesabaran, semangat, dan rasa syukur. Hatur nuhun,“
„Sami-sami. Begitulah kehidupan saya. Wilujeng sumping di kehidupan nyata,“
„Dang, saya tidak tahu, jika saya kembai lagi ke sini, apakah saya masih bisa bertemu denganmu,“ ucapku.
„Wallahualam,“ jawabnya singkat.
„Tapi kita tetap akan menjadi teman. Hanya satu pesan yang ingin saya sampaikan ke kamu. Tetaplah di jalan Allah. Itu saja. Tetaplah bersama Allah,“
Dadang mengangguk dan tersenyum ke arahku.
Sebelum aku pulang, kami menuju ke masjid itu yang mulai ditinggali oleh orang-orang yang baru selesai melaksanakan shalat Isya. Kami shalat berjamaah, Dadang menjadi imam. Lantunan suaranya membacakan ayat-ayat Allah sangat indah dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya. Seperti katanya, wilujeng sumping di kehidupan nyata, dengan berbekal ikhlas, maka kita akan menjadi sabar dan dapat menjalankan hidup tanpa putus asa walaupun dalam kondisi yang sulit.
Dadang, si pemakai kaus bola berwarna biru-kuning dengan nomor punggung delapan, melambaikan tangannya mengiringi akhir liburanku yang singkat di Bandung.
Jakarta, 14 September 2006
Mushab Syuhada
Friday, August 11, 2006
Sunday, August 06, 2006
Telur Tomat Ikan
Kategori: Resep
Bahan-bahan:
1 kaleng ikan sarden (boleh apa aja asal bukan tuna)
250 gram pasta tomat
5 butir telur ayam
1 buah bawang bombay
4 siung bawang putih
½ sendok teh lada
1 sendok teh garam
1 sendok teh gula
½ gelas air
1 sendok teh saus tiram
4 buah cabe rawit
Cara membuat:
Iris bawang bombay, bawang putih dan cabe rawit hingga harum, masukan ikan kalengan dan tumis sebentar.
Masukan pasta tomat dan air, beri garam, gula, lada dan saus tiram, masak hingga pasta tomat mendidih.
Masukan telur, biarkan matang dengan sendirinya (tidak perlu diaduk), siap disajikan.
Lama persiapan dan memasak: 25 menit
Nilai: Sangat praktis
Porsi 5 orang
Bahan-bahan:
1 kaleng ikan sarden (boleh apa aja asal bukan tuna)
250 gram pasta tomat
5 butir telur ayam
1 buah bawang bombay
4 siung bawang putih
½ sendok teh lada
1 sendok teh garam
1 sendok teh gula
½ gelas air
1 sendok teh saus tiram
4 buah cabe rawit
Cara membuat:
Iris bawang bombay, bawang putih dan cabe rawit hingga harum, masukan ikan kalengan dan tumis sebentar.
Masukan pasta tomat dan air, beri garam, gula, lada dan saus tiram, masak hingga pasta tomat mendidih.
Masukan telur, biarkan matang dengan sendirinya (tidak perlu diaduk), siap disajikan.
Lama persiapan dan memasak: 25 menit
Nilai: Sangat praktis
Porsi 5 orang
Sayur Lodeh Bujang
Kategori: Resep
Bahan-bahan:
125 ml santan
2 sendok makan Koriander (ketumbar) bubuk
1 buah bawang bombay
5 siung bawang putih
2 butir kemiri, hancurkan
2 sendok teh garam
1 sendok makan gula
1 sendok teh lada
1 buah Kohlrabi (labusiam) potong-potong dadu
300 g daging sapi, potong-potong kecil
Sayur mayur (bisa dibeli di supermarket yang sudah menjadi satu agar praktis)
1 buah tahu, potong-potong dadu
1 gelas air
Cara membuat:
Tumis bawang bombay, bawang putih, lada, dan kemiri. Masukan daging, masak hingga daging setengah matang.
Masukan ketumbar, tumis sebentar, dan segera tuangkan santan. Masak hingga santan mendidih.
Tambahkan air, masak hingga mendidih. Masukan gula dan garam, serta tahu, labusiam, dan sayur mayur. Masak hingga mendidih dan daging matang.
Lama persiapan dan memasak: 30 menit
Nilai: Praktis
Porsi 4 orang
Bahan-bahan:
125 ml santan
2 sendok makan Koriander (ketumbar) bubuk
1 buah bawang bombay
5 siung bawang putih
2 butir kemiri, hancurkan
2 sendok teh garam
1 sendok makan gula
1 sendok teh lada
1 buah Kohlrabi (labusiam) potong-potong dadu
300 g daging sapi, potong-potong kecil
Sayur mayur (bisa dibeli di supermarket yang sudah menjadi satu agar praktis)
1 buah tahu, potong-potong dadu
1 gelas air
Cara membuat:
Tumis bawang bombay, bawang putih, lada, dan kemiri. Masukan daging, masak hingga daging setengah matang.
Masukan ketumbar, tumis sebentar, dan segera tuangkan santan. Masak hingga santan mendidih.
Tambahkan air, masak hingga mendidih. Masukan gula dan garam, serta tahu, labusiam, dan sayur mayur. Masak hingga mendidih dan daging matang.
Lama persiapan dan memasak: 30 menit
Nilai: Praktis
Porsi 4 orang
Perkedel Tahu
Kategori: Resep
Kali ini saya ingin berbagi-bagi pengalaman memasak. Khusus untuk bujang, terutama yang sedang menuntut ilmu di Jerman. Resep ini disesuaikan dengan bahan-bahan yang tersedia di sini, dan juga dengan kesibukan kita sebagai mahasiswa yang ingin menjaga gizi, makan enak, tapi juga praktis. Yang jelas, khusus untuk bujang lho :-).

Bahan-bahan:
1 buah tahu
2 atau 3 butir telur ayam
6 sendok makan tepung terigu
2 sendok teh garam
1 sendok teh lada
1 sendok teh gula
1 sendok teh bawang putih bubuk
1 butir bawang bombay, potong kecil-kecil
½ kaleng jagung manis
1 buah daun bawang
1 buah wortel, potong berbentuk korek api
Minyak untuk menumis
Cara membuat:
Hancurkan tahu, campur dengan telur ayam, tepung terigu. Masukan jagung, wortel, bawang bombay, daun bawang.
Tambahkan gula, garam, lada dan bawang putih bubuk. Aduk-aduk hingga merata.
Panaskan minyak, goreng perkedel tahu yang sudah dibentuk bulat-bulat.
Lama persiapan dan memasak: 20 menit
Nilai: Sangat praktis
Porsi: 6 orang
Kali ini saya ingin berbagi-bagi pengalaman memasak. Khusus untuk bujang, terutama yang sedang menuntut ilmu di Jerman. Resep ini disesuaikan dengan bahan-bahan yang tersedia di sini, dan juga dengan kesibukan kita sebagai mahasiswa yang ingin menjaga gizi, makan enak, tapi juga praktis. Yang jelas, khusus untuk bujang lho :-).

