Sunday, August 06, 2006

Telur Tomat Ikan

Kategori: Resep

Bahan-bahan:
1 kaleng ikan sarden (boleh apa aja asal bukan tuna)
250 gram pasta tomat
5 butir telur ayam
1 buah bawang bombay
4 siung bawang putih
½ sendok teh lada
1 sendok teh garam
1 sendok teh gula
½ gelas air
1 sendok teh saus tiram
4 buah cabe rawit

Cara membuat:
Iris bawang bombay, bawang putih dan cabe rawit hingga harum, masukan ikan kalengan dan tumis sebentar.
Masukan pasta tomat dan air, beri garam, gula, lada dan saus tiram, masak hingga pasta tomat mendidih.
Masukan telur, biarkan matang dengan sendirinya (tidak perlu diaduk), siap disajikan.

Lama persiapan dan memasak: 25 menit
Nilai: Sangat praktis
Porsi 5 orang

Sayur Lodeh Bujang

Kategori: Resep

Bahan-bahan:
125 ml santan
2 sendok makan Koriander (ketumbar) bubuk
1 buah bawang bombay
5 siung bawang putih
2 butir kemiri, hancurkan
2 sendok teh garam
1 sendok makan gula
1 sendok teh lada
1 buah Kohlrabi (labusiam) potong-potong dadu
300 g daging sapi, potong-potong kecil
Sayur mayur (bisa dibeli di supermarket yang sudah menjadi satu agar praktis)
1 buah tahu, potong-potong dadu
1 gelas air

Cara membuat:
Tumis bawang bombay, bawang putih, lada, dan kemiri. Masukan daging, masak hingga daging setengah matang.
Masukan ketumbar, tumis sebentar, dan segera tuangkan santan. Masak hingga santan mendidih.
Tambahkan air, masak hingga mendidih. Masukan gula dan garam, serta tahu, labusiam, dan sayur mayur. Masak hingga mendidih dan daging matang.

Lama persiapan dan memasak: 30 menit
Nilai: Praktis
Porsi 4 orang

Perkedel Tahu

Kategori: Resep

Kali ini saya ingin berbagi-bagi pengalaman memasak. Khusus untuk bujang, terutama yang sedang menuntut ilmu di Jerman. Resep ini disesuaikan dengan bahan-bahan yang tersedia di sini, dan juga dengan kesibukan kita sebagai mahasiswa yang ingin menjaga gizi, makan enak, tapi juga praktis. Yang jelas, khusus untuk bujang lho :-).




Bahan-bahan:
1 buah tahu
2 atau 3 butir telur ayam
6 sendok makan tepung terigu
2 sendok teh garam
1 sendok teh lada
1 sendok teh gula
1 sendok teh bawang putih bubuk
1 butir bawang bombay, potong kecil-kecil
½ kaleng jagung manis
1 buah daun bawang
1 buah wortel, potong berbentuk korek api
Minyak untuk menumis

Cara membuat:
Hancurkan tahu, campur dengan telur ayam, tepung terigu. Masukan jagung, wortel, bawang bombay, daun bawang.
Tambahkan gula, garam, lada dan bawang putih bubuk. Aduk-aduk hingga merata.
Panaskan minyak, goreng perkedel tahu yang sudah dibentuk bulat-bulat.

Lama persiapan dan memasak: 20 menit
Nilai: Sangat praktis
Porsi: 6 orang

Monday, July 10, 2006

Reportase WM

Kategori: Artikel





Satu bulan sudah Jerman menjadi tuan rumah FIFA Piala Dunia 2006. Seperti halnya di berbagai penjuru dunia lainnya, di Jerman pun demam Piala Dunia (yang untuk selanjutnya disingkat WM, Weltmasterschaft) begitu terasa. Di kota tempat saya tinggal, Berlin, demam WM sudah muncul sejak jauh-jauh hari. Kota Berlin mempercantik diri dengan atribut-atribut WM. Tidak heran, kota ini akan menjadi pusat dunia pada tanggal 9 Juli ketika partai final ajang sepakbola terbesar empat tahunan itu digelar.

Tak terkecuali saya, saya sempat mencari-cari pekerjaan untuk WM ini. Waktu itu sempat mendaftar menjadi staff ticketing, dan sempat juga mendapat panggilan wawancara, tapi ternyata panggilan itu tidak kunjung-kunjung datang sampai sekarang. Masih belum rejeki mungkin. Tapi ada baiknya juga, karena ternyata WM itu tidak kompromi dengan waktu kuliah. Dengan kata lain, walaupun WM, kuliah tetap jalan, bahkan dalam musim ujian!

Dengan diadakannya WM pada waktu aktif kuliah, maka konsentrasi kuliah saya pun sedikit terganggu. Bisa jadi bukan hanya saya, tapi juga seisi kampus. Contohnya, waktu di kampus sedang asik-asik belajar, tiba-tiba ada suara teriak „Tooorrrrr!!!“ dari ruangan sebelah. Oh, ternyata para Tutor dan Wissenschaftliche Arbeiter sedang nonton bola bareng. Atau Tutor mata kuliah Physikalische Chemie saya, yang notabene juga anak kuliahan, memperpendek waktu tutorium kami karena mau nonton bola. Di antara mahasiwa pun demikian, kalau kita tidak tahu bagaimana hasil pertandingan tadi malam, maka akan bingung ketika diajak ngobrol oleh mahasiswa lain esok paginya. Satu mata kuliah yaitu Konstruktion und Werkstoffe mengharuskan kerja kelompok secara intensif. Kelompok kami yang hanya bertiga, semuanya demam WM. Jadi jadual mengerjakan tugas diatur sedemikian rupa supaya tidak bentrok dengan jadual WM.

Contoh percakapan kami:
Saya: „Wir müssen die Hausaufgabe am Donnerstag abgeben! So, wir sollen uns am Dienstag treffen. Wie findet ihr?“
Si M: „Am Dienstag?? Es ist doch Deutschland gegen Argentinien!“
Si A: „Das kann nicht sein, das kann nicht sein! Lieber am Wochenende treffen!“

Oalah.

