<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358</id><updated>2011-12-14T00:51:12.737+01:00</updated><title type='text'>Ketika Cerita Bercerita</title><subtitle type='html'>Setiap detik adalah makna, setiap masa adalah rasa, sulit membayangkan bahwa manusia tidaklah istimewa, perjalanan kita, dalam arus debu aksara - Dimas Abdirama</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>105</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-8925796000481204172</id><published>2011-01-31T23:46:00.003+01:00</published><updated>2011-01-31T23:52:12.497+01:00</updated><title type='text'>Hari Ini</title><content type='html'>Hari ini, tujuh tahun yang lalu, saya meninggalkan Indonesia dengan perasaan yang campur aduk. Senang, sedih, cemas, dan lainnya. Saya sudah tujuh tahun hidup di Jerman ini, mengemban amanah, memainkan peran yang telah Allah persiapkan. Menjaga Berlin, memutarkan rodanya kembali, karena Allah tidak akan membiarkannya terlantar tanpa ada nahkoda.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari ini, siang tadi, saya mendapat jawaban diterimanya saya di Charité Universitätsmedizin. Antara senang dan harap. Cemas karena takut mengecewakan. Insya Allah, saya akan berikan seluruh kemampuan saya yang sangat terbatas ini. Insya Allah, saya akan mengejar cita-cita memperdalam ilmu stem cell, selangkah sebelum mengabdikan diri di Stanford University, USA.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari ini, sahabat saya mendapat jawaban dari harapnya. Allah memiliki caranya sendiri untuk mendidik hambaNya agar kerap dan senantiasa bersyukur. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari ini, sahabat saya ditinggal pulang oleh ayahnya menuju ke haribaan Illahi. Semoga sabar selalu menyertaimu. Jangan khawatir, kita semua berada di sini untuk mendukungmu. Lanjutkan perjuanganmu, kejar cita-citamu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari ini, selesai.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-8925796000481204172?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/8925796000481204172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=8925796000481204172' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8925796000481204172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8925796000481204172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2011/01/hari-ini.html' title='Hari Ini'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-1468490101090509153</id><published>2010-12-31T17:00:00.008+01:00</published><updated>2011-01-10T20:38:04.198+01:00</updated><title type='text'>The Winter Backpackers</title><content type='html'>Perjalanan di musim dingin dimulai. Tahun kemarin saya sempat menjelajah wilayah barat Jerman, bermain ski di Sauerland (Winterberg), dan berlanjut sampai Luxembourg. Tahun ini saya berencana backpacking ke wilayah selatan Jerman. Selama ini saya belum pernah mengunjungi salah satu kota besar di Jerman, Munich, oleh karena itu saya niatkan untuk pergi ke sana. Sekalian berlatih ski lagi di sebuah kota yang terkenal dengan resort musim dingin dan puncak tertinggi di negara ini, Garmisch-Partenkirchen, serta melintasi perbatasan Jerman-Austria untuk mengunjungi kota kelahiran Mozart, Salzburg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, saya, Karimi dan Asroi memulai ekspedisi musim dingin kami. Karimi punya permintaan untuk mengunjungi kota Penzberg. Pasalnya, di sana terdapat sebuah masjd yang berdiri megah di kaki pegunungan Alpen. Dulu dia pernah dikirimi sebuah koran yang di dalamnya terdapat artikel tentang masjid tersebut. Judulnya "Masjid Penzberg dan Eksistensi Islam di Jerman" (Republika, 31 Oktober 2008). Koran tersebut pernah ia pajang, dan ia bertekad suatu hari dapat mengunjungi masjid itu.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya pun mencari tempat bermain ski yang paling asik di negara bagian Bavaria. Akhirnya setelah searching di internet, saya menemukan kota Garmisch-Partenkirchen yang terkenal karena pernah menyelenggarakan olimpiade musim dingin tahun 1934 dan memiliki puncak tertinggi negara Jerman yakni Zugspitze, yang berada di deretan pegunungan Alpen yang membentang dari Perancis-Swiss-Jerman-Austria sampai Italia. Kota tersebut juga akan menyelenggarakan kejuaraan ski dunia pada bulan Januari 2011 nanti. Mungkin belum banyak yang mengenal kota kecil in the middle of nowhere ini, tapi sesungguhnya kota di atas pegunungan Alpen ini sudah sangat mahsyur di mancanegara, terbukti dengan banyaknya turis asing yang kami temui di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah terlanjur ke daerah selatan, saya bermaksud untuk mengunjungi kota Salzburg, Austria. Di sana terdapat kota tua yang menjadi salah satu dari world heritage versi UNESCO. Sayangnya, kereta yang kami tumpangi dari Berlin menuju München terlambat sekian jam, sehingga tidak memungkinkan dari segi waktu untuk pergi ke sana. Ya, tidak apalah, karena Karimi lebih memprioritaskan kota Penzberg dan Garmisch-Partenkirchen, sehingga saya mengalah saja tidak jadi visit Austria 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di München, kami makan pizza dan mengambil kereta ke Penzberg dengan transit di Tutzing. Penzberg, ternyata lebih pas disebut sebagai desa. Stasiunnya hanya memiliki satu peron. Dengan berbekal alamat masjid tersebut yang kami dapatkan di internet dan mencarinya di GPS Google Map Blackberry, sekitar 15 menit setelah kedatangan sampai jualah kami di masjid milik Islamische Gemeinde Penzberg. Bangunan masjidnya elegan, minimalis, namun sakral. Bentuknya segi empat. Di sisi depannya terpasang kaca fiber berwarna biru-ungu, yang konon jika malam hari akan memancarkan cahaya yang luar biasa indah. Sisi depannya terdapat puintu masuk yang diapit oleh dua dinding besar diagonal -- seperti buku yang terbuka di halaman tengah -- dan di dinding tersebut terukir salah satu ayat Al-Qur'an dalam Bahasa Arab dan Bahasa Jerman. Minaretnya tidak tinggi. Mungkin hanya 7-8 meter, namun minaretnya terbuat dari rangkaian kaligrafi dari ayat Al-Qur'an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memasuki masjid tersebut dari sisi belakang. Sepi dan tidak ada orang. Lantas kami menjelajah masuk ke dalam. Dan ketika kami membuka pintu menuju ruangan salat, seorang laki-laki menyapa kami. Ia bernama Ali, dan ia menemani kami melihat-lihat masjid serta memperkenalkan kami kepada sang imam masjid yang kantor dan rumahnya ada di tingkat satu. Setelah asik menikmati kemegahan masjid, kami salat Dhuhur dan Ashar dengan sang imam. Seusai salat, sang imam mentraktir kami makan doner yang tokonya persis di sebelah belakang masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjelang magrib, kami melanjutkan perjalanan menuju resort musim dingin di Garmisch-Partenkirchen. Sungguh susah mencari tempat penginapan di sana. Semua hotel dan hostel full booked. Untungnya Om Google menawari saya satu hostel bernama Jazz Hostel. Hostelnya para backpackers. Dilihat di internet, hostel ini cukup lumayan. Kamarnya bagus, bersih, tersedia w-lan, ada kamar mandi, tempat makan, sarapan pagi dan lainnya. Walau satu kamar berbarengan dengan orang lain, tapi sungguh hostel ini sangat nyaman dan highly recommended! Pembayaranpun bisa dilakukan dengan paypal, ini sangat memudahkan, karena biasaya mesti memakai kartu kredit, sementara saya tidak punya kartu kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Garmisch-Partenkirchen, kami mengisi perut dulu di stasiun membeli pommes untuk dimakan di hostel. Berbekal tanya-tanya dan GPS di Blackberry, sampailah kami di hostel yang kalau malam benar-benar seperti in the middle of nowhere. Kesan pertama saya langsung suka dengan hostel ini. Di kamar kami sudah ada dua backpackers kebangsaan Amerika. Setelah mandi, kami makan malam lalu tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya kami sangat segar karena istirahat yang sangat cukup. Pemandangan luar jendela pun sangat menakjubkan. Kota ini benar-benar di atas pegunungan Alpen! Sejauh mata memandang hanya pegununga bersalju. Jadi ingat, dulu waktu kecil saya ingin sekali mengunjungi pegunungan Alpen akibat iklan permen Alpenliebe. Alhamdulillah kesampaian. Dua backpackers Amerika itu juga sudah keluar kamar, jadilah kamar luas itu kami isi sendiri. Sarapan yang disediakan hostel sangat luar biasa. Roti, keju, butter, selai cokelat, madu, sereal, susu, jus jeruk, mantap sekali. Benar-benar asupan gizi yang pas sebelum bermain ski. Saking nyamannya duduk-duduk di sana, kami sampai terlewat waktu untuk berangkat. Rencananya kami ingin ikut sekolah ski agar kami benar-benar mahir bermain ski (pengalaman main ski tahun lalu: percuma kalau tidak belajar dulu! Karena bermain ski itu sulit dan juga berbahaya). Tetapi waktu pendaftaran sekolahnya hanya sampai pukul 9:15 dan sekolah dimulai pukul 9:30, sementara kami pukul 10:30 baru keluar hostel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, kami berangkat menuju area Garmisch-Klassik. Kami tidak berangkat menuju Zugspitze karena perjalanannya memakan waktu lama. Setelah membeli tiket kereta gantung ke atas gunung serta menyewa peralatan ski, kami berangkat ke atas. Subhanallah, pemandangan begitu indah kami lihat ketika kereta gantung kami menanjak ke atas. Sesampainya, kami segera memulai peluncuran. Sulit memang, sementara saya dan Asroi masih berlatih meluncur dan mengerem, Karimi dengan keberaniannya sudah lihai meluncur dan mengerem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya agak takut, pasalnya sebelum berangkat saya melihat video di YouTube seorang pemain ski profesional menabrak pembatas garis dan langsung tewas seketika. Maka dari itu saya tidak berani meluncur cepat-cepat. Setiap kecepatannya sudah tinggi, saya langsung rem. Sekian lama kami bermain, hingga akhirnya pukul 15:30 dan kami belum salat Dhuhur-Ashar. Jadilah saya meminta Karimi dan Asroi untuk menepi ke arah depan supaya bisa salat. Kami berberes. Tas ransel yang berisikan barang-barang kami termasuk handphone dipikul Karimi. Saya pun meluncur ke area masuk di depan. Saya sempat melihat Karimi meluncur ke bawah dan Asroi -- yang masih gemetaran berseluncur -- mengikutinya di belakang. 10 menit menunggu, mereka belum juga datang. Pikir saya, mereka sedang naik lagi ke atas untuk berseluncur. Oke lah, tidak apa-apa, masih ada waktu. Saya juga akhirnya bermain-main lagi ke tengah. Tapi kok, semenit, dua menit, lima menit, setengah jam, sampai satu setengah jam lewat, mereka belum muncul juga! Saya mulai panik, pasti ada apa-apa dengan mereka! Mereka meluncur ke arah bawah yang notabene adalah jurang sementara mereka baru hari ini bermain ski untuk yang pertama kali. Perasaan saya langsung tidak karuan, ini pasti ada apa-apa, batin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berteriak-teriak seperti orang gila di pegunungan yang luas dan besar itu. "ASROIIII!!... KARIMIII!!!" Tidak hanya itu, saya berkeliling gunung mencari mereka serta menanyakannya ke petugas-petugas. Para petugas bilang, ke arah bawah itu sudah cukup sulit, dan bagi beginers medan tersebut tidak mungkin dilewati. Saya makin tidak karuan, bayangan saya mereka sudah jatuh ke jurang, patah tulang dan meninggal dunia. Pencarian oleh petugas baru bisa dilakukan ketika pukul 17:30, saat langit sudah gelap. Saya meminjam telepon genggam orang-orang yang sedang memegang telepon genggam. Ada orang Amerika dan Swedia. Untungnya walaupun mereka tidak memakai nomor Jerman, mereka berbaik hati meminjamkan saya telepon mereka. Saya hanya hafal nomor Karimi, saya telepon tidak diangkat, saya tinggalkan sms dengan harapan ia akan membacanya. Menit demi menit berlalu, mereka tidak juga ditemukan. Saya sudah hampir pasrah, namun saya ingin melakukan usaha terakhir: mencarinya dengan pengeras suara yang bisa terdengar ke seluruh pelosok gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memohon-mohon, saya diperbolehkan menggunakan mikrofon dan speaker yang dipasang di sana. Saya berteriak, "Karimi!! Asroi!! Ditunggu di tempat masuk tadi!! Karimi!! Asroi!! Ditunggu di tempat masuk tadi!!". Orang-orang keheranan mendengarkan "pengumuman" aneh berbahasa aneh tadi yang menggema-gema di sana dengan nada panik. Tapi sudahlah, itu usaha terakhir saya sebelum saya menunggu ada pencarian dari petugas pukul 17:30 nanti. Usai salat, saya ikhlaskan mereka. Saya berpikir mereka sudah meninggal dunia. Lalu saya kembali ke tempat kereta gantung untuk menuju ke bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata di sana mereka saya temukan. Mereka juga baru selesai salat, dengan perasaan lega dan kesal saya memarahi mereka habis-habisan. Panjang ceritanya, ringkasnya, Karimi ke bawah karena harus mengambil kereta ke atas karena kondisi curam dan es yang sangat licin, tetapi ia tidak bisa mengerem, lalu jatuh terguling-guling. Ketika ia sudah hampir sampai di atas, ia menemukan Asroi yang sudah tidak bertenaga dan bingung bagaimana kembali ke atas. Jadilah mereka bersusah payah menanjak ke atas hingga akhirnya mereka mendengarkan gaungan suara saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami bertemu, lega perasaan saya, wuihhh, dinginnya hari itu benar-benar meluapkan kelegaan saya: saya menemukan mereka dalam keadaan masih hidup! Tanpa patah tulang! Alhamdulillah! Setelah itu, langsung saya marahi mereka. Kalau Karimi sudah sering saya marahi, kalau Asroi, ini baru pertama kali saya marahi dia. Gak tega sih, tapi tetap harus dimarahi. Jadilah Asroi orang pertama yang saya marahi di antara the boys (tunggu tanggal mainnya, Guntur, Bhirawa, Halim, Audio, Juan dan Juno :)). Tapi sebenarnya saya nggak marah dan kesal, melainkan lega, cuma sengaja aja saya pasang tampang marah biar mereka kapok. Tapi kasihan juga mereka, jadi feeling guilty. Nah dari pada suasana liburannya rusak, saya nggak lama-lama marahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di kota, kami ke stasiun dan mengambil kereta ke München. Sepanjang perjalanan kami bercerita tentang pengalaman luar biasa di hari itu. Sampai di München, kami niatkan untuk makan malam yang banyak dan kenyang. Setelah menaruh barang di hostel, kami dengan sisa tenaga yang ada mengunjungi beberapa tempat di München seperti Sendlingertor (sebenarnya saya kaget, niat hati mau mengunjungi sebuah Tor megah yang sering dilihat di kartu pos dari München, eh ternyata hanya sebuah Tor purbakala, rupanya kami keliru, tak apalah, toh bisa melihat Tor yang dibangun tahun 1318 yang kalau di Indonesia sudah seperti prasasti-prasasti kerajaan), Münchener Rathaus (gedung ini keren sekali), lalu kembali ke stasiun untuk makan pizza di sebuah restoran di sana. Sudah terlanjur berada di München, tidak lengkap jika tidak mengunjungi Allianz Arena, stadion utama markasnya Bayern München yang sekaligus sebagai stadion pembuka piala dunia 2006. Perjalanan menuju ke sana cukup jauh, tapi tidak terasa karena kami menaiki kereta bawah tanah München yang sangat elegan, dengan interior minimalis dan modernis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hostel, saya segera tidur karena besok pagi pukul lima saya dan Karimi harus segera kembali ke Berlin agar sempat menghadiri rapat TPA pada pukul empat sore. Bangun pagi, mandi, kami segera berangkat ke stasiun meninggalkan Asroi yang ingin pulang lebih siang karena ia ingin ke kota Augsburg terlebih dahulu. Perjalanan pulang yang melelahkan dan mengesalkan pun dimulai. Pesan: jangan naik kereta di musim dingin karena pasti ada keterlambatan dan masalah lainnya. Tapi apa daya, di tengah suhu dingin kami menderita akibat kereta yang datang terlambat sehingga kami tidak sempat mengambil kereta berikutnya dan kami sampai di Berlin pukul delapan malam. Asroi tiba di Berlin pukul sembilan malam. Alhamdulillah, Berlin! Akhirnya berakhir juga backpacking untuk musim dingin tahun ini. Rencana berikutnya? Visit Istanbul 2011 :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-1468490101090509153?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/1468490101090509153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=1468490101090509153' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/1468490101090509153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/1468490101090509153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/12/winter-backpackers.html' title='The Winter Backpackers'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-7852177212874744881</id><published>2010-12-19T21:17:00.002+01:00</published><updated>2010-12-19T22:20:36.152+01:00</updated><title type='text'>Cerita Pilihan Pekan Ini</title><content type='html'>[Cokelat]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku sedang berkumpul dengan kolega-kolega kerja pada sore itu, sekotak cokelat dibagi-bagikan sebagai hadiah natal dari divisi lain. Aku mengambil sebuah cokelat putih berbentuk kerang, spontan salah seorang kolega kerjaku berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dimas! Di cokelat itu ada alkoholnya!" lantas ia merebut kotak cokelat itu dan segera melihat bahan bakunya di bungkus belakang.&lt;br /&gt;"Tuh kan benar! Ada liquor-nya!" katanya keras-keras. Aku kagum sekali pada L, teman Jerman saya yang nonmuslim itu malah yang paling panik melihat aku memegang cokelat yang mengandung alkohol. Di setiap acara apa pun, dia yang terdepan memberi tahuku isi kandungan di setiap makanan yang disajikan. "Di situ ada salaminya, ini ada dagingnya," dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duh ada alkoholnya, ya?" kataku kikuk. "Buat kamu mau nggak?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Aku juga tidak minum alkohol," jawabnya. Aku sangat malu menawari dia sesuatu yang untukku haram hukumnya, apalagi dia juga tidak minum alkohol. Aku menyesal telah mengambil cokelat itu. Aku menyesal malah menawari dia. Aku menyesal, dan aku buang cokelat putih berbentuk kerang itu ke tempat sampah.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[Status]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu, murobbiyah ku pernah berkata, jangan berpikir bahwa apa yang kamu katakan ke orang lain itu untuk orang lain, tapi sesungguhnya itu untuk dirimu sendiri.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tertohok. Aku jadikan itu sebagai statusnya dia, dan 18 orang menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat itu seperti biasa adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Di sela-sela pembicaraan kami, A bercerita tentang studkolnya. Ia memiliki teman yang suka menanya-nanya tentang keislaman dia. Mengapa ia pakai janggut, padahal lebih bagus tidak pakai janggut (relatif lah), mengapa ia tidak makan babi, mengapa ia begini dan begitu, bahkan ada temannya yang mengejeknya bahwa orang Islam harus bagus di pelajaran kimia supaya bisa membuat bom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bercerita tentang bagaimana ia menghadapi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunjukkan saja adab kita sebagai seorang muslim, A. Adab itu sangat erat dengan iman. Rasulullah SAW berkata bahwa malu sebagian dari iman. Bahwa tidaklah beriman seseorang jika ia tidak amanah, bahwa tidak beriman seseorang jika tidak berbuat baik dengan tetangganya, tidak memuliakan tamunya, dan berbicara yang tidak baik. Sempurna kan? Jadi kita bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan adab dan perilaku kita sebagai muslim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku yang lain, J, juga menyampaikan hal yang sama. Ia resah melihat beberapa kemungkaran di hadapannya, namun ia tidak tahu harus berbuat bagaimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, bagaimana kalau yang orang muslimnya sendiri tidak memberi contoh itu... Saya mau menegur tapi teman saya yang muslim malah seperti tidak mendukung saya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah. Mereka anak-anak yang hanif. Terkadang aku merasa sangat malu dan hina untuk menjadi abang mereka. Ya Allah, tetapkanlah diriku selalu dalam cahayaMu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Ibu]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam postinganku sebelumnya, aku menjelaskan mengapa cerita ini layak menjadi cerita pilihan untuk pekan ini. Salim A. Fillah menulis: ibu, melodi paling harmoni yang menggemakan jagad dengan jihad agungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Pagi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu aku datang beberapa menit sebelum adzan subuh berkumandang. Kulihat L sedang duduk di dapur sambil membaca Al-Ma'tsurat. Yang lain sibuk dengan mushaf Qur'an-nya masing-masing. Pagi itu setelah aku kembali dari mengajar Bahasa Indonesia, mereka sedang khusyuk melakukan salat dhuha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat pada kata-kata seorang sahabat: Hidayah Allah itu sangat mahal harganya. Orang yang mendapatkannya akan merasakan manisnya iman dan lezatnya ibadah. Menangislah wahai orang yang tidak merasakannya, karena hatimu telah membeku dan keras seperti batu, akibat maksiat yang kamu kerjakan selalu dan selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Jujur]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai rapat di KBRI tadi sore aku menyapa Mbak I, menanyakan kabar riset doktorannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku memang akhir-akhir ini sibuk banget, kemarin kan aku sempat ada masalah dengan risetku," ujarnya.&lt;br /&gt;"Lho, kenapa?"&lt;br /&gt;"Iya, aku kan kerja berdasarkan tiga publikasi yang diminta oleh professorku untuk dikembangkan, ternyata aku menemukan kesalahan fatal dalam tiga publikasi itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergumam dalam hati, Mbak I hebat sekali bisa menemukan kesalahan pada paper yang sudah dipublikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sempat dilema juga, profesorku minta aku tutup mata saja melihat kesalahan ini karena itu akan menghancurkan nama baiknya, tapi aku nggak bisa, pertama aku seorang muslim, kalau aku tetap menulis berdasarkan publikasi-publikasi yang salah itu, sama saja aku menyebarkan kebohongan."&lt;br /&gt;Aku salut. "Memangnya publikasinya tentang apa sih mbak?"&lt;br /&gt;"Tentang drug delivery."&lt;br /&gt;"Itu kan vital banget!" ujarku. "Itu impactnya sangat luas kalau kesalahan itu dibiarkan."&lt;br /&gt;"Makanya, profesor aku sudah mewanti-wanti aku, katanya aku kan dibiayai oleh proyek ini, kok bisa-bisanya aku berani membongkar kebenaran ini. Tapi aku bismillah saja, aku terus maju."&lt;br /&gt;"Jangan-jangan professornya mbak itu si Professor X ya? Dia kan terkenal banget untuk soal drug delivery!" Mbak I pun mengiyakan. Aku tidak habis pikir kok bisa terjadi hal seperti itu. Tapi yang paling penting, aku sangat salut dan bangga terhadap Mbak I, ia berani, ia seorang muslimah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-7852177212874744881?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/7852177212874744881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=7852177212874744881' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/7852177212874744881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/7852177212874744881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/12/cerita-pilihan-pekan-ini.html' title='Cerita Pilihan Pekan Ini'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-336809511784884227</id><published>2010-12-17T23:38:00.002+01:00</published><updated>2010-12-17T23:51:14.832+01:00</updated><title type='text'>Antara Ibu dan Jarak Dunia</title><content type='html'>Jumat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas beraktivitas di masjid seharian, saya beranjak pulang. Sebenarnya saya ingin tidur lebih cepat supaya besok bisa bangun pukul 5:00 dan bisa menuju masjid untuk salat subuh. Nyatanya saya membuat segelas susu dan bersantai-santai sebelum beranjak tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, saya membuka YouTube, mendengarkan lagu soleram (yang menjadi lagu kesukaan saya beberapa waktu terakhir ini), dan menjelajah Facebook. Saya tertarik membuka profile seorang ibu dari teman saya, Deva Mandela. Setelah melihat-lihat beberapa foto, saya menuju ke album &lt;span style="font-style: italic;"&gt;profile picture&lt;/span&gt;-nya. Di sana banyak sekali tertampang foto-foto Deva, baik yang masih bayi, balita, sampai yang sekarang. Sepertinya sang ibu sangat menyayangi anaknya yang satu itu, walau saya yakin, sang ibu juga menyayangi anak-anaknya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tibalah saya pada sebuah foto di mana Deva sedang berlari dengan raut wajah ceria. Foto ini diambil ketika acara Sate Somay awal musim semi lalu. Dan saya membaca komentar di foto tersebut..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Deva, mamah kangen... Kejar terus cita-citamu, selamat Idul Fitri&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya seketika... Ya Allah... Saya sangat terenyuh. Saya terdiam beberapa saat lalu tak terasa air mata ini mengalir, tak berhenti-berhenti... Saya langsung ingat mamah di Jakarta, saya merasakan bagaimana kerinduannya, bagaimana harapannya pada saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Kasih ibu, kepada beta, tak terhingga sepanjang masa...&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, di sisa hidupku aku ingin selalu berbakti kepadamu, membahagiakanmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Mama, how are you today?&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-336809511784884227?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/336809511784884227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=336809511784884227' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/336809511784884227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/336809511784884227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/12/antara-ibu-dan-jarak-dunia.html' title='Antara Ibu dan Jarak Dunia'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-8211528155517006953</id><published>2010-12-09T21:38:00.007+01:00</published><updated>2010-12-12T21:43:25.725+01:00</updated><title type='text'>Soy una Raya en el Mar</title><content type='html'>&lt;p&gt;Soy una Raya en el Mar&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Canopus!” Teriaknya. “Tunggu aku!”&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Absurd.  Langit ketika itu berwarna ungu. Capella menjerit-jerit sambil berlari  mengejar kereta yang semakin melaju cepat meninggalkan peron di stasiun  itu. Hilang. Kereta sudah terlampau jauh berjalan. Capella tidak  terlihat lagi di kaca jendela. Namun jika Canopus terpejam, ia bisa  melihat gadis itu sedang merunduk memecahkan tangis yang luar biasa  hebat, meraung-raung. Absurd, dilihatnya kali ini langit berwarna hijau.  Olarin menembus bayangan ruang dan waktu, menyapanya pada titik bisu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Bisakah kau menjawabku?” cecarnya. “Sekarang juga, Canopus, aku sudah tak tahan!”&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Olarin  sedang buta. Buta oleh sesuatu yang buta dan membutakan. Segala apa  yang Canopus perbuat menjadikan ia buta. Perhatiannya maka jadilah ia  buta di sana. Sementara Capella masih menangis dalam bayangan dengan  sesal yang mendalam. Ia sudah lupa rasanya tertawa dan bahagia. Padahal  ia tahu, Capella tidak bisa tertawa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kawan, kelak engkau akan tahu mengapa Allah mempertemukan dan memisahkan mereka.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sudah  terlambat, Capella. Dunia berputar dan musim berubah. Canopus baru saja  menyelematkanmu dari lembah jurang yang nista. Bukankah kau tahu bahwa  apa yang kau lihat baik belum tentu baik untukmu. Bahwa apa yang kau  rasa sakit belum tentu buruk untukmu. Canopus masih memejamkan mata  untuk bertemu dengan Capella di alam bayangan sana. Ia berusaha  menjelaskan segalanya ketika langit masih berwarna hijau. Olarin tahu,  Canopus telah mengorbankan segalanya. Ia telah memulai keputusan ini  yang sudah lama ia tunggu-tunggu, yang ia redam-redam sedari dulu. Makin  jelas bukan? Singkap Olarin dalam batas pemikiran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kenapa  baru sekarang?!” tanya Capella dengan parau ketika tubuhnya terhampar  di tepi peron yang perlahan mulai ditumpuki salju. Jawabannya mudah,  karena Canopus sangat perasa dan sulit mengatakan tidak. Ia tidak pernah  mengatakan tidak, atau lebih tepatnya, ia tidak bisa mengatakan tidak.  Maka, keputusan ini merupakan keputusan terberat yang ia kerjakan karena  ia mesti mengatakan tidak, pada Capella, pada Olarin dan pada hatinya  sendiri. Dan ia mengatakannya, akhirnya setelah sekian lama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Olarin  mendekati Capella yang terkulai. Wajah berkulit putih itu tercoreng  dengan dua garis merah yang bermula dari kedua bola matanya dan saling  menyatu di ujung dagunya. Pandangannya sayup, mulutnya ternganga. Kisah  itu berlanjut, kata Olarin dalam hati melalui pandangannya pada gadis  malang itu. Canopus telah menyelamatkanmu dari lembah jurang yang nista,  bukankah kau tidak akan pernah tahu apa yang terbaik untukmu?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Masa-masa itu tidak datang dua kali, kawan. Engkau tahu, seseorang akan merasakan segalanya ketika ia kehilangan.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia  tertawa, keras sekali, menyerupai gelegar di dunia tanpa halilintar.  Canopus, Capella, Vega. Dan Vega yang ketiga. Ia seorang ksatria, jadi  biarlah Vega yang menjelaskan mengapa lebah meninggalkan bunganya  terlebih dahulu sampai bunga itu bermadu lagi, maka lebah akan  mendatangi bunga itu dalam keadaan yang lebih indah, pada musim semi  berikutnya. Kini Vega yang mendatangi Olarin dengan kuda ksatrianya,  menyembul di balik awan-awan dan meminta kesabaran. Bukan Vega yang  memainkannya, tetapi karena buta yang sedang menyelimutinya. Vega bukan  yang terbaik, walau Olarin bersikeras bahwa Vega yang terbaik, atau  mungkin benar Vega yang terbaik, tetapi ksatria itu tak pernah  menganggap dirinya baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Biarlah Canopus terlihat seperti  seorang bajingan, Vega seperti seorang ksatria, Olarin bak putri  khayangan, dan Capella seperti mahluk hina tak bernyawa. Semua memainkan  perannya, peran yang teramat kecil di pentas jagad raya yang luar biasa  besar. Seperti jutaan protein yang memiliki fungsinya sendiri-sendiri  demi mempertahankan hidup sebuah sel, tetapi sel tetaplah sel, yang  membentuk jaringan menjadi organ, dan organ menjadi tubuh. Lihatlah,  bukankah protein juga terbentuk dari asam amino, dari atom-atom C, H, O,  N – kadang-kadang S, dan berupaya mempertahankan strukturnya menjadi  sebuah protein dalam memainkan perannya. Ah, bukankah atom-atom itu  masih dibentuk oleh proton dan neutron. Lantas, kemanakah foton, quark,  gelombang, ketiadaan? Kemanakah manusia di alam jagad raya dunia? Bumi?  Galaksi? Canopus? Capella? Vega? Denebola? Semesta?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Soy una raya en el mar&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ya,  dan aku bagaikan setitik garis di lautan. Tak ada artinya bila dihempas  ganasnya ombak. Aku kecil dan tetap akan kecil. Aku besar karena Tuhan  menjadikan mata kalian melihatku besar. Aku hanya ingin menjadi sebulir  pasir yang merekat di sebongkah bata dalam upayanya menyusun sebuah  bangunan yang mahaindah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan salju pertama turun  lamat-lamat dengan penuh kesyahduan. Memutihkan segala. Memerihkan asa.  And the story begins in Madrid. •&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berlin, 9 Desember 2010&lt;/p&gt;&lt;p&gt;FLP Jerman.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-8211528155517006953?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/8211528155517006953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=8211528155517006953' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8211528155517006953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8211528155517006953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/12/soy-una-raya-en-el-mar.html' title='Soy una Raya en el Mar'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-4455918151457364349</id><published>2010-12-06T11:47:00.007+01:00</published><updated>2010-12-09T21:43:17.307+01:00</updated><title type='text'>Nguping Berlin</title><content type='html'>Terinspirasi dari &lt;a href="http://ngupingjakarta.blogspot.com/"&gt;Blog Nguping Jakarta&lt;/a&gt; yang membuat sa&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;&lt;/span&gt;ya terbahak-bahak.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;Blog ini adalah versi Indonesia dari blog original untuk kota New York. Sangat entertaining, terlebih dialog yang ditulis memang sangat menggambarkan kota Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;1. Menurut loe kelakuan loe plus?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cewek #1&lt;/span&gt;: Eh dingin gila, suhunya minus! Kayak kelakuanlo...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cewek #2&lt;/span&gt;: ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Didengar oleh cewek #3 yang mendadak nggak mau temenan lagi sama cewek #1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;2. Bukan... Tapi salah cewek-cewek yang ngejer-ngejer loe&lt;/span&gt;!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cowok&lt;/span&gt;: Terus, ini semua salah gue? Salah muka tampan gue?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cewek&lt;/span&gt;: ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketika kantin sabtu, didengar oleh seorang cowok yang langsung kehilangan nafsu makan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;3. Berarti gue bakalan hilang dong?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cowok #1&lt;/span&gt;: Eh, gue mau ke toilet nih...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cowok #2&lt;/span&gt;: Ngapain?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cowok #1&lt;/span&gt;: Mau nge-flush elo...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cowok #2&lt;/span&gt;: ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Didengar oleh orang-orang yang langsung mengasihani betapa hinanya cowok #2 itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;4. Hebat, kakak nggak perlu belanja makanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kakak kelas&lt;/span&gt;: Lo kalau buka puasa ngapain?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adik kelas&lt;/span&gt;: Makan yang manis-manis lah, kurma misalnya.. Kalau lo?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kakak kelas&lt;/span&gt;: Ngaca. Gue kan manis.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adik kelas&lt;/span&gt;: ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Didengar oleh orang-orang disekelilingnya yang benar-benar mau mencicipi si kakak kelas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;5. Kalau be confident apa dong bu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ABG labil #1&lt;/span&gt;: Eh, kita harus be ourself!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ABG labil #2&lt;/span&gt;: Iya! Be myself, be yourself!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ABG labil #1&lt;/span&gt;: Bu X, tahu nggak arti be yourself?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Si ibu itu&lt;/span&gt;: Tahu dong, percaya diri kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Didengar di Restoran Libanon yang membuat ABG-ABG yang lain takut kena kualat oleh si ibu itu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-4455918151457364349?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/4455918151457364349/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=4455918151457364349' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/4455918151457364349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/4455918151457364349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/12/nguping-berlin.html' title='Nguping Berlin'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-5581183226618188801</id><published>2010-12-02T20:39:00.002+01:00</published><updated>2010-12-02T21:13:28.893+01:00</updated><title type='text'>Di Kala Salju Turun</title><content type='html'>Di kala salju perlahan-lahan turun, lamat-lamat, suasana menjadi sangat syahdu. Jika Tuan melihat bagaimana salju itu menumpuk di pelataran, turun dari langit yang kelabu, memutihi ranting-ranting pohon, Tuan akan merasakan seakan-akan waktu berputar menjadi sangat pelan, dunia seakan menjadi sangat hening, nafas berhembus menjadi sangat panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan mempersiapkan ruangan tempat Tuan akan menghabiskan sore. Menggeser sofa kecil Tuan agar berhadapan dengan jendela dan menyelimutinya dengan selimut tebal yang lembut. Tuan juga tidak lupa meletakkan bantal-bantal kecil dan secangkir coklat panas di meja pada sisi samping sofa Tuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara dingin bisa merasuki ruangan Tuan, maka Tuan membakar seikat kayu di perapian yang hangatnya menjalar ke seluruh ruangan. Tak lupa Tuan mengenakan kaus kaki tebal dan baju yang bisa menahan panas untuk tidak keluar dari tubuh Tuan. Kelabu di luar ikut menggelapkan ruangan, tapi Tuan tidak perlu menyalakan lampu-lampu, cukup bara-bara api di perapian sudah memberikan sebilas warna-warna merah jingga yang halus di hitam yang semakin pekat.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sudah persiapan Tuan, kini Tuan beranjak menuju sofa dan menyelimuti Tuan dengan kehangatan yang nyaman. Tuan pandangi salju-salju itu di luar yang turun menderas, tetapi perlahan. Satu-satu... dua-dua... tiga-tiga... Lalu Tuan menyeruputi coklat panas, membiarkan mulut Tuan mengecapi manis yang kental, dan menelannya, menjadikan tenggorokan sampai perut Tuan dijalari hangat-hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan menangis. Ah tidak. Hanya air mata. Tuan bilang itu bukan tangisan karena Tuan tidak ingin menangis. Tapi salju-salju tadi mengatur kata hati Tuan untuk membuka satu sisi di hati Tuan yang selama ini Tuan tutupi rapat-rapat dan terkunci. Tapi sudahlah, Tuan tetaplah Tuan, lelah jika Tuan terus menerus menunjukkan bahwa Tuan itu kuat tapi sebenarnya Tuan hancur dan penuh luka. Tuan menahan derita bahwa bagaimanapun Tuan berusaha, keadaan tetaplah akan sama walau semua tahu bahwa Tuan tidak mudah menyerah, bahkan Tuan tidak akan menyerah. Tuan tidak akan pernah lelah. Tapi Tuan mesti sadar, bahwa semuanya tidak akan lagi menjadi sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salju turun lamat-lamat, pelan-perlahan, syahdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan mengantuk, lalu Tuan tertidur. Lelap sekali. Dengan air mata yang menganak sungai. Tuan telah menjadi Salju. Lalu Tuan bermimpi tentang Salju yang mengorbankan diri agar Tuan bisa terus hidup. Walau Tuan tahu, Tuan terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 2010.&lt;span style="font-family: webdings;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-5581183226618188801?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/5581183226618188801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=5581183226618188801' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5581183226618188801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5581183226618188801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/12/di-kala-salju-turun.html' title='Di Kala Salju Turun'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-6286945405502799813</id><published>2010-12-02T16:29:00.002+01:00</published><updated>2010-12-02T16:40:19.974+01:00</updated><title type='text'>Penghukumannya di Dunia</title><content type='html'>&lt;h3 style="font-weight: normal;" class="UIIntentionalStory_Message" ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:&amp;quot;msg&amp;quot;}"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="UIStory_Message"&gt;Tiada  dosa yang paling layak untuk dipercepat penghukumannya oleh Allah di  dunia, di samping hukumannya yang disimpan bagi pelakunya di akhirat,  selain dosa karena kezaliman dan pemutusan tali silaturahim - HR.  Baihaqi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-6286945405502799813?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/6286945405502799813/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=6286945405502799813' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/6286945405502799813'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/6286945405502799813'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/12/penghukumannya-di-dunia.html' title='Penghukumannya di Dunia'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-3361316088180420907</id><published>2010-11-30T11:08:00.003+01:00</published><updated>2010-11-30T12:07:04.174+01:00</updated><title type='text'>Stipendienmöglichkeiten</title><content type='html'>Sebagian besar mahasiswa Indonesia yang mengikuti program bachelor atau master datang untuk menuntut ilmu ke Jerman dengan beasiswa dari yayasan ayah bunda. Sebagian dari mereka ada yang berasal dari keluarga dengan ekonomi cukup, ada juga yang berasal dari keluarga dengan ekonomi cukup untuk membiayai beberapa bulan/tahun saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyambung hidup saya tahu benar betapa beratnya berkerja sambil berkuliah. Sebagian besar mahasiswa Indonesia hanya tahu bahwa tidak ada beasiswa untuk mahasiswa asing apalagi yang sudah memulai kuliahnya di sini. Nah, pada cerita saya kali ini, saya akan memaparkan beberapa informasi tentang beasiswa untuk mahasiswa asing yang sudah berkuliah di sini. Pesan saya, coba saja untuk melamar, tidak perlu ragu karena tertahan persyaratan yang mungkin belum terpenuhi, karena tidak ada salahnya mencoba dan berusaha. Siapa tahu Allah punya rencana. Tertarik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalian yang sedang berkuliah, silahkan lihat kemungkinan-kemungkinan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Friedrich-Ebert-Stiftung e.V.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;++ Friedrich-Ebert-Stiftung e.V.&lt;/strong&gt; Die Friedrich-Ebert-Stiftung fördert überdurchschnittlich begabte und gesellschaftspolitisch engagierte ausländische Studierende und Graduierte aller Fachrichtungen. Sie vergibt verlängerbare Jahresstipendien für Studierende bis zum ersten Abschluß sowie für Graduierte zur Promotion. Antragsunterlagen aufgrund formloser schriftlicher Bewerbung. Bewerbungstermin: &lt;strong&gt;jederzeit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;table summary="Friedrich-Ebert-Stiftung" class="contenttable" border="0"&gt;&lt;thead&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;&lt;strong&gt;Friedrich-Ebert-Stiftung   e.V.&lt;/strong&gt;&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/thead&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr class="odd"&gt;&lt;td&gt;Abt.   Studienförderung&lt;br /&gt;Godesberger Allee 149&lt;br /&gt;53170 Bonn&lt;br /&gt;Tel.: 0228/883-0 und&lt;br /&gt;Hiroschimastr.17, 10785 Berlin&lt;br /&gt;Tel. 030/26 93 56&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.fes.de/" class="extern"&gt;www.fes.de&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Friedrich-Naumann-Stiftung e.V.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;++ Voraussetzung für eine Bewerbung bei der Friedrich–Naumann-Stiftung sind Hochbegabung, charakterliche Qualitäten und liberales politisches und gesellschaftliches Engagement. Gefördert werden Erststudien, Aufbaustudien und Promotionen. Ausländische Studierende können sich nach einer akademischen Zwischenprüfung (z.B. Vordiplom), allerdings nicht mehr kurz vor Beendigung des Studiums bewerben. Bewerbungstermin: &lt;strong&gt;31. 05. und 30. 11.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Friedrich-Naumann-Stiftung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wissenschaftliche   Dienste und&lt;br /&gt;Begabtenförderung&lt;br /&gt;Karl-Marx-Str. 2&lt;br /&gt;14482 Potsdam&lt;br /&gt;Tel. 0331 / 7019-0&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.fnst.de/" class="extern"&gt;www.freiheit.org&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Heinrich-Böll-Stiftung e.V.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;++ Die Heinrich-Böll-Stiftung fördert Studierende und Graduierte aller Fachrichtungen und Nationalitäten, in Universitäten und Fach-/Hochschulen.&lt;br /&gt;Sie erwartet von ihren StipendiatInnen hervorragende Studien- bzw. wissenschaftliche Leistungen, gesellschaftliches Engagement und eine aktive Auseinandersetzung mit den Grundwerten der Stiftung: Ökologie, Gewaltfreiheit, Solidarität und Demokratie. Bewerbungstermin: &lt;strong&gt;1.3. und 1.9.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;table summary="Heinrich Böll Stiftung" class="contenttable" border="0"&gt;&lt;thead&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;&lt;strong&gt;Heinrich-Böll-Stiftung   e.V.&lt;/strong&gt;&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/thead&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr class="odd"&gt;&lt;td&gt;Studienwerk&lt;br /&gt;Schumannstr. 8&lt;br /&gt;10117 Berlin&lt;br /&gt;Tel. 030 / 285 34-0&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.boell.de/studienwerk" class="extern"&gt;www.boell.de/studienwerk&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rosa-Luxemburg-Stiftung e.V.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;++ Die Stiftung vergibt Stipendien an Studierende und Promovierende, die sich für soziale Gerechtigkeit, lebendige Demokratie und Freiheit kritischen Denkens einsetzen. Die Bewerber/innen sollen sich durch politisches und gesellschaftliches Engagement und hohe fachliche Leistungen auszeichnen. Die Stiftung betrachtet die Förderung von Frauen als vorangige Aufgabe. Bewerbungstermin: &lt;strong&gt;30.04.&lt;/strong&gt; und &lt;strong&gt;31.10&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;table summary="Rosa Luxemburg Stiftung" class="contenttable" border="0"&gt;&lt;thead&gt;&lt;tr&gt;&lt;th&gt;&lt;strong&gt;Rosa-Luxemburg-Stiftung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/thead&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr class="odd"&gt;&lt;td&gt;Studienwerk&lt;br /&gt;Franz-Mehring-Platz 1&lt;br /&gt;10243 Berlin&lt;br /&gt;Tel: 030/ 44 31 02 23&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.rosaluxemburgstiftung.de/" class="extern"&gt;www.rosalux.de&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalian yang sedang menulis tugas akhir dan hampir selesai, silahkan tengok:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Studentenwerk Berlin - Sozialberatung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;++ &lt;strong&gt;Studentenwerk Berlin – Sozialberatung&lt;/strong&gt; Zuschußmöglichkeiten bestehen in erster Linie für ausländische Studierende im Grund- und Hauptstudium,die nicht nach § 8 BAföG berechtigt sind, ihr Studium bisher durch eigene Arbeit finanziert haben &lt;strong&gt;und&lt;/strong&gt; - die sich in &lt;strong&gt;Prüfungssituationen&lt;/strong&gt; befinden oder&lt;br /&gt;- die nach einem ärztlichen Attest &lt;strong&gt;arbeitsunfähig&lt;/strong&gt; krank sind.&lt;br /&gt;Grundlage der Vergabe bilden die "Richtlinien für die Vergabe von Sozialzuschüssen". Rechtsanspruch auf einen Zuschuß besteht alllerdings nicht. Bewerbungstermin: &lt;strong&gt;jederzeit&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Studentenwerk   Berlin&lt;br /&gt;Sozialberatung&lt;/strong&gt;Hardenbergstr. 34&lt;br /&gt;10623 Berlin&lt;br /&gt;Zi. 22-24 (3. Etage)&lt;br /&gt;Tel.: 93939-8403 /-8405 /-8406&lt;br /&gt;Di. und Do. 8.30-11.30 Uhr&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.studentenwerk-berlin.de/bub" class="extern"&gt;www.studentenwerk-berlin.de/bub&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ESG - Bereich Notfonds&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;++ Für Studierende aus Afrika, Lateinamerika und Asien (Ausnahme Südkorea) besteht in akuten Notlagen oder in der Abschlussphase des Hauptstudiums die Möglichkeit, einen Antrag auf Unterstützung aus dem Notfonds des Diakonischen Werks der EKD (Evangelische Kirche Deutschlands) zu stellen. Bei wiederholter Antragsstellung ist gesellschafts- oder entwicklungspolitisches Engagement nachzuweisen. Bewerbungstermin: &lt;strong&gt;jederzeit&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Notfondsreferent: Pfarrer Fedor Pfistner&lt;br /&gt;Borsigstr. 5, 10115 Berlin&lt;br /&gt;Tel. 391 051 34;&lt;br /&gt;E-mail: &lt;a href="http://www.tu-berlin.de/index.php?id=38&amp;amp;ask_mail=SMfSygAGkFOsLLZAfeVReOP3ya6lqVXyfPICz+1b8BE=&amp;amp;ask_name=%20BUERO&amp;amp;tipUrl=22251" class="feedback"&gt;notfonds@esgberlin.de &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Telefonische Beratung und Terminvereinbarung: Mo., Di., Do.10.00-12.00 Uhr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Deutscher Akademischer Austauschdienst - DAAD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;++ Die Bewerbung muss &lt;strong&gt;vor&lt;/strong&gt; Aufnahme des Studiums oder der Promotion über &lt;strong&gt;die Deutsche&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;Botschaft bzw. das Erziehungsministerium im Heimatland&lt;/strong&gt; erfolgen. In der Regel sind Bewerbungen von schon in der BRD Studierenden nicht mehr möglich. Außerdem vergibt der DAAD einmal jährlich &lt;strong&gt;Studienabschluss-Stipendien für die Dauer von max. 6 Monaten;&lt;/strong&gt;  Bewerbungstermin: ca. &lt;strong&gt;Mai / Juni&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Deutscher   Akademischer Austauschdienst&lt;br /&gt;(DAAD) &lt;/strong&gt;Kennedyallee   50&lt;br /&gt;53175 Bonn&lt;br /&gt;Tel.: 0228/882- 0&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.daad.de/" class="extern"&gt;www.daad.de&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi kalian yang ingin melanjutkan S3:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konrad-Adenauer-Stiftung e.V.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;++Die Konrad-Adenauer-Stiftung fördert vorrangig ausländische Graduierte, die an einer deutschen Hochschule zur Promotion berechtigt sind. Mindestvoraussetzung ist die Einstufung ins Hauptstudium. Es werden in erster Linie fachlich hervorragende, gesellschaftspolitisch interessierte Bewerber/innen ausgewählt, die den Kontakt zur KAS in ihrem Heimatland herstellen. Bewerbungstermin: &lt;strong&gt;ab April bis Ende Juli&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;Konrad-Adenauer-Stiftung   e.V.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ausländerförderung&lt;br /&gt;Kontakt: Martina Nabsdyjak&lt;br /&gt;Rathausallee 12&lt;br /&gt;53757 St. Augustin&lt;br /&gt;Tel. 02241/ 246- -2321 und&lt;br /&gt;Klingelhöferstr. 23&lt;br /&gt;10785 Berlin&lt;br /&gt;030/269 96-0&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kas.de/" class="extern"&gt;www.kas.de&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nafög&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;++ Nach dem Nachwuchsförderungsgesetz des Landes Berlin können deutsche und ausländische Doktorandinnen und Doktoranden bei weit über dem Durchschnitt liegenden Leistungen (insbesondere beim Hochschulabschluss) ein 'Elsa-Neumann-Stipendium' zur Vorbereitung auf die Promotion beantragen. Die Regelförderungszeit beträgt zwei Jahre. Außerdem besteht die Möglichkeit, ein Promotions&lt;strong&gt;abschluss&lt;/strong&gt;-Stipendium für max. ein Jahr zu beantragen.&lt;br /&gt;Nachwuchsförderungsgesetz (Nafög)&lt;strong&gt;Antragstellung: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Frau Hördt (K 36)&lt;br /&gt;Zimmer H 1039&lt;br /&gt;Tel. 314-23 929&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.tu-berlin.de/allgemeine_seiten/e-mail-anfrage/id/6984/?no_cache=1&amp;amp;ask_mail=TPTFNQAD6SpbAIy2gTm6V0uOBwdH6zE%2BMlEEKHsZ%2BAf%2F0RyqxBdp0g%3D%3D&amp;amp;ask_name=SUSANNE%20HOERDT" class="feedback"&gt;susanne.hoerdt@tu-berlin.de&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di. und Do. 9-12 Uhr und nach telefonischer&lt;br /&gt;Vereinbarung&lt;br /&gt;Antragstermine: jeweils April und Oktober&lt;br /&gt;für eine Förderung ab 1.Juli bzw. 1. April&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan bermanfaat. Selamat mencoba!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-3361316088180420907?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/3361316088180420907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=3361316088180420907' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/3361316088180420907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/3361316088180420907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/11/stipendienmoglichkeiten.html' title='Stipendienmöglichkeiten'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-1568898499770544096</id><published>2010-11-29T21:09:00.003+01:00</published><updated>2010-11-30T00:29:26.049+01:00</updated><title type='text'>Pelukmu, Dekapanmu, Hangatmu</title><content type='html'>Aku tak akan pernah lupa saat tahun lalu aku melihat wajahmu kembali setelah tiga tahun tak bertemu. Ada banyak perubahan, terlalu banyak malah, yang menyadarkanku bahwa waktu memang terus berputar dan aku semakin tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak akan pernah lupa saat kemarin aku melihat lagi wajahmu. Siang itu, selepas salat zuhur, aku menuruni anak tangga dan melihatmu di sana. Kau tampak sangat berbahagia dengan kehadiranku, serta langsung memelukku, dekap sekali, hangat sekali dan kau tidak kunjung melepaskannya. Tiba-tiba aku sadar, bahwa ada rasa seperti ketika aku kecil dulu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, aku adalah anak yang manja dan cengeng. Aku masih ingat setiap kali aku menginginkan sesuatu, aku merengek sambil memeluki kakimu. Aku masih ingat setiap kakakku mengganggu, aku mengadunya kepadamu sambil memeluki kakimu, menangis sampai kamu menggendongku dan membuatku tertawa kembali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat cerita Sangkuriang, cerita si Amri yang punya bibi rusa dan tinggal di atas gunung, yang gemar kau ceritakan kepadaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat semua pengorbananmu, untuk menjadikan aku menjadi aku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku hanya bisa terpaku dalam pelukanmu, bukan karena tidak tahu, justru karena aku sangat tahu sehingga aku memilih membisu. Aku ingin dekapan itu tidak cepat berlalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar -- hanya itu yang bisa aku bisikkan. Pah, aku ingin membuatmu bangga. Pah, sungguh, aku hanya ingin membuatmu bangga. Senyummu dan senyum mama adalah segalanya. Walau aku seorang yang banyak kekurangan, aku ingin yang sedikit dariku bisa membuat kau bangga. Pah, aku rindu padamu, sangat rindu, semoga kita bisa segera kembali bertemu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-1568898499770544096?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/1568898499770544096/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=1568898499770544096' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/1568898499770544096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/1568898499770544096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/11/pelukmu-dekapanmu-hangatmu.html' title='Pelukmu, Dekapanmu, Hangatmu'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-3538397874416875129</id><published>2010-11-17T00:13:00.001+01:00</published><updated>2010-11-17T00:14:52.523+01:00</updated><title type='text'>Kivu Bukavu</title><content type='html'>Kivu, kau yang terindah,&lt;br /&gt;bisik Hemmingway.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menangis,&lt;br /&gt;tapi danau tak bisa menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Helvy Tiana Rosa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-3538397874416875129?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/3538397874416875129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=3538397874416875129' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/3538397874416875129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/3538397874416875129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/11/kivu-bukavu_17.html' title='Kivu Bukavu'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-8396216168245275309</id><published>2010-10-25T10:44:00.002+02:00</published><updated>2010-10-25T11:05:38.095+02:00</updated><title type='text'>Aku Sebagai Manusia</title><content type='html'>Aku sebagai manusia meretas gelap malam dan pada diriku menjadi manusia gelap&lt;br /&gt;Aku sebagai manusia menceracau dengar ceracau dan pada diriku menjadi pendengar ceracau&lt;br /&gt;Aku sebagai manusia membuta cinta membutakan dan pada diriku menjadi korban buta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bola yang sudah tergeletak di bawah dilemparkannya lagi ke langit-langit&lt;br /&gt;Menemukan titik jenuhnya dan menghempas lantak ke arah gravitasi&lt;br /&gt;Ini mungkin yang dicari dan pada manusia itu menemukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sebagai manusia menuntaskan keinginan dan pada diriku menjadi manusia penuntas&lt;br /&gt;Aku sebagai manusia mendera sayat di dada dan pada diriku menjadi manusia tersayat&lt;br /&gt;Aku sebagai manusia pemegang ubun-ubun ketiga dan pada diriku menjadi manusia ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon pentas yang terputar itu hanyalah kamuflase&lt;br /&gt;Menutupi aksi bisik yang sesungguhnya yang jelas terpatri di layar&lt;br /&gt;Berat memang namun pada manusia itu mesti memikulnya&lt;br /&gt;Atau mungkin yang aku kira kamuflase itu juga adalah kamuflase&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang pagi dan pada manusia itu menjadi manusia terang benderang&lt;br /&gt;Tahu arah dan tahu kemana&lt;br /&gt;Selamat, pada manusia itu selesai melaksanakan tugas&lt;br /&gt;Selamat, pada manusia itu mesti merasakan perih kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 2010.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-8396216168245275309?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/8396216168245275309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=8396216168245275309' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8396216168245275309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8396216168245275309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/10/aku-sebagai-manusia.html' title='Aku Sebagai Manusia'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-4902514664190830182</id><published>2010-09-17T10:43:00.003+02:00</published><updated>2010-11-28T08:47:24.633+01:00</updated><title type='text'>Doha 16 Jam</title><content type='html'>Story telling tentang perjalanan pulang saya dari Jakarta menuju Berlin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat saya berangkat pukul 18:05 dari Soekarno-Hatta, kami berangkat dari rumah pukul 15:00, dan dengan kecepatan menyupir papa yang bagaikan kilat, jarak Duren Sawit ke Cengkareng hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Sampailah saya di bandara pukul 15:30 dan segera check in. Hari itu saya mengenakan sebuah kaos lengan pendek dan jeans. Bawaan saya hanya sebuah tas dorong kecil yang isinya juga tidak penuh karena alhamdulillah bagasi saya memuat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama bertanya, "mas, kamu nggak pakai jaket?"&lt;br /&gt;Saya pun menjawab, "cuma bawa cardigan ma, kan di Doha panas. Di Berlin juga masih musim panas."&lt;br /&gt;"Terus cardigannya mana?" tanya mama kembali.