Bahan-bahan:
1 buah tahu
2 atau 3 butir telur ayam
6 sendok makan tepung terigu
2 sendok teh garam
1 sendok teh lada
1 sendok teh gula
1 sendok teh bawang putih bubuk
1 butir bawang bombay, potong kecil-kecil
½ kaleng jagung manis
1 buah daun bawang
1 buah wortel, potong berbentuk korek api
Minyak untuk menumis
Cara membuat:
Hancurkan tahu, campur dengan telur ayam, tepung terigu. Masukan jagung, wortel, bawang bombay, daun bawang.
Tambahkan gula, garam, lada dan bawang putih bubuk. Aduk-aduk hingga merata.
Panaskan minyak, goreng perkedel tahu yang sudah dibentuk bulat-bulat.
Lama persiapan dan memasak: 20 menit
Nilai: Sangat praktis
Porsi: 6 orang
Monday, July 10, 2006
Reportase WM
Kategori: Artikel

Satu bulan sudah Jerman menjadi tuan rumah FIFA Piala Dunia 2006. Seperti halnya di berbagai penjuru dunia lainnya, di Jerman pun demam Piala Dunia (yang untuk selanjutnya disingkat WM, Weltmasterschaft) begitu terasa. Di kota tempat saya tinggal, Berlin, demam WM sudah muncul sejak jauh-jauh hari. Kota Berlin mempercantik diri dengan atribut-atribut WM. Tidak heran, kota ini akan menjadi pusat dunia pada tanggal 9 Juli ketika partai final ajang sepakbola terbesar empat tahunan itu digelar.
Tak terkecuali saya, saya sempat mencari-cari pekerjaan untuk WM ini. Waktu itu sempat mendaftar menjadi staff ticketing, dan sempat juga mendapat panggilan wawancara, tapi ternyata panggilan itu tidak kunjung-kunjung datang sampai sekarang. Masih belum rejeki mungkin. Tapi ada baiknya juga, karena ternyata WM itu tidak kompromi dengan waktu kuliah. Dengan kata lain, walaupun WM, kuliah tetap jalan, bahkan dalam musim ujian!
Dengan diadakannya WM pada waktu aktif kuliah, maka konsentrasi kuliah saya pun sedikit terganggu. Bisa jadi bukan hanya saya, tapi juga seisi kampus. Contohnya, waktu di kampus sedang asik-asik belajar, tiba-tiba ada suara teriak „Tooorrrrr!!!“ dari ruangan sebelah. Oh, ternyata para Tutor dan Wissenschaftliche Arbeiter sedang nonton bola bareng. Atau Tutor mata kuliah Physikalische Chemie saya, yang notabene juga anak kuliahan, memperpendek waktu tutorium kami karena mau nonton bola. Di antara mahasiwa pun demikian, kalau kita tidak tahu bagaimana hasil pertandingan tadi malam, maka akan bingung ketika diajak ngobrol oleh mahasiswa lain esok paginya. Satu mata kuliah yaitu Konstruktion und Werkstoffe mengharuskan kerja kelompok secara intensif. Kelompok kami yang hanya bertiga, semuanya demam WM. Jadi jadual mengerjakan tugas diatur sedemikian rupa supaya tidak bentrok dengan jadual WM.
Contoh percakapan kami:
Saya: „Wir müssen die Hausaufgabe am Donnerstag abgeben! So, wir sollen uns am Dienstag treffen. Wie findet ihr?“
Si M: „Am Dienstag?? Es ist doch Deutschland gegen Argentinien!“
Si A: „Das kann nicht sein, das kann nicht sein! Lieber am Wochenende treffen!“
Oalah.
Pusat kota Berlin dari Brandenburger Tor sampai Siegesäule pun disulap menjadi Fanmeile, atau tempat nonton bersama untuk penduduk di kota itu. Ada enam monitor raksasa berdiri di sana. Tercatat bisa sampai 500.000 orang datang bersama ke sana pada sebuah pertandingan. Karena tidak suka keramaian, saya jarang ke sana. Mungkin hanya tiga kali sepanjang WM. Saya lebih suka nonton di rumah, atau bertandang ke rumah teman untuk nonton bersama. Menonton di stadion? Sayangnya tidak. Untuk tempat duduk yang paling belakang dan paling atas, harga tiketnya mencapai 30 €, untuk final malah lebih mahal, mencapai 100 € untuk tempat duduk dimana kita tidak bisa melihat pemain-pemainnya saking jauhnya. Mending untuk hal yang lain, ya nggak?
Setiap orang punya gaya sendiri untuk meluapkan emosinya melalui bentuk-bentuk ekspresi ketika menonton bola. Kalau saya, adalah gerak refleks tangan atau kaki ketika geregetan melihat seorang pemain ketika tim yang saya jagokan tidak juga berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan. Begitu pula ketika WM kali ini, saya sempat mengambil beberapa peristiwa dari gegap gempitanya penyelenggaraan WM, bisa dilihat di foto galeri.
WM kini sudah usai, saatnya kembali konsentrasi menghadapi ujian semester. Secara keseluruhan saya agak kecewa pada WM kali ini, karena tim-tim yang saya jagokan tumbang satu persatu.
Respekt untuk Italia yang menjadi Weltmeister kali ini.

Satu bulan sudah Jerman menjadi tuan rumah FIFA Piala Dunia 2006. Seperti halnya di berbagai penjuru dunia lainnya, di Jerman pun demam Piala Dunia (yang untuk selanjutnya disingkat WM, Weltmasterschaft) begitu terasa. Di kota tempat saya tinggal, Berlin, demam WM sudah muncul sejak jauh-jauh hari. Kota Berlin mempercantik diri dengan atribut-atribut WM. Tidak heran, kota ini akan menjadi pusat dunia pada tanggal 9 Juli ketika partai final ajang sepakbola terbesar empat tahunan itu digelar.
Tak terkecuali saya, saya sempat mencari-cari pekerjaan untuk WM ini. Waktu itu sempat mendaftar menjadi staff ticketing, dan sempat juga mendapat panggilan wawancara, tapi ternyata panggilan itu tidak kunjung-kunjung datang sampai sekarang. Masih belum rejeki mungkin. Tapi ada baiknya juga, karena ternyata WM itu tidak kompromi dengan waktu kuliah. Dengan kata lain, walaupun WM, kuliah tetap jalan, bahkan dalam musim ujian!
Dengan diadakannya WM pada waktu aktif kuliah, maka konsentrasi kuliah saya pun sedikit terganggu. Bisa jadi bukan hanya saya, tapi juga seisi kampus. Contohnya, waktu di kampus sedang asik-asik belajar, tiba-tiba ada suara teriak „Tooorrrrr!!!“ dari ruangan sebelah. Oh, ternyata para Tutor dan Wissenschaftliche Arbeiter sedang nonton bola bareng. Atau Tutor mata kuliah Physikalische Chemie saya, yang notabene juga anak kuliahan, memperpendek waktu tutorium kami karena mau nonton bola. Di antara mahasiwa pun demikian, kalau kita tidak tahu bagaimana hasil pertandingan tadi malam, maka akan bingung ketika diajak ngobrol oleh mahasiswa lain esok paginya. Satu mata kuliah yaitu Konstruktion und Werkstoffe mengharuskan kerja kelompok secara intensif. Kelompok kami yang hanya bertiga, semuanya demam WM. Jadi jadual mengerjakan tugas diatur sedemikian rupa supaya tidak bentrok dengan jadual WM.