Pusat kota Berlin dari Brandenburger Tor sampai Siegesäule pun disulap menjadi Fanmeile, atau tempat nonton bersama untuk penduduk di kota itu. Ada enam monitor raksasa berdiri di sana. Tercatat bisa sampai 500.000 orang datang bersama ke sana pada sebuah pertandingan. Karena tidak suka keramaian, saya jarang ke sana. Mungkin hanya tiga kali sepanjang WM. Saya lebih suka nonton di rumah, atau bertandang ke rumah teman untuk nonton bersama. Menonton di stadion? Sayangnya tidak. Untuk tempat duduk yang paling belakang dan paling atas, harga tiketnya mencapai 30 €, untuk final malah lebih mahal, mencapai 100 € untuk tempat duduk dimana kita tidak bisa melihat pemain-pemainnya saking jauhnya. Mending untuk hal yang lain, ya nggak?

Setiap orang punya gaya sendiri untuk meluapkan emosinya melalui bentuk-bentuk ekspresi ketika menonton bola. Kalau saya, adalah gerak refleks tangan atau kaki ketika geregetan melihat seorang pemain ketika tim yang saya jagokan tidak juga berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan. Begitu pula ketika WM kali ini, saya sempat mengambil beberapa peristiwa dari gegap gempitanya penyelenggaraan WM, bisa dilihat di foto galeri.

WM kini sudah usai, saatnya kembali konsentrasi menghadapi ujian semester. Secara keseluruhan saya agak kecewa pada WM kali ini, karena tim-tim yang saya jagokan tumbang satu persatu. 

Respekt untuk Italia yang menjadi Weltmeister kali ini.

Sunday, June 18, 2006

Sekat dan Suara Langit

Kategori: Cerpen

„Kamu bermuka dua!“ teriakan dari langit itu menggelegar. Sayup-sayup terdengar lagi, „Bagaimana mungkin kamu bisa bertindak seperti itu?“
Ah, hanya saja dulu aku tidak tahu ayat itu, hanya saja dulu aku tidak sadar bahwa maut bisa merenggut kapan saja tanpa kompromi, mungkin aku bisa seperti mereka, berjingkrak, bersorak, hore.

Jiwa yang terbelenggu, tersekat-sekat. „Boleh kah aku menggadaikan kata istiqomah sebentar saja? Aku ingin menghirup masa mudaku sebebas-bebasnya. Lepas!“
„Laaaaa!“ teriak suara langit itu lagi. „Tidak ada yang memaksamu untuk istiqomah. Silahkan cari jalan lain sesukamu. Namun tidak ada yang dapat menjamin kamu akan kembali lagi ke jalan ini!“

Aku menghela nafas yang berat. „Fa alhamahaa fujurohaa wataqwaahaa“. Allah telah bersumpah! Bahkan sumpahnya kali ini lebih hebat dari sumpahnya yang lain. Atas nama matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringnya, dan siang apabila menampakannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, serta merta sumpah Allah, bahwa jiwa itu diilhamkan kefasikan dan ketakwaannya.

„Lumrahkah itu wahai suara yang menggelegar?“ tanyaku lagi. Namun sang suara tak lagi menggumamkan nyaringnya. Hening. Wahai jiwa, kau memberi tantangan pada keistiqomahan atas sifatmu yang bisa takwa dan bisa fasik!

***

Terbelalak aku di balik lautan orang-orang berwarna-warni dan berbau keringat. „Ole! Ole! Ole! Brasiiiiilllieennnnnn!“. Mengadah aku, dan gelap sudah menggarap langit-langit.
„Ya Allah! Aku belum shalat maghrib!“ Mengapa waktu maghrib pukul setengah sepuluh malam? Di saat pertandingan Brasil melawan Kroasia pukul sembilan malam. Tak mungkin aku menunggu setengah jam di rumah untuk shalat maghrib, lalu berangkat menonton acara piala dunia di tengah kota. Bisa-bisa 45 menit pertama sudah lewat. Lalu, sekarang sudah pukul sebelas, sebentar lagi maghrib habis. Di mana aku bisa mendirikan shalat?, padahal semua jengkal tanah telah direservasi lautan manusia yang sedang berteriak-teriak. Tak mungkin aku shalat di sini. Ini Berlin saudara-saudara!, pastilah orang akan menganggapku teroris jika beribadah di tengah mereka!

„Hayya’lasholaaaaaa“ suara itu datang lagi menyelip dari gelap langit yang semakin memekat. „Di mana?“ tanyaku beremosi. „Yang lain pun tidak shalat! Yang lain pun bergembira!“. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Aku ingin dugem, dulalip atau apalah namanya, minum alkohol, pesta pora tralala, itu kan yang semestinya dilakukan orang-orang seumuranku?

Tiba-tiba hujan, pun tak menghentikan gempita malam itu. Menit berjalan, mempertaruhkan waktu maghribku, eksistensi islamku. Ah, islam kah aku? Royal sudah kah aku terhadap agamaku?

„Memang sulit menjaga keistiqomahan terutama di tempat yang bukan mayoritas islam seperti di sini. Tapi jika kamu mampu menjaga istiqomahmu, insya Allah, islam yang kaafah yang akan kamu renggut,“ kata suara ustadz yang kutemui setahun yang lalu.

Teringat aku dengan David, Martin, Patrick, Bettina, Aletta, Marielle... Ketika hidayah datang kepada mereka, bukan kesurutan iman yang mereka temui, tapi malah semakin menjadi. Pernah ku lihat Martin berdoa dengan khusyuk sekali, mengadahkan kedua tangannya, memejamkan matanya, seolah menyerahkan semua yang dia punya, dan hatinya bergumam berkata kepada Allah. Si pirang bermata biru itu selalu merasa sejuk kala menghadap Tuhannya. Atau Aletta, si bule berkacamata yang tetap dengan kain panjang menutup kepalanya dan baju lengan panjangnya, di saat teman-temannya yang lain ber-tanktop dan bercelana pendek di musim yang super panas saat ini, atau di saat lingkungannya menatapnya picik menghinakan, eine Deutsche trägt ein Kopftuch?!

Maghrib akan lewat, Ya Allah, aku menghadap Mu sekarang, ampuni aku ya Allah! Ampuni...

***

„Wahai Muhammad, akan kuberikan apapun yang kamu minta, uang, harta, pangkat, wanita, asalkan kamu berhenti dari dakwahmu!“
„Walapun matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti pada jalan ini!“

Andai matahari di tangan kananku tak kan sanggup mengubah yakinku
Terpatri dan tak kan terbeli dalam lubuk hati
Bilakah rembulan di tangan kiriku, tak kan sanggup mengganti imanku
Jiwa dan raga ini apapun adanya
Andaikan seribu siksaan terus melambai-lambaikan derita yang mendalam
Seujung rambutpun aku tak kan bimbang
Jalan ini yang kutempuh
Bilakah ajal kan menjelang jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan
Cintaku hanya untukMu
Tetapkan muslimku selalu
(Harris Syafik – Keimanan)

***

Berlin, 18 Juni 2006
Untuk seorang adik yang akan pulang habis ke Indonesia.