&lt;br /&gt;"Ini di tas ma. Nanti aja dipakainya kalau kedinginan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kami segera berpisah karena mereka akan langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung. Sebelumnya saya bertemu dengan Hasbi, juga seorang mahasiswa Indonesia di Jerman yang ternyata juga akan kembali ke Jerman sebentar lagi. Namun Hasbi tidak satu pesawat dengan saya. Dia baru akan berangkat pukul 01:00 lewat tengah malam. Batin saya, wah, menunggu keberangkatannya masih akan lama sekali. Tapi sepertinya dia akan sampai lebih dulu di Jerman daripada saya karena saya mesti transit di Doha selama 16 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung pesawat akan terbang tepat ketika waktu berbuka puasa, saya nekat membawa sebotol air mineral untuk dibawa ke kabin. Sampai pada final security check, saya memohon-mohon untuk diperbolehkan membawa botol itu ke dalam, namun tetap tidak diperbolehkan. Ya sudah, saya berikan saja air mineral itu ke petugasnya. Pesawat pun ternyata belum terbang pada pukul 18:05. Kira-kira telat hampir satu jam ketika langit sudah benar-benar gelap. Setelahnya saya baru tahu ketika membaca surat kabar online, bahwa di waktu tersebut sedang ada gangguan radar pengontrol di Soekarno-Hatta. Pantas pesawat telat take off, namun alhamdulillah tidak ada kejadian apa-apa, kami terbang dengan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah saya di Doha. Dengan langkah cepat saya buru-buru masuk ke dalam bandara dan segera melewati security check karena saya ingin segera masuk ke quiet room agar bisa segera tidur di sana. Karena kapasitas tempat istirahat di quiet room itu terbatas sementara hari sudah malam, maka prinsip siapa cepat dia dapat berlaku. Ternyata kekhawatiran saya menjadi kenyataan, quiet room penuh, artinya saya harus bergadang tidak tidur semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiga jam berinternet, saya KO juga. Mata sudah perih mengantuk, badan sudah pegal-pegal karena duduk terlalu lama, dan bandara Doha full ac sementara saya hanya berkaos lengan pendek. Jadilah saya kedinginan, tapi alhamdulillah saya sudah membawa selimut pesawat karena saya yakin pasti akan berguna. Iseng-iseng saya menuju ke quiet room lagi, dan ternyata di sana ada satu tempat kosong! Segera saya tempati untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun anehnya, saya tidak bisa tertidur. Saya sudah kenakan cardigan dan selimut, tapi tetap saja merasa kedinginan. Dan tempat tidur di sana kurang nyaman. Jadi bentuk tempat tidur itu bukan untuk terlentang, tetapi seperti kursi malas  yang biasa ada di pinggir pantai. Kursi tersebut berbahan kulit, jadi jika ditiduri, kita akan merosot terus. Alhasil bukannya tidur, saya malah sibuk mencari posisi enak sambil terus menahan badan agar tidak merosot. Punggung pun mulai sakit dan sekujur tubuh semakin pegal-pegal. Saya hanya tertidur satu jam saja, sebelum kembali terbangun dan tertidur sedikit-sedikit. Suara panggilan keberangkatan terus berbunyi yang membuat saya tidak bisa tertidur. Ruangan itu semakin penuh dengan manusia, dari berbagai ras, bahkan ada yang sampai tidur di lantai. Semakin lama semakin pengap, seluruh nafas berbaur jadi satu di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 5 pagi, saya keluar dari ruangan itu, bergegas ke musholla untuk salat subuh. Saya niatkan hari itu untuk berpuasa, walaupun saya belum makan apapun dan sebenarnya saya tidak harus berpuasa karena sedang berada di perjalanan. Setelah salat, badan semakin terasa tidak enak, tubuh semakin menggigil, kepala semakin pusing, perut terasa mual, seluruh persendian sakit semua. Saya sepertinya masuk angin, segera saya ambil minyak angin dan memijat diri sendiri. Lalu saya istirahat di lobi sambil berinternet. Keadaan saya semakin memburuk, saya benar-benar kedinginan dan kepala saya benar-benar pusing. Akhirnya saya menuju health center yang juga terdapat di sana. Setelah diperiksa, suhu badan saya 40°C! Saya pun diberi paracetamol dan obat penurun panas. Tubuh saya sudah seperti melayang-layang di udara dan keberangkatan saya masih 6 jam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, saya menuju musholla dengan harapan bisa tidur terlentang di sana sampai pesawat akan berangkat. Setelah satu orang terakhir selesai salat dan meninggalkan ruangan, saya beranikan merebahkan badan. Ternyata, empat orang lain yang sudah tertidur dalam posisi duduk mengikuti saya merebahkan badan. Tak lama dua orang dari mereka meninggalkan ruangan, dan saya dengan nekad mematikan lampu musholla agar bisa tidur pulas. Namun tak lama datang petugas kebersihan yang membangunkan saya karena musholla akan dibersihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya terkatung-katung lagi. Saya kembali ke quiet room, keadaan mulai sepi karena sudah ada banyak keberangkatan pagi tadi. Karena pengaruh obat, saya tertidur, tapi tidak pulas, karena di sebelah saya ada dua anak kecil bermain-main sambil tertawa cekikikan. Dan orang tuanya membiarkan mereka begitu saja, padahal di ruangan itu ada sekitar 40 orang sedang tidur. Dengan menderita, saya paksakan tubuh saya relaks. Perut saya lapar tak terkira. Sebenarnya ada kue yang dibawakan mama sebelum saya berangkat, tapi saya tak berani memakannya karena ketika mendarat di Doha sudah diperingatkan untuk tidak makan di tempat umum karena sedang bulan Ramadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 11:00, saya tak tahan lagi berada di sana. Saya sudah seperti gembel dengan selimut digantungkan di punggung, mengitari bandara tak tentu arah. Saya pun mengambil tempat yang agak hangat untuk menunggu keberangkatan saya yang masih tiga jam lagi. Tiga jam itu rasanya sangat menyiksa. Duduk sakit, berdiri sakit, berjalan apa lagi. Badan semakin menggigil. Akhirnya terdengarlah panggilan memasuki pesawat menuju Berlin. Segera saya mendatangi gate tersebut dan berkata kepada petugas di sana bahwa saya sedang sakit dan mengingikan tempat duduk paling belakang dimana sebelahnya kosong. Permintaan saya pun dipenuhi. Saya terbang dengan dua bangku kosong di sebelah saya sehingga saya bisa tidur berselonjor. Tapi apa daya, kesehatan saya tidak mendukung, Bahkan untuk menggerakkan kaki saja terasa sangat sakit. Kali itu untuk pertama kalinya saya tidak bisa menikmati penerbangan saya. Saya ingin cepat-cepat sampai di Berlin, masuk ke rumah dan tidur di balik selimut dengan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pesawat, saya sempat berhalusinasi dan kehilangan kesadaran. Setelah terbangun dari tidur beberapa saat, saya bingung, dimanakah saya, apa yang sedang saya lakukan, mau kemana saya, lalu apa yang saya perbuat nanti. Setelah sekian menit, saya baru sadar kalau saya sedang di atas awan menuju ke Berlin. Astaghfirullah, kondisi badan saya semakin menurun, sepertinya hari itu hari terakhir saya dan saya akan merenggang nyawa di sana. Kepala saya semakin berat, lalu saya tertidur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pesawat mendarat di Berlin. Tidak seperti biasanya dimana saya menunggu seluruh penumpang keluar terlebih dahulu agar lebih leluasa, kali ini saya cepat-cepat meninggalkan pesawat. Saya ingin segera sampai di rumah. Keluar pesawat, udara dingin 13°C menusuk. Langit kali itu kelabu yang membuat saya semakin tidak betah. Antrian imigrasi cukup panjang sementara saya tidak sanggup berdiri. Bahkan ketika menunggu bagasi saja saya sampai jongkok karena badan yang perih semua. Alhamdulillah bagasi saya segera muncul dan alhamdulillah bandara Tegel memang simpel, dimana jarak dari pesawat-imigrasi-bagage claim-custom sampai dengan keluar bandara hanya sekitar 10 meter saja. Saya tidak tertangkap petugas custom dan segera saya melangkah keluar bandara, mencari taksi, dan menuju rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya, saya benar-benar hancur. Segera saya salat maghrib, tidur, salat isya dan tarawih, tidur, dan tertidur-terbangun sampai pagi. Esoknya saya berpuasa karena saya sama sekali tidak punya nafsu makan. Saya pun terkena diare yang mengharuskan saya ke toilet sampai 10 kali. Kepala saya juga terserang migrain hebat. Tiap sekian detik setiap bagian di kepala saya bergantian memberikan rasa nyeri dan sakit yang sangat. Setelah dicek di dokter dan diambil darah, saya terserang satu virus yang tidak diketahui apa. Mungkin juga, karena saya mulai sakit ketika berada di quiet room, di mana puluhan manusia berjejal dari berbagai negara. Saya khawatir saya terkena flu babi. Segera saya mencari informasi tentang flu babi, dan saya dapatkan bahwa WHO telah mengumumkan bahwa wabah flu babi telah dinyatakan selesai pada bulan Agustus 2010. Tapi waktu itu masih di bulan Agustus, bisa jadi tenyata saya korban terakhir yang membuat WHO harus mencabut kembali pernyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun alhamdulillah saya tidak sampai bersin-bersin dan radang tenggorokan. Hanya batuk-batuk kecil untuk menghilangkan rasa mau muntah. Hasil periksa darah saya mengharuskan saya melakukan pemeriksaan liver, tapi kata dokter tidak berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pergunakan satu pekan untuk beristirahat, alhamdulillah menjelang lebaran saya sembuh. Sedih juga, karena 10 hari terakhir di bulan Ramadan tidak bisa saya optimalkan. Tidak bisa i'tikaf di masjid dan lain-lain. Tapi semua pasti ada hikmahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit ini pun menurunkan berat badan saya secara drastis, senang juga sih, tapi berat itu kembali lagi karena lebaran :(&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-4902514664190830182?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/4902514664190830182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=4902514664190830182' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/4902514664190830182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/4902514664190830182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/09/doha-16-jam.html' title='Doha 16 Jam'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-154121327610357824</id><published>2010-08-28T10:57:00.004+02:00</published><updated>2010-11-28T08:48:33.730+01:00</updated><title type='text'>Gugusan di Langit Jakarta</title><content type='html'>Kelabu, itulah apa yang ku rasakan saat menanjaki langit Berlin sore itu, seperti meninggalkan bekas yang terlampau pahit, sepahit kumpulan serak-serak yang tertulis sejak awal tahun ini. Seperti tahuku, bahwa satu titik pada roda tak selamanya berada pada tempatan teratas, walau keberadaan membawa kestabilan psikologis pribadi yang tertinggi. Semuanya bagai terhempas, hampa, sebagian memiliki sebab-musabab, sebagian yang lain tanpa alasan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin garisanku dan mungkin ujianku. Sejauh burung besi ini melesat, menjauhi keperihan dan mendekati kepedihan, sedalam itu pula siluet-siluet tak menentu mengikuti. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hey you're feeling useless&lt;/span&gt;, seolah menjadi sebuah beban yang menghalangi keinginan orang lain. Dalam jejakkan pada noktah nol, kulihat ombak-berombak di sana, membayangi pemikiran, memerahkan mata, menyesakkan dada, -- dan aku mesti tegar mendongakkan kerapuhan, tetap agar basah tak menderas dari mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mungkin semua akan seperti ini sampai dengan ubahnya nanti. Namun pasti juga ini sebuah ingatan dari Allah agar aku total kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kiriman status dari Mario Teguh yang didapat melalui Facebook pada 28 Agustus 2010:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="id_4c78c760d72b07767800f" class="text_exposed_root text_exposed"&gt;Aku tahu hatimu sedang pedih,&lt;br /&gt;karena jiwa yang kau cintai&lt;br /&gt;dan kau baktikan hidupmu untuknya,&lt;br /&gt;menaruhmu di urutan akhir&lt;br /&gt;dalam perhatiannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_hide"&gt;...&lt;/span&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;Jika ia belum mampu memuliakanmu,&lt;br /&gt;engkau berharap setidaknya ia mengasihimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engkau hidup untuknya,&lt;br /&gt;tetapi mengapakah engkau seolah harus mengemis&lt;br /&gt;bagi sedikit perhatiannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adikku, bersabarlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indahkanlah dirimu, bagi Tuhanmu,&lt;br /&gt;yang akan menyelamatkanmu dari pengabaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MT&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-154121327610357824?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/154121327610357824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=154121327610357824' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/154121327610357824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/154121327610357824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/08/gugusan-di-langit-jakarta.html' title='Gugusan di Langit Jakarta'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-6773097984549987229</id><published>2010-06-06T14:47:00.003+02:00</published><updated>2010-11-28T08:48:57.109+01:00</updated><title type='text'>Recent Updates</title><content type='html'>Well, I'm back. It's been a long time not updating my blog with the latest info. Also not any new short stories. I had quiet mood writing short stories, almost finish, but need to remake up again to be perfect. Hmm, change the language.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;++ Mas Dimas, wie ist Ihr Studium?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi usai mengajar Bahasa Indonesia, saya dikejutkan dengan pertanyaan di atas dari salah seorang peserta. Dia seorang dosen Bahasa Vietnam di Humboldt Universität zu Berlin yang sejak awal mengikuti kelas Bahasa Indonesia di KBRI Berlin. Sebenarnya, dia sudah sering mengajukan pertanyaan ini kepada saya, tapi kali ini saya merasa terenyuh dengan perhatiannya terhadap keadaan studi saya. Lalu saya bertanya, mengapa dia sering menanyakan hal ini kepada saya. Lalu dia menjawab: Mas Dimas, studi Anda jauh lebih penting daripada semua ini! Anda harus menjadi seorang insinyur! Mengajar Bahasa Indonesia bisa Anda lanjutkan lagi kalau studi Anda sudah selesai, negara Anda membutuhkan insinyur-insinyur seperti Anda! Di sini mungkin Anda bisa mendapatkan banyak pengalaman dan juga kontak dengan yang lain, tapi studi Anda tetap nomor satu, studi Anda tetap bernilai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;++ Satu Bulan Bersama Irvan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal bulan Mei, Irvan menjalankan kunjungan terakhirnya ke kota nan indah - Berlin. Akhir bulan Juni, dia akan pulang habis ke Indonesia. Jodoh kami lumayan lama, kami satu SMP dan satu SMA, bahkan bersama-sama menempuh pendidikan di Jerman, yang artinya sudah lebih dari 13 tahun. Dulu saya masih ingat, bagaimana si Irvan jadi anak kesayangan guru-guru di SMP karena ke-fina-an dia yang memukau. Dia memang benar-benar fintar dan nakal. Waktu SMA, kita selalu sekelas padahal setiap kenaikan kelas selalu ada rotasi murid-muridnya. Irvan masih saja tetap fina, rajin mengerjakan LKS, duduk paling depan, dan selalu menjadi kesayangan para guru. Setiap pagi hasil kerjaan PR-nya selalu menjadi konsumsi anak-anak sekelas untuk disalin. Lalu kita menjalani semuanya bersama, persiapan ke Jerman, sampai di Jerman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tanggal 25 Juni nanti dia pulang. Apakah artinya jodoh kita akan usai? Seperti yang pernah saya bilang kepadanya: "Hidup itu bagaikan serangkaian episode. Setiap episode ada tokoh yang datang dan yang pergi. Bila episode yang ini usai, maka akan muncul episode baru. Juga dengan tokoh-tokoh yang baru." Yang jelas, jodoh kita akan terus berlanjut ya van. Tetaplah Fina. Nanti kalau sudah diberikan mobil baru, jangan lupa untuk menjadi my personal driver di Jakarta nanti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, kasihan Irvan, sebulan di sini jarang diajak jalan-jalan. Tapi Irvan kan senang dengan kesendirian. Jadi, justru inilah kebahagiaannya yang hakiki :-) Selamat tinggal Jerman, dengan internetnya yang cepat, dengan keteraturannya, dengan udaranya yang bersih, dengan hidupnya yang nyaman, dengan keindahannya, dengan keperihannya. Selamat datang Indonesia, dengan kehangatannya, dengan keramahannya, dengan makanannya yang enak-enak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;++ Berwarna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bulan Mei kemarin cukup berwarna. Dari serangkaian kegiatan masjid yang super banyak, sampai dapat post facebook dari orang yang tidak dikenal berisikan fitnah-fitnah yang kejam. Dari rasa bahagia, rasa harap, sampai rasa sedih yang tak terperi menyaksikan pembunuhan tentara Israel kepada kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza. Dari kekuatan untuk tidak terjatuh pada titik terlemah, sampai pada kontemplasi melihat keadaan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;++ I'm back to be a good medical biotechnologist&lt;br /&gt;++ Sukseskan Renews 2010!&lt;br /&gt;++ Thanks to Muhammad Ihsan Karimi atas pembantaian dan penyiksaan  selama ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-6773097984549987229?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/6773097984549987229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=6773097984549987229' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/6773097984549987229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/6773097984549987229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/06/recent-updates.html' title='Recent Updates'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-2778999719201078248</id><published>2010-04-29T15:08:00.065+02:00</published><updated>2011-12-14T00:51:12.742+01:00</updated><title type='text'>Iklan-Iklan Kegiatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-cR7xomglVhk/Tufk6zl2p5I/AAAAAAAAAQ8/rZ9Q7u7ZG6s/s1600/WC1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-cR7xomglVhk/Tufk6zl2p5I/AAAAAAAAAQ8/rZ9Q7u7ZG6s/s400/WC1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685764753511065490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S9mFAaceCnI/AAAAAAAAAHg/3UB0f9_sqYo/s1600/Mau+Saso.jpg"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-2778999719201078248?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/2778999719201078248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=2778999719201078248' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/2778999719201078248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/2778999719201078248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/04/sate-somay-2010.html' title='Iklan-Iklan Kegiatan'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-cR7xomglVhk/Tufk6zl2p5I/AAAAAAAAAQ8/rZ9Q7u7ZG6s/s72-c/WC1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-5930931832123237366</id><published>2010-04-13T15:02:00.003+02:00</published><updated>2010-11-28T08:49:54.618+01:00</updated><title type='text'>Prosa Mata dan Sajak Hati Tak Berima</title><content type='html'>Prosa Mata dan Sajak Hati Tak Berima&lt;br /&gt;Oleh: Dimas Abdirama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan lagi aku akan menjadi orang buta. Benar, sebulan lagi dokter akan mengangkat kedua bola mataku akibat kanker di belakang retina yang makin membahayakan jaringan otak. Semuanya berlangsung sangat cepat, belum ada dua bulan, hingga mataku terasa semakin rabun dari hari ke hari, dan kacamata setebal pantat botol ini sudah tak mampu lagi mengimbangi pandanganku yang lamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terguncang? Jelas. Sedih? Pasti. Berita itu sudah cukup membalun jiwa dan ragaku seremuk-remuknya. Tapi toh untuk apa lagi? Semuanya harus terjadi. Aku hanya punya dua pilihan, kehilangan mata atau kehilangan nyawa. Memang, kehilangan mata terdengar seperti kehilangan nyawa. Bukankah tanpa mata aku tak punya lagi cita-cita? Mau melanjutkan kuliah ini? Bagaimana bisa! Mau menjadi ilmuwan dan dosen untuk membangun Indonesia? Ah, mimpi! Tubuh bacul ini hanya berujung menjadi seorang tuna netra, berharap akan ada nasib baik yang bisa membuatku bertahan sampai hari tua nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak lagi sebagas dan sebahaduri itu. Rama yang menyadarkanku. Mungkin ada sekian banyak dosa yang aku perbuat hingga Tuhan mengambil titipannya yang sangat berharga ini pada diriku. Rama menggeleng, „Justru ini bentuk kasih sayang Tuhan kepadamu, san!“ kata Rama. Aku berupaya mencerna. „Lihatlah betapa banyak orang yang tersembab dalam jurang dosa karena pandangan matanya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak aku mengangguk pelan. Betapa hangat kata-kata itu tadi mendesir di telingaku. Kata orang, sesuatu yang mengenakkan itu datang dari mata yang turun ke hati, lalu dialihkan menjadi sebuah bentuk imajinasi. Fantasi. Rama merogoh sesuatu di ranselnya lalu mengeluarkan sebuah kitab kecil yang terlihat sudah tidak lagi baru. Disodorkannya Al-Qur’an itu kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Jika kamu buta, kamu masih bisa berpuasa, salat, berzakat, berzikir. Apapun masih bisa kamu lakukan. Tapi ada satu ibadah yang mungkin akan kamu rindukan nanti... ini...“ sahutnya dengan ratapan mata yang melayu sambil ditunjuk-tunjukinya kitab itu, „kamu akan merindukan nikmatnya melafazkan ayat-ayat mahadahsyat ini.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua puluh hari waktu berjalan menjelang operasiku nanti. Ibu dan ayahku sudah mendengar berita ini di tanah air. Mereka terpukul luar biasa namun hanya bisa bersabar dan berupaya membuat aku kuat dalam menghadapi cobaan ini. Mereka tidak bisa menemani operasiku nanti, mereka harus cukup puas menerima kepulanganku nanti yang tanpa mata, tanpa ijazah, tanpa cita-cita, dan tanpa masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Semoga tidak tanpa calon pasangan...“ ucap Rama menanggapi curahan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, aku sudah utarakan kepada perempuan itu bahwa aku berniat mengkhitbahnya seusainya aku menyelesaikan studiku yang sebenarnya tinggal satu semester lagi. Setelah menulis thesis, aku sudah merampungkan amanah sekolah di luar negeri ini. Rama yang membantuku setengah mati agar gadis ayu itu mau menerimaku dan mau menunggu sampai saatnya tiba nanti. Perempuan itu mengangguk malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Siapa yang mau memiliki seorang calon suami buta, aku yakin jika dia mendengar berita ini, dia pasti akan membatalkan keputusannya...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama menatapku dengan delikan tajam. „Tidak begitu, san. Sarah itu perempuan solehah. Perempuan solehah hanya untuk lelaki soleh, dan lelaki soleh hanya untuk perempuan solehah. Siapa yang tidak mau memiliki kepala keluarga yang mampu menghapal sepuluh juz hanya dalam waktu tujuh hari?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya benar. Hari ini aku sudah menghapal hampir dua belas juz. Aku akan merindukan saat-saat bertilawah ketika aku sudah buta nanti. Jika mata ini tidak sanggup lagi aku pakai untuk membaca Qur’an, aku akan membacanya dengan hati. Dan memang, waktuku tidak banyak. Namun saat di mana seseorang terdesak dan merasa sangat sempit, di situlah saat di mana seseorang mampu mengeluarkan kekuatan supernaturalnya secara luar biasa. Mungkin kalian tidak percaya jika aku bisa menghapal secepat itu, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal sepuluh hari lagi aku bersama kedua bola mata ini. Yang bisa kulihat sekarang hanyalah dunia dengan kabut putih tebal yang buram dan bercampur baur. Aku masih paksakan mata ini untuk melahap dua juz terakhir yang menuntaskan hafalan Qur’anku sebelum aku buta. Dokter sudah berpesan agar aku tidak terlalu memaksakan mata ini untuk selalu bekerja sampai letih. Aku bergumam dalam hari, biarlah letih, toh sebentar lagi mereka akan beristirahat yang teramat panjang. Dokter juga berpesan agar aku melihat pemadangan-pemandangan yang indah sebelum keindahan itu tak mampu lagi tertangkap oleh indera penglihatan ini. Aku bertanya, keindahan yang seperti apa, dok? Keindahan hakiki atau hanya keindahan ilusi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di kota ini akhirnya mengetahui kabarku. Sejak hari ini aku akan menginap di rumah sakit sampai dengan operasi nanti untuk menjalani sejumlah terapi dan persiapan medis. Entah berapa banyak obat-obatan yang sudah terinjeksi ke badan ini. Entah betapa tak berdayanya fisik ini menjelang eksekusi nanti. Aku hanya mampu merebah di atas ranjang berbau desinfektan khas rumah sakit. Satu persatu orang datang, rupa-rupa mereka sudah tidak banyak lagi yang aku kenali. Mata ini sudah hampir sampai pada titik nol. Mereka membawakan aku bunga. Ah, untuk apa? Toh aku sudah tidak bisa lagi menebak apa warnanya. Lebih baik kalian bawakan aku doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sore itu, datang sesosok anggun dari balik kabut-kabut putih pelupuk mata ini. Aku tahu siapa dia. Seorang gadis pujaan, Sarah. Untuk pertama kalinya ia menemuiku semenjak aku mendapat kabar pilu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kapan operasinya bang...?“&lt;br /&gt;„Pekan depan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal tiga hari lagi. Dengan sabar Rama duduk di sisiku menyimak satu persatu bacaan hafalan Qur’anku. Aku telah genap menghafal seluruh isi kitab suci ini sudah sejak dua hari yang lalu. Kini tinggal aku ulang-ulangi terus sampai hati ini terasa puas dan siap merasakan nikmatnya bertilawah tanpa sepasang bola mata. Dan sampai pada ayat terakhirku, kudengar Rama terisak. Ia memeluk tubuh lemahku lama sekali sampai buliran air matanya menjatuhi wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Teruslah sabar, wahai sahabatku, Ihsan...“ bisiknya. „Kamu akan mendapat gantinya yang terbaik. Mungkin bukan Sarah yang terbaik...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukenang kembali wajah Sarah dan kejadian di sore itu saat ia menolak untuk menjalin rumah tangga bersamaku. Dan perasaan hati sebagai seorang pecundang masih begitu melekat di sini. Aku ingin mencari seekor merpati, agar bisa kuikat perasaan ini lalu membiarkannya pergi melayang jauh-jauh dari hatiku. Namun nyatanya keinginanku terlampau sulit untuk terwujud, karena Sarah selalu menjengukku akhir-akhir ini. Membawakanku berbagai buah dan makanan. Sesekali juga makan siang dan makan malam untuk Rama yang selalu bersamaku. Setiap aku merasakan kehadirannya, semakin kecut dunia yang kurasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaranglah saatnya. Sebelum ranjang dorong ini dibawa ke ruangan operasi, aku melihat dunia untuk yang terakhir kali. Dalam sayup-sayup aku melihat Rama dan orang-orang terdekatku berjejer mengelilingiku, merengkuh tanganku dan mengalunkan doa untukku. Lalu aku lihat tangan dokter yang menempelkan sebuah kain kasa dan kain hijau di seluruh wajahku. Dokter yang lain menyuntikkan bius, dan inilah saat-saat aku berpisah dengan dunia. Perlahan... makin layu... makin rabun... gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersadar. Gelap gulita. Selamat tinggal cahaya. Kedua bola mataku sudah memisahkan diri dari tubuhku. Aku berucap syukur bahwa aku masih diberi kesempatan untuk hidup kembali dari mati sesaatku. Kurasakan ranjang ini didorong menuju kamarku di mana beberapa orang sudah menunggu operasiku dengan cemas. Perban yang membalut muka ini akan dilepas selapis demi selapis, dan mereka akan melihat kekosongan pada diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Berzikir, Ihsan,“ suara Rama.&lt;br /&gt;„Yang kuat, bang!“ suara Sarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster melepaskan perban ini sampai pada lapis terakhir. Dan tiba-tiba sesuatu yang menusuk tajam masuk ke dalam rongga penglihatan ini! Secarik cahaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Aku melihat! Aku melihat cahaya!“ jeritku histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersumpah, aku bisa melihat! Aku melihat wajah Rama yang melongo dan wajah Sarah yang sangat tegang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Istighfar Ihsan, ikhlaslah pada kenyataan ini!“ ujar Rama kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpikir aku gila. Tidak! Sumpah! Aku bisa melihat! Aku melihat semuanya! Seisi ruangan ini, udara di luar jendela sana, para dokter itu, semuanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Abang, mata abang sudah diambil, abang terima kenyataan ini yah...“ sahut Sarah menahan isakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh kearahnya. Aku lihat ia menangis, namun aku melihat sesuatu yang lain pada dirinya. Oh, begitu. Ternyata ia menyukai Rama. Selama ini ia mendekatiku hanya untuk mendekati Rama. Lalu aku pandangi Rama, aku temukan juga sesuatu yang lain di auranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ini semua? Aku tidak melihat dengan mata, tapi sepertinya aku melihat dengan mata hati. Mata hati ini jauh lebih tajam dari pada mataku yang dulu. Apakah ini semua karena aku memakai mataku untuk menghafal ayat-ayatMu, Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ihsan, semua datang dari Allah dan kepadaNyalah semua kembali,“ bisik Rama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, tidak ada yang mempercayaiku kalau aku memang benar-benar bisa melihat. Kulihat Rama dengan segala ketulusan yang terpancar dari wajahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Fawatstsiqillaahumma roobithotahaa...“ ujarku sambil memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 8 April 2010&lt;br /&gt;FLP Jerman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-5930931832123237366?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/5930931832123237366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=5930931832123237366' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5930931832123237366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5930931832123237366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/04/prosa-mata-dan-sajak-hati-tak-berima.html' title='Prosa Mata dan Sajak Hati Tak Berima'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-3467343471212956436</id><published>2010-03-13T11:48:00.010+01:00</published><updated>2010-03-13T12:14:36.905+01:00</updated><title type='text'>Pustaka Aksara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S5tzQ8_YCeI/AAAAAAAAAHY/7PKDnsNfYxs/s1600-h/IMG_3850.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S5tzQ8_YCeI/AAAAAAAAAHY/7PKDnsNfYxs/s320/IMG_3850.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448074909321791970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S5tzBoHN1rI/AAAAAAAAAHQ/rsWppe637Fg/s1600-h/IMG_3849.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S5tzBoHN1rI/AAAAAAAAAHQ/rsWppe637Fg/s320/IMG_3849.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448074646019495602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S5tyzH2udAI/AAAAAAAAAHI/mpxW9iP9yGI/s1600-h/IMG_3848.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S5tyzH2udAI/AAAAAAAAAHI/mpxW9iP9yGI/s320/IMG_3848.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448074396842226690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S5tymnJhS6I/AAAAAAAAAHA/6kNQCIK9emc/s1600-h/IMG_3847.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S5tymnJhS6I/AAAAAAAAAHA/6kNQCIK9emc/s320/IMG_3847.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5448074181904255906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia, bookman old style,  palatino linotype, book antiqua,  palatino, trebuchet ms, helvetica,  garamond, sans-serif, arial,  verdana, avante garde, century gothic,  comic sans ms, times, times new  roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;We may sit in our library and yet be in all quarters of  the  earth - John Lubbock&lt;/span&gt;&lt;!--QSO--&gt;&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-3467343471212956436?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/3467343471212956436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=3467343471212956436' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/3467343471212956436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/3467343471212956436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/03/pustaka-aksara.html' title='Pustaka Aksara'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S5tzQ8_YCeI/AAAAAAAAAHY/7PKDnsNfYxs/s72-c/IMG_3850.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-6924137872653299407</id><published>2010-02-27T16:13:00.007+01:00</published><updated>2010-11-28T08:50:25.918+01:00</updated><title type='text'>Gelora Dalam Sempit Membuat Harap</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S4wXdPZQ82I/AAAAAAAAAGY/IpB9HTZWYzQ/s1600-h/auswaertiges_amt.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 135px; height: 83px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S4wXdPZQ82I/AAAAAAAAAGY/IpB9HTZWYzQ/s320/auswaertiges_amt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443751840700232546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S4wWmXrfWmI/AAAAAAAAAGA/BRYwSYZ1IWc/s1600-h/stibet_logo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 75px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S4wWmXrfWmI/AAAAAAAAAGA/BRYwSYZ1IWc/s320/stibet_logo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443750898031352418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gelora&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, tidak ada kata yang pantas aku ucap selain alhamdulillah. Dua ujian terakhir dapat terlewati dengan baik, dan hari Jumat kemarin aku mendapat sebuah kejutan dari universitasku. Seumur-umur aku belum pernah membayangkan akan mendapatkan hal ini: sebuah beasiswa. Ya, aku mendapat beasiswa dari Kementrian Luar Negeri Jerman (Auswertiges Amt) lewat DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst). Universitas memilih aku sebagai satu dari dua mahasiswa asing untuk menerima beasiswa ini karena dedikasinya memajukan hubungan pendidikan antara Jerman dan Luar Negeri serta memajukan kapasitas kemampuan mahasiswa asing melalui serangkaian pelayanan yang kami berikan. Aku pun diminta memberikan bukti bahwa selepas aku menerima beasiswa ini, ada perubahan positif yang signifikan terhadap kemajuan mahasiswa asing di kampusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sempit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu depan aku akan mengerjakan ujian lisan dari mata kuliah Molekularanalytik. Sejujurnya, aku belum terlalu siap karena selain bahannya banyak, dua minggu terakhir aku cukup disibukkan dengan berbagai aktivitas. Tetapi aku tetap optimistis, aku tidak takut karena aku punya Allah, tempat aku menggantungkan semua beban-bebanku, tempat aku meminta agar kesempitanku digantikan dengan kelapangan. Terlebih minggu kemarin aku terserang flu yang menyebabkan belajarku tidak maksimal. Sekalinya belajar di perpustakaan, aku merasa mengganggu orang-orang di sekelilingku lantaran batuk yang berfrekuensi lima menit sekali atau cairan hidung yang harus dikeluarkan dalam frekuensi sepuluh menit sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Harap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah beberapa adik-adikku sudah dapat tempat di universitas, namun masih ada beberapa yang belum dapat, semoga dalam waktu dekat ini pengumumannya dapat keluar. Semoga Allah memberikan yang terbaik. Dan sesuatu yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Allah. Semoga kita mendapat kemudahan dalam menerima keputusan Allah yang menyimpan ribuan hikmah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-6924137872653299407?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/6924137872653299407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=6924137872653299407' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/6924137872653299407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/6924137872653299407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/02/gelora-dalam-sempit-membuat-harap.html' title='Gelora Dalam Sempit Membuat Harap'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S4wXdPZQ82I/AAAAAAAAAGY/IpB9HTZWYzQ/s72-c/auswaertiges_amt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-5836004889668156687</id><published>2010-02-15T16:31:00.005+01:00</published><updated>2010-11-28T08:50:51.962+01:00</updated><title type='text'>Mengenal Sistem Imun Turunan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3mO-8dBbTI/AAAAAAAAAFw/vclHSygytz0/s1600-h/Baru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 228px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3mO-8dBbTI/AAAAAAAAAFw/vclHSygytz0/s320/Baru.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438535237057473842" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya akan memberikan kalian sedikit informasi tentang cara kerja sistem imunitas dalam tubuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem imunitas dibagi dalam dua jenis, yaitu innate immunity dan adaptive immunity. Innate immunity adalah imunitas yang dapat langsung dijalankan di detik-detik pertama ketika tubuh kita terkena infeksi, biasanya dalam kurun waktu 0-4 jam saja. Sedangkan adaptive immunity berproses agak lama, karena melibatkan serangkaian proses yang rumit dalam tahap pengenalan dan penyembuhan infeksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang akan saya tulis kali ini adalah sistem imunitas dari innate immunity. Untuk mempermudah penjelasan akan saya mulai dari: ketika tubuh kita mengalami luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat luka, bakteri atau virus dapat dengan mudah masuk ke dalam jaringan tubuh kita (misal kulit, atau luka di wilayah pernafasan bisa menginfeksi paru-paru). Yang pertama dilakukan oleh tubuh kita adalah melawan patogen yang masuk tersebut dengan apa yang disebut complement proteins. Sebelumnya, saya akan menjelaskan filosofi dari sistem imunitas. Imunitas adalah sebuah proses di mana tubuh berupaya mempertahankan identitasnya, atau dalam kata lain, tubuh harus memiliki kemampuan untuk mendeteksi segala sesuatu yang masuk dan kemampuan untuk mengetahui apakah yang masuk itu "orang dalam" atau "orang asing". Jika yang masuk itu "orang asing" maka tubuh akan berupaya menghancurkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada luka. Protein-protein yang melawan bakteri di awal-awal terjadinya infeksi disebut complementary. Ada tiga jenis cara kerja complementary dalam menghadapi infeksi. Yang pertama adalah alternative pathway, lalu ada juga classical pathway, dan mannose binding pathway. Perbedaan dari ketiganya terletak pada bagaimana si protein tersebut menempel pada bakteri. Pada alternative pathway, complementary protein yang bernama C3 akan menempel langsung pada tubuh bakteri. Sedangkan pada classical pathway, sebuat antibodi akan menempel terlebih dahulu pada si bakteri sebelum complementary protein C3 menempel di sana, dan pada mannose binding pathway, sebuah protein bernama MBL (Mannose Binding Lectin) akan menempel pada dinding sel bakteri yang terdapat senyawa gula manose, sebelum C3 menempel di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, setelah C3 menempel (dengan proses yang disebut opsonization), protein tersebut akan mematahkan diri menjadi C3a dan C3b. C3a adalah patahan yang kecil, yang akan lari ke tempat lain untuk menginisiasi inflammatory response dan merekrut leukosit (atau sel-sel antiinfeksi). C3b tetap menempel pada si bakteri. Lalu datang complementary protein yang kedua, bernama C5. Dia menempel pada badan C3a. C5 ini bertugas untuk mengaktivkan prosedur penghancuran bakteri melalui proses pembentukan molekul kompleks yang bernama MAC (membrane attack complex).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C5 juga akan mematahkan diri menjadi C5a dan C5b. C5a adalah patahan yang kecil, bersama-sama C3a juga akan pergi dan meminta bantuan leukosit serta menginisiasi proses inflammatory response. sedangkan C5b akan bergabung dengan C6, C7, C8, dan C9, membentuk sebuah kompleks untuk menghancurkan si bakteri. Bentuk kompleks tersebut seperti sebuah pipa kecil di atas membran sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kelajutan cerita C3a dan C5a? Di dalam jaringan tersebut, mereka bertemu dengan mast cell, basophile, dan eosinophile yang menyebabkan mereka mensekresi molekul yang bernama histidin dan bradykinin. Molekul tersebutlah yang membuat daerah di sekitar luka menjadi bengkak dan gatal, dan karena molekul tersebut jugalah yang memberikan sinyal kepada jaringan saraf, sehingga kita merasakan sakit pada luka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, sampai di sini proses yang hanya melibatkan protein selesai, lalu muncullah proses yang kedua, yang bernama inflammatory response. Di jaringan sekitar tempat luka, berdiam sebuah sel imunitas yang bernama macrophage (bentuk matang dari monosit). Si bakteri/virus/jamur/parasit/cacing/dll akan menempel pada macrophage di empat tempat receptor di membran selnya. Apa sajakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. CR1: Masih ingat kan tentang alternative pathway di mana si bakteri tertempel oleh molekul C3b? Nah, C3b tersebut akan menempel pada receptor ini dan untuk selanjutnya si bakteri akan ditelan ke dalam sel, terperangkap dalam phagosom, bergabung dengan lysosome yang memiliki enzym-enzym penghancur (yang gabungan antara keduanya bernama phagolysosome). Di dalam phagolysosome terjadi proses yang bernama oxidative brust di mana muncul O2 dan NO radikal yang antimikroba, dan setelah si bakteri hancur lebur, potongan-potongan itu akan dipresentasikan keluar membran sel --&gt; proses adaptive immune system, kita pelajari nanti. Proses yang saya tuliskan di sini adalah proses stadar dalam penghancuran bakteri di dalam sel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. FcR: FcR adalah receptor yang dapat menempel pada Fc-region (sebuah region dari molekul antibodi). Tadi sudah saya jelaskan di awal, bakteri juga dapat ditangkap oleh antibodi, setelah itu jika antibodinya menempel pada FcR, maka si bakteri akan tertelan dan dihancurkan seperti proses di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. MMR: Sama seperti FcR, namun receptor ini melibatkan protein MBL (mannose binding lectin) yang terjadi pada complementary mannose binding pathway. MBL dapat menempel pada dinding sel bakteri yang kaya akan manose. Setelah menempel dengan MMR, MBL akan tertelah dan bakteri akan dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. TLR: Ini yang paling "toll" (toll: keren - bahasa Jerman) TLR sendiri merupakan singkatan dari Toll-Like-Receptor. TLR ini punya kemampuan mendeteksi bentuk tubuh dari si pendatang asing melalui apa yang di sebut PAMPs (pathogen associated molecular patterns), karena bentuk sel manusia tidak sama dengan sel bakteri (bakteri punya yang disebut gram+ dan gram-), atau DNA manusia tidak sama dengan DNA virus (DNA virus biasanya termethylasi/ditempeli unsur methyl). Nah, jika si bakteri/virus/kronco-kronconya (untuk kemudian disebut pathogen) menempel pada receptor ini, selain dia bisa menelan pathogen dan menghancurkannya sesuai dengan prosedur standar, sebuah gen di inti sel yang bernama NF-kB akan teraktivasi sehingga memproduksi apa yang disebut cytokine (molekul kecil sebagai sistem komunikasi antarsel). Molekul cytokine yang dihasilkan antara lain IL-1, TNF-a, IL-6, CXCL-8, IL-12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiuh, capek kan? Tapi tetap menarik bukan? Mari kita kaji lebih jauh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa peran cytokine tersebut? Secara umum. fungsi dari cytokines yang sudah saya sebutkan di atas adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IL-1 untuk mengaktivkan vascular endothelium (dinding saluran darah), mengaktivkan limposit.&lt;br /&gt;TNF-a untuk meningkatkan kefleksibelan dinding jaringan, melokalisir infeksi agar tidak menyebar kemana-mana, mengatur aliran darah, dan bersama-sama dengan IL-1, dan IL-6 menginisiasi apa yang disebut dengan acute-phase-protein (kita bahas lagi kemudian).&lt;br /&gt;IL-6 bertugas mengaktivkan lymposit dan mendorong produksi antibodi.&lt;br /&gt;CXCL-8 merekrut neutrophil dan basophil, dan IL-12 mengaktivkan NK-Cells (Natur Killer Cell, salah satu bagian dari sel dari sistem innate immunity).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IL-1, IL-6, dan CXCL-8 berkolaborasi membuat dinding saluran darah menjadi lebih lunak, sehingga neutrophil dan eusonophil yang berada di tengah-tengah aliran darah (karena kecepatan aliran darah tersebut yang tidak memungkinkan mereka menepi ke dinding saluran), bisa merapat ke sana, dan menginduksi serangkaian proses yang melibatkan (misalnya) protein selektin yang membuat si neutrphil dan eusonophil ini keluar dari saluran darah dan pergi menuju TKP. Sedangkan TNF-a menyebabkan aliran dara tersebut tersekat-sekat (clotting) agar infeksi tidak menyebar dan agar neutrophil dan eusonophil bisa merapat ke tepian (alirannya tidak terlalu deras).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kemanakah trio IL-1, IL-6, dan TNF-a ini melancong? Yang pertama mereka pergi ke bone marrow endothelium untuk memobilisasi neutrophil. Yang kedua menjadi penunjuk jalan Dendritic cells untuk pergi melalui saluran limpa ke kelenjar getah bening dalam rangka mengaktivasi adaptive immune system (kita bahas lagi nanti). Yang ketiga pergi ke hati, dan menyebabkan hepatocytes di sana mensekresi apa yang disebut acute-phase protein. Acute-phase protein ini terdiri dari protein-protein seperti fibrinogen, SP-A, SP-D, MBL, serum-amyloid protein, dan C reaktive protein, untuk meningkatkan temperatur tubuh memalui hypothalamus. Itulah mengapa daerah sekitar luka kita terkadang panas, atau juga ketika kita terinfeksi kita sering mengalami demam. Nah, peningkatan temperatur tubuh tersebut diperlukan agar si pathogen tidak berkembang biak. Untuk mendapatkan panas, kita butuh energi bukan? Energi itu juga didapat dari si trio IL1/IL6/TNF-a karena mereka juga transit di jaringan lemak untuk membakar diri dan menyupai energi. Selain itu, trio maut itu juga mensekresi complementary proteins yang sudah kita bahas di awal tadi! Kayak benang kusut bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik dari TNF-a, sesuai kerjanya, dia melokalisir infeksi agar tidak pergi kemana-mana dengan cara membuat jaringan di saluran darah sekitar tempat infeksi. Nah, jika ternyata infeksi tersebut kebobolan ke saluran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, semua sel di tubuh akan mengeluarkan TNF-a secara sistematis. Artinya, penyumbatan pembuluh darah (septic) akan terjadi di mana-mana yang menyebabkan turunnya angka peredaran plasma darah dan menyebabkan shock. Proses ini dinamakan septical shock dan bisa menyebabkan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tadi yang kita bahas adalah pathogen dalam bentuk bakteri, sekarang bagaimana dengan cacing? Cacing kan besar, tidak sepadan dengan sel yang kecil-kecil. Oleh karena itu, biasanya si cacing akan ditempeli oleh antibody (misalnya IgE). Setelah itu IgE akan menempel dengan mast cells atau eusonophil atau juga basophil agar mereka mengeluarkan granula-granula, yang bisa membunuh si cacing tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan virus? Virus punya keunikan tersendiri, yaitu dia menginfeksi sel kita dengan menginjeksi DNAnya agar DNA tersebut bisa tereplikasi dengan DNA kita dan menyebabkan penyakit. Cara mencegahnya, sel kita memiliki molekul yang bernama dicer complex yang bisa mematah-matahkan double stranded DNA virus menjadi fragmen-fragmen. Setelah itu double stranded fragment dihancurkan lagi menjadi single stranded fragment melalui molekul RISC-complex.  Sel yang terinfeksi DNA virus juga memproduksi cytokin bernama IFN-a (ingat! bukan TNF-a), yang memberikan informasi kepada sel-sel tetangga agar memiliki sifat refractory atau resistensi terhadap virus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke begitu saja dulu penjelasan saya tentang innate immune system atau sistem imun turunan, seperti yang dapat dilihat di gambar, imunilogi memang begitu rumit dan kompleks, namun menyenangkan. Berikutnya mungkin (mungkin lho..) saya akan menulis tentang sistem imun adaptif (adaptive immune system). Moga manfaat ya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-5836004889668156687?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/5836004889668156687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=5836004889668156687' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5836004889668156687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5836004889668156687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/02/mengenal-sistem-imun-turunan.html' title='Mengenal Sistem Imun Turunan'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3mO-8dBbTI/AAAAAAAAAFw/vclHSygytz0/s72-c/Baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-7414088716659812061</id><published>2010-02-10T10:02:00.012+01:00</published><updated>2010-02-10T10:11:26.470+01:00</updated><title type='text'>The Library Expressions</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3J4AtrwwYI/AAAAAAAAAFo/ZRX31BEjarg/s1600-h/4+am+10-02-2010+um+09.30+%238.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3J4AtrwwYI/AAAAAAAAAFo/ZRX31BEjarg/s200/4+am+10-02-2010+um+09.30+%238.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436539653848088962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3J37T2NEqI/AAAAAAAAAFg/9jL7f1ACmoM/s1600-h/4+am+10-02-2010+um+09.30+%237.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3J37T2NEqI/AAAAAAAAAFg/9jL7f1ACmoM/s200/4+am+10-02-2010+um+09.30+%237.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436539561013220002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3J32IKXGfI/AAAAAAAAAFY/sndafkvpA9M/s1600-h/4+am+10-02-2010+um+09.30+%236.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3J32IKXGfI/AAAAAAAAAFY/sndafkvpA9M/s200/4+am+10-02-2010+um+09.30+%236.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436539471977191922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3J3xV1OMEI/AAAAAAAAAFQ/j-pjitY9gSI/s1600-h/4+am+10-02-2010+um+09.30+%235.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3J3xV1OMEI/AAAAAAAAAFQ/j-pjitY9gSI/s200/4+am+10-02-2010+um+09.30+%235.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436539389747277890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-7414088716659812061?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/7414088716659812061/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=7414088716659812061' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/7414088716659812061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/7414088716659812061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/02/library-expressions.html' title='The Library Expressions'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S3J4AtrwwYI/AAAAAAAAAFo/ZRX31BEjarg/s72-c/4+am+10-02-2010+um+09.30+%238.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-5212369838858445304</id><published>2010-02-09T20:48:00.004+01:00</published><updated>2010-11-28T08:51:24.564+01:00</updated><title type='text'>Anjangsana</title><content type='html'>Anjangsana&lt;br /&gt;Oleh: Dimas Abdirama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Geming]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang seorang muslimah, namun bukan itu baju yang ku kenakan. Sejak aku tinggal bersama kekasihku di kota mahaindah ini, aku telah membuka mata bahwa agama hanyalah sebuah alat pengotak-kotak, apapun bentuknya, bisa hati, bisa pemikiran, bisa pergaulan, bisa juga pertemanan. Jika saja Tuhan bisa membuka mata samudra yang luasnya membentang dari timur ke barat lalu dari utara ke selatan, mengapa tidak bisa kubuka lebar-lebar mataku? Matamu? Mata orang-orang itu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapa yang sangka, seorang anak sampah yang dulu tidak punya nilai apa-apa kini bisa menjadi dosen kenamaan di École des hautes études en sciences sociales, Paris. Aku juga beranjak menjadi seorang aktivis dari sebuah organisasi besar La Femme yang kerap diundang mengisi berbagai talk show di layar kaca. Sebulan sekali tulisanku terbit dalam kolom budaya The New York Times mengulas masalah-masalah kemanusiaan di dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak ada yang tak mengenalku, Neng Geulis, setidaknya di kota ini. Café et Boutique yang aku kembangkan sendiri di Rue de Berri telah berkembang mahsyur sebagai bagian dari pusat mode dan pusat pertukaran pemikiran. Harta dan nama yang aku dapatkan sampai saat ini bersumber atas pengorbanan, cinta dan perhatian dari kekasihku, paruh nafasku, bongkah rapuh tulangku, Constantin Metzner-Rodriguez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berjalan sempurna, sebelum aku bertemu dengan pemuda tanggung itu, di dalam Metro Ligne 7, di Corentin Cariou, sebelah utara kota Paris. Sang pemuda yang sepertinya baru saja menyelesaikan Baccalauréat tampak begitu &lt;i&gt;bercahaya&lt;/i&gt;. Tidak biasa, wajah peralihan dari imutnya anak-anak menuju tampannya seorang pria begitu sejuk terpancar dari kebersihan auranya. Sampai tak terasa tas jinjing yang aku genggam terlepas sementara sepasang mata ini masih takjub memandang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Pardon, madam...“ itulah suara merdu pertama yang kudengar. Ia meraih tas jinjingku dan memberikannya kepadaku, membuyarkan detik-detik lamunan penuh takjubku. Ia tersenyum, aku memerah. Terdiam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Merci…” kata itupun akhirnya terucap juga setelah sekian lama aku membatu. Pemuda itu tersenyum ramah dan menanyakan apakah aku baik-baik saja. Itulah kali pertama pertemuanku dengannya. Ia bernama Ali, dalam tubuhnya mengalir darah Perancis dan Afghanistan. Ia mengenakan kufiyet kotak-kotak, berjaket kulit dan bercelana kain. Benar dugaanku, ia masih duduk di bangku sekolah dan sedang mempersiapkan Baccalauréat beberapa bulan ke depan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jangan beranggapan bahwa aku yang sudah memasuki usia 30 tahun akan jatuh hati pada seorang pemuda tanggung berumur 18 tahun. Tidak, tidak mungkin, lagi pula cintaku pada Constantin sudah begitu melekat kuat sampai pada sekat antardaging di tubuh ini. Perasaan dan desiran tadi hanyalah karena… entahlah… karena sesuatu yang… jika boleh aku katakan – mungkin geming. Cahaya dan aura anak itu tidak aku dapatkan dari lelaki manapun yang aku kenal. Sesuatu itu begitu memikat, namun hanya bergeming, seolah terjaga oleh sesuatu yang teramat suci dan tidak sembarang orang dapat merengkuhnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ali bilang ia akan turun di setasiun Place Monge. Sesaat setelah metro ini melintasi Gare d’Est, aku memutuskan untuk mengajaknya ke tempatku di Rue de Berri, di wilayah l’avenue des Champs-Élysées yang berdekatan dengan l'Arc de Triomphe. Aku menjanjikannya secangkir latte macchiato dan sepotong croissant keju terlezat seantero Paris dengan pemandangan menakjubkan ke arah menara Eiffel yang jika senja mengeluarkan nyala-nyala yang luar biasa. Ia tak tertarik, menggubrisku dengan tawaran-tawaran itu. Aku masih ingin bersama dengannya, menyerap auranya yang tak habis-habis aku nikmati. Boleh aku ikut denganmu kemana kamu akan pergi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia beranjak keluar, aku membuntutinya pelan-pelan. Wahai geming itu, kemana kakimu akan menjejak? Mungkinkah ke sebuah tempat semacam pabrik yang dapat mengubah citra seseorang menjadi sebegitu bercahaya seperti dirimu? Dari balik tubuh orang-orang yang berjejalan itu aku berdiri, mengawasimu rekat terhadap setiap gerak badanmu. Dan sampailah aku pada tempat itu… Sebuah tempat di Rue Georges-Desplas, sebuah tempat yang membuatku terperanjat. Tidak! Aku harus menahan langkahku! Kali ini aku harus menahan diriku untuk mengikutinya ke tempat itu… karena itu artinya sama dengan aku memasuki jurang kemelut yang didalamnya berenang-renang buaya-buaya pemangsa yang ganas. Aku tertahan, menahan diri, bergeming di tepian belokan jalan, mengintip sesosok itu yang makin menghilang dari pelupuk mata, masuk ke dalam pabriknya di sana, di la Grande Mosquée de Paris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Renjana]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Con calmo!!” hentakku ke supir taksi di sebelahku tatkala mobil kami hampir saja menghantam sebuah truk besar dari arah yang berlawanan. Sungguh semrawut kota ini. Roma memang keras, sekeras guratan sejarah yang masih berdiri gagah di atas tanahnya. Aku pun tak yakin apakah kendaraan yang aku tumpangi ini benar-benar sebuah taksi karena dari tampilan mobilnya lebih terlihat seperti kendaraan pribadi. Sejak menginjakkan kaki di bandara, di mana-mana memang sudah tertampang berbagai peringatan yang meminta para turis berhati-hati terhadap taksi gadungan yang bertebaran di halaman parkir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Cazzo!“ lelaki itu berserapah, sebuah bus lewat begitu saja di hadapan kami. Jantungku sudah tak karuan berdegup dan berdetak, bersiap kalau-kalau aku harus merenggang nyawa di jalanan kota ini. „Hey! Vafanculo!“ teriaknya lagi sambil membuka jendela dan mengeluarkan kepalan tangannya sambil diacungkan tinggi-tinggi, lalu disambut dengan gaungan klakson yang membahana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Sorry…“ ujarnya ke arahku dengan nafas yang menderu. Ia paksakan tersenyum, wajah khas mediterania dengan rambut-rambut tipis dari pipi sampai ke dagunya dipenuhi peluh. „jangan takut, saya antar kamu ke tempat tujuan dengan selamat,“ sahutnya menenanganku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia melanjutkan kemudi kendaraan ini dengan mata kosong yang melayang, namun tetap memiliki reflek yang luar biasa dalam menghadapi maut yang siap menerjang tak terduga. Seperti terlatih. Aku merasa tenang, entah mengapa aku bisa mempercayai janjinya untuk mengantarkanku selamat sampai tujuan walaupun aku sadar aku telah tertipu dengan taksi gadungan ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Carlos,“ ia menyebut namanya sambil menyodorkan tangan. Kujabat erat, „Hamka,“ balasku. „You are from…“ ia berupaya menebak. Indonesia, langsung kujawab tanpa harus menunggu tebakannya. Ia termanggut-manggut pelan seperti mencerna atau menghubungkan sesuatu di kepalanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Kamu muslim?“ tanyanya. Aku mengangguk.&lt;br /&gt;„Dari mana kamu tahu?“&lt;br /&gt;„Dari &lt;i&gt;sinarmu&lt;/i&gt;. Aku tahu, Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia…“ lanjutnya. „Kamu terlalu lucu dengan rambut-rambut di dagumu itu! Jenggotmu hanya beberapa helai saja, tak cocok menjadi janggut! Lihat punyaku!“ serunya sambil mengusap-usap dagunya, „yang seperti ini baru berpeluang menjadi janggut lebat!“ selorohnya, lalu disambut dengan tawa lepas kami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perjalanan dari bandara Leonardo da Vinci menuju tujuanku di wilayah Parioli cukup jauh, membelah dari selatan ke utara kota Roma, melalui jalan-jalan besar serupa kota Jakarta dengan hangat matahari khas laut tengah yang lembut, melintasi jejeran pohon zaitun dan pohon tusam yang menjulang ke langit, melewati gedung dan bangunan tua peninggalan sejarah kekaisaran romawi yang menganggumkan, menjamah gang-gang kecil kota ini yang teramat manis. Setiap sudut kota ini seolah bercerita tentang pengalaman-pengalaman yang telah mereka lihat, serupa dengan cerita Carlos sepanjang perjalanan yang mendebarkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bercerita bahwa ia baru dipecat dari tempat kerjanya tiga bulan yang lalu. Istrinya masih terbaring koma di rumah sakit karena kanker payudara sementara ia mati-matian memenuhi biaya pengobatan isterinya yang tak lagi bisa ditalangi asuransi negara. Orang tuanya sudah meninggal dunia. Ia belum memiliki anak. Keluarga besarnya menjauhi dirinya karena alasan-alasan yang tidak ingin ia sampaikan. Satu-satunya sanak saudara yang ia miliki adalah adik tirinya yang sedang berada di Paris dan berprofesi sebagai seorang diplomat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Di mana kamu tinggal?“ tanya Carlos di sela-sela ceritanya.