Contoh percakapan kami:
Saya: „Wir müssen die Hausaufgabe am Donnerstag abgeben! So, wir sollen uns am Dienstag treffen. Wie findet ihr?“
Si M: „Am Dienstag?? Es ist doch Deutschland gegen Argentinien!“
Si A: „Das kann nicht sein, das kann nicht sein! Lieber am Wochenende treffen!“
Oalah.
Pusat kota Berlin dari Brandenburger Tor sampai Siegesäule pun disulap menjadi Fanmeile, atau tempat nonton bersama untuk penduduk di kota itu. Ada enam monitor raksasa berdiri di sana. Tercatat bisa sampai 500.000 orang datang bersama ke sana pada sebuah pertandingan. Karena tidak suka keramaian, saya jarang ke sana. Mungkin hanya tiga kali sepanjang WM. Saya lebih suka nonton di rumah, atau bertandang ke rumah teman untuk nonton bersama. Menonton di stadion? Sayangnya tidak. Untuk tempat duduk yang paling belakang dan paling atas, harga tiketnya mencapai 30 €, untuk final malah lebih mahal, mencapai 100 € untuk tempat duduk dimana kita tidak bisa melihat pemain-pemainnya saking jauhnya. Mending untuk hal yang lain, ya nggak?
Setiap orang punya gaya sendiri untuk meluapkan emosinya melalui bentuk-bentuk ekspresi ketika menonton bola. Kalau saya, adalah gerak refleks tangan atau kaki ketika geregetan melihat seorang pemain ketika tim yang saya jagokan tidak juga berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan. Begitu pula ketika WM kali ini, saya sempat mengambil beberapa peristiwa dari gegap gempitanya penyelenggaraan WM, bisa dilihat di foto galeri.
WM kini sudah usai, saatnya kembali konsentrasi menghadapi ujian semester. Secara keseluruhan saya agak kecewa pada WM kali ini, karena tim-tim yang saya jagokan tumbang satu persatu.
Respekt untuk Italia yang menjadi Weltmeister kali ini.
Sunday, June 18, 2006
Sekat dan Suara Langit
Kategori: Cerpen
„Kamu bermuka dua!“ teriakan dari langit itu menggelegar. Sayup-sayup terdengar lagi, „Bagaimana mungkin kamu bisa bertindak seperti itu?“
Ah, hanya saja dulu aku tidak tahu ayat itu, hanya saja dulu aku tidak sadar bahwa maut bisa merenggut kapan saja tanpa kompromi, mungkin aku bisa seperti mereka, berjingkrak, bersorak, hore.
Jiwa yang terbelenggu, tersekat-sekat. „Boleh kah aku menggadaikan kata istiqomah sebentar saja? Aku ingin menghirup masa mudaku sebebas-bebasnya. Lepas!“
„Laaaaa!“ teriak suara langit itu lagi. „Tidak ada yang memaksamu untuk istiqomah. Silahkan cari jalan lain sesukamu. Namun tidak ada yang dapat menjamin kamu akan kembali lagi ke jalan ini!“
Aku menghela nafas yang berat. „Fa alhamahaa fujurohaa wataqwaahaa“. Allah telah bersumpah! Bahkan sumpahnya kali ini lebih hebat dari sumpahnya yang lain. Atas nama matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringnya, dan siang apabila menampakannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, serta merta sumpah Allah, bahwa jiwa itu diilhamkan kefasikan dan ketakwaannya.
„Lumrahkah itu wahai suara yang menggelegar?“ tanyaku lagi. Namun sang suara tak lagi menggumamkan nyaringnya. Hening. Wahai jiwa, kau memberi tantangan pada keistiqomahan atas sifatmu yang bisa takwa dan bisa fasik!
***
Terbelalak aku di balik lautan orang-orang berwarna-warni dan berbau keringat. „Ole! Ole! Ole! Brasiiiiilllieennnnnn!“. Mengadah aku, dan gelap sudah menggarap langit-langit.
„Ya Allah! Aku belum shalat maghrib!“ Mengapa waktu maghrib pukul setengah sepuluh malam? Di saat pertandingan Brasil melawan Kroasia pukul sembilan malam. Tak mungkin aku menunggu setengah jam di rumah untuk shalat maghrib, lalu berangkat menonton acara piala dunia di tengah kota. Bisa-bisa 45 menit pertama sudah lewat. Lalu, sekarang sudah pukul sebelas, sebentar lagi maghrib habis. Di mana aku bisa mendirikan shalat?, padahal semua jengkal tanah telah direservasi lautan manusia yang sedang berteriak-teriak. Tak mungkin aku shalat di sini. Ini Berlin saudara-saudara!, pastilah orang akan menganggapku teroris jika beribadah di tengah mereka!
„Hayya’lasholaaaaaa“ suara itu datang lagi menyelip dari gelap langit yang semakin memekat. „Di mana?“ tanyaku beremosi. „Yang lain pun tidak shalat! Yang lain pun bergembira!“. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Aku ingin dugem, dulalip atau apalah namanya, minum alkohol, pesta pora tralala, itu kan yang semestinya dilakukan orang-orang seumuranku?
Tiba-tiba hujan, pun tak menghentikan gempita malam itu. Menit berjalan, mempertaruhkan waktu maghribku, eksistensi islamku. Ah, islam kah aku? Royal sudah kah aku terhadap agamaku?
„Memang sulit menjaga keistiqomahan terutama di tempat yang bukan mayoritas islam seperti di sini. Tapi jika kamu mampu menjaga istiqomahmu, insya Allah, islam yang kaafah yang akan kamu renggut,“ kata suara ustadz yang kutemui setahun yang lalu.
Teringat aku dengan David, Martin, Patrick, Bettina, Aletta, Marielle... Ketika hidayah datang kepada mereka, bukan kesurutan iman yang mereka temui, tapi malah semakin menjadi. Pernah ku lihat Martin berdoa dengan khusyuk sekali, mengadahkan kedua tangannya, memejamkan matanya, seolah menyerahkan semua yang dia punya, dan hatinya bergumam berkata kepada Allah. Si pirang bermata biru itu selalu merasa sejuk kala menghadap Tuhannya. Atau Aletta, si bule berkacamata yang tetap dengan kain panjang menutup kepalanya dan baju lengan panjangnya, di saat teman-temannya yang lain ber-tanktop dan bercelana pendek di musim yang super panas saat ini, atau di saat lingkungannya menatapnya picik menghinakan, eine Deutsche trägt ein Kopftuch?!
Maghrib akan lewat, Ya Allah, aku menghadap Mu sekarang, ampuni aku ya Allah! Ampuni...