Monday, May 22, 2006

Setitik Embun Mas Fathan

Kategori: Cerpen

Namanya mas Fathan, umurnya sepuluh tahun lebih tua dariku. Aku berkenalan dengannya ketika pertama kali menginjakan kaki di Jerman, dua tahun yang lalu.
„Ini yang namanya Bintang, ya?“ tanyanya dengan mata yang menyipit akibat senyumnya yang manis. „Saya Fathan.“
Pertemuan pertama di bandara Tegel, Berlin. Kala itu mas Fathan yang membawa koperku yang super berat.
„Ini istri saya, Mawaddah. Kalau yang ini Annissa. Ayo, Annissa, salam sama om Bintang,“ ucapnya memperkenalkan keluarganya.
„Kalau yang di kereta bayi itu... anak mas Fathan juga?“ tanyaku membalas.
„Masa anak orang sih. Kan yang ngedorong keretanya istri saya. Namanya Faisal, baru lima bulan,“ jawabnya hangat. Mbak Mawaddah hanya tersipu-sipu mendengar pertanyaan basa-basiku. „Selamat datang di Jerman, di sini tempat perjuangan Bintang.“

Namanya mas Fathan, yang meminta aku menganggap keluarganya seperti keluargaku sendiri. Mas Fathan adalah teman SMA om Jeffri – adiknya ayah yang tinggal di Cirebon. Jadi jangan heran, kalau ayah menitipkan aku padanya.
„Bintang, sampai kamu dapat rumah, tinggal dulu bersama kami. Wohnung kami tidak begitu besar, tapi nyaman kok. Anggap saja rumah sendiri. Saya sedang mengusahakan sebuah apartemen untuk Bintang di daerah Wedding,“ katanya.
Baru sehari aku tinggal bersama mereka, aku sudah merasa betah. Mbak Mawaddah hobby masak. Tiap saat ada yang keluar dari dapur. „Sudah mbak, nggak usah repot-repot. Baru satu jam yang lalu disuguhin risol, martabaknya nanti malam saja,“ kataku. Dia hanya tersenyum sambil berkata „nggak repot kok, kan dimakan bareng-bareng,“.
Annissa juga cepat dekat denganku. Umurnya empat tahun, saat ini masih di Kindergarten. Bahasa Jermannya jauh lebih jago dari pada aku yang masih tersendat-sendat kalau bicara. Kegiatanku tiap pagi: mengantar Annissa ke Kindergarten.

Namanya mas Fathan, saat ini sedang mengambil doktoran di Freie Universität Berlin. Katanya, tak kurang dua tahun yang lalu beliau menyelesaikan studi diplomnya di jurusan Elektrotechnik. Jadi namanya sekarang adalah Dipl.-Ing. Fathan Wibowo. Mbak Mawaddah tinggal satu semester lagi menyelesaikan program masternya. Hebatnya, mereka berdua tidak kesulitan mengatur waktu untuk mengurus Annissa dan Faisal.
„Yaa, Bintang sudah dapat apartemen yah, Mas? Jadi sepi deh sekarang,“ kata mbak Mawaddah kecewa.
Iya, mas Fathan berhasil mencarikan aku sebuah apartemen yang murah. Sedih juga sih, karena aku tidak lagi bisa mengantar Annissa ke Kindergarten atau bermain-main dengan si kecil Faisal.

Namanya mas Fathan, aku begitu merindukan saat-saat bersama keluarga muda itu. Namun walau begitu, mas Fathan sering datang berkunjung ke apartemenku membawa makanan-makanan kecil buatan mbak Mawaddah.
„Saya tahu, Bintang sedang sibuk Studkol. Mahasiswa kayak Bintang kan males masak,“ katanya. Aku hanya cengar-cengir saja mendengarnya. „Nih, saya disuruh Mawaddah mengantarkan pempek laksan. Hasil eksperimen dia katanya,“.

Namanya mas Fathan, yang selalu tersenyum dan menjabat tanganku erat ketika bertemu. Melihat mas Fathan, aku serasa menjadi semangat ibadah. Habis, tiap maghrib dia selalu menyempatkan ke masjid. Tiap di U-Bahn, dia suka membaca Al-Qur’an. Tiap berbicara, kata-katanya tak jauh dari soal Islam. Koleksi buku-buku di rumahnya pun adalah buku-buku Islam. „Bintang suka baca novel?“ tanyanya. Aku mengangguk. „Saya suka sekali novel-novel Agatha Christi, Dee Supernova, atau Dan Brown,“ jawabku. „Wah, saya juga senang dengan novel-novel itu! Hmm, pernah baca novel yang kayak gini?“ lanjutnya. Aku melihat novel itu yang tak lain tak bukan adalah novel islami.

Namanya mas Fathan, yang berperan dalam proses sosialisasiku di Berlin. Aku tidak mengenal siapa-siapa ketika pertama kali di sini, lalu beliau mengajakku ke masjid Al-Falah, sebuah masjid Indonesia di Berlin, dan memperkenalkanku kepada komunitas muslim di kota ini. Di sini, aku menemukan ikatan ukhuwwah yang benar-benar erat satu sama lain. Aku baru menyadari manisnya islam justru di sini. Ya, di sini, di negara yang bukan mayoritas muslim!

Namanya mas Fathan, aku kenal benar dengan kehidupan ekonomi keluarganya yang cukup sederhana. Namanya juga mahasiswa, mas Fathan harus menghidupi istri dan dua orang anaknya. Walaupun dia dapat gaji dari Universitas, tapi dia juga harus melakukan kerja tambahan untuk dapat survive di sini. Aku melihat sosok mas Fathan yang bertanggungjawab, ulet, dan dapat membagi waktu dengan baik. Suatu ketika mas Fathan datang ke apartemenku bersama Faisal yang kini sudah bisa berjalan. Ia membawa sebuah ransel biru muda untuk membawa laptop.
„Apa ini, mas?“ tanyaku keheranan.
„Hadiah untuk Bintang yang sudah lulus Studkol dan masuk Uni,“ katanya sambil tersenyum. „Saya beli di Ebay kok. Murah. Kan Bintang belum punya tas laptop. Nanti di Uni, para mahasiswa sering membawa laptopnya ke kampus.“ Lanjutnya. Aku terharu atas hadiah insidental dari mas Fathan ini. Aku sadar, mas Fathan seharusnya menyimpan uangnya untuk dibelikan hal lain yang lebih penting seperti susu untuk Faisal atau lainnya, bukan untuk ransel ini. Mas Fathan benar-benar menganggap istimewa diriku, sehingga ia memberikanku sebuah hadiah.
„Terima kasih banyak, mas. Oh ya, gara-gara novel islami yang mas Fathan pinjamkan ke saya, sekarang saya jadi senang menulis lho. Hehehehe,“ kataku.
„Oh ya? Wah, saya mau baca dong! Masukin dong ke USB-Stick saya!“ katanya bersemangat.