&lt;br /&gt;„Berlin,“ jawabku.&lt;br /&gt;„Berlin?!“ tanyanya lagi penuh keterkejutan. Mata cokelatnya merenggang. „Adik tiriku itu juga orang Berlin! Dia akan kembali lagi dari Paris ke sana bulan depan! Eh, tunggu... kamu bilang kamu dari Indonesia...?“&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku mengannguk. „Que bella!! Pacar adik tiriku itu juga orang Indonesia! Betapa sempitnya dunia ini! Sebentar, aku masih punya fotonya...“ ia merogoh-rogoh laci di depanku kemudian ia menepuk bahuku keras-keras seperti orang yang telah berteriak BINGO! „Ini... kamu bawa saja foto ini, siapa tahu bulan depan kamu bertemu dengan mereka di Berlin. Nanti aku tuliskan nomor teleponnya.“&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kutatap foto itu, dua lelaki yang serupa namun tak sama. Satu berkulit gelap, satu berkulit putih, serta seorang perempuan cantik berambut sebahu. „Adikku itu bernama Constantin, kata orang Jerman, der erste römische christliche Kaiser. Dan pacarnya itu bernama Neng Geulis,“ ujarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perjalanan ini berhenti saat aku sudah sampai di tujuan. Di hadapan kami berdiri bangunan megah dengan warna pastel kekuningan. Sebuah minaret menjulang di sebelahnya. Carlos menatap bangunan itu dengan raut wajah yang turun, seperti menggenggam sebuah kesedihan yang tak terperi. Lelaki itu memang membutuhkan seorang teman sebagai tempat untuk menyandarkan beban hidupnya yang teramat berat. Namun siapa teman itu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„La Moschea di Roma... Hey, boleh aku ikut ke dalam?“ tanya Carlos usai menerima uangku. „Nampaknya aku menemukan tempat di mana aku harus mencari jiwaku...“&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku tertegun sesaat setelah mendengar cetusan Carlos barusan. Kata-kata tadi terdengar penuh dengan renjana yang tertahan, yang jika aku izinkan maka renjana itu akan mampu meledak-ledak luap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Ah! Lupakan! Maaf, aku tak ingin mengganggu acaramu...“ sahut Carlos melemah.&lt;br /&gt;„No! Silahkan! Aku memang ada program di masjid ini, tapi tentu kamu boleh ikut masuk kesana! Ayo!“ ajakku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia memangdangiku tak percaya. Kupertegas dengan anggukan kepalaku. Rautnya pun berganti, bagai induk yang menemukan anaknya, renjana di wajahnya bersemai, seiring dengan jiwanya yang – mungkin – telah tertemukan. Di sini, di masjid ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Lamur]&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa daya, memang itulah resiko memiliki kekasih yang berprofesi sebagai seorang diplomat PBB. Bulan depan Constantin akan dipindahkan ke negaranya, Jerman. Berlin akan menjadi kota baruku nanti. Aku berharap bisa melanjutkan aktivitasku menggaungkan nilai-nilai liberalisme dan memperjuangkan feminisme di manapun tempat aku berpijak. Aku mengundurkan diri sebagai dosen di EHESS Paris, dan mempercayakan manajemen butik dan cafe kepada Audrey, pegawaiku yang cekatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku merenggangkan penatku di sore itu, duduk di atas sofa kulit berwarna merah sambil mengamati orang-orang yang saling berbincang di dalam cafeku dan mendengar lantunan Frank Sinatra yang ingin dibawa terbang ke bulan. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara itu, suara yang sempat aku kenal beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Bonjour, Madam,“ sapa Ali. Aku terhenyak, „boleh saya meminta waktu Anda?“&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemuda tanggung bercahaya itu datang seorang diri, menolak bersalaman denganku. Tangannya menjinjing sebuah majalah Paris-Tempo. Ia menatapku tajam, tanpa senyuman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Madam, saya ingin meminta jawaban Anda, apakah Anda yang menulis artikel ini di sini?“ tanya Ali sambil menunjuk sebuah artikel yang aku tulis dua bulan lalu di majalah itu. „Mana belas kasihan Anda teradap kami? Mengapa Anda tega menuduh masjid kami sebagai sarang teroris?“&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keringat dinginku mengalir. Biasanya, aku terampil dalam menjawab protes atau argumen dari kalangan-kalangan religius itu, namun kali ini, lidahku tercekat. Aku fasih berbahasa Perancis, namun sekarang hanya senggauan yang mampu aku keluarkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Hmmh... ak.. aku.. aku, hanya...“&lt;br /&gt;„Baik, Madam. Sudah cukup jawaban Anda. Saya pikir Anda orang baik... ternyata perempuan yang kutemui dulu di Corentin Cariou bukan perempuan biasa...“&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemuda itu berjalan keluar. Sedari dulu aku menyimpan benci teramat sangat terhadap orang-orang yang sudah terkotak-kotak dengan agama itu. Aku pernah berjanji, tak akan jatuh ditangan manusia-manusia yang tidak membuka matanya lebar-lebar... namun nyatanya? Semuanya lamur sekarang, buram. Aku mengejarnya, ia sudah keburu menghilang entah kemana. Tidak pernah aku merasakan pahit yang kental seperti ini di dalam hati. Aku kejar dia. Aku tahu ke mana aku harus mengejarnya. Ke tempat yang ku tahu pemuda tadi pasti berada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kecut]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kecil aku sangat takut dengan api. Gubuk tak permanen di pinggiran rel kereta api sepanjang Lenteng Agung pernah terbakar habis waktu aku kecil dulu, dan menyebabkan aku menjadi gelandangan. Teman mainku mati terbakar tepat di hadapanku. Aku masih bisa mengulang ngiangan jeritannya yang lirih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan setiap orang-orang religius itu mengatakan neraka, aku semakin tak terkendali. Dari penggambarannya saja aku sudah dibuat sangat ngeri, yang katanya panas bara apinya saja bisa membuat otakmu mendidih. Aku berupaya tidak mempercayainya, namun sulit. Kini bayangan api itu menjadi-jadi, berbaur dengan kecutnya rasa hati usai pemuda tanggung itu menemuiku tadi. Sepanjang perjalanan aku menangis. Aku bertanya-tanya, jika saja aku menganggap bahwa pemikiranku sudah sangat luas, namun mengapa belum cukup luas untuk menjangkau wilayah pengakuan kebesaran islam?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku langkahkan kaki ini ke dalam, melawan segala geming yang dulu menjegalku, menyeburkan diriku ke dalam jurang kemelut yang siapa tahu justru berisi malaikat-malaikat nan anggun. Tangisan ini belum cukup waktu untuk berhenti, mengucur menganak sungai. Pandangan Ali dan api seolah-olah berbaur menjadi satu, merongrong batinku. Aku tiba-tiba ingin menjalankan gerakan-gerakan yang dilakukan orang-orang itu di dalam. Aku ingin salat. Kemudian aku basuh tubuh ini dengan sejuknya air wudhu, kututup badan ini dengan jubah dan kerudung, kuangkat tanganku mengikuti tindak-tanduk orang-orang di sekelilingku. Aku tidak tahu harus mengucap kata-kata apa, aku tidak hafal jenis doa apapun, tapi gerakan-gerakan yang aku ikuti itu sudah cukup meluluh lantakkan jiwaku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seusainya, kupandangi sekeliling, pemuda itu tidak ada di sana. Aku lepas kerudung ini dan kuberanjak, aku berharap, Ali belum sampai. Ia masih di perjalanan dan aku masih akan bertemu dengannya tak lama lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Madam... mengapa engkau melepas kerudung ini?“ tiba-tiba seorang perempuan Perancis berjilbab rapih menggenggam tanganku. Mata hijaunya &lt;i&gt;benderang&lt;/i&gt;, seperti lentera dalam gelapnya pekat mataku. „Madam, engkau seorang muslimah bukan? Tolong... bantulah agama ini, ukhti...“ sahut perempuan itu lagi. Ia lalu memelukku. Dekapannya sangat kuat sekali, meyesakkan rongga dadaku, membuat aku menangis sebenar-benarnya menangis. Tangan halusnya membelai rambutku, aku nyaman berada di pundaknya. Aku takluk. Kini dosen feminisme EHESS terkulai sangat lemah dan tak berdaya di bahu perempuan yang – ah, ternyata benar, ada malaikat anggun di jurang ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Sophie...“ sahut sebuah suara di sebelah kami. Aku menoleh. Ia Ali.&lt;br /&gt;„Madam, kenalkan, ini Ali, suamiku.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Anjangsana]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan berambut sebahu, sepertinya pernah aku lihat ia sebelumnya, entah di mana. Dari tadi ia duduk saja di meja itu, padahal makanannya sudah ia habiskan. Mungkinkah ia menunggu seseorang? Aku mengamatinya dari meja yang cukup jauh, namun tidak terlalu jauh untuk bisa melihat gerak-geriknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Orang Indonesia, ya? Baru datang di Berlin, mbak?“ datang seorang laki-laki yang kebetulan baru masuk di restoran ini. Ia bersama gerombolannya. Aku kenal laki-laki itu. Orang-orang biasa memaanggilnya dengan sebutan Gareng. Aku kenal benar dia dan teman-temannya. Ia seorang yang... bermuka dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mas, lihat tuh, si Gareng mengajak perempuan itu berbicara...“ ujar istriku yang juga ikut mengamati mereka bersamaku. Ssst, aku menyuruh istriku untuk tenang agar aku bisa berkonsentrasi penuh mendengar pembicaraan mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Selamat datang ya mbak di Berlin. Berlin ini kota yang indah, banyak tempat-tempat asik, ada tempat belanja, tempat disko, tempat pertunjukan... Tapi hati-hati mbak, jangan berkunjung ke masjid, karena, ya tahu sendiri lah mbak, nanti kita dituduh yang macam-macam... apa lagi di sini juga ada masjid punya orang Indonesia yang kata orang...“&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku merogoh tasku, mencari sesuatu. Barang itu, sehelai foto berisi tiga orang, dua laki-laki dan seorang perempuan. Dan perempuan di foto ini sangat mirip dengan perempuan itu. Carlos sudah menuliskan nomor teleponnya di balik foto ini, akan aku coba meneleponnya. Mudah-mudahan perempuan ini masih menggunakan nomor Perancisnya. Jika dia merogoh ponselnya, maka aku yakin, dialah orangnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku tekan angka-angka itu di ponselku... +33.. 626.. 704..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tendengar deringan ponsel dari tasnya. Ia mengambilnya.&lt;br /&gt;„Hallo?“&lt;br /&gt;„Hallo, dengan Ibu Neng Geulis?“&lt;br /&gt;„Iya benar, siapa ini?“&lt;br /&gt;„Saya Hamka. Saya sedang berada di belakang ibu sekarang..“&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku datang bersama isteriku ke meja mereka. Si Gareng dan kelompoknya terkejut melihatku, tak ubah terkejutnya Neng Geulis yang terheran-heran siapakah diriku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;„Ibu Neng, kami ingin mengajak ibu berkunjung ke masjid kami. Tidak jauh kok dari sini...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 9 Februari 2010&lt;br /&gt;FLP Jerman.&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-5212369838858445304?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/5212369838858445304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=5212369838858445304' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5212369838858445304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5212369838858445304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/02/anjangsana.html' title='Anjangsana'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-4581600238250136319</id><published>2010-01-21T10:48:00.004+01:00</published><updated>2010-11-28T08:51:46.176+01:00</updated><title type='text'>Cómo entiendo yo amistad?</title><content type='html'>La amistad es la estrella que quiso ser un heróe - El Paíz, kapannya lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selagi mengobrak-abrik kertas-kertas yang menggunung, saya temukan kembali sebuah karangan pertama saya dalam Bahasa Spanyol. Waktu ikut kelas Bahasa Spanyol semester lalu, kami diminta membuat karangan bertema "bagaimanakah arti seorang teman menurut pendapat saya?" (kurang lebih itulah arti dari judul posting ini di atas). Kebetulan waktu itu kelas Bahasa Spanyol kami sudah akan usai, dan sebagai bentuk perpisahan, kami membuat tulisan ini kemudian dibagikan kepada seluruh peserta kursus sebagai kenang-kenangan. Walaupun hanya satu semester, namun saya merasa dekat dengan peserta khusus Bahasa Spanyol. Setiap istirahat kami selalu pergi bersama ke cafétaria gedung Tel yang letaknya di lantai 20 sambil menikmati pemandangan kota Berlin ke segala penjuru di musim panas, menyeruput kopi bersama, makan kue, bercanda ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan kelas Bahasa Indonesia saya juga akan usai. Setelah tiga semester bersama dengan mereka, ada perasaan sedih juga, karena semester depan KBRI tidak membuka kelas lanjutan baru untuk mereka (kecuali jika rencana pembukaan kelas percakapan disetujui). Akhirnya saya berinisiatif untuk mengadakan acara nonton film bersama. Filmnya bertemakan teman yang tak lain tak bukan adalah Laskar Pelangi. Setelah itu, masing-masing peserta kursus saya beri tugas membuat karangan bertemakan "teman", sama seperti yang saya lakukan di kelas Bahasa Spanyol saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bercerita kepada peserta kursus Bahasa Indonesia saya, bahwa di Indonesia, setiap orang yang kita kenal bisa langsung kita sebut "teman". Tidak seperti di Jerman ini yang ada tahapan-tahapannya. Pertama kali bertemu, tunggu dulu, kita cuma bertemu. Sudah berbincang-bincang, juga sebentar, kita belum menjadi teman. Sudah jalan-jalan bersama, eits, kamu masih "kenalan" saya. Di tempat kerja, kamu bukan teman, tapi kolega. Baru ketika tahapannya sudah tinggi, kamu adalah teman. Untungnya di Indonesia tidak begitu, satu kelas kita sebut teman. Satu tempat les Bahasa Inggris kita sebut teman. Tetangga yang seumuran juga kita sebut teman. Itulah mengapa dari segi hubungan sosial orang Indonesia lebih oke daripada orang Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik, kembali ke Bahasa Spanyol, inilah karangan pertama saya yang membangkitkan kembali kenangan di semester lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La amistad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La amistad es una cosa importante para mí. Yo creo que una persona no puede vivir sola sin amigos. Para mí es muy importante que mis amigos deban ser sinceridados. Yo soy una persona abierta y me gustaria tener muchos amigos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yo entiendo que un amigo debe ser simpatico y divertido. A mí me gusta salir con mis amigos por ejemplo para comer o ir al cine. El fin de la semana vamos al restaurante o al piso de otros amigos, y hablamos luego por la noche o cocinamos juntos muchas comidas ricas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-4581600238250136319?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/4581600238250136319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=4581600238250136319' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/4581600238250136319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/4581600238250136319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/01/como-entendo-yo-amistad.html' title='Cómo entiendo yo amistad?'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-1163908890243033205</id><published>2010-01-17T22:17:00.015+01:00</published><updated>2010-11-28T08:52:06.862+01:00</updated><title type='text'>Terlalu Banyak Buku untuk Dilahap</title><content type='html'>Agaknya saya perlu belajar tentang konsistensi, atau berkonsentrasi pada satu buku. I am a book maniac. Begitu mudahnya saya tergiur untuk membeli dan membaca buku padahal masih ada beberapa buku untuk diselesaikan. Contohnya akhir-akhir ini, saya sedang ada mood untuk menulis cerita yang berlatarkan kisah-kisah sejarah kota Berlin, tetapi dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Kebetulan seorang teman saya merekomendasikan sebuah buku karangan Sven Regener - seorang penulis yang berprofesi juga sebagai penyanyi - dengan judul Der kleine Bruder. Dari judulnya mungkin memang kurang eye catching, tapi teman saya itu bisa membius dan mengompori saya dengan ceritanya yang berapi-api agar saya membaca buku itu. Well, akhirnya saya pergi ke toko buku terdekat di lingkungan kampus saya, dan melihat-lihat buku yang dituju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OBa1nd7_I/AAAAAAAAADA/xOkdYNMNga0/s1600-h/der_kleine_bruder.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 181px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OBa1nd7_I/AAAAAAAAADA/xOkdYNMNga0/s320/der_kleine_bruder.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427824273980780530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng melihat rak buku, saya baru ingat bahwa saya masih ada satu hutang membaca sebuah buku yang saya beli di masjid sebelum pulang ke Indonesia. Sayangnya buku itu terbengkalai akibat saya membeli dan mendahulukan buku "Emak Ingin Naik Haji", dan "Azizah Choice, Catatan Seorang Mualaf". Belum lagi di Indonesia saya membeli buku "Ayat Amat Cinta" dan membawa beberapa buku-buku punya adik saya karya Raditya Dika (ceritanya ingin belajar menulis cerita komedi). Buku yang saya lupakan itu adalah: Cinta dalam Sujudku karya Pipiet Senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1ODF-wrOPI/AAAAAAAAADI/jwEy7giZcS4/s1600-h/631.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 216px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1ODF-wrOPI/AAAAAAAAADI/jwEy7giZcS4/s320/631.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427826114681321714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, saya juga ingat, bersama-sama buku ini saya juga membeli buku yang lain yang waktu di Amsterdam dibaca oleh Fitri, tapi saya lupa apakah buku itu saat ini masih di Fitri atau hilang di Amsterdam. Judulnya saja saya lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tangan saya gatal setelah mengantar seorang teman dan keluarganya di Hauptbahnhof. Saya mengunjungi sebuah toko buku di sebelah Gleis 12. Setelah searching-searching, saya jatuh hati pada buku berjudul Es war einmal ein Land karangan Sari Nusseibeh yang dialih bahasakan oleh Anthony David. Buku ini mengisahkan tentang tanah Palestina yang direbut. Sudah lama saya ingin membeli lagi buku-buku tentang Palestina setelah selesai membaca buku From Beirut to Jerussalem, tapi di sini buku-buku tentang sejarah Palestina biasanya bias atau cenderung memenangkan sebuah pihak. Awalnya saya khawatir jika ternyata buku yang saya beli ini juga demikian, namun sejauh ini so far so good, walaupun baru saya baca sekitar 25%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OGFw4G6yI/AAAAAAAAADY/wBExd431tlM/s1600-h/es_war_einmal_ein_land.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 199px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OGFw4G6yI/AAAAAAAAADY/wBExd431tlM/s320/es_war_einmal_ein_land.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427829409489283874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah membaca buku itu, saya tidak sengaja melirik kembali beberapa buku yang berdiri di atas rak. Salah satunya adalah novel Akar dari Dee. Jujur, saya suka dengan pembahasaan Dee dalam buku-bukunya, begitu lugas dan sarat makna, walaupun dari isinya banyak beberapa hal di mana saya kurang setuju. Maksud hati ingin melihat kata-kata yang digunakan dalam novel tersebut, apa daya novel itu terlalu menggigit dan membuat saya ingin terus dan terus menghabiskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OICZva6lI/AAAAAAAAADw/wQ5KvIewEL0/s1600-h/994491supernova-akar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 172px; height: 264px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OICZva6lI/AAAAAAAAADw/wQ5KvIewEL0/s320/994491supernova-akar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427831550762478162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan belum usai, waktu berkunjung ke ruangan kerjanya Birgit di KBRI saya melihat sebuah buku tebal yang sepertinya teramat menarik. Judulnya Die Kathedrale des Meeres, sebuah novel sejarah. Kata Birgit, buku tersebut mengisahkan kejadian-kejadian memilukan di abad pertengahan, terutama perlakuan dan kekerasan terhadap perempuan di jaman itu. Menarik bukan? Tapi saya harus mengendalikan diri saya untuk membeli buku baru lagi sebelum buku yang lama saya selesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OI-dLyqAI/AAAAAAAAAD4/h1R7NOS3mM0/s1600-h/articleMedia.aspx.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 208px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OI-dLyqAI/AAAAAAAAAD4/h1R7NOS3mM0/s320/articleMedia.aspx.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427832582478931970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Godaan belum kunjung usai. Kemarin usai salat Ashar di Masjid IZDB Osloer Strasse, saya menemukan sebuah buku yang lagi-lagi menggiurkan. Buku ini menceritakan seorang VJ pertama MTV Jerman, Kristiane Backer, yang mejadi mualaf dan mengobah total jalan hidupnya sesuai dengan jalan dan ajaran Islam. Judul bukunya adalah "Von MTV nach Mekka". Saya yakin, buku ini sangat inspiratif dan bisa membangkitkan semangat. Mungkin buku ini akan saya beli usai musim ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OKQ5WTf0I/AAAAAAAAAEA/LmHo9QJ3MbE/s1600-h/bild-3.png"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 204px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OKQ5WTf0I/AAAAAAAAAEA/LmHo9QJ3MbE/s320/bild-3.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427833998788493122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong soal ujian, semestinya bukan buku-buku itu yang harus saya baca, melainkan buku yang satu ini, karena ujiannya sudah di depan mata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OKzektgWI/AAAAAAAAAEI/1zcnhoD8758/s1600-h/cover.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 228px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OKzektgWI/AAAAAAAAAEI/1zcnhoD8758/s320/cover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427834592896581986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Memang, terlalu banyak buku untuk dilahap. Memang, berat rasanya untuk menjalani konsistensi. Bagaimana dengan kamu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-1163908890243033205?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/1163908890243033205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=1163908890243033205' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/1163908890243033205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/1163908890243033205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/01/terlalu-banyak-buku-untuk-dilahap.html' title='Terlalu Banyak Buku untuk Dilahap'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zO9dEI_MCPA/S1OBa1nd7_I/AAAAAAAAADA/xOkdYNMNga0/s72-c/der_kleine_bruder.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-5262486451828480567</id><published>2010-01-05T21:21:00.001+01:00</published><updated>2010-11-28T08:52:30.700+01:00</updated><title type='text'>Futuristika</title><content type='html'>Futuristika&lt;br /&gt;Oleh: Dimas Abdirama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Berlin sedang terjadi kekacauan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jutaan orang berkumpul di beberapa tempat. Straße des 17. Juni dipenuhi lautan manusia yang berjejal sampai tugu Siegesäule dan Brandenburger Tor. Ribuan orang menumpuk sepanjang Friedrichstrasse sampai Unter den Linden dan Alexanderplatz. Sebagian lagi memadati Potsdamer Platz. Mereka berteriak, mengacungkan plakat dan spanduk tinggi-tinggi. Kekacauan ini bertendensi membuat keributan yang sangat dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanselir Maximillian Müller menyatakan Republik Federal Jerman berada pada status darurat. Di Hamburg, Köln, München, dan Frankfurt aksi unjuk rasa serupa juga sedang berlangsung secara besar-besaran. Menteri Ekonomi dan Teknologi Ayse Guncan mengadakan pertemuan rahasia dengan kanselir, presiden, dan beberapa pejabat tinggi. Ratusan batalion Bundeswehr dikerahkan untuk mengamankan masa yang makin memanas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kita tidak punya waktu lagi Herr Müller! Kita harus segera memanggil dia!“ ujar Menteri Ekonomi dan Teknologi Ayse Guncan dengan panik. Presiden Alexander Winterroll mengamati dokumen-dokumen yang dibawa Frau Guncan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maximillian Müller mengerenyitkan dahi. Sesekali melihat jam tangannya dengan gugup. „Apa kebijakan ini tidak akan membuat ekonomi kita morat-marit, Frau Guncan?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tidak! Kita bisa perkuat kembali hubungan perdagangan kita dengan negara-negara sahabat! Selain itu kita masih punya aset yang cukup besar. Saya akan segera batalkan penjualan VW, Mercedes, dan Bosch ke Amerika. Yang penting, sekarang ini kita harus segera membeli lisensi Tremendous Chip itu dan menyebarkannya ke rakyat kita!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanselir Müller menghirup nafas dalam-dalam, ia tadahkan kepalanya ke atas sambil memejamkan mata. Di dalam tempurung kepalanya, ratusan sel-sel otak sedang berputar dengan cepat bagai teknologi komputer super yang tercanggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik! Panggil orang itu sekarang juga!” ujar Müller dengan mantap. „Tolong beritakan kepada Menteri Luar Negeri Phillip Feierabend dan Menteri Kesehatan Hülya Bülüt untuk menghadap saya di Bundeskanzeleramt secepatnya!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terik matahari di musim panas makin menggila. Sejak dimulainya musim panas di bulan Februari, sudah banyak virus-virus baru bermunculan akibat limbah dan tumpukan sampah di negara-negara sub saharan yang dibawa oleh angin selatan menuju Jerman. Di sini, lapisan karbondioksida yang tebal memerangkapi virus-virus itu untuk berkembang biak dan beranak pinak dengan leluasa. Yang terparah muncul di bulan ini, virus flu H5N4, hasil rekombinasi genetika flu manusia, kuda, unggas, dan babi menyerang sebagian besar wilayah Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Herr Müller! Ada telecam dari Menteri Pertahanan Georg Hiller-Schmeterlinge!” ujar seorang asisten sambil tergopoh-gopoh membawa seperangkat monitor dan alat telecam ke hadapan Maximillian Müller.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di layar telecam muncul wajah Menteri Pertahanan dengan setelan jas hitamnya. Dia selalu terlihat gagah bahkan di situasi genting seperti ini. Padahal baru saja ia ikut turun ke jalan untuk menenangkan jutaan manusia yang sedang berdemonstrasi sambil membagi-bagikan masker pelindung nafas agar manusia yang berjejalan di sana tidak terkena virus-virus mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Herr Müller, apakah kebijakan membeli Tremendous Chip itu sudah Anda pikirkan matang-matang?“ ujarnya. „Saya pikir, ini terlalu berbahaya. Kita bisa berada dalam cengkraman bangsa asing! Walaupun orang itu pernah berkuliah di Jerman, tapi dia tetap bukan warga negara Jerman! Lagi pula, cara kerja Tremendous Chip itu bisa membongkar semua informasi genetik seorang manusia! Sangat berbahaya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cukup!” bentak Müller. “Atas nama Vaterland! Vaterland! Deutschland ist über alles! Über alles in der Welt! Kita wajib melindungi rakyat kita! Kita tidak punya waktu banyak!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh di sana, di negeri yang subur makmur gemah ripah loh jinawi, serombongan mobil hitam berplat putih CD 32 mendatangi sebuah rumah rindang di wilayah Duren Sawit, Jakarta. Lelaki muda peraih nobel kedokteran dan fisiologi atas penemuannya di bidang imunologi yang ia beri nama Tremendous Chip Dms1986 sedang duduk-duduk santai menikmati senja sambil mendengarkan musik di beranda belakang yang berhadapan dengan kolam renang dan pohon-pohon tanaman tropis. Seorang (atau sebuah) robot dengan cepat mendatanginya, lalu mengatakan bahwa di depan sana ada beberapa orang bule ingin segera menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu tersenyum, lalu menekan sesuatu di telinganya, mengaktivkan alat telecommunate yang terpasang di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Haidar, bisa kamu temui mereka dulu?“ sahutnya pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama datang seorang lelaki berperawakan tegas berpakaian kemeja putih dengan vest hitam. Kacamata Gucci yang berbingkai tebal makin memperjelas karakternya sebagai seorang yang serius dan berdedikasi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Selamat sore!“ sapa salah satu dari mereka. Seorang lelaki berkulit putih dan berambut pirang yang memperkenalkan diri dan koleganya dari Kedutaan Besar Republik Federal Jerman di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Guten Abend,“ balas Haidar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ach! Sie sprechen Deutsch!“ balas si bule itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ya, tapi saya sedang tidak berminat berbahasa Jerman,“ lanjutnya. Ia melirik sedikit ke arah orang-orang dengan wajah tegang itu. Ada sepuluh orang yang datang. Yang baru saja berbicara adalah Duta Besar Leon Gummibärchen. Haidar mempersilahkan mereka masuk dan duduk di ruangan depan. Seorang (atau sebuah) robot membawakan mereka minuman dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haidar membuka laptop Apple peraknya, tangannya dengan lincah mengetik sesuatu lalu tak lama membuka sebuah buku harian tebal bersampul kulit hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Maaf, besok Tuan Mushab harus berada di Tembagapura,“ kata si Arab-Indonesia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kami hanya membawanya sebentar. Satu hari saja... Kanselir Müller sudah menunggunya di Berlin... Kami mohon...“ pinta seorang perempuan dengan rambut sebahu yang diikat kuncir kuda dengan nada memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tolonglah, demi nilai-nilai kemanusiaan. Rakyat kami menderita. Kami sudah mendapat izin dari Presiden Abdirama...“ lanjut Gummibärchen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haidar menatap mereka dengan serius dari balik kacamatanya yang melorot sampai ke bawah hidung. Ia menggeleng. Walaupun mereka membawa-bawa nama Presiden Republik Indonesia, tetap saja Mushab yang menentukan langkahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Presiden Abdirama tidak memiliki kuasa apa-apa untuk Tuan Mushab. Anda tahu itu bukan?“ sahut Haidar. Mereka bersepuluh tertunduk lemas, kartu as bangsa mereka terletak pada penemuan lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling berpandang-pandangan dengan raut wajah yang pucat pasi. Di ruangan itu bersemilir angin hangat yang datang dari ruangan tengah. Hening sesaat suasana kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ehm... Baik, saya akan berangkat ke Berlin bersama kalian sekarang...“ bunyi suara dari arah halaman belakang. Lelaki sederhana dengan kaus oblong dan celana panjang itu menemui mereka dan menghentikan istrahat sorenya. „Walau bagaimana pun, Jerman telah memberi banyak hal-hal berharga untuk saya...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Herr Gummibärchen melompat dari tempat duduknya dan memeluk Mushab kuat-kuat sampai ia kesulitan bernafas. Mereka berteriak histeris meluapkan kegembiraannya, raut wajah-wajah mereka kembali benderang. Perempuan berambut sebahu yang diikat kuncir kuda tadi juga spontan berlari ke arahnya, ingin ikut memeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Jangan, Frau Weinachtsbaum! Herr Syuhada tidak senang dipeluk oleh sembarang orang!“ teriak salah seorang di antara mereka untuk menghentikan niatan atase konsuler yang bernama Stefanie Weinachtsbaum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam kemudian, Mushab sudah sampai di Berlin dan segera dibawa oleh tim khusus menuju Bundeskanzeleramt menghadap Kanselir Müller. Di perjalanan dengan mengendarai helikopter jet, Mushab melihat ratusan manusia terdampar di jalanan. Kehausan, kelelahan. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat kepayahan dengan lilitan selang-selang infus untuk menjaga mereka terhindar dari infeksi virus dan bakteri yang bertebaran di sana. Anak-anak menangis sambil meronta-ronta. Ibu-ibunya kebingungan berupaya menghentikan tangisannya. Pemandangan yang sangat kontras dengan yang ia alami beberapa tahun yang lalu saat ia menyelesaikan studinya di kota itu. Saat Jerman sedang jaya-jayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sebuah bangunan tinggi dengan dinding kaca bernuansa minimalis yang sangat berbeda dengan bangunan Bundestag megah di sebelahnya yang bernuansa klasik, Mushab Syuhada disambut oleh Kanselir Maximillian Müller dan Presiden Alexander Winterroll. Di belakang mereka berjejer beberapa pejabat penting dengan wajah harap-harap cemas. Ini dia orangnya, batin mereka. Orang yang bisa menyelamatkan bangsa ini dari kemelut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Silahkan duduk Herr Syuhada,“ Müller menyodorkan tangannya ke arah bangku empuk di hadapannya. „Langsung saja, kami ingin membeli lisensi Tremendous Chip Dms1986 untuk kami bagikan kepada rakyat kami. Mereka semua dalam keadaan bahaya. Penyakit-penyakit memata-matai kita di negara ini!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanselir Müller menolehkan kepalanya ke kiri dan kanannya. Berharap salah seorang menterinya menambahi apa yang baru saja ia ajukan. Georg Hiller-Schmeterlinge menangkap tatapan Kanselir Müller yang penuh makna itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Bisa Anda jelaskan bagaimana cara kerja dari chip buatan Anda?“ tanya Menteri Pertahanan Georg Hiller-Schmeterlinge kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mushab mengangguk pelan, diliriknya Haidar yang berada di sampingnya lengkap dengan laptop Apple perak dan buku harian tebal bersampul kulit hitam. Haidar paham maksud lirikan tuannya. Buru-buru ia mengeluarkan beberapa poster tentang chip tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tremendous Chip Dms1986 adalah sebuah chip kecil yang berfungsi sebagai pusat pengendalian penyakit di tubuh manusia. Dengan menanamnya di bawah jaringan kulit, chip itu mampu mengendalikan fungsi dan cara kerja sel dengan sinyal-sinyal cytokin yang dikeluarkannya. Jika ada virus masuk ke dalam tubuh manusia, maka chip itu akan menangkap kode genetik virus tersebut dan menghancurkannya. Bagian tubuh yang rusak seperti patah tulang atau kulit yang terbakar, dapat segera disembuhkan dengan mendorong sel-sel di sekitarnya untuk berregenerasi. Penyakit genetik dapat disembuhkan dengan memperbaiki kode-kode genetik di setiap sel di tubuh manusia. Dengan Tremendous Chip Dms1986, manusia akan terbebas dari segala penyakit yang muncul dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Namun, pasti Anda melakukan kontrol untuk orang-orang yang memakai chip itu bukan?“ tanya Hiller-Schmeterlinge lagi, kali ini dengan pandangan kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ya. Bila seseorang menanam chip itu di tubuhnya, maka saya bisa dengan leluasa melihat kode-kode genetik orang itu. Bahkan saya bisa mendengar apa yang mereka pikirkan di otak-otak mereka karena chip ini memiliki kemampuan menangkap sinyal-sinyal yang muncul di sel otak, lalu menginterpretasikannya ke dalam bentuk sebuah bahasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...dan bila ada seseorang yang tidak saya suka, tentu saya bisa saja mengubah kode genetik orang itu semau saya, lalu membunuhnya pelan-pelan atau tiba-tiba. Semua bisa saya lakukan dari balik monitor saya...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanselir, presiden, dan beberapa pejabat yang hadir di situ menjadi tegang. Keringat dingin bercucuran dari pelipis-pelipis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Sekarang terserah Anda, apakah Anda benar-benar ingin membeli chip saya dengan segala konsekuensinya?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling berpandangan, namun pada akhirnya mereka hanya mengangkat bahu. Tidak ada jalan lain, rakyat mereka di luar sana menginginkan chip itu, namun mereka tidak bisa membelinya karena harganya yang sangat mahal. Bahkan untuk membayar barang itu, Jerman mempertaruhkan kestabilan ekonominya. Namun apa yang bisa mereka perbuat? Jika mereka biarkan rakyat mereka mengaung dan menjerit, pasti ekonomi mereka akan lebih hancur dari yang mereka duga. Rakyat menuntut pemerintah untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kesejahteraan jutaan rakyat Jerman. Mereka ingin pemerintah membelikan mereka barang itu dan membagikannya dengan cuma-cuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan makin genting. Kanselir Maximillian Müller dihadapkan pada pilihan sulit. Bangsa dan rakyatnya akan dikontrol dengan mudah dari jarak jauh oleh orang asing. Apakah ini merupakan pertanda kehancuran bangsa besar yang sangat terpandang di dunia itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Baik, demi Vaterland, kami akan membeli chip Anda!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, tahun 2131.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun setelah rakyat Jerman menanam chip itu di tubuh-tubuh mereka, perubahan besar terjadi di negara itu. Negara Jerman menjadi bangsa yang besar, bahkan mengalahkan kebesaran bangsanya di era Gerhard Schröder dan Angela Merkel. Jerman terdepan di segala bidang, baik teknologi, ekonomi, perdagangan, pendidikan, budaya, maupun olahraga. Dan yang paling mencolok, peradaban, pola pikir, dan karakter rakyat Jerman berubah total ke arah kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Herr Outogomonieu, apa kabar?“ sapa Frau Wenzel ke tetangganya yang berkulit hitam sambil menyiram tanamannya dengan senyum yang manis. Tradisi sapa-menyapa, tolong-menolong, dan kedekatan hubungan keluarga menjadi budaya baru di Jerman. Tidak ada lagi wajah-wajah muram atau bentakan-bentakan kasar di negara ini. Tidak ada lagi pandangan merendahkan terhadap orang lain di negeri ini. Tidak ada lagi egoisme, semua kejelekan hancur lebur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Alhamdulillah, akhirnya pemerintah melarang peredaran alkohol!“ teriak Frau Kittel yang disambut dengan sahutan alhamdulillah dari Frau Schmidt dan Herr Neubauer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Jangan lupa, besok Ustadz Hubsch akan ceramah di televisi!“ kata Annette di depan kelasnya. Murid-murid yang lain bersorak gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Iiih, kok orang-orang jaman dulu pakai bajunya jelek-jelek ya mah?“ celoteh Martin ke ibunya melihat buku sejarah yang dipenuhi foto orang-orang yang berpakaian seadanya. Maklum, di jaman ini yang menjadi trend adalah busana serba tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mushab tersenyum lebar melihat cara bekerja pegawai-pegawainya dari balik monitor. Mereka mengubah sinyal-sinyal pikiran setiap rakyat Jerman dan menggantikannya dengan sinyal-sinyal positif, sehingga mereka lebih ramah, santun, dan memiliki etos kerja yang lebih baik dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Haidar, siapkan pesawat sekarang, aku mau terbang ke Berlin. Bilang ke Müller, siapkan teh hangat. Sekarang bulan Agustus, pasti sudah mulai musim dingin...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam kemudian Mushab sampai di Bundeskanzeleramt. Perubahan besar-besaran sudah terjadi. Kanselir Maximillian Müller menyambutnya dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Silahkan, ini teh hangat yang Anda pesan,“ kata Müller. Mereka tertawa renyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Apa saya bilang. Kita belajar dari sejarah. Kalau di jaman Merkel dulu tidak ada yang concern dengan perubahan iklim, pasti akan ada keadaan lebih parah dari sekarang. Jaman sekarang saja musim panas dimulai di bulan Februari dan musim dingin di bulan Agustus. Kalau kita baca buku sejarah, dua abad yang lalu kan tidak seperti itu!“ Mushab memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Untungnya perubahan iklim yang menyebabkan merebaknya penyakit ini bisa kita atasi dengan cepat. Rakyat Jerman berterima kasih dan berhutang budi kepada Anda, Herr Mushab!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tidak perlu... tidak perlu... Anda dan rakyat Jerman tidak perlu berterima kasih kepada saya. Jerman negara saya juga. Saya dulu berkuliah di sini... Saya mencintai negara ini...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Ekonomi dan Teknologi Ayse Guncan yang berjilbab itu mendatangi mereka. Ia berterima kasih atas bantuan Mushab mengatasi krisis kesehatan di Jerman setahun yang lalu. Hadir juga Menteri Pertahanan Georg Hiller-Schmeterlinge, Menteri Luar Negeri Phillip Feierabend, dan Menteri Kesehatan Hülya Bülüt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Oh ya Herr Müller, kapan Anda bisa saya undang minum teh di Jakarta? Jakarta-Berlin kan dekat, cuma tiga jam saja...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Boleh saja, yang jelas jangan bulan depan. Saya ingin menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang dan khusyuk,“ jawab sang Kanselir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hembusan angin dingin datang, tanda musim dingin akan segera datang, di awal bulan Agustus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 5 Januari 2010&lt;br /&gt;FLP Jerman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-5262486451828480567?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/5262486451828480567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=5262486451828480567' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5262486451828480567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5262486451828480567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2010/01/futuristika.html' title='Futuristika'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-5275236753319124339</id><published>2009-12-15T23:51:00.003+01:00</published><updated>2010-11-28T08:52:51.574+01:00</updated><title type='text'>Doakan Saya Menggantikan Bapak Nanti!</title><content type='html'>Persis di tengah kota Berlin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brandenburger Tor berhias pantulan cahaya emas. Temperatur udara berada di bawah nol derajat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pakaian batik, celana bahan hitam yang di bagian lututnya sudah memutih, sepatu pantoffel yang kurang nyaman, jaket hitam dan ransel, aku memasuki salah satu hotel termewah di kota ini, Adlon, tepat di hadapan Brandenburger Tor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyerahkan tas dan ransel, aku melihat sekitar, mencari toilet dan membiasakan diri. Sebelum dipersilahkan masuk ke ballroom, aku menyempatkan diri duduk di café lobi hotel. Sekadar duduk, tidak memesan apapun, karena aku tahu secangkir teh berharga sama dengan lima kilo daging.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tamu undangan yang lain mulai berdatangan, berpakaian bagus-bagus. Sebelum masuk ke ballroom, aku datangi lagi toilet di seberang yang lain, mencoba sabun mewah dan lotion kulit yang disediakan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu undangan dan aku dipersilahkan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berada di meja nomor empat. Beberapa pelayan berpakaian jas dan dasi kupu-kupu mulai bertugas melayaniku. Ditariknya kursi, diselempangkan serbet berwarna pastel di pangkuanku. Dua buah lilin putih dinyalakan, tangan mereka menuangkan air putih dengan cekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama SBY datang ke tempat acara, duduk di meja nomor satu. Beberapa pejabat lain mulai menempati mejanya masing-masing. Tersebar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya di lobi, aku sempat bertemu Menlu Marty Natalegawa. Aku termasuk salah satu pengagumnya, namun tak sempat aku melayangkan sapa kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba pejabat yang kebagian satu meja denganku adalah Pak Menlu. Dan dimulailah percakapan-percakapan kami. Aku memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia di Jerman, dan aktivitasku sebagai seorang mahasiswa bioteknologi kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir acara, sebelum beliau meninggalkan ruangan, aku hampiri kembali ia. Ku jabat tangannya seraya berkata, "doakan saya menggantikan bapak nanti!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 15 Desember 2009.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-5275236753319124339?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/5275236753319124339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=5275236753319124339' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5275236753319124339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5275236753319124339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2009/12/doakan-saya-menggantikan-bapak-nanti.html' title='Doakan Saya Menggantikan Bapak Nanti!'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-127984253383837252</id><published>2009-07-09T22:24:00.001+02:00</published><updated>2010-11-28T08:53:16.681+01:00</updated><title type='text'>Jilbab Hitam-Merah-Emas</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jilbab Hitam-Merah-Emas&lt;br /&gt;Oleh: Dimas Abdirama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara makin menghangat di musim panas yang datang terlambat, walau sesekali hujan bisa saja turun tiba-tiba dengan deras tanpa tendeng aling-aling. Orang-orang di sini sangat cinta dengan matahari, maklum, matahari memang enggan berlama-lama menyengat negara ini. Seperti juga kami, yang sebenarnya punya banyak matahari di negara kami sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya di udara seperti ini kami paling senang duduk-duduk bersama di sebuah rumah makan sambil bercerita tentang banyak hal. Membicarakan kesulitan-kesulitan kuliah, membahas satu-persatu kelebihan dan kekurangan para capres dan cawapres, mendengar laporan jalannya pertandingan sepak bola antarmahasiswa, dan puluhan topik lainnya. Tentu di bawah sinar matahari sambil ditemani segelas teh arab yang kental kesukaan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah Berlin, kami mencintai kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang di antara kami bercerita tentang sulitnya mencari kerja di sini. Sejak kelulusannya akhir tahun lalu, ia sangat rajin mencari lowongan pekerjaan di mana-mana. Memang, dunia sedang dilanda krisis global. Jerman termasuk yang terkena imbasnya. Kalau mau berpikir positif, mungkin itu alasannya mengapa banyak karyawan terkena PHK atau sedikitnya lowongan pekerjaan akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meneguk teh hangatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Aku pernah diberi tahu oleh temanku, ia bertanya apakah aku akan melepas jilbabku untuk mencari kerja di sini. Lalu ku jawab, tentu saja tidak!“ katanya. Menurut temannya itu, seorang perempuan berjilbab tidak akan mungkin bisa mendapat pekerjaan kantoran seperti di sebuah perusahaan jika tetap berjilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tertawa kecil. Insya Allah kami yakin, Allah akan memudahkan hambanya yang taat. Karena toh rejeki datangnya juga dari Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulangnya menikmati matahari kami masih melanjutkan diskusi ini. Kami pun membenarkan juga apa yang temannya katakan. Lalu kami mencari-cari, siapakah muslimah Indonesia yang telah berjilbab dan telah bekerja di Jerman ini? Kami tidak tahu banyak, namun sepengetahuan kami jawabannya ternyata belum ada. Kalaupun ada, mereka bukan bekerja, melainkan sedang menyelesaikan pendidikannya di sebuah universitas atau badan penelitian. Kalaupun ada, mungkin mereka bekerja di toko roti, penjual buah, atau sebagai tenaga kebersihan. Kami tidak bilang bahwa pekerjaan-pekerjaan itu hina, bahkan sangat mulia jika dikerjakan secara halal, jujur, amanah, dan ikhlas. Namun di manakah perempuan berjilbab lulusan arsitektur, atau informatik, atau ilmu hukum yang lulus dengan nilai membanggakan bisa bekerja sesuai dengan keahliannya di sini? Jika saja barat serius memperjuangkan kesamarataan antara laki-laki dan perempuan, mengapa kesenjangan ini masih terjadi? Bukankah cara berpakaian sangat dibebaskan di barat ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskriminasi. Itulah yang kami tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu, juga di musim panas, di wilayah Johannstadt, Dresden, sebuah kota milik negara bagian Sachsen di sebelah timur Jerman, matahari juga bersinar terang. Kata orang, Dresden adalah salah satu dari tiga kota terindah di negara ini bersama-sama dengan Berlin dan Heidelberg. Bangunan-bangunan abad pertengahan banyak yang masih berdiri gagah di sana. Kota tuanya cantik, sihirnya mampu menarik ribuan turis untuk menikmati keanggunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah taman bermain untuk anak-anak, atau dikenal dengan sebutan Spielplatz dalam bahasa Jerman, Marwa duduk santai sambil memperhatikan Mustafa yang sedang bergembira berseluncur di atas perosotan. Jagoannya yang berumur dua tahun itu tampak ceria dan menggemaskan. Sesekali ia berhenti karena haus, lalu berlari ke arah Marwa untuk meneguk minumannya. Setelah itu ia berlari lagi melanjutkan keasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah sana, seorang pemuda berkulit putih, berbadan gemuk dengan rantai kalung yang melingkar di lehernya tampak sedang menunggui keponakannya bermain. Pemuda itu duduk di sebuah ayunan kecil yang sebenarnya tidak muat menampung badannya yang besar. Sesekali pemuda itu melirik ke arah Marwa dan putranya dengan lirikan sinis. Memang sangat disayangkan, pemandangan lirikan sinis terhadap orang asing memang mudah sekali ditemui di negara ini, apalagi di sebuah kota bekas Jerman timur seperti di Dresden ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustafa kecil tampak sudah bosan dengan perosotannya, ia mendekati ibunya lagi, meneguk minumannya kembali dan berjalan ke arah ayunan kecil yang sedang diduduki pemuda tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Nak, main yang lain saja!“ sahut Marwa ke putranya. Marwa sudah merasa tidak enak dengan gerak-gerik pemuda gemuk itu. Namun Mustafa masih berusia dua tahun, ia belum mengerti benar apa yang baru saja Marwa katakan. Ia tetap di sana, mengelilingi ayunan itu, dan berharap si pemuda tadi mau beranjak dan membiarkannya bermain. Tetapi pemuda itu seperti sengaja tidak mau beranjak dan memandangi Mustafa kecil dengan pandangan merendahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwa yang berjilbab mendekatinya, dan dimulailah semua cerita ini. Cerita akibat propaganda dunia atas nama kebencian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Maaf, bolehkah anak saya bermain dengan ayunan ini sebentar?“ sahut Marwa. Pemuda tadi memandangnya sekilas dengan penuh kebencian. Bibirnya mencibir, ia tidak menanggapi permintaan Marwa. „Maaf, bolehkah anak saya bermain di ayunan ini?“ Marwa mengulangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda tadi mendepakkan kakinya ke tanah penuh amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Apa kamu bilang?! Dasar Schlampe! Halt den Maul!“ bentak si pemuda. Schlampe berarti pelacur, sebuah kata hinaan yang terkasar dalam bahasa Jerman. Setiap perempuan baik-baik pasti akan tersinggung jika disebut demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Maaf! Atas dasar apa Anda memanggil saya pelacur? Saya hanya meminta Anda untuk beranjak karena anak saya ingin bermain di atas ayunan ini. Apa Anda yang sudah sebesar ini masih ingin bermain ayunan?!“ jawab Marwa mempertahankan harga dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan perkataan-perkataan rasis pun keluar dari mulutnya terhadap Marwa. Bahwa Marwa seorang teroris, seorang islamis, karena Marwa berjilbab.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin adalah sebuah kota multikultural. Ada banyak orang Turki tinggal di kota ini. Jilbab sudah menjadi pemandangan lumrah di mana-mana. Maka sangat lucu jika masih saja diketemukan orang-orang rasis di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja kami membeli daging di swalayan, membeli roti dan kacang-kacangan di toko roti, serta membeli obat batuk di apotek. Kebetulan yang melayani kami seorang kasir berjilbab, seorang penjual roti berjilbab, dan seorang apoteker berjilbab. Kami pun teringat kembali percakapan kami beberapa hari lalu di sebuah rumah makan sambil menikmati sengatan matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tuh, buktinya ada juga kok perempuan berjilbab yang bekerja di sini!“&lt;br /&gt;„Iya, tapi kerjanya di swalayan yang kepunyaan orang Turki, di toko roti yang kepunyaan orang Turki, di apotek yang kepunyaan orang Turki. Ya jelas saja, perempuan berjilbab diperbolehkan bekerja di sana. Coba kalau di supermarket Jerman, apotek Jerman, ada nggak?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga. Apakah memang umat Islam harus memiliki semuanya sendiri di barat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang di antara kami, alhamdulillah ia telah berjilbab, dulu sempat memiliki pengalaman yang menarik. Ketika perjalanan pulang ke rumah, di dalam U-Bahn (kereta bawah tanah), waktu ashar akan segera habis. Namun perjalanannya masih jauh karena sebelumnya ia sempat tertinggal bus dan harus  menunggu dua puluh menit untuk mendapatkan bus berikutnya. Detik-detik berjalan, ia harus melaksanakan salatnya sekarang. Tetapi bagaimana? Walaupun ia masih punya wudhu, namun ia tidak punya apapun untuk menutupi kepalanya. Untung ada sebuah kantung pelastik di dekatnya, di antara himpitan sepatu orang-orang yang sedang berada di sana. Ia ambil kantung pelastik itu, ia bersihkan sedikit, dan dengannya ia tutupi kepalanya. Dengan gerak-gerik yang cukup asing ditambah dengan pelastik di kepala, ia menjadi pusat perhatian ketika menjalankan salat di dalam U-Bahn. Tak sedikit juga terdengar cemoohan dari penumpang yang lain. Tetapi setelah kejadian itu, ia bilang, ia memiliki rasa bangga yang luar biasa sebagai seorang muslimah. Dan tak lama akhirnya ia berjilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam tidak membiarkan harga diri umatnya diinjak-injak. Bersyukur, di negara ini, sesiapa saja yang menghina orang lain dengan kata-kata kasar, kata-kata yang tidak sopan dan penuh dengan kebencian akan dikenakan hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwa Al-Sharbini, yang sedang menemani suaminya sebagai pemegang beasiswa dan peneliti di Max-Planck-Institut, melaporkan kasus penghinaan ini kepada pengadilan di Jerman. Tak pelak, dengan bukti-bukti dan saksi-saksi, Alexander W, si pemuda tadi, dinyatakan bersalah telah menghina Marwa dengan kata-kata kasar dan penuh dengan kebencian rasistis. Ia dikenakan denda dari pengadilan sebesar 780 €.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari. Kasus Marwa merupakan salah satu kasus dari ribuan kasus di dunia ini. Marwa merupakan salah seorang dari ribuan orang yang berupaya mencari keadilan dan  membela harga diri dari sebuah propaganda pihak-pihak yang berupaya menyebarkan kebencian terhadap Islam. Headline surat kabar, opini dan pendapat media, pemberitaan di televisi, kasus karikatur nabi, kasus film Fitna, dan banyak lagi kasus yang lain telah berhasil memutar balikkan pandangan orang-orang yang tidak tahu tentang Islam. Orang-orang yang berjilbab itu teroris, fundamentalis, ekstrimis, dan kata-kata lain yang mereka gunakan untuk menjabarkan istilah „orang Islam“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami yakin, tidak semua orang barat seperti itu. Ada di antara mereka yang mempunyai hati nurani, ada di antara mereka yang menjadi sahabat-sahabat kami dan melihat kami sebagaimana seorang manusia. Kami tidak akan menganggap sama orang-orang yang menyebarkan propaganda dengan yang menjadi korban. Dan orang-orang yang memang membenci kami dengan yang memanusiakan kami. Kami juga berharap mereka tidak menyamaratakan orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi dengan orang-orang yang taat berada di ajaran Rasul kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kami begitu bangga dengan Schwester-schwester (saudara perempuan) kami yang telah berjilbab, yang menapak tegap kehidupan di sini dengan segala resikonya, namun santun dalam berperilaku dan istiqomah dalam berakhlak sebagai muslimah yang kaaffah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim panas yang sebenarnya pun di mulai, walau cuaca masih sulit ditebak. Orang-orang sudah mulai berpakaian seadanya, menghindari rasa gerah yang menyekap. Marwa tetap dengan busana muslimahnya, dan juga jilbabnya. Mustafa kecil datang menghampiri untuk mengelus-elus perut Marwa. Kini ia sudah tahu bahwa beberapa bulan lagi ia akan memiliki seorang adik. Ibundanya sedang mengandung tiga bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini mereka, Marwa, Ali – suaminya, dan Mustafa akan datang kembali ke pengadilan atas kasus penghinaan rasistis oleh Alexander setahun yang lalu. Marwa akan memberikan kesaksian lagi di hadapan hakim. Di setiap proses pengadilan yang sudah berlangsung berkali-kali itu, Alexander selalu mengungkapkan rasa bencinya terhadap Islam. Bahkan ia pernah suatu kali mengancam akan membunuh Marwa. Mendengar semuanya itu, Marwa tetap tidak takut, Ali selalu memberikan dukungan yang penuh untuk istrinya, meski ia tahu, segala kemungkinan bisa terjadi terhadap keselamatan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landgericht Dresden,  Rabu 1 Juli 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya segelintir orang saja yang hadir di Gerichtsaal (ruang sidang) pagi itu. Memang, kasus ini bukan kasus yang besar, hanya sebuah pengaduan penghinaan. Tidak ada polisi yang berjaga-jaga di sekitar ruangan. Tidak ada alat detektor metal untuk keamanaan, padahal kasus ini mendakwa seseorang yang memiliki kebencian begitu besar. Mengapa mereka tidak memikirkan hal itu sebelumnya? Pemuda gemuk itu bisa lebih berbahaya dari seorang teroris!