***
„Wahai Muhammad, akan kuberikan apapun yang kamu minta, uang, harta, pangkat, wanita, asalkan kamu berhenti dari dakwahmu!“
„Walapun matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti pada jalan ini!“
Andai matahari di tangan kananku tak kan sanggup mengubah yakinku
Terpatri dan tak kan terbeli dalam lubuk hati
Bilakah rembulan di tangan kiriku, tak kan sanggup mengganti imanku
Jiwa dan raga ini apapun adanya
Andaikan seribu siksaan terus melambai-lambaikan derita yang mendalam
Seujung rambutpun aku tak kan bimbang
Jalan ini yang kutempuh
Bilakah ajal kan menjelang jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan
Cintaku hanya untukMu
Tetapkan muslimku selalu
(Harris Syafik – Keimanan)
***
Berlin, 18 Juni 2006
Untuk seorang adik yang akan pulang habis ke Indonesia.
„Kamu bermuka dua!“ teriakan dari langit itu menggelegar. Sayup-sayup terdengar lagi, „Bagaimana mungkin kamu bisa bertindak seperti itu?“
Ah, hanya saja dulu aku tidak tahu ayat itu, hanya saja dulu aku tidak sadar bahwa maut bisa merenggut kapan saja tanpa kompromi, mungkin aku bisa seperti mereka, berjingkrak, bersorak, hore.
Jiwa yang terbelenggu, tersekat-sekat. „Boleh kah aku menggadaikan kata istiqomah sebentar saja? Aku ingin menghirup masa mudaku sebebas-bebasnya. Lepas!“
„Laaaaa!“ teriak suara langit itu lagi. „Tidak ada yang memaksamu untuk istiqomah. Silahkan cari jalan lain sesukamu. Namun tidak ada yang dapat menjamin kamu akan kembali lagi ke jalan ini!“
Aku menghela nafas yang berat. „Fa alhamahaa fujurohaa wataqwaahaa“. Allah telah bersumpah! Bahkan sumpahnya kali ini lebih hebat dari sumpahnya yang lain. Atas nama matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringnya, dan siang apabila menampakannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, serta merta sumpah Allah, bahwa jiwa itu diilhamkan kefasikan dan ketakwaannya.
„Lumrahkah itu wahai suara yang menggelegar?“ tanyaku lagi. Namun sang suara tak lagi menggumamkan nyaringnya. Hening. Wahai jiwa, kau memberi tantangan pada keistiqomahan atas sifatmu yang bisa takwa dan bisa fasik!
***
Terbelalak aku di balik lautan orang-orang berwarna-warni dan berbau keringat. „Ole! Ole! Ole! Brasiiiiilllieennnnnn!“. Mengadah aku, dan gelap sudah menggarap langit-langit.
„Ya Allah! Aku belum shalat maghrib!“ Mengapa waktu maghrib pukul setengah sepuluh malam? Di saat pertandingan Brasil melawan Kroasia pukul sembilan malam. Tak mungkin aku menunggu setengah jam di rumah untuk shalat maghrib, lalu berangkat menonton acara piala dunia di tengah kota. Bisa-bisa 45 menit pertama sudah lewat. Lalu, sekarang sudah pukul sebelas, sebentar lagi maghrib habis. Di mana aku bisa mendirikan shalat?, padahal semua jengkal tanah telah direservasi lautan manusia yang sedang berteriak-teriak. Tak mungkin aku shalat di sini. Ini Berlin saudara-saudara!, pastilah orang akan menganggapku teroris jika beribadah di tengah mereka!
„Hayya’lasholaaaaaa“ suara itu datang lagi menyelip dari gelap langit yang semakin memekat. „Di mana?“ tanyaku beremosi. „Yang lain pun tidak shalat! Yang lain pun bergembira!“. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Aku ingin dugem, dulalip atau apalah namanya, minum alkohol, pesta pora tralala, itu kan yang semestinya dilakukan orang-orang seumuranku?
Tiba-tiba hujan, pun tak menghentikan gempita malam itu. Menit berjalan, mempertaruhkan waktu maghribku, eksistensi islamku. Ah, islam kah aku? Royal sudah kah aku terhadap agamaku?
„Memang sulit menjaga keistiqomahan terutama di tempat yang bukan mayoritas islam seperti di sini. Tapi jika kamu mampu menjaga istiqomahmu, insya Allah, islam yang kaafah yang akan kamu renggut,“ kata suara ustadz yang kutemui setahun yang lalu.
Teringat aku dengan David, Martin, Patrick, Bettina, Aletta, Marielle... Ketika hidayah datang kepada mereka, bukan kesurutan iman yang mereka temui, tapi malah semakin menjadi. Pernah ku lihat Martin berdoa dengan khusyuk sekali, mengadahkan kedua tangannya, memejamkan matanya, seolah menyerahkan semua yang dia punya, dan hatinya bergumam berkata kepada Allah. Si pirang bermata biru itu selalu merasa sejuk kala menghadap Tuhannya. Atau Aletta, si bule berkacamata yang tetap dengan kain panjang menutup kepalanya dan baju lengan panjangnya, di saat teman-temannya yang lain ber-tanktop dan bercelana pendek di musim yang super panas saat ini, atau di saat lingkungannya menatapnya picik menghinakan, eine Deutsche trägt ein Kopftuch?!
Maghrib akan lewat, Ya Allah, aku menghadap Mu sekarang, ampuni aku ya Allah! Ampuni...
***
„Wahai Muhammad, akan kuberikan apapun yang kamu minta, uang, harta, pangkat, wanita, asalkan kamu berhenti dari dakwahmu!“
„Walapun matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti pada jalan ini!“
Andai matahari di tangan kananku tak kan sanggup mengubah yakinku
Terpatri dan tak kan terbeli dalam lubuk hati
Bilakah rembulan di tangan kiriku, tak kan sanggup mengganti imanku
Jiwa dan raga ini apapun adanya
Andaikan seribu siksaan terus melambai-lambaikan derita yang mendalam
Seujung rambutpun aku tak kan bimbang
Jalan ini yang kutempuh
Bilakah ajal kan menjelang jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan
Cintaku hanya untukMu
Tetapkan muslimku selalu
(Harris Syafik – Keimanan)
***
Berlin, 18 Juni 2006
Untuk seorang adik yang akan pulang habis ke Indonesia.
Monday, May 22, 2006
Setitik Embun Mas Fathan
Kategori: Cerpen
Namanya mas Fathan, umurnya sepuluh tahun lebih tua dariku. Aku berkenalan dengannya ketika pertama kali menginjakan kaki di Jerman, dua tahun yang lalu.
„Ini yang namanya Bintang, ya?“ tanyanya dengan mata yang menyipit akibat senyumnya yang manis. „Saya Fathan.“
Pertemuan pertama di bandara Tegel, Berlin. Kala itu mas Fathan yang membawa koperku yang super berat.
„Ini istri saya, Mawaddah. Kalau yang ini Annissa. Ayo, Annissa, salam sama om Bintang,“ ucapnya memperkenalkan keluarganya.
„Kalau yang di kereta bayi itu... anak mas Fathan juga?“ tanyaku membalas.