Namanya mas Fathan, tiba-tiba bertemuku di depan Deutsche Bank.
„Wah, lagi nabung yah, Bintang?“ tanyanya.
„Eh, nggak kok mas,“ jawabku singkat sambil memandangi kertas Kontoauszug. Pasalnya, ayahku belum mengirimi aku uang untuk membayar Semesterticket di Uni, padahal pembayaran terakhir adalah lusa.
„Kok, murung, Bintang? Ada apa?“ tanyanya.
„Mmmm, nggak ada apa-apa kok, mas. Saya sedang menunggu kiriman uang dari ayah untuk membayar Semesterticket, tapi sampai sekarang uangnya belum datang,“jawabku.
Segera mas Fathan menarik tanganku menuju mesin ATM. „Berapa yang kamu butuhkan?“ tanyanya.
„Nggak usah mas, nggak usah, nanti saya telepon ayah saja,“
„Bintang, saya ini saudaramu. Saya ingin menjadi orang pertama yang membantu saudaranya. Bintang boleh menggantinya kapan saja. Berikan saya kesempatan menolong saudara yang saya cintai ya,“ katanya.
Ah mas Fathan, terharu aku saat itu.
„Tapi mas, mas sudah terlalu banyak membantu saya. Saya tahu mas juga punya keluarga. Saya nggak tahu gimana cara membalas kebaikan mas Fathan,“ kataku bergetar sambil menahan air mata yang sudah ingin mengalir.
Mas Fathan – kakakku – hanya tersenyum. „Belajar yang rajin, dan tunjukkan Bintang berhasil sekolah di sini, maka saya akan senang,“ katanya.

Namanya mas Fathan, suatu ketika aku dapat surat dari Indonesia. Tepatnya dari sebuah majalah islam yang terbit di sana. Isinya mengucapkan terimakasih atas cerpen-cerpen yang dikirimkan ke mereka. Mereka telah mengirimkan royaltinya ke rekeningku, dan meminta aku untuk mengirimkan cerpenku lagi. Aku segera ke bank, dan benar saja, sejumlah uang yang tidak sedikit masuk ke rekeningku. Aku bersyukur karena uang itu bisa memenuhi kebutuhanku selama sebulan.
Lantas aku menelepon pihak majalah untuk bertanya siapa yang mengirimkan naskah cerpen-cerpenku itu, karena aku tidak pernah mengirimnya. Kata mereka, dari seseorang bernama Fathan Wibowo.

Sudah dua minggu ini aku tidak bertemu mas Fathan. Ia juga sudah jarang ke masjid ketika shalat Maghrib. Aku langsung bertanya-tanya, apakah dia sakit, atau Annissa dan Faisal yang sakit. Kuputuskan untuk segera ke rumahnya.

Namanya mas Fathan, berseri-seri menyambut kehadiranku di rumahnya.
„Apa kabar?“ sapa mbak Mawaddah dibalik jilbabnya sambil menyuapi Faisal.
„Alhamdulillah baik. Mas Fathan dan mbak Mawaddah apa kabar? Kok jarang keliatan dua minggu ini? Saya kira sakit,“ tanyaku.
„Kami baik-baik saja kok,“jawab mas Fathan lalu mempersilahkan aku duduk.
„Mas, terimakasih yah telah mengirimkan cerpen-cerpenku,“ kataku.
„Oh? Sudah terbit ya? alhamdulillah, maaf yah Bintang saya lancang tidak memberi tahu dulu,“ jawabnya.
Aku melihat sekeliling, rumah mas Fathan tampak beda sekarang. Ya! tampak beda! Beberapa barang-barang di rumah itu sudah disimpan di dalam kardus.
„Lho, mas Fathan mau pindahan ya?“ tanyaku. Ia terdiam, sebelum sesaat kemudian berkata.
„Saya sekeluarga akan pulang habis ke Indonesia minggu depan,“
Bagaikan ditimpa sebongkah batu besar, aku membisu mendengar jawaban dari mas Fathan. Semua persaan bercampur. Kaget, kecewa, dan penuh tanya.
„Pulang habis? Ke Indonesia? Minggu depan? Kenapa mas? Kenapa?“ tanyaku meronta-ronta seperti anak kecil.
„Izin perpanjangan visa saya entah mengapa ditolak. Jerman menyuruh kami pulang, Ausländerbehörde tidak memberikan izin tinggal lagi. Saya harus menghentikan program doktoran saya, tapi tidak mengapa, toh gelar Diplom-Ing sudah saya dapatkan. Mawaddah juga sudah selesai dengan kuliahnya. Jadi, kita pulang for good,“
Wajahku memerah padam. Aku kecewa.
„Saya kecewa, mas. Mas Fathan sendiri yang bilang saya adalah saudara mas. Tapi kenapa saya tidak diberitahu tentang hal ini. Mas sendiri yang bilang, jadilah orang pertama untuk membantu saudaranya, tapi kenapa saya tidak dibiarkan melakukan hal itu, mas? Saya tahu, saya tidak bisa berbuat apa-apa dalam urusan visa, tapi paling tidak, saya bisa membantu mas dengan doa,“ kataku dengan air mata yang tak lagi terbendung.

Hening seketika pada sore di rumah itu.

„Maafkan saya Bintang. Saya salah. Ada alasan mengapa saya tidak ingin memberitahu Bintang. Bintang baru satu semester di Universitas, perjalanan Bintang masih panjang. Saya tidak mau Bintang menjadi jatuh semangat mendengar kabar ini. Ausländerbehörde tidak bisa ditebak. Jika mereka menyuruh kita pulang, maka kita pulang tanpa harus tahu alasannya. Saya ingin Bintang tetap optimis menuntut ilmu di sini. Itulah mengapa saya tidak ingin memberitahu Bintang,“

Aku pulang, lebih baik aku mendinginkan diri dulu setelah mendengar kabar ini.