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang polisi mengapit tangan kiri dan kanan Alexander ketika memasuki ruangan sidang. Lagi-lagi ia memancarkan aura kebencian terhadap keluarga Mesir itu yang sudah hadir di sana. Tak lama kedua polisi itu pergi, dan pengadilan di mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwa memberikan kesaksian, menceritakan kembali kisah di musim panas satu tahun yang lalu, membeberkan betapa bencinya Alexander terhadap dirinya, hanya karena ia seorang muslimah dan seorang berjilbab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Marwa seorang muslimah, dan seorang berjilbab yang pemberani. Ia tidak akan pernah takut dengan ancaman apapun. Bahkan sampai saat itu, ketika Alexander memenuhi janjinya, tiba-tiba beranjak dari duduknya sambil menggenggam sebilah pisau, dan berlari ke arah Marwa. Ia mengayunkan pisaunya ke tubuh seorang perempuan yang tak berdaya. Menghunus tajam, mencabik-cabik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan darah pertama mengucur harum, darah yang sangat mulia di hadapan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di sana berteriak, tetapi tidak ada yang beranjak. Hakim, jaksa, pengacara dan lainnya pun terdiam. Dua kali, tiga, empat, lima, enam, tujuh... tusukan-tusukan itu mendarat bertubi-tubi ke sekujur tubuh Marwa. Darahnya yang merah kehitaman berhamburan ke mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustafa terdiam melihat tubuh ibunya ditikam berkali-kali. Salah satu tusukan itu tertancap ke perut ibunya, yang tadi pagi baru saja dielus-elusnya. Pisau itu sampai juga ke tubuh adiknya yang masih tidur di dalam sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali berusaha menghentikan kebiadaban Alexander , ia melindungi istrinya walau ia tahu, nyawanya juga akan terancam. Beberapa tusukan mendarat ke tubuh Ali, lalu kembali ke tubuh Marwa lagi, dua belas... tiga belas... empat belas... jilbabnya sudah berlumuran darah. Orang-orang berteriak, beberapa polisi segera datang ke ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dor! Dor! Pistol-pistol polisi itu memuntahkan pelurunya. Tapi peluru itu tidak menembus tubuh Alexander, melainkan tertuju ke Ali. Mengapa mereka bisa salah tembak? Apa karena mereka pikir yang sedang berbuat anarkis saat itu pasti yang berwajah Arab? Apa karena yang membuat keributan di sana pasti orang Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dor! Dan Mustafa menyaksikan bagaimana peluru itu menembus tubuh ayahnya, bagaimana pisau itu menghunus kedua orang tuanya, bagaimana tusukan ketujuh belas... lalu kedelapan belas... Dan bagaimana Marwa merenggang nyawa, meninggalkannya yang baru tiga tahun bersama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustafa hanya tahu darah, ibunya sudah tiada, ayahnya koma, dan pemuda itu tidak terluka sama sekali. Mustafa tidak tahu kalau malaikat berpakaian amat bagus dengan wangi yang sangat harum tersenyum menyambut Marwa di ruangan itu. Malaikat-malaikat itu memberikan Marwa pakaian yang sangat indah, pakaian untuk para syuhada di langit sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustafa, bagaimanakah umur empat tahunmu? Umur lima tahunmu? Masa sekolahmu? Masa remajamu? Ibumu dibunuh di depan matamu. Ayahmu sedang koma di depan matamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami malas menikmati matahari, setelah mendengar berita itu, berita kematian Marwa oleh seseorang yang membenci Islam, berita yang baru muncul ke publik dua hari kemudian. Ya! Dua hari kemudian! Surat-surat kabar sehari setelahnya tidak ada yang memberitakan kejadian ini. Di Süddeutsche Zeitung? Tidak ada! Di Frankfurter Allgemeine? Tidak ada! Padahal kalau ada berita „seorang muslim menyenggol orang lain“ atau „seorang berjilbab mencolek orang lain“ pasti berita-berita itu akan menjadi berita besar dan menjadi headline news di koran-koran! Tapi berita Marwa? Jangan harap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan beberapa hari kemudian, surat-surat kabar tidak mengupas mengapa Marwa dibunuh, oleh siapa ia dibunuh, tetapi lebih mengupas tentang rencana perbaikan sistem keamanan di ruangan sidang ke depan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menitikkan air mata mendengar semua ini. Kami menitikkan air mata membayangkan nasib Mustafa saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustafa, ini bukan karena kamu ingin bermain di ayunan itu, tetapi ini karena jilbab yang dipakai ibumu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 9 Juli 2009.&lt;br /&gt;FLP Jerman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-127984253383837252?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/127984253383837252/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=127984253383837252' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/127984253383837252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/127984253383837252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2009/07/jilbab-hitam-merah-emas.html' title='Jilbab Hitam-Merah-Emas'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-6034861302205673890</id><published>2009-05-16T19:00:00.001+02:00</published><updated>2010-11-28T08:53:38.227+01:00</updated><title type='text'>Cinta vs Benci dari Gang Haji Nawi</title><content type='html'>Cinta vs Benci dari Gang Haji Nawi&lt;br /&gt;Oleh: Dimas Abdirama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gang Haji Nawi emang panas! Emang sempit! Emang banyak mas-mas tengil (masteng) yang nongkrong terus seharian kagak ada kerjaan sambil main gitar gonjrang-ganjreng. Paling malas deh kalau harus melewati gang Haji Nawi. Tapi mau bagaimana lagi, satu-satunya jalan dari rumah ke masjid cuma bisa lewat gang itu. Terpaksa deh suka nggak suka harus disuka-sukain. Kan aku ketua keputrian masjid (baru kepilih lho minggu kemarin) yang punya program seabrek-abrek untuk masjid, jadi aku sering beraktivitas di sana sepulang kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin aku tambah sebel, sejak dua bulan ini di masjid ada seorang pengurus baru. Ya, bisa dibilang penjaga masjid deh yang tiap malam mengisi kajian untuk bapak-bapak, ibu-ibu, anak-anak muda, dan anak-anak kecil. Orangnya sih biasa, tampangnya standar banget lah (masih gantengan si Ucok), bisa dibilang murah senyum dan ramah, tapi aku melihatnya kayak ada udang di balik bakwan, eh salah deh! Di balik batu! Soalnya, aku pernah mendapatinya sedang ngelirik-lirik aku. Pas ketahuan mata ketemu mata, dia pura-pura menundukan pandangannya. Huh nggak gentle amat sih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Sebel deh, sok ganteng amat sih Mas Arif itu!“ aku ngomel ke Riska yang baru aku angkat jadi sekretaris keputrian.&lt;br /&gt;„Emang ganteng kok, mi“ jawab Riska santai. Dari dulu aku dipangil ‚mami’ sama cewek berjilbab itu.&lt;br /&gt;„Ganteng dari mana? Ganteng dari Hong Kong!“ ujarku sewot.&lt;br /&gt;„Maksud aku, ganteng akhlaknya, mamiiii. Lihat deh, setiap ketemu sama orang pasti dia senyum, mengucapkan salam, dia juga sering bantu-bantuin orang. Banyak yang suka kok sama dia,“ jawab Riska.&lt;br /&gt;„Tapi orangnya nggak bisa diajak ngomong!“ balasku cepat.&lt;br /&gt;„Maksud mami?“&lt;br /&gt;„Iya, aku kan nanya di mana tempat kertas-kertas dan alat tulis, eh dia cuma bilang di lemari doang!“&lt;br /&gt;„Emangnya dia harus jawab apa lagi, mi?“&lt;br /&gt;„Ya dia bilang apa kabar dulu kek, dari mana kek, mau diambilin atau nggak kek! Pelit ngomong amat sih!“&lt;br /&gt;„Lho, kan mami cuma nanya di mana tempatnya, nggak minta diambilin kan mi? Mamiii... mamiii... hati-hati lho mi, batas antara cinta dan benci tuh tipis,“ sambarnya sambil nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara, kalau belum tahu bagaimana rupa si Mas Arif itu, nih aku gambarin: tingginya sekitar 175-an, nggak kurus tapi nggak gemuk (sedeng lah), kulitnya cokelat, rambutnya lurus, kemana-mana pakai baju koko yang wangi sabun pencuci pakaian, bawahannya celana bahan hitam, sandal kulit, suka TP (tebar pesona, habis semua orang disenyumin), pandangannya teduh, gaya hidupnya sederhana, masih bujang, dengar-dengar orang tua dan kakak-adiknya tinggal di Garut, di sini dia ngontrak di gang Haji Ipul (seberangnya gang Haji Nawi), alim sih, wawasan Islamnya luas, ngajinya bagus, suka nolong orang, tapi ya itu, suka jual mahal ke aku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu sehabis salat isya di masjid aku ketemu Mas Arif lagi. Sempat bimbang mau menyapa atau nggak. Setelah terjadi pergulatan hebat di dalam kepala (antara pendukung menyapa dan pendukung cuekin aja), aku memutuskan menyapa dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Assalaamu’alaikum!“ sapaku setengah berteriak. Mas Arif sepertinya kaget sambil menoleh ke arahku.&lt;br /&gt;„Wa’alaikumussalaam,“ jawabnya singkat. Lalu tersenyum. Lalu pergi. Arrrgghh! Gregetan deh! Makin sebel aja aku sama dia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, setiap hari Sabtu sore, kami pengurus keputrian mengadakan rapat program kerja. Setelah rapat usai, Mbak Dewi, ustadzah gaul pembina keputrian kita, menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Say, kamu umurnya berapa sih?“ tanya Mbak Dewi. Kalau Riska manggil aku mami, Mbak Dewi memanggilku ‚say’ (dari kata ‚sayang’).&lt;br /&gt;„22, mbak,“ jawabku.&lt;br /&gt;„Kuliah sudah mau lulus?“&lt;br /&gt;„Tinggal skripsi, mbak. Memangnya kenapa mbak?&lt;br /&gt;Mbak Dewi tersenyum. „Begini, ada yang nitip surat buat kamu lewat mbak. Nih!“ sahutnya sambil menyodoriku amplop putih yang pinggirannya ada garis-garis merah-biru selang-seling (masih ingat kan? Itu lho amplop khas yang biasa dibeli di warung-warung) .&lt;br /&gt;„Dari siapa, mbak?“ tanyaku standar (ya iyalah, pasti kalau dikasih surat yang nggak ada namanya, kita akan bertanya dari siapa).&lt;br /&gt;„Baca saja sendiri, biar surprise. Nanti kalau sudah dibaca, beri tahu jawabannya ke mbak yah say.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin penasaran, surat apa sih yang dikasih Mbak Dewi barusan? Daripada makin penasaran, aku buka saja surat itu ketika perjalanan pulang lewat gang Haji Nawi. Ditemani suara falls dan gonjrengan gitar dari para masteng yang lagi mangkal di sana, aku terkejut nggak karu-karuan: surat dari Mas Arif!! Isinya panjaaaaang banget! Intinya sih dia minta kenalan sama aku supaya nanti nggak seperti memilih kucing dalam karung untuk menentukan pasangan hidupnya! HAHHH??!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak habis pikir! Mungkin Mas Arif sudah gila kali ya?! Ternyata benar dugaanku, dulu dia pernah ngelirik-lirik aku, ternyata dia suka sama aku! Sampai ngajak kenalan dan langsung bilang mau dijadikan pasangan hidup segala, PD banget yaa, tapi tetap dia nggak gentle, beraninya cuma lewat surat doang, kalau ketemu langsung cuma bisa nunduk-nunduk aja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memangnya dia pikir aku bakalan mau menerima ajakan kenalannya? Nggak lah yaaawww!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Bagaimana say, mau nggak mbak bantu kenalkan ke Mas Arif?“ tanya Mbak Dewi yang ceritanya lagi jadi mak comblang.&lt;br /&gt;„Kita sudah saling kenal kok mbak,“ ujarku sambil merengut.&lt;br /&gt;„Bukan itu, maksud mbak, kenalan yang lebih dalam lagi gitu lho say.“&lt;br /&gt;„Nggak ah mbak, aku nggak mau,“ jawabku sekenanya.&lt;br /&gt;„Benar nih? Nggak menyesal? Mas Arif itu orangnya kan baik dan soleh. Gitu-gitu dia lulusan Jerman lho! Pernah dapat beasiswa. Gelarnya aja Dipl.Ing, kayak Habibie,“&lt;br /&gt;„Ah yang benar mbak?“ tanyaku kaget. „Kalau lulusan Jerman kok tinggalnya di kontrakan? kayaknya dia nggak pernah pakai jas atau pakai dasi deh. Penampilannya sama sekali nggak memperlihatkan kalau dia bergelar... apa tuh mbak? Dipel ing ing yah mbak?“&lt;br /&gt;„Say, ada dua hal yang mau mbak katakan. Pertama, rejeki kan di tangan Allah. Biar lulusan Jerman, Jepang, Amrik, biar usaha bagaimana pun kalau belum dapat rejeki yah apa mau dikata? Kedua, Mas Arif itu sekarang sedang bekerja di sebuah perusahaan sebagai konsultan IT. Memang tidak ada yang menduganya karena penampilannya yang sederhana. Apalagi kamu say, kenalan saja juga belum.“&lt;br /&gt;„Hmm... iya sih mbak... tapi sepertinya aku tetap tidak mau mbak... maaf yah mbak...“ jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kejadian surat itu, sikap Mas Arif kepadaku sama saja. Biasa-biasa saja. Sama sekali tidak canggung atau gugup seolah-olah tidak ada yang telah terjadi. Ia tetap terlihat bersahaja, sering mengisi pengajian bapak-bapak, taklim ibu-ibu, kajian kepemudaan, bahkan sampai taman pendidikan Al-Qur’an buat anak-anak. Keramahan dan kemurahan hatinya telah menjadi buah bibir di masyarakat. Di mana-mana pasti Mas Arif dicari. Ada undangan khitanan, Mas Arif disuruh baca doa. Ada bakti sosial, Mas Arif yang sibuk mengakomodir massa. Ada yang pindah rumah, Mas Arif ikutan bantu-bantu mengangkat barang. Ada banjir di gang Haji Nawi (sebenarnya cuma becek sedikit sih gara-gara hujan semalaman), Mas Arif yang terdepan mengeruk selokan. Pokoknya, ada hal apapun, panggil Mas Arif saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering memperhatikan diam-diam cara Mas Arif mengisi taklim di masjid, ternyata dia punya pesona juga. Entah namanya pesona atau aura, pokoknya enak dipandang dan enak didengar deh. Senyumannya, tatapan mata teduhnya, gestur tubuhnya, memang dia tidak ganteng tapi dia memikat! Wah gawat nih! Aku kan sebel sama Mas Arif! Jangan sampai ucapannya si Riska menjadi kenyataan bahwa batas antara benci dan cinta itu tipis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari, kenapa aku menjadi makin sering mikirin Mas Arif yah? Wah bisa berabe nih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu seperti biasa aku menyiapkan bahan mading masjid untuk minggu depan, saat aku sedang memakai sepatu untuk kembali ke rumah, tiba-tiba ada yang menegurku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Assalaamu’alaikum!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata itu suara Mas Arif! Aku tersentak agak kaget, seperti biasa, dia hanya tersenyum lalu pergi. Tapi senyumannya kala itu, kenapa bisa bikin aku deg-degan ya? Kenapa seolah-olah kejadian itu berjalan seperti slow motion ya? Kayaknya aku tahu deh, aku mulai naksir sama Mas Arif! Ya Allah, bagaimana ini? Aku kan nggak mau sama Mas Arif, ajakan kenalannya saja sudah ku tolak, tapi kenapa Engkau menghadirkan rasa ini di hatiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mamiii, kok kurusan mi? Lagi diet atau banyak yang dipikirin nih mi?“ kata Riska nakal di telingaku.&lt;br /&gt;„Hush, jangan buat gosip ya ris,“ ancamku.&lt;br /&gt;„Beneran deh, mami kurusan. Mami juga lebih pendiam dari biasanya. Ada apa sih mi? Lagi naksir seseorang yaa?“ lagi-lagi si Riska nakal mau tahu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Riska benar. Mungkin aku kurusan karena memikirkan Mas Arif. Mungkin aku lebih pendiam karena memikirkan Mas Arif. Aku menyesal, mengapa dulu aku tolak ajakan taaruf dari Mas Arif? Seandainya saja dulu aku menerimanya, mungkin beberapa bulan ke depan aku sudah menikah dengan Mas Arif. Tapi semuanya sudah terlambat bukan? Bisa jadi saat ini Mas Arif sudah menemukan calon pendampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Sudah lah mi, kalau mami memang serius, mami minta tolong Mbak Dewi saja untuk mempertemukan mami sama Mas Arif,“ ujar Riska tiba-tiba.&lt;br /&gt;„Lho Riska?! Kamu tahu dari mana?!“ tanyaku terkaget-kaget. Kok bisa Riska tahu perihal rencana perkenalan aku dan Mas Arif dan tahu siapa yang aku pikirkan saat ini?&lt;br /&gt;„Siapa dulu dong, Riskaaaa,“ katanya sambil menyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang sudah menulis sebuah surat yang sama seperti surat Mas Arif dulu, intinya mau mengajak Mas Arif berkenalan, dan surat ini akan ku titipkan ke Mbak Dewi. Tapi kuurungkan niatku, aku malu, dulu aku pernah menolak ajakannya, masa sekarang aku menjilat ludahku sendiri? Dulu aku pernah sebel sama dia, kok sekarang malah jadi suka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu, dua minggu, tiga minggu, kubiarkan surat itu di dalam tasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diberi tahu ibuku, katanya Mas Arif akan meninggalkan Jakarta dan kembali bergabung dengan orang tua dan kakak adiknya di Garut. Ketika aku tanyakan ke Mbak Dewi dan Riska, mereka membenarkan hal itu. Hari Minggu siang, sesaat sebelum Mas Arif akan pergi, di masjid kami diadakan acara pelepasan kecil-kecilan. Aku turut hadir di sana sambil membawa surat untuknya yang masih tersimpan di tas selempangku. Mungkin hari ini saatnya aku menyerahkan surat itu langsung kepadanya, tanpa perantara Mbak Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran, hampir semua orang yang hadir di sana menangis karena akan berpisah dengan Mas Arif. Malah sampai ada yang menangis tersedu-sedu seolah tidak akan bertemu Mas Arif lagi selama-lamanya. Mereka mendoakan Mas Arif kesehatan dan perlindungan dari Allah. Memang, kalau ada orang baik pergi, pasti yang sedih banyak. Rasa sukaku pada Mas Arif makin membuncah. Biarlah ia pergi ke Garut, tapi kalau ia sudah membaca suratku, aku yakin pasti jarak Garut-Jakarta akan ia lalui, batinku dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat itu pun tiba. Mas Arif terlihat sedang bersalam-salaman, berpelukan dengan air mata yang menganak sungai. Mobil kijang hitam yang dibawa Pak Dede sudah siap mengantar Mas Arif dan bawaannya ke terminal bis Pulo Gadung. Aku menggenggam sepucuk surat itu erat-erat, kulangkahkan kakiku mendekat ke arahnya, sampai aku di depannya, ia menoleh dan menatapku lembut seraya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mas Arif, selamat jalan ya!“ sahutku. Surat itu masih ku genggam. Aku masih urung menyampaikan kepadanya! Bahkan di menit-menit terakhir seperti ini. Tanganku seperti terkunci rapat, tak bisa bergerak!&lt;br /&gt;„Terima kasih, Raras. Maafkan kesalahan-kesalahan Mas Arif yah. Sampai bertemu lagi insya Allah...“ jawabnya sambil terus tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku masih membisu. Hanya menatapnya penuh haru. Dan surat itu masih tergenggam di antara dekapan jemariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil Kijang itu melaju. Ibu-ibu majelis taklim yang biasa diisi oleh kajiannya Mas Arif masih menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Sayang yah, masih muda, anaknya baik, soleh, tapi umurnya pendek,“ ujar salah seorang ibu kepada rekannya.&lt;br /&gt;„HAHH?!“ tanyaku dalam hati. „Umurnya pendek?!“ tanya ibu yang lain.&lt;br /&gt;„Dek Arif itu terkena kelainan Jantung. Baru diketahui akhir-akhir ini. Dokter memvonis usianya paling lama tinggal dua bulan lagi. Makanya dia memutuskan pulang ke Garut supaya bisa bersama-sama keluarganya dan dikebumikan di sana,“ ujar ibu itu menjelaskan ke ibu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak percaya! Benar-benar tak percaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Padahal Dek Arif itu masih bujang lho. Belum ada yang mau menikah dengannya,“ kata ibu itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah itu?! Jika benar, berarti pertemuan tadi adalah pertemuan terakhirku dengan Mas Arif di dunia ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tatap sepucuk surat yang urung kusampaikan di genggaman tanganku. Air mataku meleleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa hari kemudian, kami mendapat kabar bahwa Mas Arif sudah meninggal dunia di Garut. Di masjid kami diadakan salat gaib untuk kepergiannya. Kepergian cintaku pada sosok sederhana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 15 April 2009.&lt;br /&gt;FLP Jerman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-6034861302205673890?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/6034861302205673890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=6034861302205673890' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/6034861302205673890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/6034861302205673890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2009/05/cinta-vs-benci-dari-gang-haji-nawi.html' title='Cinta vs Benci dari Gang Haji Nawi'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-3184180777618529087</id><published>2009-05-02T16:33:00.003+02:00</published><updated>2010-11-28T08:54:03.932+01:00</updated><title type='text'>Le Rendez-Vous</title><content type='html'>Le Rendez-Vous&lt;br /&gt;Oleh: Dimas Abdirama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Cahaya. Cahaya Delaluna. Ya, sinar rembulan! Nama yang cantik, secantik paras gadis mungil itu. Cahaya sedang bergembira di hari ulang tahunnya yang kelima. Tuan Bob dan Nyonya Tutiek mengundang semua teman-teman putri tunggalnya dalam sebuah pesta meriah lengkap dengan hiburan badut sulap. Pipi tomatnya seperti mau pecah ketika ia meniupkan lilin-lilin di atas kue tart yang dihias seperti sebuah kota. Ada rumah-rumahannya, gunung-gunungannya, dan ada pohon-pohonannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Selamat ulang tahun ya cayaaang!“ ciuman dari mami dan papi mendarat dari sebelah kiri dan kanan wajah menggemaskan itu. Cahaya mengenakan baju permaisuri berwarna merah muda yang roknya mengembang berlapis-lapis. Rambutnya dikuncir dua dengan pita-pita yang cantik. Cahaya tampak senang dengan hari spesialnya, begitu juga Tuan Bob, Nyonya Tutiek, para tamu dan anak-anak mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu teman-temannya menghampiri, menyalaminya dan menyerahkan kado-kado yang dibungkus berwarna-warni sambil bernyanyi selamat ulang tahun. Mereka yang diundang bukan sembarang orang. Paling tidak berasal dari keluarga kaya dan terhormat seperti orang tua Cahaya. Di acara itu juga ada hiburan door prize, bagi yang beruntung bisa membawa pulang sebuah televisi dan perangkat alat-alat elektronik lainnya. Benar-benar sebuah pesta yang sangat meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sana, seorang perempuan kecil berdaki, dekil, berpakaian lusuh tak beralas kaki dan berambut kemerah-merahan sedang mengintip dari celah-celah pagar tinggi rumah keluarga itu. Satpam rumah yang melihatnya langsung tanpa basa-basi mengusirnya. Si anak itu lalu pergi berlari pontang-panting, tapi tak lama diam-diam ia kembali lagi mengintip ke rumah itu. Kali ini ia lebih berhati-hati, sebisa mungkin agar Pak Satpam tidak menyadari kehadirannya. Wajahnya yang kusam terlihat berbinar-binar seperti sedang menunggu datangnya sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mami, Cahaya mau kue,“ kata Cahaya sambil menarik-narik baju maminya. Si mami yang sedang berbincang-bincang dengan mamanya Bagas menghentikan obrolannya lalu celingak-celinguk ke arah dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Suuum! Ambilin Cahaya kue!“ Teriak nyonya Tutiek menyuruh Bibi Sum memenuhi permintaan anaknya. Cahaya masih belum puas, ia menarik-narik baju maminya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mami, Cahaya mau bawa kuenya ke luar,“ katanya dengan suara cadel anak-anak yang menggemaskan. Mendengar permintaan putrinya tadi, Nyonya Tutiek langsung mengangguk dan mengiyakan. Cahaya tersenyum nakal, rencananya sukses! Ia adalah anak yang cerdas dan punya banyak akal. Ia sengaja meminta sesuatu di saat si mami sedang asik mengobrol dengan teman-temannya. Daripada obrolannya terganggu, lebih baik diiyakan saja. Iya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan kecil berbadan dekil yang sedari tadi mengintip dari luar adalah kenalannya – kalau tidak mau dikatakan temannya – seorang anak jalanan penjual koran yang ia temui ketika bermain di halaman belakang rumahnya yang luas. Perempuan dekil itu melihat betapa asiknya Cahaya duduk di atas ayunan, meluncur di atas perosotan, dan menyusun rumah-rumahan untuk boneka barbienya. Si gadis kecil hanya bisa menonton lalu membayangkan dirinya juga sedang memainkan barbie-barbie cantik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Nama kamu siapa?“ tanya Cahaya dari balik tiang-tiang tinggi pagar rumahnya, saat tahu ada seorang anak yang memperhatikannya bermain. Perempuan dekil itu tidak menjawab, hanya tersenyum-senyum malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kamu mau main ini sama aku?“ tanya Cahaya lagi sambil menyodorkan barbienya. Si gadis dekil mengangguk senang, tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya. Tangan-tangan kecilnya menarik-narik kaus kumal bolong-bolongnya yang kebesaran. Cahaya lalu meminta Bibi Sum membukakan pagar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Aduh, jangan non, nanti nyonya marah,“ ujar Bibi Sum. Ia lantas melihat si anak perempuan di luar itu. Diamatinya lekat-lekat dari atas sampai bawah. „Jangan non, main sama bibi aja yuk.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Nggak, Cahaya mau main sama teman Cahaya ini. Ayo dong Bi Sum. Cahaya janji nggak bilang-bilang mami deh!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibi Sum pun menyerah dan mengizinkannya masuk dengan perasaan cemas. Si gadis kecil itu senang bukan kepalang diperbolehkan masuk ke pelataran halaman sebuah istana untuk bermain bersama. Mereka bermain ayunan, perosotan, dan rumah-rumahan. Untung Nyonya Tutiek masih di luar rumah sampai nanti sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Non, mainnya sudah yah, nyonya akan sampai di rumah sebentar lagi!“ kata Bibi Sum setengah panik. „Ayo kamu pulang sana!“ lanjutnya ke arah perempuan kecil itu. Cahaya merengut, tapi apa daya, ia tahu maminya pasti akan marah kalau melihat Cahaya bermain dengan anak seperti itu. Sebelum perempuan kecil itu pergi, Cahaya menghadiahkannya beberapa boneka barbie miliknya sebagai tanda perkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Besok kamu main ke sini lagi ya. Oh ya, nama kamu siapa?“ tanya Cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lis. Lilis,“ jawab anak itu senang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kembali ke ulang tahun Cahaya. Dua gadis kecil itu tersenyum malu–malu saat saling bertemu. Mereka tidak saling menyapa. Cahaya meminta Pak Satpam membukakan pintu pagar, lalu ia menyerahkan sepotong kue yang dibawanya ke anak dekil yang bernama Lilis itu. Lilis tersenyum lebar, matanya berbinar-binar, bahagia luar biasa. Mungkin baru pertama kali itu ia hendak mencicipi lembutnya makanan kalangan orang kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Dimakan ya kuenya,“ sahut Cahaya. Anak itu tidak menjawab. Ia masih tetap tersenyum lebar, memamerkan gigi-giginya yang berderet rapih, terpaku menjadi patung, masih tak percaya dirinya mendapat sepotong kue yang di matanya tak ternilai harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima belas tahun kemudian. Cahaya tumbuh menjadi seorang gadis yang memesona. Tubuh gemuk menggemaskannya dulu sudah berubah menjadi langsing semampai. Pipi tomatnya sudah berubah menjadi paras yang cantik. Mata hitamnya bulat, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, bibirnya tipis kemerahan. Kecantikannya diperanggun dengan lilitan jilbab rapih yang membalut kepala dan sebagian tubuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya sekarang adalah seorang mahasiswi FISIP UI, jurusan Ilmu Politik. Wawasannya luas, ia orang yang cerdas dan aktif. Ia juga menguasai empat bahasa asing: Inggris, Jerman, Spanyol, dan Arab. Cahaya adalah gadis yang santun, tidak banyak berbicara, namun lugas jika menyampaikan pendapat. Kata-katanya berbobot, tidak sembarang berucap. Cahaya adalah gadis yang sopan dan pandai membawa diri. Ia prinsipil, namun hangat dalam bergaul, dan terbuka untuk berteman dengan siapa saja. Cahaya adalah seorang aktivis sosial, ia dan teman-temannya memiliki sekolah pembinaan untuk anak jalanan yang mereka namai Aulad Tsabita *).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah pembinaan itu mengajari anak-anak jalanan berbagai macam keterampilan. Dari yang paling sederhana, sampai keterampilan yang mampu memberikan penghasilan. Pesertanya adalah anak jalanan yang berasal dari berbagai pelosok ibukota. Kondisi mereka menyedihkan, ada yang pengamen, ada yang pemulung, tukang sampah, penjual koran, bahkan pengemis. Cahaya dan rekan-rekannya prihatin dengan keadaan mereka yang seakan menjadi bagian terbuang dari komunitas sosial bangsa ini. Tubuh-tubuh mereka seolah hanya berperan sebagai figuran dari laju deru episode dunia: tak berarti dan tak memiliki arti. Padahal, setiap manusia itu spesial, bukan? Allah tentu tidak sia-sia menciptakan sesuatu. Mereka perlu dibina, perlu dicari kelebihan apa yang mereka punya. Dan yang paling menyedihkan, kemiskinan semakin membawa mereka dekat kepada kekufuran. Berapa banyak di antara mereka yang mengenal salat lima waktu? Jangankan untuk menghafal bacaan salat, untuk makan saja susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan negara ini makin buruk ketika di tahun itu, 1998, krisis ekonomi melanda, yang dibarengi dengan gejolak politik dalam negeri yang memanas, dan menyebabkan krisis-krisis sosial dan kemanusiaan yang semakin parah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ukht, bagaimana dengan pembinaan para penjual koran di daerah Kampung Melayu?“ Zahra, si koordinator SDM bertanya ke Cahaya dalam rapat pemantapan sekolah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Insya Allah berjalan baik. Saya dan Ukhti Farah berbagi tugas. Kami memberikan mereka keterampilan bahasa. Farah mengajar Bahasa Inggris, saya Bahasa Jerman. Subhanallah, tak disangka mereka semua ternyata cerdas-cerdas! Bahkan ada seorang pemudi... siapa namanya ukht?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lilis!“ sambar Farah bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Iya benar, Lilis, ia sangat cepat menangkap pelajaran. Sepertinya ia tertarik dengan Bahasa Jerman. Padahal ia hanya tamatan SD,“ lanjut Cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kalau begitu, Lilis itu dipisahkan saja dengan yang lain, Ukht. Kita berikan ia pelatihan yang lebih intensif. Insya Allah, semoga keterampilan bahasa ini bisa bermanfaat untuknya. Oh ya, ukhti punya data lengkapnya Lilis?“ ujar Zahra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ya, ada di sini,“ jawab Cahaya, „nama aslinya Neng. Neng Geulis. Panggilannya Lilis.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak biasanya Cahaya yang selalu bersahaja itu tertunduk murung. Jika tidak ada masalah yang teramat besar, pasti Cahaya tidak akan bersikap seperti itu. Tapi selepas rapat pemantapan Aulad Tsabita, Cahaya hanya terlihat kurang bersemangat. Zahra kenal betul dengan sahabatnya itu, pasti ada sesuatu yang tidak beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didekatinya Cahaya, dirangkulnya hangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Apakah ada yang salah dari ucapanku ketika rapat tadi?“ tanya Zahra. Cahaya menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ada masalah di keluargamu?“ tanya Zahra lagi. Cahaya juga menggeleng. „Lalu, apa yang bisa kubantu?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Maafkan aku ukht, ini tentang sekolah kita, tentang Aulad Tsabita. Tentang amanah untukku yang kamu berikan pada saat rapat satu bulan yang lalu,“ Cahaya memulai ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tentang Lilis, penjual koran yang ukhti minta lebih ditingkatkan lagi belajar bahasa Jermannya. Aku sudah mengambil langkah yang salah,“ lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Aku mencarikannya seorang rekan tandem agar ia bisa banyak berlatih dengan penutur asli.  Aku mendapatkannya. Ia adalah seorang diplomat aktivis kemanusiaan dan HAM asal Jerman yang sedang berada di Indonesia.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lalu, apa yang salah dengan langkahmu itu?“ Zahra mulai bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ada. Bahkan sangat fatal. Sekolah kita ini bukan hanya sekolah pembinaan keterampilan, tapi di luar semua itu, kita memiliki misi membina ruhiyah mereka. Seharusnya interaksi kita dengan mereka juga membuahkan perbaikan akhlak mereka, bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Semenjak Lilis mengenal rekan tandemnya itu, ia berubah. Ia sering bersama-sama dengannya. Gaya hidupnya mulai kebarat-baratan. Pakaiannya kini serba baru, bagus-bagus, tapi semakin minim. Ia tidak berjualan koran lagi. Sepertinya pemuda Jerman itu yang memberikannya uang dan tempat tinggal. Setiap malam mereka saling bertemu, berjalan-jalan sampai pagi. Bahkan mereka pernah keluar kota bersama dan menginap bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Adiknya, si Asep, juga sudah tidak pernah terlihat lagi. Kemarin aku mencoba menanyakan keberadaannya ke salah seorang temannya, namun tidak ada dari mereka yang tahu di mana Lilis sekarang! Ya Allah, kalau sampai terjadi apa-apa dengan Lilis, betapa berdosanya aku!“ urai Cahaya. Tak terasa beberapa butir air matanya jatuh. Zahra memeluk sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Dalam berdakwah selalu ada hasil yang manis dan pahit. Sabar ukhti. Kita doakan semoga tidak terjadi apa-apa dengan Lilis,“ ujar Zahra menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan waktu mengalir tanpa ampun. Siapa yang tidak bisa mengikutinya, pasti akan terseret-seret sendiri. Sepuluh tahun kemudian, Cahaya telah menikah. Saat ini ia dan suaminya sedang mengejar gelar doktor di luar negeri setelah mendapatkan beasiswa dari institusi kenamaan negara Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin. Sebuah kota mahaindah, perpaduan antara historika dan modernitas dengan gaya metropolitan yang klasik. Penduduknya beragam dan multikultural. Di musim semi ini Berlin tampak lebih bergairah dibanding musim-musim lain. Kala siang datang, matahari menghangatkan udara jantung Eropa ini. Jika malam hadir, gemerlap lampu mempercantik setiap bangunan di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya tetaplah Cahaya. Perempuan solehah yang memiliki segalanya. Setelah pensiun dari Aulad Tsabita, Cahaya tetap mengabdikan dirinya untuk dakwah walaupun ia sedang berada di negeri rantau. Beruntungnya komunitas muslim Indonesia di kota ini, mereka memiliki masjid sebagai pusat aktivitas kerohanian yang memberikan mereka peluang untuk ber-fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam amal soleh dan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu hari Minggu siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan dengan rambut diikat sebahu datang ke masjid itu saat sedang ada kegiatan rutinan taman pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anak. Ia memandang sekeliling, memperhatikan setiap lekuk ruangan dan orang-orang yang sedang berada di dalamnya. Cahaya dan beberapa guru yang sedang mengajar baru pertama kali melihat kehadiran perempuan itu di masjid ini. Bahkan di luar masjid pun mereka belum pernah bertemunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu duduk di belakang lingkaran anak-anak kecil yang sedang membaca iqro. Ada seorang anak laki-laki yang sedang berlari-lari mengacaukan suasana dan tidak ikut kegiatan membaca. Perempuan itu lalu mencoba menenangkan si anak kecil pengacau tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya mengamati lekat-lekat perempuan itu dari kejauhan. Wajahnya mengingatkan ia pada seseorang. Ya jelas. Wajah itu adalah wajah yang tidak asing baginya sepuluh tahun lalu. Wajah yang tiba-tiba menghilang kini dipertemukan lagi oleh Allah di belahan dunia yang lain. Perempuan itu sedang membacakan sebuah cerita kepada si anak pengacau. Hebatnya, anak itu mau mendengarkannya dengan seksama. Usai membacakan cerita, perempuan itu melangkah mendekat ke arah Cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Bu, anak itu orang tuanya yang mana ya?“ tanya perempuan itu. Cahaya mendadak gugup, ia semakin yakin bahwa orang di depannya adalah orang yang ia khawatirkan dulu. Neng Geulis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Oh, anak dari Turki itu. Biasanya sebentar lagi ayahnya akan datang menjemput. Terima kasih ya sudah membantu kami menenangkannya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Sama-sama bu. Dia itu anak yang baik. Ngomong-ngomong, kenalkan, nama saya Neng Geulis, saya pendatang baru di Berlin. Pasangan saya baru dipindah tugaskan di Berlin. Nama ibu siapa?“ Deg! Neng Geulis? Berarti benar dialah orangnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Saya  biasa dipanggil Ibu Kaligis di sini,“ ujar Cahaya menyamarkan namanya dengan nama suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Sepertinya kita sudah pernah bertemu ya Bu Kaligis?“ tanya Neng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Masa sih, bu?“ jawab Cahaya datar, „ kok saya tidak merasa begitu ya?“ lanjut Cahaya sambil berusaha menutupi kegugupannya. Ia tidak ingin diketahui bahwa dirinya bernama Cahaya, kakak asuhnya dulu. Ternyata Neng alias Lilis sekarang benar-benar sudah berubah, sudah tidak mengenal Cahaya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, Cahaya segera membuka laptopnya dan mengetik nama Neng Geulis di laman pencarian Google. Matanya terbelalak, beberapa artikel dan reportase tentang Neng ia temui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana tertera: Neng Geulis, hidup bersama Constantin Metzner-Rodriguez, seorang diplomat dan aktivis HAM Jerman. Constantin mengetuai sebuah organisasi asuhan partai politik liberalis. Sebelumnya mereka tinggal di Paris. Selama di sana, ia menempuh pendidikan eksternal filosofi di Collège de Sorbonne, dan aktif dalam organisasi-organisasi feminis seperi La Femme dan Chère Madame. Artikel-artikel yang ia tulis sebagian besar bertemakan ketertindasan perempuan yang menyudutkan nilai-nilai Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Astaghfirullah,“ batin Cahaya dalam hati. Seandainya dulu ia tidak mencarikan rekan tandem untuk Neng di sekolah Aulad Tsabita, mungkin Neng tidak akan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya baca satu-persatu jurnal dan artikel yang ditulis Neng, hatinya semakin miris! Di sana tertulis bahwa agama Islam adalah agama antikebebasan perempuan. Perempuan dikuasai laki-laki. Perempuan bagaikan dibungkam mulutnya, dijambak rambutnya, ditendang, diinjak-injak. Cahaya jadi berpikir, jika Neng benar-benar tidak menyukai Islam, untuk apa ia datang ke masjid tadi siang? Untuk apa ia membacakan sebuah cerita nabi untuk seorang anak di sana jika keimanannya saja dipertanyakan? Siapakah dia sekarang? Mau apa dia di sana? Apakah dia seorang mata-mata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Baca apa sih mi, kok serius sekali?“ ujar Hamka, suaminya. „Baru pulang kok sudah langsung duduk di depan laptop.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Gawat bi! Gawat! Masjid kita kedatangan seorang intel!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ah yang benar mi? Umi memang tahu dari mana?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Umi tahu persis bi! Coba abi baca artikel-artikel ini, orang yang menulisnya itu barusan datang ke masjid kita!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamka Kaligis, laki-laki bersahaja itu membaca tulisan-tulisan yang ditunjukkan istrinya. Ia heran, ada juga seorang yang begitu bencinya dengan Islam sampai membuat tulisan-tulisan seperti itu. Ah, ternyata ia ingat! Si penulis itu, Neng Geulis, dulu pernah  menanyakannya di mana letak masjid itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kalau tidak salah, abi deh yang memberi tahu dia di mana letak masjid kita.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kok bisa, bi? Memang abi kenal dia dari mana?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Dia pernah mengirimkan pesan melalui laman masjid. Abi kan sekretaris masjid, jadi abi yang membalas pesannya. Abi juga tidak tahu kalau ternyata dia orang yang seperti itu. Sudah lah mi, lagi pula belum tentu benar juga kan? Lihat, artikel-artikel itu ia tulis di tahun 2005, artinya sudah tiga tahun yang lalu. Siapa tahu sekarang ia sudah mendapat hidayah.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar bagaimanapun, Cahaya tidak bisa mempercayai begitu saja kehadiran Neng di masjid ini. Ia menaruh curiga, terlebih sekarang Neng semakin aktif di masjid dan semakin dekat dengan ibu-ibu yang lain. Cahaya berprasangka, jangan-jangan ibu-ibu di sini akan dicuci otaknya dengan pemikiran Neng yang menyimpang! Bahkan minggu depan Neng mendapatkan giliran menyampaikan kultum di pengajian ibu-ibu. Bisa-bisa kultum tersebut membahas yang tidak-tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Jangan begitu, Mbak Cahaya,“ ujar Mbak Mun. „Kalau pun dia mata-mata, buat apa kita harus takut? Memangnya kita berbuat apa di masjid ini?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Benar. Selama sebulan kita saling berinteraksi, dia tidak macam-macam kok. Bahkan dia sangat bersemangat di pengajian ibu-ibu. Ingat nggak? Sebulan yang lalu dia masih berantakan membaca Al-Qur’an. Sekarang? Kemajuannya sudah pesat!“ giliran Mbak Yun menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mbak Cahaya, kalau pun benar dia seperti itu, apakah kita harus melarangnya datang ke masjid dan menghadiri pengajian-pengajian di sini? Dakwah Islam itu untuk siapa saja, suku apapun, golongan apapun. Mereka berhak menerimanya dan kita wajib menyampaikannya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan dengan Mbak Mun dan Mbak Yun selepas pengajian ibu-ibu tadi pagi masih membekas di kepalanya. Benar juga, ia tidak mau termakan dengan prasangkanya sendiri yang bisa jadi membuat fitnah. Sore ini Cahaya akan mengunjungi Neng ke rumahnya. Ia ingin bersilaturahim sekaligus mencari tahu siapakah Neng yang sebenarnya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Wa’alaikumussalaam! Ibu Kaligis! Wah, surprise sekali saya didatangi ibu, ayo masuk bu! Masuk! Jangan sungkan-sungkan!“ sambut Neng ramah. Ia mempersilahkan Cahaya masuk ke flatnya. Sebuah hunian yang mewah di bilangan Potsdamer Platz Berlin. Rumah itu berada di lantai delapan dengan pemandangan kota Berlin yang menakjubkan. Barang-barang di rumahnya bukan barang sembarangan, serba mahal dan serba impor. Deretan lukisan-lukisan khas abad pertengahan menempel dengan elegan di setiap bidang dinding. Lampu kristal yang megah bergantung di setiap ruangan. Patung-patung dari Bali menghiasi setiap sudut rumah, dan... deretan koleksi botol minuman keras tersusun rapih di salah satu rak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Senang mengoleksi botol minuman keras ya bu?“ ucap Cahaya sekenanya. Neng terlihat agak kaget dengan pertanyaan tiba-tiba dari Cahaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Oh tidak, kebetulan pasangan saya yang suka...“ jawabnya datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Pasangan? Maksud ibu, suami ibu?“ tanya Cahaya lagi. Ia ingin tahu apakah Constantin yang dulu dikenalkannya itu sudah menjadi suaminya. Cahaya tidak menjawab, ia malah mengalihkan pembicaraan sambil bertanya mau minum apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu mereka berbincang-bincang hal-hal yang umum, hal-hal yang tidak memberikan Cahaya informasi apa-apa tentang wanita di hadapannya. Hingga saatnya tiba, Cahaya mulai mengarahkan pertanyaan tentang kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ngomong-ngomong, dulu ibu bisnis apa di Paris?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Saya membuka butik di sana, di Rue de Berri yang bersebelahan dengan Champs-Élysées itu lho bu,“ jawabnya. Cahaya lalu ber-oh pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lalu, ibu tidak ikut organisasi-organisasi seperti La Femme di sana?“ Deg! Mendengar apa yang dilontarkan barusan, hati Neng tertusuk tajam. Ia terdiam, memandang perempuan berjilbab rapih di depannya, lalu menunduk. Lama. Dan cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Bu Neng? Kok terdiam bu? Aduh maaf bu, maafkan pertanyaan saya barusan!“ ujar Cahaya menyesal. Neng tidak mengangkat kepalanya, bahkan ia mulai terisak. Ia menangis! „Bu Neng, astaghfirullah, maafkan saya bu! Saya tidak bermaksud...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tidak apa-apa, Cahaya,“ jawab Neng pelan sambil mengangkat kepalanya. Aliran air mata sudah menganak sungai di wajahnya, namun segera ia hapus. Kini giliran Cahaya yang terkejut, Neng memanggil nama aslinya, padahal setahunya, Neng mengenalnya dengan nama Ibu Kaligis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng menarik nafas dalam-dalam sampai ia bisa menenangkan dirinya. Ditatapnya tajam mata Cahaya dalam-dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Aku  mengenalmu Cahaya. Cahaya Delaluna yang dulu seorang mahasiswi cerdas dari FISIP UI. Aku mengenal Aulad Tsabita tempatku bersekolah dulu, mengenalmu mengajariku dan membimbingku. Mengenal semua kebaikanmu, belas kasihanmu, kesabaranmu, semuanya! Mungkin kamu pikir aku sudah melupakanmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Saat aku menginginkan keadilan, ku bertanya di manakah keadilan itu? Lihatlah dirimu Cahaya, kamu tumbuh dari kalangan berada dan sejahtera, sedang aku dari lingkungan kumuh di pinggir jalan. Kamu besar dengan pendidikan tinggi, bahkan sampai meraihnya ke negeri Jerman, sedang aku hanya sampai lulus SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Di manakah keadilan itu saat aku bisa mendapatkan apa yang kamu bisa? Hidup yang lebih baik, makan, rumah, pakaian, pendidikan, yang kudapatkan melalui Constantin. Di manakah keadilan itu di saat aku sadar bahwa aku telah memakai pendidikanku justru di jalan yang salah? Di manakah keadilan itu saat aku mengenal cinta, tapi aku tahu bahwa cintaku ini adalah cinta yang terlarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Dan di manakah keadilan itu saat aku menemukanmu lagi setelah sekian lama aku mencarimu, tapi ternyata kamu menaruh curiga padaku, bahkan mungkin kamu tidak akan mempercayaiku lagi selama-lamanya. Semoga kecurigaanmu tidak sampai menuduhku sebagai seorang mata-mata yang ingin menyebarkan pemikiran busuk ke masyarakat di sini.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya tertegun. Neng menjelaskannya dengan tenang walaupun ia berusaha terlihat tegar. Neng menceritakan semuanya seperti ia tahu benar isi hati Cahaya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kalau bukan karena aku ingin menemuimu lagi, mungkin aku tidak akan mencari di mana masjid itu berada, mungkin aku tidak pernah terlibat dalam sebuah pengajian dan tahu apa itu penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kalau bukan karena aku ingin menemuimu, mungkin aku tidak mengenal anak kecil Turki itu yang ayahnya selalu menasihatiku tentang Islam dan membantuku menemukan hidayah. Dan mungkin aku tidak akan terjebak pada penyesalan cinta terlarangku dengan Constantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Dan kalau bukan karenamu, mungkin aku tidak pernah bertemu Constantin.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng beranjak dari sofa hitamnya menuju ke sebuah rak yang dipenuhi dengan pajangan boneka-boneka. Ia mengambil sebuah boneka kecil, lalu tersenyum memandang benda itu seakan sedang mengenang sesuatu yang sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mungkin kamu juga sudah lupa dengan ini?“ kata Neng sambil menunjukkan boneka kecil itu. Boneka barbie yang cantik, di belakangnya tertulis sebuah kata: Milik Cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Astaghfirulah!“ mata Cahaya berkaca-kaca, terputar lagi masa kecilnya dua puluh lima tahun silam. Masa bersama Papi Bob dan Mami Tutiek, masa bersama Bibi Sum, masa berbahagia di hari ulang tahunnya, dan masa bermain bersama seorang anak dekil yang tak lain tak bukan adalah Lilis, Neng Geulis, perempuan yang sedang berada di hadapannya. Dirinya bertanya-tanya mengapa Allah memisahkan dan mempertemukan mereka sehebat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Saat-saat yang paling indah di masa kecilku adalah ketika aku menerima sepotong kue ulang tahunmu dulu. Aku sangat menghormatimu, Cahaya. Kalau boleh ku mengatakannya, aku mencintaimu, walaupun ku tahu kamu tidak akan semudah itu mempercayaiku.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak semudah itu Cahaya bisa mempercayai Neng sampai kabar menggemparkan terdengar ke seluruh masyarakat Indonesia di Berlin: Neng terkena serangan jantung dan terbaring koma di rumah sakit akibat tekanan batin yang dialaminya bertubi-tubi. Masyarakat sudah tahu bahwa selama ini Neng dan Constantin belum menikah, lalu berita itu menjadi buah bibir masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ceritanya panjang, sampai akhirnya mereka berdua sepakat untuk menghalalkan cinta mereka. Constantin akan memeluk Islam dan segera menikahinya. Namun di hari itu, datang orang ketiga yang membuatnya terkejut sampai terjatuh dan tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;„Mama!“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Frau Geulis, apa kabar? Kami sudah kembali dari Istanbul! Wah! Cantik sekali Anda dengan pashmina kashmir pemberian saya!“ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Oh ya, saya juga membawa orang tua saya dari Istanbul,“ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Hari ini saya ingin melamar Anda menjadi isteri saya!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Schatz, siapa yang bertamu? Aku sudah siap nih, yuk kita ke Masjid!“ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lho schatz! Kamu kenapa? Siapa kalian?! Schatz! Schatz! Tolong segera panggil ambulans!!“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahaya memandangi tubuh lemah yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Cantik sekali ia dengan jilbab kashmir hijau yang membalut kepalanya. Neng, malang benar nasibmu sampai kamu harus menderita sehebat ini! Ah, bukankah ini semua juga salah Cahaya? Kalau dulu Cahaya tidak mengenalkan Neng dengan Constantin, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak juga, kalau saja Cahaya tidak mengajak bermain Neng ketika kecil dulu, pasti cerita ini tidak akan muncul kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah di atas Arsy-Nya sedang mengamati mereka. Ia masih menyimpan hikmah-Nya dari setiap kejadian, setiap pertemuan, dan setiap perpisahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 1 Mei 2009&lt;br /&gt;FLP Jerman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Terinspirasi dari sekolah dengan nama yang sama, yang pernah digerakkan oleh Ibu Ineu Abdurrahman, rekan FLP Jerman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-3184180777618529087?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/3184180777618529087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=3184180777618529087' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/3184180777618529087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/3184180777618529087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2009/05/le-rendez-vous.html' title='Le Rendez-Vous'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-7205505763151198444</id><published>2008-12-16T11:03:00.002+01:00</published><updated>2010-11-28T08:54:28.236+01:00</updated><title type='text'>Perempuan Berkerudung Kashmir Hijau</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan Berkerudung Kashmir Hijau&lt;br /&gt;Oleh: Dimas Abdirama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja Neng Geulis tidak masuk ke dalam masjid itu, tentu hati Neng tidak akan segundah ini. Seandainya saja Neng tidak bertemu lelaki Jerman bermata biru itu, pasti Neng bisa hidup bahagia sekarang. Ah tidak, bukan, bukan itu, hanya saja Neng tidak menaruh kasihan pada anak kecil bernama Hakan kemarin, semua derita ini tidak akan terjadi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng pandangi sehelai pashmina Kashmir berwarna hijau muda pemberian Serkan Atalay, seorang penjual Döner yang memiliki kedai di wilayah Kreuzberg, Berlin. „Ini ucapan terima kasih saya,“ ucapya seraya tersenyum. Serkan sangat senang melihat anak tunggalnya telah menemukan sosok yang bisa memberikan kasih sayang seorang ibu, menggantikan posisi ibu kandungnya yang meninggalkan mereka ketika Hakan masih setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata Neng meleleh saat melihat Hakan duduk manis di pangkuannya sambil mendengarkan dengan seksama cerita tentang Sahabat Nabi yang ia bacakan. Dibelainya penuh iba kepala Hakan, seorang anak yang menderita gangguan kejiwaan sehingga ia berperilaku overacting dan tidak peduli dengan lingkungannya. Bapaknya justru sengaja menitipkan Hakan di masjid milik komunitas muslim Indonesia, bukan di masjid-masjid Turki yang banyak bertebaran di kota ini. Hampir semua masjid Turki telah ia kunjungi untuk dijadikan tempat anaknya belajar mengaji. Mulanya mereka menerima, tetapi lama-kelamaan semuanya angkat tangan untuk tetap bersedia membimbing anak semata wayangnya. Alasannya sederhana, keberadan Hakan hanya mengganggu anak-anak yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mbak, biarkan saja anak Turki itu berlari-larian di sana, dari pada mengganggu yang lain yang sedang belajar,“ kata Nur, seorang pengajar berusia 20 tahunan dengan tatapan mata jengkel saat Neng bertanya kepadanya mengapa si anak tidak diajak bergabung untuk berlatih membaca Qur’an. Biasanya, Hakan hanya mau membaca dua baris tulisan dari buku Iqro, kemudian ia mulai bosan dan berlarian lagi menuju dunianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau diperbolehkan datang tiap minggu, keberadaan Hakan sebenarnya juga tidak terlalu diinginkan di masjid ini. Hakan seolah terlihat seperti seorang anak itik hitam di tengah-tengah kawanan angsa berbulu putih. Ia berbeda, baik secara fisik maupun mental. Ah, Neng jadi teringat dengan seorang adik laki-lakinya di Indonesia, Asep. Keduanya sama, mereka tidak diinginkan oleh komunitasnya karena belenggu keterbatasan. Jika Hakan berperilaku seperti ini sejak bayi, adiknya – Asep – justru lahir sebagai seorang bocah yang normal. Hanya saja tumbuh di kehidupan anak jalanan ibukota yang keras telah membekaskan banyak trauma di dirinya, hingga merubah kepribadiannya menjadi sangat antisosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Komm doch mal hier, der Süße,“ rajuk Neng kepada Hakan sambil menawarkan sebuah buku cerita Sahabat Nabi yang hendak ia bacakan. Neng keluarkan juga beberapa permen warna-warni untuk menarik perhatiannya, namun anak itu masih mengacuhinya, bahkan menoleh pun tidak. Rasa kasihan semakin menyeruak dalam hati Neng dan bercampur dengan keinginannya menolong anak malang itu lalu membawanya ke dunia yang normal. Neng tidak ingin kondisi social anxiety yang menimpa Asep terulang pada Hakan. Kondisi dimana lingkungan dapat merubah karakter dan kepribadian seseorang seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seribu satu cara Neng coba, namun tidak kunjung berhasil. Mungkin selama ini orang-orang bertindak kurang tepat dalam menghadapi anak seperti Hakan. Ada yang terlalu lembut dalam kepura-puraan, ada juga yang keras dengan letupan amarah, semua itu pasti bisa dirasakan anak ini. Sekarang Neng mencoba memosisikan Hakan seperti adik kandungnya, Asep, yang telah lama ia tinggalkan di Indonesia. Ia dekati Hakan dan dipeluknya hangat seperti membayar rasa rindu pada seorang adik yang lama tak bertemu. Bahasa kasih itu pun dapat dirasakan Hakan, dan usaha serta kesabaran Neng akhirnya berbuah hasil. Tak lama anak itu takluk dan mau mendengarkan cerita yang dibacakan Neng. Dengan manis ia duduk di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya ia mau mendengarkan orang lain berbicara dengan seksama. Neng telah menjadi orang pertama yang mampu mengambil hati si anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Anak saya merengek, meminta bertemu dengan Anda sekarang,“ sahut Serkan dari balik telepon. Di sana juga terdengar suara Hakan yang sedang menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Maaf, Herr Atalay, pasangan saya sedang ada bersama saya sekarang. Saya tidak bisa membawa anak Anda ke sini,“ jawab Neng penuh rasa bersalah. Sudah beberapa hari ini Neng tidak sempat bertemu dengan Hakan. Bocah itu begitu merindukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tolong lah, Frau Geulis. Hakan tidak mau makan kalau tidak disuapi Anda. Dari kemarin badannya panas, ia selalu merengek dan menangis.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng menarik nafas panjang. Ia sungguh kasihan dengan anak berumur empat tahun itu. Namun saat ini ia benar-benar berada pada posisi yang sulit. Constantin sedang berada di rumah. Neng tidak ingin Constantin tahu semua ini. Tahu bahwa ada seorang anak bernama Hakan yang hadir hidupnya, dan tahu bahwa Neng diam-diam sering mengunjungi masjid Indonesia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Constantin Metzner-Rodriguez, seorang diplomat muda Jerman. Tahun 1998 ketika erareformasi ia ditugaskan PBB menjadi pengawas HAM sekaligus aktivis sosial di Jakarta. Di sanalah ia bertemu dengan Neng Geulis, seorang anak jalanan penjual koran yang mengikuti program sosial pemberdayaan anak terlantar. Di program itu Constantin bersedia mengajarinya keterampilan berbahasa asing seperti bahasa Jerman dan Inggris. Pertemuan mereka lambat laun menuai cinta. Saat Constantin dipindah tugaskan ke Paris setahun kemudian, Neng ikut dibawanya. Asep dititipkan di sebuah sekolah luar biasa di Sukabumi atas biaya Constantin. Mereka hidup bersama sejak saat itu, tanpa ikatan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Constantin bukan hanya dikenal sebagai seorang aktivis sosial dan HAM, tapi ia juga seorang aktivis politik barat yang antiislam. Sejak hidup bersama Constantin, Neng dilarang beribadah atau melakukan kegiatan-kegiatan ritual keagamaan lain. Pemikiran Neng pun perlahan-lahan dicuci menjadi seorang liberalis. Buku-buku feminisme banyak dihadiahkan Constantin untuk dirinya. Idealisme feminis barat seperti pemikiran Ayaan Hisir Ali mulai banyak menginspirasinya. Namun memang, hati manusia hanya Allah yang punya. Allah masih meninggalkan sebentuk iman di hati Neng. Ketika mereka pindah ke Berlin bulan lalu, entah mengapa Neng tertarik mendatangi sebuah masjid Indonesia yang ia ketahui alamatnya lewat internet. Di sanalah Neng menemukan kembali jiwanya yang telah lama hilang. Tapi di sana pula, ia menemukan semua masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Hallo? Hallo, Frau Geulis? Apakah Anda masih di sana?“ suara Serkan membuyarkan lamunan Neng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ya, ya, Herr Atalay. Maaf.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Bagaimana Frau Geulis? Apakah saya bisa mengantarkan anak saya ke rumah Anda?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Maaf Herr Atalay, saya tidak bisa. Constantin sedang ada di rumah. Saya tidak ingin ia menaruh curiga. Begini saja, bagaimana jika kita bertemu di restoran Libanon sekarang? Anda bawa Hakan ke sana.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serkan Atalay memberikan Neng sehelai pashmina Kashmir berwarna hijau muda dengan payet-payet dan sulaman yang cantik. Di restoran itu Hakan mendadak sembuh dari sakitnya, ia bisa makan dengan lahapnya dalam suapan Neng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Anda tidak perlu memberikan saya barang sebagus ini,“ ujar Neng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Terimalah. Itu ucapan terima kasih saya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serkan memandangi Neng dengan senyuman yang menyungging di bibirnya. Neng pun terlihat sangat senang dengan pemberian itu. Dipandanginya benda itu lekat-lekat dengan mata berbinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Anda pasti akan menjadi lebih cantik jika memakai pashmina itu di kepala Anda.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng mengangguk. Ia membayangkan suatu saat ia dapat menutupi kepalanya dengan pashmina cantik ini. Rambutnya tertutup rapih dalam balutan kain takwa hijau muda. Wajah putihnya pasti akan lebih memancarkan aura keanggunan yang dimilikinya. Sayangnya, khayalan Neng itu mendadak buyar ketika wajah Constantin tiba-tiba hadir di pelupuk matanya. Ia gusar, senyumannya memudar, yang ada kini hanya raut wajah suram, antara kebingungan dan ketakutan. Diletakkannya pashmina itu di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lho, ada apa? Anda tidak suka dengan pemberian saya?“ tanya Serkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Bukan, bukan itu. Hanya saja, saya tidak mungkin memakainya...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Karena... Pasti karena Constantin?!“ sergap Serkan. „Ingat Frau Geulis, dia bukan siapa-siapa Anda! Anda tidak pernah menikah dengannya, dia bukan seorang suami yang berhak melarang-larang Anda! Kalau Anda merasa kebebasan Anda terkekang, mengapa Anda masih bersamanya? Tinggalkan saja dia!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng menggeleng dan menatap kosong, kemudian ia meneguk teh pahit di hadapannya. Hakan masih asik mengunyah makan siang yang disuapi Neng ke mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tidak semudah itu, Herr Atalay. Kami sudah hampir delapan tahun hidup bersama. Anda lihat saya sekarang, kondisi saya begitu mapan. Ini semua karena Constantin! Dulu saya hanya seorang gadis miskin penjual koran, tapi sekarang saya menjadi seorang perempuan berpendidikan dan pengusaha butik di Paris. Kalau saja Constantin tidak hadir dalam hidup saya, maka saya akan tetap menjadi orang susah. Adik saya si Asep juga tidak akan pernah bisa makan kenyang dan merasakan bangku sekolah!