„Masa anak orang sih. Kan yang ngedorong keretanya istri saya. Namanya Faisal, baru lima bulan,“ jawabnya hangat. Mbak Mawaddah hanya tersipu-sipu mendengar pertanyaan basa-basiku. „Selamat datang di Jerman, di sini tempat perjuangan Bintang.“
Namanya mas Fathan, yang meminta aku menganggap keluarganya seperti keluargaku sendiri. Mas Fathan adalah teman SMA om Jeffri – adiknya ayah yang tinggal di Cirebon. Jadi jangan heran, kalau ayah menitipkan aku padanya.
„Bintang, sampai kamu dapat rumah, tinggal dulu bersama kami. Wohnung kami tidak begitu besar, tapi nyaman kok. Anggap saja rumah sendiri. Saya sedang mengusahakan sebuah apartemen untuk Bintang di daerah Wedding,“ katanya.
Baru sehari aku tinggal bersama mereka, aku sudah merasa betah. Mbak Mawaddah hobby masak. Tiap saat ada yang keluar dari dapur. „Sudah mbak, nggak usah repot-repot. Baru satu jam yang lalu disuguhin risol, martabaknya nanti malam saja,“ kataku. Dia hanya tersenyum sambil berkata „nggak repot kok, kan dimakan bareng-bareng,“.
Annissa juga cepat dekat denganku. Umurnya empat tahun, saat ini masih di Kindergarten. Bahasa Jermannya jauh lebih jago dari pada aku yang masih tersendat-sendat kalau bicara. Kegiatanku tiap pagi: mengantar Annissa ke Kindergarten.
Namanya mas Fathan, saat ini sedang mengambil doktoran di Freie Universität Berlin. Katanya, tak kurang dua tahun yang lalu beliau menyelesaikan studi diplomnya di jurusan Elektrotechnik. Jadi namanya sekarang adalah Dipl.-Ing. Fathan Wibowo. Mbak Mawaddah tinggal satu semester lagi menyelesaikan program masternya. Hebatnya, mereka berdua tidak kesulitan mengatur waktu untuk mengurus Annissa dan Faisal.
„Yaa, Bintang sudah dapat apartemen yah, Mas? Jadi sepi deh sekarang,“ kata mbak Mawaddah kecewa.
Iya, mas Fathan berhasil mencarikan aku sebuah apartemen yang murah. Sedih juga sih, karena aku tidak lagi bisa mengantar Annissa ke Kindergarten atau bermain-main dengan si kecil Faisal.
Namanya mas Fathan, aku begitu merindukan saat-saat bersama keluarga muda itu. Namun walau begitu, mas Fathan sering datang berkunjung ke apartemenku membawa makanan-makanan kecil buatan mbak Mawaddah.
„Saya tahu, Bintang sedang sibuk Studkol. Mahasiswa kayak Bintang kan males masak,“ katanya. Aku hanya cengar-cengir saja mendengarnya. „Nih, saya disuruh Mawaddah mengantarkan pempek laksan. Hasil eksperimen dia katanya,“.
Namanya mas Fathan, yang selalu tersenyum dan menjabat tanganku erat ketika bertemu. Melihat mas Fathan, aku serasa menjadi semangat ibadah. Habis, tiap maghrib dia selalu menyempatkan ke masjid. Tiap di U-Bahn, dia suka membaca Al-Qur’an. Tiap berbicara, kata-katanya tak jauh dari soal Islam. Koleksi buku-buku di rumahnya pun adalah buku-buku Islam. „Bintang suka baca novel?“ tanyanya. Aku mengangguk. „Saya suka sekali novel-novel Agatha Christi, Dee Supernova, atau Dan Brown,“ jawabku. „Wah, saya juga senang dengan novel-novel itu! Hmm, pernah baca novel yang kayak gini?“ lanjutnya. Aku melihat novel itu yang tak lain tak bukan adalah novel islami.
Namanya mas Fathan, yang berperan dalam proses sosialisasiku di Berlin. Aku tidak mengenal siapa-siapa ketika pertama kali di sini, lalu beliau mengajakku ke masjid Al-Falah, sebuah masjid Indonesia di Berlin, dan memperkenalkanku kepada komunitas muslim di kota ini. Di sini, aku menemukan ikatan ukhuwwah yang benar-benar erat satu sama lain. Aku baru menyadari manisnya islam justru di sini. Ya, di sini, di negara yang bukan mayoritas muslim!
Namanya mas Fathan, aku kenal benar dengan kehidupan ekonomi keluarganya yang cukup sederhana. Namanya juga mahasiswa, mas Fathan harus menghidupi istri dan dua orang anaknya. Walaupun dia dapat gaji dari Universitas, tapi dia juga harus melakukan kerja tambahan untuk dapat survive di sini. Aku melihat sosok mas Fathan yang bertanggungjawab, ulet, dan dapat membagi waktu dengan baik. Suatu ketika mas Fathan datang ke apartemenku bersama Faisal yang kini sudah bisa berjalan. Ia membawa sebuah ransel biru muda untuk membawa laptop.
„Apa ini, mas?“ tanyaku keheranan.
„Hadiah untuk Bintang yang sudah lulus Studkol dan masuk Uni,“ katanya sambil tersenyum. „Saya beli di Ebay kok. Murah. Kan Bintang belum punya tas laptop. Nanti di Uni, para mahasiswa sering membawa laptopnya ke kampus.“ Lanjutnya. Aku terharu atas hadiah insidental dari mas Fathan ini. Aku sadar, mas Fathan seharusnya menyimpan uangnya untuk dibelikan hal lain yang lebih penting seperti susu untuk Faisal atau lainnya, bukan untuk ransel ini. Mas Fathan benar-benar menganggap istimewa diriku, sehingga ia memberikanku sebuah hadiah.
„Terima kasih banyak, mas. Oh ya, gara-gara novel islami yang mas Fathan pinjamkan ke saya, sekarang saya jadi senang menulis lho. Hehehehe,“ kataku.
„Oh ya? Wah, saya mau baca dong! Masukin dong ke USB-Stick saya!“ katanya bersemangat.
Namanya mas Fathan, tiba-tiba bertemuku di depan Deutsche Bank.
„Wah, lagi nabung yah, Bintang?“ tanyanya.
„Eh, nggak kok mas,“ jawabku singkat sambil memandangi kertas Kontoauszug. Pasalnya, ayahku belum mengirimi aku uang untuk membayar Semesterticket di Uni, padahal pembayaran terakhir adalah lusa.
„Kok, murung, Bintang? Ada apa?“ tanyanya.
„Mmmm, nggak ada apa-apa kok, mas. Saya sedang menunggu kiriman uang dari ayah untuk membayar Semesterticket, tapi sampai sekarang uangnya belum datang,“jawabku.
Segera mas Fathan menarik tanganku menuju mesin ATM. „Berapa yang kamu butuhkan?“ tanyanya.
„Nggak usah mas, nggak usah, nanti saya telepon ayah saja,“
„Bintang, saya ini saudaramu. Saya ingin menjadi orang pertama yang membantu saudaranya. Bintang boleh menggantinya kapan saja. Berikan saya kesempatan menolong saudara yang saya cintai ya,“ katanya.