Namanya mas Fathan, satu Berlin juga heboh mendengar berita kepulangan keluarga mas Fathan yang mendadak. Mereka juga merasa kehilangan sosok keluarga itu. Siapa yang tidak kenal mas Fathan dibalik kesolehan dan kesupelannya. Kini takdir memisahkan kita, secepat ini.

Bandara Tegel, tempat pertama aku bertemu dengannya, tempat mas Fathan menjemputku, kini juga tempatku mengantar mas Fathan. Kulihat orang-orang yang mengantar kepulangannya seperti ingin berlama-lama memeluk dan mengucapkan salam perpisahan dengannya. Tak lama, matanya menuju ke arahku, dan menghampiriku.

„Bintang, jangan khawatir, kalau Bintang liburan ke Indonesia, pasti Bintang bertemu kami lagi. Saya ingin berpesan kepada Bintang, berjanjilah untuk membawa kesuksesan dalam studi Bintang. Jangan sekali-kali Bintang jauh dari Allah, karena Dia-lah tempat kita menggantung segala urusan kita. Tugas Bintang di sini adalah belajar. Maksimalkan belajar Bintang dan serahkan setelahnya kepada Allah. Insya Allah, Bintang akan berhasil. Semangat ya!“ katanya ceria.
Namanya mas Fathan, sebentuk pelajaran telah banyak saya dapatkan selama saya mengenalnya. Doakan saya berhasil di sini, mas!

Berlin, 21 Mei 2006
Mushab Syuhada.

Daftar Istilah:
1. Wohnung: Tempat tinggal
2. Kindergarten: Taman Kanak-kanak
3. Studkol: Studienkolleg, sekolah kelas 13 - prauniversitas
4. Uni: Universität, Universitas
5. Kontoauszug: Kertas keadaan rekening bank
6. Semesterticket: Tiket transportasi untuk satu semester
7. Ausländerbehörde: Instansi pemerintah keimigrasian

Saturday, April 29, 2006

Cinta Karena Allah

Kategori: Artikel

Ukhuwwah
Adalah degup penuh makna
Yang mengalir membawakan cinta

Ukhuwwah fillah adalah ikatan iman yang ditegakkan atas dasar manhaj Allah yang memancar dari rasa ketaqwaan dan bermuara kepada pengendalian yang kokoh dengan tali.-Nya. Dengan ukhuwwah, hati-hati manusia terikat untuk selalu taat kepada-Nya, dan lebih mencintai-Nya.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Al-Mujtama’ Al-Islamie mengatakan bahwa ukhuwwah islamiyah dapat melahirkan al-ikhaa’ul islamie, dan tujuan terpenting daripadanya adalah persamaan hak (al-musaawah), saling membantu (at-ta’aawun), dan cinta kasih karena Allah (al-hubb fillah).

Persamaan hak dalam ukhuwwah islamiyah berarti kebebasan berukhuwwah dengan siapa saja tanpa membedakan status kekayaan, warna kulit, ataupun ras. Oleh sebab itu, dalam berukhuwwah kita harus menanggalkan pakaian jahiliyah yang membawa egoisme pribadi.

Kehidupan di Berlin yang multikulti, mengajak kita untuk lebih membuka mata tentang keberadaan umat islam di dunia. Dari bangsa arab, kulit hitam, kulit putih, sampai mata kecil asia, dapat ditemukan di kota ini. Sebagai ummat yang beriman, kita harus meninggalkan sifat golongan dalam diri kita. Siapapun dia, asalkan sudah bersyahadat mengakui keesaan Allah dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, adalah saudara kita yang harus kita jaga darahnya.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujuraat 13, “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesunggunya orang-orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.”

Di dalam masalah persamaan hak, kita dituntut memilki sifat adil. Memperlakukan seseorang sewajarnya sesuai dengan apa yang seharusnya. Nabi Muhammad SAW mencontohkan kita dalam berbuat adil memperlakukan seseorang. Pernah Beliau bersabda, “Demi Allah. Andaikan Fatimah puteri Muhammad SAW mencuri, pasti akan kupotong tangannya”. Sabda Rasul tersebut menunjukkan, bahwa setiap orang sewajarnya diperlakukan sama.

Ciri ukhuwwah yang lain adalah At-Ta’awun atau saling bantu-membantu. Sudah sewajarnya manusia membutuhkan keberadaan orang lain untuk membantunya. Sebagai seorang ikhwan sudah selayaknya kita siap memberikan bantuan kapan saja dan di mana saja bila saudara kita membutuhkannya.

Bantuan adalah hal yang luas pengertiannya. Menolong saudaranya dalam hal mencegah terhadap perbuatan dzalim termasuk juga bantuan. Jadi, bantuan dapat kita kerjakan kapanpun dalam setiap hembusan nafas kita. Sesuai sabda Rasulullah SAW, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna untuk lingkungannya.

Ukhuwwah timbul dari adanya rasa cinta kepada Al-Ikhwan karena Allah. Cinta dapat diwujudkan melalui menghormati sesama ikhwan, berlapang dada, saling mendoakan, berharap akan kebaikan untuknya, dan menghindari rasa dengki. Rasulullah SAW bersabda dalam hadistnya riwayat Bukhari, “Tidak boleh dengki kecuali dalam dua hal, (yaitu) seseorang yang diberi Allah SWT kekayaan dan dipergunakan kekayaannya untuk mempertahankan yang hak, dan kepada orang yang diberi Allah ilmu yang dengan ilmu itu diajarkan dan diamalkannya”.

Untuk terbentuknya sebuah jalinan ukhuwwah, diperlukan metode atau jalan tersendiri. Di antaranya adalah taat berhukum pada Al-Qur’an dan mengambil sunah Rasul sebagai undang-undang kehidupan. Jika kita berukhuwwah dengan mengedepankan aspek ini, insya Allah ukhuwwah atas dasar iman kepada Allah yang dapat menghantar kita meraih ridho Allah dapat terwujud.

Selain itu diperlukan juga adanya budaya mengucapkan salam. Salam dalam islam berarti mendoakan keselamatan dan kesejahteraan untuk orang yang disalaminya. Dalam satu hadistnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Zat yang diriku berada pada genggaman-Nya, tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah sempurna iman kalian sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menimbulkan rasa saling mencintai? Sebarkanlah (budayakanlah) salam di antara kalian.