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kebaikan? Anda menyebutnya kebaikan, Frau Geulis? Ia telah menyeret Anda ke lembah dosa! Anda seorang muslimah, tapi apakah ia mau memberikan hak Anda untuk beribadah? Dan saya yakin Anda tahu persis apa hukumnya Anda tinggal berdua bersama tanpa tali pernikahan!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Serkan memang sangat menampar batin Neng. Selama ini, delapan tahun ini, ia telah tersembab ke dalam lembah nista. Tak pernah lagi salat ia dirikan, puasa ia jalankan, Qur’an ia bacakan, bahkan tak pelak zina ia lakukan. Semua ini karena cintanya kepada Constantin. Cinta dan pembayaran terima kasih dari apa yang telah ia dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tuhan!“ jerit Neng dalam batinnya, „jika Engkau Mahaadil, pasti Engkau memahami mengapa aku melakukan semua ini! Dari kecil aku harus bisa menghidupi adikku dan diriku sendiri setengah mati. Lalu jika aku bertemu seseorang yang bisa merubah total hidupku menjadi lebih baik, maka pasti Engkau tahu apa yang harus aku perbuat untuk dia!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serkan yang cukup paham Islam dengan sabar terus menasihati Neng meniti jalan hidayah. Ia hanya ingin perempuan baik yang sudah dianggap ibu oleh anaknya itu mendapat jalan yang lurus, jalan yang diridhioi oleh Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mama! Mama! Ich möchte jetzt Pipi machen!“ ucap Hakan tiba-tiba. Neng tersentak, untuk pertama kalinya Hakan menyebutnya ‚Mama’. Serkan pun langsung merasa tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Eh Hakan, jangan begitu, pipisnya diantar papa saja, ya?“ tawar Serkan setengah berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Nggak, Hakan maunya ditemenin mama! Ayo ma, Hakan mau pipis!“ jawabnya sambil menarik-narik baju Neng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid itu bernama Masjid Al-Falah, tempat di mana setiap hari Selasa siang diadakan pengajian ibu-ibu masyarakat Indonesia yang tinggal di Berlin. Diam-diam Neng rutin mengikuti kajian itu tanpa sepengetahuan Constantin. Neng merasa nyaman bisa duduk di tengah-tengah taman surga, belajar kembali membaca kitab suci, mendengarkan nasihat-nasihat keagamaan yang menyegarkan hati, dan merasakan kembali ketenangan jiwa ketika bertakbir mendirikan salat. Di sana ia banyak bertemu dengan perempuan-perempuan solehah yang selalu membuatnya semangat untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah, Tuhannya yang telah lama ia tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ibu-ibu, minggu depan yang bertugas membawakan tausiyah kultum adalah Ibu Neng Metzner-Rodriguez ya!“ ujar seorang ibu pemimpin kegiatan pengajian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Hah? Giliran saya Mbak Mun?“ tanya Neng kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lho iya. Kan jadualnya sudah saya kasih. Temanya minggu depan tentang mengingat mati,“ jawab si ibu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Jangan saya deh Mbak Mun. Saya masih belum pantas membawakan nasihat agama. Saya ini masih sangat kotor, Mbak. Dosanya masih banyak,“ lanjut Neng sambil melihat sekeliling. Di sana banyak juga terdapat ibu-ibu ustadzah yang ceramahnya bisa sampai menggetarkan jiwa. Neng merasa rendah diri dan kerdil di hadapan mereka. Mana mungkin seorang pezina ini layak menasihati ibu-ibu ustadzah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Nggak apa-apa Bu Neng. Kita semua masih belajar kok. Kalau nggak dicoba, kita nggak akan pernah bisa lho, Bu. Ingat, berdakwah itu tugas semua muslim. Berdakwah itu artinya menyeru, menyampaikan. Itu tugas Bu Neng juga lho. Ayo kita belajar, sampaikan walau hanya satu ayat!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu itu Neng banyak membaca artikel-artikel keislaman, tidak hanya tentang tema mengingat mati yang ditugaskan kepadanya, tetapi juga tentang Islam secara keseluruhan. Ia mencatatnya pelan-pelan, di atas kertas dan di atas hatinya. Ia perdalam lagi dengan mencari ayat dan haditsnya. Ia perkaya dengan mendengar ceramah-ceramah di internet. Ia mendapatkan hidayah itu, perlahan, tetapi pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Constantin tetap tidak tahu apa yang Neng kerjakan akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuat apapun Neng berusaha memejamkan mata, ia tetap tidak bisa tertidur di malam itu. Ia tatap Constantin yang sudah terlelap di sisinya. Constantin memiliki semua yang Neng inginkan. Rambutnya berwarna emas, matanya biru, hidungnya mancung dan dagunya berbelah. Ketampanannya mampu menaklukkan Neng ketika awal pertemuan mereka di Jakarta bertahun-tahun silam. Dipandanginya kamar itu sekeliling. Sebuah tempat tinggal mewah dan nyaman yang mereka huni. Uang, mobil, pakaian, semuanya mereka miliki tanpa kekurangan. Dan Neng benar-benar menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng menangis. Tiba-tiba ia merasa sangat jijik dengan tubuhnya sendiri, seolah ia mencium bau busuk yang menyeruak dari tiap sudut badannya. Neng beranjak dari tempat tidur, melangkah ke arah jendela. Ia pandangi malam dengan kerlipan bintang-bintang yang jauh di sana. Dan Tuhan sedang berada di balik mereka, mengamati setiap gerak-gerik makhluknya sampai saat ini. Air mata Neng kali ini menderas, Neng menangis sejadi-jadinya, hatinya kian risau dan galau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas ia membasuh wajahnya dengan siraman air wudhu, ia tenangkan hatinya, dan diam-diam dalam kegelapan ia dirikan tahajud. Tahajud yang penuh harap agar Tuhan mau membersihkan bau bangkai yang menyengat dari badannya. Agar Tuhan mau mendengarkan keluh kesahnya. Agar Tuhan mau memberikan secercah sinar harapan dan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng berdesis pelan dalam doanya „Yaa Rabb... Tangan ini yaa Rabb... Mulut ini yaa Raab... Mata ini yaa Raab... Dan kehormatan ini yaa Rabb... Kehormatanku yaa Raab... Tubuhku yaa Rabb... Pemikiraku yaa Rabb... Hati ini yaa Rabb...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Neng terus berdoa, pelan-pelan, menahan isakannya yang menyesakkan dada, memahami posisinya yang serba sulit. Tangisan Neng semakin kuat, seperti malam yang semakin larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Frau Geulis, kali ini Anda saya traktir di kedai saya. Anda mau makan apa? Hähnchen Dürüm? Döner Teller? Lahmacun? semua boleh Anda pesan,“ kata Serkan menyambut kedatangan Neng di kedainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Terima kasih, sebenarnya saya masih kenyang. Saya pesan türkische Pizza saja,“ jawab Neng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Oh ya Frau Geulis, saya punya dua berita baik untuk Anda. Semenjak Hakan mengenal Anda, ia mulai banyak perkembangan. Sekarang ia sudah mulai peduli dengan lingkungannya. Ia sudah mulai bisa diatur dan diajak bekerjasama.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Echt?! Alhamdulillah!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Dan sekarang, pengasuh taman kanak-kanaknya bilang, Hakan sudah boleh bergabung di taman kanak-kanak yang normal. Ia sudah sembuh! Terima kasih Frau Geulis!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Alhamdulillah! Saya sangat senang mendengarnya! Berterima kasihlah kepada Tuhan!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Berita yang kedua,“ lanjut Serkan, „saya dan Hakan akan pergi selama dua minggu ke Istanbul untuk menengok orang tua saya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Oh ya? dua minggu? lama sekali!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Awalnya Hakan menolak karena ia tak ingin berpisah dengan Anda, Frau Geulis. Tapi alhamdulillah ia mau diberi pengertian. Hakan khan sudah besar, sudah akan berusia lima tahun!“ tandasnya senang. Neng pun juga tersenyum senang. „Jaga diri baik-baik ya selama kami tinggal ke Istanbul. Kami akan membawakan Anda sebuah kejutan nanti!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng mengenakan kerudung dari kain pashmina Kahsmir yang dihadiahkan Serkan pada kegiatan pengajian ibu-ibu Selasa siang itu. Keindahan kain itu memukau perhatian semua ibu-ibu di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Wah, ini asli Kashmir, ya? Ibu Neng jualan kain ini di butik Ibu yang di Paris itu, ya?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kapan-kapan aku nitip ya. Beli yang banyak, Bu. Biar bisa aku jual lagi ke ibu-ibu di sini.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Emang suami Bu Neng bisnisnya apa sih?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanya an seputar kain itu mulai bermunculan. Namun pertanyaan terakhir tentang ‚suami’ Neng membuatnya merasa gelisah. Ia berbohong, ia belum menikah, Herr Metzner-Rodriguez itu bukan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Baik ibu-ibu, terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Saya akan membacakan tausiyah tentang mengingat mati. Ibu-ibu, sejujurnya saya masih belum pantas berada di depan untuk membawakan materi ini, tapi insya Allah akan saya coba semampu saya,“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ibu-ibu pasti tahu bagaimana pedihnya sakratul maut. Maut itu adalah sesuatu yang mengintai kita. Kita semua tidak tahu kapan kita akan mati. Bisa jadi satu jam lagi, bisa jadi besok, bisa jadi minggu depan. Oleh karena itu bu, kita harus siap-siap...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba hening suasana di masjid itu. Neng tampak menahan sesuatu yang menggelora dari dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ada orang yang awalnya baik, tapi naudzubillah matinya dalam keadaan tidak baik. Tapi ada juga yang selama hidupnya jahat, justru matinya dalam keadaan terhormat...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng menahan isakannya. Buliran air mata sudah siap pecah di sudut matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Setelah mati, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bu. Semua akan dihitung, semua akan diadili. Kita akan merasakannya nanti...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Jangan sampai kita mati dalam keadaan melawan Allah, bu. Kita harus mati dalam keadaan baik-baik. Jangan mati dalam bermaksiat bu... jangan... kita tidak tahu kapan kita mati... jangan bu... kalau ibu tahu itu salah, segera tinggalkan bu... jangan bu... jangan...“ dan isakan Neng semakin mengeras, sepertinya ada beban berat yang menggantung di kepalanya. Neng tersungkur. Ia pingsan dalam kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah mantap, Neng akan ceritakan semua ini kepada Constantin. Ia siap dengan resiko kehilangan semua yang ia miliki sekarang. Hari ini, ia akan kenakan jilbab pashmina Kashmir itu di hadapan Constantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Schatz, aku mandi dulu ya,“ sahut Constantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng tatap wajahnya di cermin. Ada raut ketegangan di sana. Namun apapun yang terjadi akan ia hadapi dengan berani, Allah lebih utama dari apapun di dunia ini. Ia gantungkan kain itu di kepalanya, ia kaitkan dengan sebuah peniti di depan lehernya. Bismillahirrahmaannirrahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Schatz, mandinya sudah belum? Aku ada kejutan nih,“ kata Neng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kejutan apa sih sayang?“ sahut Constantin sambil berjalan keluar dari kamar mandi. Ketika ia melihat penampilan Neng saat itu, maka terjadilah! Constantin pun terpaku memandang Neng berjilbab, tak pelak, matanya terbelalak. Kaget disertai dengan amukan amarah yang menyala-nyala di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Apa-apaan kamu, Neng?! Buka! Cepat lepas kain itu dari kepalamu sekarang! SEKARANG!“ bentak Constantin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lho? Kenapa Schatz? Bukannya aku terlihat lebih cantik dengan ini?“ ujar Neng dengan terus menahan senyum di bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tidak! Kamu terlihat lebih bodoh! Sama bodohnya dengan perempuan-perempuan Islam yang hanya bisa mengurus dapur! Ayo cepat buka!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tidak, Consti! Demi Allah! Aku tidak akan mau membukanya!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penolakan itu, Constantin mendaratkan sebuah hantaman keras di pipi Neng. Lalu Neng terhuyung-huyung sebelum kemudian terjatuh. Ditariknya kain itu dengan kasar oleh Constantin. Namun tidak hanya kain penutup kepala yang dilepasnya, tetapi juga kain penutup lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Consti..! Bitte nicht Consti..! Aku sedang berpuasa..! Aku tidak mau melakukan ini lagi..! Bitte nicht..!“ teriak Neng meronta-ronta yang tak berdaya dalam dekapan Constantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Consti, aku mau pergi. Kalau kamu merasa dirugikan olehku, kamu seret saja aku ke penjara! Demi Allah, aku lebih menyukai penjara dari pada berada dalam kondisi ini! Maaf, kita sepertinya tidak bisa lagi bersama,“ ujar Neng dalam kepedihan akibat perlakukan Constantin tadi siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Constantin duduk terdiam. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Aku tidak menyangka, seorang aktivis HAM bisa melarang hak asasiku untuk beragama dan untuk mempercayai sesuatu. Bahkan merampas hak ku untuk berpakaian seperti yang aku mau!“ tandas Neng dengan suara meninggi. Dilihatnya Constantin yang masih tertunduk menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Dulu, kamu selalu mendengung-dengungkan kalau Islam adalah agama yang keras, agama yang menindas perempuan, bahkan katamu, keterangan seorang suami yang boleh memukuli istrinya itu tercantum di Al-Qur’an!“ bentak Neng. Constantin makin terhenyuk, ia mengangkat kepalanya pelan-pelan. Mata birunya memperlihatkan adanya penyesalan yang teramat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Apa bedanya yang kamu lakukan kepadaku? Padahal dalam Islam, pukulan itu hanya boleh menggunakan kayu sebesar pensil dan tidak boleh sampai membekas sama sekali. Itu artinya bukan pukulan kemarahan, tapi pukulan pendidikan! Sedangkan kamu, bukan kayu sebesar pensil, tapi kepalan tanganmu yang kekar!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Constantin melihat pipi kanan Neng yang biru lebam. Didekatinya Neng dengan perasaan bersalah, ingin dipeluknya Neng untuk permintaan maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Jangan peluk aku! Kita bukan suami-isteri! Aku akan pergi dari sini!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Neng, maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku. Aku tak mau kamu pergi, Schatz. Kamu mau pergi ke mana? Rumahmu di sini,“ ujar Constantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tidak! Aku bisa tinggal di mana saja! Aku tidak bisa berhubungan denganmu yang bukan suamiku!“ jawab Neng. Constantin menghela nafas. Sayup wajahnya merasa bersalah karena telah melakukan tindakan kasar terhadap Neng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Neng.. Maafkan aku.. aku yang akan pergi, kamu tetap di sini, di rumahmu sendiri.. Sekali lagi maafkan aku Neng, aku mengaku salah..“ ujar Constantin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Neng..,“ lanjutnya, „ich liebe dich noch... und immer...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng menahan tangis yang ingin membuncah. Sebenarnya, ia juga masih mencintai Constantin. Ah, jika saja semua ini tidak pernah terjadi, jika saja Neng tidak ke masjid itu, jika saja Neng tidak pernah mengenal pemuda Jerman itu, dan jika saja bocah Turki itu tidak hadir dalam hidupnya... Tentu semua ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Liebst du mich noch, Neng?“ tanya Constantin pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Aku hanya mencintai Tuhanku. Dan lelaki yang ku cintai adalah lelaki yang dapat membawaku untuk lebih mencintai Tuhanku,“ jawab Neng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Maukah kamu menikah dengan ku? Aku akan masuk Islam,“ ujar Constantin tiba-tiba. Neng terkejut, itu adalah sebuah pernyataan yang tidak pernah terpikirkan Neng sebelumnya, apalagi terlontar dari mulut seseorang seperti Constantin. Tapi mungkin rasa bersalah dan cintanya pada Neng telah mendorongnya untuk mengucapkan kata-kata tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Tidak, Consti. Aku tidak mau kalau hal itu hanya kau jadikan sebagai syarat untuk menikahiku. Jika kamu memang ingin masuk Islam, masuklah dengan sebenar-benarnya, dengan sempurna. Kamu harus berjanji ke dirimu sendiri untuk berkomitmen, untuk memperdalami dan mempelajarinya,“ kata Neng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ya, aku berjanji. Tolong bantu aku untuk mengenal agamamu,“ kata Constantin dengan sinar wajah penuh harap. Secerah cinta yang bersemi kembali kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Consti... ich liebe dich auch noch...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia di Berlin akhirnya mengetahui bahwa Neng belum menikah dengan pasangannya, namun hal itu tidak lagi membebaninya. Hari ini, mereka akan menikah. Constantin terlebih dahulu akan bersyahadat di hadapan seluruh masyarakat muslim Indonesia di masjid itu, dan berikrar menjadi suami secara sah menurut agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Schatz, ayo cepat, suaminya Mbak Yun yang akan menikahkan kita sudah sampai di masjid lho!“ teriak Neng sambil memasang pashmina kashmir hijau muda itu di kepalanya sebagai busana pernikahan. Constantin buru-buru menyelesaikan persiapannya. Ia masih sibuk di dalam kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Neng, keinginan Constantin ini adalah akhir dan hadiah terindah dari penderitaan batinnya selama ini. Ia bisa menghalalkan cintanya dan bisa menyumbangkan seorang muallaf untuk menjadi pengikut agama ini. Hari itu, hari yang indah. Seindah busana muslimah berwarnah hijau muda dan baju koko berwarna putih yang mereka kenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama bel rumah itu berdering. Neng keheranan, rasa-rasanya tidak ada yang bilang akan bertamu. Ah, mungkin saja tukang pos yang ingin menitipkan kiriman untuk tetangganya. Ia bukakan pintu rumah itu, dan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mama!“ teriak seorang anak kecil dengan ceria. Hakan datang bersama ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Frau Geulis, apa kabar? Kami sudah kembali dari Istanbul! Wah! Cantik sekali Anda dengan pashmina kashmir pemberian saya!“ kata Serkan dengan senyuman yang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neng membisu dan tertahan untuk berbicara. Ia hanya mematung di depan pintu rumahnya. Atau mungkin ia tak tahu apa yang harus diucapkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Oh ya, saya juga membawa orang tua saya dari Istanbul,“ kata Serkan. Ditunjukkannya seorang wanita paruh baya dan seorang lelaki bermantel hitam yang berdiri di belakangnya. Mereka membawa beberapa bungkusan kue-kue kering Baklava khas Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Hari ini saya ingin melamar Anda menjadi isteri saya,“ lanjutnya sambil tersenyum. Hakan melompat-lompat gembira. Mulut Neng terkunci rapat, ia tidak bisa berucap apapun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Schatz, siapa yang bertamu? Aku sudah siap nih, yuk kita ke Masjid!“ ujar Constantin sambil menghampiri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar sana, salju pertama turun di penghujung bulan November ini, melayang-layang perlahan, lalu jatuh meninggalkan serbuk putih yang menggunung, persis seperti bongkahan bimbang di dalam hati Neng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 21 November 2008.&lt;br /&gt;FLP Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Döner: Kebab khas Turki&lt;br /&gt;Komm doch mal hier, der Süße!: Kemarilah, anak manis!&lt;br /&gt;Mama! Mama! Ich möchte jetzt Pipi machen!: Mama! Mama! Aku mau pipis sekarang!&lt;br /&gt;Echt?!: Benarkah?!&lt;br /&gt;Schatz: Sayang&lt;br /&gt;Bitte nicht!: Tolong jangan!&lt;br /&gt;Ich liebe dich noch.. und immer..: Aku masih mencintaimu.. dan akan terus mencintaimu..&lt;br /&gt;Liebst du mich noch?: Apakah kamu masih mencintaiku?&lt;br /&gt;ich liebe dich auch noch: Saya juga masih mencintaimu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-7205505763151198444?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/7205505763151198444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=7205505763151198444' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/7205505763151198444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/7205505763151198444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2008/12/perempuan-berkerudung-kashmir-hijau.html' title='Perempuan Berkerudung Kashmir Hijau'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-6727256649846264885</id><published>2008-12-16T11:01:00.001+01:00</published><updated>2010-11-28T08:54:54.907+01:00</updated><title type='text'>Sebutir Rindu di Tanah Madinah</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Dimas Abdirama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Labaik, Allahuma Labaik!“ pekikku dalam hati saat pesawat Egypt Air kami mendarat dengan selamat di Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah. Setelah menunggu sampai mesin benar-benar berhenti, rombongan haji asal Berlin yang dikomandoi oleh Brüder Ali mulai menuruni anak-anak tangga pesawat dan menginjakkan kaki di bumi Bagina Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semilir angin gurun yang panas menampar wajah-wajah kami yang kuyu kelelahan. Ku pandangi lapangan terbang ini sesaat, melihat hitamnya malam yang tercahayai lampu-lampu neon putih. Ku bergumam di jiwaku, mensyukuri nikmat Illahi yang tiada henti ku dapati. Hingga akhirnya aku sampai pada detik ini, untuk memenuhi panggilanNya ke tanah suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard, muallaf Jerman yang akan menjadi teman satu kamarku di perjalan haji ini mengingatkanku untuk segera masuk ke dalam gedung bandara dan melakukan proses administrasi. Tak lama rombongan kami sudah menaiki bis untuk perjalanan ke hotel yang persis terletak di depan Masjid Nabawi. Kami memang mengunjungi Madinah terlebih dahulu sebelum bertolak ke Makkah minggu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madinah, kota yang konon dikenal dengan penduduknya yang ramah. Aku teringat kisah Baginda Rasulullah SAW yang memerintahkan Mushab bin Umair untuk berhijrah terlebih dahulu ke kota Yastrib (Madinah) dan mendakwahi penduduk di sana dengan dakwah Islam. Mushab bin Umair menjalankan perintah Rasululah dengan baik, kaum Anshar menerima dakwah Islam dengan terbuka. Sehingga ketika kaum muslimin Makkah berhijrah bersama Rasulullah ke sana, kaum Anshar menyambutnya dengan suka cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana malam tidak terasa sepi karena sepanjang perjalanan berjejer bangunan-bangunan kotak dengan lampu-lampu yang menyala-nyala. Toko-toko beretalase, hotel, dan restoran menjamur di jalanan berbukit-bukit Madinah. Di luar sana ribuan orang dan jamaah haji tumpah ruah ke jalan raya. Bis yang kami tumpangi terus melaju sampai akhirnya kami melihat sebuah papan hijau besar bertuliskan „HARAM“ dalam tulisan arab di atas jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Liebe Brüder und Schwester, sekarang kita akan masuk ke tanah haram. Di sana terletak Masjid Nabawi,“ sahut Brüder Ali melalui pengeras suara di dalam bis itu. Beliau pun melanjutkan penjelasannya dengan memimpin doa memasuki tanah haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejentik air mataku menetes. Air mata kebahagiaan akan kesempatan yang datang, air mata kerinduanku pada baginda Rasul, dan air mata kesedihanku mengingat diriku yang kotor namun diperbolehkan berada dalam kota suci ini. Sebuah makhluk kecil bernama hati sedang memainkan berbagai rasa yang bergejolak. Ya Allah, kau izinkan aku menikmati semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan tampak langit-langit hitam bertaburkan titik-titik bintang yang gemerlap, di bawahnya ada aura seperti embun berwarna putih dan hijau yang berpijar ke daratan. Persis seperti kawah di atas danau pegunungan, makin ke atas, cahaya embun itu makin menghilang, namun terangnya terasa sampai ke sekitarnya. Sinar itu datang dari sebuah bangunan yang mahamegah,  berdiri dengan mahakokoh dengan hiasan-hiasannya yang mahacantik, itulah dia, yang dulu hanya dapat ku lihat gambarnya di majalah atau televisi, sekarang perlahan mendekat, persis di hadapanku. Allahu Akbar!&lt;br /&gt;„Liebe Brüder und Schwester, kita sudah sampai di tujuan. Hotel kita terletak tepat di depan Nabawi. Malam ini kita tidak perlu ke masjid dulu, karena malam sudah semakin larut. Lebih baik kita check in di hotel, lalu beristirahat. Subuh masuk pukul empat pagi,“ ujar Brüder Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara apa ini? Suara yang begitu indah, bagi yang mendengarnya bisa terbawa ke dalam buaian surgawi. Suara yang mengalun-alun mendamaikan, menyejukkan hati dan menentramkan jiwa. Suara yang dapat membuat orang menangis tersedu-sedu, namun membawa kelegaan dan kebahagiaan yang tak terkira. Suara lembut itu membangunkan tidur lelapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul tiga pagi. Satu jam lagi masuk waktu subuh. Masjid Nabawi mengalunkan bacaan-bacaan Al-Qur’an dari salah satu qori terbaiknya. Richard sudah tidak ada di tempat tidurnya, ia meninggalkan sebuah pesan untukku, katanya ia tidak bisa tidur sehingga sudah duluan pergi ke masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mandi, kulangkahkan kakiku menuju Nabawi. Pagi buta itu terasa begitu indah. Entah, entah karena begitu indahnya bangunan itu di mataku atau karena indahnya kondisi hatiku. Dari pelataran hotel sampai ke masjid sudah banyak para pedagang barang dan cinderamata yang mulai menggelarkan dagangannya. Aku terus berjalan senada dengan bacaan Qur’an yang terdengar dari setiap penjuru. Suara itu begitu luar biasa, ia memiliki kekuatan magis, menyihir setiap orang walau hanya dengan iramanya, tanpa harus mengerti maknanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sampai di gerbang masjid yang berdiri tinggi, kumasuki pelataran dari marmer putih yang luas itu. Pilar-pilar masjid menjulang tinggi ke atas, lampu-lampu menyala dengan anggunnya, zamrud hijau terpasang di setiap sudut bangunannya, pintu-pintu kayu yang kokoh dan hiasan-hiasan emas yang bertebaran menambah kemegahan masjid ini. Memasukinya membuatku merasa seperti seorang pangeran yang akan masuk ke istananya. Subhanallah, itulah yang Allah berikan untuk salah satu rumahNya, turun melalui tangan-tangan para arsitek dan pekerja yang tergenggam dalam kepalanNya.&lt;br /&gt;Di dalam, permadani tebal berwarna merah menghampar menyambutku. Masya Allah, begitu sejuknya ruangan ini. Di sisi kiri dan kanan terdapat bergalon-galon air zamzam yang siap diminum. Di setiap pilar terdapat sederet rak berisikan Al-Qur’an. Orang-orang di dalamnya larut dengan keasyikan berzikir, salat, bertilawah, seolah mereka tidak mengenal kata lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kuselesaikan salat masuk masjid, aku bertahajud beberapa rakaat. Saat hendak meneruskannya dengan bertilawah, azan subuh tiba-tiba berkumandang. Azan pertama yang kudengar di bumi Rasul ini begitu syahdu dan menggetarkan. Ribuan orang memadati masjid ini. Subhanallah, padahal ini salat subuh, tapi seolah semua penduduk di kota ini menghadirinya. Jika saja ini terjadi di setiap pelosok bumi Allah, niscaya janji Allah atas kemenangan Islam pasti akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ibuku, sempatkanlah salat di rawdah, sebuah bagian kecil di depan bangunan ini yang terletak antara makam Rasulullah SAW dengan mimbarnya. Usai salat, aku pun beranjak ke barisan terdepan. Dan ratusan jamaah yang lain pun sepikiran denganku, kami berdesak-desakan ke depan makam Rasul. Sambil terhimpit oleh orang-orang dari berbagai ras dan negara, aku melantunkan salawat nabi, dan teringat penggalan lagu Bimbo yang kusukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Rindu kami padamu yaa Rasul… rindu tiada terperi… berabad jarak darimu yaa Rasul… serasa dikau di sini…“ batinku dengan emosi rindu yang membuncah dan meletup-letup. Aku teringat betapa mulianya beliau, yang masih memikirkan kita semua ketika ajalnya. Umaatii, umaatii, padahal selama masa kerasulannya tak henti-hentinya beliau memikirkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ya Rasulullah, aku di sini, aku umatmu dari Indonesia 14 abad setelah kelahiranmu. Aku pengikutmu ya Rasul, aku ingin bertemumu nanti di kehidupan abadi, saat kau memberikan syafaatmu untuk umatmu. Betapa kumerindumu..“ gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan orang yang berjejal membuatku pesimis untuk dapat mendirikan salat di rawdah. Kuurungkan niatku, mungkin nanti di waktu dhuha aku akan mencobanya lagi. Setelah lepas dari kerumunan orang-orang, tiba-tiba aku berada di sebuah pintu yang terletak sejajar dengan jalur menuju rawdah. Dan jalur itu sangat luang! Aku dapat dengan cepat mendekat ke depan makam Baginda Rasul. Tak sampai semenit, aku sudah di sana, dan berdiri di atas karpet merah rawdah yang lega. Mungkin hanya sepuluh orang kulihat di sana. Wallahu’alam, apakah Allah menutup mataku untuk melihat ratusan orang yang lain, tetapi saat itu jalur rawdah seolah telah siap untukku. Kuangkat takbir, kudirikian salat. Salat taubat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sarapan pagi di hotel, aku pergi menuju masjid lagi. Tak ingin ku sia-siakan waktuku di sini yang hanya beberapa hari. Kulangkahkan lagi kakiku menuju ruangan masjid yang setiap pintunya dijaga dua orang tentara kerajaan Saudi yang berseragam cokelat. Setelah salat dua rakaat dan salat dhuha, kuteguk air zamzam dingin yang menyegarkan kerongkonganku. Alhamdulillah, mungkin ini merupakan bagian surga yang jatuh ke dunia. Lalu aku mencari sebuah tempat di dalam yang agak sepi, begitu luasnya masjid ini sehingga membuatku bebas memilih tempat yang kusuka. Aku ambil tempat yang agak ke belakang. Setelah menemukannya, kusimpuhkan tubuhku duduk di atas permadani tebal yang empuk, menyandarkan punggungku di pilar marmer yang sejuk, dan kipas angin yang berputar-putar di atas kepala makin membuat nyaman diriku. Ku buka mushaf Qur’an kecilku, kutargetkan menyelesaikan sepuluh halaman sampai waktu dzuhur nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa pegal dan lelah akibat perjalanan kemarin masih terasa, namun berangsur pulih dengan kenyamanan suasana saat ini. Walau demikian, rasa nikmat ini membuat mataku menjadi berat. Berat, dan lebih berat lagi tak tertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbelalak mendapati diriku berada di atas tumpukan pasir cokelat di sebuah gurun. Aku bersandar pada sebatang pohon kurma yang daunnya tak cukup melindungiku dari jilatan panas matahari. Tak jauh didepanku terdengar suara, kemudian aku berjalan ke depan, mendekati sumber suara itu. Di sana ada sebuah gubuk yang atapnya terbuat dari pelepah kurma dan lantainya dialasi dengan anyaman dedaunan kering. Puluhan orang bersorban dengan pakaian jubah putih duduk di sana melingkar, sepertinya sedang ada sebuah pertemuan. Suara itu datang dari seorang laki-laki yang duduk di depan mereka, ia berbicara bahasa Arab dengan beberapa potongan kata yang dapat kupahami maksudnya, sepertinya ia sedang berbicara soal agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku intip mereka dari balik pohon kurma. Negeri ini terlihat begitu asing. Tak jauh dariku terdapat bangunan-bangunan batu berbentuk kotak-kotak. Pakaian yang mereka pakai tidak seperti pakaian orang arab yang sering kulihat. Entahlah, mungkin potongannya agak berbeda. Mereka yang mengelilingi lelaki itu tampak begitu serius mendengarkan apa yang disampaikan. Beberapa ada yang mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suara lelaki itu berhenti, ia beranjak berdiri. Aku melihat wajahnya yang sangat tampan. Rahangnya terlihat kuat, dada dan bahunya bidang, badannya tegap, janggutnya lebat, rambutnya terurai rapih. Beberapa saat kemudian matanya menatap aku, pandangan kami saling bertemu. Aku ketakutan, ia mendapatiku sedang bersembunyi. Aku khawatir jika ia mengiraku seorang mata-mata.&lt;br /&gt;Lelaki itu lantas menunjuk ke arahku, ia berkata sesuatu dan seluruh orang yang ada di sana serempak menoleh ke arahku. Aku semakin takut, lalu secepat mungkin aku berlari menjauhi mereka.&lt;br /&gt;Seorang laki-laki tampak mengejarku, ia meneriakiku sesuatu yang tidak kudengar, aku pun semakin berlari lebih cepat, namun aku tiba-tiba terjatuh, dan pasir yang berterbangan membuat mataku kelilipan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tangan yang kekar dan kuat mendekap badanku. Tangan itu milik seorang laki-laki bersorban dengan sebilah pedang di pinggangnya. Lalu ia menyeretku berjalan, membawaku mendekati kerumunan orang-orang tadi. Aku meronta-ronta, berusaha melepaskan dekapannya.&lt;br /&gt;Di kerumunan itu, aku dihadapkan pada lelaki tampan yang berceramah tadi. Degup jantung pun semakin tak terkendali, aku begitu asing di tengah-tengah mereka, namun lelaki tadi memandangku dengan hangat. Ia mendekatiku dan duduk persis di depanku, bahkan sampai lutut kami saling bersentuhan. Ia tersenyum, senyum yang sangat indah. Aura kebapakannya merasuki sampai ke jiwaku, seperti seorang ayah yang sedang memandang seorang anak yatim penuh kasihan, karena anak itu sedang kelaparan dan sedang menggigil takut karena ketahuan mencuri makanan. Ia membuatku tenang dan tak lagi ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memegangi pipiku dengan kedua tangannya. Kulitnya halus dan harum. Lalu ia mengatakan sebuah kalimat dalam bahasa arab yang tak kupahami. Seperti sebuah pertanyaan, namun aku tidak bisa menjawabnya. Lalu ia menoleh ke arah yang lain dan berkata sesuatu dengan senyum yang mengembang lebar. Yang lain berkata „masya Allah! Masya Allah!“. Aku hanya mengerti beberapa kata dari laki-laki itu, yaitu „fii Indunisiy“ dan „akhirul zaman“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapanku, laki-laki itu menceritakan sesuatu. Dari gerakan tangannya kupahami ia sedang menggambarkan sebuah bola api. Ia kepalkan tangan kirinya lalu ia letakkan di telapak tangan kanannya. Kemudian ia lepaskan bola api itu dari genggamannya. Ia juga mengucapkan kata-kata „din“ dan „akhirul zaman“. Yang lain mengangguk-angguk mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai ia bercerita, ia memandangku lembut sekali, dan aku seolah tak ingin melepaskan pandangannya. Kemudian ia memelukku dengan erat beberapa saat. Ku balas pelukannya tak kalah erat seperti seseorang yang tak ingin berpisah dengan kekasihnya. Setelah ia melepaskan pelukannya, pemuda arab berambut ikal di sampingku memberiku segelas air. „Minumlah!“ katanya dalam Bahasa Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun, seorang pemuda berbaju gamis putih menggoyang-goyangkan tubuhku yang sedang terlelap di masjid ini. Ia berambut ikal. Ia membawakanku segelas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Moya, moya… zamzam… zamzam…“ ucapnya sambil menyodorkan gelas itu kehadapanku. Kuterima, lalu kuteguk airnya seraya berkata „syukron“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu tersenyum lalu pergi. Kuminum lagi air itu seteguk, dan aku toleh wajahku ke arah lelaki itu pergi, tapi tiba-tiba ia sudah menghilang! Lantas aku berdiri, ku berputar melihat sekeliling, kuamati pelan-pelan, tetapi lelaki itu benar-benar sudah menghilang! Hilang dalam waktu kurang dari tiga detik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, terlalu banyak rahasiaMu yang tak mampu aku cerna. Biarlah itu menjadi sebuah pengalaman spiritual untukku. Saat ini, aku berharap dapat merebut gelar haji mabrur sepulangnya dari tanahMu. Ya Allah, aku penuhi panggilanMu, Allahuma labaik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, Desember 2008.&lt;br /&gt;Untuk seorang lelaki yang memberiku minum lalu menghilang,&lt;br /&gt;di masjidmu yaa Rasul.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-6727256649846264885?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/6727256649846264885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=6727256649846264885' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/6727256649846264885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/6727256649846264885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2008/12/sebutir-rindu-di-tanah-madinah.html' title='Sebutir Rindu di Tanah Madinah'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-4390071366305973120</id><published>2008-11-16T17:50:00.003+01:00</published><updated>2010-11-28T08:55:18.121+01:00</updated><title type='text'>Tips Menjaga Pameran</title><content type='html'>Kategori: Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kalian sudah pernah berkunjung ke sebuah Messe (pameran)? Entah itu pameran pariwisata, budaya, perdagangan, pendidikan, bahkan sampai pameran barang. Di sana kalian akan bertemu dengan seorang penjaga pameran yang siap memberikan kalian informasi-informasi dari barang atau jasa yang dipamerkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah instansi atau badan biasanya akan menginvestasikan dana yang cukup besar untuk ikut serta dalam sebuah kegiatan pameran. Tentunya dengan harapan bahwa mereka akan mendapat banyak peminat atau pelanggan untuk produk mereka, atau paling tidak produk mereka sudah dikenal di khalayak umum. Di sebuah pameran, biasanya produk-produk tersebut dipresentasikan sebaik mungkin. Di sinilah pentingnya peran seorang penjaga pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beberapa kali sempat menjadi penjaga pameran dan menjadi pengunjung pameran. Setelah mengamati, sampailah saya pada tulisan ini, sebagai tips untuk kalian yang berminat mendapatkan pengalaman bekerja di sebuah pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kalian harus mengetahui dengan detil 5W+1H dari pameran tersebut. Misalnya, kalian tahu bahwa kalian akan menjaga stand di pameran pendidikan. Yang kalian presentasikan adalah pendidikan di Indonesia. Lalu kalian tahu, siapa target pengunjung. Di dalam kasus ini bisa jadi pengunjung datang dari kalangan pelajar dan akademisi. Lalu cari tahu, di mana pameran tersebut diadakan. Di tempat yang besarkah? atau di tempat yang kecil? Dengannya kalian bisa memprediksi jumlah peserta yang datang. Terakhir, cari tahu kapan pameran itu digelar. Akhir pekan kah? Siang hari kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan informasi eksternal tentang jenis pameran, sekarang kalian pelajari produk yang ingin kalian pamerkan. Misalnya, kalian diminta menjaga stand kerajinan Indonesia di sebuah pameran perdagangan internasional. Di sini, kalian dituntut menguasai Bahasa Inggris dengan lancar, dan bahasa setempat di mana pameran itu diadakan. Lalu, kuasai juga istilah-istilah dasar yang bisa jadi akan banyak kalian pakai ketika memberikan informasi nanti. Misalnya, dalam pameran perdagangan, maka kalian harus tahu kata-kata "Trade", "Handel", "Handycraft", dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, pelajari brosur-brosur yang tersedia. Baca brosur tersebut, dan temukan sesuatu yang menarik di sana. Ada baiknya juga ketika kalian tahu di halaman berapa sebuah informasi terdapat di sebuah brosur. Ini penting untuk memperlihatkan bahwa kalian kompeten dalam pemberian informasi tersebut, dan bahwa kalian adalah orang yang smart (kita bahas di paragraf berikutnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup bermanfaat jika kalian melatih diri memberikan informasi di depan cermin sebelum kalian terjun ke lapangan. Latihan ini bertujuan agar kalian terbiasa dan tidak grogi ketika berhadapan dengan orang, dan agar kalian memiliki gambaran apa yang akan kalian katakan saat menyampaikan informasi. Dengan latihan di depan cermin, kalian juga dapat mengontrol mimik wajah dan gestur tubuh agar terlihat hangat, nyaman, dan bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika secara pengetahuan dan isi sudah oke, mari kita lanjutkan dengan pembahasan mengenai tampilan luar (outfit). Tak dapat dipungkiri, setiap orang memiliki first impression terhadap sesuatu melalui tampilan luar. Sebagus apapun produk yang kalian punya, tetapi jika penampilan kalian lusuh dan kumal, orang akan malas mendekati kalian untuk mendapatkan informasi. Oleh karena itu memperhatikan penampilan sebelum menjaga stand is a must!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berangkat, mandi yang bersih sampai badan menjadi segar. Cuci muka, pakai lotion atau lipbalm, dan atur rambut hingga rapih, jangan lupa untuk menjaga kebersihan mulut dan gigi agar senyum kalian dapat memikat. Pakai pakaian yang bersih dan wangi, yang tergantung dari situasi dan kondisi. Secara standar, untuk laki-laki adalah jas. Jas hitam, celana hitam, dengan oxford shoe atau derby shoe berwarna hitam bisa dijadikan alternatif pakaian yang terlihat glamor. Kemeja dalamnya pilih warna yang elegan seperti merah maroon atau biru tua. Tidak perlu memakai dasi jika kalian masih under 30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di pameran nanti, kalian akan bertemu banyak orang dan berbicara dalam jarak yang relatif dekat. Oleh karena itu sangat penting jika kalian memakai parfum dan membawa parfum. Wangi-wangian yang hangat seperti musk dapat membuat sang pengunjung betah mendengarkan informasi dari kalian. Penting juga untuk menjaga aroma mulut. Karena kalau mulutnya sudah berbau kurang sedap, maka orang pasti akan malas untuk medekat. Setidaknya, orang akan tersiksa karena menahan nafas selama mendengarkan kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah tersenyum, jaga mata kalian agar tetap berbinar, dan tataplah setiap orang dengan pandangan bersahabat. Tunjukkan bahwa kalian smart, bahwa kalian enak diajak ngobrol, bahwa kalian berwawasan luas dan cerdas. Atur intonasi suara, jaga kesempurnaan berbahasa, dan mainkan gestur tubuh dan mimik wajah dengan tepat. Jika kalian sedang mendengarkan atau mengatakan sesuatu ke seseorang, tatap kedua matanya dengan dalam. Jika kalian sedang dalam posisi bersandar (misal berdiri sambil menyandarkan tubuh ke dinding ata meja), arahkan tangan atau kaki kalian ke pendengar. Jangan memotong pembicaraan dan teruslah tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang terakhir, jaga mulut kita agar ludah kita tidak memuncrat saat berbicara. Kadang saking bersemangatnya kita berbicara, si pengunjung di depan kita harus rela terkena hujan ludah kita. Mengatasinya adalah dengan mengulum permen dan langsung meneguk ludah yang sudah terkumpul di mulut kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tips-tips tadi bermanfaat ya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-4390071366305973120?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/4390071366305973120/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=4390071366305973120' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/4390071366305973120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/4390071366305973120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2008/11/tips-menjaga-pameran.html' title='Tips Menjaga Pameran'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-598949172622690286</id><published>2008-10-19T20:17:00.003+02:00</published><updated>2010-11-28T08:55:40.739+01:00</updated><title type='text'>Mengajar Bahasa Indonesia</title><content type='html'>Kategori: My Side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai minggu ini saya punya aktivitas baru, yaitu mengajar Bahasa Indonesia untuk penutur asing di KBRI Berlin. Terus terang saya sangat tertarik serta antusias untuk pekerjaan ini, karena ini merupakan pengalaman pertama saya mengajar bahasa secara formal, terlebih di sini saya dituntut menggunakan dua bahasa, yaitu Jerman dan Indonesia. Kadang-kadang keluar juga Bahasa Inggris kalau ada beberapa kosa kata yang tidak saya pahami di Bahasa Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya saya berpikir, kok saya jadi sering berkecimpung di dunia bahasa ya? Padahal latar belakang saya kan semestinya insinyur di bidang bioteknologi? Dua tahun saya menjalani pekerjaan di TU Berlin yang setiap hariya sprechen Deutsch, sekarang ditambah mengajar bahasa lagi di KBRI, jadi kapan saya bekerja sesuai dengan bidang saya? Ya, nggak apa-apa, alhamdulillah bisa terhitung sebagai pengalaman. Mudah-mudahan manfaat. Yang penting kita senang dengan pekerjaan itu, karena kalau kita senang, maka kita akan mengerjakannya dengan sepenuh hati dan profesional serta memberikan yang terbaik yang mampu kita beri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertemuan pertama tadi, saya kaget, ternyata sebagian besar pesertanya tidak sepantaran dengan saya. Saya jadi mengurungkan niat memakai sapaan Du (kamu) di kelas, dan dengan alasan kesopanan saya tetap menggunakan kata sapa Sie (Anda) ke mereka. Alhamdulillah kelas tadi berjalan dengan baik. Pesertanya ada yang berprofesi sebagai pebisnis, karyawan, mahasiswa, seniman, polisi, musikus, bahkan ada juga seorang dosen yang sudah bergelar doktor. Sempat deg-degan juga sih, karena saya takut tidak bisa memuaskan mereka atau tidak sesuai dengan ekspetasi mereka. Mudah-mudahan saya bisa memberikan yang terbaik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, belajar bahasa dalam waktu dua jam per minggu sangatlah kurang, ditambah lagi dengan jumlah peserta yang hampir mencapai 30 orang, yang sangat sulit untuk menciptakan suasana yang kondusif. Saya sudah menyusun silabus dan kurikulum untuk tiga bulan ke depan dengan target para peserta dapat memahami Bahasa Indonesia percakapan dan memahami bahasa tulisan sederhana, namun karena keterbatasan tadi, saya berpikir untuk merombak kurikulum itu karena tadi saja baru setengah target harian yang berhasil dijalankan. Alternatif lain yang akan saya ajukan ke Atase Pendidikan adalah menambah waktu pertemuan atau menambah jumlah kelas. Mungkin ini bisa dijadikan sebagai salah satu solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tantangannya adalah, berdasarkan pengalaman, jumlah peserta yang ikut kursus biasanya akan berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Mudah-mudahan peserta di kursus kali ini tetap konsisten untuk hadir. Hal menjaga stabilitas konsistensi kehadiran ini menjadi tugas berat saya, karena sangat berkaitan dengan persepsi peserta terhadap kursus ini, baik dari segi kualitasnya, maupun dari segi cara pengajarannya. Mudah-mudahan Allah melancarkan tugas ini, karena namanya masih mencari pengalaman, ya saya masih mencoba-coba dan meraba-raba bagaimana sebaiknya tugas ini dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ala kulli hal, kita lihat ke depan, yang jelas I'll try to do my best. Yuk, kita isi kesempatan-kesempatan yang ada di hadapan kita sebaik mungkin. Kita isi dimensi ruang di kepala kita dengan mimpi-mimpi, yang dengannya dapat menumbuhkan motivasi untuk merealisasikannya. The story will be continued, I think..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-598949172622690286?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/598949172622690286/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=598949172622690286' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/598949172622690286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/598949172622690286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2008/10/mengajar-bahasa-indonesia.html' title='Mengajar Bahasa Indonesia'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-3185839280138771554</id><published>2008-09-22T17:02:00.004+02:00</published><updated>2010-11-28T08:56:03.159+01:00</updated><title type='text'>Dimas, Allah Sayang Sama Kamu</title><content type='html'>Kategori: My Side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Yaa Allah, yaa Rahmaan, yaa Rahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini dimulai dari satu semester yang lalu. Saya mengalami beberapa musibah dengan gagalnya saya di beberapa ujian. Saya menata hati, menata rencana, menata pola belajar. Seiring berjalannya waktu, saya terbuai dengan beberapa kesibukan yang datang silih berganti. Sedari dulu saya tidak suka menyalahkan kesibukan dengan prestasi kuliah, karena nyatanya banyak orang yang sibuk, tapi mereka tetap bisa sukses di kampus, padahal kita sama-sama mempunyai 24 jam satu hari satu malam. Saya berpikir, ini kesalahan klasik, kesalahan saya mengatur waktu dan membuat skala prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal tahun ini, saya sempat jatuh menerima keadaan bahwa saya harus mengikuti dua buah ujian penentuan. Ya, penentuan eksistensi saya di Jerman ini, karena jika saya gagal lagi, maka saya harus merubah total rencana hidup saya ke depan: saya harus angkat kaki dari negeri yang indah ini. Sejak itu, saya berazzam, bahwa keberhasilan adalah sebuah resultan dari usaha yang sungguh-sungguh sampai batas klimaks, dan doa serta kedekatan dengan Allah yang tak boleh terhalangi dengan kelalaian dan kemaksiatan. Mulailah pola hidup saya yang baru, pola hidup mahasiswa yang haus akan ilmu, yang sadar bahwa kesuksesan bukanlah berbentuk hadiah yang jatuh dari langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah lebih dari 7 bulan saya banyak menghabiskan hari-hari di Bibliothek, perpustakaan kampus, yang berjarak 20 menit menggunakan kereta bawah tanah dari rumah saya. Dari pagi sampai malam. Hanya karena kegiatan mendesak, kegiatan terjadual, atau karena bekerja di kantor, saya tidak mengunjungi Bibliothek. Di sana, saya banyak ditemani sahabat saya, Dick Maryopi, yang juga sedang sama-sama berjuang, berjihad mencari ilmu di negara ini. Baca, baca, dan baca. Mengambil ilmu di fasilitas yang sudah sangat lengkap di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian pertama saya di bulan April, alhamdulillah lulus. Tiap hari saya ditemani dengan setumpuk kertas-kertas tebal bahan ujian. Waktu itu Allah memberi saya jalan, ada beberapa pertanyaan ujian yang tidak bisa saya jawab, sehingga saya harus mencari orang yang kompeten untuk mengajari saya. Di siang itu, selepas keluar kantor dan menuju Bibliothek, saya bertemu dengan asisten profesor mata kuliah ujian yang akan saya ikuti. Saya dekati dia, saya tanya, apakah saya boleh bertanya-tanya privat dengan dia. Alhamdulillah, ia membolehkan saya berkunjung ke tempat kerjanya dan dengan sabar dia mengajari saya. Terima kasih untuk Jane Müller!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian kedua saya cukup dahsyat. Lebih dari tiga bulan saya yang saya persiapkan, karena ujian ini termasuk salah satu dari dua penentu langkah hidup saya. Saya datangi lagi kuliahnya, saya kumpulkan beberapa tambahan informasi, saya persiapkan sematang mungkin. Mata kuliah ini, yang dulu merupakan momok untuk saya, ternyata sekarang menjadi mata kuliah yang paling saya suka, dan bahkan saya berencana memperdalam ilmu ini di kemudian hari. Ditemani dengan William Tanggara saya terperangah dengan Kemahabesaran Allah dengan begitu kompleksnya alam ini untuk ditelaah. Alhamdulillah, di ujian yang menentukan ini saya berhasil lulus dengan nilai yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah ujian tersebut, saya mengejar lagi satu mata kuliah, Physikalisch-Chemische Messmethoden yang juga cukup berat. Dengan persiapan yang cukup, saya beranikan untuk mengambil ujian ini walaupun tidak saya ikuti kuliahnya. Dan pertolongan Allah lagi-lagi sangat dekat, karena Dia ada di dekatmu, malah lebih dekat dari urat nadi lehermu sendiri: saya menutup kuliah ini dengan sangat memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir hari ini. Ujian yang menentukan saya bisa melanjutkan beramal di Jerman ini atau justru harus mencari tempat lain. Saya stress, benar-benar stress. Saya sudah belajar, membaca buku yang tebalnya 10 cm beratus-ratus halaman, namun saya masih terus merasa belum cukup. Saya berdoa, memohon kemudahan dari Allah. Pelajaran ini memang sangat sulit. Dua hari terakhir, saya mengisolasi diri untuk persiapan ujian. Hati saya gundah, seperti tertekan beban besar. Kepala saya berat, mata saya perih, jantung berdegup tak terkendali. Saya menelepon Ibu saya, memohon doa restu sambil menyampaikan kesesakan perasaan saya kala itu. Ibu menyabarkan saya dan saya yakin, beliau mendoakan saya dari pagi hingga malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari H tiba, saya paksakan untuk menghadapi apapun yang terjadi. Saya hanya ingin selesai dari perasaan ini. Di kampus, saya mengulang lagi pelajaran sebelum saya mengikuti ujian. Bahkan, di dua jam terakhir, saya masih berusaha memahami salah satu materi yang akan diujikan. Saya harus berusaha semaksimal mungkin, sampai titik klimaks, sampai saya tidak bisa lagi berusaha. Saya sudah berdoa dan yakin bahwa Allah akan mengabulkan doa saya. Akhirnya saya pasrah, saya serahkan semuanya, biar Allah yang menilai, karena segala rahasia hanya milik Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian, sang profesor mengajukan pertanyaan lisan, mengajak saya berdiskusi. Alhamdulillah, hati saya tenang, lidah saya lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau. Profesor itu tersenyum, terlihat senang. Hati saya lega, dan alhamdulillah, saya mendapatkan nilai yang jauh tidak saya bayangkan sebelumya. Target saya hanya lulus, dan melanjutkan hidup mengemban amanah orang tua dan ummat di negara Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menutup semester ini dengan cuti kerja dua minggu, dan niat untuk memaksimalkan 10 hari terakhir Ramadhan. Dan, hati saya pun berbisik, Dimas, Allah sayang sama kamu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih yaa Allah, &lt;br /&gt;Mama, Papa, dan semua pendoa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-3185839280138771554?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/3185839280138771554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=3185839280138771554' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/3185839280138771554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/3185839280138771554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2008/09/dimas-allah-sayang-sama-kamu.html' title='Dimas, Allah Sayang Sama Kamu'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-5130918359043684131</id><published>2008-07-29T19:44:00.001+02:00</published><updated>2008-07-31T16:03:39.868+02:00</updated><title type='text'>Cinta di Taman Surga</title><content type='html'>Kategori: Puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya atau tidak, aku sudah mengenalmu lebih dulu sebelum kamu mengenalku&lt;br /&gt;Aku sudah tahu siapa kamu sebelum kamu tahu siapa aku&lt;br /&gt;Jauh sebelum kita bertatap temu&lt;br /&gt;Lalu aku berharap, semoga Allah menakdirkan kita bersama dalam perjuangan menegakkan kalimat-Nya&lt;br /&gt;Bersama dalam tugas menyeru yang dititahkan kepada hamba-hamba yang dipilih-Nya&lt;br /&gt;Dan Allah mengabulkan doaku, sore itu, ketika kita bertemu di sebuah taman surga&lt;br /&gt;Taman yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah&lt;br /&gt;Taman yang dilindungi oleh kepakan-kepakan sayap malaikat tentara Allah&lt;br /&gt;Taman tempat kita berbagi ilmu, berwasiat dalam hak dan kesabaran&lt;br /&gt;Seiring doaku, semoga Allah meneguhkan hatimu&lt;br /&gt;Ana uhibbukum fillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Volkswagen-Bibliothek&lt;br /&gt;Berlin Charlottenburg, 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-5130918359043684131?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/5130918359043684131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=5130918359043684131' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5130918359043684131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5130918359043684131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2008/07/cinta-di-taman-surga.html' title='Cinta di Taman Surga'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-1753885186754226607</id><published>2008-07-05T01:27:00.004+02:00</published><updated>2008-07-05T01:44:38.859+02:00</updated><title type='text'>Aku Akan Menikah</title><content type='html'>Kategori: Kisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Siang itu selepas Vorlesung [1] tak biasa-biasanya Selman memintaku untuk bersamanya minum kopi di cafetaria kampus. Aku mengamati wajahnya lekat-lekat yang menyembunyikan rasa gembira. Sahabatku ini telah mengenalku ketika kami sama-sama menyelesaikan Studienkolleg [2] sebelum masuk ke bangku kulah. Selman adalah lelaki Turki soleh, ia mudah bergaul, ramah, dan sangat penolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   „Aku akan berta’aruf malam ini,“ katanya sambil tersenyum. Aku kaget. Rupanya itu yang ingin ia katakan padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   „Dengan siapa?“ balasku bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   „Seorang gadis Turki. Ia anak dari rekan ayahku. Keluarga kami sudah dekat. Ayahku sepertinya ingin menikahkanku dengannya,“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Siang itu, aku mendapat kehormatan menjadi sahabatnya yang pertama yang mendengar kabar ini. Siang itu Selman bercerita panjang, tentang perasaan gugupnya, tentang kegembiraannya, tentang keinginannya yang kuat untuk segera menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   „Aku tidak sanggup menunggu terlalu lama,“ katanya. Aku membatin, lelaki mana yang sanggup? Usianya masih sangat muda, kami hanya terpaut beberapa bulan. Selman lalu meminta pendapatku tentang keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Aku teringat pesan guru ngajiku dalam memilih jodoh. „Ingat, memilih pasangan adalah memilih rekan untuk meniti jalan menuju surga. Pilih karena agamanya, maka kamu akan selamat,“ begitu kata-katanya yang masih membekas di ingatanku. Kusampaikan hal ini panjang lebar kepada Selman. Ia mengangguk, lalu sesaat tertegun, sesaat tersenyum penuh harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   „Jika kamu memilih karena agamanya, maka kamu akan tenang. Ia akan berbakti kepadamu dan mendidik anak-anakmu untuk menjadi pejuang-pejuang Islam yang tangguh,“ begitu kira-kira pesanku, pesan yang belum tentu dapat kukerjakan sendiri karena aku belum menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Satu semester telah berjalan. Yang aku tahu, Selman sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahannya. Selama itu, Selman banyak bercerita tentang proses perkenalannya, khitbahnya, keluarganya, bahkan kadang-kadang aku sering kebagian cokelat, baklava [3] atau makanan khas Turki lainnya lantaran adat budaya tukar-menukar makanan dari kedua keluarga yang akan menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Beberapa minggu terakhir Selman terlihat lelah. Aku sering melihatnya menerima telepon di tengah-tengah kuliah, atau tiba-tiba meninggalkan ruangan kuliah karena ada urusan yang mendadak. Aku paham, sulit memang mempersiapkan pernikahan di tengah-tengah semester. Pernah suatu kali Selman berbicara kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   „Masalahku datang tak pernah habis. Baru selesai masalah yang satu, datang masalah yang lain,“ keluhnya. Aku tersenyum dan menjawab semoga Allah memberikannya kekuatan dan kesabaran, dan menghitung usaha-usahanya sebagai amal baik yang akan tergantikan dengan kebahagiaan yang tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dan waktu yang ditunggupun tiba, Selman membawakan sepucuk undangan bertuliskan namaku. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yüce Allah’in (c.c) rizasi, Rasulün’ün (s.a.v) sünnetine uyarak evlenen evlatlarimiz... dügün merasimlerinde sizleri de aramizda görmekten mutluluk duyariz...