Ah mas Fathan, terharu aku saat itu.
„Tapi mas, mas sudah terlalu banyak membantu saya. Saya tahu mas juga punya keluarga. Saya nggak tahu gimana cara membalas kebaikan mas Fathan,“ kataku bergetar sambil menahan air mata yang sudah ingin mengalir.
Mas Fathan – kakakku – hanya tersenyum. „Belajar yang rajin, dan tunjukkan Bintang berhasil sekolah di sini, maka saya akan senang,“ katanya.
Namanya mas Fathan, suatu ketika aku dapat surat dari Indonesia. Tepatnya dari sebuah majalah islam yang terbit di sana. Isinya mengucapkan terimakasih atas cerpen-cerpen yang dikirimkan ke mereka. Mereka telah mengirimkan royaltinya ke rekeningku, dan meminta aku untuk mengirimkan cerpenku lagi. Aku segera ke bank, dan benar saja, sejumlah uang yang tidak sedikit masuk ke rekeningku. Aku bersyukur karena uang itu bisa memenuhi kebutuhanku selama sebulan.
Lantas aku menelepon pihak majalah untuk bertanya siapa yang mengirimkan naskah cerpen-cerpenku itu, karena aku tidak pernah mengirimnya. Kata mereka, dari seseorang bernama Fathan Wibowo.
Sudah dua minggu ini aku tidak bertemu mas Fathan. Ia juga sudah jarang ke masjid ketika shalat Maghrib. Aku langsung bertanya-tanya, apakah dia sakit, atau Annissa dan Faisal yang sakit. Kuputuskan untuk segera ke rumahnya.
Namanya mas Fathan, berseri-seri menyambut kehadiranku di rumahnya.
„Apa kabar?“ sapa mbak Mawaddah dibalik jilbabnya sambil menyuapi Faisal.
„Alhamdulillah baik. Mas Fathan dan mbak Mawaddah apa kabar? Kok jarang keliatan dua minggu ini? Saya kira sakit,“ tanyaku.
„Kami baik-baik saja kok,“jawab mas Fathan lalu mempersilahkan aku duduk.
„Mas, terimakasih yah telah mengirimkan cerpen-cerpenku,“ kataku.
„Oh? Sudah terbit ya? alhamdulillah, maaf yah Bintang saya lancang tidak memberi tahu dulu,“ jawabnya.
Aku melihat sekeliling, rumah mas Fathan tampak beda sekarang. Ya! tampak beda! Beberapa barang-barang di rumah itu sudah disimpan di dalam kardus.
„Lho, mas Fathan mau pindahan ya?“ tanyaku. Ia terdiam, sebelum sesaat kemudian berkata.
„Saya sekeluarga akan pulang habis ke Indonesia minggu depan,“
Bagaikan ditimpa sebongkah batu besar, aku membisu mendengar jawaban dari mas Fathan. Semua persaan bercampur. Kaget, kecewa, dan penuh tanya.
„Pulang habis? Ke Indonesia? Minggu depan? Kenapa mas? Kenapa?“ tanyaku meronta-ronta seperti anak kecil.
„Izin perpanjangan visa saya entah mengapa ditolak. Jerman menyuruh kami pulang, Ausländerbehörde tidak memberikan izin tinggal lagi. Saya harus menghentikan program doktoran saya, tapi tidak mengapa, toh gelar Diplom-Ing sudah saya dapatkan. Mawaddah juga sudah selesai dengan kuliahnya. Jadi, kita pulang for good,“
Wajahku memerah padam. Aku kecewa.
„Saya kecewa, mas. Mas Fathan sendiri yang bilang saya adalah saudara mas. Tapi kenapa saya tidak diberitahu tentang hal ini. Mas sendiri yang bilang, jadilah orang pertama untuk membantu saudaranya, tapi kenapa saya tidak dibiarkan melakukan hal itu, mas? Saya tahu, saya tidak bisa berbuat apa-apa dalam urusan visa, tapi paling tidak, saya bisa membantu mas dengan doa,“ kataku dengan air mata yang tak lagi terbendung.
Hening seketika pada sore di rumah itu.
„Maafkan saya Bintang. Saya salah. Ada alasan mengapa saya tidak ingin memberitahu Bintang. Bintang baru satu semester di Universitas, perjalanan Bintang masih panjang. Saya tidak mau Bintang menjadi jatuh semangat mendengar kabar ini. Ausländerbehörde tidak bisa ditebak. Jika mereka menyuruh kita pulang, maka kita pulang tanpa harus tahu alasannya. Saya ingin Bintang tetap optimis menuntut ilmu di sini. Itulah mengapa saya tidak ingin memberitahu Bintang,“
Aku pulang, lebih baik aku mendinginkan diri dulu setelah mendengar kabar ini.
Namanya mas Fathan, satu Berlin juga heboh mendengar berita kepulangan keluarga mas Fathan yang mendadak. Mereka juga merasa kehilangan sosok keluarga itu. Siapa yang tidak kenal mas Fathan dibalik kesolehan dan kesupelannya. Kini takdir memisahkan kita, secepat ini.
Bandara Tegel, tempat pertama aku bertemu dengannya, tempat mas Fathan menjemputku, kini juga tempatku mengantar mas Fathan. Kulihat orang-orang yang mengantar kepulangannya seperti ingin berlama-lama memeluk dan mengucapkan salam perpisahan dengannya. Tak lama, matanya menuju ke arahku, dan menghampiriku.
„Bintang, jangan khawatir, kalau Bintang liburan ke Indonesia, pasti Bintang bertemu kami lagi. Saya ingin berpesan kepada Bintang, berjanjilah untuk membawa kesuksesan dalam studi Bintang. Jangan sekali-kali Bintang jauh dari Allah, karena Dia-lah tempat kita menggantung segala urusan kita. Tugas Bintang di sini adalah belajar. Maksimalkan belajar Bintang dan serahkan setelahnya kepada Allah. Insya Allah, Bintang akan berhasil. Semangat ya!“ katanya ceria.
Namanya mas Fathan, sebentuk pelajaran telah banyak saya dapatkan selama saya mengenalnya. Doakan saya berhasil di sini, mas!
Berlin, 21 Mei 2006
Mushab Syuhada.
Daftar Istilah:
1. Wohnung: Tempat tinggal
2. Kindergarten: Taman Kanak-kanak
3. Studkol: Studienkolleg, sekolah kelas 13 - prauniversitas
4. Uni: Universität, Universitas
5. Kontoauszug: Kertas keadaan rekening bank
6. Semesterticket: Tiket transportasi untuk satu semester
7. Ausländerbehörde: Instansi pemerintah keimigrasian
Namanya mas Fathan, umurnya sepuluh tahun lebih tua dariku. Aku berkenalan dengannya ketika pertama kali menginjakan kaki di Jerman, dua tahun yang lalu.
„Ini yang namanya Bintang, ya?“ tanyanya dengan mata yang menyipit akibat senyumnya yang manis. „Saya Fathan.“
Pertemuan pertama di bandara Tegel, Berlin. Kala itu mas Fathan yang membawa koperku yang super berat.