“Manusia itu tergantung dien kawan kentalnya, maka perhatikanlah salah satu dari kawan kental manusia itu”, begitulah bunyi sabda Rasulullah SAW. Membangun sebuah ukhuwwah tidaklah semudah seperti berjumpa dengan seseorang, menjabat tangannya, dan menanyakan namanya. Ada tolak ukur untuk membangun sebuah ukhuwwah islamiyah antar al-ikhwan. Sebagai penutup artikel ini, berikut tolok ukur membangun sebuah ukhuwwah.

1. Menjadikan ukhuwwah itu ikhlas karena Allah semata.
2. Menjadikan ukhuwwah yang pertalian didalamnya atas dasar iman dan takwa.
3. Menjadikan ukhuwwah yang didalamnya ada rasa komitmen untuk selalu menjalankan apa yang ditulis di Al-Qur’an dan dipesankan Rasulnya.
4. Menjadikan ukhuwwah dengan berpegang teguh dengan selalu saling menasihati dalam kebaikan.
5. Menjadikan ukhuwwah atas dasar ta’awun dan tafakul baik dalam waktu sempit maupun lapang.

Thursday, April 06, 2006

Firasat

Kategori: Cerpen

Senja dingin itu, di bandara Soekarno-Hatta. Teman-teman yang akan berangkat bersamaku di kelilingi oleh sanak saudara dan keluarganya masing-masing. Mereka berfoto, berpelukan, dan bertangisan.

„Yu, kamu siap-siap check in, gih,“ kata mama. Tak aku jawab. Aku balas hanya dengan tatapan sebal.
„Yu, paspor kamu di mana? Hati-hati ya, jangan sampai hilang,“ lanjutnya lagi. Tak aku jawab juga.
„Yu, teman-teman kamu sudah pada masuk tuh mau check in,“ suara itu berbunyi lagi. Aku tak tahan. Aku berdiri, dan menatap ke wajah yang mulai renta itu.
„Mama! Bayu tahu! Bayu kan bukan anak kecil lagi! Mama gak usah ngingetin Bayu terus!“ suara kerasku terdengar menggema. Orang-orang yang di sekelilingku menatap ke arah kami. Hening sejenak. Hening paras Mama waktu mendengar bentakanku. Ia terdiam sebelum akhrnya mengulum kembali senyum yang dipaksakan.

Dan tiba saat pesawat akan berangkat, ku tepis tubuh Mama dan Papa saat hendak memelukku. Saat teman-temanku banjir air mata, tak ku tatap lagi wajah orang tuaku. Kesal aku dengan mereka, yang selalu memperlakukan aku bagai anak kecil. Yang selalu terobsesi dengan diriku, dan yang selalu menuntutku agar menjadi seperti apa yang mereka mau.

***

Ladies and gentlemen, welcome in Garuda Indonesia Airlines, my name is Retno Wulandari. I am head flight attendant from Jakarta to Frankfurt...

Aku duduk, menatap kosong ke arah televisi di depanku. Firman, yang duduk di sebelahku baru berhenti dari menangis ketika pesawat sudah mulai tinggal landas. Pramugari-pramugari itu mulai sibuk menyajikan santap malam untuk para penumpang.

„What do you want to eat?, we have rice with scramble eggs, noodle with sausage, or...“
„Terserah mbak!“ jawabku memotong. Ku tahu, pramugari itu terhenyuk mendengar jawaban kasarku. Okay, katanya sambil tersenyum, lalu menanyakan hal yang sama kepada Firman.
„Yu, plis jangan marah ya. lo kenapa sih? Dari tadi kelihatannya keseeel terus,“ tanya Firman sambil membuka menu yang telah dipilihnya.
„Kesel aja. Boleh, kan?“ jawabku ketus.
„Kesel boleh, tapi di waktu yang pas dong. Bukannya gue sok tua yah, kayaknya nggak pantes deh lo ngebentak pramugari tadi. Dan nggak pantes juga tadi lo ngedorong tubuh nyokap lo saat dia mau meluk lo,“ lanjutnya lagi. „Gue malah pengen bisa meluk tubuh nyokap gue selama mungkin,“
Aku diam, mulai menyantap hidangan.
„Jangan buat orang tua marah. Nanti kalau kiriman uang lo di-stop gimana hayo? Susah kan lo nanti jadinya,“
„Gue yakin, mereka nggak bakal nyetop kiriman uang,“ jawabku. „Mereka yang mau gue nerusin sekolah di Jerman. Ini semua cita-cita mereka. Mereka teralu terobsesi sama diri gue“
Firman hanya menatap.
„Tujuan lo ke Jerman buat apa?“ tanyaku.
„Buat sekolah lah. Hari gini, masa buat hura-hura,“
„Berarti kita berkebalikan. Tujuan gue justru buat hura-hura. Dengan gue ke Jerman, gue bisa lepas dari orang tua gue, pergi dari kehidupan di rumah yang membosankan,“
„Lo gak kasihan dengan orang tua lo? Lo kan anak semata wayang,“
„Tau apa lo soal anak semata wayang? Gue benci dengan sebutan itu. Apakah anak semata wayang harus terus bersama orang tua?“

Bruk bruk bruk. Pembicaraan kami terhenti saat pesawat kami tiba-tiba seperti berputar tak tentu arah. Makanan kami berhamburan.

Ting. Flight attendant, please come!

Dan para pramugari itu cepat-cepat kembali ke kursi mereka.

To all passengers, please return to your seats and fasten your seatbelts for we are expecting turbulances due to the bad weather. Thank you.

Suasana mendadak menjadi sepi. Yang ada hanyalah ketakutan. Lampu pesawat dipadamkan.
Tiba-tiba yang terlintas di pikiranku adalah kedua orang tuaku. Entah, padahal aku membenci mereka, namun saat ini wajah mereka seakan tepat di pelupuk mataku.

This is your captain speaking. Ladies and gentlemen, please take emergency landing position immediately.

Pesawat kami tiba-tiba manukik, turun dengan kecepatan yang luar biasa cepat. Semua orang panik. Panik sambil berusaha mengenakan baju pengaman dan meraih selang oksigen yang muncul dari atas kepala.

Mama, papa, mengapa saat ini kalian yang berada dalam pikiranku.