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sore itu hujan turun rintik-rintik. Tempat walimah nikah cukup jauh dari tempat tinggalku, dan kebetulan hari itu masjid kami sedang menyelenggarakan kegiatan pengajian bulanan. Banyak hal yang dapat membuatku mengurungkan niat datang ke pesta pernikahannya, namun untuk hari bersejarah sahabat baikku, aku bulatkan tekad untuk datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Konsep pernikahannya sederhana. Letaknya di alam bebas di balik pepohonan rindang dan taman bunga. Tempat duduk undangan laki-laki dan perempuan terpisah. Irama shalawat nabi mengalun sebagai musik hiburan. Benar-benar sebuah pesta nikah yang syar’i. Aku merasa asing karena aku bukan seorang Turki namun duduk di tengah-tengah komunitas Turki. Untungnya mereka sangat ramah dan memperlakukan aku seperti saudaranya sendiri.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   Sebelum sang pengantin bertemu dengan tamu-tamunya, seorang lelaki setengah baya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Seluruh orang yang hadir mendengarkannya dengan penuh hikmat. Alam bebas pun ikut menambah syahdunya suasana kali itu. Ah, sahabatku, akhirnya jadi juga kau menikah.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;   Selman datang dengan pakaian yang indah. Sebuah jas hitam yang terlihat gagah. Ia mengampiri satu-persatu tamunya yang ingin mengucapkan selamat atas pernikahannya. Ia pun datang menghampiriku, aku peluk dia sambil berbisik „Mabruk akhi, barakallahu fii kum,“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin 2008.&lt;br /&gt;[1] Kuliah umum&lt;br /&gt;[2] Fase persiapan untuk orang asing&lt;br /&gt;[3] Sejenis kue khas Turki yang sangat manis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-1753885186754226607?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/1753885186754226607/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=1753885186754226607' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/1753885186754226607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/1753885186754226607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2008/07/aku-akan-menikah.html' title='Aku Akan Menikah'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-8806430664429825820</id><published>2008-04-22T19:46:00.002+02:00</published><updated>2008-04-22T19:54:12.095+02:00</updated><title type='text'>Eingedeutscht!</title><content type='html'>Eingedeutscht!&lt;br /&gt;A Mushab Syuhada’s&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama kuliah untuk Rani. Hari pertama kuliah untuk seluruh mahasiswa baru di semester ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Vorlesung&lt;/span&gt; itu sesak, dipenuhi ratusan mahasiswa yang hendak mengambil mata kuliah ini. Ruangan berkapasitas 500 orang yang bertangga-tangga dengan puluhan barisan kursi dan meja lipat perlahan mulai membludak. Rani berada di ujung pintu masuk, melihat ke sekeliling mencari tempat yang tepat untuk duduk. Pilihannya jatuh pada sebuah kursi kosong di barisan tengah, tepat di sebelah pemuda Jerman yang sedang mendengarkan iPod sambil mengangguk-angguk mengikuti irama musik yang didengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa-mahasiswa itu terlihat duduk berkelompok dalam satu barisan. Mereka yang sudah saling bercakap-cakap satu sama lain menandakan di antara mereka sudah saling mengenal. Berbeda dengan yang duduk seorang diri. Penuh dengan keasingan, menandakan mereka belum mengenal seorang pun di sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani telah resmi berstatus mahasiswi setelah kelulusannya dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Studienkolleg&lt;/span&gt; bulan lalu. Gadis yang senang dengan model rambut kuncir kuda itu diterima di sebuah universitas teknik favorit di Jerman. Saat ini ia memiliki sebuah ambisi yang besar, yaitu ambisi men-jerman-kan dirinya. Hal ini dilatar belakangi oleh percakapannya dengan Meytha beberapa minggu lalu di sebuah acara malam persahabatan Indonesia-Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kalau lo gaulnya sama orang-orang Indo terus, gimana bisa maju &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Deutsch&lt;/span&gt; lo!“ kata Meytha, gadis yang memiliki rambut warna-warni merah-kuning-hijau dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;piercing&lt;/span&gt; di hidungnya. Meytha berkulit putih, alis matanya dicukur hingga tipis dan mengenakan lensa kontak berwarna biru, semakin melengkapkan gayanya yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;colorfull&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani menyimak perkataan Meytha lekat-lekat. Meytha tiba di Jerman setahun lebih dulu dari Rani, dan saat ini ia sedang berkuliah di sebuah universitas terkemuka yang sempat disinggahi Einstein di jantung kota Berlin. Yang Rani kagumi dari Meytha adalah kemampuan bahasa Jermannya yang berkembang pesat luar biasa. Meytha yang supel, punya banyak sekali teman orang Jerman dan sangat ceplas-ceplos ketika berbincang-bincang dengan mereka. Lain halnya dengan Rani dan sebagian besar pelajar Indonesia yang ada di Jerman. Walau sudah cukup lama tinggal di sini, kemampuan bahasa Jermannya masih terbilang a-a u-u. Mereka malu berbicara, takut salah Grammatik, takut dicemooh, gagap ketika akan memulai pembicaraan, dan selalu menghafalkan beberapa kalimat „&lt;span style="font-style:italic;"&gt;einmal Döner Bitte, ohne Zwiebel&lt;/span&gt;“  di kepala sebelum membeli Döner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, apakah hal itu merupakan kebiasaan atau permasalahan mentalitas. Banyak juga mahasiswa asing seperti dari timur tengah maupun dari eropa timur yang juga belum terlalu cakap berbahasa Jerman, tapi mereka lebih berani berbicara walaupun susunan gramatiknya terbang ke mana-mana. Sedangkan orang Indonesia memiliki kemampuan mendekati sempurna dalam gramatik, hanya saja cenderung pendiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lo harus punya kontak sama orang Jerman, kalau lo mau bahasa Jerman lo jadi bagus. Kalau tiap hari ngomongnya bahasa Indo melulu, ya nggak maju-maju,“ selorohnya lalu meneguk minuman beralkohol &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berliner Kindl&lt;/span&gt; dari gelas yang sedari tadi ia genggam. „Tinggalin acara kumpul-kumpul sama orang Indo kayak di masjid itu, keluar! Lihat dunia! Gaul!“, lanjutnya. Acara malam persahabatan Indonesia-Jerman itu ditutup dengan musik hingar bingar lengkap dengan bola disko yang berputar-putar memantulkan cercahan cahaya kelap-kelip lampu beraneka warna di ruangan yang hitam pekat. Suara tawa dan asap rokok mengepul bergulung-gulung di antara alunan musik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;top 40&lt;/span&gt; yang berdentum keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemuda Jerman berperawakan tinggi dan tampan datang ke arah Meytha. Meytha terlihat senang akan kehadirannya, mereka bercipika-cipiki lalu Meytha mengenalkan si pemuda itu ke Rani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tobi, sie ist Rani. Ran, hier ist Tobi, er ist echt ein geiler Mann&lt;/span&gt;!“ katanya dilanjutkan dengan tawa yang membahana seperti euforia mabuk karena alkohol. Tobias melingkarkan tangannya di pinggul Meytha yang malam ini berpakaian seadanya seperti kekurangan bahan, seolah tidak takut ancaman masuk angin di cuaca yang sudah mulai dingin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani tertegun melihat ketampanan pemuda itu sambil berkata dalam hati, betapa beruntungnya Meytha dapat kenalan dengan makhluk yang hampir sempurna itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Sudah yah, Ran. Gue ke sana dulu ketemu sama temen-temennya Tobi. Ingat, jangan banyak gaul sama orang Indo. Cari temen orang Jerman, kalau perlu jadiin pacar. Ikut gue clubbing tiap minggu di Oriental Club atau di Copacabana, biar bisa gue kenalin sama temen-temen gue yang lain. Okeh?“ katanya sebelum beranjak pergi meninggalkan Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani masih terdiam setelah ditinggal pergi Meytha. Hatinya makin mantap, bahwa kontak dengan orang Jerman lah yang ia butuhkan agar ia dapat belajar banyak tentang kebudayaan dan cara hidup orang Jerman yang teratur dan disiplin, selain agar ia dapat memajukan kemampuan bahasa Jermannya. Ia mengenal beberapa teman-temannya yang memiliki kontak dengan orang Jerman, dan mereka dapat bercas-cis-cus, berargumen, berdebat, bahkan sampai bertengkar dalam bahasa Jerman yang mengalir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani memandang pemuda disebelahnya yang sedang mendengarkan iPod. Mata pemuda itu tidak melirik sedikitpun ke arah Rani. Sepuluh menit lagi kuliah dimulai. Rani ingin menggunakan kesempatan ini untuk berkenalan dengan pemuda itu dengan harapan bisa menjadi teman dekat sepanjang kuliah nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hallo, ist der Platz hier noch frei?&lt;/span&gt;“ tanya Rani lembut sambil mengulum senyum. Pemuda itu melepaskan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;earphone&lt;/span&gt;nya dan menjawabnya dengan kata „&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ja&lt;/span&gt;“ singkat, lalu kembali mengenakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;earphone&lt;/span&gt;nya. Rani sengaja memilih duduk di sebelahnya karena tampaknya ia masih belum punya teman dan membutuhkan teman mengobrol. Namun ternyata ia tampak acuh dengan kehadiran Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rani tidak putus asa mendapatkan perlakuan cuek darinya. Dicobanya lagi usaha kedua. Rani menjatuhkan pulpennya dengan sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hmm, kannst du bitte meinen Stift nehmen&lt;/span&gt;?“ pinta Rani. Pemuda itu melepaskan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;earphone&lt;/span&gt;nya dan dengan malas mengambil pulpen di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Danke schön. Hmm.. mein Name ist Rani. Ich komme aus Indonesien. Bali.. Bali.. ist in  Indonesien, weißt du?.. Warst du schon mal in Indonesien? Hmm.. hmm.. Indonesien ist schön, oder? Hmm.. ich kann auch tanzen und kochen.. hmm... hmm..&lt;/span&gt;“ celoteh Rani mempromosikan dirinya mencari bahan pembicaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda itu malah melihat aneh ke arah Rani, seraya berkata, „&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sorry, ich verstehe dich nicht! Lass mich doch bitte in Ruhe!&lt;/span&gt;“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oh mein Gott.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa gagal mendapatkan kontak dengan orang Jerman dengan usahanya sendiri, Rani meminta bantuan kepada Meytha. Setiap minggu Rani mengikuti Meytha berparty di club-club ternama di kota Berlin. Meytha berhasil masuk ke kehidupan Rani dan mengubah kepribadiannya yang masih labil. Rani sudah tidak mau lagi berkumpul pada acara-acara KBRI atau masjid dengan dalih ingin memperlancar bahasa Jerman. Rani memisahkan diri dari komunitas yang dulu kerap menjaganya, menasihatinya, dan membantunya dengan penuh kekeluargaan. Rani pun tidak lagi ikut pengajian rutin bersama Mbak Sofi setiap Sabtu. Bahkan, makin lama, Rani makin berani membuka pakaiannya yang dulu cukup tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu saat Mbak Sofi meneleponnya ketika Rani sedang Party. Suara jedak-jeduk mengiringi percakapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Rani, apa kabar? Lagi di mana nih, kok sekarang sudah jarang datang di pengajian lagi?“ tanya Mbak Sofi.&lt;br /&gt;„&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ich komm nicht mehr mit&lt;/span&gt;, Mbak. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ich bin jetzt noch auf die Party! Wir machen Spaß wie noch nie!&lt;/span&gt;“ jawab Rani seenaknya. Hati Mbak Sofi miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meytha makin tidak terkendali larut dalam pergaulan bebas á la barat. Rani ikut dibawa-bawa. Bagi Rani, Meytha adalah sang dewi penolong yang kegiatannya mengasyikkan dan hal itu ditelannya bulat-bulat. Kali ini Rani sudah memiliki banyak teman Jerman. Bahasanya pun meningkat, walau tidak terlalu tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ayo, Ran, minum seteguk aja!“ pinta Meytha dengan mata sipitnya yang memandangnya penuh hasutan. Di sekelilingnya berjejer pemuda-pemudi kulit putih yang baru saja menerima Rani menjadi bagian dari komunitasnya. Mereka menatap Rani dengan segelas wine merah di depannya, seolah mereka adalah barisan penguji yang berwenang meluluskan atau tidak meluluskan Rani untuk masuk ke komunitasnya. Rani bimbang, sempat terlintas larangan agama di kepalanya, namun pengakuanlah yang lebih didahulukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Naah! Gitu dong! Jangan norak, kita kan di Eropa!“ sorak Meytha dengan senyum mengembang melihat Rani tersembab dalam jerat dosa. Lalu mereka berlanjut menari-nari mengikuti alunan musik, tertawa lebar, bergoyang, seolah inilah kegiatan yang paling nikmat dan paling menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu semester berjalan. Rani telah berubah menjadi Rani yang baru. Rani yang bebas. Orang-orang melihat Rani yang bablas dan menemukan jati dirinya dalam kenikmatan hura-hura. Namun siapa yang tahu, dalam kebebasannya itu ternyata hatinya sedang gamang. Berbagai masalah menerpanya setelah perubahannya. Keuangannya menjadi boros karena uang yang dikirim orang tuanya habis terpakai untuk party setiap minggu. Kuliahnya menjadi berantakan, karena terlalu lelah mengulang pelajaran seusai berparty. Tugas kuliah tidak ia kerjakan, dan ujian tidak ada yang lulus. Lebih dari itu, hatinya menjadi kering. Ia benar-benar merasakan kekeringan. Shalat sudah lama ditinggalkan mengikuti Meytha. Dalam keadaan susah seperti ini, sebenarnya Rani ingin menumpahkan rasanya. Namun dengan siapa? Meytha? Meytha hanya bisa berhura-hura, menjerumuskan, atau sekadar memberikan nasihat yang kering basa-basi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Rani sempat iri melihat Ayu dan Riska. Dua perempuan sholehah yang kuliahnya gemilang. Riska fasih berbahasa Jerman tanpa harus ikut party. Ia lebih suka mengikuti kajian keagamaan dan pendidikan dalam bahasa Jerman di masjid yang suasananya lebih hangat dan bersahabat. Sedangkan Ayu, ia pun lancar berbahasa Jerman karena usaha kerasnya untuk menguasai bahasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang Rani ingin kembali bergabung dengan mereka, masuk ke dalam masjid dan ikut pengajian bersama Mbak Sofi. Namun ia tidak berani melakukannya, ia sudah terlanjut basah jauh meninggalkan Islam. Ia yakin, orang-orang sudah tidak mau menerimanya jika ia bergabung lagi dengan komunitas Islam Indonesia di kota ini. Rani sudah memiliki cap baru: perempuan party. Ia pun enggan kembali karena takut dikira sok alim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain sisi, Meytha terus mengingatkan Rani untuk tidak bergaul dengan orang Indonesia. Percuma katanya, jauh-jauh ke Jerman mainnya sama orang Indonesia lagi. Bahkan Meytha mengancam, jika Rani kembali ke komunitasnya, maka Meytha dan teman-temannya akan meninggalkan Rani.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Hay Ran, apa kabar?“ tanya Riska ketika tidak sengaja bertemu di U-Bahn.&lt;br /&gt;„Baik,“ jawab Rani seadanya, Rani sedang dalam bad mood dengan pikiran-pikirannya. Riska sudah menebak tingkah laku Rani yang akan dingin jika bertemu orang Indonesia, apalagi yang alim berjilbab seperti Riska.&lt;br /&gt;„Mau kemana nih, Ran?“&lt;br /&gt;Rani tak menjawab. Riska pun tersenyum, memaklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama terdengar suara isakan dari tubuh Rani.&lt;br /&gt;„Lho, Ran? Kok nangis?&lt;br /&gt;Rani tidak menjawab. Malah semakin sesengukan. Penumpang-penumpang yang lain di sekelilingnya memandang dua anak manusia itu keheranan, seolah sedang menyaksikan acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reality show&lt;/span&gt; di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta berhenti di stasiun tempat Riska seharusnya turun. Namun ia urung meninggalkan Rani yang sedang menangis dan tak mau berbicara. Sampai pada stasiun terakhir, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rathaus Steglitz&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ran, kita harus turun. Turun dulu yuk,“ ajak Riska pelan. Rani beranjak, dipapah Riska di bahunya.&lt;br /&gt;„Duduk di sini ya,“ sambung Riska menuntun Rani ke arah jejeran kursi besi di dalam stasiun. „Ayo sekarang cerita ke gue, ada apa?“&lt;br /&gt;„Ris.. gue kering Ris..“&lt;br /&gt;„Maksud lo, Ran?“&lt;br /&gt;„Gue, gak mau kayak gini, Ris. Plis tolong gue.. Gue sudah terlanjur jauh dari Allah. Jauh dengan orang-orang sholeh,“&lt;br /&gt;„Terus, kendala lo di mana, Ran? Kalau lo mau berubah seperti dulu lagi, lo bisa berubah sekarang!“&lt;br /&gt;„Apa bener Allah mau maafin gue?“&lt;br /&gt;„Ya jelas dong! Allah kan Mahapemaaf. Kalau lo bertobat dengan sebenar-benar tobat, insya Allah sebesar apapun dosa lo, pasti akan Allah ampuni, asal lo janji lo nggak ngulanin perbuatan itu lagi dan merasa menyesal dengan apa yang sudah lo lakukan“&lt;br /&gt;„Tapi, pasti orang-orang nggak mau nerima gue lagi, gue sudah dicap jelek,“&lt;br /&gt;„Lho, kok itu yang ditakutin. Kata orang biarlah kata orang, yang penting kan niat lo berubah karena Allah, bukan karena siapa-siapa,“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergaul dengan siapa-siapa boleh saja. Yang namanya ber&lt;span style="font-style:italic;"&gt;muamalah&lt;/span&gt;, bebas dengan siapa saja. Namun ingat, bergaul juga ada batas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;syar’i&lt;/span&gt; nya, jangan sampai kebablasan. Bukan berarti tidak boleh berteman dengan orang Jerman, bahkan itu perlu! Kita kan sama-sama manusia yang saling membutuhkan dan menolong. Tapi tetap jaga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;izzah&lt;/span&gt; kita sebagai seorang muslim atau muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Rani, wow! Makan apa lo sekarang, Ran? Makan sayur asem?“ kata Meytha kaget melihat perubahan Rani yang dramatis, lalu dengan pandangan merendahkan pergi meninggalkan Rani.&lt;br /&gt;Yaah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hidayah&lt;/span&gt; memang hanya Allah yang punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, April 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-8806430664429825820?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/8806430664429825820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=8806430664429825820' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8806430664429825820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8806430664429825820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2008/04/eingedeutscht.html' title='Eingedeutscht!'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-4332956408544116517</id><published>2008-03-16T21:17:00.002+01:00</published><updated>2008-03-16T21:31:45.649+01:00</updated><title type='text'>Last Breath</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;From those around&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;I hear a cry&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;a muffled sob&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;a hopeless sigh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;I hear their footsteps leaving slow&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;and then I know my soul must fly!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;A chily wind begins to blow&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;within my soul from head to toe&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;and then, last breath, escapes my lips&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;it's time to leave and I must go!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;So it's true but it's too late&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;they said: each soul has it's given date&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;when it must leave its body's core&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;and meet with its eternal fate&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oh mark the words that I do say&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;who knows tommorow could be your day&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;at last it comes to heaven or to hell&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;decide which now do not delay!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;come on my brothers let us pray&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;decide which now do not delay&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oh God! oh God! I can not see&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;my eyes are blind, am I still me?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;or has my soul been led astray?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;and forced to pay a priceless fee?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Alas to dust we are return&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;some shall rejoice while others burn&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;if only I knew that before&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;the line grew short and came my turn&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;And now, as beneath the sod&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;they lay me with my record flawed&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;they cry not knowing, I cry worse&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;for they go home,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;I face my God!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-4332956408544116517?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/4332956408544116517/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=4332956408544116517' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/4332956408544116517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/4332956408544116517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2008/03/last-breath.html' title='Last Breath'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-5150035392801905183</id><published>2007-12-14T20:21:00.002+01:00</published><updated>2008-07-05T01:51:51.677+02:00</updated><title type='text'>Bidadari Surga</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatah kata dari penulis:&lt;br /&gt;Karena banyaknya pertanyaan dari pembaca, maka saya tegaskan bahwa cerpen-cerpen saya tidak semua berdasarkan pada kisah nyata. Persamaan tempat dan tokoh hanyalah kebetulan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bidadari Surga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;a Mushab Syuhada’s&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidadari surga, begitu aku menyebutnya. Aku tak tahu dari mana ia datang, namun ia memancarkan aura wajah yang berbeda. Penampilannya sederhana, layaknya seorang mahasiswi. Jilbabnya menutupi kepalanya., kulitnya putih, matanya biru abu-abu, pernah aku melihat bibir tipisnya melengkungkan senyum dengan sederet gigi putih yang rapih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidadari surga itu bukan mahasiswi satu jurusan denganku, tapi sering kali kita bertatap temu. Ada ribuan orang di kampus kami yang sudah seperti sebuah kota kecil ini, tapi dialah orang yang menurutku paling sering aku temui. Kali ini kami bertemu di depan mushala, beberapa saat kemudian di gedung Matematika, tak lama kutemuinya lagi di Mensa, dan sorenya di U-Bahn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang tidak tahu namanya, karena aku tidak pernah bertegur sapa. Namun naluriku untuk menguak misterinya memberikan aku beberapa fakta: muslimah itu kuliah jurusan Informatik, sepertinya ia adalah seorang gadis campuran Jerman-Turki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan betapapun seringnya kita bertemu, aku tak sanggup berlama-lama mencuri pandang ke arahnya. Begitu juga dirinya. Pernah suatu saat mata kami saling beradu, tak lama kami segera mengalihkan pandang. Dan rasa itupun berdesir, seperti rasa gugup, atau sebuah rasa asing yang lain. Ya Rabb, apakah rasa ini? Apakah maksud di balik semua ini? Aku seorang lelaki biasa yang selalu berupaya menjaga hati, namun bayangan sang bidadari itu berkali-kali datang, sementara aku tercengkram dalam rasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ini, rasa yang bodoh, rasa yang mudah datang dan pergi. Tapi rasa ini pada sang bidadari berbeda dari rasa-rasa sebelumnya. Ya Rabb, apakah rasa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ah, rasa ini datang lagi&lt;br /&gt;Rasa yang tak bosan-bosannya mengunjungiku&lt;br /&gt;Rasa yang sering aku tertawakan karena kebodohannya&lt;br /&gt;Ah, rasa ini sulit diusir&lt;br /&gt;Hinggap lekat mendalam&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba hilang seketika&lt;br /&gt;Rasa ini membuat aku gugup&lt;br /&gt;Namun ketika rasa ini pergi, membuat ku justru sangat cuek&lt;br /&gt;Ah, rasa ini, mengapa selalu dimulai dengan tatapan&lt;br /&gt;Yang membuat beribu tafsir&lt;br /&gt;Yang makin membuatku tak berhenti berpikir&lt;br /&gt;Hingga terukir, dan selalu mengalir&lt;br /&gt;Rasa ini,&lt;br /&gt;Mungkin hanya memberi sedikit sensasi&lt;br /&gt;Khayalan&lt;br /&gt;Harapan dan kecemasan&lt;br /&gt;Atau mungkin rindu yang tak mendasar?&lt;br /&gt;Tapi sekali lagi rasa ini hanya mampir sebentar&lt;br /&gt;Sebelum kemudian kembali buyar &lt;br /&gt;(Jakarta, 2006) &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun banyangan sang bidadari terus menerus hadir, aku belum memiliki keberanian untuk menanyakan siapa namanya. Cukup kehadirannya yang sekelebat membuat aku mengulaskan sebentuk senyum di wajah. Sang bidadari sepertinya sangat menjaga dirinya. Tak pernah aku lihat ia bersama-sama dengan seorang pria. Karena itulah, aku selalu mengurungkan niatku untuk menyapanya. Namun aku teringat sabda Rasulullah, bahwa janganlah kamu mencintai seseorang dengan cinta yang sangat, karena boleh jadi kamu akan membencinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, di musim gugur, aku menuju lantai dua tempat mushala kecil kampusku berada. Kulihat beberapa Schwester (saudara perempuan) sudah berdiri menunggu giliran ruangan shalat di depan sana, dan bidadari itu salah satu di antaranya. Mushala kami memiliki luas ruang yang terbatas, yang membuat Bruder (saudara laki-laki) dan Schwester harus bergantian menggunakan ruangan itu. Karena keterbatasan waktu, kami pun harus sabar mengunggu pemakaian ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan mushala itu sudah tertempel sebuah kertas bertuliskan „Mushala ini akan dipakai untuk Schwester“. Aku berdiri dan paham bahwa tak lama para Schwester itu akan memakai ruangan tersebut. Namun tak lama keluar salah seorang Bruder dari dalam, seraya mempersilahkanku untuk masuk karena di dalam ada beberapa Bruder lain yang masih shalat. Aku tersenyum mengucapkan terima kasih atas tawarannya, namun sebelum aku memutuskan masuk, aku bertanya pada para Schwester yang sudah menunggu.&lt;br /&gt;„Apakah kalian sudah menungggu lama? Apakah kalian keberatan jika saya masuk sebentar?“ tanyaku.&lt;br /&gt;„Kami sudah menunggu lama,“ jawab salah seorang Schwester. "Sekarang giliran kami," tambah Schwester yang lain. Lalu tak lama ada satu suara yang mengagetkanku, suara yang kulihat datang dari bidadari itu, menuju ke arahku.&lt;br /&gt;Suara yang sangat keras dan menusuk ulu hatiku.&lt;br /&gt;„Tolong – tunggu – di luar!“ katanya dengan nada tinggi menunjukkan nada kemarahan, disertai dengan raut wajah yang sangat dingin menatapku, lalu ia memalingkan wajahnya dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku hanya menatapnya sesaat dengan pandangan kosong dan mulut membisu. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. Kata-kata itu, suara itu, seolah telah menyihirku untuk membatu beberapa saat. Aku juga seorang manusia, aku juga punya perasaan dan hati, dan hati ini seketika luka atas perkataannya. Mungkin itu hanyalah perkataan biasa, dan mungkin aku akan biasa pula mendengarnya jika itu terlontar dari orang lain. Tetapi perkataan ini kudengar dari seorang bidadari pujaanku, yang selama ini kupendam cintanya sangat. Rasa cinta itu, berubah menjadi sangat perih. Aku segera pergi menjauh, menenangkan diri dahulu untuk sesaat. Yaa Rabb, begitu mudahnya Engkau merubah sebuah benda bernama perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidadari itu masuk ke dalam mushala bersama Schwester yang lain. Pikiranku tak berubah dari gaungan suara yang masih terekam kuat di kepalaku. „Warte-bitte-draußen!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama bidadari itu keluar. Aku menduga bahwa ia akan segera menuruni tangga di sebelah kiri karena tak ingin melihat diriku. Akupun segera membuang pandanganku agar tidak lagi menatapnya, karena hal itu hanya akan membuatku merasa semakin sakit. Dugaanku ternyata salah, aku merasakan ada sesosok bayangan yang semakin lama semakin mendekatiku, dan bayangan itu, tepat di depanku, berkata,&lt;br /&gt;„Maafkan saya, saya tadi sudah berbicara sangat kasar kepada kamu, saya terlalu jahat untuk berkata...“ ia lanjut berbicara, namun hanya itu kata-kata yang bisa aku tangkap darinya. Kulihat wajahnya, kali ini ia menatapku dengan pandangan bersalah, memohon maaf dariku.&lt;br /&gt;„Oh... yang tadi ya?“ tanyaku pura-pura tak tahu, padahal semua orang tahu bahwa aku pasti tak bisa menyembunyikan raut kecewa yang tergurat dalam di rona mukaku. „tidak apa-apa kok,“ lanjutku sambil tersenyum, lalu ia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaa Rabb, sekalipun ia telah meminta maaf, tapi rasa kecewa yang perih ini tak bisa hilang. Aku ambil mushaf kecil di dalam ranselku, kutenangkan diriku. Tiba-tiba, ini pasti sebuah jawaban dari Allah, tanganku membuka halaman tepat di surat Ali Imran ayat 133-134.&lt;br /&gt;„Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang&lt;/span&gt;. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.“ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, ajarilah aku untuk menjadi seorang yang pemaaf. Karena ku tahu, keberaniannya meminta maaf kepadaku adalah karena ia menyadari kesalahannya. Ia bukan seorang bidadari, ia juga seorang manusia sama seperti aku, yang sangat mungkin berbuat khilaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, kuyakin benar ini merupakan teguran dariMu. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami danau kesabaran yang luasnya seluas samudra kesabaranMu, berikanlah kami embun-embun pemaaf dari mata air pemaafMu, sinarilah hati-hati kami dengan sinar cinta dan kasihMu, jagalah hati-hati kami dari bermaksiat kepadaMu. Ya Allah, Tuhan yang Maha penyayang, lindungilah kami dalam naungan rahmahMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, Herbst 2006.&lt;br /&gt;Lebih dari setahun yang lalu.&lt;br /&gt;Ah, die Zeit verläuft wirklich so schnell.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-5150035392801905183?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/5150035392801905183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=5150035392801905183' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5150035392801905183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/5150035392801905183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2007/12/bidadari-surga.html' title='Bidadari Surga'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-1166835061106267936</id><published>2007-11-20T21:54:00.000+01:00</published><updated>2007-11-20T21:55:30.655+01:00</updated><title type='text'>Pergeseran Cara Pandang dari Sistem Islam</title><content type='html'>Kategori: Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum adalah sebuah perangkat penting dalam kehidupan. Tidak hanya untuk kehidupan pribadi, tetapi juga untuk kehidupan sosial. Hukum dapat berbentuk tertulis seperti sebuah undang-undang, atau dapat juga berbentuk cara pandang tehadap sesuatu. Terkadang, cara pandang muncul dari sebuah kontemplasi pribadi yang banyak dipengaruhi oleh keadaan yang dianggap „normal“ di lingkungan sekitar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mari kita berangkat dari Islam, agama dan sistem yang kita yakini bulat sebagai sistem terbaik yang tidak ada tandingannya, karena semua sumber hukumnya berasal dari Yang Mahatahu. Logikanya, jika kita meyakini bahwa Allah adalah Pencipta yang tak terbatas kekuasaan-Nya dan hasil ciptaan-Nya, maka kita juga mutlak harus meyakini bahwa Allah mengetahui secara detail apa yang diperlukan untuk hasil ciptaan-Nya. Saya teringat sebuah khutbah Jum’at dari Dr. Yogi di KBRI hampir setahun yang lalu: Jika kita membeli sebuah lemari produksi IKEA, dan ingin memulai menyusun bagian-bagian lemari itu agar menjadi sebuah lemari yang utuh, maka kita harus melihat buku petunjuk yang dikeluarkan oleh IKEA. Sama halnya jika ternyata lemari yang kita beli terdapat cacat atau kekurangan, maka kita harus melapor ke IKEA, bukan yang lain. Mengapa? Karena IKEA-lah yang seharusnya mengenal dan mengerti produknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masyarakat di negara-negara Islam - yang rata-rata berada pada jajaran Negara Dunia Ketiga - sayangnya belum mengenal benar hukum-hukum Islam yang lengkap dan menyeluruh. Padahal dalam Islam, aturan-aturan seperti disiplin, bersih, jujur, beradab, toleransi, menuntut ilmu dll tertuang jelas dan dibahas lengkap di dalam Al-Qur’an dan/atau Al-Hadits. Di sisi lain, negara-negara berkembang justru yang mengejawantahkan hal-hal tersebut. Di Jerman misalnya, masyarakatnya lebih disiplin dalam berlalu lintas jika dibandingkan dengan Indonesia. Akibatnya, banyak masyarakat kita yang mengiblatkan pandangannya ke negara-negara ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hal ini sah-sah saja, selama memang itu merupakan hal yang positif. Toh dalam Islam hal-hal tersebutpun juga ada dan diperintahkan. Namun yang perlu hati-hati adalah proses penyamarataan semua pandangan sehingga keluar dari batas-batas hukum Islam. Tidak selamanya budaya-budaya asing (misal: Jerman) harus didewakan seolah yang paling benar sedangkan yang lain (baca: Indonesia) dianggap buruk setelah dibanding-bandingka n. Tidak selamanya sistem pendidikan anak di Jerman dianggap lebih baik dari pada sistem pendidikan anak di Indonesia. Tidak selamanya kebebasan di barat dianggap paling baik dari pada kebebasan dalam Islam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Jerman, seseorang boleh dengan bebasnya mengeluarkan cairan hidung didepan orang banyak. Mengapa? Karena hal tersebut sudah membudaya dan dianggap wajar. Namun di Indonesia, seseorang hendaknya tidak mengeluarkan cairan hidungnya di depan orang banyak atau ditengah-tengah jamuan santap malam. Mengapa? Karena norma dan budaya Indonesia yang mengatakan hal tersebut kurang sopan/pantas. Lantas, apakah kita langsung menilai bahwa budaya Jermanlah yang paling benar? Atau sebaliknya, budaya Indonesialah yang benar?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kerelativan sebuah hukumlah yang akhirnya mendatangkan hukum Islam – atau hukum yang bersumber dari Allah – sebagai satu-satunya hukum yang mutlak dan tidak relatif. Islam memberikan jawab atas semua pertanyaan. Islam memberikan contoh untuk setiap panutan. Islam memberikan solusi untuk setiap permasalahan. Sehingga tidak ada yang tidak tersentuh oleh Islam, dan Islam tidak akan pernah „leave something in vogue“.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya, saya ingin mengajak diri saya sendiri dan juga saudara-saudara saya se-iman, untuk bersama-sama mengenal Islam secara utuh, tidak setengah-setengah, agar kita mengetahui lebih dalam keunggulan sistem-sistem yang ada dalam Islam, yang kita yakini adalah yang paling baik dan yang paling benar untuk seluruh umat manusia. Sehingga cara pandang kita terhadap sesuatu lebih berlandaskan kepada Islam, dengan tidak mengunci kita untuk mengenal dan mempelajari segala sesuatu yang „bukan islam“.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wallahu’alam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:  “Islam bermula dalam keadaan asing (gharib), dan akan kembali di anggap asing sebagaimana bermula. Maka beruntunglah orang-orang asing itu (ghuraba).” (HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-1166835061106267936?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/1166835061106267936/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=1166835061106267936' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/1166835061106267936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/1166835061106267936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2007/11/pergeseran-cara-pandang-dari-sistem.html' title='Pergeseran Cara Pandang dari Sistem Islam'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-8756203791076847538</id><published>2007-06-08T10:32:00.000+02:00</published><updated>2007-06-08T11:04:08.601+02:00</updated><title type='text'>Mein Tagesbuch</title><content type='html'>Kategori: My Side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dua bulan tidak lagi mengisi blog ini, kali ini saya akan memulai lagi dengan sepenggal kejadian di hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini matahari bersinar panas menyengat. Udara di luar mencapai 33 derajat. Namun ada satu yang saya sukai dari hari ini: mengingat bahwa hari ini adalah hari Jumat, di mana Wochenende akhirnya datang, dan dapat bertemu dengan orang-orang yang saya sayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat, aktivitas rutin adalah kerja, shalat Jum'at, dan kuliah. Seperti biasa, semenjak diterima kerja di kampus, setiap Jumat pagi temanya adalah berlari-lari agar tidak telat kerja. Selesai mandi (yang seperti biasa memakan waktu selama 30 menit padahal sudah ekstra diletakan jam di kamar mandi agar tidak terlalu lama di dalam) langsung obrak-abrik lemari mencari pakaian. Akhirnya keputusan busana hari ini jatuh pada sebuah kemeja yang belum diseterika. Secepat kilat langsung siap-siap dan tergopoh-gopoh berlari dari rumah ke Leopoldplatz (stasiun kereta terdekat dari rumah). Karena belum sarapan, di Leopoldplatz saya beli roti Schoko-Croissant dulu. Di kereta jantung berdebar-debar, sebab kalau sampai telat satu menit, dapat dibayangkan bagaimana wajah SB dan SM - para bos saya. Sampai di Ernst-Reuter-Platz (stasiun kereta di kampus) saya berlari lagi sampai ke gedung HFT-FT dan tepat pukul sembilan teng alhamdulillah sudah masuk ruangan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu terkejutnya saya ketika melihat meja saya ditempati seorang kollega.&lt;br /&gt;Saya: "Ayse?!" (dengan agak terkejut)&lt;br /&gt;Ayse: "Dimas?!" (nggak kalah terkejut)&lt;br /&gt;Saya: "Hari ini tukeran sama Paule, ya?" tanyaku&lt;br /&gt;Ayse: "Lho, bukannya hari ini aku gantiin kamu?"&lt;br /&gt;Saya: "Masa sih?"&lt;br /&gt;Ayse: "Kan kesepakatannya gitu"&lt;br /&gt;Segera aku membuka plannerku, dan tertulis: "tanggal 8 Juni: tukeran sama Ayse". Oalah, tahu gitu nggak usah tergopoh-gopoh sampai penuh peluh. Akhirnya saya keluar ruangan dan bimbang, mau tetap di kampus atau pulang ke rumah. Setelah terjadi perseteruan hebat di dalam kepala akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah dengan asumsi akan dapat lebih banyak yang diselesaikan dibanding berdiam diri di ruang komputer kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata bijak hari ini: Sebelum memulai hari, ada baiknya melihat kembali planner dan termin-termin di hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kedua yang saya hadapi sekarang-sekarang ini adalah masalah konsekuensi dan ketakutan. Jika saya menargetkan selesai Vordiplom di semester ini, maka 8 mata kuliah harus bisa saya selesaikan. Terdengar muluk memang, tapi machbar dengan konsekuensi: kerja keras mati-matian, dan mencari praktikum. Konsekuensi berikutnya adalah berhenti kerja di kampus, karena dari kerja di kampus saya hanya diberi jatah cuti 21 hari dimana tidak mencukupi untuk membuat praktikum di industri yang minimal memakan waktu dua bulan. Selain itu jika mau kerja keras mati-matian, kerja di kampusnya juga harus ditinggalkan karena pasti akan sangat mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau leha-leha sedikit sambil menikmati kerjaan yang ada, konsekuensinya adalah lebih lama satu semester di Grundstudium. Ini terdengar lebih nyaman, karena dengan tinggal lebih lama satu semester maka belajarnya bisa lebih optimal dan praktikumnya juga bisa terorganisir dengan baik, selain juga bisa agak lama bekerja di kampus. Semua butuh konsekuensi: Whatever you choose, consequency is a must -- kata-kata favoritnya seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;La vie est belle. I wish, insya Allah. Bismillah, Allahuakbar!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-8756203791076847538?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/8756203791076847538/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=8756203791076847538' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8756203791076847538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8756203791076847538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2007/06/mein-tagesbuch.html' title='Mein Tagesbuch'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-8652930626682035808</id><published>2007-03-17T01:12:00.000+01:00</published><updated>2007-03-17T10:15:34.954+01:00</updated><title type='text'>Kisah Para Pendoa</title><content type='html'>Kategori: Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini saya persembahkan khusus untuk para pendoa, yang telah mendoakan saya pada hari kelahiranku yang ke-21 kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW sebagai satu-satunya teladan dan panutan kita, tidak pernah sekalipun "merayakan" hari ulang tahunnya. Dan memang ulang tahun bukan sesuatu yang untuk dirayakan. Lebih dari itu, ada berbagai hal yang sebenarnya bisa ditemukan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat hari ulang tahun merupakan sebuah substansi eksistensi dari seseorang. Bahwa seseorang memiliki satu hari - dari 365 hari yang ada dalam setahun. Sehingga hari ulang tahun merupakan sesuatu yang pribadi, sesuatu yang menggambarkan kepemilikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak heran, betapa senangnya seseorang jika ada orang lain yang mengingat hari ulang tahunnya. Karena hal itu dapat diterjemahkan menjadi sebuah penempatan spesial orang tersebut di mata orang yang mengingatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang menarik dari ulang tahun saya yang ke-21 kemarin, yaitu sampainya tilawah Qur'an saya tepat pada surat Ar-Rahman. Saya tidak melihat ini sebagai sebuah kebetulan, namun lebih sebagai sebuah peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka nikmat Tuhanmu manakan yang kamu dustakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat - sadar atau tidak, setiap detik kita saat ini merupakan nikmat. Setiap hembusan nafas adalah nikmat, setiap aliran darah adalah nikmat, setiap degup jantung juga adalah nikmat. Allah maha pemberi nikmat, yang tidak akan sedikitpun mengurangi kekayaan-Nya jika sebanyak-banyak nikmat-Nya diberikan kepada seluruh jin dan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat itu sejalan dengan amanah. Maka seiring bertambahnya nikmat, maka bertambah pula beban amanah kita. Logikanya mudah, seseorang yang diberi nikmat rejeki kekayaan misalnya, maka dia memiliki amanah untuk peduli dengan kesejahteraan orang lain di kanan dan kirinya. Berbeda dengan orang yang kurang memiliki kekayaan, maka tidak ada amanah baginya untuk menjamin kesejahteraan orang disekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, seorang mahasiswa yang diberikan kesempatan berkuliah di luar negeri, di mana fasilitas dan hal-hal kelengkapan lainnya sangat mendukung, tentu memiliki amanah yang lebih besar kepada bangsa dibanding dengan orang lain yang mungkin tidak berkuliah. Maka nikmat memang sejalan dengan amanah, dan nikmat harus dibalas dengan syukur, sehingga bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanah yang terlahir dari nikmat tersebut pada hakikatnya adalah bersyukur dengan amal dan perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usia bertambah, coba renungkan, betapa banyak nikmat-nikmat yang telah dirasakan? Maka, bertambahnya umur harus juga dilihat sebagai bertambahnya amanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para pendoa, saya mengucapkan terima kasih atas segala lantunan doa yang telah diberikan. Semoga keberkahan menyertai kita semua, menyertai usia yang telah lewat, dan usia yang akan dilewati. Dan semoga kita selalu diberi perlindungan dan kemudahan dalam memikul pundi-pundi amanah yang semakin banyak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-8652930626682035808?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/8652930626682035808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=8652930626682035808' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8652930626682035808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/8652930626682035808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2007/03/kisah-para-pendoa.html' title='Kisah Para Pendoa'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-117086019562391232</id><published>2007-02-07T15:16:00.000+01:00</published><updated>2007-02-26T14:38:15.856+01:00</updated><title type='text'>Antara Aku, Kau, dan Dia</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dara! Cepetan dong di kamar mandinya! Lama banget sih!" teriakku sambil menggedar-gedor pintu kamar mandi dengan kepalan tangan yang kuat.&lt;br /&gt;"Hallo! Denger gak sih lo! Gue udah gak tahan nih!" teriakku lagi. Tapi tak ada jawaban di dalam kamar mandi sana. Yang ada hanyalah keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak habis pikir. Apa sih maunya Dara? Dia pikir kamar mandi cuma punya dia doang apa? Aku sudah nggak tahan lagi untuk buang hajat, ibarat peribahasa, bagaikan telur di ujung tanduk. Akhirnya untuk meredam gelora yang makin membara di dalam perutku, aku berjalan mondar-mandir di Flur depan kamar mandi. Aku sampai mengeluarkan air mata karena kesal dengan Dara yang cuek banget, dan karena rasa sakit ingin buang hajat sudah nggak bisa kutahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenit, dua menit, lima menit, sampai sepuluh menit, si Dara tetap di dalam. Akhirnya aku segera mengambil jaket, memakai sepatu, lalu lari ke Wohnung Tino yang berjarak 30 meter dari Wohnung kami. Sampai di sana – yang notabene adalah Wohnung anak-anak cowok – aku malah ditertawakan ketika mereka tahu kalau seorang gadis yang cantik ini datang ke sana karena kebelet ke toilet. Duh, makin kesal aku dengan Dara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah keadaan Wohnung kami sekarang ini. Bagaikan neraka! Padahal dulu, setahun yang lalu saat kami bersama-sama masuk ke Wohnung ini, keadaannya damai, adil, dan sejahtera!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wohnung kecil kami dihuni oleh tiga orang, yaitu aku, Dara, dan Anin. Kami sama-sama baru sampai di Berlin setahun yang lalu. Pertemuan pertama kami adalah ketika acara pengajian bulanan di KBRI. Ketika itu kami masih belum punya Wohnung dan masih menumpang dengan orang lain. Tapi alhamdulillah, ada tawaran sebuah Wohung berperabot dari salah seorang mahasiswa yang telah selesai studinya. Jadilah kami bertiga memiliki sebuah tempat tinggal yang kami harap akan menjadi saksi berseminya ikatan cinta dan ukhuwwah di antara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kami memang kompak! Orang-orang se-Berlin saja menyebut kami AB-Three karena kemana-mana selalu bersama. Ke supermarket bareng, ke bank sama-sama, sampai berangkat Studkol pun selalu bertiga. Ibarat vektor, kami itu linearabhängig. Kami pun mulai mengenal satu sama lain lebih dalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dara itu kalau tertawa suka ngakak, suka melucu, Bahasa Jermannya jago, hobinya bermain game perang-perangan. Tapi biar begitu, masalah pelajaran dia top banget. Kalau aku ada PR dari Studkol, dia pasti mau membantu aku menyelesaikannya. Pokoknya kalau masalah pelajaran, dia nomor satu lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan Anin, si gadis lugu. Suaranya halus dan pelan, seperti orangnya yang sangat perasa, tapi dia mudah sekali tertawa. Kalau tertawa suaranya nyaris tak terdengar seperti iklan mobil, ketika tertawa dia selalu menutup mulutnya, katanya sih refleks. Keahliannya adalah memasak. Dapur kami selalu mengepul dengan menu masakan yang enak-enak. Intinya kalau masalah dapur, dia numero uno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku? Kata mereka, aku ini perfeksionis. Nggak bisa melihat ada kotor sedikit atau ada barang yang tidak pada tempatnya. Yang jelas, Wohnung kami selalu terlihat rapih, bersih, wangi dan menawan karena aku. Kesimpulannya kalau masalah beres-beres, crème de la crème deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu dulu, sekarang di mataku, dua anak itu sudah kelihatan belangnya.&lt;br /&gt;Pertama Anin, aku bingung, sebenernya dia itu lugu atau blo’on sih? Sangat pelupa, sembarangan, dan berantakan. Dia pernah lupa mematikan kompor waktu selesai masak sampai api berkibar-kibar di udara. Lupa nyuci piring, lupa buang sampah, pokoknya nggak ketahuan antara beneran lupa atau sengaja dilupa-lupain. Kalau bercanda pun – saking lugunya – terkadang suka menyinggung hati orang lain. Aku teringat waktu itu, Dara sedang memasak nasi goreng, lalu Anin datang untuk mencicipi. Tebak apa komentarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Waahh, nasi gorengnya tumpah garam ya? asin banget,“ atau juga,&lt;br /&gt;„Ihh kok bentuk makanannya kayak gini? Kayak makanan ikan, gak nafsu ah makannya“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah seperti itu, pasti Dara langsung tersinggung dan mengunci diri di dalam kamar. Memang, masalah memasak Anin yang paling jago, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya berkomentar dong?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda Anin beda pula Dara. Belakangan ini cueknya nggak ketulungan. Seolah-olah dunia ini milik dia sendiri dan yang lain hanya ngontrak. Ya seperti kejadian tadi, Dara memakai kamar mandi seenaknya sementara yang lain sudah menunggu lama di luar. Bukan hanya itu, kadar cueknya telah melampaui batas. Sekarang dia sudah tidak mau lagi ngajarin kita-kita pelajaran. Kerjaannya tiap hari main games di depan komputer atau belajar atau membaca buku sendirian. Peraturan rumah yang sudah disepakati bersama pun sudah dia tinggalkan. Kalau seperti ini, aku berasa seperti pembantu rumah tangga di Wohnung ini! Semua pekerjaan bersih-bersih aku yang mengerjakan. Ya habis bagaimana? Si Anin pelupa, si Dara cuek, sedangkan aku paling gak tahan melihat sesuatu yang kotor dan berantakan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Dara! Gue mau ngomong sama elo!“ bentakku ketika sudah sampai kembali di Wohnung. Seperti biasa Dara hanya memandangku sebentar lalu mengeloyor pergi ke kamarnya.&lt;br /&gt;„Heh! Dengar gue gak sih? Gue mau ngomong sama elo!“ kataku nyolot.&lt;br /&gt;„Ya kalau mau ngomong, tinggal ngomong aja! Gitu aja kok repot,“ balasnya nggak kalah nyolot.&lt;br /&gt;„Heh! Dengerin ya, yang punya kamar mandi di Wohnung ini bukan cuma lo doang tau!“&lt;br /&gt;„Na, und?“ jawabnya gampang, membuat emosiku semakin membara.&lt;br /&gt;„Ya kalau gue mau masuk kamar mandi, lo harus cepet-cepet juga dong! Minimal bilang tunggu sebentar kek, apa kek,“&lt;br /&gt;„Di dalam kamar mandi nggak boleh bersuara. Itu yang gue tahu,“ jawabnya yang membuat aku kehilangan kata-kata lagi.&lt;br /&gt;Duuuh! Egois banget sih dia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat suasana makin memanas, datang si lugu Anin ke kamar Dara.&lt;br /&gt;„Ada apa sih? Kok ribut-ribut?“ sahutnya dengan wajah lugunya yang ‚menawan’.&lt;br /&gt;„Ah udah deh! Lo gak usah ikut campur! Kalian berdua tuh sama aja! Muak gue di Wohnung ini!“ teriakku lalu pergi meninggalkan mereka dan masuk ke kamar dengan membanting pintu keras-keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sudah semejak kejadian itu. Suasana di antara kami semakin menegang. Di Studkol kami pun berjalan sendiri-sendiri, tidak lagi seperti AB-Three yang dulu orang-orang bilang. Aku pun menjadi malas pulang ke Wohnung. Aku lebih senang menghabiskan waktu di perpustakaan atau di mana saja asal bukan di Wohnung. Perlahan kesehatanku menurun, bukan karena Anin yang sekarang tidak pernah lagi memasak untuk kami, tapi karena aku memang suka telat makan di musim dingin yang menusuk-nusuk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Assalamu’alaikum..“ sahutku pelan saat masuk ke Wohnung pada pukul sebelas malam. Kulihat lampu kamar Dara dan Anin masih menyala, tampaknya mereka belum tidur. Kutengok keadaan dapur, ternyata masih sama. Piring yang menumpuk, sampah yang menggunung, dan yang membuatku sedih, kompor yang kosong. Aku sedang lapar sekali malam itu dan berharap Anin memasak sesuatu. Ternyata tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahku memberat untuk sampai ke kamarku. Tiba-tiba dunia seakan berputar. Kepala seperti mau meledak, lalu aku lemas dan tersungkur, tepat di depan kamar Dara sebelum aku masuk ke kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Nurry! Nurry! Elo kenapa, Nur? Nurry!“ hanya itu yang bisa kudengar, dan mataku hanya mampu menangkap wajah panik Dara dan Anin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tersadar yang aku lihat pertama kali adalah sebuah tivi kecil yang menggantung di atas dinding. Dari aroma ruangan, aku langsung tahu kalau sekarang aku berada di sebuah rumah sakit. Selang-selang infus membelit-belit di lenganku. Kutoleh wajahku ke sisi ruangan, nampak Anin dan Dara sedang duduk menungguku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Nurry! Gimana? Agak mendingan sakitnya?“ kata Dara yang baru kali ini aku dengar lagi setelah sekian lama. Penuh perhatian. Aku tersenyum dan mengangguk.&lt;br /&gt;„Lo sekarang lagi di Charité. Hampir seharian lo nggak sadarkan diri. Udah, lo tenang aja. Kata dokter lo kecapekan. Ini gue bawain catatan Studkol hari ini,“ lanjutnya. Aku menatapnya kuat-kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Nurry.. maafin Anin ya, kata dokter kemarin Nurry pingsan karena kelaparan. Maaf kemarin Anin lagi nggak mood buat masak. Ini Anin masakin ayam pop dan salad kesukaan Nurry. Soalnya menu makanan di rumah sakit ini ada babi nya. Terus dagingnya juga gak jelas. Rasanya juga pasti hambar. Makanya Anin bawain makanan. Dokter bilang boleh kok,“ katanya dengan suara anak kecilnya yang khas. Alhamdulillah, Allah memberikan aku cobaan ini sehingga hubunganku dengan Dara dan Anin menemukan titik perbaikan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Nin, Ra, gue boleh ngomong?“ kataku dengan suara yang masih serak.&lt;br /&gt;„Boleh.. boleh“ sahut mereka bersamaan.&lt;br /&gt;„Gue mau minta maaf karena belakangan ini bawaannya suudzon terus ke kalian. Kalian juga sih, yang satu cuek, yang satu pelupa,“ kataku.&lt;br /&gt;„Sama-sama Nur,“ jawab Dara. „Kita juga sebel sama lo, soalnya lo itu pemarah. Emosian. Kerjanya cuma ngomel-ngomel melulu. Jadinya kita juga sebel. Walau terkadang gue juga suka sebel ke Anin karena suka berkomentar tak berdosa,“ lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga tertawa. Ada pengakuan dosa. Saling berintropeksi, saling mengerti dan memahami, bahwa masing-masing orang punya karakter yang berbeda. Memahami karakter orang, terbuka, saling percaya, dan saling paham adalah modal dasar untuk membentuk sebuah hubungan terlebih untuk tinggal bersama. Perbedaan karakter bukan menjadi alasan untuk saling bertabrakan, tapi menjadi pewarna yang indah bagai pelangi. Semakin berbeda warnanya semakin indah dipandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatku kembali ke Wohnung setelah tiga hari menginap di rumah sakit, kulihat ada sesuatu yang berbeda. Wohnung kami makin rapih, bersih, dan wangi. Di dapur pun sudah menanti masakan-masakan si Anin. Kami memulai lagi Wohnung kami. Peraturan baru: Masak harus bergantian, membereskan rumah harus bergantian, selalu shalat berjamaah, selalu belajar bersama, dan bersama-bersama yang lainnya. Kami pun menjadi AB-Three lagi, seperti sebuah tembangnya yang jadul banget itu: „We are one!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, Februari 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-117086019562391232?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/117086019562391232/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=117086019562391232' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/117086019562391232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/117086019562391232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2007/02/antara-aku-kau-dan-dia.html' title='Antara Aku, Kau, dan Dia'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-117010816693973493</id><published>2007-01-29T23:01:00.000+01:00</published><updated>2007-01-29T23:02:46.966+01:00</updated><title type='text'>Ketika Jalan Terhampar Kerikil</title><content type='html'>Kategori: Puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberkas pelangi jingga sore itu menghiasi ufuk-ufuk yang perlahan menggelap, serta alunan adzan berkumandang dan membahana masuk meresap syahdu ke dalam kalbu orang-orang yang mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, adalah sore terakhir untuk menelan segala kepahitan, dan awal untuk kembali mendongakkan kepala serta menatap jauh ke depan. Seiring berjalan, seiring mereka paham mengapa Allah mempertemukan serta memisahkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia boleh berharap, manusia boleh berupaya, namun pucuk sebuah jawab tetap terletak pada Yang Mahatahu. Apakah mereka hendak menjadi bunga-bunga yang layu, tak bertenaga, lalu jatuh terinjak rusak menyatu dengan tanah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan sebuah kekecewaan berhenti menggerogoti hati? Malah justru makin memperbayak butiran-butiran noktah hitam yang tak lain merupakan penyakit diri.  Lihatlah sesuatu sewajarnya, lalu kembalikan kepada asal-muasal niat yang menjadi dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun bentuknya, perjalanan masih panjang, dan titian ini belum tentu akan terasa buahnya dalam satu langkah waktu, boleh jadi anak mereka, boleh jadi cucu mereka, atau bisa saja puluhan garis keturunan setelah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu pilihan, bergerak atau tergantikan. &lt;br /&gt;Dan jalan masih panjang. Setiap masa adalah babak, epidose, lembar, alunan cerita.&lt;br /&gt;Berbanggalah, karena mereka telah diberikan kesempatan untuk mengecup sebuah masa.&lt;br /&gt;Mengecup dan merasakan, sebuah masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wedding-Mitte, Januar 07&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-117010816693973493?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/117010816693973493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=117010816693973493' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/117010816693973493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/117010816693973493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2007/01/ketika-jalan-terhampar-kerikil.html' title='Ketika Jalan Terhampar Kerikil'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-116967893462970413</id><published>2007-01-24T23:47:00.000+01:00</published><updated>2007-01-24T23:53:56.360+01:00</updated><title type='text'>Pencari Cinta</title><content type='html'>Kategori: Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kalian berada pada sebuah keadaan yang sempit, di mana kita dituntut bergerak namun kita tidak bisa bergerak sama sekali. Keadaan itu mingkin bisa disebut sebagai sebuah „keterbatasan“. Manusia memang diciptakan dengan segala keterbatasannya, karena manusia pada dasarnya bersifat dhoif atau lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. An-Nisaa’: 28)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mengalami sebuah keadaan yang sangat sulit, di mana saat itu saya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Lalu terlintas di kepala saya sebuah potongan ayat dari Al-Qur’an yang berbunyi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;... ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS: Al-Baqarah: 214)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan setelahnya, subhanallah, Mahasuci Allah, dalam detik itu juga pertolongan itu datang dan segala kesusahan hilang seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat lemahnya kita, mungkin sudah cukup menggambarkan bagaimana posisi diri ini di hadapan Allah SWT. Maka sebuah ketergantungan kepada-Nya sudah selayaknya muncul dari setiap insan. Allah sama sekali tidak membutuhkan kita, tapi kita lah yang jelas-jelas membutuhkan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita lihat seorang pecinta, dia bisa memberikan apa saja kepada orang yang dicinta. Begitu juga rasa cinta kita kepada Allah sebagai bentuk penghambaan yang hakiki dari seorang makhluk kepada sang Khalik. Cinta sejati adalah cinta kepada Allah, yang darinya akan timbul rasa cinta-cinta yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita akan berusaha sekeras-kerasnya untuk mendapatkan cinta Allah. Karena jika Allah sudah mencintai kita, maka niscaya Allah akan selalu berada bersama kita. Allah akan menjaga seluruh panca indera kita. Allah akan senantiasa membantu kita. Allah akan selalu memilihkan apa-apa yang terbaik untuk kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjadi seorang muslim sepatutnya adalah menjadi seorang yang tidak pernah gentar dalam berjalan menghadapi hidupnya. Diri ini sebagai makhluk yang lemah, hanya bisa berbuat sebaik-baiknya dalam kerangka keterbatasan yang kita miliki. Hanya Dia-lah yang Maha atas segala sesuatu. Maka, bagaimanapun keadaan kita, berusahalah selalu untuk tidak pernah sedikitpun melupakan-Nya, berusaha untuk selalu berada di dekat-Nya, dan berusaha untuk selalu mendapat cintaNya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-116967893462970413?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/116967893462970413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=116967893462970413' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/116967893462970413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/116967893462970413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2007/01/pencari-cinta.html' title='Pencari Cinta'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-116864611921664580</id><published>2007-01-13T00:45:00.000+01:00</published><updated>2007-01-13T00:55:19.230+01:00</updated><title type='text'>Pamungkasmu, dan Aku</title><content type='html'>Kategori: Puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang sudah senja haru&lt;br /&gt;Pada setahun kita bertemu&lt;br /&gt;Dan jika ikhlas mendasari dakwahmu&lt;br /&gt;Egal apapun itu&lt;br /&gt;Aku hanya ingin menjadi sebutir debu&lt;br /&gt;Dalam bangunan Islam yang megah satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin 2007&lt;br /&gt;For Someone&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-116864611921664580?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/116864611921664580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=116864611921664580' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/116864611921664580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/116864611921664580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2007/01/pamungkasmu-dan-aku.html' title='Pamungkasmu, dan Aku'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-116760326585707107</id><published>2006-12-31T22:50:00.000+01:00</published><updated>2006-12-31T23:14:25.880+01:00</updated><title type='text'>The End of This Year</title><content type='html'>Kategori: My Side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is my last posting before new year. Entah mengapa, selama bulan Desember ini saya malas membuat postingan terbaru walaupun sudah ada niat menggebu-gebu. Semua tersandung oleh kesibukan dan hal-hal yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita berbicara tentang cuaca. Mengapa? karena orang-orang di Jerman ini biasanya memulai percakapan dengan mengomentari cuaca, baik cuaca hari ini maupun cuaca kemarin. Bulan Desember ini aneh. Tahun lalu sejak November, salju sudah mulai menyelimuti kota ini. Namun tahun ini hanya sekali turun salju yaitu hari Kamis kemarin. Selanjutnya cuaca kembali memanas, paling hanya lima atau enam derajat (dan Desember ini suhu belum pernah mencapai nol!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman yang tinggal di kota terpencil di atas gunung sedang melaksanakan tour-nya ke kota-kota besar di liburan akhir tahun ini. Beberapa jam yang lalu, kami dan seorang teman lagi bermain tenis meja melawan tetangga dari Korea Selatan. Mungkin orang-orang yang melihat kami bermain tenis meja berpikir kami aneh, karena malam ini semestinya orang-orang keluar melihat kembang api. Namun saya tahu bagaimana keadaan Berlin di malam tahun baru: horrible. Tak ubahnya seperti sebuah kota yang dalam keadaan perang di mana petasan meledak di mana-mana. Dan tanggal 1 Januari besok, jalanan pasti kotor karena bekas petasan. Selain itu di jalanan akan banyak sekali orang-orang yang mabuk dan menyeramkan. So better jika saya diam di rumah dan menyaksikan kembang api dari balik jendela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi, alhamdulillah akhir tahun ini persediaan makanan cukup, karena ada bungkusan makanan dari Idul Adha kemarin di KBRI dan tadi siang baru dapat bungkusan juga dari sebuah acara syukuran. Hehehe, maklum, begitulah keadaan Student.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-116760326585707107?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/116760326585707107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=116760326585707107' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/116760326585707107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/116760326585707107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/12/end-of-this-year.html' title='The End of This Year'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-116266150918685032</id><published>2006-11-04T18:30:00.000+01:00</published><updated>2006-11-04T18:31:49.203+01:00</updated><title type='text'>Ghost in your Laptop!</title><content type='html'>Kategori: My Side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After a long interview with some students who have an internet access in their computer, I can make an assumption: Internet is blamable to destroy our entire life. Ask me why?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simple, you may ask those kind of people, what do they do if they start their life in the morning. One of answer is maybe switch on computer, connect to the internet, go to Yahoo Messenger, see how many mails they got during the night, answer the offline messages, check out their mailbox, continue to other mailbox, or even open their Friendster, or see some on-line-news-sites. But it’s not only happend in the morning, but in all leisure time! Worst, right?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Those people may sit so many hours in front of their PC. And it really brings laziness. Our plans to read scripts from campus or to cook for our lunch will get lost. It is more dangerous than opium or other addicted-narcotics. You waste your time with doing nothing, but you can’t go away from it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ru’yah, an islamic method to take out some mystical things from our body, is just booming in our community in Berlin. I have asked an Ustadz, when he was in Berlin during Ramadhan, what are the signs by someone who should be taken in ru’yah. Then he aswered, „being so lazy to do something,“. I told him spontaneously, „So please take me in ru’yah! The sign is on me!“. He laughed, then answered, „You shouldn’t, but you should marry soon!“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I still believe that there’s something wrong in my body. It seems like I dont have any feel like doing something. All I want to do is just sitting on my PC, altough there’s nothing I do with it. I try to share this annoying feel to the other, and I was suprised, that they have also the same problem like me! It’s all because our PC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Someone has told me his method to divert us from it, especially in the exam time. Keep your laptop in your bag, lock up, and not to open it until next weekend. And it works! You can concentrate your day with something usefull.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I think, our laptop should be taken in ru’yah! Not us! So, beware!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-116266150918685032?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/116266150918685032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=116266150918685032' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/116266150918685032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/116266150918685032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/11/ghost-in-your-laptop.html' title='Ghost in your Laptop!'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-116012159223459526</id><published>2006-10-06T09:58:00.000+02:00</published><updated>2006-10-06T09:59:52.250+02:00</updated><title type='text'>Ramadhannya Ibukota</title><content type='html'>Kategori: Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dilihat di website &lt;a href="http://www.forkom-jerman.org"&gt;FORKOM&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh milih, kamu pengen ber-Ramadhan di Jerman atau di Indo? &lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya di Indo, laaah!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lho, kok?&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Iya! Puasa di Indo kan enak abiz. Coba deh bayangin, mau bangun sahur, ada yang bangunin. Mau makan sahur, ada yang masakin. Mau shalat lima waktu berjamaah di masjid, tinggal nyebrang jalanan depan rumah. Mau denger ceramah Ramadhan dari ustadz-ustadz kondang, tinggal nyalain televisi or radio. Pas waktunya berbuka, mamah-ku pasti sudah buat kolak pisang terenak sedunia. Kurang apa coba?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit, tunggu dulu. Emang sih bagi kita anak-anak perantauan, pasti rindu banget pengen ber-Ramadhan di Indonesia. Tapi, berada di negeri orang di saat bulan suci Ramadhan juga nggak kalah seru, kok! Alhamdulillah, tahun ini saya diberi kesempatan berpuasa di Jakarta dan di Berlin, jadi bisa sedikit-sedikit mengamati suasana Ramadhan di dua tempat yang beda banget itu, lho. Nah, mau tahu kan bagaimana hasil pengamatan saya? Yukkk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, sebelumnya, sudah pada tahu kan seperti apa kota Berlin itu? Sudah dong pastinya. Hauptstadt gitu, lho. Kata orang, belum lengkap ke Jerman kalau belum mengunjungi kota Berlin. Selain sebagai kota metropolis, Berlin juga sebagai kota sejarah. Contohnya, tembok Berlin yang kondang seantero dunia. Belum lagi Gedächtniskirche, Siegesäule, Checkpoint Charlie, Brandenburger Tor, Friedrichstraße, dan segudang tempat-tempat lainnya. Nah, yang paling spesial dari Berlin adalah komunitas antarbangsa yang sangat beragam alias multikulti, termasuk komunitas Islam di dalamnya. So, jangan heran kalau melihat banyak banget wanita berjilbab memenuhi pelosok-pelosok kota ini. Walau kebanyakan kaum imigran, tapi umat Muslim memiliki jumlah yang sangat signifikan di Berlin. Asli, banyak banget! Ada beberapa masjid yang berdiri di kota ini, bahkan di kampus disediakan juga ruangan musholla. Jadi kita nggak perlu takut dengan yang namanya diskriminasi antarumat beragama. Walau kadang-kadang diskriminasi itu ada, tapi di situlah kita ditantang untuk menunjukkan wajah muslim yang sebenarnya, yang tetap santun dan sabar, tanpa harus membiarkan harga diri kita terinjak-injak. Ya nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan komunitas muslim Indonesia di Berlin? Ada banget dong! Denger-denger nih, jumlah orang Indonesia yang berada di Berlin mencapai lebih dari dua ribu orang. Wow, banyak juga yah? Nah, Berlin juga punya sebuah masjid Indonesia yang bernama masjid Al-Falah. Dari masjid Al-Falah terbentuklah kelompok-kelompok pengajian kota untuk komunitas muslim Indonesia di Berlin ini. Masjid yang sudah berdiri dari dua puluh tahun yang lalu itu tidak terlalu besar. Makanya kalau bulan Ramadhan tiba, jamaah masjidnya membludak dan sering berdesak-desakan karena kapasitasnya yang sudah overload. Oleh sebab itu, kami harus segera pindah dan mencari tempat baru yang lebih besar dan nyaman, agar ibadah kita juga ikutan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sedang dalam proses perpindahan, bukan berarti kegiatan komunitas muslim Indonesia di Berlin berhenti lho, apalagi di bulan Ramadhan seperti saat ini. Pengajian kota Berlin terkenal sebagai pengajian yang... ehm... seru, rame, kompak, dan kocak. Nggak percaya? Coba deh datang kalau Forkom sedang ngadain acara Prima, mukhoyyam, SII dan lainnya. Tim yang suka heboh sendiri biasanya tim dari Berlin.  Hehehe... Alhamdulillah setiap tahun pengajian kota Berlin selalu mendatangkan seorang ustadz dari Indonesia. Begitu juga untuk tahun ini yang bekerjasama dengan Forkom. Jadwal sang ustadz biasanya padat banget, karena harus ngisi di sana-sini. Maklum, Berlin punya banyak bentuk pengajian, dari yang buat babeh-babeh, nyak-nyak, mpok-mpok, sampai abang-abang. Kalau buat bocah-bocah ada, nggak? Ada juga, dong. Al-Falah juga punya TPA alias Taman Pendidikan Al-Qur’an yang khusus untuk adik-adik. Nggak tanggung-tanggung, tahun ini Al-Falah membuat program Pesantren Kilat untuk anak-anak dan remaja. Insya Allah di dalamnya akan diisi dengan pemainan-permainan islami, teater, dan nggak lupa penanaman akhlak serta berlajar membaca Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KBRI Berlin juga nggak kalah menyemarakkan Ramadhan. Shalat tarawih digelar setiap hari di KBRI, selain itu seminggu sekali diadakan buka puasa bersama di sana. Oh ya, ngomong-ngomong soal buka puasa, kita juga bisa ikutan buka puasa di masjid-masjid di kota ini, baik itu masjid Turki, Palestina, ataupun Pakistan, akan dengan senang hati menyambut kita untuk ikutan buka puasa bareng dengan mereka. Dan porsi makanannya itu lho, jumbo! Asal jangan cuma buka puasanya aja yah, shalatnya juga harus ikut dong. Seru juga bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudara kita dari belahan bumi yang lain. Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang bagaimana dengan Jakarta? Dibandingkan Berlin, suasana di Jakarta tuh lebih puasa banget. Secara, gitu lho, di Jakarta kan mayoritas muslim, sehingga hampir semuanya berpuasa. Stasiun televisi juga berlomba-lomba menayangkan program-program yang islami. Pemandangan di jalanan pun juga jadi lebih islami. Waktu kuliah, sekolah, dan jam kantor dipercepat, agar masyarakat bisa berbuka puasa dengan sanak-saudaranya di rumah. Kalau di Berlin boro-boro dipercepat, malah kadang-kadang kita harus berbuka di tengah-tengah Vorlesung atau di dalam U-Bahn. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Jakarta kita bisa ngumpul-ngumpul dengan teman-teman untuk ngabuburit sambil jalan-jalan, di Berlin kesempatan seperti itu sangat kecil. Lagian, dua ribu enam gini masih ada ya ‚ngabuburit’ sambil jalan-jalan? Sudah nggak musim dong. Kan lebih enak kumpul bareng dengan teman-teman menunggu waktu berbuka sambil tilawah bersama, terus sesudahnya bertarawih bersama. Ya, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling berasa banget mungkin ketika Idul Fitri. Di saat itu wajar banget lah kalau kita merindukan berada di tengah-tengah papah-mamah-kakak-adik tersayang. Walau begitu, semua bisa diobati karena di Berlin kita juga punya saudara-saudara! Malah status sebagai perantau di negeri orang justru membuat ukhuwah kita benar-benar terasa menjadi erat. Sesudah shalat Ied di KBRI biasanya kita bersalam-salaman dengan suasana penuh haru. Masih berasa suasana khidmat Idul Fitrinya, walaupun kita harus bolos kuliah di hari itu dan melanjutkan aktivitas kita kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, puasa di Berlin atau di Jakarta masing-masing ada plus dan minusnya, tapi jangan dijadikan sebagai penghambat ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Puasa itu untuk Allah dan Allah-lah yang mengaturnya. Di Berlin kita bisa merasakan suasana lain dari ber-Ramadhan dan ber-Ukhuwah. Jadi, ayo kita bergembira menyambut datangnya Ramadhan. Sesuai janji Allah, barang siapa yang bergembira menyambut datangnya Ramadhan, maka diharamkan tubuhnya dari jilatan api neraka. Subhanallah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-116012159223459526?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/116012159223459526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=116012159223459526' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/116012159223459526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/116012159223459526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/10/ramadhannya-ibukota.html' title='Ramadhannya Ibukota'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-115830176149561382</id><published>2006-09-15T08:21:00.000+02:00</published><updated>2006-09-15T08:29:21.523+02:00</updated><title type='text'>Wilujeng Sumping</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A Mushab Syuhada's&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sering melihat pemuda yang sebaya denganku itu datang ke masjid kecil dekat rumah nenekku di pinggiran kota Bandung. Dua hari yang lalu aku sempat berkenalan dengannya seusai shalat maghrib. Namanya Dadang, keturunan etnis tionghoa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku berlibur ke rumah nenek, masjid yang hanya terpisah oleh tiga buah rumah menjadi salah satu tempat favoritku, karena selain teduh, masjid itu juga dikelilingi panorama alam pedesaan yang eksotis. Tapi sangat disayangkan, hanya ketika shalat Jumat jemaahnya membludak, bahkan bisa-bisa sampai meruah ke jalanan. Kontras dengan shalat fardhu yang hanya dua shaf. Isinya sebagian besar dari kalangan kakek-nenek dan bapak-ibu. Anak mudanya hanya dua, yaitu aku dan si Dadang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadang bertubuh kurus. Tingginya kira-kira sama dengan denganku. Kulitnya kuning, matanya sipit seperti kebanyakan warga keturunan tionghoa lainnya. Baru di tahun ini aku melihatnya di masjid. Tahun kemarin, saat aku juga berlibur ke rumah nenek, tidak aku jumpai dia di sana. Biasanya ia suka terburu-buru ketika selesai shalat Dzuhur dan Ashar atau terkadang tidak datang ke masjid di waktu tersebut. Karena bekerja, katanya. Ketika kutanya di mana ia bekerja, ia malah tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum dan segera memohon pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„ Dadang!“ teriakku di balik tirai kedai bubur ayam di pasar tikungan jalan tak jauh dari rumah nenek. Pagi itu aku ingin sekali makan bubur ayam. Kata nenek, bubur ayam yang paling enak di sini ada di pasar. Tentu aku igin sekali mencicipinya sebelum aku kembali pulang ke Surabaya malam nanti setelah dua minggu berlibur. Tak kuduga, niatku makan bubur ayam, malah bertemu dengan si Dadang. Pemuda itu menganggukkan kepalanya memandang ke arahku, lalu datang menghampiriku.&lt;br /&gt;„Wah, nggak nyangka bisa ketemu kamu di sini! Sudah sarapan? Yuk sarapan bareng,“ ujarku. Ia sempat menolak, tapi langsung saja kupesan semangkok bubur ayam ke penjaga kedai.&lt;br /&gt;„Aa teh tiap pagi ka die?“ tanyanya dengan logat sundanya yang kental.&lt;br /&gt;„Jangan panggil saya Aa atuh. Kayaknya kita seumuran, deh. Saya 20 tahun, kamu?“&lt;br /&gt;„21,“&lt;br /&gt;„Tuh kan, mestinya saya yang panggil kamu Aa“ kataku. Pemuda itu tersenyum dengan kekeh ringan. &lt;br /&gt;„Waktu itu kamu kan pernah nanya, saya teh kerjana di mana,“ katanya menyambung percakapan.&lt;br /&gt;„Iya,“ jawabku singkat. „Memangnya di mana?“&lt;br /&gt;„Di die,“ jawabnya menunjuk pasar ini. Katanya, ia bekerja sebagai buruh angkut di pasar ini dari subuh hingga petang. Sudah hampir setahun ia bekerja mengangkut barang-barang dari dalam truk ke dalam pasar, atau membantu pembeli mengangkut barang kebutuhannya dari dalam pasar ke kendaraan. Meski kurus, namun Dadang adalah seorang yang kuat. Terbukti dengan seringnya ia memakul beras 20 kilo di salah satu pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bercerita singkat tentang pekerjaannya sebagai buruh angkut, ia terdiam sejenak dan memandang sekeliling. Dari gelagatnya, pemuda itu terlihat kurang nyaman duduk di kedai ini di antara belasan pengunjung yang – mungkin menurutnya – terlihat lebih rapih dari pada dirinya. Ia mengenakan kaus bola berwarna biru-kuning bernomor punggung delapan, dengan celana panjang hitam. Akupun mencoba mencairkan suasana agar ia tidak lagi merasa kurang nyaman. Di sela-sela menikmati bubur ayam hangat, kami saling bercakap. Kuceritakan kalau aku datang dari Jakarta untuk berlibur selama dua minggu di Bandung. Walaupun aku orang Sunda, tapi lahir dan besar di Jakarta membuatku tidak menguasai Bahasa Sunda. Terlebih saat ini aku sedang berkuliah di salah satu universitas negeri di Surabaya yang justru membuat aku lebih fasih berbahasa Jawa. Ia mengerti, ia pun menggunakan Bahasa Indonesia untuk bercakap denganku, walau masih dengan beberapa patah Bahasa Sunda. Ia banyak sekali bercerita, dari tentang pasar ini, tentang kedai bubur ayam ini, tentang sejarah masjid dekat rumah itu, sampai tiba-tiba tentang adik perempuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Dulu teh di masjid itu ada TPA tiap sore. Adik perempuanku dulu juga belajar ngaji di ditu,“ katanya.&lt;br /&gt;„Oh... Kamu punya adik perempuan?“ tanyaku.&lt;br /&gt;„Iya. Satu orang,“ jawabnya.&lt;br /&gt;„Siapa namanya?“&lt;br /&gt;„Diah Pitaloka,“&lt;br /&gt;„Lalu, dia juga di Bandung?“&lt;br /&gt;Dadang menggeleng.&lt;br /&gt;„Dulu iya. Sekarang dia tinggal di panti asuhan, di Tasikmalaya,“&lt;br /&gt;„Panti asuhan? Memangnya kalian tidak tinggal bersama orang tua kalian?“&lt;br /&gt;„...tidak, orang tua kami...“ &lt;br /&gt;Hening sejenak. Dadang tidak melanjutkan pertanyaannku dengan jawaban. &lt;br /&gt;„Oh... maaf... saya kurang sopan menanyakan tentang keluarga. Lupakan sajalah...“ lanjutku. Pemuda itu menunduk, lalu tak lama mengadahkan kepalanya menatapku.&lt;br /&gt;„Tidak apa-apa. semua orang di sini sudah tahu kok tentang keluarga saya. Kalau kamu bertanya ke nenekmu, pasti beliau juga tahu,“ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek tidak pernah cerita apa-apa kepadaku tentang masyarakat di sini. Pasti menurutnya tidak penting untuk diceritakan kepadaku. Saat aku menatap wajah Dadang, terlihat ada guratan kesedihan yang mendalam. Seperti ia telah mengalami suatu peristiwa yang memilukan dalam kehidupannya. Dan benar saja, Dadang, yang baru kukenal namanya dua hari itu menceritakan kisah kehidupannya yang kupikir hanya dapat ditemukan di layar kaca. Tapi tidak, ini kenyataan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah setahun terakhir ini Dadang tinggal dengan keluarga pamannya yang tak jauh dari rumah nenek. Dulu, Dadang dan adiknya tinggal bersahaja dengan kedua orang tuanya sebagai satu keluarga yang utuh. Garis keturunan tionghoa yang dimilikinya didapatkan dari ayahnya. Ayah dan pamannya memeluk agama Islam sebelum keduanya menikah dengan gadis sunda. Dadang sempat menjadi anak tunggal yang amat disayang dan dimanjakan ketika ia masih kanak-kanak. Dan ketika usianya menginjak sepuluh tahun, ia mendapatkan seorang adik perempuan bernama Diah Pitaloka. Namun kelahirannya harus dibayar dengan nyawa ibunya, yang meninggal saat melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, ayahnya menikah kembali dengan seorang wanita asal Lembang. Awalnya Dadang enggan menerima kehadiran ibu tiri dalam keluarganya, karena imej ibu tiri yang melekat di kepalanya adalah seorang yang sadis dan kejam terhadap anak-anak tirinya. Namun dugaannya salah. Ketika wanita bernama Trisnowati Kosasih itu resmi menjadi ibunya, ia justru mampu membesarkan Diah yang kala itu masih bayi. Mereka hidup sejahtera, berkecukupan, hingga datangnya saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu tahun 1999. Semua orang pasti tahu, tahun itu adalah tahun yang amat labil dalam perekonomian Indonesia setelah terjadi pergolakan politik dan ekonomi di tahun 1998. Saat itu Diah masih berumur lima tahun dan Dadang akan segera menamatkan pendidikan SMP. Keluarganya tak luput dari serangan krisis moneter, usaha katering ibu tirinya – yang mulai dirintis sejak menikah dengan ayahnya – terpaksa harus berhenti. Ayahnya pun dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Hidupnya yang dulu berkecukupan mendadak berubah total.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Karena harta itu milik Allah. Dia bebas mengambilnya kapanpun Dia mau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Ayah, Dadang tidak usah melanjutkan SMA saja. Biarkan Dadang bekerja untuk menambah uang kita,“ pinta Iwan kepada ayahnya. Permintaannya ditolak keras oleh ayahnya. &lt;br /&gt;„Kamu mau kerja jadi apa? Kamu pikir saat ini mudah mendapat pekerjaan? Tidak, ayah tidak setuju. Betapapun sulitnya keadaan ekonomi keluarga kita, ayah akan tetap membiayai sekolahmu. Sekolah sampai tinggi,“ ujar ayahnya. Dadang terharu, dan saat itu bertekad akan meneruskan sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan tahun 2000, Dadang diterima di SMAN 3 Bandung. Namun tak lama setelah itu ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung. Sejak saat itu, sekolah Dadang terancam. Di saat krisis keuangan yang merajalela, ia malah kehilangan orang yang menjadi tumpuan untuk membiayai segala keperluaannya. Sejak saat itu pula, ibu tirinya yang dulu penyayang, sekarang berubah menyeramkan. Tresnawati Kosasih menjadi dikenal sebagai sosok pemarah, sering uring-uringan, dan ringan tangan, terlebih kepada Diah yang kala itu masih berumur enam tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sangat terpaksa Dadang harus putus sekolah. Ia merantau ke Sukabumi untuk mencari pekerjaan sebagai... entahlah... mungkin sebagai buruh, kuli bangunan, atau apa saja, yang penting ia, adiknya, dan ibu tirinya dapat menyambung nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sungguh miris nasib Dadang, sekembalinya ke Bandung enam bulan kemudian, ia mendapatkan Diah tinggal di rumah pamannya – yang tidak jauh dari rumah nenek – dengan kondisi sangat memprihatinkan. Matanya lebam, wajahnya dipenuhi memar-memar, tubuh kurusnya banyak ditemukan bekas luka yang telah mengering, maupun yang malah berubah menjadi koreng bernanah. Bahkan ia sempat dilarikan ke rumah sakit akibat patah tulang tangan sebelah kirinya yang syukurnya tidak terlalu parah. Diah kini menjadi bocah yang apatis, yang takut bertemu dengan semua orang yang tidak dikenalnya. Mentalnya labil dan kadang suka menjerit tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Aa...“ katanya sepatah sambil berusaha melihat sang Aa dari balik mata kecilnya yang membengkak biru disertai dengan senyuman yang penuh perih. Diah berusaha menyambut kedatangan Aa yang dicintainya dan dirindukannya walau dengan rasa pedih di sekujur tubuh dan perasaannya yang belum juga hilang.&lt;br /&gt;Dadang menangis, tak kuasa ia melihat seorang bocah perempuan di hadapannya menjadi seperti itu. Tangannya memeluk bocah itu kuat, sambil membelai rambut sebahunya yang tipis kemerahan.&lt;br /&gt;„Siapa... siapa yang melakukan ini...“ tanyanya terbata-bata dalam larut buraian air mata. Paman dan bibinya saling berpandangan, sebelum akhirnya mengucapkan satu nama, „ibumu...“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tresnawati Kosasih yang tega menyiksa dan membuang anak yang sejak bayi ia asuh. Ia pergi, pergi dengan menjual rumah beserta isinya peninggalan suaminya – ayah dari Dadang dan Diah. Pamannya sepakat untuk mengasuh Diah di rumahnya, walaupun kondisi keuangan keluarga pamannya pun sebenarnya bukan tergolong cukup untuk mengasuh tiga anak kandungnya, terlebih dengan kehadiran Diah. Namun, siapa lagi saudara dekat dari mereka berdua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadang pun melanjutkan pencarian nafkahnya dengan merantau, kali ini ke Jakarta, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Pernah Dadang ditawari untuk tinggal bersama nenek dari ayahnya, tapi ia tolak.&lt;br /&gt;„Kenapa kamu tidak mau? Hidup bersama nenekmu kan enak, dia orang cukup, kamu bisa menyambung sekolah lagi, tidak perlu mencari uang,“ kata bibinya.&lt;br /&gt;„Tidak bi, saya tetap tidak mau,“&lt;br /&gt;„Masalahnya apa, kok kamu masih saja tidak mau? Apa karena nenekmu itu tidak seagama denganmu lalu kamu...“&lt;br /&gt;„Bukan, bi, bukan. Saya tidak mempermasalahkan perbedaan agama kami. Saya percaya, baik muslim maupun nonmuslim dapat hidup berdampingan dengan damai di negara ini. Tapi saya tidak ingin malah merepotkan mereka, bi. Saya tidak ingin mendapatkan kebahagiaan semu. Biar saya dan Diah begini. Biar saya dan Diah tidak dikasih makan, tidak dikasih ongkos, pakaian baru atau apapun, asalkan kami tetap diijinkan tinggal di sini, bi,“&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Diah yang belum bersekolah, dimasukkan ke TPA masjid itu karena di sana tidak dipungut bayaran. Alhamdulillah, Diah kini sudah bisa membaca Al-Qur’an, membaca huruf latin, dan berhitung. Namun tak lama kemudian, masjid itu tidak lagi mengadakan TPA, alasannya karena kekurangan tenaga pengajar. Dadang masih ingat, ketika di sebuah sore ia menelepon ke rumah pamannya dari Jakarta.&lt;br /&gt;„Punten, memangna saha yang mau membawa Diah?“ tanyanya.&lt;br /&gt;„Kemarin ada seorang peremuan berkerudung datang. Katanya dia pernah mendengar cerita tentang Diah. Ia pun ingin membawa Diah ka Tasik, di sana ada panti asuhan dengan sekolahannya, gratis. Biaya hidupna sudah beres ditanggung. Di sini kan Diah sudah tidak ke TPA lagi. Kumaha?  Dadang setuju, teu?“ jawab pamannya dari balik telepon.&lt;br /&gt;Dadang menyadari, ia juga tidak ingin memberatkan pamannya. Mungkin panti asuhan adalah tempat yang tepat untuk Diah, yang memang sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Dadang pun akhirnya menyetujui kepergian adiknya, terlebih di sana adiknya dapat kembali bersekolah dan mengenyam pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, Dadang sudah berada di Bandung untuk mengantar kepergian adiknya. Setahun tidak bertemu, kini Dadang hanya diberi kesempatan sesaat untuk melihat Diah sebelum kembali datang perpisahan di antara mereka berdua. Diah kini sudah terlihat ceria, tidak seperti yang dulu. Kini ia mulai berani bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya sambil memberikan senyum manisnya. Diah mencium tangan Aa-nya saat bertemu, yang membuat sang Aa tak kuasa menahan air mata harunya. Diah terlihat gembira mengenakan baju dan roknya, menggendong tas ranselnya, memakai sandal jepitnya, dan mengenakan kerudung bekas TPA-nya dulu.&lt;br /&gt;„Aa, Diah mau ka Tasik, Diah mau belajar, supaya pintar seperti Aa...“ kata anak berumur tujuh tahun itu.&lt;br /&gt;Dan wanita yang dikatakan pamannya datang, dia adalah pengurus salah satu lembaga sosial masyarakat yang peduli tentang masalah perlindungan anak. Tak lama ia pamit, membawa Diah masuk ke dalam mobil kijang peraknya. Dadang dan Diah saling berpandangan di balik kaca mobil, dan kepura-puraan Diah untuk terlihat tegar pun berhenti, tangis bocah perempuan itu pecah melihat wajah Aa Dadang yang memandanginya penuh harap dan cemas.&lt;br /&gt;„Aa...!“ tangannya melambai dalam tangisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Dan sejak itu, saya tetap bekerja di Jakarta. Namun tahun kemarin saya diberhentikan dari pekerjaan saya, jadilah saya pulang ke Bandung, menetap bersama keluarga paman. Alhamdulillah, di pasar ini ada kerjaan juga untuk saya,“ lanjut ceritanya.&lt;br /&gt;Aku masih menatapnya, mendengarkan seluruh rentetan ceritanya. Betapa jauh lebih beruntung aku. Terlampau banyak nikmat yang kudapatkan dengan mudah tapi... betapa mudahnya kudustakan. Tapi aku yakin, Allah Mahaadil, seberat apapun perjuangan hidup Dadang, pasti ia mendapatkan balasan atas kesabarannya.&lt;br /&gt;„Hmm... Putra? Putra?“ panggil Dadang sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. „Kamu melamun, ya?“&lt;br /&gt;„Eh, nggak kok, saya terlalu larut dalam ceritamu,“ jawabku. „Saya salut terhadapmu, kamu masih bersabar dan tidak menyerah menghadapi hidupmu,“ tukasku.&lt;br /&gt;„Selama kita ikhlas, insya Allah kita bisa mendapatkan kesabaran,“ jawabnya.&lt;br /&gt;Dan aku makin mengagguminya.&lt;br /&gt;„Baiklah, saya harus kembali bekerja. Hatur nuhun atas sarapannya,“&lt;br /&gt;„Tunggu, Dang,“&lt;br /&gt;„Iya?“&lt;br /&gt;„Malam ini saya kembali ke Surabaya. Bisa kita bertemu lagi?“&lt;br /&gt;„Insya Allah, seperti biasa, di masjid dekat rumah nenekmu,“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maghrib ini Dadang tak datang. Aku berharap bisa bertemu lagi dengannya. Beberapa menit yang lalu ibuku mengirim sms, katanya, Pak Tarso baru saja berangkat dari Jakarta untuk menjemputku dan mengantarku malam ini ke Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat adzan Isya berkumandang, ia belum juga datang. Kuberjalan ke arah pasar di tikungan jalan itu, dengan harapan aku melihatnya. Ternyata tidak.&lt;br /&gt;„Putra!“ teriak sebuah suara dari belakangku. „Maaf, maghrib tadi saya shalat di jalan, baru selesai mengantar barang. Saya pikir kamu di masjid, eh saya malah lihat kamu berjalan ke arah pasar,“ ujar Dadang dengan nafas tersengal-sengal. Aku tersenyum.&lt;br /&gt;„Tidak apa-apa. Saya senang masih bisa berpamitan dulu ke kamu,“&lt;br /&gt;„Saya juga senang bisa bertemu kamu dan berbagi cerita dengan kamu,“ katanya.&lt;br /&gt;„Ya...“ sahutku pelan. „Kamu telah memberikan saya pelajaran melalui kisah hidupmu, yang membuat saya tahu lebih dalam tentang kesabaran, semangat, dan rasa syukur. Hatur nuhun,“&lt;br /&gt;„Sami-sami. Begitulah kehidupan saya. Wilujeng sumping di kehidupan nyata,“&lt;br /&gt;„Dang, saya tidak tahu, jika saya kembai lagi ke sini, apakah saya masih bisa bertemu denganmu,“ ucapku.&lt;br /&gt;„Wallahualam,“ jawabnya singkat.&lt;br /&gt;„Tapi kita tetap akan menjadi teman. Hanya satu pesan yang ingin saya sampaikan ke kamu. Tetaplah di jalan Allah. Itu saja. Tetaplah bersama Allah,“&lt;br /&gt;Dadang mengangguk dan tersenyum ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum aku pulang, kami menuju ke masjid itu yang mulai ditinggali oleh orang-orang yang baru selesai melaksanakan shalat Isya. Kami shalat berjamaah, Dadang menjadi imam. Lantunan suaranya membacakan ayat-ayat Allah sangat indah dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya. Seperti katanya, wilujeng sumping di kehidupan nyata, dengan berbekal ikhlas, maka kita akan menjadi sabar dan dapat menjalankan hidup tanpa putus asa walaupun dalam kondisi yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadang, si pemakai kaus bola berwarna biru-kuning dengan nomor punggung delapan, melambaikan tangannya mengiringi akhir liburanku yang singkat di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 September 2006 &lt;br /&gt;Mushab Syuhada&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-115830176149561382?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/115830176149561382/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=115830176149561382' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115830176149561382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115830176149561382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/09/wilujeng-sumping.html' title='Wilujeng Sumping'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-115529215622730394</id><published>2006-08-11T12:25:00.000+02:00</published><updated>2006-08-11T12:29:16.243+02:00</updated><title type='text'>Berhentilah Merindukanku</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/DSC01566.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/320/DSC01566.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coming soon.&lt;br /&gt;Only on Bolamata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-115529215622730394?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/115529215622730394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=115529215622730394' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115529215622730394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115529215622730394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/08/berhentilah-merindukanku.html' title='Berhentilah Merindukanku'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-115486384088102808</id><published>2006-08-06T13:29:00.000+02:00</published><updated>2006-08-06T13:30:55.876+02:00</updated><title type='text'>Telur Tomat Ikan</title><content type='html'>Kategori: Resep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan:&lt;br /&gt;1 kaleng ikan sarden (boleh apa aja asal bukan tuna)&lt;br /&gt;250 gram pasta tomat&lt;br /&gt;5 butir telur ayam&lt;br /&gt;1 buah bawang bombay&lt;br /&gt;4 siung bawang putih&lt;br /&gt;½ sendok teh lada&lt;br /&gt;1 sendok teh garam&lt;br /&gt;1 sendok teh gula&lt;br /&gt;½ gelas air&lt;br /&gt;1 sendok teh saus tiram&lt;br /&gt;4 buah cabe rawit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;Iris bawang bombay, bawang putih dan cabe rawit hingga harum, masukan ikan kalengan dan tumis sebentar.&lt;br /&gt;Masukan pasta tomat dan air, beri garam, gula, lada dan saus tiram, masak hingga pasta tomat mendidih.&lt;br /&gt;Masukan telur, biarkan matang dengan sendirinya (tidak perlu diaduk), siap disajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama persiapan dan memasak: 25 menit&lt;br /&gt;Nilai: Sangat praktis &lt;br /&gt;Porsi 5 orang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-115486384088102808?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/115486384088102808/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=115486384088102808' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115486384088102808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115486384088102808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/08/telur-tomat-ikan.html' title='Telur Tomat Ikan'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-115486378171047084</id><published>2006-08-06T13:28:00.000+02:00</published><updated>2006-08-06T13:29:41.713+02:00</updated><title type='text'>Sayur Lodeh Bujang</title><content type='html'>Kategori: Resep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan:&lt;br /&gt;125 ml santan&lt;br /&gt;2 sendok makan Koriander (ketumbar) bubuk&lt;br /&gt;1 buah bawang bombay&lt;br /&gt;5 siung bawang putih&lt;br /&gt;2 butir kemiri, hancurkan&lt;br /&gt;2 sendok teh garam&lt;br /&gt;1 sendok makan gula&lt;br /&gt;1 sendok teh lada&lt;br /&gt;1 buah Kohlrabi (labusiam) potong-potong dadu&lt;br /&gt;300 g daging sapi, potong-potong kecil&lt;br /&gt;Sayur mayur (bisa dibeli di supermarket yang sudah menjadi satu agar praktis)&lt;br /&gt;1 buah tahu, potong-potong dadu&lt;br /&gt;1 gelas air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;Tumis bawang bombay, bawang putih, lada, dan kemiri. Masukan daging, masak hingga daging setengah matang.&lt;br /&gt;Masukan ketumbar, tumis sebentar, dan segera tuangkan santan. Masak hingga santan mendidih.&lt;br /&gt;Tambahkan air, masak hingga mendidih. Masukan gula dan garam, serta tahu, labusiam, dan sayur mayur. Masak hingga mendidih dan daging matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama persiapan dan memasak: 30 menit&lt;br /&gt;Nilai: Praktis&lt;br /&gt;Porsi 4 orang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-115486378171047084?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/115486378171047084/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=115486378171047084' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115486378171047084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115486378171047084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/08/sayur-lodeh-bujang.html' title='Sayur Lodeh Bujang'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-115486372413028261</id><published>2006-08-06T13:23:00.000+02:00</published><updated>2006-08-06T13:28:44.153+02:00</updated><title type='text'>Perkedel Tahu</title><content type='html'>Kategori: Resep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya ingin berbagi-bagi pengalaman memasak. Khusus untuk bujang, terutama yang sedang menuntut ilmu di Jerman. Resep ini disesuaikan dengan bahan-bahan yang tersedia di sini, dan juga dengan kesibukan kita sebagai mahasiswa yang ingin menjaga gizi, makan enak, tapi juga praktis. Yang jelas, khusus untuk bujang lho :-). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/IMG_1241.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/320/IMG_1241.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan-bahan:&lt;br /&gt;1 buah tahu&lt;br /&gt;2 atau 3 butir telur ayam&lt;br /&gt;6 sendok makan tepung terigu&lt;br /&gt;2 sendok teh garam&lt;br /&gt;1 sendok teh lada&lt;br /&gt;1 sendok teh gula&lt;br /&gt;1 sendok teh bawang putih bubuk&lt;br /&gt;1 butir bawang bombay, potong kecil-kecil&lt;br /&gt;½ kaleng jagung manis&lt;br /&gt;1 buah daun bawang&lt;br /&gt;1 buah wortel, potong berbentuk korek api&lt;br /&gt;Minyak untuk menumis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara membuat:&lt;br /&gt;Hancurkan tahu, campur dengan telur ayam, tepung terigu. Masukan jagung, wortel, bawang bombay, daun bawang.&lt;br /&gt;Tambahkan gula, garam, lada dan bawang putih bubuk. Aduk-aduk hingga merata.&lt;br /&gt;Panaskan minyak, goreng perkedel tahu yang sudah dibentuk bulat-bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama persiapan dan memasak: 20 menit&lt;br /&gt;Nilai: Sangat praktis&lt;br /&gt;Porsi: 6 orang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-115486372413028261?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/115486372413028261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=115486372413028261' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115486372413028261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115486372413028261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/08/perkedel-tahu.html' title='Perkedel Tahu'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-115249582081315028</id><published>2006-07-10T03:41:00.000+02:00</published><updated>2006-07-10T03:43:40.833+02:00</updated><title type='text'>Reportase WM</title><content type='html'>Kategori: Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/320/1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu bulan sudah Jerman menjadi tuan rumah FIFA Piala Dunia 2006. Seperti halnya di berbagai penjuru dunia lainnya, di Jerman pun demam Piala Dunia (yang untuk selanjutnya disingkat WM, Weltmasterschaft) begitu terasa. Di kota tempat saya tinggal, Berlin, demam WM sudah muncul sejak jauh-jauh hari. Kota Berlin mempercantik diri dengan atribut-atribut WM. Tidak heran, kota ini akan menjadi pusat dunia pada tanggal 9 Juli ketika partai final ajang sepakbola terbesar empat tahunan itu digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terkecuali saya, saya sempat mencari-cari pekerjaan untuk WM ini. Waktu itu sempat mendaftar menjadi staff ticketing, dan sempat juga mendapat panggilan wawancara, tapi ternyata panggilan itu tidak kunjung-kunjung datang sampai sekarang. Masih belum rejeki mungkin. Tapi ada baiknya juga, karena ternyata WM itu tidak kompromi dengan waktu kuliah. Dengan kata lain, walaupun WM, kuliah tetap jalan, bahkan dalam musim ujian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan diadakannya WM pada waktu aktif kuliah, maka konsentrasi kuliah saya pun sedikit terganggu. Bisa jadi bukan hanya saya, tapi juga seisi kampus. Contohnya, waktu di kampus sedang asik-asik belajar, tiba-tiba ada suara teriak „Tooorrrrr!!!“ dari ruangan sebelah. Oh, ternyata para Tutor dan Wissenschaftliche Arbeiter sedang nonton bola bareng. Atau Tutor mata kuliah Physikalische Chemie saya, yang notabene juga anak kuliahan, memperpendek waktu tutorium kami karena mau nonton bola. Di antara mahasiwa pun demikian, kalau kita tidak tahu bagaimana hasil pertandingan tadi malam, maka akan bingung ketika diajak ngobrol oleh mahasiswa lain esok paginya. Satu mata kuliah yaitu Konstruktion und Werkstoffe mengharuskan kerja kelompok secara intensif. Kelompok kami yang hanya bertiga, semuanya demam WM. Jadi jadual mengerjakan tugas diatur sedemikian rupa supaya tidak bentrok dengan jadual WM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh percakapan kami:&lt;br /&gt;Saya: „Wir müssen die Hausaufgabe am Donnerstag abgeben! So, wir sollen uns am Dienstag treffen. Wie findet ihr?“&lt;br /&gt;Si M: „Am Dienstag?? Es ist doch Deutschland gegen Argentinien!“&lt;br /&gt;Si A: „Das kann nicht sein, das kann nicht sein! Lieber am Wochenende treffen!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat kota Berlin dari Brandenburger Tor sampai Siegesäule pun disulap menjadi Fanmeile, atau tempat nonton bersama untuk penduduk di kota itu. Ada enam monitor raksasa berdiri di sana. Tercatat bisa sampai 500.000 orang datang bersama ke sana pada sebuah pertandingan. Karena tidak suka keramaian, saya jarang ke sana. Mungkin hanya tiga kali sepanjang WM. Saya lebih suka nonton di rumah, atau bertandang ke rumah teman untuk nonton bersama. Menonton di stadion? Sayangnya tidak. Untuk tempat duduk yang paling belakang dan paling atas, harga tiketnya mencapai 30 €, untuk final malah lebih mahal, mencapai 100 € untuk tempat duduk dimana kita tidak bisa melihat pemain-pemainnya saking jauhnya. Mending untuk hal yang lain, ya nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang punya gaya sendiri untuk meluapkan emosinya melalui bentuk-bentuk ekspresi ketika menonton bola. Kalau saya, adalah gerak refleks tangan atau kaki ketika geregetan melihat seorang pemain ketika tim yang saya jagokan tidak juga berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan. Begitu pula ketika WM kali ini, saya sempat mengambil beberapa peristiwa dari gegap gempitanya penyelenggaraan WM, bisa dilihat di &lt;a href="http://derdimas.multiply.com"&gt;foto galeri&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WM kini sudah usai, saatnya kembali konsentrasi menghadapi ujian semester. Secara keseluruhan saya agak kecewa pada WM kali ini, karena tim-tim yang saya jagokan tumbang satu persatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respekt untuk Italia yang menjadi Weltmeister kali ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-115249582081315028?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/115249582081315028/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=115249582081315028' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115249582081315028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115249582081315028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/07/reportase-wm.html' title='Reportase WM'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-115066479745786072</id><published>2006-06-18T23:04:00.000+02:00</published><updated>2006-06-18T23:06:37.473+02:00</updated><title type='text'>Sekat dan Suara Langit</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Kamu bermuka dua!“ teriakan dari langit itu menggelegar. Sayup-sayup terdengar lagi, „Bagaimana mungkin kamu bisa bertindak seperti itu?“&lt;br /&gt;Ah, hanya saja dulu aku tidak tahu ayat itu, hanya saja dulu aku tidak sadar bahwa maut bisa merenggut kapan saja tanpa kompromi, mungkin aku bisa seperti mereka, berjingkrak, bersorak, hore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa yang terbelenggu, tersekat-sekat. „Boleh kah aku menggadaikan kata istiqomah sebentar saja? Aku ingin menghirup masa mudaku sebebas-bebasnya. Lepas!“&lt;br /&gt;„Laaaaa!“ teriak suara langit itu lagi. „Tidak ada yang memaksamu untuk istiqomah. Silahkan cari jalan lain sesukamu. Namun tidak ada yang dapat menjamin kamu akan kembali lagi ke jalan ini!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela nafas yang berat. „Fa alhamahaa fujurohaa wataqwaahaa“. Allah telah bersumpah! Bahkan sumpahnya kali ini lebih hebat dari sumpahnya yang lain. Atas nama matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringnya, dan siang apabila menampakannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya, serta merta sumpah Allah, bahwa jiwa itu diilhamkan kefasikan dan ketakwaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Lumrahkah itu wahai suara yang menggelegar?“ tanyaku lagi. Namun sang suara tak lagi menggumamkan nyaringnya. Hening. Wahai jiwa, kau memberi tantangan pada keistiqomahan atas sifatmu yang bisa takwa dan bisa fasik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbelalak aku di balik lautan orang-orang berwarna-warni dan berbau keringat. „Ole! Ole! Ole! Brasiiiiilllieennnnnn!“. Mengadah aku, dan gelap sudah menggarap langit-langit.&lt;br /&gt;„Ya Allah! Aku belum shalat maghrib!“ Mengapa waktu maghrib pukul setengah sepuluh malam? Di saat pertandingan Brasil melawan Kroasia pukul sembilan malam. Tak mungkin aku menunggu setengah jam di rumah untuk shalat maghrib, lalu berangkat menonton acara piala dunia di tengah kota. Bisa-bisa 45 menit pertama sudah lewat. Lalu, sekarang sudah pukul sebelas, sebentar lagi maghrib habis. Di mana aku bisa mendirikan shalat?, padahal semua jengkal tanah telah direservasi lautan manusia yang sedang berteriak-teriak. Tak mungkin aku shalat di sini. Ini Berlin saudara-saudara!, pastilah orang akan menganggapku teroris jika beribadah di tengah mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Hayya’lasholaaaaaa“ suara itu datang lagi menyelip dari gelap langit yang semakin memekat. „Di mana?“ tanyaku beremosi. „Yang lain pun tidak shalat! Yang lain pun bergembira!“. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Aku ingin dugem, dulalip atau apalah namanya, minum alkohol, pesta pora tralala, itu kan yang semestinya dilakukan orang-orang seumuranku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba hujan, pun tak menghentikan gempita malam itu. Menit berjalan, mempertaruhkan waktu maghribku, eksistensi islamku. Ah, islam kah aku? Royal sudah kah aku terhadap agamaku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Memang sulit menjaga keistiqomahan terutama di tempat yang bukan mayoritas islam seperti di sini. Tapi jika kamu mampu menjaga istiqomahmu, insya Allah, islam yang kaafah yang akan kamu renggut,“ kata suara ustadz yang kutemui setahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat aku dengan David, Martin, Patrick, Bettina, Aletta, Marielle... Ketika hidayah datang kepada mereka, bukan kesurutan iman yang mereka temui, tapi malah semakin menjadi. Pernah ku lihat Martin berdoa dengan khusyuk sekali, mengadahkan kedua tangannya, memejamkan matanya, seolah menyerahkan semua yang dia punya, dan hatinya bergumam berkata kepada Allah. Si pirang bermata biru itu selalu merasa sejuk kala menghadap Tuhannya. Atau Aletta, si bule berkacamata yang tetap dengan kain panjang menutup kepalanya dan baju lengan panjangnya, di saat teman-temannya yang lain ber-tanktop dan bercelana pendek di musim yang super panas saat ini, atau di saat lingkungannya menatapnya picik menghinakan, eine Deutsche trägt ein Kopftuch?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maghrib akan lewat, Ya Allah, aku menghadap Mu sekarang, ampuni aku ya Allah! Ampuni...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Wahai Muhammad, akan kuberikan apapun yang kamu minta, uang, harta, pangkat, wanita, asalkan kamu berhenti dari dakwahmu!“&lt;br /&gt;„Walapun matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti pada jalan ini!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai matahari di tangan kananku tak kan sanggup mengubah yakinku&lt;br /&gt;Terpatri dan tak kan terbeli dalam lubuk hati&lt;br /&gt;Bilakah rembulan di tangan kiriku, tak kan sanggup mengganti imanku&lt;br /&gt;Jiwa dan raga ini apapun adanya&lt;br /&gt;Andaikan seribu siksaan terus melambai-lambaikan derita yang mendalam&lt;br /&gt;Seujung rambutpun aku tak kan bimbang&lt;br /&gt;Jalan ini yang kutempuh&lt;br /&gt;Bilakah ajal kan menjelang jemput rindu-rindu syahid yang penuh kenikmatan&lt;br /&gt;Cintaku hanya untukMu&lt;br /&gt;Tetapkan muslimku selalu&lt;br /&gt;(Harris Syafik – Keimanan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 18 Juni 2006&lt;br /&gt;Untuk seorang adik yang akan pulang habis ke Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-115066479745786072?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/115066479745786072/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=115066479745786072' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115066479745786072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/115066479745786072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/06/sekat-dan-suara-langit.html' title='Sekat dan Suara Langit'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-114833425930056865</id><published>2006-05-22T23:35:00.000+02:00</published><updated>2006-05-22T23:44:19.326+02:00</updated><title type='text'>Setitik Embun Mas Fathan</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, umurnya sepuluh tahun lebih tua dariku. Aku berkenalan dengannya ketika pertama kali menginjakan kaki di Jerman, dua tahun yang lalu. &lt;br /&gt;„Ini yang namanya Bintang, ya?“ tanyanya dengan mata yang menyipit akibat senyumnya yang manis. „Saya Fathan.“&lt;br /&gt;Pertemuan pertama di bandara Tegel, Berlin. Kala itu mas Fathan yang membawa koperku yang super berat.&lt;br /&gt;„Ini istri saya, Mawaddah. Kalau yang ini Annissa. Ayo, Annissa, salam sama om Bintang,“ ucapnya memperkenalkan keluarganya. &lt;br /&gt;„Kalau yang di kereta bayi itu... anak mas Fathan juga?“ tanyaku membalas.&lt;br /&gt;„Masa anak orang sih. Kan yang ngedorong keretanya istri saya. Namanya Faisal, baru lima bulan,“ jawabnya hangat. Mbak Mawaddah hanya tersipu-sipu mendengar pertanyaan basa-basiku. „Selamat datang di Jerman, di sini tempat perjuangan Bintang.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, yang meminta aku menganggap keluarganya seperti keluargaku sendiri. Mas Fathan adalah teman SMA om Jeffri – adiknya ayah yang tinggal di Cirebon. Jadi jangan heran, kalau ayah menitipkan aku padanya.&lt;br /&gt;„Bintang, sampai kamu dapat rumah, tinggal dulu bersama kami. Wohnung kami tidak begitu besar, tapi nyaman kok. Anggap saja rumah sendiri. Saya sedang mengusahakan sebuah apartemen untuk Bintang di daerah Wedding,“ katanya.&lt;br /&gt;Baru sehari aku tinggal bersama mereka, aku sudah merasa betah. Mbak Mawaddah hobby masak. Tiap saat ada yang keluar dari dapur. „Sudah mbak, nggak usah repot-repot. Baru satu jam yang lalu disuguhin risol, martabaknya nanti malam saja,“ kataku. Dia hanya tersenyum sambil berkata „nggak repot kok, kan dimakan bareng-bareng,“.&lt;br /&gt;Annissa juga cepat dekat denganku. Umurnya empat tahun, saat ini masih di Kindergarten. Bahasa Jermannya jauh lebih jago dari pada aku yang masih tersendat-sendat kalau bicara. Kegiatanku tiap pagi: mengantar Annissa ke Kindergarten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, saat ini sedang mengambil doktoran di Freie Universität Berlin. Katanya, tak kurang dua tahun yang lalu beliau menyelesaikan studi diplomnya di jurusan Elektrotechnik. Jadi namanya sekarang adalah Dipl.-Ing. Fathan Wibowo. Mbak Mawaddah tinggal satu semester lagi menyelesaikan program masternya. Hebatnya, mereka berdua tidak kesulitan mengatur waktu untuk mengurus Annissa dan Faisal.&lt;br /&gt;„Yaa, Bintang sudah dapat apartemen yah, Mas? Jadi sepi deh sekarang,“ kata mbak Mawaddah kecewa.&lt;br /&gt;Iya, mas Fathan berhasil mencarikan aku sebuah apartemen yang murah. Sedih juga sih, karena aku tidak lagi bisa mengantar Annissa ke Kindergarten atau bermain-main dengan si kecil Faisal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, aku begitu merindukan saat-saat bersama keluarga muda itu. Namun walau begitu, mas Fathan sering datang berkunjung ke apartemenku membawa makanan-makanan kecil buatan mbak Mawaddah.&lt;br /&gt;„Saya tahu, Bintang sedang sibuk Studkol. Mahasiswa kayak Bintang kan males masak,“ katanya. Aku hanya cengar-cengir saja mendengarnya. „Nih, saya disuruh Mawaddah mengantarkan pempek laksan. Hasil eksperimen dia katanya,“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, yang selalu tersenyum dan menjabat tanganku erat ketika bertemu. Melihat mas Fathan, aku serasa menjadi semangat ibadah. Habis, tiap maghrib dia selalu menyempatkan ke masjid. Tiap di U-Bahn, dia suka membaca Al-Qur’an. Tiap berbicara, kata-katanya tak jauh dari soal Islam. Koleksi buku-buku di rumahnya pun adalah buku-buku Islam. „Bintang suka baca novel?“ tanyanya. Aku mengangguk. „Saya suka sekali novel-novel Agatha Christi, Dee Supernova, atau Dan Brown,“ jawabku. „Wah, saya juga senang dengan novel-novel itu! Hmm, pernah baca novel yang kayak gini?“ lanjutnya. Aku melihat novel itu yang tak lain tak bukan adalah novel islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, yang berperan dalam proses sosialisasiku di Berlin. Aku tidak mengenal siapa-siapa ketika pertama kali di sini, lalu beliau mengajakku ke masjid Al-Falah, sebuah masjid Indonesia di Berlin, dan memperkenalkanku kepada komunitas muslim di kota ini. Di sini, aku menemukan ikatan ukhuwwah yang benar-benar erat satu sama lain. Aku baru menyadari manisnya islam justru di sini. Ya, di sini, di negara yang bukan mayoritas muslim!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, aku kenal benar dengan kehidupan ekonomi keluarganya yang cukup sederhana. Namanya juga mahasiswa, mas Fathan harus menghidupi istri dan dua orang anaknya. Walaupun dia dapat gaji dari Universitas, tapi dia juga harus melakukan kerja tambahan untuk dapat survive di sini. Aku melihat sosok mas Fathan yang bertanggungjawab, ulet, dan dapat membagi waktu dengan baik. Suatu ketika mas Fathan datang ke apartemenku bersama Faisal yang kini sudah bisa berjalan. Ia membawa sebuah ransel biru muda untuk membawa laptop.&lt;br /&gt;„Apa ini, mas?“ tanyaku keheranan.&lt;br /&gt;„Hadiah untuk Bintang yang sudah lulus Studkol dan masuk Uni,“ katanya sambil tersenyum. „Saya beli di Ebay kok. Murah. Kan Bintang belum punya tas laptop. Nanti di Uni, para mahasiswa sering membawa laptopnya ke kampus.“ Lanjutnya. Aku terharu atas hadiah insidental dari mas Fathan ini. Aku sadar, mas Fathan seharusnya menyimpan uangnya untuk dibelikan hal lain yang lebih penting seperti susu untuk Faisal atau lainnya, bukan untuk ransel ini. Mas Fathan benar-benar menganggap istimewa diriku, sehingga ia memberikanku sebuah hadiah. &lt;br /&gt;„Terima kasih banyak, mas. Oh ya, gara-gara novel islami yang mas Fathan pinjamkan ke saya, sekarang saya jadi senang menulis lho. Hehehehe,“ kataku.&lt;br /&gt;„Oh ya? Wah, saya mau baca dong! Masukin dong ke USB-Stick saya!“ katanya bersemangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, tiba-tiba bertemuku di depan Deutsche Bank.&lt;br /&gt;„Wah, lagi nabung yah, Bintang?“ tanyanya.&lt;br /&gt;„Eh, nggak kok mas,“ jawabku singkat sambil memandangi kertas Kontoauszug. Pasalnya, ayahku belum mengirimi aku uang untuk membayar Semesterticket di Uni, padahal pembayaran terakhir adalah lusa.&lt;br /&gt;„Kok, murung, Bintang? Ada apa?“ tanyanya.&lt;br /&gt;„Mmmm, nggak ada apa-apa kok, mas. Saya sedang menunggu kiriman uang dari ayah untuk membayar Semesterticket, tapi sampai sekarang uangnya belum datang,“jawabku.&lt;br /&gt;Segera mas Fathan menarik tanganku menuju mesin ATM. „Berapa yang kamu butuhkan?“ tanyanya.