„Ini istri saya, Mawaddah. Kalau yang ini Annissa. Ayo, Annissa, salam sama om Bintang,“ ucapnya memperkenalkan keluarganya.
„Kalau yang di kereta bayi itu... anak mas Fathan juga?“ tanyaku membalas.
„Masa anak orang sih. Kan yang ngedorong keretanya istri saya. Namanya Faisal, baru lima bulan,“ jawabnya hangat. Mbak Mawaddah hanya tersipu-sipu mendengar pertanyaan basa-basiku. „Selamat datang di Jerman, di sini tempat perjuangan Bintang.“
Namanya mas Fathan, yang meminta aku menganggap keluarganya seperti keluargaku sendiri. Mas Fathan adalah teman SMA om Jeffri – adiknya ayah yang tinggal di Cirebon. Jadi jangan heran, kalau ayah menitipkan aku padanya.
„Bintang, sampai kamu dapat rumah, tinggal dulu bersama kami. Wohnung kami tidak begitu besar, tapi nyaman kok. Anggap saja rumah sendiri. Saya sedang mengusahakan sebuah apartemen untuk Bintang di daerah Wedding,“ katanya.
Baru sehari aku tinggal bersama mereka, aku sudah merasa betah. Mbak Mawaddah hobby masak. Tiap saat ada yang keluar dari dapur. „Sudah mbak, nggak usah repot-repot. Baru satu jam yang lalu disuguhin risol, martabaknya nanti malam saja,“ kataku. Dia hanya tersenyum sambil berkata „nggak repot kok, kan dimakan bareng-bareng,“.
Annissa juga cepat dekat denganku. Umurnya empat tahun, saat ini masih di Kindergarten. Bahasa Jermannya jauh lebih jago dari pada aku yang masih tersendat-sendat kalau bicara. Kegiatanku tiap pagi: mengantar Annissa ke Kindergarten.
Namanya mas Fathan, saat ini sedang mengambil doktoran di Freie Universität Berlin. Katanya, tak kurang dua tahun yang lalu beliau menyelesaikan studi diplomnya di jurusan Elektrotechnik. Jadi namanya sekarang adalah Dipl.-Ing. Fathan Wibowo. Mbak Mawaddah tinggal satu semester lagi menyelesaikan program masternya. Hebatnya, mereka berdua tidak kesulitan mengatur waktu untuk mengurus Annissa dan Faisal.
„Yaa, Bintang sudah dapat apartemen yah, Mas? Jadi sepi deh sekarang,“ kata mbak Mawaddah kecewa.
Iya, mas Fathan berhasil mencarikan aku sebuah apartemen yang murah. Sedih juga sih, karena aku tidak lagi bisa mengantar Annissa ke Kindergarten atau bermain-main dengan si kecil Faisal.
Namanya mas Fathan, aku begitu merindukan saat-saat bersama keluarga muda itu. Namun walau begitu, mas Fathan sering datang berkunjung ke apartemenku membawa makanan-makanan kecil buatan mbak Mawaddah.
„Saya tahu, Bintang sedang sibuk Studkol. Mahasiswa kayak Bintang kan males masak,“ katanya. Aku hanya cengar-cengir saja mendengarnya. „Nih, saya disuruh Mawaddah mengantarkan pempek laksan. Hasil eksperimen dia katanya,“.
Namanya mas Fathan, yang selalu tersenyum dan menjabat tanganku erat ketika bertemu. Melihat mas Fathan, aku serasa menjadi semangat ibadah. Habis, tiap maghrib dia selalu menyempatkan ke masjid. Tiap di U-Bahn, dia suka membaca Al-Qur’an. Tiap berbicara, kata-katanya tak jauh dari soal Islam. Koleksi buku-buku di rumahnya pun adalah buku-buku Islam. „Bintang suka baca novel?“ tanyanya. Aku mengangguk. „Saya suka sekali novel-novel Agatha Christi, Dee Supernova, atau Dan Brown,“ jawabku. „Wah, saya juga senang dengan novel-novel itu! Hmm, pernah baca novel yang kayak gini?“ lanjutnya. Aku melihat novel itu yang tak lain tak bukan adalah novel islami.
Namanya mas Fathan, yang berperan dalam proses sosialisasiku di Berlin. Aku tidak mengenal siapa-siapa ketika pertama kali di sini, lalu beliau mengajakku ke masjid Al-Falah, sebuah masjid Indonesia di Berlin, dan memperkenalkanku kepada komunitas muslim di kota ini. Di sini, aku menemukan ikatan ukhuwwah yang benar-benar erat satu sama lain. Aku baru menyadari manisnya islam justru di sini. Ya, di sini, di negara yang bukan mayoritas muslim!
Namanya mas Fathan, aku kenal benar dengan kehidupan ekonomi keluarganya yang cukup sederhana. Namanya juga mahasiswa, mas Fathan harus menghidupi istri dan dua orang anaknya. Walaupun dia dapat gaji dari Universitas, tapi dia juga harus melakukan kerja tambahan untuk dapat survive di sini. Aku melihat sosok mas Fathan yang bertanggungjawab, ulet, dan dapat membagi waktu dengan baik. Suatu ketika mas Fathan datang ke apartemenku bersama Faisal yang kini sudah bisa berjalan. Ia membawa sebuah ransel biru muda untuk membawa laptop.
„Apa ini, mas?“ tanyaku keheranan.
„Hadiah untuk Bintang yang sudah lulus Studkol dan masuk Uni,“ katanya sambil tersenyum. „Saya beli di Ebay kok. Murah. Kan Bintang belum punya tas laptop. Nanti di Uni, para mahasiswa sering membawa laptopnya ke kampus.“ Lanjutnya. Aku terharu atas hadiah insidental dari mas Fathan ini. Aku sadar, mas Fathan seharusnya menyimpan uangnya untuk dibelikan hal lain yang lebih penting seperti susu untuk Faisal atau lainnya, bukan untuk ransel ini. Mas Fathan benar-benar menganggap istimewa diriku, sehingga ia memberikanku sebuah hadiah.
„Terima kasih banyak, mas. Oh ya, gara-gara novel islami yang mas Fathan pinjamkan ke saya, sekarang saya jadi senang menulis lho. Hehehehe,“ kataku.
„Oh ya? Wah, saya mau baca dong! Masukin dong ke USB-Stick saya!“ katanya bersemangat.
Namanya mas Fathan, tiba-tiba bertemuku di depan Deutsche Bank.
„Wah, lagi nabung yah, Bintang?“ tanyanya.
„Eh, nggak kok mas,“ jawabku singkat sambil memandangi kertas Kontoauszug. Pasalnya, ayahku belum mengirimi aku uang untuk membayar Semesterticket di Uni, padahal pembayaran terakhir adalah lusa.
„Kok, murung, Bintang? Ada apa?“ tanyanya.
„Mmmm, nggak ada apa-apa kok, mas. Saya sedang menunggu kiriman uang dari ayah untuk membayar Semesterticket, tapi sampai sekarang uangnya belum datang,“jawabku.