Jeritan di mana-mana, tubuh kami bertambah berat akibat pengaruh gravitasi berlebih, pesawat semakin cepat melaju ke bawah. Aku sadar. Aku akan mati. Ya, aku akan merasakan pedihnya sakratul maut sesaat lagi. Asyhadu alaa illaaha ilallah, wa asyhadu anna muhammadarrasulullah.

Ledakan besar, api, dan aku tak ingat lagi apa-apa.

***

Mataku terbelalak, tubuhku basah. Hanya sebuah mimpi buruk. Kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Beberapa jam dari sekarang aku akan pergi meninggalkan rumah ini, dan, pikiranku kembali kepada mama dan papa.

Ku beranjak keluar kamar, ku lihat seseorang bermukena putih bersimpuh di dalam mushalla mengerjakan tahajud rutinnya. Itu mama. Ya, itu mama. Mama.
„Mama!“
Wanita separuh baya itu menatapku dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk mata.
„Bayu, kok belum tidur? Kamu harus istirahat cukup. Perjalanan ke Jerman nanti akan menguras tenaga,“ katanya.
Ku rangkul tubuhnya. Ku peluk hangat.
„Ma, Bayu nggak mau ke Jerman, ma. Bayu mau sama mama,“ kataku dengan tangis yang mulai mengalir.
„Kamu bicara apa sih, sayang. Jam lima sore nanti kan kamu sudah harus terbang ke Jerman,“ katanya lembut, walau kutahu, perih yang dirasakannya saat ini.

Mama, yang sudah berbuat banyak untukku. Menjamin aku mendapat susu tiap hari saat ku kecil, menemaniku melukis saat aku di taman kanak-kanak, hingga sampai saat ini, kata-kata yang keluar setiap aku pulang ke rumah adalah „Bayu, sudah makan atau belum,“

„Mama sadar, apapun bisa terjadi nanti. Bayu, kamu anak mama semata wayang. Pun kamu hanyalah titipan Allah yang harus mama jaga. Jika kamu, atau mama, dipanggil oleh Yang Menciptakan kita, maka tidak ada yang dapat kita perbuat lagi selain mengikhlaskannya“.

Mama, tahukah kau, kalau aku baru bermimpi buruk tadi.

Mushab Syuhada
Berlin 2006

Thursday, March 16, 2006

The Day

S u j u d k u



pun takkan memuaskan inginku
untuk haturkan sembah ke dalam kalbu

adapun kusembahkan syukur padaMu ya Allah
untuk nama, harta, dan keluarga yang mencinta

dan perjalanan yang sejauh ini tertempa

alhamdulillah pilihan dan kesempatan
yang membuat hamba mengerti lebih baik tentang makna diri

semua lebih berarti apabila dihayati
alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah


Too Phat feat. Dian Sastro feat. Yassin - alhamdulillah

Sunday, March 05, 2006

Hukum Pareto

Kategori: Cerpen

Hukum Pareto
Oleh: Mushab Syuhada


Laboratorium Kimia Anorganik, Gedung Kimia, TU Berlin
Aku masih menatap beberapa tabung reaksi yang berjejer rapi di depanku, melihat dengan teliti dan seksama setiap perubahan yang terjadi dalam larutan-larutan warna-warni itu. Perlahan aku tiba pada titik kejenuhan. Sekitar lima belas menit yang lalu, aku mengajukan laporan penelitian pada asisten lab. Ku katakan, bahwa dalam zat yang aku teliti saat ini tidak terdapat phospat, sulfat, dan klorid. Tapi kata dia, laporan yang aku ajukan itu hanya ada satu jawaban yang benar, sisanya salah, dan bahkan ada satu unsur yang tidak terdeteksi oleh ku.

Ruangan laboratorium besar yang diisi 80 mahasiswa perlahan sepi. Hanya tersisa lima mahasiswa yang belum menyelesaikan laporannya, termasuk aku. Laboratorium akan ditutup sepuluh menit lagi, sedangkan aku masih harus mengulang percobaan agar unsur yang tersembunyi di balik zat itu berhasil aku temukan.

„Baik, saya ajukan laporan kedua saya. Saya sangat yakin di dalam zat ini tidak terdapat unsur karbonat, karena saya sudah mengulang percobaan ini sebanyak tiga kali, dan tidak saya temukan juga gas karbon dioksida dalam larutan barium hidroksid,“ kataku dengan sedikit emosi.
„Ya benar,“ jawab asisten itu. „pada zat yang kamu miliki memang tidak ada karbonat. Tapi mengapa kamu tulis dalam laporan pertamamu?“
Ups, hampir ketahuan kalau saya menebak jawaban tanpa melakukan percobaan.
„Selanjutnya, dalam zat ini ada unsur iodid, karena ketika saya berikan asam sulfat, muncul sol berwarna kuning dengan titik-titik air berwarna ungu, serta kristal hitam pada dinding tabung reaksi,“ lanjutku.
„Ya itu benar, kamu punya unsur Iodid. Tapi, apa yang kamu ajukan sekarang masih salah. Apakah kamu yakin kamu punya unsur sulfat?“
„Ya! sangat yakin,“ jawabku dengan sedikit ngotot.
„Apa buktinya?“
„Hmmm... saya melihat ada sol yang jatuh pada larutan bariumsulfat setelah proses sentrifugal,“
„Yakin?“
„Sedikit yakin,“
„Coba lihat larutannya,“
„Ehh... sudah saya buang...,“
„Kalau begitu saya ingin lihat zat yang kamu punya,“
„Baik, Anda ikut saya ke meja kerja saya,“

Saya menunjukkan zat dalam gelas kimia kecil. Mendadak raut muka asisten itu berubah.
„Kamu belum menghaluskan garam-garam ini, ya?“ tanyanya sedikit terkaget.
„Belum, memangnya harus dihaluskan?“ jawabku.
„Ya jelas! Pantas jawaban kamu salah semua. Unsur-unsur itu harus diteliti secara bersamaan!“ jawabnya.
„Anda tidak mengatakannya!“ kataku membela diri.
„Doch! Saya mengatakannya ketika seminar. Saya bahkan melihat kamu hadir pada seminar tadi siang. Jelas saja, karena kamu tidak menghaluskan garam-garam ini, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa menganalisis unsur-unsur dalam zat ini!“

***

Ruang Locker, Gedung Kimia, TU Berlin
Aku membuka jas lab putih serta kacamata pelindung dengan tanpa semangat. Kugantungkan di dalam lemari besiku. Hari ini mendapat nilai 4,0, hampir saja tidak lulus. Seseorang keluar dari toilet dalam ruang locker ini, Robert Mensch, teman kuliahku. Ia mengambil jaket dan tas dari dalam lemarinya. Terlalu malas aku untuk menyapanya – menyapa orang-orang – setelah mengetahui hasil yang kudapatkan dari enam jam berkutat di lab.