&lt;br /&gt;„Nggak usah mas, nggak usah, nanti saya telepon ayah saja,“&lt;br /&gt;„Bintang, saya ini saudaramu. Saya ingin menjadi orang pertama yang membantu saudaranya. Bintang boleh menggantinya kapan saja. Berikan saya kesempatan menolong saudara yang saya cintai ya,“ katanya.&lt;br /&gt;Ah mas Fathan, terharu aku saat itu.&lt;br /&gt;„Tapi mas, mas sudah terlalu banyak membantu saya. Saya tahu mas juga punya keluarga. Saya nggak tahu gimana cara membalas kebaikan mas Fathan,“ kataku bergetar sambil menahan air mata yang sudah ingin mengalir.&lt;br /&gt;Mas Fathan – kakakku – hanya tersenyum. „Belajar yang rajin, dan tunjukkan Bintang berhasil sekolah di sini, maka saya akan senang,“ katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, suatu ketika aku dapat surat dari Indonesia. Tepatnya dari sebuah majalah islam yang terbit di sana. Isinya mengucapkan terimakasih atas cerpen-cerpen yang dikirimkan ke mereka. Mereka telah mengirimkan royaltinya ke rekeningku, dan meminta aku untuk mengirimkan cerpenku lagi. Aku segera ke bank, dan benar saja, sejumlah uang yang tidak sedikit masuk ke rekeningku. Aku bersyukur karena uang itu bisa memenuhi kebutuhanku selama sebulan.&lt;br /&gt;Lantas aku menelepon pihak majalah untuk bertanya siapa yang mengirimkan naskah cerpen-cerpenku itu, karena aku tidak pernah mengirimnya. Kata mereka, dari seseorang bernama Fathan Wibowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua minggu ini aku tidak bertemu mas Fathan. Ia juga sudah jarang ke masjid ketika shalat Maghrib. Aku langsung bertanya-tanya, apakah dia sakit, atau Annissa dan Faisal yang sakit. Kuputuskan untuk segera ke rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, berseri-seri menyambut kehadiranku di rumahnya.&lt;br /&gt;„Apa kabar?“ sapa mbak Mawaddah dibalik jilbabnya sambil menyuapi Faisal.&lt;br /&gt;„Alhamdulillah baik. Mas Fathan dan mbak Mawaddah apa kabar? Kok jarang keliatan dua minggu ini? Saya kira sakit,“ tanyaku.&lt;br /&gt;„Kami baik-baik saja kok,“jawab mas Fathan lalu mempersilahkan aku duduk.&lt;br /&gt;„Mas, terimakasih yah telah mengirimkan cerpen-cerpenku,“ kataku.&lt;br /&gt;„Oh? Sudah terbit ya? alhamdulillah, maaf yah Bintang saya lancang tidak memberi tahu dulu,“ jawabnya.&lt;br /&gt;Aku melihat sekeliling, rumah mas Fathan tampak beda sekarang. Ya! tampak beda! Beberapa barang-barang di rumah itu sudah disimpan di dalam kardus.&lt;br /&gt;„Lho, mas Fathan mau pindahan ya?“ tanyaku. Ia terdiam, sebelum sesaat kemudian berkata.&lt;br /&gt;„Saya sekeluarga akan pulang habis ke Indonesia minggu depan,“&lt;br /&gt;Bagaikan ditimpa sebongkah batu besar, aku membisu mendengar jawaban dari mas Fathan. Semua persaan bercampur. Kaget, kecewa, dan penuh tanya.&lt;br /&gt;„Pulang habis? Ke Indonesia? Minggu depan? Kenapa mas? Kenapa?“ tanyaku meronta-ronta seperti anak kecil. &lt;br /&gt;„Izin perpanjangan visa saya entah mengapa ditolak. Jerman menyuruh kami pulang, Ausländerbehörde tidak memberikan izin tinggal lagi. Saya harus menghentikan program doktoran saya, tapi tidak mengapa, toh gelar Diplom-Ing sudah saya dapatkan. Mawaddah juga sudah selesai dengan kuliahnya. Jadi, kita pulang for good,“&lt;br /&gt;Wajahku memerah padam. Aku kecewa.&lt;br /&gt;„Saya kecewa, mas. Mas Fathan sendiri yang bilang saya adalah saudara mas. Tapi kenapa saya tidak diberitahu tentang hal ini. Mas sendiri yang bilang, jadilah orang pertama untuk membantu saudaranya, tapi kenapa saya tidak dibiarkan melakukan hal itu, mas? Saya tahu, saya tidak bisa berbuat apa-apa dalam urusan visa, tapi paling tidak, saya bisa membantu mas dengan doa,“ kataku dengan air mata yang tak lagi terbendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening seketika pada sore di rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Maafkan saya Bintang. Saya salah. Ada alasan mengapa saya tidak ingin memberitahu Bintang. Bintang baru satu semester di Universitas, perjalanan Bintang masih panjang. Saya tidak mau Bintang menjadi jatuh semangat mendengar kabar ini. Ausländerbehörde tidak bisa ditebak. Jika mereka menyuruh kita pulang, maka kita pulang tanpa harus tahu alasannya. Saya ingin Bintang tetap optimis menuntut ilmu di sini. Itulah mengapa saya tidak ingin memberitahu Bintang,“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pulang, lebih baik aku mendinginkan diri dulu setelah mendengar kabar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, satu Berlin juga heboh mendengar berita kepulangan keluarga mas Fathan yang mendadak. Mereka juga merasa kehilangan sosok keluarga itu. Siapa yang tidak kenal mas Fathan dibalik kesolehan dan kesupelannya. Kini takdir memisahkan kita, secepat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandara Tegel, tempat pertama aku bertemu dengannya, tempat mas Fathan menjemputku, kini juga tempatku mengantar mas Fathan. Kulihat orang-orang yang mengantar kepulangannya seperti ingin berlama-lama memeluk dan mengucapkan salam perpisahan dengannya. Tak lama, matanya menuju ke arahku, dan menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Bintang, jangan khawatir, kalau Bintang liburan ke Indonesia, pasti Bintang bertemu kami lagi. Saya ingin berpesan kepada Bintang, berjanjilah untuk membawa kesuksesan dalam studi Bintang. Jangan sekali-kali Bintang jauh dari Allah, karena Dia-lah tempat kita menggantung segala urusan kita. Tugas Bintang di sini adalah belajar. Maksimalkan belajar Bintang dan serahkan setelahnya kepada Allah. Insya Allah, Bintang akan berhasil. Semangat ya!“ katanya ceria.&lt;br /&gt;Namanya mas Fathan, sebentuk pelajaran telah banyak saya dapatkan selama saya mengenalnya. Doakan saya berhasil di sini, mas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin, 21 Mei 2006 &lt;br /&gt;Mushab Syuhada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Istilah:&lt;br /&gt;1. Wohnung: Tempat tinggal&lt;br /&gt;2. Kindergarten: Taman Kanak-kanak&lt;br /&gt;3. Studkol: Studienkolleg, sekolah kelas 13 - prauniversitas&lt;br /&gt;4. Uni: Universität, Universitas&lt;br /&gt;5. Kontoauszug: Kertas keadaan rekening bank&lt;br /&gt;6. Semesterticket: Tiket transportasi untuk satu semester&lt;br /&gt;7. Ausländerbehörde: Instansi pemerintah keimigrasian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-114833425930056865?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/114833425930056865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=114833425930056865' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/114833425930056865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/114833425930056865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/05/setitik-embun-mas-fathan.html' title='Setitik Embun Mas Fathan'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-114631065254011628</id><published>2006-04-29T13:36:00.000+02:00</published><updated>2006-04-29T13:38:26.100+02:00</updated><title type='text'>Cinta Karena Allah</title><content type='html'>Kategori: Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwwah&lt;br /&gt;Adalah degup penuh makna &lt;br /&gt;Yang mengalir membawakan cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwwah fillah adalah ikatan iman yang ditegakkan atas dasar manhaj Allah yang memancar dari rasa ketaqwaan dan bermuara kepada pengendalian yang kokoh dengan tali.-Nya. Dengan ukhuwwah, hati-hati manusia terikat untuk selalu taat kepada-Nya, dan lebih mencintai-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Al-Mujtama’ Al-Islamie mengatakan bahwa ukhuwwah islamiyah dapat melahirkan al-ikhaa’ul islamie, dan tujuan terpenting daripadanya adalah persamaan hak (al-musaawah), saling membantu (at-ta’aawun), dan cinta kasih karena Allah (al-hubb fillah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan hak dalam ukhuwwah islamiyah berarti kebebasan berukhuwwah dengan siapa saja tanpa membedakan status kekayaan, warna kulit, ataupun ras. Oleh sebab itu, dalam berukhuwwah kita harus menanggalkan pakaian jahiliyah yang membawa egoisme pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan di Berlin yang multikulti, mengajak kita untuk lebih membuka mata tentang keberadaan umat islam di dunia. Dari bangsa arab, kulit hitam, kulit putih, sampai mata kecil asia, dapat ditemukan di kota ini. Sebagai ummat yang beriman, kita harus meninggalkan sifat golongan dalam diri kita. Siapapun dia, asalkan sudah bersyahadat mengakui keesaan Allah dan mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, adalah saudara kita yang harus kita jaga darahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujuraat 13, “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesunggunya orang-orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang-orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam masalah persamaan hak, kita dituntut memilki sifat adil. Memperlakukan seseorang sewajarnya sesuai dengan apa yang seharusnya. Nabi Muhammad SAW mencontohkan kita dalam berbuat adil memperlakukan seseorang. Pernah Beliau bersabda, “Demi Allah. Andaikan Fatimah puteri Muhammad SAW mencuri, pasti akan kupotong tangannya”. Sabda Rasul tersebut menunjukkan, bahwa setiap orang sewajarnya diperlakukan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri ukhuwwah yang lain adalah At-Ta’awun atau saling bantu-membantu. Sudah sewajarnya manusia membutuhkan keberadaan orang lain untuk membantunya. Sebagai seorang ikhwan sudah selayaknya kita siap memberikan bantuan kapan saja dan di mana saja bila saudara kita membutuhkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan adalah hal yang luas pengertiannya. Menolong saudaranya dalam hal mencegah terhadap perbuatan dzalim termasuk juga bantuan. Jadi, bantuan dapat kita kerjakan kapanpun dalam setiap hembusan nafas kita. Sesuai sabda Rasulullah SAW, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna untuk lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwwah timbul dari adanya rasa cinta kepada Al-Ikhwan karena Allah. Cinta dapat diwujudkan melalui menghormati sesama ikhwan, berlapang dada, saling mendoakan, berharap akan kebaikan untuknya, dan menghindari rasa dengki. Rasulullah SAW bersabda dalam hadistnya riwayat Bukhari, “Tidak boleh dengki kecuali dalam dua hal, (yaitu) seseorang yang diberi Allah SWT kekayaan dan dipergunakan kekayaannya untuk mempertahankan yang hak, dan kepada orang yang diberi Allah ilmu yang dengan ilmu itu diajarkan dan diamalkannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk terbentuknya sebuah jalinan ukhuwwah, diperlukan metode atau jalan tersendiri. Di antaranya adalah taat berhukum pada Al-Qur’an dan mengambil sunah Rasul sebagai undang-undang kehidupan. Jika kita berukhuwwah dengan mengedepankan aspek ini, insya Allah ukhuwwah atas dasar iman kepada Allah yang dapat menghantar kita meraih ridho Allah dapat terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu diperlukan juga adanya budaya mengucapkan salam. Salam dalam islam berarti mendoakan keselamatan dan kesejahteraan untuk orang yang disalaminya. Dalam satu hadistnya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Zat yang diriku berada pada genggaman-Nya, tidaklah kalian masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah sempurna iman kalian sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menimbulkan rasa saling mencintai? Sebarkanlah (budayakanlah) salam di antara kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia itu tergantung dien kawan kentalnya, maka perhatikanlah salah satu dari kawan kental manusia itu”, begitulah bunyi sabda Rasulullah SAW. Membangun sebuah ukhuwwah tidaklah semudah seperti berjumpa dengan seseorang, menjabat tangannya, dan menanyakan namanya. Ada tolak ukur untuk membangun sebuah ukhuwwah islamiyah antar al-ikhwan. Sebagai penutup artikel ini, berikut tolok ukur membangun sebuah ukhuwwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menjadikan ukhuwwah itu ikhlas karena Allah semata.&lt;br /&gt;2. Menjadikan ukhuwwah yang pertalian didalamnya atas dasar iman dan takwa.&lt;br /&gt;3. Menjadikan ukhuwwah yang didalamnya ada rasa komitmen untuk selalu menjalankan apa yang ditulis di Al-Qur’an dan dipesankan Rasulnya.&lt;br /&gt;4. Menjadikan ukhuwwah dengan berpegang teguh dengan selalu saling menasihati dalam kebaikan.&lt;br /&gt;5. Menjadikan ukhuwwah atas dasar ta’awun dan tafakul baik dalam waktu sempit maupun lapang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-114631065254011628?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/114631065254011628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=114631065254011628' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/114631065254011628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/114631065254011628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/04/cinta-karena-allah.html' title='Cinta Karena Allah'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-114435469994370679</id><published>2006-04-06T22:13:00.000+02:00</published><updated>2006-04-06T22:18:20.006+02:00</updated><title type='text'>Firasat</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja dingin itu, di bandara Soekarno-Hatta. Teman-teman yang akan berangkat bersamaku di kelilingi oleh sanak saudara dan keluarganya masing-masing. Mereka berfoto, berpelukan, dan bertangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Yu, kamu siap-siap check in, gih,“ kata mama. Tak aku jawab. Aku balas hanya dengan tatapan sebal.&lt;br /&gt;„Yu, paspor kamu di mana? Hati-hati ya, jangan sampai hilang,“ lanjutnya lagi. Tak aku jawab juga.&lt;br /&gt;„Yu, teman-teman kamu sudah pada masuk tuh mau check in,“ suara itu berbunyi lagi. Aku tak tahan.  Aku berdiri, dan menatap ke wajah yang mulai renta itu.&lt;br /&gt;„Mama! Bayu tahu! Bayu kan bukan anak kecil lagi! Mama gak usah ngingetin Bayu terus!“ suara kerasku terdengar menggema. Orang-orang yang di sekelilingku menatap ke arah kami. Hening sejenak. Hening paras Mama waktu mendengar bentakanku. Ia terdiam sebelum akhrnya mengulum kembali senyum yang dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba saat pesawat akan berangkat, ku tepis tubuh Mama dan Papa saat hendak memelukku. Saat teman-temanku banjir air mata, tak ku tatap lagi wajah orang tuaku. Kesal aku dengan mereka, yang selalu memperlakukan aku bagai anak kecil. Yang selalu terobsesi dengan diriku, dan yang selalu menuntutku agar menjadi seperti apa yang mereka mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ladies and gentlemen, welcome in Garuda Indonesia Airlines, my name is Retno Wulandari. I am head flight attendant from Jakarta to Frankfurt...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk, menatap kosong ke arah televisi di depanku. Firman, yang duduk di sebelahku baru berhenti dari menangis ketika pesawat sudah mulai tinggal landas. Pramugari-pramugari itu mulai sibuk menyajikan santap malam untuk para penumpang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„What do you want to eat?, we have rice with scramble eggs, noodle with sausage, or...“ &lt;br /&gt;„Terserah mbak!“ jawabku memotong. Ku tahu, pramugari itu terhenyuk mendengar jawaban kasarku. Okay, katanya sambil tersenyum, lalu menanyakan hal yang sama kepada Firman.&lt;br /&gt;„Yu, plis jangan marah ya. lo kenapa sih? Dari tadi kelihatannya keseeel terus,“ tanya Firman sambil membuka menu yang telah dipilihnya.&lt;br /&gt;„Kesel aja. Boleh, kan?“ jawabku ketus.&lt;br /&gt;„Kesel boleh, tapi di waktu yang pas dong. Bukannya gue sok tua yah, kayaknya nggak pantes deh lo ngebentak pramugari tadi. Dan nggak pantes juga tadi lo ngedorong tubuh nyokap lo saat dia mau meluk lo,“ lanjutnya lagi. „Gue malah pengen bisa meluk tubuh nyokap gue selama mungkin,“&lt;br /&gt;Aku diam, mulai menyantap hidangan.&lt;br /&gt;„Jangan buat orang tua marah. Nanti kalau kiriman uang lo di-stop gimana hayo? Susah kan lo nanti jadinya,“&lt;br /&gt;„Gue yakin, mereka nggak bakal nyetop kiriman uang,“ jawabku. „Mereka yang mau gue nerusin sekolah di Jerman. Ini semua cita-cita mereka. Mereka teralu terobsesi sama diri gue“&lt;br /&gt;Firman hanya menatap.&lt;br /&gt;„Tujuan lo ke Jerman buat apa?“ tanyaku.&lt;br /&gt;„Buat sekolah lah. Hari gini, masa buat hura-hura,“&lt;br /&gt;„Berarti kita berkebalikan. Tujuan gue justru buat hura-hura. Dengan gue ke Jerman, gue bisa lepas dari orang tua gue, pergi dari kehidupan di rumah yang membosankan,“&lt;br /&gt;„Lo gak kasihan dengan orang tua lo? Lo kan anak semata wayang,“&lt;br /&gt;„Tau apa lo soal anak semata wayang? Gue benci dengan sebutan itu. Apakah anak semata wayang harus terus bersama orang tua?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bruk bruk bruk.&lt;/span&gt; Pembicaraan kami terhenti saat pesawat kami tiba-tiba seperti berputar tak tentu arah. Makanan kami berhamburan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ting. Flight attendant, please come!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan para pramugari itu cepat-cepat kembali ke kursi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;To all passengers, please return to your seats and fasten your seatbelts for we are expecting turbulances due to the bad weather. Thank you.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana mendadak menjadi sepi. Yang ada hanyalah ketakutan. Lampu pesawat dipadamkan.&lt;br /&gt;Tiba-tiba yang terlintas di pikiranku adalah kedua orang tuaku. Entah, padahal aku membenci mereka, namun saat ini wajah mereka seakan tepat di pelupuk mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This is your captain speaking. Ladies and gentlemen, please take emergency landing position immediately.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat kami tiba-tiba manukik, turun dengan kecepatan yang luar biasa cepat. Semua orang panik. Panik sambil berusaha mengenakan baju pengaman dan meraih selang oksigen yang muncul dari atas kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, papa, mengapa saat ini kalian yang berada dalam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeritan di mana-mana, tubuh kami bertambah berat akibat pengaruh gravitasi berlebih, pesawat semakin cepat melaju ke bawah. Aku sadar. Aku akan mati. Ya, aku akan merasakan pedihnya sakratul maut sesaat lagi. Asyhadu alaa illaaha ilallah, wa asyhadu anna muhammadarrasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ledakan besar, api, dan aku tak ingat lagi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terbelalak, tubuhku basah. Hanya sebuah mimpi buruk. Kulihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi. Aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Beberapa jam dari sekarang aku akan pergi meninggalkan rumah ini, dan, pikiranku kembali kepada mama dan papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku beranjak keluar kamar, ku lihat seseorang bermukena putih bersimpuh di dalam mushalla mengerjakan tahajud rutinnya. Itu mama. Ya, itu mama. Mama.&lt;br /&gt;„Mama!“&lt;br /&gt;Wanita separuh baya itu menatapku dengan air mata yang masih menggenang di pelupuk mata.&lt;br /&gt;„Bayu, kok belum tidur? Kamu harus istirahat cukup. Perjalanan ke Jerman nanti akan menguras tenaga,“ katanya.&lt;br /&gt;Ku rangkul tubuhnya. Ku peluk hangat.&lt;br /&gt;„Ma, Bayu nggak mau ke Jerman, ma. Bayu mau sama mama,“ kataku dengan tangis yang mulai mengalir.&lt;br /&gt;„Kamu bicara apa sih, sayang. Jam lima sore nanti kan kamu sudah harus terbang ke Jerman,“ katanya lembut, walau kutahu, perih yang dirasakannya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, yang sudah berbuat banyak untukku. Menjamin aku mendapat susu tiap hari saat ku kecil, menemaniku melukis saat aku di taman kanak-kanak, hingga sampai saat ini, kata-kata yang keluar setiap aku pulang ke rumah adalah „Bayu, sudah makan atau belum,“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Mama sadar, apapun bisa terjadi nanti. Bayu, kamu anak mama semata wayang. Pun kamu hanyalah titipan Allah yang harus mama jaga. Jika kamu, atau mama, dipanggil oleh Yang Menciptakan kita, maka tidak ada yang dapat kita perbuat lagi selain mengikhlaskannya“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, tahukah kau, kalau aku baru bermimpi buruk tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mushab Syuhada&lt;br /&gt;Berlin 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-114435469994370679?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/114435469994370679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=114435469994370679' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/114435469994370679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/114435469994370679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/04/firasat.html' title='Firasat'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-114246474235135939</id><published>2006-03-16T00:04:00.000+01:00</published><updated>2006-03-16T00:19:02.376+01:00</updated><title type='text'>The Day</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-weight: bold;font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family: courier new;"&gt;S u j u d k u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://static.flickr.com/28/55914627_b7818f4a94.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://static.flickr.com/28/55914627_b7818f4a94.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pun takkan memuaskan inginku&lt;br /&gt;untuk haturkan sembah ke dalam kalbu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;adapun kusembahkan syukur padaMu ya Allah&lt;br /&gt;untuk nama, harta, dan keluarga yang mencinta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;dan perjalanan yang sejauh ini tertempa&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;alhamdulillah pilihan dan kesempatan&lt;br /&gt;yang membuat hamba mengerti lebih baik tentang makna diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;semua lebih berarti apabila dihayati&lt;br /&gt;alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Too Phat feat. Dian Sastro feat. Yassin - alhamdulillah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-114246474235135939?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/114246474235135939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=114246474235135939' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/114246474235135939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/114246474235135939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/03/day_16.html' title='The Day'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-114155736639264881</id><published>2006-03-05T12:10:00.000+01:00</published><updated>2006-03-05T12:16:06.410+01:00</updated><title type='text'>Hukum Pareto</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hukum Pareto&lt;br /&gt;Oleh: Mushab Syuhada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laboratorium Kimia Anorganik, Gedung Kimia, TU Berlin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menatap beberapa tabung reaksi yang berjejer rapi di depanku, melihat dengan teliti dan seksama setiap perubahan yang terjadi dalam larutan-larutan warna-warni itu. Perlahan aku tiba pada titik kejenuhan. Sekitar lima belas menit yang lalu, aku mengajukan laporan penelitian pada asisten lab. Ku katakan, bahwa dalam zat yang aku teliti saat ini tidak terdapat phospat, sulfat, dan klorid. Tapi kata dia, laporan yang aku ajukan itu hanya ada satu jawaban yang benar, sisanya salah, dan bahkan ada satu unsur yang tidak terdeteksi oleh ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan laboratorium besar yang diisi 80 mahasiswa perlahan sepi. Hanya tersisa lima mahasiswa yang belum menyelesaikan laporannya, termasuk aku. Laboratorium akan ditutup sepuluh menit lagi, sedangkan aku masih harus mengulang percobaan agar unsur yang tersembunyi di balik zat itu berhasil aku temukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Baik, saya ajukan laporan kedua saya. Saya sangat yakin di dalam zat ini tidak terdapat unsur karbonat, karena saya sudah mengulang percobaan ini sebanyak tiga kali, dan tidak saya temukan juga gas karbon dioksida dalam larutan barium hidroksid,“ kataku dengan sedikit emosi.&lt;br /&gt;„Ya benar,“ jawab asisten itu. „pada zat yang kamu miliki memang tidak ada karbonat. Tapi mengapa kamu tulis dalam laporan pertamamu?“&lt;br /&gt;Ups, hampir ketahuan kalau saya menebak jawaban tanpa melakukan percobaan.&lt;br /&gt;„Selanjutnya, dalam zat ini ada unsur iodid, karena ketika saya berikan asam sulfat, muncul sol berwarna kuning dengan titik-titik air berwarna ungu, serta kristal hitam pada dinding tabung reaksi,“ lanjutku.&lt;br /&gt;„Ya itu benar, kamu punya unsur Iodid. Tapi, apa yang kamu ajukan sekarang masih salah. Apakah kamu yakin kamu punya unsur sulfat?“&lt;br /&gt;„Ya! sangat yakin,“ jawabku dengan sedikit ngotot.&lt;br /&gt;„Apa buktinya?“&lt;br /&gt;„Hmmm... saya melihat ada sol yang jatuh pada larutan bariumsulfat setelah proses sentrifugal,“&lt;br /&gt;„Yakin?“&lt;br /&gt;„Sedikit yakin,“&lt;br /&gt;„Coba lihat larutannya,“&lt;br /&gt;„Ehh... sudah saya buang...,“&lt;br /&gt;„Kalau begitu saya ingin lihat zat yang kamu punya,“&lt;br /&gt;„Baik, Anda ikut saya ke meja kerja saya,“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menunjukkan zat dalam gelas kimia kecil. Mendadak raut muka asisten itu berubah.&lt;br /&gt;„Kamu belum menghaluskan garam-garam ini, ya?“ tanyanya sedikit terkaget.&lt;br /&gt;„Belum, memangnya harus dihaluskan?“ jawabku.&lt;br /&gt;„Ya jelas! Pantas jawaban kamu salah semua. Unsur-unsur itu harus diteliti secara bersamaan!“ jawabnya.&lt;br /&gt;„Anda tidak mengatakannya!“ kataku membela diri.&lt;br /&gt;„Doch! Saya mengatakannya ketika seminar. Saya bahkan melihat kamu hadir pada seminar tadi siang. Jelas saja, karena kamu tidak menghaluskan garam-garam ini, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa menganalisis unsur-unsur dalam zat ini!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ruang Locker, Gedung Kimia, TU Berlin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka jas lab putih serta kacamata pelindung dengan tanpa semangat. Kugantungkan di dalam lemari besiku. Hari ini mendapat nilai 4,0, hampir saja tidak lulus. Seseorang keluar dari toilet dalam ruang locker ini, Robert Mensch, teman kuliahku. Ia mengambil jaket dan tas dari dalam lemarinya. Terlalu malas aku untuk menyapanya – menyapa orang-orang –  setelah mengetahui hasil yang kudapatkan dari enam jam berkutat di lab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Hai,“ sapanya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;„Hai,“ balasku datar &lt;br /&gt;„Bagaimana percobaan kamu tadi?“ tanyanya.&lt;br /&gt;„Buruk, aku mendapat 4,0,“&lt;br /&gt;„Aaah, sayang sekali,“ jawabnya. Aku tersenyum.&lt;br /&gt;„Kalau kamu, bagaimana?“ tanyaku membalas.&lt;br /&gt;„Aku mendapat 2,0,“&lt;br /&gt;„Waw! Bagus!“&lt;br /&gt;„Na ja, itu juga karena aku terlalu banyak memberikan asam sulfat. Semestinya perbandingannya satu banding satu,“ katanya. „Mengapa kamu bisa mendapat 4,0? Apa yang salah?“ lanjutnya bertanya.&lt;br /&gt;„Hukum Pareto,“ jawabku.&lt;br /&gt;„Hukum Pareto?“&lt;br /&gt;„Kamu pulang dengan kereta U2 dan U9, kan? Ayo kita pulang bersama, nanti aku jelaskan hukum Pareto itu,“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di dalam U-Bahn U2 dan U9&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;„Vilfredo Frederico Damaso Pareto, lahir di Paris 15 Juli 1848, adalah seorang ahli mikroekonomi Italia yang banyak berperan dalam dunia ekonomi, sosiologi, dan filosofi. Dia pernah membuat sebuah survey mikroekonomi di Italia. Hasil surveynya menyebutkan, bahwa 80% peredaran uang di Italia, terkonsentrasi hanya pada 20% warganya. Hanya 20% dari populasi!“ kataku memulai penjelasan. Robert yang duduk di hadapanku mendengarkan dengan seksama. „Dari situ muncul lah hukum Pareto, atau dalam bahasa Inggris disebut Pareto Principle, dalam bahasa Jerman disebut Pareto Verteilung, atau dikenal dengan sebutan 80-20 Rules atau 80:20 Regel,“&lt;br /&gt;„Maksudnya?“ tanya Robert sambil mengerutkan dahi.&lt;br /&gt;„Hukum itu menjelaskan, bahwa jumlah yang kecil dalam sebuah himpunan, banyak mempengaruhi himpunan tersebut. Dan juga sebaliknya, jumlah yang besar dalam sebuah himpunan, justru tidak banyak berperan dalam himpunan itu. Atau dalam kata lain, 80% keberhasilan diperoleh hanya dari 20% unsur pendukung keberhasilan itu,“ lanjutku.&lt;br /&gt;„Lalu apa hubungannya dengan percobaan kimia kamu?“ Robert semakin penasaran. Kereta kami sampai pada stasiun Zoologischer Garten, saatnya kami harus berpindah kereta.&lt;br /&gt;„Coba bayangkan. Kegagalan percobaanku hanya karena aku lupa menghaluskan garam-garam itu. Menghaluskan garam-garam paling hanya membutuhkan waktu selama tiga menit, tapi mempengaruhi enam jam kerjaku secara keseluruhan. Karena aku lupa mengerjakan hal yang kecil itu, maka gagal lah seluruh pekerjaan ku,“ jawabku. Robert tersenyum, dia mulai mengerti apa yang aku maksud. &lt;br /&gt;„Kamu punya contoh yang lain lagi?“ tanyanya. Aku mengangguk.&lt;br /&gt;„Kita belajar Matematika Analisis atau Aljabar Liniar selama satu semester bukan?“ tanyaku. „Berapa banyak waktu yang kamu butuhkan dalam satu minggu untuk belajar dua mata kuliah itu?“&lt;br /&gt;„Wah! Sangat banyak! Setiap minggunya kita mendapat pekerjaan rumah yang sangat sulit dan membutuhkan waktu minimal dua hari untuk mengerjakannya. Belum lagi dengan bahan yang sangat banyak dan tugas-tugas lainnya yang menumpuk,“ katanya.&lt;br /&gt;„Sepakat!“ jawabku. „Semester ini kita banyak disibukkan hanya untuk kedua mata kuliah itu, bukan?“ lanjutku. Robert mengiyakan. „Dan kamu tahu, Robert, upaya kita dalam satu semester itu hanya ditentukan dalam waktu satu jam! Ya, satu jam!“&lt;br /&gt;„Benar!“ teriak Robert. „Ujian mata kuliah itu hanya selama satu jam! Dan bila kita gagal dalam satu jam itu, maka sia-sia pula upaya kita dalam satu semester! Tidak peduli walaupun kita telah membuang waktu banyak hanya untuk dua mata kuliah ini. Bila nilai kita dalam satu jam ujian itu jelek, maka kita tidak lulus!“&lt;br /&gt;Aku tersenyum. Apa yang dikatakan Robert itu benar.&lt;br /&gt;„Contoh lain lagi, waktu aku sekolah di Indonesia, aku ikut dalam organisasi siswa. Setiap akan melakukan kegiatan, kami wajib membuat proposal. Tanpa Proposal, kegiatan kita mustahil dijalankan. Padahal, kalau kita membuat time-schedule dalam kegiatan tersebut, alokasi waktu untuk membuat proposal paling hanya satu minggu. Yang paling banyak adalah proses kerja kita dalam kegiatan itu. Tapi hal yang banyak itu tidak akan mungkin dijalankan bila kita tidak membuat proposal,“ lanjutku.&lt;br /&gt;„Hukum Pareto!“ teriak Robert.&lt;br /&gt;„Dan satu contoh lagi. Menurut agamaku, kehidupan di dunia ini hanyalah sebentar. Dan kehidupan setelah di dunia adalah kehidupan abadi. Kehidupan kekal dan selama-lamanya. Namun kehidupan abadi kita itu ditentukan oleh kehidupan kita di dunia yang sesingkat ini. Apakah kita akan hidup di surga atau neraka, ditentukan dalam hidup kita saat ini. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW berkata, hidup di dunia itu bagaikan seseorang yang sedang berjalan jauh melintasi luasnya padang pasir, dan berhenti sejenak di bawah pohon kurma untuk beristirahat, sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya lagi,“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;„Teng tong, Leopoldplatz, Übergang zu U-Bahn Linie U6“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Robert, aku harus turun di sini. Rumahku di sini,“&lt;br /&gt;„Ach so, oke sampai besok!“&lt;br /&gt;„Mach’s gut,“&lt;br /&gt;„Du auch. Ciao“&lt;br /&gt;„Ciao“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;„Zug nach Osloerstrasse. Einsteigen, bitte! Zurückbleiben, bitte!“ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mushab Syuhada&lt;br /&gt;Berlin, 5 Maret 2006 &lt;br /&gt;12:05&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-114155736639264881?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/114155736639264881/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=114155736639264881' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/114155736639264881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/114155736639264881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/03/hukum-pareto.html' title='Hukum Pareto'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-113925481641453940</id><published>2006-02-06T20:36:00.001+01:00</published><updated>2006-02-08T12:40:23.216+01:00</updated><title type='text'>Heikele Karikaturen</title><content type='html'>Kategori: Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Die European sehen jetzt sehr extrem gegen Islam aus. Die Karikaturen des Propheten Muhammad (Peace Be Upon Him) wurden bei einer dänischen Zeitung (Jyllands-Posten) und mehreren europäischen Zeitungen im September 2005 veröffentlicht. Ich habe in diesen Zeiten schon mal gesehen, und habe mich darüber sehr geärgert.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zur zeit passiert es in der ganzen Welt besonders in islamischen Ländern viele Proteste gegen diese heikelen Karikaturen. Den Moslemen aus aller Welt ist damit wirklich angetan worden. Ich freue mich, dass sich die indonesische Regierung von dem Präsidenten SBY um diese Probleme auch kümmert. Starker Protest wurde von indonesischer Regierung zu der dänischen Botschaft in Jakarta und auch zu der dänischen Regierung gegeben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Das entspricht einer Warnung für European, dass der Islam nicht geschlafen hätte. Einmal würden wir von ihnen noch mal verletzt, würde noch andere unangenehme Sache zu ihnen vorkommen. Jetzt ist alles klar geworden, wer radikal sein söllte. Die Antwort ist definitiv sie!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wir sind keine Terroristen, wir sind keine Anarchisten, aber wir sind gegen Leute, die den Islam beleidigen!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-113925481641453940?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/113925481641453940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=113925481641453940' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/113925481641453940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/113925481641453940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/02/heikele-karikaturen_06.html' title='Heikele Karikaturen'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-113865778598464712</id><published>2006-01-30T22:45:00.000+01:00</published><updated>2006-01-31T21:24:11.370+01:00</updated><title type='text'>New Year's Resolutions</title><content type='html'>Kategori: Puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit putar balik&lt;br /&gt;Dua tahun yang lalu&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;Jakarta, 31 Januari 2004&lt;br /&gt;Sebilas bayangan senja&lt;br /&gt;Tersenyum hangat sore itu&lt;br /&gt;Sore kenangan&lt;br /&gt;Akhir dari lembar lama&lt;br /&gt;Awal dari resolusi pada lembar baru&lt;br /&gt;Ayah, Bunda, restui kami pergi menuju&lt;br /&gt;Apa yang kami cari&lt;br /&gt;... dan pesawat pun tinggal landas&lt;br /&gt;... beberapa orang menangis haru di Soekarno-Hatta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun sudah&lt;br /&gt;Telusur sebuah rahasia besar-Nya&lt;br /&gt;Mengapa kami di sini&lt;br /&gt;Adalah bagian dari skenario-Nya&lt;br /&gt;...kini perlahan kami mengerti, mengapa Allah mempertemukan kami dengan takdir ini...&lt;br /&gt;Di sini jauh lebih baik&lt;br /&gt;Dan menemukan hidup yang benar-benar hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31 Januari 2006&lt;br /&gt;Ketika langit dijatuhi meteor dua tahun lalu&lt;br /&gt;Kini hijrah kami&lt;br /&gt;Bertepatan 1427 tahun hijrahnya Rasulullah SAW&lt;br /&gt;Hijrah, mencari arti hidup, dan kala Kau telah pertemukan kami dengan hidup itu&lt;br /&gt;Hidup yang hakiki&lt;br /&gt;Tetapkanlah selalu hati-hati kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New year’s resolutions...&lt;br /&gt;We wish we could...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlin 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-113865778598464712?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/113865778598464712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=113865778598464712' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/113865778598464712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/113865778598464712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/01/new-years-resolutions.html' title='New Year&apos;s Resolutions'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-113848093108057615</id><published>2006-01-28T21:33:00.000+01:00</published><updated>2006-01-28T21:42:11.343+01:00</updated><title type='text'>Fakultas Tiga</title><content type='html'>Kategori: Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Datang di &lt;a href="http://www.tu-berlin.de/"&gt;Technische Universität Berlin&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posting kali ini akan mengupas sedikit mengenai tempat di mana sebagian besar waktu saya dihabiskan, yaitu tak lain dan tak bukan adalah kampus saya – TU Berlin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TU Berlin terletak persis di salah satu dari pusat kota Berlin, tepatnya di Ernst-Reuter-Platz wilayah Charlottenburg. Tempat ini dapat dengan mudah dijangkau memakai U-Bahn (subway) U2, atau dengan S-Bahn dan Bus dari Zoologischer Garten. Di Ernst-Reuter-Platz terdapat sebuah bundaran (seperti bundaran HI di Jakarta). Jadi bisa kalian bayangkan, kalau kampus saya itu terletak seolah-olah di sekitar Bundaran HI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.ub.tu-berlin.de/Orientierung/Plaene/Campusplan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://www.ub.tu-berlin.de/Orientierung/Plaene/Campusplan.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TU Berlin sempat runtuh ketika perang dunia kedua. Ternyata, banyak juga orang Indonesia yang menyelesaikan kuliahnya di TU Berlin. Contohnya, saya sempat meminjam sebuah tesis tentang biosurfaktan dari perpustakaan kampus yang ditulis oleh salah satu mahasiswa Indonesia di tahun 1968. Wow. Kata seorang &lt;a href="http://ganzegal.blogspot.com/"&gt;teman&lt;/a&gt; (yang bersamanya saya banyak menghabiskan waktu di kampus tercinta ini) seorang penjaga gedung di sini sempat bertemu dengan mantan Presiden Soekarno yang pernah berkunjung ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Sekarang kita masuk ke tema. Kali ini saya ingin membahas tentang fakultas tempat saya belajar, yaitu Fakultät III: Prozesswissenschaften (Fakultas Ilmu Proses). Fakultät Prozesswissenschaften memiliki beberapa jurusan, seperti Energie- und Verfahrenstechnik (Teknik Energi dan Produksi), Prozess- und Anlagentechnik (Teknik Proses dan Konstruksi), Werkstoffwissenschaften- und Technologien (Ilmu Bahan Baku dan Teknologi Bahan Baku), Technischer Umwelschutz (Teknologi Perlindungan Lingkungan), Lebensmitteltechnologie und Lebensmittelchemie (Teknologi Bahan Pangan dan Bahan Pangan Kimia), dan Biotechnologie (Bioteknologi). Saya sendiri berada pada jurusan Biotechnologie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa-mahasiswa dari fakultas tiga masih memiliki mata kuliah yang hampir semuanya sama di Grundstudium (dalam program Diplom, ada istilah Grundstudium untuk mata kuliah yang dasar dan Hauptstudium untuk mata kuliah pendalaman). Di semester ini kami memiliki lima mata kuliah yaitu Projektprozessingenieurwissenschaften (Proyek Insinyur Ilmu Proses), Wirtschaftswissenschaftliche Grundlage für Ingenieure (Ekonomi Dasar untuk Insinyur), Mathematik Analysis I für Ingenieure (Matematika Analisis I untuk Insinyur), Lineare Algebra für Ingenieure (Aljabar Linear untuk Insinyur) dan Allgemeine und Anorganische Chemie für Ingenieure (Kimia Dasar dan Kimia Anorganik untuk Insinyur). Hanya saja, mata-mata kuliah tersebut sedikit berat untuk kami. Mengapa berat? Dan apa saja yang dilakukan para mahasiswa fakultas tiga untuk dapat survive? Berikut penjabarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Projektprozessingenieurwissenschaften&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kuliah ini dapat dikatakan paling asik. Paling santai karena kita mengerjakannya dalam satu kelompok. Mata kuliah ini menyediakan 37 proyek dari berbagai jurusan yang ada di fakultas ini untuk dikerjakan bersama-sama dalam satu kelompok. Tujuan dari mata kuliah ini adalah agar para mahasiswa mengenal dunia kerja sebagai insinyur dimana akan dipenuhi dengan pembuatan proyek dan kerja di dalam tim. Dari situ juga dinilai kemampuan kita bekerja dalam satu tim untuk membuat proyek kita berhasil, bagaimana kita mengatasi konflik dalam bekerja di satu tim, bagaimana kita membuat mindmapping serta time schedule agar proyek yang dikerjakan kita dapat selesai tepat waktu, bagaimana kita membuat laporan tertulis dengan mengambil bahan dari berbagai buku yang berkaitan dengan tema tersebut, dan bagaimana kita membuat presentasi atas proyek yang telah kita kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bebas memilih proyek mana saja, asalkan yang kami sukai. Nah, waktu itu hari Jumat. Hari itu adalah hari pertama pemilihan proyek lewat internet. Pemilihan dimulai pukul tiga sore. Saya pikir, jam tiga sore belum ada mahasiswa yang memilih proyek, sehingga saya baru membuka website pemilihan proyek pada pukul setengah empat. Ternyata oh ternyata, baru setengah jam, sudah hampir semua proyek penuh. Saya tidak kebagian tempat pada proyek untuk jurusan Bioteknologi. Secara yah, saya ini kan anak Biotek. Akhirnya saya memilih proyek Technischer Umweltschutz deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, di sini semua serba komputer. Serba cepat. Siapa cepat dia dapat deh. Jangan pernah punya prinsip biar lambat asal selamat. Ntar keburu ketinggalan bis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, saya senang mendapat proyek dengan judul „Tenside und Biotenside – Herkunft, Verbleib, und Verhalten in der Umwelt“ karena ternyata tidak jauh berbeda dengan Bioteknologi. Di sini kami lebih banyak bermain dengan Surfaktan dan Biosurfaktan dan mikrobiologi. Selain itu, alhamdulillah teman-teman saya satu kelompok asik-asik dan kompak. Mereka tidak keberatan jika saya harus menunaikan shalat di ruangan kerja kami. Tempat kerja kelompok kami pun tidak jauh dari Mathe-Gebäude (Gedung dimana banyak vorlesung untuk kami diselenggarakan) jadi kami juga bisa datang ke Vorlesung atau Tutorium. Bayangkan, beberapa kelompok kebagian tempat kerja di Steglitz (daerah selatan Berlin) atau di Ackerstr. (Wedding. Deket rumah sih, tapi tetep aja terkucil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kuliah ini sudah selesai. Finally.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Wirtschaftswissenschaftliche Grundlage für Ingenieure&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia mata kuliah yang paling saya takutkan. Ekonomi! Dari jaman SMA saya paling benci pelajaran Ekonomi. Mata kuliah ini menggabungkan BWL dan VWL (Ekonomi perusahaan dan ekonomi rakyat) untuk insinyur. Memang saya akui mata kuliah ini penting, karena insinyur juga harus bisa ekonomi. Bukannya teknik melulu. Tapi. Entah mengapa yah, saya selalu mengantuk ketika Vorlesung dan terbengong-bengong ketika Übung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi ujian mata kuliah ini. Tepatnya tanggal 15 Februari. Tapi, jika kita ingin mendapat tempat untuk mengikuti ujian, kita harus lulus dulu ujian percobaan dengan nilai minimal 80%. Sistim siapa cepat dia dapat pun bermain lagi. Kita harus lulus ujian percobaan yang dapat kita kerjakan melalui internet, namun tempatnya terbatas yaitu 300 tempat. Kalau kita tidak dapat tempat berarti kita hatus mengulang mata kuliah ini semester depan. Oh no! Oleh karena itu dua minggu terakhir ini saya mati-matian berusaha lulus di ujian percobaan. Alhamdulillah berhasil, sekarang tinggal ujian benerannya di tanggal 15 Februari. (untuk Adi: kenapa lo ngajak jalan ke Finnlandia di tanggal 15 Februari??!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Mathematik Analysis I für Ingenieure&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia mata kuliah paling heboh untuk para mahasiswa fakultas tiga. Bagaimana tidak, mahasiswa-mahasiswa fakultas tiga diwajibkan mengerjakan Hausaufgabe (PR) setiap minggunya dan nilainya harus diatas 60%, kalau tidak, kami tidak bisa ikut ujian. Kayak anak SD yah harus ngerjain PR segala. Sedangkan anak-anak jurusan lain kayak teknik mesin, informatik, elektro, mereka tidak harus mengerjakan PR. Tapi saya akui, ini berguna juga. Kalau saya tidak mengerjakan PR, mungkin belajar matematika akan terlupakan sampai dekat ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu nggak, di antara anak-anak fakultas tiga dan fakultas delapan (anak teknik industri) sering juga bermunculan fotokopi PR dari sebuah kelompok yang sudah ngumpulin PR dan nilainya bagus. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;4. Lineare Algebra fur Ingenieure&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti Matematika Analisis, kami juga harus mengerjakan PR di mata kuliah ini. Aljabar Linear memang terlihat mudah, namun sebenarnya sangat abstrak. Saya sempat sekali patah semangat karena tidak mengerti sama sekali sebuah bab di mata kuliah ini yang berdampak saya tidak bisa mengerjakan PR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di mata kuliah ini ada PR yang harus dikerjakan dengan program Maple. Karena program ini mahal, saya harus mengerjakannya di Unix Pool (Ruang Komputer milik anak-anak jurusan Matematika). Yang seru di sini, kami semua rata-rata gaptek dengan program ini (disamping kami juga tidak mengerti apa yang diajarkan pada mata kuliah ini). Jadi, kalau di ruangan ini melihat ada sekelompok orang sedang berkumpul melihat sebuah komputer, lalu balik kembali ke tempatnya, dan berjalan kembali ke sebuah komputer itu, sambil sesekali berdiskusi dan berdebat atau berteriak „ich kann nicht mehr weiter gehen!“, itu pasti anak fakultas tiga atau fakultas delapan. Untungnya kami kompak, jadi siapa yang sudah selesai dan mengerti PR itu, biasanya dia menolong teman-temannya yang lain. Huhuhuhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Allgemeine und Anorganische Chemie für Ingenieure&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kuliah ini menggabungkan pelajaran dari kelas satu SMA sampai kelas tiga SMA dalam satu semester. Kebayang kan betapa cepatnya. Untungnya saya sempat membawa catatan kimia saya ketika SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan saya kurang sreg dengan profesornya. Kenapa yah, saya (lagi-lagi) selalu mengantuk di Vorlesungnya. Walaupun demikian, si Profesor selalu mengadakan pertunjukan kimia yang meledak-ledak di setiap Vorlesungnya, jadi kami kembali segar lagi. Dalam satu minggu kami memiliki dua pertemuan, dan pasti selalu ada pertunjukan praktikum. Hebat yah. Padahal untuk sekali praktikum dibutuhkan dana yang lumayan besar. Tapi kalau untuk studi sepertinya mereka loyal-loyal saja deh. Syarat untuk ikut ujian di mata kuliah ini adalah dengan mengikuti praktikum di laboratorium selama satu bulan ketika liburan semester (hiks hiks hiks). Baru setelah itu ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah artikel saya kali ini tentang TU Berlin dan seluk beluk para mahasiswa di dalamnya. Secara keseluruhan, saya senang kuliah di sini. Oke, saya cukupkan cerita saya karena kini saatnya mempersiapak ujian... Ekonomi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-113848093108057615?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/113848093108057615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=113848093108057615' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/113848093108057615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/113848093108057615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/01/fakultas-tiga.html' title='Fakultas Tiga'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-113787010030898437</id><published>2006-01-21T19:53:00.000+01:00</published><updated>2006-01-21T20:01:40.433+01:00</updated><title type='text'>Memberi</title><content type='html'>Kategori: Curhat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah orang yang suka membuat The Best Scene of The Day. The Best Scene of The Day adalah suatu peristiwa di suatu hari yang sangat berkesan dan menyenangkan untuk dikenang. Peristiwa itu bisa menggembirakan, menyebalkan, menyedihkan, ataupun mengharukan. Intinya, peristiwa yang menjadi tema untuk saya di hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Best Scene of The Day kali ini terjadi tepat jam tujuh sore. Kala itu saya sedang berkutat dengan soal-soal ekonomi di depan meja. Tiba-tiba muncul sebuah pesan lewat Yahoo! Messenger dari penghuni apartemen 805 dengan bunyi seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:47:06): ass.&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:47:15): ini wawan mas&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:47:35): wa'alaikumsalam wr wb&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:47:37): ja bitte (bahasa: ya, silahkan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:47:49): boleh minta nasi ngga&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:47:56): nasi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:47:57): eh slh&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:48:00): beras&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:48:05): boleh&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Myself (21.01.2006 18:48:07): datang aja,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:48:09): lp beli&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:48:12): tapi timggal sedikit&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Myself (21.01.2006 18:48:13): gpp kan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:48:16): byk kontingen dtg&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:48:27): wah kalau banyak kontingen gak mungkin cukup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:48:30): ajay minyta sambel&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:48:30): atau mau beras?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:48:34): ngidam&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:48:39): sambel apa nih?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:48:45): sambel botolan or ulek?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:49:08): sambel botol kalo ada&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:49:11): ada&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Myself (21.01.2006 18:49:13): datang aja&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Myself (21.01.2006 18:49:27): tapi wie gesagt (colloquial speech, bahasa: jujur), nasinya tinggal dikit, blom masak, kalau mau beras boleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:49:34): okay&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:49:42): beras aja kok&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:49:50): sori banget ngerepotin kata ajay&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:50:03): ok siip&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:50:12): pasukan siap meluncur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat mereka datang. Dan mengambil beras, yang ternyata juga sudah tinggal sedikit. Saya tahu mereka ada empat orang di sana. Nasi dua gelas pun sepertinya tidak akan cukup untuk mereka. Masalahnya, hari ini hari Sabtu, dan besok Minggu. Hari Minggu semua toko tutup sehingga kita tidak mungkin bisa membeli beras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mereka kembali ke tempatnya, saya pun menulis pesan kembali lewat Yahoo! Messenger&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:59:00): hari minggu gak usah masak&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Myself (21.01.2006 18:59:08): makan siang bareng aja di rumah ferry&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Myself (21.01.2006 18:59:11): gue yang masak&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Myself (21.01.2006 18:59:19): besok gue masak cumi ama perkedel tahu&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Myself (21.01.2006 18:59:22): jam 2 siang yah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:59:24): waks&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:59:29): Asiiiikk&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:59:30): jadi nasinya buat makan malam aja besok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:59:33): Insya allah dateng&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:59:49): yuti... oki doki (colloquial speech. Bahasa: baik... ok)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 18:59:50): jam 2 di rmh ferry&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Myself (21.01.2006 18:59:58): yap, aber ohne (Bahasa: tapi tanpa) telat yak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teman (21.01.2006 19:00:03): ngOKeh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai lima menit kemudian, bel apartemen pun kembali berbunyi. Aku tidak menduga kalau yang datang salah satu dari mereka, yaitu Wawan, yang kali ini membawa semangkuk sup ayam hangat dengan penataan yang indah (lihat foto di bawah ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/200/1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (terbengong-bengong): „Apa ini?“&lt;br /&gt;Wawan: „Udah, makan aja! Dari pada makan nasi goreng“&lt;br /&gt;Saya (dalam hati): Wah mereka melihat menu saya hari ini (nasi goreng) yang terletak di atas kompor, dan mereka sekarang menawarkan sesuatu yang lebih spesial.&lt;br /&gt;Wawan: „Yaudah yah. Dimakan loh“&lt;br /&gt;Saya (dalam hati): This is the best scene of the day, saya terharu. Benar-benar terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling memberi. Mungkin sepele, namun dapat membawa nilai rasa yang besar dalam hati dan juga dapat melunakkan hati. Salah satu fiquh dakwah pun adalah dengan saling memberi, yang dengan demikian membuat kita terasa ‚ada’ dan ‚keberadaan’ kita diperhatikan serta dihargai oleh orang lain. Jika kalian sempat membaca novel Ayat-Ayat Cinta karangan Habiburrahman El-Shirazy, ada satu peristiwa ketika Fahri memberikan hadiah ulang tahun kepada tetangganya - Madame Nahed dan Yousef, yang dengannya menjadikan hubungan antara Fahri dan keluarga Boutros semakin erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi pun tidak harus berupa barang atau uang, bisa juga dengan senyuman atau tenaga. Sudah baca &lt;a href="http://bintangkavana.blogspot.com/2006/01/bingkisan-senyum.html"&gt;tulisan ini&lt;/a&gt;? Dari situ jelas terlihat, bahwa memberi benar-benar ampuh untuk melunakkan hati seseorang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/13756358-113787010030898437?l=bolamata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bolamata.blogspot.com/feeds/113787010030898437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=13756358&amp;postID=113787010030898437' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/113787010030898437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/13756358/posts/default/113787010030898437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bolamata.blogspot.com/2006/01/memberi.html' title='Memberi'/><author><name>Dimas Abdirama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05378372865709031983</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/2148/905/1600/1.0.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-13756358.post-113607392587952417</id><published>2006-01-01T01:00:00.000+01:00</published><updated>2006-01-01T01:05:25.900+01:00</updated><title type='text'>Perjuangan Menuju Harapan</title><content type='html'>Kategori: Cerpen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006 adalah tahun sepak bola (world cup kali ini di Jerman, hehehe... )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Guest-Writer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perjuangan Menuju Harapan&lt;br /&gt;Oleh: Nico Ega Nugraha&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan pada sore itu biasa-biasa saja. Hanya segelintir mobil yang berlalu-lalang. Lapangan sepak bola masih sepi karena masih terlalu panas untuk digunakan bermain sepak bola. Seperti pada sore-sore sebelumnya, tampak seorang remaja sedang berlatih di sana. Namanya Agi, ia kelihatan sedang asyik berlatih dengan bolanya. Panas yang cukup menyengat pada sore itu merupakan hal yang biasa untuknya. Namun, walaupun ia selalu rutin latihan, kulit tubuhnya tetap tetap terlihat bersih. Ia tidak mengambil bimbingan belajar seperti anak-anak di usianya, meski ia kerap dinasehati oleh orangtuanya untuk mengikuti bimbingan belajar. Baginya, cukup belajar dilakukan di rumah dan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia selalu berlatih sepak bola. Selalu. Tak ada yang dapat menundanya untuk berlatih sepak bola. Bila ia pergi kemanapun, ia selalu membawa sebuah bola kaki. Baginya, bola merupakan bagian yang tidak dapat lepas dari dirinya, dan merupakan sahabat baiknya sejak saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, ia masih berusia sembilan tahun. Ia mengenal sepak bola dari ayahnya yang gemar menyaksikan pertandingan sepak bola. Piala dunia di Amerika Serikat sedang diadakan.. Ketika itu, ia sudah memiliki tim sepak bola kesayangannya, kesebelasan Italia. Tidak pernah ia lewatkan saat tim nasional kesayangannya berlaga di atas rumput hijau. Ia menyukai gelandang penyerang atau playmaker kesebelasan Italia, Roberto Baggio, yang bernomor punggung sepuluh. Ia tidak hanya menyukai gaya rambut Baggio yang dikuncir berbuntut, tetapi juga ia menyukai sosok Baggio yang memiliki kemampuan teknis yang luar biasa didukung dengan daya intelegensi yang tinggi. Saat itulah Agi menyukai sepak bola, dan ayahnya memberikan seperangkat alat bermain sepak bola untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agi!” teriak seseorang memanggil namanya. Teriakan yang menahan geraknya untuk menendang si kulit bundar dalam latihannya. Ia berhenti sejenak untuk melihat siapa yang memanggilnya. Sebuah sosok datang. Aryo, sahabatnya sejak kecil.&lt;br /&gt;“Aryo! Kenapa kamu datang terlambat?” sahut Agi dengan nafas yang tersengal-sengal.&lt;br /&gt;“Aku baru saja mengembalikan buku yang kupinjam di perpustakaan. Sudah lama kamu latihan, Gi?” jawab Aryo.&lt;br /&gt;“Lumayan. Aku sudah latihan mengontrol bola selama lima menit dan latihan menendang ke gawang selama lima menit” jelasnya.&lt;br /&gt;“Kalau begitu, ayo kita mulai latihannya!”&lt;br /&gt;“Ok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka satu tim di sebuah kesebelasan remaja yang seing mengadakan latihan di Senayan. Namanya Young Guns Club, atau lebih dikenal dengan YGC. Agi dan Aryo biasa latihan di lapangan dekat rumah mereka ketika tidak ada jadwal latihan di klub. Klub mereka berlatih seminggu tiga kali. Adalah Bang Gugun, pelatih klub mereka yang merupakan mantan pemain di liga amatir Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Aryo melakukan pemanasan, Agi kembali berlatih mengontrol bola. Setelah Aryo selesai menyelesaikan pemanasannya, barulah mereka berlatih bola bersama. Mereka latihan mengoper, meyundul, merebut, dan mempertahankan bola. Mereka juga berlatih beberapa kombinasi seperti saling menyelesaikan umpan atau lainnya. Di dalam klub mereka, Agi berposisi sebagai gelandang penyerang sementara Aryo sebagai gelandang tengah. Latihan kali ini diakhiri dengan latihan fisik, peregangan otot, dan pendinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bercita-cita menjadi seorang pemain sepak bola yang besar, dimana untuk menggapai cita-cita itu, mereka rela mengorbankan apa saja sambil berpikir bagaimana untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sudah selesai, Aryo?” tanya Agi sambil menghabiskan sisa air mineral yang selalu dibawanya ketika latihan.&lt;br /&gt;“Satu gerakan lagi... dan... ugh! sudah selesai sekarang” tukas Aryo sambil mengakhiri pendinginannya.&lt;br /&gt;“Bagaimana? Kamu sudah siap menghadapi kejuara