Segera mas Fathan menarik tanganku menuju mesin ATM. „Berapa yang kamu butuhkan?“ tanyanya.
„Nggak usah mas, nggak usah, nanti saya telepon ayah saja,“
„Bintang, saya ini saudaramu. Saya ingin menjadi orang pertama yang membantu saudaranya. Bintang boleh menggantinya kapan saja. Berikan saya kesempatan menolong saudara yang saya cintai ya,“ katanya.
Ah mas Fathan, terharu aku saat itu.
„Tapi mas, mas sudah terlalu banyak membantu saya. Saya tahu mas juga punya keluarga. Saya nggak tahu gimana cara membalas kebaikan mas Fathan,“ kataku bergetar sambil menahan air mata yang sudah ingin mengalir.
Mas Fathan – kakakku – hanya tersenyum. „Belajar yang rajin, dan tunjukkan Bintang berhasil sekolah di sini, maka saya akan senang,“ katanya.
Namanya mas Fathan, suatu ketika aku dapat surat dari Indonesia. Tepatnya dari sebuah majalah islam yang terbit di sana. Isinya mengucapkan terimakasih atas cerpen-cerpen yang dikirimkan ke mereka. Mereka telah mengirimkan royaltinya ke rekeningku, dan meminta aku untuk mengirimkan cerpenku lagi. Aku segera ke bank, dan benar saja, sejumlah uang yang tidak sedikit masuk ke rekeningku. Aku bersyukur karena uang itu bisa memenuhi kebutuhanku selama sebulan.
Lantas aku menelepon pihak majalah untuk bertanya siapa yang mengirimkan naskah cerpen-cerpenku itu, karena aku tidak pernah mengirimnya. Kata mereka, dari seseorang bernama Fathan Wibowo.
Sudah dua minggu ini aku tidak bertemu mas Fathan. Ia juga sudah jarang ke masjid ketika shalat Maghrib. Aku langsung bertanya-tanya, apakah dia sakit, atau Annissa dan Faisal yang sakit. Kuputuskan untuk segera ke rumahnya.
Namanya mas Fathan, berseri-seri menyambut kehadiranku di rumahnya.
„Apa kabar?“ sapa mbak Mawaddah dibalik jilbabnya sambil menyuapi Faisal.
„Alhamdulillah baik. Mas Fathan dan mbak Mawaddah apa kabar? Kok jarang keliatan dua minggu ini? Saya kira sakit,“ tanyaku.
„Kami baik-baik saja kok,“jawab mas Fathan lalu mempersilahkan aku duduk.
„Mas, terimakasih yah telah mengirimkan cerpen-cerpenku,“ kataku.
„Oh? Sudah terbit ya? alhamdulillah, maaf yah Bintang saya lancang tidak memberi tahu dulu,“ jawabnya.
Aku melihat sekeliling, rumah mas Fathan tampak beda sekarang. Ya! tampak beda! Beberapa barang-barang di rumah itu sudah disimpan di dalam kardus.
„Lho, mas Fathan mau pindahan ya?“ tanyaku. Ia terdiam, sebelum sesaat kemudian berkata.
„Saya sekeluarga akan pulang habis ke Indonesia minggu depan,“
Bagaikan ditimpa sebongkah batu besar, aku membisu mendengar jawaban dari mas Fathan. Semua persaan bercampur. Kaget, kecewa, dan penuh tanya.
„Pulang habis? Ke Indonesia? Minggu depan? Kenapa mas? Kenapa?“ tanyaku meronta-ronta seperti anak kecil.
„Izin perpanjangan visa saya entah mengapa ditolak. Jerman menyuruh kami pulang, Ausländerbehörde tidak memberikan izin tinggal lagi. Saya harus menghentikan program doktoran saya, tapi tidak mengapa, toh gelar Diplom-Ing sudah saya dapatkan. Mawaddah juga sudah selesai dengan kuliahnya. Jadi, kita pulang for good,“
Wajahku memerah padam. Aku kecewa.
„Saya kecewa, mas. Mas Fathan sendiri yang bilang saya adalah saudara mas. Tapi kenapa saya tidak diberitahu tentang hal ini. Mas sendiri yang bilang, jadilah orang pertama untuk membantu saudaranya, tapi kenapa saya tidak dibiarkan melakukan hal itu, mas? Saya tahu, saya tidak bisa berbuat apa-apa dalam urusan visa, tapi paling tidak, saya bisa membantu mas dengan doa,“ kataku dengan air mata yang tak lagi terbendung.
Hening seketika pada sore di rumah itu.
„Maafkan saya Bintang. Saya salah. Ada alasan mengapa saya tidak ingin memberitahu Bintang. Bintang baru satu semester di Universitas, perjalanan Bintang masih panjang. Saya tidak mau Bintang menjadi jatuh semangat mendengar kabar ini. Ausländerbehörde tidak bisa ditebak. Jika mereka menyuruh kita pulang, maka kita pulang tanpa harus tahu alasannya. Saya ingin Bintang tetap optimis menuntut ilmu di sini. Itulah mengapa saya tidak ingin memberitahu Bintang,“
Aku pulang, lebih baik aku mendinginkan diri dulu setelah mendengar kabar ini.
Namanya mas Fathan, satu Berlin juga heboh mendengar berita kepulangan keluarga mas Fathan yang mendadak. Mereka juga merasa kehilangan sosok keluarga itu. Siapa yang tidak kenal mas Fathan dibalik kesolehan dan kesupelannya. Kini takdir memisahkan kita, secepat ini.
Bandara Tegel, tempat pertama aku bertemu dengannya, tempat mas Fathan menjemputku, kini juga tempatku mengantar mas Fathan. Kulihat orang-orang yang mengantar kepulangannya seperti ingin berlama-lama memeluk dan mengucapkan salam perpisahan dengannya. Tak lama, matanya menuju ke arahku, dan menghampiriku.
„Bintang, jangan khawatir, kalau Bintang liburan ke Indonesia, pasti Bintang bertemu kami lagi. Saya ingin berpesan kepada Bintang, berjanjilah untuk membawa kesuksesan dalam studi Bintang. Jangan sekali-kali Bintang jauh dari Allah, karena Dia-lah tempat kita menggantung segala urusan kita. Tugas Bintang di sini adalah belajar. Maksimalkan belajar Bintang dan serahkan setelahnya kepada Allah. Insya Allah, Bintang akan berhasil. Semangat ya!“ katanya ceria.
Namanya mas Fathan, sebentuk pelajaran telah banyak saya dapatkan selama saya mengenalnya. Doakan saya berhasil di sini, mas!
Berlin, 21 Mei 2006
Mushab Syuhada.
Daftar Istilah:
1. Wohnung: Tempat tinggal
2. Kindergarten: Taman Kanak-kanak
3. Studkol: Studienkolleg, sekolah kelas 13 - prauniversitas
4. Uni: Universität, Universitas
5. Kontoauszug: Kertas keadaan rekening bank
6. Semesterticket: Tiket transportasi untuk satu semester
7. Ausländerbehörde: Instansi pemerintah keimigrasian
Subscribe to:
Posts (Atom)