„Hai,“ sapanya terlebih dahulu.
„Hai,“ balasku datar
„Bagaimana percobaan kamu tadi?“ tanyanya.
„Buruk, aku mendapat 4,0,“
„Aaah, sayang sekali,“ jawabnya. Aku tersenyum.
„Kalau kamu, bagaimana?“ tanyaku membalas.
„Aku mendapat 2,0,“
„Waw! Bagus!“
„Na ja, itu juga karena aku terlalu banyak memberikan asam sulfat. Semestinya perbandingannya satu banding satu,“ katanya. „Mengapa kamu bisa mendapat 4,0? Apa yang salah?“ lanjutnya bertanya.
„Hukum Pareto,“ jawabku.
„Hukum Pareto?“
„Kamu pulang dengan kereta U2 dan U9, kan? Ayo kita pulang bersama, nanti aku jelaskan hukum Pareto itu,“

***

Di dalam U-Bahn U2 dan U9
„Vilfredo Frederico Damaso Pareto, lahir di Paris 15 Juli 1848, adalah seorang ahli mikroekonomi Italia yang banyak berperan dalam dunia ekonomi, sosiologi, dan filosofi. Dia pernah membuat sebuah survey mikroekonomi di Italia. Hasil surveynya menyebutkan, bahwa 80% peredaran uang di Italia, terkonsentrasi hanya pada 20% warganya. Hanya 20% dari populasi!“ kataku memulai penjelasan. Robert yang duduk di hadapanku mendengarkan dengan seksama. „Dari situ muncul lah hukum Pareto, atau dalam bahasa Inggris disebut Pareto Principle, dalam bahasa Jerman disebut Pareto Verteilung, atau dikenal dengan sebutan 80-20 Rules atau 80:20 Regel,“
„Maksudnya?“ tanya Robert sambil mengerutkan dahi.
„Hukum itu menjelaskan, bahwa jumlah yang kecil dalam sebuah himpunan, banyak mempengaruhi himpunan tersebut. Dan juga sebaliknya, jumlah yang besar dalam sebuah himpunan, justru tidak banyak berperan dalam himpunan itu. Atau dalam kata lain, 80% keberhasilan diperoleh hanya dari 20% unsur pendukung keberhasilan itu,“ lanjutku.
„Lalu apa hubungannya dengan percobaan kimia kamu?“ Robert semakin penasaran. Kereta kami sampai pada stasiun Zoologischer Garten, saatnya kami harus berpindah kereta.
„Coba bayangkan. Kegagalan percobaanku hanya karena aku lupa menghaluskan garam-garam itu. Menghaluskan garam-garam paling hanya membutuhkan waktu selama tiga menit, tapi mempengaruhi enam jam kerjaku secara keseluruhan. Karena aku lupa mengerjakan hal yang kecil itu, maka gagal lah seluruh pekerjaan ku,“ jawabku. Robert tersenyum, dia mulai mengerti apa yang aku maksud.
„Kamu punya contoh yang lain lagi?“ tanyanya. Aku mengangguk.
„Kita belajar Matematika Analisis atau Aljabar Liniar selama satu semester bukan?“ tanyaku. „Berapa banyak waktu yang kamu butuhkan dalam satu minggu untuk belajar dua mata kuliah itu?“
„Wah! Sangat banyak! Setiap minggunya kita mendapat pekerjaan rumah yang sangat sulit dan membutuhkan waktu minimal dua hari untuk mengerjakannya. Belum lagi dengan bahan yang sangat banyak dan tugas-tugas lainnya yang menumpuk,“ katanya.
„Sepakat!“ jawabku. „Semester ini kita banyak disibukkan hanya untuk kedua mata kuliah itu, bukan?“ lanjutku. Robert mengiyakan. „Dan kamu tahu, Robert, upaya kita dalam satu semester itu hanya ditentukan dalam waktu satu jam! Ya, satu jam!“
„Benar!“ teriak Robert. „Ujian mata kuliah itu hanya selama satu jam! Dan bila kita gagal dalam satu jam itu, maka sia-sia pula upaya kita dalam satu semester! Tidak peduli walaupun kita telah membuang waktu banyak hanya untuk dua mata kuliah ini. Bila nilai kita dalam satu jam ujian itu jelek, maka kita tidak lulus!“
Aku tersenyum. Apa yang dikatakan Robert itu benar.
„Contoh lain lagi, waktu aku sekolah di Indonesia, aku ikut dalam organisasi siswa. Setiap akan melakukan kegiatan, kami wajib membuat proposal. Tanpa Proposal, kegiatan kita mustahil dijalankan. Padahal, kalau kita membuat time-schedule dalam kegiatan tersebut, alokasi waktu untuk membuat proposal paling hanya satu minggu. Yang paling banyak adalah proses kerja kita dalam kegiatan itu. Tapi hal yang banyak itu tidak akan mungkin dijalankan bila kita tidak membuat proposal,“ lanjutku.
„Hukum Pareto!“ teriak Robert.
„Dan satu contoh lagi. Menurut agamaku, kehidupan di dunia ini hanyalah sebentar. Dan kehidupan setelah di dunia adalah kehidupan abadi. Kehidupan kekal dan selama-lamanya. Namun kehidupan abadi kita itu ditentukan oleh kehidupan kita di dunia yang sesingkat ini. Apakah kita akan hidup di surga atau neraka, ditentukan dalam hidup kita saat ini. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW berkata, hidup di dunia itu bagaikan seseorang yang sedang berjalan jauh melintasi luasnya padang pasir, dan berhenti sejenak di bawah pohon kurma untuk beristirahat, sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya lagi,“

„Teng tong, Leopoldplatz, Übergang zu U-Bahn Linie U6“

„Robert, aku harus turun di sini. Rumahku di sini,“
„Ach so, oke sampai besok!“
„Mach’s gut,“
„Du auch. Ciao“
„Ciao“

„Zug nach Osloerstrasse. Einsteigen, bitte! Zurückbleiben, bitte!“

Mushab Syuhada
Berlin, 5 Maret 2006
12:05